Tampilkan postingan dengan label Halaqoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Halaqoh. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 Februari 2018

Cinta yang Indah dalam Harlah IPNU-IPPNU

Gandrungmangu, Shautus Salam. Kembali lagi sebuah kemeriahan dimunculkan oleh PAC IPNU-IPPNU Kec. Gandrungmangu Cilacap yang mengadakan lomba mewarnai antar PAUD, TK, & RA dan festival hadrah yang bertempat di Pendopo Kecamatan Gandrungmangu dan Masjid Baitul Muflihin Wungureja, pada (28 Februari sampai 1-2 Maret).?

Cinta yang Indah dalam Harlah IPNU-IPPNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Cinta yang Indah dalam Harlah IPNU-IPPNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Cinta yang Indah dalam Harlah IPNU-IPPNU

Kegiatan yang diselenggarakan dalam rangka harlah ke 60 dan 61 IPNU-IPPNU ini juga diiringi dengan pembentukan Ranting IPNU-IPPNU Desa Layansari yang diikuti oleh 50 peserta serta pembekalan materi ke-IPNU-IPPNU-an dan Aswaja yang diisi oleh Hadno Ali Sholihin, alumni PC IPNU Kab.Cilacap) sekaligus makesta Ranting IPNU-IPPNU Desa Gintungreja. Demikian rilis yang dikirimkan oleh panitia kepada Shautus Salam.

Acara harlah ini mengambil tema “Cinta NU, Cinta IPNU-IPPNU, Cinta Shalawat, Ngalap Syafa’at” sebagai upaya untuk menciptakan kader-kader muda berideologi ahlusunnah wal jama’ah.

Shautus Salam

Lomba mewarnai dikuti oleh 50 komisariat PAUD, TK, dan RA yang yang masing-masing diwakili 2 peserta. Sementara itu festival hadrah bertempat di Masjid Baitul Muflihin Wungureja diikuti oleh 20 group dari di Gandrunmangu dan sekitarnya.?

Warga sangat antusias mengikuti acara tersebut. “Saya sangat mendukung adanya kegiatan ini, semoga dengan adanya pelantikan Ranting IPNU-IPPNU desa Layansari dapat membangun pola pikir anak-anak kami dan semakin kuat iman kami dalam berideologi ahlusunnah wal jama’ah,” ujar salah satu warga dusun Wungureja.?

Shautus Salam

Pada Sabtu malam, diselenggarakan pelantikan sekaligus shalawatan Ranting IPNU-IPPNU Desa Layansari bersama Habib Haidar dari Purwokerto. ? Red: mukafi niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Humor Islam, Halaqoh Shautus Salam

Minggu, 25 Februari 2018

Jalan-jalan ke Dalam Diri

Oleh Aswab Mahasin

Manusia dalam dirinya mempunyai empat hal: harapan, keinginan, kegelisahan, dan penderitaan. Siapapun mereka, sekaya apapun mereka, dan semiskin apapun mereka—empat hal tersebut pasti ada dalam diri manusia. Allah SWT memerintahkan kita untuk selalu berusaha dan berpikir kreatif agar tidak terpenjara oleh empat hal itu. Untuk apa? Sebagai cara manusia bereksistensi.

Dalam kehidupan ini, manusia sering dirundung masalah, dari mulai yang biasa-biasa saja, sampai dengan yang terberat. Kadangkala dalam posisi tertentu tidak sedikit yang merasa kesulitan dan lelah menghadapi masalah. Padahal, jika kita mau berpikir, masalah terbesar kehidupan manusia bukanlah masalah, tapi tanpa masalah. Kenapa? manusia akan mengalami kekosongan, manusia tidak akan “menjadi”, ia berada pada ruang hampa, tanpa bisa dinilai dan tanpa penilaian. Artinya, ia kehilangan eksistensinya. 

Jalan-jalan ke Dalam Diri (Sumber Gambar : Nu Online)
Jalan-jalan ke Dalam Diri (Sumber Gambar : Nu Online)

Jalan-jalan ke Dalam Diri

Manusia dilemparkan ke dunia di awali dengan masalah, Nabi Adam dan Ibu Hawa menghuni dunia ini dimulai dengan kisah “masalah”, putra Nabi Adam saling membunuh adalah “masalah”. Itu sebagai cara Allah SWT agar manusia “menjadi”, tanpa kekosongan. Karena dalam proses menjadi itu manusia berbuat, bertindak, berpikir, dan berkenalan. Perjalanan itu berlaku hingga sekarang, semua manusia berusaha untuk “menjadi” dan bereksistensi. 

Perjalanan dalam proses “menjadi”—manusia dipaksa untuk berhadapan dengan manusia lainnya, yang sama-sama punya keinginan, punya harapan, punya kegelisahan, dan punya penderitaan. Sehingga antara manusia satu dengan manusia lainnya mengalami benturan kepentingan. Di sini terkadang manusia lupa diri dan lupa akan dirinya. 

Shautus Salam

Ini yang paling berbahaya, manusia harus berdamai dengan dirinya sendiri. Tanpa berdamai, susah bagi kita untuk menyelesaikan masalah. Konsekuensinya, kalau tidak lari dari masalah, tergerus oleh masalah, dengan kata lain terhempas dari persaingan hidup. Persaingan jangan dimaknai sebagai saling menjatuhkan, melainkan fastabiqul khairat (berlomba-lomba dalam kebaikan). 

Berlomba dalam kebaikan, berarti tidak melakukan kecurangan. Bermain sepak bola tidak boleh ujug-ujug kita ambil bolanya pakai tangan, kita bawa lari sampai gawang, lalu kita masukan ke gawang lawan. Ini pasti kena kartu merah. Artinya, sama saja kita menambah masalah hidup kita yang sudah penuh masalah.

Dengan demikian, kita dituntut mengenal diri dan menjabat tangan sendiri. Dengan mengenal diri akan mengenal aturan, berarti apa? Kesadaran yang akan terlahir.“Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu” –seseorang yang mengetahui jati dirinya, maka ia akan mengetahui Tuhannya. Telah jelas bukan? Masalahnya pada diri kita sendiri, yang paling susah dari manusia itu merendahkan diri sendiri untuk menghantam kesombongan, dan mengeluarkan kewarasan untuk mengejek kearifan. Seringnya, kearifan kita berbarengan dengan kesombongan kita.

Shautus Salam

Mengenali diri praktiknya tidaklah mudah. Tidak setiap orang dengan sendirinya kenal terhadap kesejatian diri. Setiap orang bisa saja mengenali wajahnya melalui cermin atau foto, namun bukan itu maksudnya, ini perjalanan ke dalam diri. Kenapa orang buta yang tak pernah melihat wajahnya tapi mengenali dirinya, karena ‘menjabat tangan sendiri’ tidak hanya sekedar fisik, tetapi kedalaman jati diri. 

Diri adalah keakuan, atau ego, dan dalam bahasa Arab disebut nafs, pada hakikatnya bersifat transenden, dapat melewati batas-batas fisiknya yang bersifat materi yang terbingkai dalam ruang dan waktu tertentu. Karena itu, keakuan manusia bisa kembali ke masa lalu, seperti masa kanak-kanak atau masa remaja, meskipun saat ini sudah memasuki usia-usia lanjut. Demikian halnya juga dengan keakuan seseorang bisa berada di tempat lain meskipun sebenarnya ia berada di sini. Semua itu dimungkinkan terjadi, karena sifat transendennya ego itu sendiri. (Prof. Dr. Musya Asy’ari, Dialektika Agama untuk Pembebasan Spiritual, [Yogayakarta: LESFI, 2002]. Hlm. 4)

Memasuki diri, keakuan atau ego yang transenden diperlukan kemampuan untuk mengenali jati diri secara benar, yaitu dengan memahami, memasuki dan menyatu dalam substansi jati diri yang aktual, yang terbangun dari berbagai komponen yang membentuk suatu kepribadian dalam aktualitas tindakan atau karyanya, baik komponen yang fisik maupun komponen yang metafisik. (Prof. Dr. Musya Asy’ari: 2002)

Allah SWT Berfirman, “Dan Allah telah menyempurnakan bagimu nikmat zahir dan nikmat batin.” (QS. Lukman: 20). Dalam surat Adh-Dhariyat ayat 21, Allah berfirman, “Dan di dalam diri kamu apakah kamu tidak memperhatikannya”. Selain itu, dalam Hadits Qudsi, “Aku jadikan dalam rongga anak Adam itu mahligai,dan dalam mahligai itu ada dada, dan dalam dada itu ada hati (qalbu) namanya, dan dalam hati (qalbu) ada mata hati (fuad), dan dalam mata hati (fuad) itu ada penutup mata hati (saghaf), dan dibalik penutup mata hati (saghaf) itu ada nur/cahaya (labban), dan di dalam nur/cahaya (labban) ada rahasia (sirr), dan di dalam rahasia (sirr) itulah Aku kata Allah.”

Dengan demikian, mengenali diri selalu bersifat ke dalam dirisebagai manhaj/metode memahami Tuhannya, agar kita tidak lupa bahwa kita adalah manusia, tidak sepantasnya berlaku seperti Tuhan. Manusia diciptakan tidak lain untuk beribadah kepada Allah. Dengan demikian, proses perjalanan ke dalam diri harus dengan penghayatan yang mendalam, jujur akan setiap tindakan dan tidak boleh merasa benar.

Dalam perspektif tasawuf, yang dimaksud dengan diri manusia (al-nafs al-insaniyah) bukanlah diri dalam pengertian fisiologi yang bersifat kebendaan (maddi), atau diri sebagaimana dipahami dalam psikologi yang lebih bersifat kehewanan. Tetapi diri yang dimaksudkan oleh ahli tasawuf ialah diri asali manusia yang secara fitrahnya (human nature) mempunyai kecenderungan menyembah Allah Taala. Konsep fitrah dalam Islam menuntut bahwa manusia dari segi sifat dasarnya adalah beragama tauhid.

Menurut al-Qur’an, sejak awal penciptaan Adam sudah terdapat perjanjian (mithaq) dan kesaksian (syahadah) daripada jiwa manusia, hanya Allah yang merupakan Tuhan sebenarnya, tiada yang lain. (lihat QS. Al-A’raf: 172). (Abdul Rahman Haji Abdullah, Wacana Falsafah Ilmu: Analisis Konsep-konsep Asas dan Falsafah Pendidikan Negara [Kuala Lumpur: Utusan Publications & Distributors Sdn Bhd, 2005]. Hlm. 89-90)

Sebab itu, orang yang sudah mampu mengenal dirinya, selalu digambarkan sebagai sosok yang arif, bijaksana, suka menolong, dan penuh pesona kebaikan. Berbeda sebaliknya, orang yang masih jauh akan pengenalan diri, hidupnya belum berdamai dengan siapapun, ia arogan, sembrono, dan semaunya sendiri.

Zaman now, kita banyak menemukan orang yang semaunya sendiri. Kemaren, ada seorang suami menembak istrinya, kejadian ini aneh bin ajaib. Saya tidak tahu masalahnya apa, namun tidak ada prinsip kemanusiaan satu pun yang mengizinkan seseorang membunuh, apalagi istrinya sendiri. Sebelum-sebelumnya, ada kejadian anak membunuh orang tuanya, orang tua membunuh anaknya, dan ada orang tua memperkosa anaknya. Orang-orang ini maunya apa?

Kalau boleh usul, Indonesia dengan berbagai macam kegaduhannya, harus ada pembersihan jiwa nasional (Tazkiyyat al-nafs) atau penyucian hati nasional (tasfiyah al-qalb). Jangan hanya patah hati saja yang nasional, tapi pembersihan diri juga harus digerakan secara nasional. Yang disayangkan, setiap aktifitas keagamaan ada muatan politiknya, bukannya jadi bersih malah semakin kotor (baca: gaduh). Lantas bagaimana?

Pembersihan jiwa dan hati nasional, bukan berarti berkumpul sampai mengumpulkan puluhan juta atau ratusan juta orang, tidak. Melainkan, tumbuh kesadaran dari setiap individu, kelompok, organisasi, dan pemerintahnya juga, untuk satu sama lain saling mengingatkan, menjaga sikap, menjaga lisan, menjaga tulisan, menjaga ujaran, dan meminimalisir semua tindakan yang dapat menyulut perpecahan. Minimal, satu sama lain dari kita mau bercermin dan berintrospeksi diri. 

  

Menjalin kesatuan umat seperti itu memang tidak mudah, kalau begitu alternatifnya adalah melalui jalur pendidikan: sekolah, pesantren, dan lembaga-lembaga pendidikan lainnya. Atau melalui mushola-mushola, dimana peran kiai kampung, memberikan pemahaman terhadap anak didiknya yang mengaji. “La yu’minu ahadukum hatta yuhibbu liakhihi kama yuhibbu linafsihi”—tidak beriman seseorang hinga ia dapat mencintai saudaranya seperti ia mencitai dirinya sendiri. “Al fitnatu asyaddu minal qatli”—fitnah lebih kejam daripada pembunuhan. “Inna ba’dla zanni ismun”—sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. 

Penulis adalah Pembaca Setia Shautus Salam.

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Ahlussunnah, Nasional, Halaqoh Shautus Salam

Rabu, 21 Februari 2018

Becermin dari Kiai Blambangan

Judul Buku: Tiga Kiai Khos

Penulis: Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Penerbit: LKiS, Yogyakarta

Cetakan: I, September 2008

Becermin dari Kiai Blambangan (Sumber Gambar : Nu Online)
Becermin dari Kiai Blambangan (Sumber Gambar : Nu Online)

Becermin dari Kiai Blambangan

Tebal: xiii+154 Halaman

Peresensi: A. Syaiful Ala



Shautus Salam

Saat konflik di tubuh Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) pecah, muncullah istilah yang dicetuskan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dengan nama kiai khos dan kiai kampung. Buku yang ditulis Ainur Rofiq Sayyid Ahmad bukan berarti untuk membedakan antara kiai khos dan kiai kampung. Tetapi yang dimaksud penulis adalah untuk menjelaskan kepada publik, mana kiai yang harus menyandang gelar warasatul al-anbiya’ (pewaris nabi)? Karena banyak kiai di beberapa daerah sekarang ini yang tidak mencerminkan sebagai pewaris nabi ketika terjun dalam politik praktis. Yang seharusnya menjadi kiai khos berubah menjadi kiai “kaos”, kiai kampong—seorang kiai yang bersentuhan langsung dengan masyarakat—malah menjadi kiai “kampungan” yang selalu membodohi masyarakatnya.

Disadari atau tidak, kiai atau ulama telah dianggap sebagai pewaris para nabi – sebagaimana disebutkan dalam sebuah Hadits—al ulama waratsatul anbiya’. Dalam konteks ini, kiai berarti mempunyai dua fungsi. Pertama, li khilafati an nubuwwah fi hirasati ad din (pemilik otoritas menegakkan agama). Kedua, wa fi hirasati siyasati ad dunya, yakni membimbing umat manusia. Dalam praktiknya, kemasyarakatan dan kenegaraan, idealnya nilai-nilia moral keulamaan yang mengontrol kehidupan masyarakat dan moral ulama pula yang mengendalikan sebuah kekuasaan.

Shautus Salam

Al-Ghazali dalam kitabnya, Ihya’ al Ulumiddin, membagi ulama dalam tiga tingkatan. Yakni al-ulama al dunya (hidup dan perjuangannya yang selalu diukur dengan materi), al ulama ukhrawi (seorang ulama yang mengedapan amalan ritual, penghambaan diri kepada Allah) dan al ulama’u su’un (menghalalkan sesuatu dengan berbagai cara untuk kepentingan dirinya pada akhirnya menjerumuskan dirinya pada jurang ketidakpastian).

Kata “ulama akhirat” yang didefinisikan Imam Al-Ghazali sebenarnya bukanlah pengetian yang cukup sederhana, yakni bukan hanya ulama berkutat pada sebuah ritual mahdah, pengahambaan diri kepada Allah tanpa mempertimbangkan atau memperhatikan apa yang terjadi sekitarnya. Melainkan ulama dalam arti yang lebih luas, hakIkat dari ulama akhirat adalah bahwa karakteristik ulama selalu menjadi ruh dan inspirasi bagi setiap kehidupan sosial, politik dan kultur masyarakat. Dan, yang demikian itu, seperti yang dicontohkan ketiga kiai dari Banyuwangi, Jawa Timur, dalam buku ini.

Pertama, KH Zarkasi Djunaidi bukanlah seorang politisi praktis, namun hampir tidak satu proses politik yang terjadi di Banyuwangi tidak luput dari sentuhan tangan lembutnya. Di samping itu pula, dalam keseharian hidupnya, ia dikenal sebagai sosok yang bijak. Ia mengerti dengan siapa ia berhadapan. Kalau berkumpul dengan anak-anaknya menggunakan kata-kata layaknya kanak-kanak. Begitu juga ketika berkumpul dengan orang tua, ia juga dengan gaya bahasa orang tua atau dewasa (yukrim kabirana wa yarham shaghirana).

Kedua, KH Mukhtar Syafaat bukanlah seorang ekonom, namun kontribusi terhadap pemberdayaan ekonomi umat tidak kecil. Pengaruhnya semakin kuat dalam pemberdayaan ekonomi kerakyatan ketika ia menyandang jabatan Mustasyar Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Banyuwangi. Hal itu sevisi dengan cikal bakal berdirinya jam’iyah Bintang Sembilan itu, bahwa salah satu pilar berdirinya NU adalah pemberdayaan ekonomi umat yang dikenal dengan jam’iyah Nahdlatut Tujjar (kebangkitan para saudagar/pengusaha) yang digagas Hadratus Syeikh KH Hasyim Asy’ari dan beberapa kiai semasanya.

Ketiga, KH Askandar bukanlah pemegang tampuk kekuasaan negara atau militer, namun perjuangannya untuk terus memberikan kesadaran terhadap masyarakat dan membela Tanah Air (semangat nasionalisme) melawan penjajah tidak dapat disepelekan. Perjalanan panjang yang dilaluinya dalam mengisi kemerdekaan, sebagai pengasuh pesantren tetap tidak melupakan pesantrennya sebagai pusat pendidikan (education center) bagi masyarakat. Bahkan, ketika masuk dalam perpolitikan nasional, ia berkabung ke kepengurusan NU (Partai NU pada waktu itu). Tetapi kesibukan dalam dunia politik tidak membuatnya lupa pada pesantrennya dan tunggung jawabnya untuk membina masyarakat.



Kiai dan Politik


Selama ini, politik oleh banyak orang selalu dikonotasikan yang negatif. Secara substansinya seperti memang dari “sononya”. Melainkan, akibat terkait dengan implementasinya yang justru menyimpang seperti yang dipertontonkan para politikus saat ini. Akhirnya, masyarakat menyimpulkan sendiri bahwa kiai yang terjun dalam politik praktis juga dicap jelek.

Yang ironis, dalam percaturan politik, kiai terkadang memainkan segala peran untuk memenuhi ‘syahwat’ politiknya guna tercapainya tujuan yang diinginkan. Kata-kata “demi umat”, “ukhuwah”, “pembangunan”, “demokrasi”, “rakyat” sudah menjadi ‘nasi’ dan ‘sayur’ bagi mereka untuk mengais perhatian. Dalil Al-Quran pun sudah mereka lahap dengan nikmatnya, sekalipun tidak dalam konteks yang sesungguhnya.

Buku ini perlu dibaca para kiai atau calon kiai (santri) untuk menjadi rujukan bahwa ketiga figur kiai di atas adalah benar-benar tidak terpengaruh dengan tawaran duniawi yang sifatnya sementara (fana’). Tapi, lebih (selalu) mengedepankan nilai-nilai kepentingan umat dalam jangka waktu panjang.

Melalui buku ini, kita pun akan jernih melihat persoalan politik yang dimainkan kiai, jalan panjang demokrasi kita. Misal, politik yang selalu distempel jelek keterlibatan kiai dalam politik praktis. Sehingga mengakibatkan kehilangan jati diri atau identitas ke-kiai-annya.



Peresensi adalah Aktivis pada Komunitas Baca Surabaya
Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Olahraga, Halaqoh Shautus Salam

Senin, 12 Februari 2018

PCNU Kabupaten Pangandaran Akan Dibentuk

Jakarta, Shautus Salam. Sebagai Daerah Otonomi Baru (DOB), warga NU Kabupaten Pangandaran ingin mendirikan kepengurusan NU tingkat kabupaten. Mereka akan segera membentuk Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU).? ?

PCNU Kabupaten Pangandaran Akan Dibentuk (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Kabupaten Pangandaran Akan Dibentuk (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Kabupaten Pangandaran Akan Dibentuk

Untuk itu, PCNU Kabupaten Ciamis, sebagai organisasi induk dari pemekaran Kabupaten Pangandaran, telah mempersiapkan diri untuk mendorong agar DOB Pangandaran segera terbentuk PCNU.

PCNU Kabupaten Ciamis kemudian menunjuk Tim 13 yang terdiri dari kiai NU. Kiai-kiai tersebut adalah pengurus PCNU Ciamis yang berdomisili di wilayah DOB Pangandaran. Agendanya untuk menggelar Konferensia Cabang (Konfercab).

Shautus Salam

Tim 13 membentuk panitia Konferensi Cabang I untuk mengadakan Rapat Kerja Panitia. Rapat kerja diketuai Ahmad Irfan Alawy di Pondok Pesantren As-Sujaiyah Kecamatan Parigi pada tanggal 16-03-2013 lalu.

Menurut salah seorang panitia Konfercab, Hafidz Ismail, hasil rapat kerja tersebut adalah, Konfercab PCNU Kabupaten Pangandaran dilaksanakan di Pondok Pesantren Asy-Syujaiyah pada tanggal 20-21 April 2013.

Shautus Salam

“Pra-Konfercab diadakan kegiatan, yaitu halaqoh dengan peserta pengurus-pengurus NU dari 11 MWC,” katanya kepadaShautus Salam melalui pesawat telepon, Kamis, (18/4).

Hafidz menambahkan, halaqoh bertema "Internalisasi khittah NU 1926 sebagai media memperkokoh soliditas organisasi menuju Kabupaten Pangandaran yang mandiri" tersebut telah digelar pada 15 April 2013.

?

Penulis: Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Pendidikan, Halaqoh, Daerah Shautus Salam

Sabtu, 10 Februari 2018

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar: Menyemai Kelembutan, Menggapai Keindahan

Oleh : Rizki Amalia*

       Sebagai pembuka tulisan, penulis kutip peryataan Sufyan Ats – Tsauri, dia berkata : “Tidak boleh melaksanakan Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar selain orang yang memiliki tigas sifat: lemah lembut dalam menyuruh dan lemah lembut dalam melarang, adil dalam menyuruh dan adil dalam melarang, memiliki ilmu tentang apa yang disuruhnya dan memiliki ilmu tentang yang dilarangnya (Syeikh Dr Ahmad Farid, Manajemen Qalbu Ulama Salaf, 245, 2008). 

Ketiga syarat tersebut amat relevan dibumikan kembali mengingat meluasnya berbagai aksi – aksi kekerasan dan ujaran kebencian merajalela belakangan ini. Sekali lagi mengelus dada, tatkala tindakan – tindakan destruktif dan provokatif diseret – seret ke dalam bingkai dan pembenaran sumber – sumber utama agama Islam.

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar: Menyemai Kelembutan, Menggapai Keindahan (Sumber Gambar : Nu Online)
Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar: Menyemai Kelembutan, Menggapai Keindahan (Sumber Gambar : Nu Online)

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar: Menyemai Kelembutan, Menggapai Keindahan

Dus, kebanyakan umat Islam tentu sudah maklum, bahwa dalam beragama amar ma’ruf dan nahi munkar merupakan dua kutub penting dalam ajaran Islam. Kedua terminologi itu mendapatkan tempat istimewa dalam di kalangan kaum muslimin. Sebab, perintah tersebut tersurat jelas dalam QS Ali Imron Ayat 104, yang artinya;

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, dan menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Merekalah orang – orang yang beruntung”. 

Dengan kata lain, keinginan dalam memperoleh keuntungan (ridho Allah dunia dan akhirat), sebagian umat harus ada yang berani dan tampil sebagai pelaksana amar ma’ruf dan nahi munkar.

Shautus Salam

Selain dalam konteks keuntungan/menang (iflaah/falah), kedua ajaran tersebut bersifat universal dan terdapat dalam agama – agama lain. Bahkan, kesalehan para pemeluk agama (apapun) meniscayakan kedua spirit amar ma’ruf dan nahi munkar. Sebagaimana disinyalkan oleh Allah dalam firma-Nya QS Ali Imron: 113-114,

 “Mereka itu tidak sama; diantara Ahli Kitab itu ada golongan yang berlaku lurus; mereka membaca ayat – ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari, sedang mereka juga bersujud. Mereka beriman kepada Allah dan Hari Penghabisan, mereka menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar dan bersegera mengerjakan pelbagai kebajikan; mereka itu termasuk orang – orang yang sholih”.

Sehingga, dari sini bisa dipahami sementara, bahwa pemilik identitas saleh ialah mereka yang memperoleh keuntungan. Sementara, keuntungan tidak mungkin diraih tanpa adanya perjuangan amar ma’ruf dan nahi munkar, bahkan jika abai akan memperoleh laknat dari Allah SWT. Demikian Allah tegaskan,

“Telah dilaknati orang – orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa Putera Maryam. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas. Mereka satu sama lain tidak saling melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu”.

Shautus Salam

Lebih dari itu, kelompok atau orang yang melaksanakan amar ma’ruf dan nahi munkar memperoleh penghargaan dan pujian dari Allah SWT sebagai yang terbaik di antara kelompok lainya, 

”Kalian adalah umat yang dilahirkan untuk manusia; menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar”, (QS. Ali Imron: 110).

Beberapa keterangan tersebut, telah memberikan kegamblangan akan urgensi dan manfaat daripada amar ma’ruf dan nahi munkar. Meski demikian, sejalan dengan saran Sufyan Ats – Tsauri, tidak sembarang orang bisa lolos dalam fit and proper test pegiat amar ma’ruf dan nahi munkar. Kalau Orang atau kelompok ingin lolos, diharuskan memiliki tiga kualifikasi : lemah - lembut, adil (sabar) dan berilmu.

Sebagai umat Islam, insaf dan sadar bahwa kebenaran dari Allah Tuhan Yang Maha Esa. Kebesaran dan kemulyaan Allah ialah Independent, Dia Maha Bebas Tuhan Semesta alam, Dia Dzat Yang Maha Rafiq (Maha Lembut); tak peduli suku, agama, kebudayaan, ras, partai, ideologi atau apapun itu. Sebagaimana sabda Nabi,

“Sesungguhnya Allah Maha Lembut. Dia mencintai kelembutan, dan Dia memberikan kelembutan kepada yang tidak Dia berikan kepada kekersan (HR. Bukhori). Hadits ini semakin menambah daftar, betapa kelembutan sikap dan perilaku merupakan cerminan kalau mengenal Tuhan. Selain itu, dengan kelembutan dapat menambah keindahan apa yang hendak kita suguhkan atau bawakan kepada yang lain, sabda Nabi,

“Tidaklah kelembutan ada pada sesuatu, melainkan akan menghiasinya. Dan tidaklah kekerasan ada pada sesuatu, melainkan akan mengotorinya” (HR. Muslim).

Dengan kata lain, Kelembutan jadi penghias agar sesuatu jadi indah. Saat keindahan datang, di situlah kebaikan akan datang, begitu berlaku sebaliknya. Lanjut sabda Nabi, “barang siapa yang terhalang dari kelembutan, niscaya ia terhalang dari kebaikan” (HR. Muslim)

Selain lemah lembut juga harus adil (sabar) sebagai kelanjutan kualifikasi personal yang harus ditegakkan. Jangan sampai kita berkata tidak seirama dengan perilaku kita. Oleh karenanya teladan diperlukan terlebih dahulu dalam konteks ini, Sebagaimana yang tersampaikan dalam firman Allah SWT kepada Nabi Muhammad,

“Hai orang – orang yang beselimut, bangunlah, lalu berilah peringatan. Dan Tuhanmu Agungkanlah. Dan pakaianmu bersihkanlah. Dan perbuatan dosa tinggalkanlah. Dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak. Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah” (QS. Al-Muddatstsir: 1-7).

Dan lagi, “Dan bersabarlah terhadap hukum – hukum Tuhanmu, Sebab kamu dalam penglihatan kami” (QS. Ath – Thur: 48)

Selanjutnya, kedalaman wawasan tentang sesuatu yang benar dan yang salah. Dan tentu, sasaran yang hendak memperoleh amar ma’ruf dan nahi munkar. Sebab, bagaimanapun pengetahuan akan menentukan implementasi perilaku dan tentu lebih dulu dimengerti. Sebagaimana sahabat Muadz berkata, “Ilmu berada di depan amal, amal mengikuti” (Syeikh Dr Ahmad Farid/2008).

Dan tanpa wawasan yang cukup dan memadai, akan sangat dikhawatirkan lebih banyak memicu kerusakan dari pada kebaikannya. Pengalaman tersebut sebagaimana di sampaikan oleh Kholifah Umar bin Abdul Aziz,

“Barang siapa yang beribadah kepada Allah SWT tanpa dilandasi ilmu, niscaya apa yang rusak lebih banyak dari pada yang baik” (Syeikh Dr Ahmad Farid/2008).

Dengan demikian, sebuah kebaikan (kebenaran) diterima tentu memerlukan bekal yang tidak sedikit dan ringan – ringan saja. Tiga hal tentang sifat pelaksana amar ma’ruf dan nahi munkar: keilmuan, kelemah – lembutan serta kesabaran/keadilan merupakan hal mendasar yang perlu diasah oleh siapapun, memerlukan banyak latihan. Terkadang perlu ngopi di warung, nongkrong di pinggir jalan dan bila perlu mbambung dengan orang - orang marjinal. Sudah barang tentu, kekerasan dan main hakim sendiri sangat jauh dari spirit ke-ilahian itu sendiri. Semoga bermanfaat, wallahu a’lamu bis showab.

*Penulis adalah Pengurus Cabang PMII Jombang Bidang Kajian Keagamaan

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Halaqoh Shautus Salam

Rabu, 24 Januari 2018

Meriah, Pekan Madaris Maarif NU Nalumsari

Jepara, Shautus Salam. Memanfaatkan libur nasional, pada Jumat-Sabtu (3-4/4), Lembaga Pendidikan Maarif NU Kecamatan Nalumsari, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, menyelenggarakan Pekan Madaris antarsiswa Madrasah Diniyyah Awwaliyah. Acara yang digelar di Madin Al Maarif, Blimbing Rejo Kecamatan Nalumsari Kabupaten Jepara ini, berlangsung meriah.

Sekitar 400 siswa-siswi dari 27 madrasah diniyah (Madin) se-Kecamatan Nalumsari turut andil dalam ajang perlombaan, kreativitas seni, dan olahraga tersebut. Ajang yang diperuntukkan bagi anak-anak setara usia SD itu menyuguhkan 8 jenis perlombaan, antara lain, Cerita Islami, Cerdas Cermat Aswaja, Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ), Imla, Baca Kitab Kuning Taqrib, Puitisasi Al-Quran, kaligrafi, dan futsal.

Meriah, Pekan Madaris Maarif NU Nalumsari (Sumber Gambar : Nu Online)
Meriah, Pekan Madaris Maarif NU Nalumsari (Sumber Gambar : Nu Online)

Meriah, Pekan Madaris Maarif NU Nalumsari

Menurut Sekretaris panitia, Ahmad Najib, lomba tersebut merupakan salah satu langkah dan cara untuk memotivasi siswa madin dalam menekuni pendidikan agama di Madrasah Diniyyah Awwalaiyah.

Shautus Salam

"Lomba Baca Kitab Kuning Taqrib, merupakan langkah untuk meningkatkan kualitas pada siswa dalam memahami kitab klasik warisan para ulama terdahulu," jelasnya melalui rilis yang diterima Shautus Salam, Ahad (5/4). "Juga untuk menambah semangat bagi santri dalam mempelajari kitab kuning," tambahnya.

Sedangkan MTQ, kaligrafi, dan Puitisasi Al-Quran, merupakan kesenian islami yang patut terus untuk dikembangkan dan dilestarikan. "Kesenian islami juga penting untuk terus dikembangkan," imbuhnya.

Kaligrafi merupakan kesenian menulis indah ayat-ayat al-Quran, sedang MTQ merupakan ajang kreativitas kemerduan suara dalam melantunkan ayat-ayat suci al Quran. Sementara Puistisasi al-Quran adalah melantunkan terjemah surat-surat pendek al-Quran dengan aneka gerakan dan penjiwaan.

Shautus Salam

Ajang ini juga dilengkapi dengan cerita islami, yakni bertutur dan bercerita ke hadapan dewan juri dan khalayak umum mengenai cerita-cerita islami yang inspiratif.

Najib menambhakan, selain kategori kesenian, ajang perlombaan ini juga dilengkapi dengan olahraga futsal, dimana merupakan salah satu olahraga kegemaran anak-anak. "Futsal merupakan olahraga popular bagi anak-anak, makanya kita melombakan ini juga," pungkasnya.

Perlombaan ini, juga merupakan salah satu persiapan kontingen LP Maarif Kecamatan Nalumsari untuk maju dalam Pekan Madaris tingkat Kabupaten Jepara pada akhir April mendatang.

"Kita berharap kegiatan ini dapat bermanfaat dan memotivasi para siswa untuk terus kreatif dan mengembangkan keilmuannya," ujarnya. (Qomarul Adib/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Halaqoh Shautus Salam

Minggu, 21 Januari 2018

Beri Penguatan Aswaja, Kiai Agus Ungkap Kalam Hikmah Imam Syafi’i

Tasikmalaya, Shautus Salam. PAC GP Ansor Kawalu, Tasikmalaya, Jawa Barat mengadakan Pendidikan Penguatan Pemahaman Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja), Ahad (19/2) lalu di Yayasan Al-Marufi Cibeuti Kota Tasikmalaya. Kegiatan ini dihadiri oleh Rais NU Kawalu KH Agus Harun Ghoni, didampingi Ketua PC GP Ansor Kota Tasik Ricky Assegaf.

Dalam sambutannya, KH Agus Harun Ghoni mengutip mutiara dalam Kitab Ar-Risalah halaman 71 karya besar Imam as-Syafii yang berbunyi:

Beri Penguatan Aswaja, Kiai Agus Ungkap Kalam Hikmah Imam Syafi’i (Sumber Gambar : Nu Online)
Beri Penguatan Aswaja, Kiai Agus Ungkap Kalam Hikmah Imam Syafi’i (Sumber Gambar : Nu Online)

Beri Penguatan Aswaja, Kiai Agus Ungkap Kalam Hikmah Imam Syafi’i

"Barangsiapa yang mempelajari al-Qur`an maka agunglah kedudukannya, barangsiapa yang berpikir (belajar) fiqih maka mulialah kehormatannya, barangsiapa yang menulis al-Hadits maka kuatlah argumentasinya, barangsiapa yang berpikir (belajar) tata bahasa maka lembutlah perangainya, dan barangsiapa yang tidak menjaga dirinya maka ilmunya tidak dapat memberi manfaat baginya."

Kiai Agus berpesan kepada Kader Ansor dan kiai muda NU agar jangan berhenti mencari ilmu walaupun sibuk dan gudangnya ilmu agama itu ada di pesantren.

"Ansor harus kenal pasantren, jangan berhenti ngaji sesulit dan sesibuk apapun. Karena sudah semestinya sebagai pergerakan pemuda Islam mewarisi tradisi keilmuan pesantren. Belajar dengan kesabaran, membaca dengan ketekunan, kemudian mencatat dengan ketelitian. Ingat nasihat Imam Syafii Barangsiapa yang tak pernah mengecap kehinaan dalam mencari ilmu walau hanya sebentar, akan meminum kehinaan kebodohan pada sisa hidupnya,” kata Kiai Agus.

Shautus Salam

Pada kesempatan ini, Pimpinan Pondok Pesantren al-Marufi Cibeuti ? itu juga memotivasi agar mencari ilmu itu jangan hanya dipahami, akan tetapi harus mulai diabadikan dalam sebuah karya yang tercatat.

"Belajarlah kemudian sampaikan! Perhatikan Ulama terdahulu, mereka harus menempuh perjalanan panjang untuk mencari ilmu. Setelahnya mereka ikat (ilmu itu) dalam bentuk karya tulisan pada lembaran-lembaran kertas menggunakan pena yang dicelupkan ke tinta persis yang diadopsi santri di pesantren. Akan tetapi lihat hasilnya, sampai saat ini ilmunya dalam bentuk kitab dimanfaatkan terus oleh kita semua,” ujarnya.

Shautus Salam

Disamping taat pada semua fatwa para ulama, tambahnya, Ansor juga harus bisa membentengi warga Nahdliyyin, karena saat ini sepertinya ada kelompok yang ingin kiai dengan warga NU tidak akur.?

Dia mengajak untuk bersama menjaga marwah NU dengan kembali mengamalkan nilai-nilai agama serta menanamkan sikap cinta tanah air, seperti yang telah dilakukan para Kiai-Kiai NU terdahulu dalam merawat tradisi agama dalam bingkai NKRI.?

Penguatan Keaswajaan ini diikuti oleh oleh kader-kader Ansor dan 50 kiai muda NU perwakilan tiap Kecamatan se-Kota Tasikmalaya. Selama kegiatan mereka mendapatkan materi dari Direktur Aswaja Center Tasikmalaya Yayan Bunyamin yang juga Pimpinan Pesantren Rahmat Semesta. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam AlaSantri, Halaqoh, Tegal Shautus Salam

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Shautus Salam sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Shautus Salam. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Shautus Salam dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock