Tampilkan postingan dengan label Fragmen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fragmen. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 03 Maret 2018

Ketua PBNU Resmikan MWC NU Sukoharjo

Wonosobo, Shautus Salam. Merupakan kebanggaan tersendiri bagi pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC) NU Kecamatan Sukoharjo, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Sebab Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Agil Siroj secara langsung meresmikan Gedung MWC NU Sukoharjo, Jumat (6/9).

Ketua PBNU Resmikan MWC NU Sukoharjo (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketua PBNU Resmikan MWC NU Sukoharjo (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketua PBNU Resmikan MWC NU Sukoharjo

Acara peresmian berlangsungn meriah karena dihadiri oleh ketua beserta pengurus PCNU Wonosobo, ? MWC NU Sukoharjo dan Ranting serta para ulama, kiai, dan warga NU.?

Gedung MWC ? tersebut berdiri di dalam kompleks Kecamatan Sukoharjo dan berada di poros jalan utama, dibangun atas swadaya warga Nahdiyin. Pembangunan kantor cabang ini sangat monumental karena merupakan kantor pertama yang dibangun oleh MWC NU Sukoharjo dan memiliki tiga lantai. ?

Shautus Salam

Peresmian Gedung MWC NU Sukoharjo secara simbolik, dibuka dengan penandatanganan yang dilakukan oleh Ketua Umum yang disaksikan oleh Ketua PCNU, Pengurus MWC dan tamu undangan.?

Pada kesempatan itu Kiai Said menyampaikan ke depan NU harus lebih memperkuat kelembagaan NU sebagai jam’iyyah keagamaan serta jam’iyyah kemasyarakatan. Sebab NU bukanlah perkumpulan politik maupun perkumpulan milik pemerintah melainkan perkumpulan masyarakat.?

Shautus Salam

“Struktur kepengurusan NU harus dapat berfungsi efektif dengan menggunakan manajemen modern dengan tetap memelihara kultur dan tradisi yang menjadi bagian tak terpisahkan dengan nafas dan budaya NU. Karena NU itu adalah perkumpulan masyarakat yang mampu menjembatani masyarakat,” katanya.

Selain itu, Ia juga menghimbau warga NU untuk memperkuat pendidikan Islam sebagai pilar pembangunan bangsa. Karena berbagai kebijakan, komitmen, dan regulasi sangat mendukung serta memberi kesempatan yang besar kepada masyarakat untuk berpartisipasi di dalam dunia pendidikan.

Gedung MWC NU berlantai tiga yang cukup megah itu rencananya akan digunakan untuk berbagai aktifitas Nahdliyin di lingkungan MWC Sukoharjo. Untuk lantai pertama rencananya digunakan sebagai koperasi, kemudian lantai dua digunakan untuk kesekretariatan dan lantai tiga digunakan untuk pertemuan.?

Disebutkan pula, pembangunan gedung MWC NU Sukoharjo yang baru saja diresmikan itu ditargetkan akan menghabiskan biaya hingga Rp2 miliar. Hingga diresmikan, sudah menghabiskan biaya sekitar Rp1,5 miliar.?

“Semua biaya pembangunan gedung MWC NU Sukoharjo itu resmi dari sumbangan Nahdliyin di Sukoharjo dan beberapa donatur,” jelas Khamim Fadhol Ketua MWC NU Sukoharjo.?

Untuk sumbangan yang diberikan oleh warga, Kata Khamim mereka menyumbang secara ikhlas hanya melalui surat. Cara itupun terbilang efektif karena pembangunan mulai tahun 2006 hingga 2013 ini bisa berjalan lancar.?

“Untuk lahannya juga sumbangan atau iuran warga, total harga lahan saja Rp 175 juta,” jelasnya. (Fathul Jamil/Mukafi Niam)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Fragmen, Khutbah, News Shautus Salam

Minggu, 28 Januari 2018

Inilah 10 Kitab Karya Kiai Sahal Mahfudh

Almarhum KH MA Sahal Mahfudh termasuk sedikit dari ulama Nusantara yang produktif di dunia penulisan. Rais Aam PBNU ini mewariskan setidaknya 10 karya kitab, yang seluruhnya berbahasa Arab kecuali satu karya terjemahan yang ditulis dengan bahasa Jawa (Pegon).

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj pada peringatan Harlah ke-88 NU Jumat (31/1) malam lalu menjelaskan sebagian kitab Kiai Sahal itu. Karya-karya tersebut, katanya, membuat Kiai Sahal istimewa di antara ulama-ulama lain. “Kealiman beliau itu luar biasa. Susah menemukan kiai seperti beliau,” katanya.

Inilah 10 Kitab Karya Kiai Sahal Mahfudh (Sumber Gambar : Nu Online)
Inilah 10 Kitab Karya Kiai Sahal Mahfudh (Sumber Gambar : Nu Online)

Inilah 10 Kitab Karya Kiai Sahal Mahfudh

Sepuluh kitab Kiai Sahal tersebut mayoritas ditulis ketika masih berstatus santri Pesantren Sarang dalam usia yang relatif muda, yakni 24-25 tahun. Penjelasan kesepuluh kitab dan buku-buku karangan peraih doktor kehormatan dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini merujuk pada buku Kiai Sahal: Sebuah Biografi yang ditulis Tim KMF Jakarta. Dilihat dari waktu selesai menulis, maka urutannya adalah sebagai berikut.

Pertama, Thariqat al-Hushul ‘ala Ghayatil Wushul. Diselesaikan pada 15 Ramadan 1380 H (3 Maret 1961), kitab ini berisi ta’liqat (penjelas) atas Ghayatul Wushul yang merupakan syarah (penjelasan) atas Lubbul Ushul (kedua kitab terakhir adalah karya Zakaria al-Anshari). Kitab Lubbul Ushul masuk kategori usul fiqih dan dikenal sebagai kitab yang sulit dipahami para santri karena kalimatnya sangat padat dan mengandung makna yang dalam.

Shautus Salam

Kedua, ats-Tsamarat al-Hajayniyah yang selesai ditulis pada 15 Rabi’ al-Tsani 1381 (26 September 1961). Kitab ini termasuk salah satu karya orisinal Kiai Sahal, alias bukan syarah atau hasyiah terhadap karya ulama lain. Ditulis dalam bentuk nadham dan dilengkapi penjelasan di bawahnya, kitab ini menerangkan makna dari istilah-istilah yang sering dipakai dalam kitab-kitab fiqih. Misalnya, ketika disebutkan al-imam dalam fiqih, tanpa nama seseorang di belakangnya, maka ia merujuk pada Imam al-Kharamayn Abd al-Malik ibn Abi Muhammad Abdullah al-Juwaini (419-478 H/1028-1085 M). Jika kata yang sama muncul dalam usul fiqih dan mantiq, maka itu merujuk pada Fakhr al-Din Muhammad al-Razi (543-606 H/1149-1210 M). Sementara itu, kalau disebutkan kata al-syaykh dalam fiqih, itu berarti Abu Ishaq Ibrahim ibn Ali al-Syairazi  (393-476 H/1003-1083).

Shautus Salam

Ketiga, al-Fawa’id al-Najibah. Selesai ditulis pada 8 Jumadil Ula 1381 (18 Oktober 1961), kitab ini merupakan syarah atas matan yang ditulis sendiri oleh Kiai Sahal, yakni al-Faraid al-Ajibah fi Bayan I’rab al-Kalimat al-Gharibah. Dengan demikian, kitab ini juga termasuk dalam kategori karya orisinal. Matan yang disusun dalam bentuk nadham ini terdiri dari 89 bait dan, sebagaimana terbaca dari judulnya, menjelaskan i’rab (tata bahasa) kata-kata dalam bahasa Arab yang dianggap aneh. Dari sekian kata-kata yang secara ilmu nahwu aneh, Kiai Sahal membahas 34 kata, seperti kata aidlan dan ashlan yang selalu dibaca nasab, baik dalam bentuknya sebagai masdar maupun hal.

Keempat, al-Bayanul Malma’ an Alfadhil Luma’. Dari judulnya, dapat diphami bahwa ini adalah penjelas atas kitab al-Luma’ fi Ushulil Fiqh karya Abu Ishaq Ibrahim al-Syairazi. Kitab ini sebetulnya telah rampung ditulis dalam bentuk ta’liqat di kitab al-Luma’ pada Jumadil Ula 1381 H (Oktober 1961), tapi baru disalin secara terpisah pada 28 Rabi’ul Awal 1418 H (18 Oktober 1997).

Kelima, Intifakhul Wadajayn ‘inda Munadharat Ulama Hajayn fi Ru’yatil Mabi’ bi-Zujajil ‘Aynayn. Ini adalah salah satu karya orisinal Sahal yang selesai ditulis pada 25 Sya’ban 1381 H (1 Februari 1962). Ia membahas perdebatan ulama Kajen pada akhir tahun 1950-an tentang keabsahan penglihatan yang menggunakan kacamata terhadap barang yang hendak diperdagangkan.

Keenam, Faydlul Hija ala Nayl al-Raja yang selesai ditulis pada 18 Dzulhijjah 1381 H (23 Mei 1962). Kitab ini merupakan karya penjelas atas kitab Safinat al-Naja karya Salim ibn Samir al-Khudri yang cukup populer di kalangan santri.

Ketujuh, terjemahan bahasa Jawa (Pegon) atas Qasidah Munfarijah. Qasidah yang terdiri dari 43 bait ini adalah gubahan Yusuf ibn Muhammad al-Ansari (1041-1119 M) dan banyak dibaca umat Islam, khususnya kalangan santri, jika menghadapi kesusahan atau kesulitan. Diyakini bahwa pembacaan bait-bait yang mengandung nama-nama agung (al-asma’ al-a’dham) Allah ini akan mendatangkan kemudahan bagi pembacanya. Ini adalah satu-satunya kitab Kiai Sahal yang merupakan terjemahan dalam bahasa Jawa.

Ada dua karya Kiai Sahal yang merupakan penjelas atas Sullam al-Munawraq, kitab mantiq (logika) yang banyak digunakan di pesantren. Keduanya diberi judul Al-Murannaq dan Izalat al-Muttaham. Kitab terakhir merupakan karya elaborasi atas Idlah al-Mubham ‘an Ma’ani al-Sullam, karya Ahmad ibn Abd al-Mun’im al-Damanhuri, yang merupakan syarah atas Sullam al-Munawraq. Tidak terdapat catatan, kapan kedua kitab tersebut selesai ditulis, yang pasti menurut ingatan Kiai Sahal, keduanya ditulis ketika dia masih nyantri di Sarang.

Terakhir, Anwarul Bashair yang merupakan penjelas atas kitab Al-Asybah wan Nadhair karangan Jalal al-Din Abd al-Rahman al-Suyuti. Kitab ini ditulis setelah dia menetap di Kajen, meski tidak ada catatan kapan tepatnya dia menyelesaikan karya penting ini. Asybah sendiri adalah kitab yang membahas qawa’id fiqhiyah (kaidah-kaidah fiqih) dan diajarkan di berbagai pesantren di Jawa.

Selain kitab-kitab berbahasa Arab, Kiai Sahal juga telah menghasilkan beberapa buku berbahasa Indonesia. Setidaknya ada empat buku berisi kumpulan berbagai artikel yang telah diterbitkan, antara lain Nuansa Fiqih Sosial (Yogyakarta: LKIS, 1994 dan 2007), Pesantren Mencari Makna (Jakarta: Pustaka Ciganjur, 1999), Wajah Baru Fiqh Pesantren (Jakarta: Citra Pustaka, 2004, dan Dialog dengan KH MA Sahal Mahfudh: Telaah Fikih Sosial (Semarang: Yayasan Karyawan Suara Merdeka, 1997). Kiai Sahal juga menulis buku bersama KH A Mustofa Bisri, yang diberi judul Ensiklopedi Ijma’. (Mahbib Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Kajian, Nahdlatul Ulama, Fragmen Shautus Salam

Jumat, 26 Januari 2018

Bagaimana Makmum Yang Tertinggal Takbir Sunah pada Shalat Id?

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Pengasuh rubrik Bahtsul Masail Shautus Salam, saya mau bertanya. Pada sembahyang Id, ada saja masyarakat yang tertinggal jamaah. Ia menjadi makmum. Ia ketinggalan beberapa takbir sunah pada sembahyang Id pada rakaat pertama. Apakah ia harus melengkapi takbir sunah sebanyak tujuh kali atau mengikuti sedapatnya takbir si imam? Mohon penjelasannya. Terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Nurfadhilah/Banjarmasin)

Jawaban

Bagaimana Makmum Yang Tertinggal Takbir Sunah pada Shalat Id? (Sumber Gambar : Nu Online)
Bagaimana Makmum Yang Tertinggal Takbir Sunah pada Shalat Id? (Sumber Gambar : Nu Online)

Bagaimana Makmum Yang Tertinggal Takbir Sunah pada Shalat Id?

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Penanya yang budiman, semoga Allah SWT menurunkan rahmat-Nya untuk kita semua. Shalat Id merupakan shalat sunah yang paling dianjurkan untuk dihadiri setiap Muslim. Bahkan, perempuan yang berhalangan sekalipun dianjurkan untuk menghadiri upacara shalat Id dan khutbahnya hingga selesai. Bahkan sebagian ulama menyatakan bahwa hukum shalat Id adalah wajib.

Shautus Salam

Shalat sunah Id ini memiliki keistimewaan. Setelah takbiratul ihram dan doa iftitah, kita disunahkan untuk bertakbir sebanyak tujuh kali pada rakaat pertama. Sedangkan pada rakaat kedua, kita disunahkan untuk bertakbir sebanyak lima kali. Takbir pada shalat Id ini sunah. Kalau ditinggalkan, tidak membatalkan shalat, tetapi membuat makruh.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Shautus Salam

Artinya, “Sebelum membaca Surat Al-Fatihah, ia bertakbir sebanyak tujuh kali dengan hitungan yakin yang berbarengan dengan mengangkat kedua tangan; (7 takbir ini) tepatnya (dilakukan) di antara doa iftitah dan ta‘wudz Al-Fatihah. Di rakaat kedua, ia cukup bertakbir sebanyak lima kali,” (Lihat Syekh Sa‘id bin Muhammad Ba‘asyin, Busyral Karim, Beirut, Darul Fikr, 1433-1434 H/2012 M, juz II, halaman 355).

Shalat Id sunahnya dikerjakan secara berjamaah. Kalau ada anggota masyarakat yang ikut berjamaah shalat Id saat imam telah melangsungkan takbir yang disunahkan, maka ia cukup mengikuti seberapa banyak imam bertakbir. Ia tidak perlu menggenapi kekurangannya hingga tujuh takbir bila tertinggal pada rakaat pertama, atau lima takbir bila tertinggal pada rakaat kedua.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ?

Artinya, “Sedangkan masbuq (makmum yang tertinggal beberapa saat) hanya bertakbir sedapatnya mengikut sisa takbir imamnya. Di dalam Syarah dikatakan, kalau masbuq mengikuti imam di rakaat pertama misalkan, dan ia mendapati sisa sekali takbir imam, maka ia cukup sekali bertakbir. Atau kalau masbuq mengikuti imam pada rakaat kedua, ia cukup bertakbir sebanyak lima kali. Sedangkan di rakaat keduanya (setelah imam salam), ia cukup bertakbir sebanyak lima kali karena kalau mengqadha takbir yang luput, ia justru meninggalkan sunah lainnya,” (Lihat Syekh Sa‘id bin Muhammad Ba‘asyin, Busyral Karim, Beirut, Darul Fikr, 1433-1434 H/2012 M, juz II, halaman 355).

Dari sini, kita dapat menyimpulkan bahwa makmum shalat Id yang mendapati imamnya telah membaca surat Al-Fatihah atau surat yang disunahkan, tidak perlu lagi mengerjakan takbir sunah. Ia cukup mengerjakan takbiratul ihram, lalu mendengarkan bacaan imamnya.

Saran kami, kita sebaiknya menghadiri upacara shalat Id meskipun kita tertinggal beberapa takbir atau tertinggal satu rakaat. Karena shalat Id memiliki keutamaan luar biasa bahkan perempuan yang berhalangan sekalipun sangat dianjurkan untuk menghadiri shalat Id beserta khutbahnya hingga selesai. Bagi mereka yang tidak sempat ikut berjamaah, sebaiknya sebelum Zuhur ia mengerjakan shalat Id sendiri tanpa khutbah

Demikian jawaban singkat kami. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima kritik dan saran dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwathih thariq,

Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Alhafiz Kurniawan)Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Fragmen, Cerita, Ahlussunnah Shautus Salam

Minggu, 21 Januari 2018

CBP IPNU dan KPP IPPNU Brebes Gelar Diklatsus

Brebes, Shautus Salam



Dewan Kordinasi Cabang (DKC) Corp Brigade Pembangunan (CBP) dan korps Pelajar Putri (KPP) Kabupaten Brebes menggelar Pendidikan Latihan Khusus (Diklatsus) CBP KPP. Kegiatan yang dilaksanakan pada tanggal 21-24 Februari 2016 di daerah kaki Gunung Slamet tepatnya di Desa Wanareja Kec. Sirampog diikuti sebanyak 35 peserta perwakilan dari tiap-tiap PAC Se-Kab. Brebes.?

CBP IPNU dan KPP IPPNU Brebes Gelar Diklatsus (Sumber Gambar : Nu Online)
CBP IPNU dan KPP IPPNU Brebes Gelar Diklatsus (Sumber Gambar : Nu Online)

CBP IPNU dan KPP IPPNU Brebes Gelar Diklatsus

Acara tersebut adalah bertujuan membentuk pasukan khusus CBP KPP di Kabupaten Brebes yang merupakan lembaga semi otonom dari IPNU dan IPPNU. Dengan melalui proses seleksi maka peserta yang mengikuti kegiatan ini adalah yang sudah lolos tes fisik maupun pengetahuan. Komandan DKC CBP Kabupaten Brebes Fatkhurohman mengatakan.

Shautus Salam

"Pasukan khusus ini nantinya akan dijadikan garda terdepan guna mengawal semua pergerakan IPNU-IPPNU di Kabupaten Brebes".

Shautus Salam

Selain meningkatkan kualitas fisik peserta, Diklatsus juga meningkatkan pengetahuan. Materi yang disampaikan pada kegiatan ini antara lain Ke-IPNU-IPPNU-an, Aswaja dan NU, Penanggulangan Terorisme, Bela Negara, ? Protokoler, PMI dll. Pelatihan dibina langsung oleh Kodim Brebes dari awal sampai akhir kegiatan. Kedisiplinan dan kekompakan adalah sesuatu kewajiban dalam kegiatan.

Ketua PC IPNU Kabupaten Brebes Ferial Farkhan dalam sambutan upacara pembukaan mengatakan, "Kami mengapresiasi setinggi-tingginya kepada DKC CBP-KPP ? Brebes. Semoga akan terlahir kader CBP KPP yang bisa diandalkan bagi agama bangsa dan negeri khususnya untuk IPNU-IPPNU".

Peserta dalam mengikuti kegiatan tersebut sangatlah semangat. Walaupun cuaca sangat dingin, tapi tidak menyurutkan mereka dalam belajar. Suara nyanyian yel-yel selalu berkumandang membakar semangat mereka. Suasana keakraban pun tercipta di semua peserta.?

"Kami sangat senang mengikuti Diklatasus ini, banyak ilmu yang kami dapatkan dan tentunya pengalaman yang luar biasa," ucap Arif Rahman Hakim salah satu peserta Diklatsus.

Pada malam terakhir kegiatan, juga diadakan kegiatan api unggun sekaligus sarasehan memperingati hari lahir ke-62 IPNU. Pembacaan doa dipanjatkan untuk para pendiri IPNU dan berharap IPNU ke depan akan semakin baik. Di malam itu pula para peserta menampilkan pentas seni dari tiap-tiap kelompoknya. Suasana dingin berubah menjadi hangat karena kemeriahan para peserta.

Hadir pula di acara tersebut perwakilan dari Dewan Koordinasi Wilayah (DKW) KPP Jawa Tengah Oktaviana dan mengawal kegiatan dari awal sampai akhir. ?

"Kami bangga kepada CBP KPP Kabupaten Brebes yang telah melaksakan kegiatan Diklatsus ini, semoga pasca ini akan terlahir CBP KPP sejati". Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Fragmen, Tegal, Nahdlatul Ulama Shautus Salam

Senin, 15 Januari 2018

Ini Nasihat Gus Dur kepada Inayah tentang Kebudayaan

Kudus, Shautus Salam

Satu dari banyak yang diingat oleh Inayah Wulandari mengenai KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) adalah soal musik. Putri bungsu Gus Dur itu ingat betul ketika ayahnya yang seorang kiai tiba-tiba menasihatinya dengan kalimat mengejutkan. Kala itu anak dan bapak tersebut tengah membahas ihwal kebudayaan.

Ini Nasihat Gus Dur kepada Inayah tentang Kebudayaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Nasihat Gus Dur kepada Inayah tentang Kebudayaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Nasihat Gus Dur kepada Inayah tentang Kebudayaan

"Kamu harus mendengarkan lagu-lagu dangdut! Begitu kata Gus Dur," katanya menirukan nasihat bapaknya, usai acara Haul Gus Dur sekaligus pengukuhan Lesbumi NU di rumah makan Bambu Wulung, Kudus, Jawa Tengah, Ahad (31/1) malam .

Musik sebagai salah satu produk dari kebudayaan, menjadi satu kunci meraih pemahaman akan identitas sebuah bangsa. "Karena sungguh lagu-lagu itulah yang menjelaskan mengenai apa terjadi di tengah masyarakat kita," lanjutnya.

Shautus Salam

Pegiat teater yang belakangan mengambil peran di sebuah film pendek ini mengatakan bahwa nyanyian dangdut telah sedemikian menjelaskan identitas bangsa Indonesia. "Kalau ingin mengenal identitas bangsa kita, ya, lewat lagu-lagu dangdut itu," terangnya.

Shautus Salam

Mengenali bangsa sendiri adalah keniscayaan bagi generasi muda. Dengan mengenal identitas bangsa, orang akan mengenal budayanya. Sayangnya, menurut Inayah, generasi muda kita masih menganggap perbedaan kebudayaan antar satu bangsa dan yang lain dengan paradigma vertikal.

"Tidak usah melihat budaya kita ini lebih baik atau lebih buruk dari budaya bangsa lain. Itu adalah mental orang yang tidak pede. Itu mental minder. Kita semua setara," kata Inayah meyakinkan.

Bagi pemeran buruh cuci asal Tegal bernama Wagiyem dalam pementasan teater monolog #3Perempuanku ini, tidak perlu menganggap budaya bangsa lain lebih tinggi atau lebih rendah. Sebab jika menganggap bangsa lain lebih rendah, artinya kita bisa bangga kalau bisa meremehkan orang lain. Sebaliknya, kalau menganggap budaya bangsa lain lebih tinggi, berarti minder.

"Kita sering mempersempit pengertian budaya terbatas hanya pada kesenian semata. Padahal tidak, sebenarnya kebudayaan ada dua, yakni proses dan produk. Nah, kesenian itu merupakan salah satu dari produk kebudayaan. Sedangkan kebudayaan yang berupa proses, ya, meliputi keseharian kita ini," paparnya menjelaskan.

Meski lahir dari keluarga pesantren, ia positif memutuskan berteater sebab memahami bahwa pribadi Gus Dur yang ia banggakan, diyakini terbangun dari kesenian. Menurutnya, jalan kesenian yang ia ambil adalah jalan efektif membangun generasi berbudaya. "Pribadi Gus Dur itu justru terbangun dari pelbagai kumpulan film yang ditontonnya dan buku-buku sastra yang dibacanya. Coba, kalau begitu jalan kesenian itu efektif, tidak?" tuturnya. (Istahiyyah/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Fragmen Shautus Salam

Minggu, 14 Januari 2018

Ansor Sidoarjo Desak KPI Filter Tayangan TV Kabel yang Ajarkan Radikalisme

Sidoarjo, Shautus Salam. Ketua GP Ansor Sidoarjo, H Rizza Ali Faizin meminta kepada komisi penyiaran Indonesia (KPI) Pusat agar memfilter tayangan televisi kabel yang mengarah ke ajaran garis keras dan intoleran. Pasalnya, tayangan tersebut dinilai meresahkan masyarakat khususnya untuk kesatuan dan persatuan bangsa.

Ansor Sidoarjo Desak KPI Filter Tayangan TV Kabel yang Ajarkan Radikalisme (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Sidoarjo Desak KPI Filter Tayangan TV Kabel yang Ajarkan Radikalisme (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Sidoarjo Desak KPI Filter Tayangan TV Kabel yang Ajarkan Radikalisme

"Maraknya tayangan melalui media televisi kabel yang mengarah ke ajaran garis keras intoleran sangat meresahkan masyarakat belakangan ini. Untuk itu, GP Ansor Sidoarjo meminta KPI untuk memfilter tayangan dan menindak tegas media tersebut agar masyarakat tidak terpengaruh dengan tayangan yang mengarah ke ajaran mereka," kata Rizza kepada Shautus Salam, Jumat (13/1).

Menurutnya, tayangan televisi kabel sudah liar dalam melakukan penyiaran. Pasalnya, banyak tayangan berbau aliran garis keras dan intoleran dengan menggunakan simbol Islam.

Oleh sebab itu, Ansor Sidoarjo menyarankan kepada KPI pusat agar menindak tegas dan memfiter ulang siarannya. Sehingga muatannya tidak provokatif, penuh kebencian dan membahayakan kesatuan, persatuan bangsa.

Rizza menyebutkan bahwa masyarakat saat ini hampir 80 persen mengamati media sosial (medsos). Hal ini sangat membayakan paham yang dibawa oleh medsos tersebut jika masyarakat tidak pandai-pandai memperhatikan kontennya.

Shautus Salam

"Konten yang berbau aliran radikal dan intoleran itu bisa mempengaruhi pola pikir masyarakat awam dan membahayakan NKRI. Untuk itu, kami mengimbau kepada masyarakat luas terutama warga Nahdliyin agar berhati-hati dalam menyaksikan atau melihat tayangan atau konten yang mengarah ke radikalisme," imbauannya.

Agar tidak terpengaruh dengan ajaran radikal, Rizza menyarankan kepada masyarakat khususnya warga Nahdliyin sebaiknya menyaksikan tayangan yang disiarkan media-media Islam moderat yang menyuguhkan konten Islami, menebar kedamaian, dan menginspirasi. (Moh Kholidun/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam

Shautus Salam Fragmen, Berita, Nahdlatul Shautus Salam

UNU-STAINU Jakarta Terima Kunjungan Studi Banding Unisnu Jepara

Jakarta, Shautus Salam

Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta dan Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) Jakarta mendapat kunjungan studi banding dari Pascasarjana Universitas Islam Nahdlatul Ulama (Unisnu) Jepara pada Rabu (25/5).?

Sebanyak 80 orang rombongan terdiri dari mahasiswa Pascasarjana Program Studi Manajemen Pendidikan Islam dan pimpinan Unisnu Jepara diterima langsung oleh Rektor Unusia Prof Dr Maksum Machfoed dan pimpinan STAINU Jakarta. ? Studi banding ini merupakan salah satu upaya Unisnu Jepara mengenalkan mahasiswa terhadap Manajemen Pendidikan ? Islam yang diterapkan di beberapa perguruan tinggi Islam di Indonesia, salah satunya Unusia Jakarta dan STAINU Jakarta.

UNU-STAINU Jakarta Terima Kunjungan Studi Banding Unisnu Jepara (Sumber Gambar : Nu Online)
UNU-STAINU Jakarta Terima Kunjungan Studi Banding Unisnu Jepara (Sumber Gambar : Nu Online)

UNU-STAINU Jakarta Terima Kunjungan Studi Banding Unisnu Jepara

Kesempatan ini juga dimanfaatkan untuk melakukan MoU antara Unusia-STAINU Jakarta dengan Unisnu Jepara di bidang Tridharma Perguruan Tinggi.?

"Jejaring antar perguruan tinggi penting untuk mendongkrak gairah akademik," ujar Wakil Rektor 3 Unusia HM. Mujib Qulyubi.

Sebagaimana hasil pantauan Shautus Salam, ada 4 aspek yang digali oleh mahasiswa dalam studi banding ini, yaitu aspek penelitian dan pengabdian masyarakat, aspek manajemen, aspek kurikulum, dan terakhir adalah penguatan distingsi Pascasarjana Islam Nusantara di STAINU Jakarta. Red: Mukafi Niam

Shautus Salam

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Fragmen, Bahtsul Masail, Nahdlatul Ulama Shautus Salam

Shautus Salam

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Shautus Salam sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Shautus Salam. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Shautus Salam dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock