Tampilkan postingan dengan label Kajian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kajian. Tampilkan semua postingan

Rabu, 07 Februari 2018

Pesantren Darussalam Bengkulu Peringati Tahun Baru Islam dengan Pawai Obor

Bengkulu, Shautus Salam. Menyambut tahun baru 1 Muharram 1438 H, shalawat, takbir, dzikir panjang nan syahdu, serempak terlantun ke langit-langit gemerlap Kota Bengkulu.

Ratusan santriwan-santriwati dari Pondok Pesantren Darussalam Kota Bengkulu, tumpah ruah turun ke jalan, berjalan kaki, mengangkat obor sambil terus melantunkan lafadz-lafadz Qur’an, dalam pawai obor menyambut tahun baru 1438 Hijriah, Sabtu malam (01/10/2016).

Pesantren Darussalam Bengkulu Peringati Tahun Baru Islam dengan Pawai Obor (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Darussalam Bengkulu Peringati Tahun Baru Islam dengan Pawai Obor (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Darussalam Bengkulu Peringati Tahun Baru Islam dengan Pawai Obor

Bertitik tolak dari Kompleks Pondok Pesantren Darussalam, mereka berjalan dengan rute Dusun Besar-Panorama-Jembatan Kecil dengan berjalan kaki. Total ada 1438 obor dinyalakan, jumlah yang disesuaikan dengan angka tahun Hijriah yang dirayakan walaupun di tengah jalan karena hujan turun menyambut keberkahan pawai ini.

Jika biasanya mobil dan sepeda motor berjejalan, dengan deru mesin dan klakson bersahut-sahutan tak berkesudahan, jalan Kota Bengkulu dengan rute yang dilalui dipenuhi para santri yang menyerukan asma Allah, dengan pakaian khas santri, dengan nyala obor yang dijunjung tinggi-tinggi.

Shautus Salam

Kegiatan ini rutin dilaksanakan oleh santri Pondok Pesantren Darussalam menyambut tahun baru Hijriah. Dengan kegiatan ini diharapkan para santri bisa merenungi makna hijrah yang diajarkan oleh baginda Rasulullah SAW dengan jalan menuntut ilmu, hingga akhirnya para santri bisa mengaplikasikan keilmuannya di masyarakat kelak, kata Ust. Ahmad Walid selaku penanggung jawab acara tersebut

Senada dengan itu, Ketua Yayasan Darussalam kota Bengkulu sekaligus Pimpinan Pondok Pesantren Darussalam Ust. Rahmat Ramdhani mengapresiasi apa yang telah dilakukan para santri untuk menggaungkan syiar dakwah Muharram tahun ini. Dengan kegiatan ini santriwan/wati tentu sangat bisa diandalkan dari semua sisi.

Salah satu santri yang ikut dalam pawai obor tersebut mengungkapkan rasa bahagianya bisa melantunkan shalawat sambil berjalan menggunakan obor, maklum selama ini biasanya duduk ngaji dan belajar saja, jarang ada hiburan seperti ini. Red: Mukafi Niam

Shautus Salam

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Kajian, Habib Shautus Salam

Sabtu, 03 Februari 2018

Lantik PW Jabar, ASBIHU Berikan Hadiah Umrah kepada 3 Orang

Sumedang, Shautus Salam. YudaYudarmawan tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya begitu namanya disebut sebagai salah satu penerima hadiah umrah. Ia segera berlari ke atas panggung, menyalami orang-orang yang berdiri si sana, lalu melakukan sujud syukur.

Lantik PW Jabar, ASBIHU Berikan Hadiah Umrah kepada 3 Orang (Sumber Gambar : Nu Online)
Lantik PW Jabar, ASBIHU Berikan Hadiah Umrah kepada 3 Orang (Sumber Gambar : Nu Online)

Lantik PW Jabar, ASBIHU Berikan Hadiah Umrah kepada 3 Orang

Santri Pondok Pesantren Al-Muhajirin dari Dusun Simpang, Sukasari, Sumedang, Jawa Barat itu tidak menyangka dengan hadiah Umroh yang diterimanya dari Asosiasi Bina Haji dan Umroh (ASBIHU).

“Saya ke sini diajak guru (kiai) sebagai perwakilan pesantren untuk mengikuti acara hari ini,” ungkap Yuda kepada Shautus Salam sesaat setelah pengumuman pemenang.

Yuda tidak sendiran. Ada dua nama lainnya yang berhak atas hadiah yang sama. Mereka adalah Kartika (55) dari Majelis Taklim Annur Jumbleng, Desa Ranjeng Kecamatan Cisitu; dan Lifia dari Tanjung Sari.?

Shautus Salam

Penyerahan hadiah umrah kepada ketiganya dilakukan bersamaan dengan acara Pelantikan Pengurus PW ASBIHU Jawa Barat masa khidmat 2016-2021, yang dihelat Rabu (28/12) di SMK Annur, Sumedang.?

“Saya mengucapkan terima kasih. Tadi tidak kepikiran dapat hadiah umrah ini,” kata Kartika sambil menahan tangis haru.

Hadiah kepada ketiganya berasal dari Ketua Umum ASBIHU KH Musthafa Aqil Siroj, Ketua PW ASBIHU Jawa Barat H Fairuzillah, dan Sekretaris Daerah Kabupaten Sumedang H Zainal Alimin.

Shautus Salam

Direktur ASBIHU Tour and Travel, H Hafidz Taftazani mengungkapkan hadiah umrah tersebut diberikan sebagai ungkapan rasa syukur yang perlu didahulukan dan dirasakan bersama di lingkungan ASBIHU.?

Dengan perannya ini, ASBIHU akan terus berupaya memberikan maslahat kepada seluruh warga NU dan masyarakat Indonesia yang ingin menunaikan ibadah umroh dengan standar yang maksimal. (Kendi Setiawan/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam News, Kajian, Ahlussunnah Shautus Salam

Jumat, 02 Februari 2018

Negara Harus Beri Anggaran pada Pesantren

Jombang, Shautus Salam. Anggota DPR RI Helmy Faishal Zain mengatakan, negara atau pemerintah agar turut memperhatikan pesantren. “Pesantren jangan dibiarkan dan ditinggalkan,” tegasnya.

Hal tersebut dikatakan Helmy Faishal Zaini saat berbicara pada diskusi dan bedah buku terbarunya “Pesantren Akar Pendidikan Islam Nusantara”. Acara tersebut dihelat di panggung utama Stand Ekspo PP Mambaul Maarif Denanyar, Jombang, Jawa Timur, Ahad (2/8).

Negara Harus Beri Anggaran pada Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Negara Harus Beri Anggaran pada Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Negara Harus Beri Anggaran pada Pesantren

Konkritnya, tambah Helmy, APBN dan APBD harus memberikan kontribusi pada infrastruktur bagi pengembangan pesantren.?

“Jalan ke pesantren harus diperbaiki. Infrastruktur listrik, air bersih, kemudian sarana pendidikan mulai ruang kelas barunya, auditorium dan lainnya harus bagus,” ujarnya.

Shautus Salam

Menurut Helmy, anggaran 20 persen APBN sebenarnya sudah ideal. “Cuman masalahnya, kalau anggaran pendidikan kita tinggi, tapi pesantren tidak mendapat porsi cukup, menurut saya ada yang keliru,” tandasnya.

Bagi dia, NU sudah sangat luar biasa dan bagus dalam pengembangan pesantren. Namun, ia menyarankan agar pesantren adaptif dengan dunia usaha. “Saran saya, pesantren mulai menggandengkan stakeholders lain. Seperti terobosan membukan SMK di pesantren, itu bagus sekali. Nggak ada masalah,” katanya.

Shautus Salam

Helmy menganggap penting anak santri dididik kewirausahaan dan ketrampilan yang memadai. “Kita ingin memiliki petani, pengusaha, dan wiraswasta yang memiliki latar belakang pesantren,” harapnya.

Bedah buku menghadirkan tiga narasumber, Intelektual Muda NU Syafiq Hasyim, Pengasuh Pesantren Denanyar KH Abdullah Shohib, dan Direktur SMK Kemendikbud Mustaghfirin. (Musthofa Asrori/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Kajian Shautus Salam

Minggu, 28 Januari 2018

Inilah 10 Kitab Karya Kiai Sahal Mahfudh

Almarhum KH MA Sahal Mahfudh termasuk sedikit dari ulama Nusantara yang produktif di dunia penulisan. Rais Aam PBNU ini mewariskan setidaknya 10 karya kitab, yang seluruhnya berbahasa Arab kecuali satu karya terjemahan yang ditulis dengan bahasa Jawa (Pegon).

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj pada peringatan Harlah ke-88 NU Jumat (31/1) malam lalu menjelaskan sebagian kitab Kiai Sahal itu. Karya-karya tersebut, katanya, membuat Kiai Sahal istimewa di antara ulama-ulama lain. “Kealiman beliau itu luar biasa. Susah menemukan kiai seperti beliau,” katanya.

Inilah 10 Kitab Karya Kiai Sahal Mahfudh (Sumber Gambar : Nu Online)
Inilah 10 Kitab Karya Kiai Sahal Mahfudh (Sumber Gambar : Nu Online)

Inilah 10 Kitab Karya Kiai Sahal Mahfudh

Sepuluh kitab Kiai Sahal tersebut mayoritas ditulis ketika masih berstatus santri Pesantren Sarang dalam usia yang relatif muda, yakni 24-25 tahun. Penjelasan kesepuluh kitab dan buku-buku karangan peraih doktor kehormatan dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini merujuk pada buku Kiai Sahal: Sebuah Biografi yang ditulis Tim KMF Jakarta. Dilihat dari waktu selesai menulis, maka urutannya adalah sebagai berikut.

Pertama, Thariqat al-Hushul ‘ala Ghayatil Wushul. Diselesaikan pada 15 Ramadan 1380 H (3 Maret 1961), kitab ini berisi ta’liqat (penjelas) atas Ghayatul Wushul yang merupakan syarah (penjelasan) atas Lubbul Ushul (kedua kitab terakhir adalah karya Zakaria al-Anshari). Kitab Lubbul Ushul masuk kategori usul fiqih dan dikenal sebagai kitab yang sulit dipahami para santri karena kalimatnya sangat padat dan mengandung makna yang dalam.

Shautus Salam

Kedua, ats-Tsamarat al-Hajayniyah yang selesai ditulis pada 15 Rabi’ al-Tsani 1381 (26 September 1961). Kitab ini termasuk salah satu karya orisinal Kiai Sahal, alias bukan syarah atau hasyiah terhadap karya ulama lain. Ditulis dalam bentuk nadham dan dilengkapi penjelasan di bawahnya, kitab ini menerangkan makna dari istilah-istilah yang sering dipakai dalam kitab-kitab fiqih. Misalnya, ketika disebutkan al-imam dalam fiqih, tanpa nama seseorang di belakangnya, maka ia merujuk pada Imam al-Kharamayn Abd al-Malik ibn Abi Muhammad Abdullah al-Juwaini (419-478 H/1028-1085 M). Jika kata yang sama muncul dalam usul fiqih dan mantiq, maka itu merujuk pada Fakhr al-Din Muhammad al-Razi (543-606 H/1149-1210 M). Sementara itu, kalau disebutkan kata al-syaykh dalam fiqih, itu berarti Abu Ishaq Ibrahim ibn Ali al-Syairazi  (393-476 H/1003-1083).

Shautus Salam

Ketiga, al-Fawa’id al-Najibah. Selesai ditulis pada 8 Jumadil Ula 1381 (18 Oktober 1961), kitab ini merupakan syarah atas matan yang ditulis sendiri oleh Kiai Sahal, yakni al-Faraid al-Ajibah fi Bayan I’rab al-Kalimat al-Gharibah. Dengan demikian, kitab ini juga termasuk dalam kategori karya orisinal. Matan yang disusun dalam bentuk nadham ini terdiri dari 89 bait dan, sebagaimana terbaca dari judulnya, menjelaskan i’rab (tata bahasa) kata-kata dalam bahasa Arab yang dianggap aneh. Dari sekian kata-kata yang secara ilmu nahwu aneh, Kiai Sahal membahas 34 kata, seperti kata aidlan dan ashlan yang selalu dibaca nasab, baik dalam bentuknya sebagai masdar maupun hal.

Keempat, al-Bayanul Malma’ an Alfadhil Luma’. Dari judulnya, dapat diphami bahwa ini adalah penjelas atas kitab al-Luma’ fi Ushulil Fiqh karya Abu Ishaq Ibrahim al-Syairazi. Kitab ini sebetulnya telah rampung ditulis dalam bentuk ta’liqat di kitab al-Luma’ pada Jumadil Ula 1381 H (Oktober 1961), tapi baru disalin secara terpisah pada 28 Rabi’ul Awal 1418 H (18 Oktober 1997).

Kelima, Intifakhul Wadajayn ‘inda Munadharat Ulama Hajayn fi Ru’yatil Mabi’ bi-Zujajil ‘Aynayn. Ini adalah salah satu karya orisinal Sahal yang selesai ditulis pada 25 Sya’ban 1381 H (1 Februari 1962). Ia membahas perdebatan ulama Kajen pada akhir tahun 1950-an tentang keabsahan penglihatan yang menggunakan kacamata terhadap barang yang hendak diperdagangkan.

Keenam, Faydlul Hija ala Nayl al-Raja yang selesai ditulis pada 18 Dzulhijjah 1381 H (23 Mei 1962). Kitab ini merupakan karya penjelas atas kitab Safinat al-Naja karya Salim ibn Samir al-Khudri yang cukup populer di kalangan santri.

Ketujuh, terjemahan bahasa Jawa (Pegon) atas Qasidah Munfarijah. Qasidah yang terdiri dari 43 bait ini adalah gubahan Yusuf ibn Muhammad al-Ansari (1041-1119 M) dan banyak dibaca umat Islam, khususnya kalangan santri, jika menghadapi kesusahan atau kesulitan. Diyakini bahwa pembacaan bait-bait yang mengandung nama-nama agung (al-asma’ al-a’dham) Allah ini akan mendatangkan kemudahan bagi pembacanya. Ini adalah satu-satunya kitab Kiai Sahal yang merupakan terjemahan dalam bahasa Jawa.

Ada dua karya Kiai Sahal yang merupakan penjelas atas Sullam al-Munawraq, kitab mantiq (logika) yang banyak digunakan di pesantren. Keduanya diberi judul Al-Murannaq dan Izalat al-Muttaham. Kitab terakhir merupakan karya elaborasi atas Idlah al-Mubham ‘an Ma’ani al-Sullam, karya Ahmad ibn Abd al-Mun’im al-Damanhuri, yang merupakan syarah atas Sullam al-Munawraq. Tidak terdapat catatan, kapan kedua kitab tersebut selesai ditulis, yang pasti menurut ingatan Kiai Sahal, keduanya ditulis ketika dia masih nyantri di Sarang.

Terakhir, Anwarul Bashair yang merupakan penjelas atas kitab Al-Asybah wan Nadhair karangan Jalal al-Din Abd al-Rahman al-Suyuti. Kitab ini ditulis setelah dia menetap di Kajen, meski tidak ada catatan kapan tepatnya dia menyelesaikan karya penting ini. Asybah sendiri adalah kitab yang membahas qawa’id fiqhiyah (kaidah-kaidah fiqih) dan diajarkan di berbagai pesantren di Jawa.

Selain kitab-kitab berbahasa Arab, Kiai Sahal juga telah menghasilkan beberapa buku berbahasa Indonesia. Setidaknya ada empat buku berisi kumpulan berbagai artikel yang telah diterbitkan, antara lain Nuansa Fiqih Sosial (Yogyakarta: LKIS, 1994 dan 2007), Pesantren Mencari Makna (Jakarta: Pustaka Ciganjur, 1999), Wajah Baru Fiqh Pesantren (Jakarta: Citra Pustaka, 2004, dan Dialog dengan KH MA Sahal Mahfudh: Telaah Fikih Sosial (Semarang: Yayasan Karyawan Suara Merdeka, 1997). Kiai Sahal juga menulis buku bersama KH A Mustofa Bisri, yang diberi judul Ensiklopedi Ijma’. (Mahbib Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Kajian, Nahdlatul Ulama, Fragmen Shautus Salam

Senin, 22 Januari 2018

Guru Aswaja Maarif NU Harus Bersertifikat

Jombang, Shautus Salam. Terjadi kesepahaman antara Pengurus Cabang Lembaga Pendidikan Maarif NU Jombang dengan Aswaja NU Center Jombang. Kedua lembaga ini bersepakat bahwa para guru yang mengajar materi Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) harus memiliki sertifikat Aswaja yang dikeluarkan oleh dua lembaga ini.

Guru Aswaja Maarif NU Harus Bersertifikat (Sumber Gambar : Nu Online)
Guru Aswaja Maarif NU Harus Bersertifikat (Sumber Gambar : Nu Online)

Guru Aswaja Maarif NU Harus Bersertifikat

Hal ini disampaikan Direktur Aswaja NU Center Jombang, Yusuf Suharto kepada Shautus Salam, Jum’at (11/4). "Tadi siang antara PC LP Maarif NU Jombang dengan PC Aswaja NU Center Jombang telah menyepakati hal ini," kata dosen di Universitas Darul Ulum Jombang ini. Pertemuan dihadiri oleh Ketua PC LP Maarif NU, KH Salmanuddin.

PC LP Maarif NU Jombang akan mengundang sejumlah guru yang mengajar mata pelajaran Aswaja untuk disamakan persepsinya seputar pengetahuan dan pemahaman Aswaja secara benar. "Hal ini juga menjadi amanah dari Musyawarah Kerja PCNU Jombang yang beberapa waktu lalu dilaksanakan," kata Yususf Suharto.

Shautus Salam

Pertimbangan lain karena ternyata ada sejumlah sekolah dan madrasah yang belum menggunakan materi Aswaja. Padahal buku panduan telah disediakan oleh PW Maarif NU Jawa Timur. "Ini agak riskan karena materi Aswaja hanya diberikan kepada siswa dalam bentuk amaliyah ibadah," tandasnya.

Shautus Salam

Yang juga tidak kalah penting adalah ternyata di sejumlah madrasah dan sekolah beredar buku Pendidikan Agama Islam yang mempersoalkan sejumlah amaliyah Aswaja. "Seperti dibidahkannya ziarah kubur, pelarangan penggunaan jimat dan sebagainya," terangnya. "Hal ini sangat meresahkan sejumlah sekolah dan guru," lanjutnya.

Sejumlah permasalahan tersebut menjadi keprihatinan bersama antara kedua lembaga. "Apakah para guru Aswaja kurang memahami materi yang disampaikan kepada para peserta didik atau ada masalah lain, akan kami dalami," ungkapnya.

Kegiatan pendalaman materi keaswajaan bagi guru ini nantinya dilangsungkan di auditorium Universitas Wahab Hasbullah atau Unwaha Tambakberas Jombang bulan depan. "Awalnya akan dilangsungkan bulan April, tapi karena ada tahapan pemilu akhirnya digeser ke bulan Mei," katanya.

Para guru yang telah mengikuti pendalaman Aswaja ini nantinya akan diberikan Sertivikat Aswaja sebagai bukti bahwa yang bersangkutan berhak dan layak mengajar materi Aswaja di sekolah dan madrasah. "Tanpa sertivikat Aswaja, para guru bisa diragukan pemahaman dan kemempuan dalam memahami Aswaja secara baik dan benar," sergahnya.

Ada sekitar tiga ratus guru yang akan mengikuti kegiatan ini. "Tahap pertama baru dilakukan bulan Mei, namun akan terus dilaksanakan sampai seluruh guru Aswaja mengikuti kegiatan ini," katanya.

Pemateri Aswaja ini adalah para kiai di jajaran Syuriyah PCNU Jombang dan pengurus Aswaja NU Center Jombang yang dipandang memiliki pemahaman dan kedalaman perihal keaswajaan. (Syaifullah/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Kajian, Kyai Shautus Salam

Kamis, 18 Januari 2018

Kebangkitan Desa, Buku Ini Letakkan Desa pada Kedudukan Tertinggi

Jakarta, Shautus Salam - Kebangkitan Desa, buku yang diluncurkan oleh Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendesa PDTT) mengangkat desa pada kedudukan tertinggi. Buku ini adalah cerminan dari visi dan misi Kemendesa PDTT yang berkomitmen membangun desa untuk negeri.

"Buku ini adalah cerminan dari kementerian ini (Kemendesa PDTT). Kita melihat desa dari potret yang utuh. Ada budayawan, akademisi, musisi, kiai dan semua elemen masyarakat. Kita perjuangkan, bagaimana desa kita letakkan pada maqam yang setinggi-tingginya," ungkap Sekjend Kemendesa PDTT Anwar Sanusi pada peluncuran buku Kebangkitan Desa di Jakarta, Kamis (25/2).

Kebangkitan Desa, Buku Ini Letakkan Desa pada Kedudukan Tertinggi (Sumber Gambar : Nu Online)
Kebangkitan Desa, Buku Ini Letakkan Desa pada Kedudukan Tertinggi (Sumber Gambar : Nu Online)

Kebangkitan Desa, Buku Ini Letakkan Desa pada Kedudukan Tertinggi

Buku ini, lanjut Anwar, mencoba memotret perjalanan waktu sejak terbentuknya Kementerian Desa PDTT yang menjalankan tugas dengan spirit membangun Indonesia melalui desa. Menurutnya, buku Kebangkitan Desa menekankan bahwa sudah saatnya desa berbicara.

"Semoga peluncuran buku ini akan menjadi awal baru bagi kita, untuk bersama-sama melihat desa yang akan tumbuh berkembang. Sudah saatnya desa turut serta dan bicara," ujarnya.

Shautus Salam

Anwar Sanusi mengatakan, Undang-Undang No 6 Tahun 2014 Tentang Desa adalah era baru sebagaimana diangkat dalam buku ini sebagai kebangkitan desa. Kemendesa PDTT dalam hal ini mencoba menyusun semangat baru dengan slogan desa membangun Indonesia.

"Buku dengan 500 halaman ini mengupas UU Nomor 6 Tahun 2015 Tentang Desa. Dengan demikian desa semakin kuat, desa diharapkan mampu menjadi posisi terbesar di negeri ini," ujarnya.

Shautus Salam

Menteri Desa PDTT Marwan Jafar mengatakan, hadirnya Kemendesa PDTT adalah gagasan, terobosan, dan gerakan baru untuk membangun Indonesia dari pinggiran. Sebagai pimpinan dari kementerian baru, Marwan berkomitmen untuk memperjuangkan desa dengan penuh kerja keras.

"Buku ini adalah potret dari kementerian yang baru, yakni gabungan dari 3 kementerian. Alhamdulillah, bisa kita lewati dengan baik," ujar Marwan. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Kajian Shautus Salam

Sabtu, 13 Januari 2018

119 Pesilat Ramaikan Pagar Nusa Cup 2015

Probolinggo, Shautus Salam

Sedikitnya 119 pesilat putra dan putri dari 21 kontingen yang berasal dari Kabupaten dan Kota Probolinggo meramaikan kejuaraan Pagar Nusa Cup 2015, Sabtu hingga Ahad (7-8/2) malam. Mereka memperebutkan 44 tropi dan 3 juara umum yang masing-masing akan mendapatkan uang pembinaan.

Kejuaraan yang dipusatkan di Pesantren Ainul Hasan Desa Wonorejo Kecamatan Maron Kabupaten Probolinggo ini digelar oleh Pimpinan Cabang Pencak Silat NU Pagar Nusa Kraksaan.

119 Pesilat Ramaikan Pagar Nusa Cup 2015 (Sumber Gambar : Nu Online)
119 Pesilat Ramaikan Pagar Nusa Cup 2015 (Sumber Gambar : Nu Online)

119 Pesilat Ramaikan Pagar Nusa Cup 2015

Pagar Nusa Cup 2015 ini digelar dengan tujuan untuk menggali lebih jauh potensi dari anggota yang sangat besar. Juara 1 dalam kejuaraan ini akan diikutkan dalam Kejuaraan Daerah (Kejurda) Pagar Nusa Jawa Timur,” ungkap Ketua PC PSNU Pagar Nusa Kraksaan Moh Buasin.

Shautus Salam

Menurut Buasin, ada 11 kelas yang dipertandingkan dalam Pagar Nusa Cup 2015 ini. Rinciannya, 7 kelas putra dan 4 kelas putri. Setiap pertandingan menggunakan sistem gugur, sehingga pemenangnya langsung melenggang ke babak berikutnya.

Shautus Salam

“Melalui kejuaraan ini kami berharap agar Pagar Nusa Kabupaten Probolinggo bisa semakin jaya, baik dalam even ini maupun even yang lain sehingga mampu mengalahkan perguruan Pagar Nusa dari luar Kabupaten Probolinggo dengan tetap menjunjung tinggi sportivitas,” harapnya. (Syamsul Akbar/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Kajian, Kajian Islam Shautus Salam

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Shautus Salam sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Shautus Salam. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Shautus Salam dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock