Tampilkan postingan dengan label Ahlussunnah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ahlussunnah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 Februari 2018

Bank Sulselbar Akan Lengkapi Infrastruktur Universitas Islam Makassar

Makassar, Shautus Salam. Bank Sulselbar tertarik melengkapi infrastruktur salah satu perguruan tinggi NU, Universitas Islam Makassar (UIM). Perhatian serius itu dibuktikan dengan kunjungan Direktur Umum Bank Sulselbar Ambo Syamsuddin ke Rektor UIM Dr. Ir. Hj. Majdah Agus Arifin Nu’mang, Selasa (16/12) kemarin.

Bank Sulselbar Akan Lengkapi Infrastruktur Universitas Islam Makassar (Sumber Gambar : Nu Online)
Bank Sulselbar Akan Lengkapi Infrastruktur Universitas Islam Makassar (Sumber Gambar : Nu Online)

Bank Sulselbar Akan Lengkapi Infrastruktur Universitas Islam Makassar

Kunjungan itu dimaksudkan untuk mendapatkan gambaran konkret kemajuan yang telah dicapai universitas yang dipimpin istri Wagub Sulsel itu, terutama dari segi sarana dan prasarana. Setelah di terima di ruang kerja, Ambo Syamsuddin bersama Majdah didampingi Pembantu Rektor II Ir. Saripuddin Muddin meninjau langsung ke Auditorium KH Muhyiddin Zain yang tengah dalam tahap penyelesaian akhir. Auditorium itu akan menampung sekitarb 4000 undangan dilengkapi dengan panggung berukuran besar dan balkon di bagian belakang.

Menurut Ambo Syamsuddin, pihaknya memang menaruh perhatian besar kepada UIM karena telah mengalami perkembangan yang begitu pesat setidaknya dalam tiga tahun terakhir ini. Selain telah terbangun 11 gedung perkuliahan dan fasilitas lainnya yang cukup megah, juga perkembangan mahasiswanya telah mencapai 6.000 orang.

Shautus Salam

Untuk lengkah awal, pada tahun 2015 nanti Bank Sulselbar sudah menyiapkan bantuan khusus untuk melengkapi sarana dan prasarana yang dibutuhkan gedung auditorium. Gedung ini perlu kita dukung sepenuhnya karena dapat difungsikan secara produktif, baik oleh mahasiswa maupun masyarakat di daerah ini.

“Kami terpanggil memberi bantuan nyata karena memang pengelolaan UIM semakin mapan di tangan ibu Rektor. Pembangunan fisiknya saja sudah tampak jauh dari bebrapa tahun lalu yang masih kelihatan dipenuhi pada rumput. Sekarang sudah dipenuhi gedung bertingkat,” tandasnya. (Andy Muhammad Idris/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam

Shautus Salam Ulama, Ahlussunnah Shautus Salam

Minggu, 25 Februari 2018

Jalan-jalan ke Dalam Diri

Oleh Aswab Mahasin

Manusia dalam dirinya mempunyai empat hal: harapan, keinginan, kegelisahan, dan penderitaan. Siapapun mereka, sekaya apapun mereka, dan semiskin apapun mereka—empat hal tersebut pasti ada dalam diri manusia. Allah SWT memerintahkan kita untuk selalu berusaha dan berpikir kreatif agar tidak terpenjara oleh empat hal itu. Untuk apa? Sebagai cara manusia bereksistensi.

Dalam kehidupan ini, manusia sering dirundung masalah, dari mulai yang biasa-biasa saja, sampai dengan yang terberat. Kadangkala dalam posisi tertentu tidak sedikit yang merasa kesulitan dan lelah menghadapi masalah. Padahal, jika kita mau berpikir, masalah terbesar kehidupan manusia bukanlah masalah, tapi tanpa masalah. Kenapa? manusia akan mengalami kekosongan, manusia tidak akan “menjadi”, ia berada pada ruang hampa, tanpa bisa dinilai dan tanpa penilaian. Artinya, ia kehilangan eksistensinya. 

Jalan-jalan ke Dalam Diri (Sumber Gambar : Nu Online)
Jalan-jalan ke Dalam Diri (Sumber Gambar : Nu Online)

Jalan-jalan ke Dalam Diri

Manusia dilemparkan ke dunia di awali dengan masalah, Nabi Adam dan Ibu Hawa menghuni dunia ini dimulai dengan kisah “masalah”, putra Nabi Adam saling membunuh adalah “masalah”. Itu sebagai cara Allah SWT agar manusia “menjadi”, tanpa kekosongan. Karena dalam proses menjadi itu manusia berbuat, bertindak, berpikir, dan berkenalan. Perjalanan itu berlaku hingga sekarang, semua manusia berusaha untuk “menjadi” dan bereksistensi. 

Perjalanan dalam proses “menjadi”—manusia dipaksa untuk berhadapan dengan manusia lainnya, yang sama-sama punya keinginan, punya harapan, punya kegelisahan, dan punya penderitaan. Sehingga antara manusia satu dengan manusia lainnya mengalami benturan kepentingan. Di sini terkadang manusia lupa diri dan lupa akan dirinya. 

Shautus Salam

Ini yang paling berbahaya, manusia harus berdamai dengan dirinya sendiri. Tanpa berdamai, susah bagi kita untuk menyelesaikan masalah. Konsekuensinya, kalau tidak lari dari masalah, tergerus oleh masalah, dengan kata lain terhempas dari persaingan hidup. Persaingan jangan dimaknai sebagai saling menjatuhkan, melainkan fastabiqul khairat (berlomba-lomba dalam kebaikan). 

Berlomba dalam kebaikan, berarti tidak melakukan kecurangan. Bermain sepak bola tidak boleh ujug-ujug kita ambil bolanya pakai tangan, kita bawa lari sampai gawang, lalu kita masukan ke gawang lawan. Ini pasti kena kartu merah. Artinya, sama saja kita menambah masalah hidup kita yang sudah penuh masalah.

Dengan demikian, kita dituntut mengenal diri dan menjabat tangan sendiri. Dengan mengenal diri akan mengenal aturan, berarti apa? Kesadaran yang akan terlahir.“Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu” –seseorang yang mengetahui jati dirinya, maka ia akan mengetahui Tuhannya. Telah jelas bukan? Masalahnya pada diri kita sendiri, yang paling susah dari manusia itu merendahkan diri sendiri untuk menghantam kesombongan, dan mengeluarkan kewarasan untuk mengejek kearifan. Seringnya, kearifan kita berbarengan dengan kesombongan kita.

Shautus Salam

Mengenali diri praktiknya tidaklah mudah. Tidak setiap orang dengan sendirinya kenal terhadap kesejatian diri. Setiap orang bisa saja mengenali wajahnya melalui cermin atau foto, namun bukan itu maksudnya, ini perjalanan ke dalam diri. Kenapa orang buta yang tak pernah melihat wajahnya tapi mengenali dirinya, karena ‘menjabat tangan sendiri’ tidak hanya sekedar fisik, tetapi kedalaman jati diri. 

Diri adalah keakuan, atau ego, dan dalam bahasa Arab disebut nafs, pada hakikatnya bersifat transenden, dapat melewati batas-batas fisiknya yang bersifat materi yang terbingkai dalam ruang dan waktu tertentu. Karena itu, keakuan manusia bisa kembali ke masa lalu, seperti masa kanak-kanak atau masa remaja, meskipun saat ini sudah memasuki usia-usia lanjut. Demikian halnya juga dengan keakuan seseorang bisa berada di tempat lain meskipun sebenarnya ia berada di sini. Semua itu dimungkinkan terjadi, karena sifat transendennya ego itu sendiri. (Prof. Dr. Musya Asy’ari, Dialektika Agama untuk Pembebasan Spiritual, [Yogayakarta: LESFI, 2002]. Hlm. 4)

Memasuki diri, keakuan atau ego yang transenden diperlukan kemampuan untuk mengenali jati diri secara benar, yaitu dengan memahami, memasuki dan menyatu dalam substansi jati diri yang aktual, yang terbangun dari berbagai komponen yang membentuk suatu kepribadian dalam aktualitas tindakan atau karyanya, baik komponen yang fisik maupun komponen yang metafisik. (Prof. Dr. Musya Asy’ari: 2002)

Allah SWT Berfirman, “Dan Allah telah menyempurnakan bagimu nikmat zahir dan nikmat batin.” (QS. Lukman: 20). Dalam surat Adh-Dhariyat ayat 21, Allah berfirman, “Dan di dalam diri kamu apakah kamu tidak memperhatikannya”. Selain itu, dalam Hadits Qudsi, “Aku jadikan dalam rongga anak Adam itu mahligai,dan dalam mahligai itu ada dada, dan dalam dada itu ada hati (qalbu) namanya, dan dalam hati (qalbu) ada mata hati (fuad), dan dalam mata hati (fuad) itu ada penutup mata hati (saghaf), dan dibalik penutup mata hati (saghaf) itu ada nur/cahaya (labban), dan di dalam nur/cahaya (labban) ada rahasia (sirr), dan di dalam rahasia (sirr) itulah Aku kata Allah.”

Dengan demikian, mengenali diri selalu bersifat ke dalam dirisebagai manhaj/metode memahami Tuhannya, agar kita tidak lupa bahwa kita adalah manusia, tidak sepantasnya berlaku seperti Tuhan. Manusia diciptakan tidak lain untuk beribadah kepada Allah. Dengan demikian, proses perjalanan ke dalam diri harus dengan penghayatan yang mendalam, jujur akan setiap tindakan dan tidak boleh merasa benar.

Dalam perspektif tasawuf, yang dimaksud dengan diri manusia (al-nafs al-insaniyah) bukanlah diri dalam pengertian fisiologi yang bersifat kebendaan (maddi), atau diri sebagaimana dipahami dalam psikologi yang lebih bersifat kehewanan. Tetapi diri yang dimaksudkan oleh ahli tasawuf ialah diri asali manusia yang secara fitrahnya (human nature) mempunyai kecenderungan menyembah Allah Taala. Konsep fitrah dalam Islam menuntut bahwa manusia dari segi sifat dasarnya adalah beragama tauhid.

Menurut al-Qur’an, sejak awal penciptaan Adam sudah terdapat perjanjian (mithaq) dan kesaksian (syahadah) daripada jiwa manusia, hanya Allah yang merupakan Tuhan sebenarnya, tiada yang lain. (lihat QS. Al-A’raf: 172). (Abdul Rahman Haji Abdullah, Wacana Falsafah Ilmu: Analisis Konsep-konsep Asas dan Falsafah Pendidikan Negara [Kuala Lumpur: Utusan Publications & Distributors Sdn Bhd, 2005]. Hlm. 89-90)

Sebab itu, orang yang sudah mampu mengenal dirinya, selalu digambarkan sebagai sosok yang arif, bijaksana, suka menolong, dan penuh pesona kebaikan. Berbeda sebaliknya, orang yang masih jauh akan pengenalan diri, hidupnya belum berdamai dengan siapapun, ia arogan, sembrono, dan semaunya sendiri.

Zaman now, kita banyak menemukan orang yang semaunya sendiri. Kemaren, ada seorang suami menembak istrinya, kejadian ini aneh bin ajaib. Saya tidak tahu masalahnya apa, namun tidak ada prinsip kemanusiaan satu pun yang mengizinkan seseorang membunuh, apalagi istrinya sendiri. Sebelum-sebelumnya, ada kejadian anak membunuh orang tuanya, orang tua membunuh anaknya, dan ada orang tua memperkosa anaknya. Orang-orang ini maunya apa?

Kalau boleh usul, Indonesia dengan berbagai macam kegaduhannya, harus ada pembersihan jiwa nasional (Tazkiyyat al-nafs) atau penyucian hati nasional (tasfiyah al-qalb). Jangan hanya patah hati saja yang nasional, tapi pembersihan diri juga harus digerakan secara nasional. Yang disayangkan, setiap aktifitas keagamaan ada muatan politiknya, bukannya jadi bersih malah semakin kotor (baca: gaduh). Lantas bagaimana?

Pembersihan jiwa dan hati nasional, bukan berarti berkumpul sampai mengumpulkan puluhan juta atau ratusan juta orang, tidak. Melainkan, tumbuh kesadaran dari setiap individu, kelompok, organisasi, dan pemerintahnya juga, untuk satu sama lain saling mengingatkan, menjaga sikap, menjaga lisan, menjaga tulisan, menjaga ujaran, dan meminimalisir semua tindakan yang dapat menyulut perpecahan. Minimal, satu sama lain dari kita mau bercermin dan berintrospeksi diri. 

  

Menjalin kesatuan umat seperti itu memang tidak mudah, kalau begitu alternatifnya adalah melalui jalur pendidikan: sekolah, pesantren, dan lembaga-lembaga pendidikan lainnya. Atau melalui mushola-mushola, dimana peran kiai kampung, memberikan pemahaman terhadap anak didiknya yang mengaji. “La yu’minu ahadukum hatta yuhibbu liakhihi kama yuhibbu linafsihi”—tidak beriman seseorang hinga ia dapat mencintai saudaranya seperti ia mencitai dirinya sendiri. “Al fitnatu asyaddu minal qatli”—fitnah lebih kejam daripada pembunuhan. “Inna ba’dla zanni ismun”—sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. 

Penulis adalah Pembaca Setia Shautus Salam.

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Ahlussunnah, Nasional, Halaqoh Shautus Salam

Sabtu, 17 Februari 2018

PMII Cianjur Nilai KPUD Gagal

Cianjur, Shautus Salam. Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Pemilu Kabupaten Cianjur menilai proses Pemilihan Anggota Legislatif 9 April 2014 yang digelar Komisi Pemilihan Umum Daerah Kabupaten Cianjur tidak berjalan mulus.

Ketua Umum PMII Kabupaten Cianjur Ayi Sopwanul Umam menyebutkan, pihaknya menemukan kertas suara dan Daftar Calon Tetap (DCT) yang tertukar di setiap daerah pemilihan (dapil).

PMII Cianjur Nilai KPUD Gagal (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Cianjur Nilai KPUD Gagal (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Cianjur Nilai KPUD Gagal

“Kertas Suara yang seharusnya di dapil 1 Tertukar dengan dengan dapil 4, dapil1 dengan dapil 2. Seperti terjadi di TPS VII Desa Bunikasih Kecamatan Warungkondang tertukar kertas suaranya dengan dapil 2,” terangnya Sabtu, (12/4). ?

Shautus Salam

Ia menilai KPUD Cianjur kurang mensosialisasikan pemilu kepada masyarakat. Karena di lapangan masyarakat kurang memahami apa dan bagaimana proses pemilu ini, mulai arti wakil DPR, DPRD Provinsi, DPRD Kabupaten/Kota dan DPD, serta tata cara pencoblosan itu tersendiri.

PMII Cianjur menyayangkan, hal seperti itu tidak seharusnya terjadi dan sudah diantisipsai dari awal dengan mempersiapkan tenaga profesional serta bertanggungjawab dalam tugasnya.

Shautus Salam

“Dengan terjadinya kasus seperti ini, PMII Kabupaten Cianjur menilai KPUD Cianjur gagal? menjalankan kinerjanya. KPUD Cianjur harus lebih serius serta cepat tanggap melihat dari pada kenyataan permasalahn seperti ini,” imbaunya.

Lebih lanjut Ayi menjelaskan, temuan itu didapat dari kader-kader PMII yang diterjunkan menjadi pemantau Pemilu pada 9 April lalu.

“Atas dasar kepedulian terhadap pesta demokrasi rakyat, PMII Cianjur menerjunkan pemantau di 32 kecamatan. Setiap kecamatan yang dipantau 5 TPS,” jelasnya. (Red: Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Ahlussunnah Shautus Salam

Jumat, 16 Februari 2018

Penasihat Menteri Besar Selangor Puji NU dan Pesantren

Jakarta, Shautus Salam. Penasihat Menteri Besar Selangor, Malaysia, Khlaid Jaafar memuji Nahdlatul Ulama, juga pesantren, sebagai elemen di masyarakat yang setia mengembangkan turats (tradisi) keilmuan ulama klasik. Usaha ini ia nilai telah berhasil melahirkan kader-kader yang andal dalam pengetahuan Islam.

Penasihat Menteri Besar Selangor Puji NU dan Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Penasihat Menteri Besar Selangor Puji NU dan Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Penasihat Menteri Besar Selangor Puji NU dan Pesantren

“Ramai anak-anak keluaran pesantren belajar ke malaysia dan ternyata mereka lebih menguasai bahasa Arab, nahwu, sharaf, dibanding dengan (pelajar) Malaysia, bahkan dengan yang sudah graduate pun, pegangan nahwu sharafnya (anak pesatren) jauh lebih kuat; hafalannya, Matan Ajurumiyah-nya. Lebih mantab,” katanya.

Khlaid Jaafar menyampaikan hal itu di sela kunjungannya ke kantor PBNU, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta, Jumat (18/12). Kedatangannya disambut hangat Ketum PBNU KH Said Aqil Siroj, Sekjen PBNU H Helmy Faishal Zaini, dan Bendum PBNU H Bina Suhendra.

Shautus Salam

Dalam pertemuan tersebut, ia juga menceritakan bahwa madrasah dan pesantren di Malaysia diambang kematian lantaran sistem pendidikan nasional di sana yang membuat banyak pelajar beralih ke sekolah pemerintah.

Shautus Salam

Sebagai sama-sama rumpun Melayu, mantan sekretaris pribadi Anwar Ibrahim ini mengungkapkan keinginan pihaknya untuk mengembangkan Islam Nusantara. Ia menilai Malaysia membutuhkan karakter Islam Ahlussunnah wal Jamaah sebagaimana dianut NU yang setia terhadap tradisi dan menjunjung tinggi prinsip tasamuh (toleransi) dan tawasuth (moderasi).

Dia juga mengatakan adanya aliran ekstrem yang masuk ke Malaysia, dan mulai mengusik keharmonisan di Tanah Melayu itu. Para pendahwahnya, ungkap Khalid, bahkan telah dididik piawai bahasa Inggris untuk menjangkau kalangan lebih luas.

KH Said Aqil Siroj juga menjelaskan kondisi kehidupan Islam di Indonesia. Menurutnya, ekstremisme yang berujung pada kekerasan fisik dan pengrusakan rumah ibadah di Indonesia terjadi belakangan saja, seiring dengan meningkatnya paham-paham intoleran yang masuk.

“Dulu aman-aman saja. Syiah, Ahmadiyah, itu di Indonesia sudah sangat lama. Tapi belakangannya saja mereka diganggu,” ujarnya. (Mahbib Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Aswaja, Berita, Ahlussunnah Shautus Salam

Jumat, 09 Februari 2018

Katib Aam: Jelang Pemilu, Jagalah Ukhuwah Nahdliyah

Yogyakarta, Shautus Salam. Dalam acara tahlil memperingati wafatnya KH Zainal Abidin Munawwir, Selasa (25/3) tadi malam, Katib Aam PBNU KH Malik Madani berpesan agar warga Nahdhiyin menjaga Ukhuwah Nahdliyah, kekompakan sesama warga NU menjelang pemilu 2014 nanti.

“Saya tidak ingin berbicara panjang lebar, saya hanya ingin titip pesan dari PBNU, menjelang tanggal 9 April yang akan datang ini, PBNU berpesan agar warga NU menjaga Ukhuwah Nahdliyah. Ukhuwah ini harus dijaga betul, supaya Ukhuwah Nahdliyah bisa menjelma menjadi Ukhuwah Islamiyah, persaudaraan yang sesuai dengan nilai-nilai Islam,” ujarnya di hadapan ratusan jamaah yang hadir.

Katib Aam: Jelang Pemilu, Jagalah Ukhuwah Nahdliyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Katib Aam: Jelang Pemilu, Jagalah Ukhuwah Nahdliyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Katib Aam: Jelang Pemilu, Jagalah Ukhuwah Nahdliyah

“Tidak usah tengkar? satu sama lain karena berbeda pilihan politik. PBNU tidak pernah mewajibkan warganya untuk memilih partai tertentu. Silahkan tanya kepada hati nurani masing-masing,” tambah Kiai Malik.

Shautus Salam

Dalam kesempatan tersebut, Kiai Malik juga berpesan agar memilih orang bukan karena money politik.

Shautus Salam

“Pilihlah orang yang menurut pendapat kita orang ini orang baik. Kalau jadi wakil kita di DPR nanti akan menyuarakan aspirasi kita. Tidak akan memperkaya diri sendiri. Inilah pesan PBNU,” ungkap Kiai asal Pulau Madura tersebut

Acara tahlil bersama dalam rangka memperingati 40 hari wafatnya KH. Zainal Abidin Munawwir tersebut dihadiri oleh ratusan jamaah yang terdiri dari santri dan masyarakat. Mereka berduyun-duyun memenuhi halaman Pesantren Krapyak selepas Isya’. Dengan dipimpin oleh KH Najib Abdul Qadir, para jamaah khusyuk membacakan doa untuk KH Zainal Abidin Munawwir yang wafat tanggal 15 Februari 2014.? (Nur Rokhim/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Ahlussunnah, Pahlawan Shautus Salam

Sabtu, 03 Februari 2018

Lantik PW Jabar, ASBIHU Berikan Hadiah Umrah kepada 3 Orang

Sumedang, Shautus Salam. YudaYudarmawan tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya begitu namanya disebut sebagai salah satu penerima hadiah umrah. Ia segera berlari ke atas panggung, menyalami orang-orang yang berdiri si sana, lalu melakukan sujud syukur.

Lantik PW Jabar, ASBIHU Berikan Hadiah Umrah kepada 3 Orang (Sumber Gambar : Nu Online)
Lantik PW Jabar, ASBIHU Berikan Hadiah Umrah kepada 3 Orang (Sumber Gambar : Nu Online)

Lantik PW Jabar, ASBIHU Berikan Hadiah Umrah kepada 3 Orang

Santri Pondok Pesantren Al-Muhajirin dari Dusun Simpang, Sukasari, Sumedang, Jawa Barat itu tidak menyangka dengan hadiah Umroh yang diterimanya dari Asosiasi Bina Haji dan Umroh (ASBIHU).

“Saya ke sini diajak guru (kiai) sebagai perwakilan pesantren untuk mengikuti acara hari ini,” ungkap Yuda kepada Shautus Salam sesaat setelah pengumuman pemenang.

Yuda tidak sendiran. Ada dua nama lainnya yang berhak atas hadiah yang sama. Mereka adalah Kartika (55) dari Majelis Taklim Annur Jumbleng, Desa Ranjeng Kecamatan Cisitu; dan Lifia dari Tanjung Sari.?

Shautus Salam

Penyerahan hadiah umrah kepada ketiganya dilakukan bersamaan dengan acara Pelantikan Pengurus PW ASBIHU Jawa Barat masa khidmat 2016-2021, yang dihelat Rabu (28/12) di SMK Annur, Sumedang.?

“Saya mengucapkan terima kasih. Tadi tidak kepikiran dapat hadiah umrah ini,” kata Kartika sambil menahan tangis haru.

Hadiah kepada ketiganya berasal dari Ketua Umum ASBIHU KH Musthafa Aqil Siroj, Ketua PW ASBIHU Jawa Barat H Fairuzillah, dan Sekretaris Daerah Kabupaten Sumedang H Zainal Alimin.

Shautus Salam

Direktur ASBIHU Tour and Travel, H Hafidz Taftazani mengungkapkan hadiah umrah tersebut diberikan sebagai ungkapan rasa syukur yang perlu didahulukan dan dirasakan bersama di lingkungan ASBIHU.?

Dengan perannya ini, ASBIHU akan terus berupaya memberikan maslahat kepada seluruh warga NU dan masyarakat Indonesia yang ingin menunaikan ibadah umroh dengan standar yang maksimal. (Kendi Setiawan/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam News, Kajian, Ahlussunnah Shautus Salam

Jumat, 26 Januari 2018

Bagaimana Makmum Yang Tertinggal Takbir Sunah pada Shalat Id?

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Pengasuh rubrik Bahtsul Masail Shautus Salam, saya mau bertanya. Pada sembahyang Id, ada saja masyarakat yang tertinggal jamaah. Ia menjadi makmum. Ia ketinggalan beberapa takbir sunah pada sembahyang Id pada rakaat pertama. Apakah ia harus melengkapi takbir sunah sebanyak tujuh kali atau mengikuti sedapatnya takbir si imam? Mohon penjelasannya. Terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Nurfadhilah/Banjarmasin)

Jawaban

Bagaimana Makmum Yang Tertinggal Takbir Sunah pada Shalat Id? (Sumber Gambar : Nu Online)
Bagaimana Makmum Yang Tertinggal Takbir Sunah pada Shalat Id? (Sumber Gambar : Nu Online)

Bagaimana Makmum Yang Tertinggal Takbir Sunah pada Shalat Id?

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Penanya yang budiman, semoga Allah SWT menurunkan rahmat-Nya untuk kita semua. Shalat Id merupakan shalat sunah yang paling dianjurkan untuk dihadiri setiap Muslim. Bahkan, perempuan yang berhalangan sekalipun dianjurkan untuk menghadiri upacara shalat Id dan khutbahnya hingga selesai. Bahkan sebagian ulama menyatakan bahwa hukum shalat Id adalah wajib.

Shautus Salam

Shalat sunah Id ini memiliki keistimewaan. Setelah takbiratul ihram dan doa iftitah, kita disunahkan untuk bertakbir sebanyak tujuh kali pada rakaat pertama. Sedangkan pada rakaat kedua, kita disunahkan untuk bertakbir sebanyak lima kali. Takbir pada shalat Id ini sunah. Kalau ditinggalkan, tidak membatalkan shalat, tetapi membuat makruh.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Shautus Salam

Artinya, “Sebelum membaca Surat Al-Fatihah, ia bertakbir sebanyak tujuh kali dengan hitungan yakin yang berbarengan dengan mengangkat kedua tangan; (7 takbir ini) tepatnya (dilakukan) di antara doa iftitah dan ta‘wudz Al-Fatihah. Di rakaat kedua, ia cukup bertakbir sebanyak lima kali,” (Lihat Syekh Sa‘id bin Muhammad Ba‘asyin, Busyral Karim, Beirut, Darul Fikr, 1433-1434 H/2012 M, juz II, halaman 355).

Shalat Id sunahnya dikerjakan secara berjamaah. Kalau ada anggota masyarakat yang ikut berjamaah shalat Id saat imam telah melangsungkan takbir yang disunahkan, maka ia cukup mengikuti seberapa banyak imam bertakbir. Ia tidak perlu menggenapi kekurangannya hingga tujuh takbir bila tertinggal pada rakaat pertama, atau lima takbir bila tertinggal pada rakaat kedua.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ?

Artinya, “Sedangkan masbuq (makmum yang tertinggal beberapa saat) hanya bertakbir sedapatnya mengikut sisa takbir imamnya. Di dalam Syarah dikatakan, kalau masbuq mengikuti imam di rakaat pertama misalkan, dan ia mendapati sisa sekali takbir imam, maka ia cukup sekali bertakbir. Atau kalau masbuq mengikuti imam pada rakaat kedua, ia cukup bertakbir sebanyak lima kali. Sedangkan di rakaat keduanya (setelah imam salam), ia cukup bertakbir sebanyak lima kali karena kalau mengqadha takbir yang luput, ia justru meninggalkan sunah lainnya,” (Lihat Syekh Sa‘id bin Muhammad Ba‘asyin, Busyral Karim, Beirut, Darul Fikr, 1433-1434 H/2012 M, juz II, halaman 355).

Dari sini, kita dapat menyimpulkan bahwa makmum shalat Id yang mendapati imamnya telah membaca surat Al-Fatihah atau surat yang disunahkan, tidak perlu lagi mengerjakan takbir sunah. Ia cukup mengerjakan takbiratul ihram, lalu mendengarkan bacaan imamnya.

Saran kami, kita sebaiknya menghadiri upacara shalat Id meskipun kita tertinggal beberapa takbir atau tertinggal satu rakaat. Karena shalat Id memiliki keutamaan luar biasa bahkan perempuan yang berhalangan sekalipun sangat dianjurkan untuk menghadiri shalat Id beserta khutbahnya hingga selesai. Bagi mereka yang tidak sempat ikut berjamaah, sebaiknya sebelum Zuhur ia mengerjakan shalat Id sendiri tanpa khutbah

Demikian jawaban singkat kami. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima kritik dan saran dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwathih thariq,

Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Alhafiz Kurniawan)Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Fragmen, Cerita, Ahlussunnah Shautus Salam

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Shautus Salam sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Shautus Salam. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Shautus Salam dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock