Tampilkan postingan dengan label Nasional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nasional. Tampilkan semua postingan

Minggu, 25 Februari 2018

Jalan-jalan ke Dalam Diri

Oleh Aswab Mahasin

Manusia dalam dirinya mempunyai empat hal: harapan, keinginan, kegelisahan, dan penderitaan. Siapapun mereka, sekaya apapun mereka, dan semiskin apapun mereka—empat hal tersebut pasti ada dalam diri manusia. Allah SWT memerintahkan kita untuk selalu berusaha dan berpikir kreatif agar tidak terpenjara oleh empat hal itu. Untuk apa? Sebagai cara manusia bereksistensi.

Dalam kehidupan ini, manusia sering dirundung masalah, dari mulai yang biasa-biasa saja, sampai dengan yang terberat. Kadangkala dalam posisi tertentu tidak sedikit yang merasa kesulitan dan lelah menghadapi masalah. Padahal, jika kita mau berpikir, masalah terbesar kehidupan manusia bukanlah masalah, tapi tanpa masalah. Kenapa? manusia akan mengalami kekosongan, manusia tidak akan “menjadi”, ia berada pada ruang hampa, tanpa bisa dinilai dan tanpa penilaian. Artinya, ia kehilangan eksistensinya. 

Jalan-jalan ke Dalam Diri (Sumber Gambar : Nu Online)
Jalan-jalan ke Dalam Diri (Sumber Gambar : Nu Online)

Jalan-jalan ke Dalam Diri

Manusia dilemparkan ke dunia di awali dengan masalah, Nabi Adam dan Ibu Hawa menghuni dunia ini dimulai dengan kisah “masalah”, putra Nabi Adam saling membunuh adalah “masalah”. Itu sebagai cara Allah SWT agar manusia “menjadi”, tanpa kekosongan. Karena dalam proses menjadi itu manusia berbuat, bertindak, berpikir, dan berkenalan. Perjalanan itu berlaku hingga sekarang, semua manusia berusaha untuk “menjadi” dan bereksistensi. 

Perjalanan dalam proses “menjadi”—manusia dipaksa untuk berhadapan dengan manusia lainnya, yang sama-sama punya keinginan, punya harapan, punya kegelisahan, dan punya penderitaan. Sehingga antara manusia satu dengan manusia lainnya mengalami benturan kepentingan. Di sini terkadang manusia lupa diri dan lupa akan dirinya. 

Shautus Salam

Ini yang paling berbahaya, manusia harus berdamai dengan dirinya sendiri. Tanpa berdamai, susah bagi kita untuk menyelesaikan masalah. Konsekuensinya, kalau tidak lari dari masalah, tergerus oleh masalah, dengan kata lain terhempas dari persaingan hidup. Persaingan jangan dimaknai sebagai saling menjatuhkan, melainkan fastabiqul khairat (berlomba-lomba dalam kebaikan). 

Berlomba dalam kebaikan, berarti tidak melakukan kecurangan. Bermain sepak bola tidak boleh ujug-ujug kita ambil bolanya pakai tangan, kita bawa lari sampai gawang, lalu kita masukan ke gawang lawan. Ini pasti kena kartu merah. Artinya, sama saja kita menambah masalah hidup kita yang sudah penuh masalah.

Dengan demikian, kita dituntut mengenal diri dan menjabat tangan sendiri. Dengan mengenal diri akan mengenal aturan, berarti apa? Kesadaran yang akan terlahir.“Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu” –seseorang yang mengetahui jati dirinya, maka ia akan mengetahui Tuhannya. Telah jelas bukan? Masalahnya pada diri kita sendiri, yang paling susah dari manusia itu merendahkan diri sendiri untuk menghantam kesombongan, dan mengeluarkan kewarasan untuk mengejek kearifan. Seringnya, kearifan kita berbarengan dengan kesombongan kita.

Shautus Salam

Mengenali diri praktiknya tidaklah mudah. Tidak setiap orang dengan sendirinya kenal terhadap kesejatian diri. Setiap orang bisa saja mengenali wajahnya melalui cermin atau foto, namun bukan itu maksudnya, ini perjalanan ke dalam diri. Kenapa orang buta yang tak pernah melihat wajahnya tapi mengenali dirinya, karena ‘menjabat tangan sendiri’ tidak hanya sekedar fisik, tetapi kedalaman jati diri. 

Diri adalah keakuan, atau ego, dan dalam bahasa Arab disebut nafs, pada hakikatnya bersifat transenden, dapat melewati batas-batas fisiknya yang bersifat materi yang terbingkai dalam ruang dan waktu tertentu. Karena itu, keakuan manusia bisa kembali ke masa lalu, seperti masa kanak-kanak atau masa remaja, meskipun saat ini sudah memasuki usia-usia lanjut. Demikian halnya juga dengan keakuan seseorang bisa berada di tempat lain meskipun sebenarnya ia berada di sini. Semua itu dimungkinkan terjadi, karena sifat transendennya ego itu sendiri. (Prof. Dr. Musya Asy’ari, Dialektika Agama untuk Pembebasan Spiritual, [Yogayakarta: LESFI, 2002]. Hlm. 4)

Memasuki diri, keakuan atau ego yang transenden diperlukan kemampuan untuk mengenali jati diri secara benar, yaitu dengan memahami, memasuki dan menyatu dalam substansi jati diri yang aktual, yang terbangun dari berbagai komponen yang membentuk suatu kepribadian dalam aktualitas tindakan atau karyanya, baik komponen yang fisik maupun komponen yang metafisik. (Prof. Dr. Musya Asy’ari: 2002)

Allah SWT Berfirman, “Dan Allah telah menyempurnakan bagimu nikmat zahir dan nikmat batin.” (QS. Lukman: 20). Dalam surat Adh-Dhariyat ayat 21, Allah berfirman, “Dan di dalam diri kamu apakah kamu tidak memperhatikannya”. Selain itu, dalam Hadits Qudsi, “Aku jadikan dalam rongga anak Adam itu mahligai,dan dalam mahligai itu ada dada, dan dalam dada itu ada hati (qalbu) namanya, dan dalam hati (qalbu) ada mata hati (fuad), dan dalam mata hati (fuad) itu ada penutup mata hati (saghaf), dan dibalik penutup mata hati (saghaf) itu ada nur/cahaya (labban), dan di dalam nur/cahaya (labban) ada rahasia (sirr), dan di dalam rahasia (sirr) itulah Aku kata Allah.”

Dengan demikian, mengenali diri selalu bersifat ke dalam dirisebagai manhaj/metode memahami Tuhannya, agar kita tidak lupa bahwa kita adalah manusia, tidak sepantasnya berlaku seperti Tuhan. Manusia diciptakan tidak lain untuk beribadah kepada Allah. Dengan demikian, proses perjalanan ke dalam diri harus dengan penghayatan yang mendalam, jujur akan setiap tindakan dan tidak boleh merasa benar.

Dalam perspektif tasawuf, yang dimaksud dengan diri manusia (al-nafs al-insaniyah) bukanlah diri dalam pengertian fisiologi yang bersifat kebendaan (maddi), atau diri sebagaimana dipahami dalam psikologi yang lebih bersifat kehewanan. Tetapi diri yang dimaksudkan oleh ahli tasawuf ialah diri asali manusia yang secara fitrahnya (human nature) mempunyai kecenderungan menyembah Allah Taala. Konsep fitrah dalam Islam menuntut bahwa manusia dari segi sifat dasarnya adalah beragama tauhid.

Menurut al-Qur’an, sejak awal penciptaan Adam sudah terdapat perjanjian (mithaq) dan kesaksian (syahadah) daripada jiwa manusia, hanya Allah yang merupakan Tuhan sebenarnya, tiada yang lain. (lihat QS. Al-A’raf: 172). (Abdul Rahman Haji Abdullah, Wacana Falsafah Ilmu: Analisis Konsep-konsep Asas dan Falsafah Pendidikan Negara [Kuala Lumpur: Utusan Publications & Distributors Sdn Bhd, 2005]. Hlm. 89-90)

Sebab itu, orang yang sudah mampu mengenal dirinya, selalu digambarkan sebagai sosok yang arif, bijaksana, suka menolong, dan penuh pesona kebaikan. Berbeda sebaliknya, orang yang masih jauh akan pengenalan diri, hidupnya belum berdamai dengan siapapun, ia arogan, sembrono, dan semaunya sendiri.

Zaman now, kita banyak menemukan orang yang semaunya sendiri. Kemaren, ada seorang suami menembak istrinya, kejadian ini aneh bin ajaib. Saya tidak tahu masalahnya apa, namun tidak ada prinsip kemanusiaan satu pun yang mengizinkan seseorang membunuh, apalagi istrinya sendiri. Sebelum-sebelumnya, ada kejadian anak membunuh orang tuanya, orang tua membunuh anaknya, dan ada orang tua memperkosa anaknya. Orang-orang ini maunya apa?

Kalau boleh usul, Indonesia dengan berbagai macam kegaduhannya, harus ada pembersihan jiwa nasional (Tazkiyyat al-nafs) atau penyucian hati nasional (tasfiyah al-qalb). Jangan hanya patah hati saja yang nasional, tapi pembersihan diri juga harus digerakan secara nasional. Yang disayangkan, setiap aktifitas keagamaan ada muatan politiknya, bukannya jadi bersih malah semakin kotor (baca: gaduh). Lantas bagaimana?

Pembersihan jiwa dan hati nasional, bukan berarti berkumpul sampai mengumpulkan puluhan juta atau ratusan juta orang, tidak. Melainkan, tumbuh kesadaran dari setiap individu, kelompok, organisasi, dan pemerintahnya juga, untuk satu sama lain saling mengingatkan, menjaga sikap, menjaga lisan, menjaga tulisan, menjaga ujaran, dan meminimalisir semua tindakan yang dapat menyulut perpecahan. Minimal, satu sama lain dari kita mau bercermin dan berintrospeksi diri. 

  

Menjalin kesatuan umat seperti itu memang tidak mudah, kalau begitu alternatifnya adalah melalui jalur pendidikan: sekolah, pesantren, dan lembaga-lembaga pendidikan lainnya. Atau melalui mushola-mushola, dimana peran kiai kampung, memberikan pemahaman terhadap anak didiknya yang mengaji. “La yu’minu ahadukum hatta yuhibbu liakhihi kama yuhibbu linafsihi”—tidak beriman seseorang hinga ia dapat mencintai saudaranya seperti ia mencitai dirinya sendiri. “Al fitnatu asyaddu minal qatli”—fitnah lebih kejam daripada pembunuhan. “Inna ba’dla zanni ismun”—sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. 

Penulis adalah Pembaca Setia Shautus Salam.

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Ahlussunnah, Nasional, Halaqoh Shautus Salam

Sabtu, 24 Februari 2018

Temuan Penelitian Layanan Pendidikan Agama di SMAN 1 Denpasar

Jakarta, Shautus Salam. Masyarakat Bali dan khususnya kota Denpasar yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kebersamaan dan kebangsaan, tentu dapat menunjukkan sikap dan perilaku toleran yang dapat menjadi contoh dan suri teladan dalam kebidupan bermasyarakat dan berbangsa. 

Untuk itu, penelitian di SMAN 1 kota Denpasar dikemukakan sebagai fakta dan bukti adanya apresiasi dan dukungan pemerintah daerah, dan masyarakat (komite sekolah) dalam menjunjung tinggi nilai toleransi. 

Temuan Penelitian Layanan Pendidikan Agama di SMAN 1 Denpasar (Sumber Gambar : Nu Online)
Temuan Penelitian Layanan Pendidikan Agama di SMAN 1 Denpasar (Sumber Gambar : Nu Online)

Temuan Penelitian Layanan Pendidikan Agama di SMAN 1 Denpasar

Hasil penelitian Balitbang Diklat Kemenag 2016 menemukan layanan pendidikan agama di SMAN 1 Denpasar dilaksanakan sesuai dengan agama siswa. Setiap siswa mendapatkan pelajaran agama dari guru, dan buku sumber yang sesuai dengan agama siswa. Untuk kelas atau rombongan belajar dengan jumlah siswa yang sedikit, maka proses pembelajaran digabung dengan siswa pada kelas lainnya. 

Bahkan pada praktik  ibadah dan pembelajaran dapat dilakukan penggabungan dengan sekolah lain. Pelaksanaan penggabungan pembelajaran agama yang digabung dengan siswa seagama pada sekolah lain di SMAN 1 Denpasar dilakukan oleh siswa agama Katholik dan agama Buddha. 

Rumah/tempat ibadah dalam bentuk bangunan yang berdiri di dalam komplek sekolah adalah Pura. Sementera rumah ibadah agama lain tidak tersedia. Untuk melayani pelaksanaan ibadah siswa agama lain maka disiapkan aula. Tempat ini yang biasa digunakan oleh siswa-siswi dan karyawan muslim untuk melaksanakan ibadah sholat. 

Perayaan hari besar agama dilaksanakan secara bebas, dalam artian bahwa setiap siswa dapat/diperbolehkan bahkan difasilitasi oleh sekolah untuk merayakan peringatan hari besar agamanya. Karja sama antar siswa beda agama juga terlihat dalam perayaan hari besar umat beragama tersebut. 

Shautus Salam

Faktor paling utama yang mendukung penyelenggaraan pendidikan agama sesuai agama siswa adalah Kepala Sekolah dan Komite Sekolah. Sebagai pimpinan lembaga dan memiliki kewenangan, kedua lembaga tersebut berusaha untuk memenuhi ketersediaan guru agama di sekolah SMAN 1 Denpasar. Fungsi kantor Kementerian Agama kota Denpasar untuk memenuhi ketersediaan tenaga pengajar, dan buku-buku agama masih belum terlaksana maksimal.

Secara umum, penerima manfaat dari penelitian ini adalah seluruh pemangku kepentingan pendidikan khususnya masyarakat dan lembaga penyelenggara pendidikan di kota Denpasar pada khususnya. Melalui penelitian ini masyarakat dapat mengetahui salah satu profil lembaga pendidikan pada daerah mayoritas Hindu yang memiliki perhatian dan kepedulian untuk memberikan layanan pendidikan agama kepada siswanya sesuai agama yang dianutnya. 

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memperkuat kesan masyarakat Bali, dan Denpasar pada khususnya sebagai bagian dari masyarakat Indonesia yang menjunjung tinggi nilai-nilai kebhinnekaan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. (Kendi Setiawan)

Shautus Salam

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Ulama, Nasional, Kiai Shautus Salam

Selasa, 06 Februari 2018

Halal Bihalal, Alumni Pelajar NU Tasik Pikirkan Kader

Tasikmalaya, Shautus Salam - Majelis Alumni Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (MA IPNU) Kota Tasikmalaya menggelar Halal Bihalal, Ahad (17/7). Sebanyak 30 orang hadirin ini melakukan restrukturisasi kepengurusan presedium MA IPNU Kota Tasikmalaya.

Kepengurusan MA IPNU ini diharapkan mampu mendistribusikan para kader, anggota, atau junior-juniornya sesuai kemampuan dan keahliannya pascapengabdian mereka di IPNU.

Halal Bihalal, Alumni Pelajar NU Tasik Pikirkan Kader (Sumber Gambar : Nu Online)
Halal Bihalal, Alumni Pelajar NU Tasik Pikirkan Kader (Sumber Gambar : Nu Online)

Halal Bihalal, Alumni Pelajar NU Tasik Pikirkan Kader

Menurut Ketua Pelaksana Halal Bihalal MA IPNU Aan Ahmad Farhan, hal ini merupakan agenda pertama yang dilakukan MA IPNU Kota Tasikmalaya. Meskipun yang hadir sedikit, gagasan ini harus menjadi gerakan untuk ke depannya.

“Acara halal bihalal ini bukan sekadar untuk saling memaafkan, akan tetapi momentum di mana para alumni dapat bertatap muka langsung, alumni dan pengurus, alumni dan kader serta anggota IPNU,” kata Aan.

Shautus Salam

Sementara Ketua Presedium MA IPNU Kota Tasikmalaya KH Didi Hudaya berharap gagasan ini harus menjadi gerakan MA IPNU untuk ke depannya, dan harus berlangsung di masa mendatang. Dengan begitu keterkaitan alumni, pengurus, kader dan anggota terjalin dengan kuat dan erat.

Shautus Salam

“Kita itu jangan menjadi aktivis curriculum vitae saja, tetapi harus menjadi penggagas dan penggerak serta pemecah suatu permasalahan,” kata Kiai Didi.

Pada kesempatan ini ia berharap para kader NU menjaga dan mencintai serta melestarikan tradisi-tradisi yang sudah diwariskan oleh para kiai NU terdahulu. (Agum Gumilar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Ulama, Nasional, Kiai Shautus Salam

Senin, 22 Januari 2018

Kemenag Tak Akan Atur Penggunaan Atribut Keagamaan

Jakarta, Shautus Salam. Kementerian Agama Republik Indonesia menegaskan tak akan membuat aturan berisi perintah atau larangan tentang penggunaan atribut dan pakaian keagamaan tertentu. Sikap ini disampaikan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin terhadap isu penggunaan pakaian atau atribut Kristen jelang peringatan Natal.

Kemenag Tak Akan Atur Penggunaan Atribut Keagamaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kemenag Tak Akan Atur Penggunaan Atribut Keagamaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Kemenag Tak Akan Atur Penggunaan Atribut Keagamaan

“Masing-masing kita dituntut untuk dewasa dan bijak untuk tidak menuntut apalagi memaksa seseorang menggunakan pakaian atau atribut agama yang tidak dianutnya,” katanya dalam siaran pers yang dikirim melalui Bidang Hubungan Masyarakat Kemenag RI, Selasa (9/12).

Seorang Muslim, tambah Lukman, tidak usah dituntut menggunakan kalung salib atau topi sinterklas demi menghormati Hari Natal. Juga umat perempuan nonmuslim tidak perlu dipaksa berjilbab demi hormati Idul Fitri.

Shautus Salam

“Bertoleransi bukanlah saling meleburkan dan mencampurbaurkan identitas masing-masing atribut dan simbol keagamaan yang berbeda. Bertoleransi adalah saling memahami, mengerti, dan menghormati akan perbedaan masing-masing, bukan menuntut pihak lain yang berbeda untuk menjadi sama seperti dirinya,” tegasnya. (Mahbib Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam

Shautus Salam Olahraga, Nasional, Pondok Pesantren Shautus Salam

Nusron Wahid: Wahabi Gentayangan di Dunia Maya dan Pendidikan

Jepara, Shautus Salam

Gerakan politik khilafah ISIS yang berkembang di Suriah dan Irak hingga saat ini sudah berjalan 15 tahun. Cita-cita gerakan ini sendiri ditargetkan berjalan 50 tahun. Artinya, masih ada waktu 35 tahun untuk melanjutkan cita-cita ini.

Ketua PBNU H Nusron Wahid menyatakan hal ini dalam Pelantikan Lembaga-lembaga PCNU Jepara masa khidmah 2015-2020 dan Pembinaan Keorganisasian NU yang berlangsung di Gedung NU Jepara, Jawa Tengah, akhir pekan lalu (24/1).

Nusron Wahid: Wahabi Gentayangan di Dunia Maya dan Pendidikan (Sumber Gambar : Nu Online)
Nusron Wahid: Wahabi Gentayangan di Dunia Maya dan Pendidikan (Sumber Gambar : Nu Online)

Nusron Wahid: Wahabi Gentayangan di Dunia Maya dan Pendidikan

ISIS, menurutnya, tidak pernah menarget orang tua yang sudah sepuh tetapi mereka membidik usia 40 tahun ke bawah. Ustadz-ustadz Wahabi bergentayangan di dunia maya tiada henti. Anak muda yang selalu bersinggungan dengan dunia maya, terutama media sosial, setiap saat sebagai target utama mereka.

Shautus Salam

Melihat keprihatinan ini, menurut Nusron, elemen-elemen yang menaungi anak muda NU harus dicek keberadaannya. Apakah sekolah-sekolah yang ada sudah ada IPNU-IPPNU-nya? Apakah pemuda dan pemudi yang ada sudah bergabung dengan GP Ansor maupun Fatayat NU? Atau malah generasi muda kini sudah menjadi pemabuk dan problem negatif lainnya. ujarnya. ?

Problem

Shautus Salam

Ketua Bidang Pengaderan PBNU ini menjelaskan, problem ini terjadi karena kader NU banyak yang masih kurang terdidik, pengangguran dan miskin. Lalu, aktivis muda NU asal Kudus ini mengutip strategi penyelesaian problem ala Hernando Desoto.

Dari lima legal access yang ditawarkan Hernando, yakni akses tanah, akses pendidikan, akses modal, akses teknologi, dan akses pasar. Menurut Nusron, pendidikan merupakan hal utama yang harus diperkuat. “Usia 18-23? biarkan mereka belajar,” katanya.

Untuk usia 25-35 tahun, jelasnya, lebih ditekankan pada penguatan perekonomian. Yang tidak kalah penting lagi, kata Nusron, adalah penataan kelembagaan NU.

Mantan Ketua Umum GP Ansor ini menggarisbawahi lini pendidikan. Bahwa siswa dengan nilai yang bagus biasanya lebih memilih SMA 1. Sisanya yang dengan nilai pas-pasan masuk di sekolah LP Maarif NU.

Nah, tambahnya, di sekolah-sekolah negeri itulah agen Wahabi masuk di kegiatan Rohis yang tutornya berasal dari kampus. Sehingga, tegasnya, perlu pola pendampingan massif. Karena di sekolah umum susah untuk memasukkan IPNU-IPPNU.

Saat ini para pengikut Wahabi di Indonesia bukan dari orang lain. Tetapi bahkan dari warga NU sendiri. Anak warga NU yang menempuh studi di luar kota menjadi salah satu penyebabnya.

Penelitian yang ia lakukan bersama teman-temannya menemukan fakta satu? keluarga NU yang kebetulan kuliah di luar kota menjadi Wahabi. Ia pun prihatin ketika mendengar cerita-cerita dari kawannya di sekolah-sekolah negeri susah ketika akan mengadakan maulid. Alih-alih tradisi NU itu dilarang oleh murid.

Keprihatinan lain, 1600 dari penerima beasiswa LPDP disinyalir yang disiapkan untuk antek Wahabi.? ?

Oleh sebab itu, Nusron mengajak agar NU turut bergerak. Beasiswa-beasiswa yang disediakan oleh pemerintah semacam bidik misi dan LPDP separuhnya harus diambil alih oleh kader NU.

Salah satu cara yang bisa ditempuh, di setiap kecamatan wajib ada Bimbel yang dikelola Maarif maupun Muslimat. Maarif dan Muslimat juga harus punya database murid agar alumni yang “hilang bisa segera dilacak. (Syaiful Mustaqim/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Nasional, Warta, Tegal Shautus Salam

Rabu, 03 Januari 2018

Kapan Nikah?

Menjelang mudik Lebaran, Dulkirom, seorang anggota Banser, dak-dik-duk menghadapi pertanyaan “kapan nikah?” dari segenap pintu rumah kerabat yang bakal ia kunjungi. Baginya, usia 34 tahun belum ijab-qabul adalah aib, bahkan bid’ah bagi sekelompok orang.

Benar. Serangan yang ia khawatirkan pun tiba.

Kapan Nikah? (Sumber Gambar : Nu Online)
Kapan Nikah? (Sumber Gambar : Nu Online)

Kapan Nikah?

“Kapan nikah, Nak?” Pertanyaan meluncur dari Pak Leknya (paman).

“Wah, KUA Lebaran gini masih tutup, Pak Lek,” jawabnya ngeles.

Shautus Salam

Pertanyaan serupa muncul dari anggota keluarga lain dan sahabat-sahabatnya dan dijawab dengan alasan yang sama. Terus berulang dari pintu ke pintu hingga sembilan kali.

Shautus Salam

“Terus kalau KUA sudah buka, tanggal berapa mau kawin?” Tanya salah satu bibinya.

Jawaban tak mungkin sama. Sambil melirik saudara sepupunya, si Banser sok berkonsultasi, “Enaknya, punya rumah dulu atau mobil dulu ya sebelum nikah?”

“Kalau menurutku, ya mesti punya calon dulu,” balas rekannya sambil ngelonyor. (Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Nasional Shautus Salam

Senin, 01 Januari 2018

Spiritualitas Pembeda Unusia dengan Kampus Lain

Jakarta, Shautus Salam

Ada orang yang beriman, tetapi tidak berilmu. Juga ada orang berilmu, sayangnya tidak beriman. Padahal Allah SWT mengangkat derajat orang-orang yang beriman sekaligus berilmu. Beriman sekaligus berilmu itulah yang menjadi cita-cita Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia).

Demikian disampaikan Rektor Unusia Prof Dr Ir Maksoem Machfoedz pada? ceramah ilmiah berjudul “Spiritualisasi Keilmuan” dalam rangka Dies Natalis Ke-1 Unusia di Aula Utama Unusia, Jalan Taman Amir Hamzah, Menteng Jakarta Pusat, Rabu (15/6).

Spiritualitas Pembeda Unusia dengan Kampus Lain (Sumber Gambar : Nu Online)
Spiritualitas Pembeda Unusia dengan Kampus Lain (Sumber Gambar : Nu Online)

Spiritualitas Pembeda Unusia dengan Kampus Lain

Peringatan ulang tahun pertama Unusia mengambil tema “Menuju Kampus Bermutu”. Dalam ceramahnya, Prof Maksoem pun mengambil analogi keilmuan yang ingin dikembangkan Unusia dengan spirit ibadah puasa.

Shautus Salam

Pelaksanaan ibadah puasa harus mampu mengendalikan hawa nafsu. Bagi mahasiswi hendaknya menghindari perguncingan, dan mahasiswa harus mampu menjaga pandangan mata yang dapat mengundang syahwat. Puasa jangan sampai hanya mendatangkan derita lapar dan dahaga. Karena puasa bertujuan menjadikan manusia bertakwa.

Ketakwaan dapat dilihat dari beberapa dimensi, yaitu ubudiyah dan pembentukan karakter. Salah satu bentuk karakter takwa adalah keadilan. Keadilan mendekatkan pula kepada ketakwaan. Keadilan harus ditegakkan, walaupun berkaitan dengan orang terdekat, juga tidak peduli kaya atau miskin. Keadilan harus pula diaplikasikan melalui sikap kita dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Shautus Salam

Prof Maksoem menegaskan semua tujuan itu dikaji, dibentuk dan diwujudkan dalam program studi-program studi yang diselenggarakan di Unusia. Adalah tantangan bagi keberadaan program studi humaniora dengan aneka pendekatan keilmuannya untuk menerjemahkan cita-cita dan amanat spiritual keadilan. Sudah tiba waktunya dipertanyakan eksistensi keilmuan Hukum ketika ketidakadilan justru menjadi raja diraja. Pertanyaan yang sama juga menjadi tantangan serius bagi Ilmu Psikologi, Sosiologi, Komunikasi sampai Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).

Penting direnungkan, lanjut Prof Maksoem, bahwa krisis ekonomi merupakan kegagalan keilmuan ekonomi baik dari sisi manajemen maupun akuntansinya. Tantangan keilmuan ekonomi adalah menerjemahkan ekonomi yang berkeadilan. Ilmu ekonomi yang selama ini diterapkan hanya memperhatikan keuntungan uang.

Menurut Prof Maksoem ilmu teknik juga sama saja, bahkan cenderung menjadi hamba kapitalis. “Pernahkah kita berpikir ada lulusan Sistem Informasi yang pro rakyat kecil? Umumnya mereka sangat pro kapitalisme dan liberalisme,” kata Prof Maksoem.

Setiap ada warga yang miskin, selalu yang disalahkan adalah kaum miskin tersebut. Kaum miskin dipersalahkan karena kalah bersaing, tidak belajar, dan dianggap pantas saja ada fakir miskin.

Prof Maksoem berasumsi, bila Allah tidak menyaratkan perhatian orang muslim terhadap kaum miskin, kira-kira apa ada puasa wajib? Bila tidak ada kepentingan dengan fakir miskin bisa jadi puasa Ramadhan tidak wajib. Karena salah satu hikmah berpuasa adalah membangun simpati dan empati kepada kaum miskin.

Puasa juga tidak lengkap apabila tidak ada kewajiban membayar zakat. Membayar zakat haruslah kepada orang yang berhak, salah satunya fakir miskin.

Prof Maksoem mendorong mahasiswa Unusia semua jurusan menjadi ilmuwan yang tidak hanya intelektual, tetapi ilmuwan yang bertindak untuk kemaslahatan umat. Ilmuan seperti itulah yang oleh Allah disebut ulama. Yakni mereka yang dengan ilmunya—ilmu apa pun, tidak harus ilmu agama—dapat memberikan manfaat bagi orang lain. (Kendi Setiawan/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Nasional, Hikmah, Ulama Shautus Salam

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Shautus Salam sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Shautus Salam. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Shautus Salam dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock