Tampilkan postingan dengan label Doa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Doa. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 03 Maret 2018

Kiai Muslim Rifa’i Imampuro dan Suka Cita Pelukis

Jakarta, Shautus Salam?



Pelukis Nabila Dewi Gayatri mengaku punya pengalaman saat melukis KH Muslim Rifa’i Imampuro atau Mbah Liem. Ia mengalami keadaan yang sangat senang hingga tertawa-tawa sendirian saat menggoreskan koas ke kanvasnya.?

Kiai Muslim Rifa’i Imampuro dan Suka Cita Pelukis (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Muslim Rifa’i Imampuro dan Suka Cita Pelukis (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Muslim Rifa’i Imampuro dan Suka Cita Pelukis

“Saya mengalami ? suka yang belum pernah saya alami. Ketawa sendiri, sueneng, dan cepet selesai. Saya merasa bahagia, ngakak-ngakak,” katanya di Grand Sahid Jaya, Jakarta Sabtu (13/5) pada pameran karya tunggalnya bertajuk Sang Kekasih. Pameran dibuka Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj Senin (8/5) itu, berakhir Ahad (14/5).

Saat melukis kiai dari Pondok Pesantren Al-Muttaqien Pancasila Sakti, Klaten, Jawa Tengah itu, ia mengaku dengan cepat menemukan karakter lukisannya. Hingga proses melukisnya pun terbilang cepat daripada kiai-kiai lain.?

Pelukis kelahiran Gresik, Jawa Timur, pada 1969 itu mengaku, pada masa kecilnya pernah diajak ayahnya bersilaturahim kepada Mbah Liem. Saat dewasa, Nabila pernah juga bertemu kiai itu di PWNU Jawa Timur.?

Shautus Salam

Pada pertemuan itu, Mbah Liem bertanya kepadanya, “Koe iseh nabuh beduk? Masih suka gambar? Nyanyi?” tanyanya kepada Nabila yang memang selain melukis juga senang menabuh drum, yang dalam istilah Mbah Liem menabuh beduk, serta menyanyi.?

“Masih,” jawab Nabila saat itu.?

“Yo wis, Berkah, berkah, berkah...” lanjut Mbah Liem.?

Menurut Nabila, sosok Mbah Liem menjadi bagian dari pameran untuk mengingatkan orang kepada salah satu sifatnya yang memiliki kepedulian tingkat tinggi kepada fakir miskin.?

Shautus Salam

Pelukis jebolan Jurusan Aqidah Filsafat Al-Azhar, Kairo, Mesir itu menambahkan, dengan melukis Mbah Liem, Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari, KH Abdurrahman Wahid, Kiai Abbas Buntet dan kiai lain, ia berharap, orang yang melihatnya akan mengingat jasa dan teladan mereka.?

Menurut Ali Mahbub pada tulisannya yang dimuat di Shautus Salam, Mbah Liem mengajarkan santri dengan ilmu hal atau memberi contoh langsung. Ajaran-ajaran Mbah Liem tersebut yaitu:

1. “Nguwongke uwong, gawe legane uwong.” Mbah Liem selalu menghargai dan menerima setiap orang dengan segala potensi dan niat baiknya. Kalaupun kita tidak membutuhkan, mungkin manfaatnya bisa dirasakan keluarga, tetangga atau msyarakat kita. Contohnya setiap kali ada tamu, baik pejabat maupun tokoh yang lain, Mbah Liem selalu menyambut dengan hangat siapa pun orangnya dan Mbah Lim tidak lupa memberikan ruang interaksi untuk mendekatkan pejabat/tokoh dengan masyarakat.

2. “3 T“: titi–tatak–tutuk. Mbah Liem mengajarkan saat melaksanakan setiap tugas dalam hidup, haruslah titi (cermat, teliti dan selektif), tatak (legowo, sabar), sehingga tutuk (sampai, selesai dengan hasil yang memuaskan).

3. “3 K “: kuli-kiai-komando. Setiap santri haruslah mampu memerankan diri sebagai kuli (siap bekerja keras), kiai (siap mengamalkan ilmu dan berdoa), komando (siap menjadi pemimpin yang piwai mengambil keputusan, bijak serta berwibawa)

4. “Kita harus tegak, tegas dan tegar selama benar.“ Setiap melaksanakan kebenaran, kita harus tegak (penuh keyakinan, tidak goyah oleh pengaruh apa pun), tegas (tak kenal kompromi terhadap pelanggaran aturan), tegar (ikhlas, sabar).

5. “3 R “: rampung bangunane – rame jama’ahe – rukun masyarakate “. Dalam mendirikan sarana apa pun, ada 3 hal yang harus diupayakan yakni “rampung bangunane“ (bisa terwujud ), rame jama’ahe (berfungsi dan dibutuhkan para pemangku kepentingan ), rukun masyarakate (menjadi sumber kedamaian dan perekat persatuan).

6. “Aja mung benteng ulama, ning nahnu anshorullah, masyriq-maghrib “ di samping perannya sebagai benteng ulama, Banser seharusnya mampu menjalankan peran yang lebih luas di seluruh permukaan bumi, dalam bingkai “nahnu anshorulloh”.

7. “ 3 S “: ? shalat-sinau-sungkem. Maksudnya “shalat“, seorang santri harus tekun beribadah, prihatin dan berdoa. Sinau,? santri harus belajar terus menerus. “Sungkem“ santri harus mempunyai akhlak yang mulia, tahu sopan santun, tawadhu’ pada kiai/guru.

8. “ 2 B“: berhasil-berkah. Dalam mencapai cita-cita/usaha harus mempunyai komitmen yang kuat agar tercapai yang di inginkan.” Berkah “setiap cita-cita/ usaha harus di mulai dengan niat ibadah (niat baik) agar mendapat keberkahan dari Allah SWT.

9. “Dadi uwong ki ojo gur mangan terus tapi yo ngising barang” (Jadi orang itu jangan hanya makan aja tapi ya buang air besar juga). Kita tidak boleh hanya melulu mencari harta terus, tapi kita juga harus rajin bersedekah.

(Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam News, PonPes, Doa Shautus Salam

Jumat, 23 Februari 2018

Mensos Targetkan Indonesia Bebas Anak Jalanan di Tahun 2017

Sidoarjo, Shautus Salam. Menteri Sosial RI, Hj Khofifah Indar Parawansa menargetkan Indonesia bebas anak jalanan di tahun 2017 ini. Menurutnya, Indonesia bebas anak jalanan merupakan bagian dari proses eksplorasi per kabupaten kota di bulan Mei 2015 lalu.

Mensos Targetkan Indonesia Bebas Anak Jalanan di Tahun 2017 (Sumber Gambar : Nu Online)
Mensos Targetkan Indonesia Bebas Anak Jalanan di Tahun 2017 (Sumber Gambar : Nu Online)

Mensos Targetkan Indonesia Bebas Anak Jalanan di Tahun 2017

Khofifah menghitung dari 2015 seluruh kabupaten kota, berapa data anak jalanannya itu supaya masing-masing daerah terdorong, termotivasi dan kinerjanya bisa terukur.

"Kota-kota ini biasanya menjadi sentra siapa saja untuk mencari gula-gula, mencari keuntungan . Banyak juga ditemukan anak-anak ini kemudian dieksploitasi, apakah oleh pihak lain ataukah orang tuanya, itulah yang kemudian secara simultan kita menyiapkan program antara lain desaku menanti seperti di Desa Kedungkandang Kota Malang, itu satu paket gelandangan, pengemis dan anak jalanan bisa direlokasi," kata Khofifah disela-sela acara dzikir akbar di depan Masjid Agung Sidoarjo, Ahad (12/2).

Ketum PP Muslimat NU itu menjelaskan bahwa, di Desa Kedungkandang Kota Malang, tahun Maret lalu dilakukan peletakan batu pertama, Oktober kemudian diresmikan dan Januari 2017 sudah bisa menjadi destinasi wisata baru.

Shautus Salam

"Jadi Kementerian Sosial mencoba mencari format yang betul-betul solutif. Ketika puasa kita selalu cerita gelandangan, pengemis, ketika kita ke jalan masih menemukan anak-anak jalanan, ini harus dilakukan reintegrasi sosial satu paket tidak hanya anaknya, tetapi juga orang tuanya," jelasnya.

Khofifah menyebutkan bahwa di Jawa Timur salah satu contoh yang bisa dijadikan runmodel yaitu Kedungkandang. Kalau ini bisa diikuti kota-kota lain, yang memang ditemukan gelandangan, pengemis atau anak jalanan relokasinya ini satu paket. Tidak bisa anakya saja, kalau orang tuanya tidak ada pendekatan secara ekonomi, kemungkinan nanti masih akan mengajak anaknya ke jalan.

"Nah format satu paket solutif seperti yang dilakukan di Kota Malang itu semoga bisa dijadikan runmodel di kota lain," harapnya. (Moh Kholidun/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam

Shautus Salam Bahtsul Masail, Doa Shautus Salam

Jumat, 16 Februari 2018

Menakar Kesadaran Profetik Gerakan Kepemudaan

Oleh Ananta Damarjati

Tidak bisa dipungkiri, perdebatan antara agama dan sains merupakan perdebatan abadi. Kedua entitas tersebut cenderung sulit dipersatukan. Agama memaksa sains agar terikat oleh nilai, sebaliknya, sains menuntut seseorang untuk menelanjangi dirinya dari segala macam bentuk dogma sebelum memasuki gerbang “kebenaran” objektif yang diidentikan dengannya. Dalam arti lain, sains harus bebas nilai.

Menakar Kesadaran Profetik Gerakan Kepemudaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Menakar Kesadaran Profetik Gerakan Kepemudaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Menakar Kesadaran Profetik Gerakan Kepemudaan

Premis-premis yang diajukan filsafat barat (filsafat kritis) juga selalu meletakkan dirinya sebagai oposisi biner dari gagasan tentang wahyu agama. Sehubungan dengan itu, Kuntowijoyo dalam bukunya mengutip pendapat Roger Garaudy, bahwa filsafat barat (filsafat kritis) “tidak memuaskan, sebab terombang-ambing antara dua kubu idealis dan materialis, tanpa kesudahan. Filsafat barat (filsafat kritis) itu lahir dari pernyataan: Bagaimana pengetahuan dimungkinkan. Dia (Garaudy) menyarankan untuk mengubah pertanyaan itu menjadi: Bagaimana wahyu itu dimungkinkan.” (2006:97). Garaudy berpendapat bahwa “Filsafat barat sudah ‘membunuh’ Tuhan dan manusia”. Oleh karena itu dia menyarankan “supaya umat manusia memakai filsafat kenabian dari Islam (Garaudy, 1982:139-168) dengan mengakui wahyu” (2006:98).

Di sini dapat dipahami bahwa filsafat barat menitikberatkan epistemologi pengetahuannya melalui akal. Dan Garaudy seolah menegaskan, bahwa ada sebuah kebenaran hakiki melalui wahyu yang lebih tinggi di atas kebenaran yang diperoleh lewat akal.

Shautus Salam



Wahyu dalam paradigma profetik


Shautus Salam

Hal wahyu menjadi menarik jika diurai dalam konteks sosio-historis peradaban manusia. Di tanah Nusantarakuno (baca; Dipantara) sebelum secara simbolis identik dengan Majapahit, nenek moyang kita sudahmelakukan berbagai kegiatan sembahyang terstruktur dan metodis, atau pola asketis lain.

Bahkan, -menyitir gagasan Emha Ainun Najib- Resi atau ahli pertapaan zaman itu telah mencapai maqam tertinggi sebelum akhirnya selangkah lagi dapat mempertemukan dirinya dengan Tuhan.

Sayangnya, pertemuan itu tidak pernah terjadi jika tanpa informasi (wahyu) langsung dari Tuhan sendiri tentang siapa diri-Nya.Maka diturunkanlah oleh Tuhan secara langsung, informasi-informasi mengenai diri-Nya melalui Nabi dan Rosul-Nya, kemudian wahyu tersebut termanifestasi secara sakral menjadi teks kitab suci.

Syahdan, sejarah dan pergulatan panjang peradaban manusia tidak lantas menjadikan wahyu yang tertuang dalam Al-Qur’an kita sekarang, lapuk termakan jaman dan usang.Hal tersebut karena, paradigma profetik para Nabi dan Rosul dalam menyampaikan ajaran tauhid sampai saat ini masihdan terus ditularkan oleh para cendekiawan (pelajar, mahasiswa, pemuda)bahkan sejak wafatnya Rosul terakhir di muka bumi, Muhammad SAW 14 abad yang lalu, tidak melunturkan semangat itu.

Berkat semangat profetik yangditeruskan para cendekiawan yang bersentuhan langsung dengan Al-Qur’an dalam tataran keilmuan itu pula lah, manusia abad ini tetap memiliki kesadaran tentang adanya kesatuan esensial secara asasi antara subjek-objek, yaitu manusia-Tuhan (Ha’iri, 1994:20), dan kemudian menjadi tradisi besar spiritualitas manusia.

Berkat semangat kenabian dalam menyebar informasi yang terkandung dalam kitab suci pula, manusia secara epistemologis dapat memahami eksistensi Tuhan melalui refleksi pancaran cahaya-Nya terhadap seni, politik, agama dan jagad raya secara keseluruhan.



Aplikasi Kesadaran Profetik dalam Organisasi


Jika menilik lagi konsep ilmu sosial profetik Kuntowijoyo dan mengkontekstualisasikannya dengan peran cendekiawan sebagai suksesor dakwah Islam sejak Rasulullah SAW wafat, maka terlihat peran mereka begitu kental dalam menjaga gawang struktur transendental Al-Qur’an, baik yang berkenaan dengan muamalah ataupun ibadah mahdlah.

Dengan menjaga teksnya, menerapkan ajaran yang terkandung di dalamnya, serta mengukur relevansinya dengan realita, ritme dan progresivitas sosial masa kini tanpa mengubah strukturnya, seorang cendekiawan telah memenuhi dimensi etika profetik, karena ada tanggungjawab sosial dan kerja transformatif dalam praksisnya.

Seorang cendekiawan muda, Lafran Panepada tahun 1947 yang membuka kesadaran lebih luas tentang paradigma ini, ketika dia mengikutsertakan sejumlah orang untuk ikut bertanggungjawab atas kesadaran profetik dan mengkonsepsinya dalam bentuk organisasi. Mereka menyengajakan diri untuk terlibat dalam sejarah kemanusiaan dengan mengambil porsi besar tanggungjawab sosial dari masyarakat di Indonesia.

Pembentukan organisasi ini agaknya merupakan titik tengah, atau bahkan perkawinan gejala sosial masyarakat (modernitas, sains, sosial-budaya.dll) dengan nilai kebenaran agama. Dalam perpektif sosial profetik Kuntowijoyo, hal ini merupakan metodologi integralistik untuk mencapai peradaban kemanusiaan yang maju, serta upaya memecahkan masalah relasi antara Islam dan dunia modern yang menimbulkan ketegangan baik dengansosial, kebudayaan dan politik.

Gagasan ini bertitik tolak dari ajaran dan nilai-nilai keagamaan yang bersifat subjektif dalam arti lain menyangkut keyakinan orang per orang. Namun menurut Dawam Rahardjo, ajaran keagamaan itu khususnya di Indonesia, tidak bisa ditolak. Atau harus sedemikian rupa diakomodasi sebagaimana dilakukan oleh penguasa zaman lalu (Contoh; Sultan Agung, Sunan Kalijaga, dsb).

Pendekatan akomodasi dan objektifikasi di atas sangat penting untuk menghindari konflik-konflik yang timbul seperti yang terlihat dalam masyarakat Indonesia sekarang, serta dalam rangka mengharmoniskan hubungan agama dengan politik, seni, filsafat, sosial dan budaya.

Beruntunglah Indonesia memiliki beberapa organisasi kepemudaan yang secara tidak langsung berani mendeklarasikan dirinya sebagaiorganisasi “berkesadaran kenabian”, lalu ikut andil menyadarkan masyarakatluas, Negara, serta Pemerintah tentang berbagai isu sensitif? yang bersentuhan langsung dengan agama.

Namun, jika melihat pergerakan organisasi“profetik” kepemudaan sekarang ini, perlukah mempertanyakan lagi perihal konsistensi etika dan kesadaran profetik serta manifestasi kesadaran kenabian dalam menyoal relevansinya terhadap hal-hal yang menjadi objek kajian mereka?



Refleksi Profetisitas Gerakan Kepemudaan



Bagi Kuntowijoyo, menjalankan misi profetik harus mampu menerjemahkan tiga peran, yaitu tentang pentingnya melakukan amar ma’ruf (humanisasi), nahi munkar (liberasi) dan tu’minu billah (transendensi). Di sinilah menurut saya, gerakan kepemudaan menjadi mode komunikasi yang bertemu dengan misi dakwah –peran kenabian-, yang melahirkan organisasi dengan nilai-nilai profetik.

Secara garis besar, Kuntowijoyo berusaha menjelaskan, bahwa dengan humanisasi, manusia akan mampu menjadi manusia sejati yang menyeru pada kebaikan. Menjalankan tugas dan tanggung jawab sebagai individu, masyarakat dan hamba Tuhan. Sementara liberasi bertujuan memerdekaan manusia dari segala bentuk ketidakadilan yang bertentangan dengan perikemanusiaan dan akal budi manusia.

Sedangkan melalui kesadaran transendental, yaitu kesadaran lillah, billah, lirrasul, birrasul, secara langsung berdampak pada meningkatnya iman. Sehingga manusia akan mampu melakukan tugas humanisasi dan liberasi secara utuh.

Langkah Lafran Pane menginstitusionalisasi kesadaran profetiknya (yang kemudian diikuti sebagian besar organisasi lain), secara manifestasi adalah mengikutsertakan sejumlah orang untuk ikut bertanggung jawab atas “pengkonstruksian dunia”nya, karena merekalah yang berkesadaran turut membentuk dunia tersebut. Mereka sebagai bagian dari anggota masyarakat mencoba memahami dunia yang sebenarnya mereka bentuk sendiri.

Faktanya, organisasi kepemudaan yang mengusung napas agama telah mampu menjadi mesin yang mengonstruksi dunia sosial di sekitarnya. Atau memang telah didesain secara struktural untuk menyediakan calon pemimpin berkelas secara individu. Yang jelas, konstruksi sosial, kebudayaan sampai politik tidak pernah lepas dari pergerakan organisasi kepemudaan sejak awal keberadaannya di Indonesia.

Namun seiring dengan semakin tingginya posisi tawar, eksistensi dan aktualisasi diripada organisasi kepemudaan terhadap segala sendi sosial, politik dan kebudayaan kemasyarakatan kita, tidak bisa tidak, akan selalu ada potensi-potensi penyimpangan seperti korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN).

Di satu sisi saya percaya, bahwa oganisasi kepemudaan dimanapun tidak pernah ditatar untuk melakukan KKN, baik personal, institusional maupun struktural.Tapi disisi lain, jika dilihat dari gejala sosialnya secara historis, memang nyatanya banyak anak kandung “organisasi profetik”itu yang tersandung kasus KKN.Tidak etis jika hal ini dipungkiri, karena hal itu adalah salah satu naluri personal dan institusional.

Atau boleh dikatakan, sayap kecenderungan secara politik-kebudayaan (KKN) tersebut serta merta muncul bersamaan ketika mereka sedang memperjuangkan humanisasi dan liberasi, dan dalam waktu yang bersamaan melupakan wacana transendensi.

Namun yang tak kalah penting, tidak sedikit pula anak kandung “organisasi profetik” yang mampu menerjemahkan misi transendental ketika mengidentifikasi dirinya dengan batasan-batasan, arah serta tujuan yang telah secara tegas ditatar oleh organisasinya. Anak kandung yang tidak lupa untuk senantiasa lillah, billah, lirrasul, birrasul, dalam hal apa pun.

Termasuk ketika sedang melakukan transaksi politis dengan manusia lain yang sarat kepentingan, bahkan murni seratuspersen kepentingan. Tak jarang kepentingan tersebut menyamar sebagai ideologi, eksplisit maupun implisit. Yang tak jarang pula dalam transaksi tersebut memaksa pelakunya untuk berlaku kejam.

Sejauh ini yang saya pahami dari konsep-konsep Kuntowijoyo, bahwa praksis transendental tidak hanya mampu menyerap dan mengekspresikan secara dialektis sebuah realita, tapi juga memberi arah bagi realita tersebut, serta melakukan penilaian dan kritik sosial budaya secara beradab. Sekaligus menjadi petunjuk ke arah humanisasi dan liberasi.

“Organisasi profetik” kepemudaan yang sudah menentukan bahwa batasan, arah dan tujuannya adalah sesuai dengan Al-Qur’an, seharusnya –menurut Kuntowijoyo- menjadikan Al-Qur’an pula sebagai cara berfikir. “Ia akan memberikan kerangka bagi pertumbuhan ilmupengetahuan empiris dan ilmu pengetahuan rasional yang orisinal dalam arti sesuaidengan kebutuhan pragmatis masyarakat Islam, yaitu mengaktualisasikan misinya menjadi khalifah di bumi”.

Maka sangat urgen, bagi setiap organisasi yang “berkesadaran kenabian” untuk mempertanyakan ulang misi transendensinya. Jangan sampai, dapur organisasi yang memasak dengan serius kader-kadernya, menjadi tidak berarti ketika terpajang di etalase kepemimpinan, karena telah tercemar polusi kepentingan, serta dipencloki laler kekuasaan. Sehingga lupa arah, batasan, dan tujuan dunianya, serta menjadikan pribadinya untuk cenderung bebas nilai.

Ketika hal tersebut terjadi, kita patut bertanya: Quo Vadis profetisitas organisasi kepemudaan? Quo Vadis cendekia muda, pelajar, mahasiswa, Nabi kolektif bagi masyarakat?

Penulis adalah alumni Pondok Pesantren Kedunglo, Kediri; anggota aktif Lingkar Studi “Matakuhati” Semarang.


Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam RMI NU, Olahraga, Doa Shautus Salam

Senin, 12 Februari 2018

NU Serang Ngaji Kitab Kuning Keliling

Serang, Shautus Salam. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Serang, Banten, mengagendakan pengajian kitab kuning keliling ke pengurus NU tingkat kecamatan (MWC), Ranting, dan pesantren-pesantren di Kota Serang.

NU Serang Ngaji Kitab Kuning Keliling (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Serang Ngaji Kitab Kuning Keliling (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Serang Ngaji Kitab Kuning Keliling

Menurut Ketua PCNU Kota Serang KH Matin Sarqowi, kegiatan tersebut adalah menimba dari semangat Syekh Nawawi Al-Bantani, seorang ulama besar, guru-guru kiai Nusantara yang juga pengarang mumpuni kitab kitab kuning.

Di samping itu, sambung kiai pengasuh Pesantren Al-Fathaniyah dengan 350 santri putra-putri tersebut, Kota Serang dengan luas  ilayah 266,74 km persegi, didukung sekitar 3000 pesantren salaf yang berkultur NU.

Shautus Salam

“Jadi, sangat mungkin dilakukan,” katanya, ketika dihubungi Shautus Salam selepas dilantik menjadi Ketua PCNU Kota Serang periode 2012-2017, di Serang, Sabtu (22/12).

Kegiatan tersebut merupakan perwujudan dari NU sebagai organisi dakwah kepada masyarakat luas. “Serang itu sangat kental NU, tapi kultur.”

Shautus Salam

Dengan kegiatan tersebut, kiai berusia 41 tahuu tersebut berharap pesantren-pesantren yang berkultur NU, juga paham NU secara organisasi.

Selain itu, Kiai Matin akan melakukan konsolidasi internal di organisasi dengan memperbaiki administrasi dan menajemen; membuka jaringan untuk kader-kader NU Kota Serang. Juga akan membidik bidang ekonomi sebagai pemberdayaan warga Nahdliyin.

Redaktur: A. Khoirul Anam

Penulis   : Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Doa, AlaNu Shautus Salam

Rabu, 07 Februari 2018

Soal HTI, Pemerintah RI Tidak Aniaya Agama Islam

Jakarta, Shautus Salam - Rais Syuriyah PBNU KH Ahmad Ishomuddin menanggapi pimpinan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang menganggap bahwa putusan pemerintah terkait pembubaran HTI sebagai bentuk perlawanan terhadap Islam.

“Pemerintah sama sekali tidak melawan dakwah Islam. Pemerintah Republik Indonesia tidak melawan agama Islam sama sekali. Yang dilawan adalah gerakan politik Hizbut Tahrir,” kata Kiai Ishom saat menjadi pembicara pada diskusi bertajuk “Khilafah dalam Pandangan Islam” di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Kamis (12/5).

Soal HTI, Pemerintah RI Tidak Aniaya Agama Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Soal HTI, Pemerintah RI Tidak Aniaya Agama Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Soal HTI, Pemerintah RI Tidak Aniaya Agama Islam

HTI, kata Kiai Ishomuddin, merupakan gerakan politik yang menggunakan simbol bendera putih dan hitam yang bertuliskan tauhid dengan menempuh jalan dakwah di negara Republik Indonesia.

Shautus Salam

Ia menambahkan, HTI seringkali mengatasnamakan umat Islam untuk mencapai tujuan-tujuan politiknya, yaitu menegakkan khilafah yang sifatnya internasional.

“Mereka ingin membuat sistem negara khilafah yang dipimpin khalifah mulai dari Sabang sampai Maroko, bukan Sabang sampai Merauke, tapi dari Sabang sampai Maroko,” terang Kiai Ishomuddin.

“Mereka menentang nation-state, negara bangsa,” tambahnya.

Shautus Salam

Diskusi ini dibuka oleh Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj. Kang Said menguraikan singkat sejarah Hizbut Tahrir dari mulai Palestina sampai masuk ke Indonesia. (Husni Sahal/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Santri, Doa Shautus Salam

Selasa, 06 Februari 2018

NU ‘Diserang’ GAM

Banyuasin, Shautus Salam

Nahdlatul Ulama (NU) harus benar-benar waspada. Karena, organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di Indonesia itu, saat ini sedang diserang GAM, kata Pengasuh Pondok Pesantren Asshiddiqiyah, Jakarta, KH Nur Muhammad Iskandar.



NU ‘Diserang’ GAM (Sumber Gambar : Nu Online)
NU ‘Diserang’ GAM (Sumber Gambar : Nu Online)

NU ‘Diserang’ GAM

Namun, menurutnya, GAM yang dimaksud bukanlah kelompok separatis Gerakan Aceh Merdeka, melainkan Gerakan Anti-Maulid. Gerakan yang dipelopori kelompok Islam garis keras itu, katanya, selalu berusaha menfitnah NU sebagai ahli bid’ah (mengada-ada dalam beribadah) dan khurafat (khayalan).

Kiai Nur, demikian panggilan akrabnya, mengatakan hal itu di hadapan para peserta Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional VI Antar-Pondok Pesantren se-Indonesia di Pondok Pesantren Sabilul Hasanah, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, Rabu (5/9) malam.

Shautus Salam

Ia menjelaskan, kelompok Islam garis keras itu tak henti-hentinya ‘mengkampanyekan’ bahwa ajaran dan amalan-amalan ibadah yang sudah menjadi tradisi NU, seperti, peringatan Maulid Nabi, tahlilan, ziarah kubur, dan sebagainya, adalah sesat karena dinilai tidak sesuai dengan ajaran Rasulullah Muhammad.

Shautus Salam

“Mengapa tahlil, Maulid Nabi, ziarah kubur yang selalu dipersoalkan? Padahal masih banyak persoalan yang dihadapi bangsa ini yang lebih patut dan harus dipersoalkan, seperti penyakit korupsi, masalah kemiskinan, dan lain-lain. Mengapa itu tidak dipersoalkan,” kata Kiai Nur lantang.

Tak hanya itu. Menurutnya, pesantren pun, oleh kelompok Islam garis keras itu, kerap disebut-sebut sebagai tempat penyebaran ajaran-ajaran yang dianggap bid’ah dan sesat tersebut.

“Ada upaya de-pesantren-isasi dan de-NU-isasi. Padahal, sejak jauh sebelum Republik ini berdiri hingga saat ini, NU dan pesantren selalu tampil mengambil posisi terdepan dalam menjaga negara ini,” terang Kiai Nur.

Penilaian-penilaian bernada negatif itu, ujarnya, terasa begitu menyakitkan bagi NU. Namun demikian, NU tak pernah memberikan reaksi secara berlebihan, apalagi menggunakan cara-cara kekerasan, dalam menghadapinya. Hal itu, katanya, karena NU dikenal moderat sebagai prinsip dari nilai-nilai Ahlussunnah Wal Jamaah.

“Islam Ahlussunnah Wal Jamaah merupakan benteng yang paling kokoh, benteng yang paling kuat bagi Islam, terutama Islam Indonesia. Islam Ahlussunnah Wal Jamaah, seperti Islam yang berkembang di Asia dan terbesar di Indonesia, merupakan Islam yang rasional, tidak emosional,” terangnya. (rif)Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Doa, Kiai Shautus Salam

Sabtu, 03 Februari 2018

Hoax, Literasi dan Pesan Islam

Oleh Syafiq Naqsyabandi

Kewarasan pikir manusia Indonesia diguncang dengan beredar luas-nya berita palsu (hoax). Kabar yang tidak bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya begitu mudah menyebar, terutama dengan perantara sosial media. Kondisi ini tentunya mengundang pertanyaan, mengapa semua ini bisa terjadi dan dalam skala yang begitu besar?

Hoax, Literasi dan Pesan Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Hoax, Literasi dan Pesan Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Hoax, Literasi dan Pesan Islam

Netizen merupakan subjek sekaligus objek dari sosial media. Oleh karenanya netizen mempunyai pengaruh yang paling utama dalam arus informasi di dunia maya. Netizen di Indonesia pada tahun 2016, menurut APJII (Asosiasi Penyelenggara Jaringan Internet Indonesia), berjumlah 132,7 juta jiwa atau 51,1 persen dari total penduduk Indonesia. Adapun tiga besar sosial media yang paling banyak digunakan netizen Indonesia adalah facebook dengan 71,6 juta pengguna (54 persen), disusul instagram dengan 19,9 juta pengguna (15 persen), dan youtube dengan 14,5 juta pengguna (11 persen).?

Sementara menurut situs statista.com, lima besar sosial media yang paling banyak digunakan netizen Indonesia berturut-turut adalah Facebook, Instagram, Twitter, Path, dan Google+. Besarnya netizen Indonesia yang menggunakan facebook, menempatkan Indonesia pada peringkat keempat negara dengan pengguna facebook terbanyak di dunia. Sementara tiga besar negara pengguna facebook di dunia adalah India dengan 195,16 juta pengguna, Amerika Serikat dengan 191,3 juta pengguna, dan Brazil dengan 90,11 juta pengguna.?

Data (APJII 2016) menunjukkan aktifitas yang paling banyak dilakukan oleh netizen adalah berbagi informasi dengan pelaku sebanyak 129,3 juta, diikuti dengan aktifitas berdagang dengan pelaku sebanyak 125,5 juta, dan aktiftas sosialisasi kebijakan pemerintah dengan pelaku sebanyak 119,9 juta. Demikian dapat dilihat bahwa netizen Indonesia adalah sebuah komunitas besar dengan jumlah lebih dari separuh populasi Indonesia yang selalu terhubung dan aktif berbagi informasi. Lantas, kenapa informasi hoax menjadi begitu dominan?

Kutipan terkenal David Kushner menyatakan bahwa berita bohong hanyalah gejala, penyakit sesungguhnya adalah kurangnya keinginan mencari bukti, bertanya, dan berpikir kritis. Secara implisit David Kushner menyampaikan bahwa penyebab menyebarnya hoax adalah kurangnya budaya literasi. Menurut UNESCO, literasi adalah kemampuan untuk mengidentifikasi, memahami, menerjemahkan, menciptakan, mengkomunikasikan dan memperhitungkan, menggunakan bahan tertulis maupun tercetak yang berhubungan dengan berbagai konteks.?

Shautus Salam

Secara umum literasi biasa dipahami sebagai kemampuan membaca dan menulis. Perkembangan terbaru menyatakan bahwa literasi tidak hanya membaca dan menulis, tetapi juga mencakup bidang lain seperti matematika, sains, sosial, lingkungan, keuangan, bahkan moral (Campbell, Kirsch, Kolstad 1992; Gomez 2008). ? ? ?

Shautus Salam

Ternyata, kondisi literasi Indonesia berada dalam tahap yang memprihatinkan. Hasil penelitian Central Connecticut State University (CCSU) tahun 2016, Indonesia menempati rangking literasi ke 60 dari 61 negara dalam The World’s Most Literate Nations. Indonesia tertinggal dari negara pengguna facebook terbanyak lainnya, yakni Amerika Serikat (7) dan Brazil (43). Indonesia juga tertinggal dari sesama negara ASEAN, yakni Singapura (36), Malaysia (53) dan Thailand (59). Adapun lima besar urutan negara dengan rangking literasi tertinggi adalah Finlandia, Norwegia, Islandia, Denmark, dan Swedia.Data minat baca sebagai unsur literasi juga tidak menggembirakan. UNESCO pada tahun 2012 menyatakan bahwa indeks minat baca Indonesia hanya 0,001 yang berarti hanya ada 1 orang yang membaca dari setiap 1000 penduduk. Sementara kajian Perpustakaan Nasional pada tahun 2015 menunjukkan minat baca masyarakat masih 25,1 atau masuk kategori rendah.?

Demikian dapat dilihat ternyata komunitas netizen Indonesia kurang mendapatkan suplai nutrisi untuk membuat konten maupun pembicaraan yang bermutu di sosial media. Wajar jika akhirnya informasi yang beredar di sosial media didominasi oleh hoax, karena netizen gagal mengidentifikasi kebenaran suatu informasi yang diterima.?

Netizen kemudian mempercayai hoax karena seringnya pengulangan, sesuai kata Plato bahwa kebenaran dapat dibuat dengan pengulangan kebohongan. Netizen menjadi begitu saja percaya bahwa ada lambang palu arit di uang rupiah. Netizen begitu mudah percaya bahwa desain uang rupiah baru dipengaruhi desain mata uang yuan/renmibi. Sampai yang paling parah adalah munculnya komunitas yang percaya bahwa bumi tidak bulat melainkan datar.

Kondisi ini dimanfaatkan oleh produsen hoax untuk mencari keuntungan. Produsen hoax mendapat keuntungan dengan banyaknya pengunjung website mereka. Tingginya trafik pengunjung akan mendatangkan iklan. Produsen hoax di Indonesia bisa meraup hingga Rp. 700 juta dalam satu tahun (Kompas.com; CNNIndonesia.com, 2/12/2016). Sebagai perbandingan, penulis berita palsu di Amerika Serikat dapat memperoleh keuntungan lebih dari 10 ribu USD atau setara Rp135 juta perbulan (washingtonpost.com, 18/11/2016).?

Motif lain produsen hoax selain keuntungan adalah untuk menguasai gagasan. Seperti yang dinyatakan Karl Marxbahwa mereka yang menguasai basis material akan menguasai gagasan dalam suatu zaman. Produsen hoax kemudian dapat mengarahkan pembicaraan pengguna sosial media kepada agenda-agenda tertentu, misalnya untuk mendelegitimasi pemerintahan atau menjatuhkan kredibilitas seorang tokoh dan organisasi masyarakat. Sayangnya, penyebar hoax tidak mempertimbangkan akibat dari aneka informasi yang disebarkan. Ancaman disintegrasi sosial sampai disintegrasi bangsa kini menjadi nyata gara-gara dominasi hoax dalam perbincangan netizen.

Sangat disayangkan bahwa para penyebar hoax yang dominan adalah situs-situs yang memakai label ‘Islam’ atau orang-orang dengan profil keislaman yang kuat. Padahal terdapat pesan untuk menjauhi menyebarkan hoax pada al-Quran yang berbunyi “... maka jauhilah (penyembahan) berhala-berhala yang najis itu, dan jauhilah perkataan dusta.” (Q.S al Hajj: 30). Tafsir Ibnu Katsir menceritakan bahwa Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Marwan ibnu Mu’awiyah al Fazzari, telah menceritakan kepada kami Sufyan Ibnu Ziyad, dari Fatik Ibnu Fudalah, dari Aiman Ibnu Karim yang menceritakan bahwa Rasulullah SAW berdiri melakukan khotbah. Beliau bersabda “Hai manusia, kesaksian palsu sebanding dengan mempersekutukan Allah!”.?

Beliau mengucapkan sabdanya ini sebanyak tiga kali, kemudian membaca Firman Allah SWT: “Maka jauhilah oleh kalian berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta." (Q.S Al Hajj : 30). Adapun Imam Bukhari meriwayatkan suatu hadits nabi yang berbunyi, “Maukah kalian aku beritahu tentang sebesar-besar dosa besar? Yaitu mempersekutukan Alloh dan durhaka pada kedua orang tua. Ketahuilah juga termasuk perkataan/persaksian dusta/palsu.” (HR Bukhari). Hadits ini shahih, diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Jalan Abi Bakrah Radhiyallohu‘anhu (no. 2654, 5976, 6273, 6274, 6919) dan dalam al-Adabul Mufrad (no. 15); Muslim (no. 87).

Hoax dapat dilawan setidaknya dengan tiga cara. Cara pertama adalah memverifikasi kebenaran suatu informasi yang diterima. Cara kedua memproduksi konten yang mengoreksi kabar hoax. Cara ketiga adalah meningkatkan minat baca, baik kepada orang lain maupun kepada diri sendiri.?

Walau sedikit terlambat, langkah pemerintah untuk mulai mengawasi dan meredam tersebarnya hoax patut diapresiasi dan didukung oleh segenap komponen bangsa. Meredam penyebaran hoax bukanlah kepentingan kelompok tertentu atau kepentingan politik penguasa, tapi harus menjadi kepentingan kita semua. Mengingat mencerdaskan kehidupan bangsa adalah salah satu tujuan luhur bagi kita semua dalam berbangsa dan bernegara.***

Penulis adalah Warga NU, tinggal di Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah. Facebook: Syafiq Naqsyabandi.

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Hikmah, IMNU, Doa Shautus Salam

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Shautus Salam sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Shautus Salam. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Shautus Salam dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock