Selasa, 16 Januari 2018

Pesantren Kawah Candradimuka Islam Rahmatan lil Alamin

Kudus, Shautus Salam. Meski disebut lembaga pendidikan tradisionalis, pesantren telah menjadi kawah candradimuka Islam Rahmatan lil Alamin. Dari sini, pesantren banyak melahirkan generasi muslim yang modern, progresif dan toleran dalam keberagaman..

Demikian yang disampaikan Pengasuh Pesantren Nahdlatut Thalibin Tayu Pati KH Abu Ahmad Nadhif Abdul Mudjib pada seminar bertema Penguatan Islam toleran, Menepis Radikalisme, yang diselenggarakan Lembaga Pusat Kajian Multikultural (PUSAKA) di Aula Balai Desa Rendeng Kudus, Jawa Tengah, Sabtu (28/12).

Pesantren Kawah Candradimuka Islam Rahmatan lil Alamin (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Kawah Candradimuka Islam Rahmatan lil Alamin (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Kawah Candradimuka Islam Rahmatan lil Alamin

Gus Nadhif mengatakan pesantren sering dituding sebagai lembaga keagamaan konservatif dan statis, namun kenyataannya tetap eksis dalam dinamika modernitas. Pesantren telah mampu menunjukkan dirinya sebagai lembga yang bisa beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan identitas dirinya sendiri.

Shautus Salam

“Pesantren itu memiliki khazanah intelektual klasik, karya sarjana Islam terkemuka dan otoritatif di bidangnya masing-masing. Di dalamnya mengandung pikirn-pikiran pluralistik yang bersahaja,” ujarnya.

Dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia, lanjut dia, pesantren telah memainkan peran tranformasi sosial dan kultural. Pesantren selalu apresiatif terhadap kebudayaan lokal dengan bersikap akomodatifatas kebudayaan dan tradisi-tradisi lokal.

Shautus Salam

Ia memaparkan melalui ajaran-ajaran sufisme yang dikembangkan pesantren, praktik-praktik tradisi dan ekspresi budaya dalam mesyarakat bukan menjadi masalah sepanjang mendasarkan diri pada prinsip tauhid. Hal ini karena, pesantren melihat persoalan ini tidak dari format dan mekanisme formalistik melainkan subtansinya.

“Makanya, kita menolak tegas sikap dan cara pandang kelompok puritan radikal yang memahami pandangan akomodatif tersebut sebagai bid’ah (sesat) dan musyrik,” tegas Gus Nadhif.

Terkait adanya image pesantren sebagai sarang teroris, ia menyanggahnya. Menurutnya, adanya? pesantren yang selama ini dituding mencetak kader teroris dikarenakan hanya menyatakan menganut dan mengajarkan Aswaja, tetapi hanya mengikuti para salafus sholih tanpa mengikuti mazhab tertentu.

“Pesantren tersebut mendistorsi pengertian salafus sholih tanpa menyatakan diri mengikuti mazhab tertentu,”terangnya.

Disamping Gus Nadhif, seminar yang dihadiri puluhan peserta dari kalangan ormas keagamaan dan pesantren ini menghadirkan juga ketua umum Asosia Tani Nusantara (ASTANU) Lukman Hakim sebagai pembicara kedua.(Qomarul Adib/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam News Shautus Salam

Shautus Salam Shautus Salam Shautus Salam Shautus Salam Shautus Salam Shautus Salam Shautus Salam Shautus Salam Shautus Salam Shautus Salam Shautus Salam Shautus Salam Shautus Salam Shautus Salam Shautus Salam Shautus Salam Shautus Salam Shautus Salam Shautus Salam Shautus Salam.

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Shautus Salam sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Shautus Salam. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Shautus Salam dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock