Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 Februari 2018

Bagir Manan: Media Islam Tak Boleh Konfrontasikan Islam dengan Pancasila

Jakarta, Shautus Salam

Mantan ketua Dewan Pers Indonesia Bagir Manan menyerukan kepada pihak-pihak yang mengklaim dirinya sebagai media Islam untuk tidak melupakan lingkungan sekitarnya. Selain mematuhi aturan yang ada, mereka dituntut untuk memperhatikan negara tempat mereka hidup.

Bagir mengingatkan wacana yang digulirkan pun hendaknya tak mengarah pada isu pengubahan sistem negara Indonesia.

Bagir Manan: Media Islam Tak Boleh Konfrontasikan Islam dengan Pancasila (Sumber Gambar : Nu Online)
Bagir Manan: Media Islam Tak Boleh Konfrontasikan Islam dengan Pancasila (Sumber Gambar : Nu Online)

Bagir Manan: Media Islam Tak Boleh Konfrontasikan Islam dengan Pancasila

“Tolong jaga, jangan sampai orang mengonfrontasikan Islam dengan Pancasila,” katanya dalam forum Workshop Penyusunan Standar Literasi Media Islam Online, Jumat (21/4) di Hotel Lumire, Jakarta Pusat.

Shautus Salam

Ia sadar bahwa selama ini radikalisme dan berita palsu atau hoax kerap dialamatkan kepada media-media Islam. Citra ini, menurutnya, masih bisa direduksi pelan-pelan dengan cara memperbaiki kualitas media Islam.

“Hendaknya pers Islam menjadi bagian dari upaya untuk meningkatkan mutu, baik mutu intelektual, mutu ekonomi, mutu sosial dan tentu saja mutu keagamaan kita. Jadi jika agama dikatakan rahmatan lil alamin, (jargon itu) betul-betul riil,” paparnya.

Shautus Salam

Menurut Bagir, pers lebih dari sekadar penyampai informasi. Pers juga memiliki fungsi pendidikan, pembentuk atau pengarah opini publik.

Mantan ketua Dewan Pers Indonesia selama dua periode ini juga mengingatkan kepada media-media Islam bila memang benar-benar dimaksudkan sebagai lembaga pers untuk memenuhi standar profesionalisme.

“Standar-standar pers yang baku harus kita perhatikan, cek dan ricek, cover both side, dan sebagainya,” tutur Ketua Mahkamah Agung RI periode 2001-2008 ini.

Terkait media daring yang menjamur sekarang ini, ia berpendapat ada penurunan kualitas khususnya berkenaan dengan tingkat akurasi. Mungkin karena memprioritaskan kecepatan tayang, media online sering tak mengindahkan tingkat validitas isi berita. Kelemahan lain juga ada pada manajemen yang cenderung tidak bagus.

“Tanggung jawab juga bisa rendah. Padahal, satu kali berita muncul, seseorang bisa sudah jadi korban atau diuntungkan,” jelasnya.

Lokakarya ini digelar Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam bekerja sama dengan Majelis Ulama Indonesia dan diikuti sejumlah perwakilan media-media Islam, baik elektronik, cetak, maupun daring. (Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam News, Hadits, Sejarah Shautus Salam

Minggu, 11 Februari 2018

PBNU Larang Nahdliyin Ikut Aksi 313

Jakarta, Shautus Salam. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj melarang keras Nahdliyin (warga NU) untuk ikut demo atau aksi yang rencananya digelar atas prakarsa Forum Umat Islam (FUI) pada Jumat, (31/3) di sekeliling Monumen Nasional (Monas) Jakarta.

“Gak usah berdemo. Buang-buang energi, waktu, uang saja,” kata Kiai Said di Lantai 3 Gedung PBNU Jakarta, Rabu (29/3).

PBNU Larang Nahdliyin Ikut Aksi 313 (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Larang Nahdliyin Ikut Aksi 313 (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Larang Nahdliyin Ikut Aksi 313

Lebih jauh, Kiai Said yang juga menjadi Ketua Lembaga Persahabatan Organisasi Masyarakat Islam (LPOI) tidak mengizinkan warga ormas-ormas tersebut turun pada dalam demo tersebut.?

“Saya adalah Ketua Lembaga Persahabatan Organisasi Masyarakat Islam. Ada 12 ormas (yang tergabung). Ada Al Irsyad, PITI, Mathlaul Anwar, dan lain-lainnya. Warga ormas itu saya larang untuk ikut demo (313),” tegas Doktor lulusan Ummul Qurro University Mekkah itu.

Bahkan ia mempertanyakan status FUI sebagai forum yang mengatasnamakan umat Islam. “FUI itu apa? Ormas apa? Umat Islam yang mana? LPOI tidak berada di bawah FUI. Apalagi NU,” ujar Guru Besar Ilmu Tasawuf ini.

Shautus Salam

Meski demikian, Kiai Said mempersilahkan orang yang mau demo. Namun ia menyayangkan kalau demo itu digelar dengan mengatasnamakan agama.?

Shautus Salam

“Yang saya sayangkan adalah (demo dengan) mengatasnamakan agama demi mengalahkan pasangan calon dan menaikkan calon yang didukung,” urai Kiai asal Kempek, Cirebon ini. ? ?

Terakhir, ia mengimbau kepada seluruh umat Islam Indonesia, khusunya Nahdliyin, untuk senantiasa menampilkan wajah Islam yang damai dan sejuk. Serta menunjukkan kepada dunia internasional bahwa Indonesia adalah negara yang beradab, beretika, dan tunduk di bawah hukum.

“Platform negara Madinah (yang dibangun Nabi Muhammad) adalah semua sama di mata hukum,” tegas Pengasuh Pondok Pesantren Al-Tsaqafah Ciganjur, Jakarta Selatan ini.

Demo 313 dikomandoi oleh Forum Umat Islam (FUI). Tujuan dari demo itu adalah meminta Presiden Joko Widodo untuk menon-aktifkan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama karena ia didakwa telah menistakan agama Islam. ? ?

Rencananya, Aksi 313 ini akan dimulai dengan Shalat Jumat di Masjid Istiqlal. Kemudian peserta aksi akan berjalan menuju Istana Negara untuk menyampaikan tuntutannya kepada Presiden Joko Widodo. (Muchlishon Rochmat/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Sejarah Shautus Salam

Kamis, 01 Februari 2018

Dengan 15.000 Anggota Aktif, MWCNU Tanon Terbaik di Jateng

Sragen, Shautus Salam. Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) kecamatan Tanon kabupaten Sragen, saat ini memiliki anggota sebanyak 15.000 orang bahkan lebih. Jumlah ini berdasar data pada jumlah anggota yang memiliki Kartanu (Kartu Anggota NU). Mereka sangat aktif melakukan pelbagai macam gerakan sosial dan keagamaan.

“Kegiatan banom dan ranting di sini, alhamdulillah juga hidup semua. Ada baksos, tiap tahun baru Hijriyah ada kegiatan khitanan dan nikah massal serta santunan,” terang Ketua MWCNU Tanon Sudarmanto kepada Shautus Salam, Kamis (25/6).

Dengan 15.000 Anggota Aktif, MWCNU Tanon Terbaik di Jateng (Sumber Gambar : Nu Online)
Dengan 15.000 Anggota Aktif, MWCNU Tanon Terbaik di Jateng (Sumber Gambar : Nu Online)

Dengan 15.000 Anggota Aktif, MWCNU Tanon Terbaik di Jateng

Atas semua capaian dan prestasi itu, NU Tanon diganjar dengan mendapat penghargaan masuk dalam 10 besar pada lomba MWCNU terbaik seprovinsi Jateng.

Shautus Salam

MWCNU Tanon yang dipimpin Rais Syuriyah KH Mukhlis Mubarok ini, bahkan berhasil menempati urutan lima besar, dengan perolehan nilai 75.

Shautus Salam

Meski demikian, Sudarmanto mengatakan masih banyak capaian yang ingin diraih dari para pengurus.

“Kami ingin mendirikan BMT atau dengan membuat semacam grosir yang dapat menyediakan kebutuhan pokok warga NU. Bahkan, kalau memungkinkan mendirikan mini market,” ungkapnya.

Dengan demikian, lanjut Sudarmanto, diharapkan NU di wilayah Tanon dapat lebih berpartisipasi dalam menghidupkan perekonomian umat. (Ajie Najmuddin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Sejarah Shautus Salam

Rabu, 17 Januari 2018

Lagi, PBNU Lepas Delegasi NU untuk Program Jenesys 2017 di Jepang

Jakarta, Shautus Salam. Pemerintah Jepang melalui kedutaan besarnya kembali menggelar pertukaran pelajar dalam Program Jenesys 2017. Program serupa sebelumnya dilakukan tahun 2016 lalu.

Para pelajar dan pemuda NU kembali mendapatkan kesempatan program yang bertujuan memperkuat kebudayaan masing-masing negara selain hubungan diplomatik di bidang pendidikan.

Lagi, PBNU Lepas Delegasi NU untuk Program Jenesys 2017 di Jepang (Sumber Gambar : Nu Online)
Lagi, PBNU Lepas Delegasi NU untuk Program Jenesys 2017 di Jepang (Sumber Gambar : Nu Online)

Lagi, PBNU Lepas Delegasi NU untuk Program Jenesys 2017 di Jepang

Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) HA. Helmy Faishal Zaini melapas perwakilan atau delegasi NU untuk mengikuti program tersebut. Helmy berharap, anal-anak muda NU dapat mengambil banyak ilmu dan pengalaman selama sepekan di Jepang.

“Saya berharap delegasi yang berangkat mendapatkan banyak ilmu dan belajar dari cara Jepang memajukan negara, baik dari sisi kedisiplinan, perkembangan teknologi, dan transportasi umum di sana,” ujar Helmy, Senin (2/10) saat melepas delegasi NU di Gedung PBNU Jakarta.

Helmy menjelaskan, program pertukaran ini sebetulnya sudah dirintis ketika dirinya aktif sebagai pelajar NU tahun 1997 silam. Setelah itu program ini belum berlanjut lagi untuk perwakilan pelajar dan anak muda NU.

Shautus Salam

“Sebagai calon para pemimpin, anak-anak muda NU harus mempunyai wawasan yang luas, baik nasional maupun internasional. Program ini sangat baik sebagai langkah meningkatkan kapasitas diri dari people to people dengan negara lain,” jelas pria kelahiran Cirebon ini.

Di antara pihak-pihak yang mengikuti program Jenesys 2017 ini yaitu dari unsur IPNU dan IPPNU, pesantren, dan para dai muda. Rombongan delegasi NU dipimpin oleh Ustadz Bukhori Muslim, salah satu pengurus di LDNU.

Dalam sepekan menjalani program tersebut, para delegasi NU akan mengunjungi tiga kota di Jepang salah satunya Tokyo. Mereka mulai berangkat pada Senin (2/10) hingga pada akhir kegiatan pada Selasa (10/10). (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam

Shautus Salam Meme Islam, Sejarah, Kajian Sunnah Shautus Salam

Senin, 15 Januari 2018

KH Masdar Farid Punya Definisi Sendiri Mengenai Jama’ah

Jakarta, Shautus Salam. Kalangan pesantren atau warga Nahdlatul Ulama (Nahdliyin) umumnya sepakat begitu saja dengan pembedaan antara jamaah dan jamiyyah. Jamaah disamakan dengan istilah paguyuban, sementara jamiyah disejajarkan dengan patembayan atau organisasi.

Dalam konteks NU, menurut Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Masdar Farid Masudi, pembedaan antara jamaah dan jamiyyah itu malah memunculkan segudang persoalan.

KH Masdar Farid Punya Definisi Sendiri Mengenai Jama’ah (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Masdar Farid Punya Definisi Sendiri Mengenai Jama’ah (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Masdar Farid Punya Definisi Sendiri Mengenai Jama’ah

Masdar Farid menyampaikan hal itu pada saat memberikan taushiyah kepada ibu-ibu yang tergabung dalam Kelompok Pengajian Ahlussunnah wal Jamaah, yang dimotori oleh Pengurus Pusat Pergerakan Perempuan Kebangkitan Bangsa (PPKB), di Jakarta, Selasa (22/4).

Shautus Salam

Jamaah sering diartikan sebagai perkumpulan biasa yang hanya diikat secara tidak ketat oleh kultur yang berlaku di masyarakat setempat. Mereka hanya direkatkan dengan amalan atau kebiasaan yang sama.

Shautus Salam

Sementara jamiyah adalah sebuah organisasi, dimana orang-orang yang berkumpul disatukan oleh visi dan misi yang sama dan diatur oleh tata aturan organisasi yang ketat dan tertata rapi.

Menurut Masdar Farid, pembedaan antara jama’ah dan jam’iyyah di dalam NU menyebabkan banyak warga Nahdliyyin merasa tidak terikat secara organisatoris dengan aturan-aturan dalam organisasi NU, juga kegiatan atau agenda-agendanya.

Maka pembedaan itu harus dihilangkan. Kiai yang sempat memunculkan opsi mengenai pengabungan antara zakat dan pajak di Indonesia itu mengatakan bahwa terma jama’ah yang sering disebut dalam berbagai literatur Islam justru dimaksudkan sebagai organisasi.

”Ada qoul yang menyatakan bahwa Allah bersama dengan kelompok yang berjama’ah, maka yang dimaksud dengan jama’ah di sini adalah organisasi,” katanya.

Dikatakannya, ibadah shalat yang dilakukan kaum muslimin bisa bernilai 27 derajat apabila dilakukan secara berjamaah, atau berorganisasi.

”Syarat shalat berjama’ah harus ada imam, mamum dan harus ada aturan main yang harus ditaati, tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Demikian juga dalam berorganisasi,” katanya.

“Kelompok Muslim baru dikatakan sebagai umat terbaik atau Ahlussunnah wal Jama’ah hanya ketika mereka berorganisasi, berjama’ah. Ingat bahwa di situ ada kata wal jama’ah,” tambahnya.

Kelompok Muslim yang monoritas di dunia seperti Syi’ah, Ihwanul Muslimin bisa sangat kuat dan solid karena direkatkan oleh tata organisasi yang bagus. Sementara kelompok Muslim yang mayoritas yakni Ahlussunnah wal Jama’ah atau Sunni justru tidak bisa berbuat banyak karena tidak diorganisir dengan dengan baik.

Menurut Masdar, satu-satunya kelompok Ahlussunnah wal Jamaah di dunia yang terorganiasir adalah Nahdlatul Ulama (NU) yang berpusat di Indonesia, meski harus diakui bahwa sistem keorganisasian dalam NU berlum terlalu baik.

Sementara itu banyak yang menganggap bahwa berorganisasi adalah cara-cara yang primordial atau kampungan. Menurut Masdar, mereka yang solid dalam berbagai agama adalah anggota salah satu organisasi.

“Jadi anggapan bahwa berorganisasi itu primordial sama sekali tidak beralasan. Dengan berjamaah justru umat Islam dapat melakukan gerakan bersama untuk mencapai tujuan bersama,” katanya. (nam)Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Sejarah, IMNU, Warta Shautus Salam

Rabu, 10 Januari 2018

Abdus Salam (66), Sekali Banser Tetap Banser

Bondowoso, Shautus Salam - Abdus Salam kelahiran Bondowoso pada 12 Januari 1950. Ia salah seorang anggota Barisan Serbaguna (Banser) Nahdlatul Ulama yang paling tua di Kabupaten Bondowoso. Ia terhitung paling senior di Satuan Koordinasi Cabang (Satkorcab) Banser NU Kabupaten Bondowoso.

Salam mulai aktif sebagai anggota Banser pada 1965. Sampai sekarang ia tetap tercatat sebagai anggota Satkorcab Banser NU Bondowoso. Salam yang sehari-harinya berkerja sebagai petani, berkeluarga pada tahun 1986. Bersama istrinya Ahyati (53) ia tinggal di Kelurahan Sekar Putih Kecamatan Tegalampel Kabupaten Bondowoso.

Abdus Salam (66), Sekali Banser Tetap Banser (Sumber Gambar : Nu Online)
Abdus Salam (66), Sekali Banser Tetap Banser (Sumber Gambar : Nu Online)

Abdus Salam (66), Sekali Banser Tetap Banser

"Saya sejak sekolah Tsanawiyah Al-Khairiyah sudah aktif. Sambil lalu sekolah sudah menjadi anggota Banser zaman dulu. Tetapi waktu dulu asal tidak mengganggu jam sekolah, tidak apa-apa masuk Banser dan waktu itu saya juga anggota laskar sang kiai sebagai anggota kepemudaan," kata Salam saat di wawancarai Shautus Salam di kediamannya, Jumat ( 5/2) malam.

Awalnya Salam aktif sebagai anggota GP Ansor Bondowoso pada 1963. Sementara pada 1965 ia menjadi anggota laskar sang kiai kepemudaan dan mulai masuk menjadi anggota Banser di Bondowoso. Ia ikut berjuang di bawah pimpinan H Fatan.

Shautus Salam

Ia pernah menjadi Ketua RW, Ketua keamanan kampung, Ketua Banser sejak 1975-1985. “Banyak jabatan yang saya pegang waktu itu, tetapi alhamdulillah saya bisa membagi waktunya.”

Shautus Salam

Menjadi Banser waktu dulu, anggota membeli sendiri seragamnya dengan uang pribadi. “Sekarang alhamdulillah sudah diberi dari GP Ansor Bondowoso," ungkapnya.

Setiap ada kegiatan pengamanan atau kegiatan yang lain yang berkaitan untuk umat dan kiai, ia tidak menggunakan kendaraan sendiri. Ia selalu dijemput oleh teman Bansernya. Pasalnya ia tidak memunyai kendaraan.

Semangat dan ketekunannya mengabdi ke NU tidak pernah putus. Kendati tidak digaji dalam menjalankan tugas, ia tetap memegang amanah selama menjadi Banser.

"Saya tidak akan berhenti selama saya masih hidup. Saya akan terus mengabdi untuk NU. Kalau misalnya ‘pensuin’, saya sudah menjadi jenderal,” candanya sambil tertawa.

Ia berharap pejuang Barisan Ansor Serbaguna NU untuk menanamkan rasa ikhlas dan semangat untuk memperjuangkan, mempertahankan NKRI agar terus semangat, berkorban untuk masyarakat NU, bangsa, dan negara.

Abdus Salam masih tampak sehat dan segar meskipun sebagian rambutnya telah memutih. Ia masih aktif dalam kegiatan ke-NU-an beserta banomnya sampai sekarang. (Ade Nurwahyudi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Quote, Sejarah Shautus Salam

Selasa, 09 Januari 2018

Persoalan Lingkungan Hidup, Persoalan Bersama

Bandar Lampung, Shautus Salam. Kerusakan hutan secara umum di wilayah Provinsi Lampung sudah mencapai separuh lebih dari luas hutan yang ada saat ini. Wahana Lingkungan Hidup Lampung (Walhi) pada 2014 merilis jika kerusakan lingkungan di Bandar Lampung semakin masif akibat salah kebijakan. Kepedulian masyarakat dan jurnalis akan lingkungan hidup masih perlu dioptimalkan.

"Berangkat dari hal-hal tersebut, GP Ansor terpanggil untuk berpartisipasi, bekerja sama dengan sejumlah pihak untuk membicarakan persoalan lingkungan hidup di Lampung melalui Riungan Kebangsaan. Persoalan lingkungan hidup ialah persoalan bersama," ujar Sekretaris PW GP Ansor Lampung Muhyidin Thohir di Bandar Lampung, Ahad (16/8).

Persoalan Lingkungan Hidup, Persoalan Bersama (Sumber Gambar : Nu Online)
Persoalan Lingkungan Hidup, Persoalan Bersama (Sumber Gambar : Nu Online)

Persoalan Lingkungan Hidup, Persoalan Bersama

Riungan (kumpulan) Kebangsaan digelar kali ini merupakan energi dan sinergi cinta Gusdurian Lampung, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) dan Palang Merah Indonesia (PMI) Bandar Lampung, The Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ) atau Masyarakat Jurnalis Lingkungan Hidup, GP Ansor, Justice Peace Integrity of Creation Fransiskanes Santo Georgius Martir (JPIC-FSGM), De Most (Motivasi Sidik Jari) dan Alumni Sanlat Bimbingan Belajar Pasca Ujian Nasional (BPUN) Waykanan 2015.

Shautus Salam

Riungan Kebangsaan digelar di Gedung B Aula Pasca Sarjana, Kampus IBI Darmajaya, Kamis (20/8) mulai pukul 13.00 WIB hingga selesai sebagai bagian dari rangkaian perayaan HUT AJI ke 21 yang jatuh pada 7 Agustus lalu. Selain itu, donor darah sebagai bagian acara juga dilakukan. Pelajar, masyarakat berminat mendonorkan darahnya untuk membantu mengatasi stok darah di Provinsi Lampung bisa menghubungi Disisi Saidi Fatah, Ketua Alumni Sanlat BPUN Waykanan 2015 di nomor 082377505585.

Tema yang dibahas pada Riungan Kebangsaan ialah "Bagaimana Agama-Agama Memandang Lingkungan Hidup?". Narasumber diskusi dimoderatori Ponita Dewi, Duta Genre atau Generasi Berencana 2013 ialah Putu Soeharta Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Bandar Lampung, Fatah Yasin aktivis lingkungan hidup dari GP Ansor Lampung, Supriyadi penyuluh Agama Budha Kantor Wilayah Kementerian Agama Lampung , Sr. Vincentia HK Komisi Kerasulan Awam dari Keuskupan Tanjungkarang, serta pegiat Majelis Semaan Al Quran dan Dzikrul Ghofillin.

Shautus Salam

"Kami berharap diskusi ini minimal melahirkan kesepakatan bersama untuk ada kegiatan kontinu mengingat dampak dari kerusakan lingkungan dan hutan beragam, tidak saja sektor kesehatan, sektor ekonomi masyarakat juga menjadi terganggu jika ekosistem keseimbangan alamnya sebagan sudah tidak berfungsi lagi," ujar Muhyidin lagi.

Untuk diketahui, Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Lampung pada 2014 menyatakan 70 persen lebih hutan produksi di Lampung rusak dan sekira 55 persen hutan lindung di Lampung sudah rusak. Adapun pihak Pemerintah Provinsi Lampung menyebutkan jumlah luas hutan di provinsi ini mencapai 30 persen dari luas daratan. Namun, sekitar 53 persen hutan negara yang ada sudah dalam kondisi rusak. (Hamengku Rayyan/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Sejarah, Nusantara, AlaNu Shautus Salam

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Shautus Salam sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Shautus Salam. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Shautus Salam dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock