Tampilkan postingan dengan label Nahdlatul Ulama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nahdlatul Ulama. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 Maret 2018

Islam Nusantara Praktik Keseharian Beragama Kaum Santri

Jakarta, Shautus Salam. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj (Kang Said) menunjukkan warna khas kalangan santri dalam mempraktikkan agama. Dalam diskusi publik yang digelar siang ini di Jakarta, Rabu (26/8), Kang Said menyebut kalangan santri memandang keragaman suku, bahasa, budaya, dan agama di Nusantara sebagai sebuah fitrah dari Allah Yang Maha Kuasa.

Islam Nusantara Praktik Keseharian Beragama Kaum Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
Islam Nusantara Praktik Keseharian Beragama Kaum Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

Islam Nusantara Praktik Keseharian Beragama Kaum Santri

Dalam diskusi bertajuk “Pancasila Rumah Kita: Perbedaan Adalah Rahmat”, Kang Said mengatakan, “Islam Nusantara ini menjadi warna santri beragama sehari-hari tanpa perlu doktrin atau penataran apapun.”

Para santri diajari memahami kitab suci secara utuh. Mereka terlatih meneladani akhlaq para kiai yang menunjukkan sikap toleransi terhadap kehadiran pemeluk agama lain. “Ada atau tidak ada bom, para santri akan terus menunjukkan sikap moderat,” kata Kang Said di hadapan sedikitnya 70 hadirin dari pelbagai lintas agama.

Shautus Salam

Tampak hadir sebagai narasumber lainnya Executive Scretary Konferensi Waligereja Indonesia Romo Edy Purwanto, perwakilan dari Persekutuan Gereja-gereja Indonesia Pdt Albertus Patty, serta utusan Perwakilan Umat Buddha Indonesia Bhiksu YM Dutavira Mahastavira.

Shautus Salam

Di hadapan narasumber dan para hadirin, Kang Said bercerita bagaimana kalangan santri bergaul dengan pemeluk agama lain mulai dari zaman Walisongo hingga santri di era sekarang. Ia juga memaparkan cara dakwah santri yang merujuk pada model dakwah Walisongo.

"Tidak pernah terbukti seorang santri NU memprovokasi massa untuk menyerang atau menggusur tempat ibadah pemeluk agama lain," ujar Kang Said.

Kang Said mengutip ayat Al-Quran yang berbunyi, "Seandainya Allah menghendaki, niscaya Ia menjadikanmu sebagai satu umat."

Sementara moderator diskusi Syafiq Alielha mengangkat sejumlah fenomena cara beragama yang cenderung ekstrem. “Di luar sana masih ada kelompok-kelompok beragama yang kurang menghayati nilai-nilai Pancasila,” ujar Syafiq yang kini diamanahkan sebagai Pemred Shautus Salam. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Tokoh, Nahdlatul Ulama Shautus Salam

Kamis, 01 Februari 2018

PCNU Majalengka Terima Wakaf Tanah dari Pengusaha Jatiwangi

Majalengka, Shautus Salam

H M Taufan mengikrarkan wakaf atas tanah seluas 1.180 meter persegi yang berdekatan dengan Kantor Mapolsek Cigasong Keluarga Besar Nahdlatul Ulama Majalengka di KUA Cigasong, Kabupaten Majalengka, Senin (14/8). Ia menyebutkan, wakaf tanah ini tidak ada sangkut pautnya dengan pencalonan dirinya dalam kontestasi pilkada Majalengka yang akan di gelar tahun depan.

PCNU Majalengka Terima Wakaf Tanah dari Pengusaha Jatiwangi (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Majalengka Terima Wakaf Tanah dari Pengusaha Jatiwangi (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Majalengka Terima Wakaf Tanah dari Pengusaha Jatiwangi

"Wakaf ini murni sebagai bentuk manifestasi nilai-nilai Islam yang selama ini dipahami dan yakini. Wakaf ini semata-mata untuk kemaslahatan umat Islam terutama Nahdliyin Majalengka. Saya ingin mendapatkan berkah para kiai NU,” ujar pengusaha asal Bujurul Kulon Kecamatan Jatiwangi, Kabupaten Majalengka.

Ketua PCNU Majalengka KH Harun mengucapkan syukur dan menghaturkan terima kasih kepada H Taufan atas wakaf tanahnya kepada KBNU Majalengka.

Shautus Salam

"Kita hanya bisa mendoakan jazakumullah ahsanal jaza. Semoga niat baik H Taufan menjadi investasi dunia dan akhirat untuknya," jelas Kiai Harun di KUA Ciagasong.

Hal senada disampaikan Rais Syuriyah KH Yusuf Kariem. Ia berharap semoga tanah ini bisa menjadikan NU ke depan berkembang dan maju.

Shautus Salam

"Semoga apa yang diharapkan Bapak H Taufan dikabulkan Allah SWT," pungkasnya.

Dalam kesempatan itu, hadir juga Ketua KUA Cigasong Abdul Hakim, Ketua Pagar Nusa Majalengka, Sekbid GP Ansor Majalengka, dan Ketua Rijalul Ansor Majalengka. (Firman/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Nahdlatul Ulama, Humor Islam, PonPes Shautus Salam

Senin, 29 Januari 2018

Tiga Hal untuk Jaga Kebinekaan Jadi Kekuatan

Surabaya, Shautus Salam. Perbedaan dalam berbagai hal yang terjadi di bumi Indonesia jangan dipandang sebagai ancaman. Justru itu adalah karunia Allah yang begitu besar bagi bangsa Indonesia, dan wajib disyukuri.

Demikian disampaikan Ketua PBNU Robikin Emhas saat memberikan pengarahan dalam acara Pertemuan Penulis Keislaman di hotel Sahid, Surabaya, Sabtu (2/12).

Tiga Hal untuk Jaga Kebinekaan Jadi Kekuatan (Sumber Gambar : Nu Online)
Tiga Hal untuk Jaga Kebinekaan Jadi Kekuatan (Sumber Gambar : Nu Online)

Tiga Hal untuk Jaga Kebinekaan Jadi Kekuatan

Menurutnya, keberagaman adalah kehendak Allah, sehingga manusia tak perlu memaksa untuk menyeragamkannya. "Kalau Allah sudah menciptakan manusia bineka, masak kita harus memaksa harus jadi satu," ujarnya.

Ia menambahkan, kebinekaan budaya, agama, suku dan sebagainya di Indonesia justru bisa menjadi kekuatan yang hebat dengan melakukan tiga hal. Pertama, meningkatkan tali silaturahim. Kedua, menjalin tali silatul afkar (hubungan gagasan). 

Shautus Salam

Setiap manusia tentu mempunyai pemikiran dan gagasan yang berbeda. Untuk itu, perlu dilakukan silatul afkar untuk mengelola perbedaan-perbedaan pemikiran tersebut menjadi kekuatan.

"Kita cari persamaanya, dan bukan merperbesar perbedaannya," lanjutnya.

Shautus Salam

Ketiga adalah silatul amal (kerja sama dalam aksi nyata). Poin ini menurut Robikin merupakan aksi nyata pengejawantahan kebersamaan dan persatuan yang berangkat dari kebinekaan. 

"Kebibekaan wajib kita kelola untuk menjadi kekuatan," ungkapnya.

Acara tersebut diikuti oleh 60 penulis keislaman se Jawa Timur, dan berlangsung hingga Ahad kemarin. (Aryudi A Razaq/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Nusantara, Nahdlatul Ulama Shautus Salam

Minggu, 28 Januari 2018

Inilah 10 Kitab Karya Kiai Sahal Mahfudh

Almarhum KH MA Sahal Mahfudh termasuk sedikit dari ulama Nusantara yang produktif di dunia penulisan. Rais Aam PBNU ini mewariskan setidaknya 10 karya kitab, yang seluruhnya berbahasa Arab kecuali satu karya terjemahan yang ditulis dengan bahasa Jawa (Pegon).

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj pada peringatan Harlah ke-88 NU Jumat (31/1) malam lalu menjelaskan sebagian kitab Kiai Sahal itu. Karya-karya tersebut, katanya, membuat Kiai Sahal istimewa di antara ulama-ulama lain. “Kealiman beliau itu luar biasa. Susah menemukan kiai seperti beliau,” katanya.

Inilah 10 Kitab Karya Kiai Sahal Mahfudh (Sumber Gambar : Nu Online)
Inilah 10 Kitab Karya Kiai Sahal Mahfudh (Sumber Gambar : Nu Online)

Inilah 10 Kitab Karya Kiai Sahal Mahfudh

Sepuluh kitab Kiai Sahal tersebut mayoritas ditulis ketika masih berstatus santri Pesantren Sarang dalam usia yang relatif muda, yakni 24-25 tahun. Penjelasan kesepuluh kitab dan buku-buku karangan peraih doktor kehormatan dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini merujuk pada buku Kiai Sahal: Sebuah Biografi yang ditulis Tim KMF Jakarta. Dilihat dari waktu selesai menulis, maka urutannya adalah sebagai berikut.

Pertama, Thariqat al-Hushul ‘ala Ghayatil Wushul. Diselesaikan pada 15 Ramadan 1380 H (3 Maret 1961), kitab ini berisi ta’liqat (penjelas) atas Ghayatul Wushul yang merupakan syarah (penjelasan) atas Lubbul Ushul (kedua kitab terakhir adalah karya Zakaria al-Anshari). Kitab Lubbul Ushul masuk kategori usul fiqih dan dikenal sebagai kitab yang sulit dipahami para santri karena kalimatnya sangat padat dan mengandung makna yang dalam.

Shautus Salam

Kedua, ats-Tsamarat al-Hajayniyah yang selesai ditulis pada 15 Rabi’ al-Tsani 1381 (26 September 1961). Kitab ini termasuk salah satu karya orisinal Kiai Sahal, alias bukan syarah atau hasyiah terhadap karya ulama lain. Ditulis dalam bentuk nadham dan dilengkapi penjelasan di bawahnya, kitab ini menerangkan makna dari istilah-istilah yang sering dipakai dalam kitab-kitab fiqih. Misalnya, ketika disebutkan al-imam dalam fiqih, tanpa nama seseorang di belakangnya, maka ia merujuk pada Imam al-Kharamayn Abd al-Malik ibn Abi Muhammad Abdullah al-Juwaini (419-478 H/1028-1085 M). Jika kata yang sama muncul dalam usul fiqih dan mantiq, maka itu merujuk pada Fakhr al-Din Muhammad al-Razi (543-606 H/1149-1210 M). Sementara itu, kalau disebutkan kata al-syaykh dalam fiqih, itu berarti Abu Ishaq Ibrahim ibn Ali al-Syairazi  (393-476 H/1003-1083).

Shautus Salam

Ketiga, al-Fawa’id al-Najibah. Selesai ditulis pada 8 Jumadil Ula 1381 (18 Oktober 1961), kitab ini merupakan syarah atas matan yang ditulis sendiri oleh Kiai Sahal, yakni al-Faraid al-Ajibah fi Bayan I’rab al-Kalimat al-Gharibah. Dengan demikian, kitab ini juga termasuk dalam kategori karya orisinal. Matan yang disusun dalam bentuk nadham ini terdiri dari 89 bait dan, sebagaimana terbaca dari judulnya, menjelaskan i’rab (tata bahasa) kata-kata dalam bahasa Arab yang dianggap aneh. Dari sekian kata-kata yang secara ilmu nahwu aneh, Kiai Sahal membahas 34 kata, seperti kata aidlan dan ashlan yang selalu dibaca nasab, baik dalam bentuknya sebagai masdar maupun hal.

Keempat, al-Bayanul Malma’ an Alfadhil Luma’. Dari judulnya, dapat diphami bahwa ini adalah penjelas atas kitab al-Luma’ fi Ushulil Fiqh karya Abu Ishaq Ibrahim al-Syairazi. Kitab ini sebetulnya telah rampung ditulis dalam bentuk ta’liqat di kitab al-Luma’ pada Jumadil Ula 1381 H (Oktober 1961), tapi baru disalin secara terpisah pada 28 Rabi’ul Awal 1418 H (18 Oktober 1997).

Kelima, Intifakhul Wadajayn ‘inda Munadharat Ulama Hajayn fi Ru’yatil Mabi’ bi-Zujajil ‘Aynayn. Ini adalah salah satu karya orisinal Sahal yang selesai ditulis pada 25 Sya’ban 1381 H (1 Februari 1962). Ia membahas perdebatan ulama Kajen pada akhir tahun 1950-an tentang keabsahan penglihatan yang menggunakan kacamata terhadap barang yang hendak diperdagangkan.

Keenam, Faydlul Hija ala Nayl al-Raja yang selesai ditulis pada 18 Dzulhijjah 1381 H (23 Mei 1962). Kitab ini merupakan karya penjelas atas kitab Safinat al-Naja karya Salim ibn Samir al-Khudri yang cukup populer di kalangan santri.

Ketujuh, terjemahan bahasa Jawa (Pegon) atas Qasidah Munfarijah. Qasidah yang terdiri dari 43 bait ini adalah gubahan Yusuf ibn Muhammad al-Ansari (1041-1119 M) dan banyak dibaca umat Islam, khususnya kalangan santri, jika menghadapi kesusahan atau kesulitan. Diyakini bahwa pembacaan bait-bait yang mengandung nama-nama agung (al-asma’ al-a’dham) Allah ini akan mendatangkan kemudahan bagi pembacanya. Ini adalah satu-satunya kitab Kiai Sahal yang merupakan terjemahan dalam bahasa Jawa.

Ada dua karya Kiai Sahal yang merupakan penjelas atas Sullam al-Munawraq, kitab mantiq (logika) yang banyak digunakan di pesantren. Keduanya diberi judul Al-Murannaq dan Izalat al-Muttaham. Kitab terakhir merupakan karya elaborasi atas Idlah al-Mubham ‘an Ma’ani al-Sullam, karya Ahmad ibn Abd al-Mun’im al-Damanhuri, yang merupakan syarah atas Sullam al-Munawraq. Tidak terdapat catatan, kapan kedua kitab tersebut selesai ditulis, yang pasti menurut ingatan Kiai Sahal, keduanya ditulis ketika dia masih nyantri di Sarang.

Terakhir, Anwarul Bashair yang merupakan penjelas atas kitab Al-Asybah wan Nadhair karangan Jalal al-Din Abd al-Rahman al-Suyuti. Kitab ini ditulis setelah dia menetap di Kajen, meski tidak ada catatan kapan tepatnya dia menyelesaikan karya penting ini. Asybah sendiri adalah kitab yang membahas qawa’id fiqhiyah (kaidah-kaidah fiqih) dan diajarkan di berbagai pesantren di Jawa.

Selain kitab-kitab berbahasa Arab, Kiai Sahal juga telah menghasilkan beberapa buku berbahasa Indonesia. Setidaknya ada empat buku berisi kumpulan berbagai artikel yang telah diterbitkan, antara lain Nuansa Fiqih Sosial (Yogyakarta: LKIS, 1994 dan 2007), Pesantren Mencari Makna (Jakarta: Pustaka Ciganjur, 1999), Wajah Baru Fiqh Pesantren (Jakarta: Citra Pustaka, 2004, dan Dialog dengan KH MA Sahal Mahfudh: Telaah Fikih Sosial (Semarang: Yayasan Karyawan Suara Merdeka, 1997). Kiai Sahal juga menulis buku bersama KH A Mustofa Bisri, yang diberi judul Ensiklopedi Ijma’. (Mahbib Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Kajian, Nahdlatul Ulama, Fragmen Shautus Salam

Minggu, 21 Januari 2018

CBP IPNU dan KPP IPPNU Brebes Gelar Diklatsus

Brebes, Shautus Salam



Dewan Kordinasi Cabang (DKC) Corp Brigade Pembangunan (CBP) dan korps Pelajar Putri (KPP) Kabupaten Brebes menggelar Pendidikan Latihan Khusus (Diklatsus) CBP KPP. Kegiatan yang dilaksanakan pada tanggal 21-24 Februari 2016 di daerah kaki Gunung Slamet tepatnya di Desa Wanareja Kec. Sirampog diikuti sebanyak 35 peserta perwakilan dari tiap-tiap PAC Se-Kab. Brebes.?

CBP IPNU dan KPP IPPNU Brebes Gelar Diklatsus (Sumber Gambar : Nu Online)
CBP IPNU dan KPP IPPNU Brebes Gelar Diklatsus (Sumber Gambar : Nu Online)

CBP IPNU dan KPP IPPNU Brebes Gelar Diklatsus

Acara tersebut adalah bertujuan membentuk pasukan khusus CBP KPP di Kabupaten Brebes yang merupakan lembaga semi otonom dari IPNU dan IPPNU. Dengan melalui proses seleksi maka peserta yang mengikuti kegiatan ini adalah yang sudah lolos tes fisik maupun pengetahuan. Komandan DKC CBP Kabupaten Brebes Fatkhurohman mengatakan.

Shautus Salam

"Pasukan khusus ini nantinya akan dijadikan garda terdepan guna mengawal semua pergerakan IPNU-IPPNU di Kabupaten Brebes".

Shautus Salam

Selain meningkatkan kualitas fisik peserta, Diklatsus juga meningkatkan pengetahuan. Materi yang disampaikan pada kegiatan ini antara lain Ke-IPNU-IPPNU-an, Aswaja dan NU, Penanggulangan Terorisme, Bela Negara, ? Protokoler, PMI dll. Pelatihan dibina langsung oleh Kodim Brebes dari awal sampai akhir kegiatan. Kedisiplinan dan kekompakan adalah sesuatu kewajiban dalam kegiatan.

Ketua PC IPNU Kabupaten Brebes Ferial Farkhan dalam sambutan upacara pembukaan mengatakan, "Kami mengapresiasi setinggi-tingginya kepada DKC CBP-KPP ? Brebes. Semoga akan terlahir kader CBP KPP yang bisa diandalkan bagi agama bangsa dan negeri khususnya untuk IPNU-IPPNU".

Peserta dalam mengikuti kegiatan tersebut sangatlah semangat. Walaupun cuaca sangat dingin, tapi tidak menyurutkan mereka dalam belajar. Suara nyanyian yel-yel selalu berkumandang membakar semangat mereka. Suasana keakraban pun tercipta di semua peserta.?

"Kami sangat senang mengikuti Diklatasus ini, banyak ilmu yang kami dapatkan dan tentunya pengalaman yang luar biasa," ucap Arif Rahman Hakim salah satu peserta Diklatsus.

Pada malam terakhir kegiatan, juga diadakan kegiatan api unggun sekaligus sarasehan memperingati hari lahir ke-62 IPNU. Pembacaan doa dipanjatkan untuk para pendiri IPNU dan berharap IPNU ke depan akan semakin baik. Di malam itu pula para peserta menampilkan pentas seni dari tiap-tiap kelompoknya. Suasana dingin berubah menjadi hangat karena kemeriahan para peserta.

Hadir pula di acara tersebut perwakilan dari Dewan Koordinasi Wilayah (DKW) KPP Jawa Tengah Oktaviana dan mengawal kegiatan dari awal sampai akhir. ?

"Kami bangga kepada CBP KPP Kabupaten Brebes yang telah melaksakan kegiatan Diklatsus ini, semoga pasca ini akan terlahir CBP KPP sejati". Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Fragmen, Tegal, Nahdlatul Ulama Shautus Salam

Jumat, 19 Januari 2018

Puasa Kiai Wahid untuk Indonesia

Oleh Ayung Notonegoro



Salah satu tokoh NU yang paling fenomenal sepanjang sejarah adalah KH Abdul Wahid Hasyim. Putra Hadratusysyekh KH Hasyim Asyari tersebut, tak hanya menjadi tokoh NU yang militan, tapi juga cerdas dan berintegritas. Perjuangannya tak hanya untuk NU semata, tapi juga untuk bangsa Indonesia. Maka, ketika kecelakaan mobil pada 19 April 1954 itu, merenggut nyawa Menteri Agama pertama Republik ini, menyebabkan luka mendalam bagi bangsa Indonesia. Lebih-lebih bagi warga NU. 

Puasa Kiai Wahid untuk Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Puasa Kiai Wahid untuk Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Puasa Kiai Wahid untuk Indonesia

Dalam Muktamar ke-20 NU di Surabaya, lima bulan setelah kejadian tragis tersebut, rasa kehilangan masih tampak jelas di wajah orang-orang NU. Saat sambutan, Rais Aam PBNU  KH Wahab Chasbullah, mengungkapkan rasa kehilangan yang teramat. 

"Ada kejadian yang sebaiknya kita peringati, sekalipun sangat berat tekanan dan akibatnya dalam hati dan jiwa kita, ialah kejadian yang sangat mengerikan, kejadian wafatnya Saudara Yang Mulia Kiai Haji Abdul Wahid Hasyim, dengan cara yang sangat mengejutkan, akibat dari suatu kecelakaan yang tiada orang dapat mencampurinya. Tiada orang yang mampu berhadapan dengan qodar kepastian yang datang dari langit," ungkap Kiai Wahab. 

Meski demikian, Kiai Wahab tak lantas menyeret Nahdliyin terus-menerus bersedih. Ia menguatkan, bahwa kematian adalah sesuatu yang pasti. "Dahulu, ada seorang ahli syair berkata: Barangsiapa yang tidak mati karena pedang atau senjata lain dalam pertempuran, maka orang itu akan mati juga dengan sebab lain. Bermacam-macam sebab yang mendatangkan kematian, tetapi kematian itu satu," ungkapnya. 

Shautus Salam

Kemudian ia mengajak para muktamirin yang datang dari seluruh penjuru Nusantara tersebut, untuk meneladani sikap dan perjuangan Kiai Wahid. Perjuangan yang tidak hanya sebatas perjuangan fisik dan pikiran saja, tapi juga dilengkapi dengan perjuangan batiniyah. 

Perjuangan fisik dan pemikiran Kiai Wahid sudah banyak tulisan dan buku yang mengupasnya. Bagaimana kiprahnya di masa penjajahan Belanda, pendudukan Jepang, mempersiapkan kemerdekaan dan lebih-lebih di masa perang mempertahankan kemerdekaan. Akan tetapi, tak banyak yang mengupas tentang perjuangan batiniyahnya Kiai Wahid untuk bangsa Indonesia. 

Dalam konteks batiniyah tersebut, salah seorang penyusun Piagam Jakarta itu, memperjuangkan Indonesia dengan bertirakat. Sebagai umat Islam, Kiai Wahid percaya, bahwa segenap ikhtiar harus senantiasa diiringi dengan doa. Dan, doa yang paling ijabah harus disertai dengan laku tirakat. 

Tirakat yang dilakukan anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) itu, adalah puasa dahr, yaitu puasa yang dilakukan sepanjang tahun. Kecuali pada hari-hari yang diharamkan, seperti dua hari raya dan hari tasyrik. Kiai Wahid berjanji pada dirinya sendiri, sebagai permohonan kepada Allah SWT, agar bangsa Indonesia dianugerahi kemerdekaan yang sesungguhnya, terlepas dari pelbagai belenggu, berdaulat sepenuhnya dan diberikan kedamaian dan kesejahteraan. 

Shautus Salam

Biasanya, ia akan memulai puasa yang cukup panjang dalam situasi-situasi yang genting. Seperti halnya saat terjadi Agresi Militer Kedua Belanda. Saat itu, Belanda bersama pasukan Sekutu mampu menguasai ibu kota Indonesia yang pada saat itu bertempat di Yogyakarta. Sejak kejadian yang berlangsung pada 19 Desember 1948 itulah, Kiai Wahid memulai puasanya. 

Saban hari Kiai Wahid berpuasa hingga ajal menjemputnya saat usianya masih belum genap 40 tahun. Terhitung sejak awal, Kiai Wahid telah berpuasa selama 1500 hari lebih. Sungguh perjuangan yang tak mudah di tengah aktivitas yang menguras tenaga dan pikiran.

Sebenarnya, puasa yang dilakukan di atas bukanlah yang pertama kalinya. Sepanjang hidupnya, Kiai Wahid kerap kali berpuasa sunnah. Sebagaimana diceritakan oleh KH. Saifuddin Zuhri, junior sekaligus kolega perjuangannya, dalam Authorized KH Saifudin Zuhri: Berangkat dari Pesantren.

Pada medio 1942, terjadi peristiwa besar dalam sejarah bangsa Indonesia. Belanda telah terusir dan digantikan oleh Jepang. Tak membawa kebaikan sebagaimana yang dijanjikan, pasukan Dai Nippon tersebut, justru menunjukkan kebengisannya. Seorang tokoh panutan umat Islam di Indonesia, Hadratussyekh Hasyim Asyari ditangkap oleh Jepang.

Tentu saja ini menjadi keguncangan bagi Nahdlatul Ulama karena Kiai Hasyim merupakan sosok sentral di organisasi yang memuliakan para ulama tersebut. Lebih-lebih kepada Kiai Wahid. Selain karena pemimpinnya di NU, Kiai Hasyim juga merupakan ayah kandungnya.

Menghadapi situasi ini, Kiai Wahid tidak hanya mengambil alih tanggung jawab peran-peran ayahandanya dan berupaya membebaskannya, tapi juga mengimbanginya dengan berpuasa. Hingga pada suatu hari, di saat terik matahari begitu menyengat, Kiai Wahid sedang melakukan kunjungan kerja di Sokaraja, Jawa Tengah.

Di kampung halaman Kiai Saifuddin Zuhri tersebut, ia ditawari minum oleh tuan rumah. Namun, dengan sigap Kiai Wahid menolaknya.

“Nanti dulu, sabarlah,” tukasnya seraya memandang Kiai Saifuddin yang sedang minum.

“Berpuasa pada hari yang begini panas? Orang musafir kan dapat rukhsoh?” Goda Kiai Saifuddin yang sebenarnya tahu kalau tamunya tersebut, telah berpuasa sejak beberapa minggu yang lalu.

Di luar dugaan, Kiai Wahab menjawabnya dengan cukup mantap dan layak direnungkan bagi kita semua.





“Laqod shumtu li yaumin huwa aharru minhu,” jawabnya.

Saya berpuasa untuk meningkatkan suatu hari yang lebih panas ketimbang hari ini, yaitu di padang mahsyar kelak!!!

Penulis aktif di Komunitas Pegon yang mengulik hal ihwal pesantren dan NU. Bisa ditemui di akun facebooknya: Ayunk Notonegoro

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Nahdlatul Ulama, Hikmah Shautus Salam

Minggu, 14 Januari 2018

Saifullah Yusuf Siap Dicopot

Jakarta, Shautus Salam

Menteri Negara Pembangunan Daerah Tertinggal Saifullah Yusuf menyatakan siap dicopot jika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memang menghendaki demikian.

"Menteri itu pembantu Presiden. Jika siap diangkat tentu juga harus siap dicopot," kata Saifullah usai peresmian pembentukan Divisi Search and Rescue (SAR) Gerakan Pemuda Ansor di Kantor PP GP Ansor, Jalan Kramat Raya, Jakarta, Senin (12/3) kemarin.

Saifullah Yusuf Siap Dicopot (Sumber Gambar : Nu Online)
Saifullah Yusuf Siap Dicopot (Sumber Gambar : Nu Online)

Saifullah Yusuf Siap Dicopot

Terkait wacana reshuffle kabinet, Saifullah disebut-sebut sebagai menteri yang akan diganti selain Menteri Perhubungan Hatta Rajasa dan Menteri Agama Maftuh Basyuni. Pencopotan Saifullah antara lain direkomendasikan DPP PKB.

Saifullah yang mantan Sekjen DPP PKB itu mengaku tidak terlalu memikirkan wacana reshuffle yang kembali marak bulan ini karena pada akhirnya yang menentukan adalah Presiden.

"Reshuffle itu kan hak prerogratif Presiden. Sebagai menteri saya berusaha menjalankan tugas semaksimal mungkin. Penilaiannya tentu ada pada Presiden," katanya.

Hanya saja, Ketua Umum GP Ansor yang juga Wakil Ketua Majelis Pertimbangan Partai PPP itu menyesalkan usul pencopotan seorang menteri oleh partai politik, apalagi di sisi lain partai itu justru mengajukan nama kadernya pada Presiden agar diangkat sebagai menteri.

Shautus Salam

"Memang siapa pun berhak mengajukan usul reshuffle. Tapi kalau satu partai usul agar Presiden mencopot menteri dari partai lain, lantas mengajukan nama dari partainya untuk diangkat sebagi menteri, ini kan tidak etis," katanya.

Artinya, kata Saifullah, usul reshuffle yang diajukan partai tersebut tidak berangkat dari penilaian obyektif dan demi perbaikan kinerja pemerintah, melainkan mengincar jabatan.

Sebelumnya, Ketua Umum DPP PKB Muhaimin Iskandar menyatakan, hampir separuh anggota kabinet harus diganti karena kinerjanya dinilai kurang baik, termasuk Saifullah Yusuf.

Shautus Salam

"Hampir separuh kabinet harus dibenahi," kata Ketua Umum DPP PKB Muhaimin Iskandar usai pembukaan Akademi Politik Kebangsaan yang digelar PKB di Jakarta, Minggu (11/3).

Namun pada kesempatan yang sama Muhaimin menyatakan PKB siap jika diajak Presiden Yudhoyono memperkuat kabinet. PKB sendiri sudah menyiapkan tiga nama untuk mengisi kabinet. (ant/rif)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Nahdlatul Ulama, Olahraga, RMI NU Shautus Salam

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Shautus Salam sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Shautus Salam. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Shautus Salam dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock