Minggu, 09 Juli 2017

Prof Maksum: Katanya Swasembada, Kok Impor!

Jakarta, Shautus Salam. Nasib petani di republik ini masih memprihatinkan. Padahal, isu tentang kedaulatan pangan, kemandirian pangan, dan ketahanan pangan, selalu ‘seksi’. Pasalnya, jika ada ada investasi asing di Tanah Air tentang pangan dipastikan selalu ramai.

Demikian disampaikan Ketua PBNU bidang perekonomian Prof KH Maksom Mahfudz saat menjadi narasumber pada Seminar Nasional “Menyoal Ekonomi Kerakyatan dan Kedaulatan Pangan di era Jokowi” di lantai 5 Gedung PBNU Jl Kramat Raya 164 Jakarta, Rabu (1/7).

Prof Maksum: Katanya Swasembada, Kok Impor! (Sumber Gambar : Nu Online)
Prof Maksum: Katanya Swasembada, Kok Impor! (Sumber Gambar : Nu Online)

Prof Maksum: Katanya Swasembada, Kok Impor!

“Kalau ada investor asing yang mau ada investasi di Tanah Air soal pangan, pasti ramai. Karena soal pangan ini selalu seksi. Sayangnya, kita tak bisa mengawalnya dengan baik. Katanya swasembada (pangan), kok masih impor,” tegasnya.

Shautus Salam

Menurut Maksum, pemerintah harus menekan kelangkaan pupuk yang selama ini menjadi persoalan petani. “Bagaimana bisa meningkatkan pangan jika pupuk nggak ada,” sergahnya.

Sejak zaman dahulu, tambahnya, Hadratusy Syaikh KH M Hasyim Asyari memperhatikan persoalan pangan dengan cara membangun syirkah mu’awwanah, Nahdlatut Tujjar, dan sebagainya. “Mbah Hasyim selalu mengingatkan bahwa manusia itu bersekutu dalam tiga hal air, pangan, dan energi,” ungkapnya.

Shautus Salam

Menurutnya, sebagai pimpinan ormas keagamaan, ia tentu tidak rela adanya inpres (instruksi presiden) “bodong” tentang beras miskin. “Jokowi kan menandatangani inpres bodong. Kalau raskin ini oke, semua beres,” tegasnya.

Bagi Mahfudh, beras miskin yang dipanen petani sudah diambil Badan Logistik Nasional (Bulog). “Nah, ada nggak tetangga kita yang terima raskin, nggak ada. Justru yang diterima itu rasnguk (beras penguk) dan berkutu. Itu yang mereka terima,” tandasnya.

Karena raskin tidak dimakan, lanjutnya, dampaknya beras naik. Akhirnya terjadi inflasi. “Dan ini dampaknya luar biasa. Kita tau, kontribusi beras dalam pangan 20 persen. Janganlah petani diinjak-injak terus,” tegasnya.

Ia berharap, pemerintah merombak tata kelola pangan. Ia lalu mengutip kaidah Fiqih, tasharruf al-imam ala al’-raiyyah manuthun bi al-mashlahah. (Kebijakan pemerintah atas rakyatnya didasarkan pada aspek kemaslahatan). “Pemerintah saya harap melakukan perombakan atas tata kelola pangan,” pungkasnya. (Musthofa Asrori/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam IMNU Shautus Salam

Shautus Salam Shautus Salam Shautus Salam Shautus Salam Shautus Salam Shautus Salam Shautus Salam Shautus Salam Shautus Salam Shautus Salam Shautus Salam Shautus Salam Shautus Salam Shautus Salam Shautus Salam Shautus Salam Shautus Salam Shautus Salam Shautus Salam Shautus Salam.

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Shautus Salam sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Shautus Salam. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Shautus Salam dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock