Tampilkan postingan dengan label Doa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Doa. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 03 Maret 2018

Kiai Muslim Rifa’i Imampuro dan Suka Cita Pelukis

Jakarta, Shautus Salam?



Pelukis Nabila Dewi Gayatri mengaku punya pengalaman saat melukis KH Muslim Rifa’i Imampuro atau Mbah Liem. Ia mengalami keadaan yang sangat senang hingga tertawa-tawa sendirian saat menggoreskan koas ke kanvasnya.?

Kiai Muslim Rifa’i Imampuro dan Suka Cita Pelukis (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Muslim Rifa’i Imampuro dan Suka Cita Pelukis (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Muslim Rifa’i Imampuro dan Suka Cita Pelukis

“Saya mengalami ? suka yang belum pernah saya alami. Ketawa sendiri, sueneng, dan cepet selesai. Saya merasa bahagia, ngakak-ngakak,” katanya di Grand Sahid Jaya, Jakarta Sabtu (13/5) pada pameran karya tunggalnya bertajuk Sang Kekasih. Pameran dibuka Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj Senin (8/5) itu, berakhir Ahad (14/5).

Saat melukis kiai dari Pondok Pesantren Al-Muttaqien Pancasila Sakti, Klaten, Jawa Tengah itu, ia mengaku dengan cepat menemukan karakter lukisannya. Hingga proses melukisnya pun terbilang cepat daripada kiai-kiai lain.?

Pelukis kelahiran Gresik, Jawa Timur, pada 1969 itu mengaku, pada masa kecilnya pernah diajak ayahnya bersilaturahim kepada Mbah Liem. Saat dewasa, Nabila pernah juga bertemu kiai itu di PWNU Jawa Timur.?

Shautus Salam

Pada pertemuan itu, Mbah Liem bertanya kepadanya, “Koe iseh nabuh beduk? Masih suka gambar? Nyanyi?” tanyanya kepada Nabila yang memang selain melukis juga senang menabuh drum, yang dalam istilah Mbah Liem menabuh beduk, serta menyanyi.?

“Masih,” jawab Nabila saat itu.?

“Yo wis, Berkah, berkah, berkah...” lanjut Mbah Liem.?

Menurut Nabila, sosok Mbah Liem menjadi bagian dari pameran untuk mengingatkan orang kepada salah satu sifatnya yang memiliki kepedulian tingkat tinggi kepada fakir miskin.?

Shautus Salam

Pelukis jebolan Jurusan Aqidah Filsafat Al-Azhar, Kairo, Mesir itu menambahkan, dengan melukis Mbah Liem, Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari, KH Abdurrahman Wahid, Kiai Abbas Buntet dan kiai lain, ia berharap, orang yang melihatnya akan mengingat jasa dan teladan mereka.?

Menurut Ali Mahbub pada tulisannya yang dimuat di Shautus Salam, Mbah Liem mengajarkan santri dengan ilmu hal atau memberi contoh langsung. Ajaran-ajaran Mbah Liem tersebut yaitu:

1. “Nguwongke uwong, gawe legane uwong.” Mbah Liem selalu menghargai dan menerima setiap orang dengan segala potensi dan niat baiknya. Kalaupun kita tidak membutuhkan, mungkin manfaatnya bisa dirasakan keluarga, tetangga atau msyarakat kita. Contohnya setiap kali ada tamu, baik pejabat maupun tokoh yang lain, Mbah Liem selalu menyambut dengan hangat siapa pun orangnya dan Mbah Lim tidak lupa memberikan ruang interaksi untuk mendekatkan pejabat/tokoh dengan masyarakat.

2. “3 T“: titi–tatak–tutuk. Mbah Liem mengajarkan saat melaksanakan setiap tugas dalam hidup, haruslah titi (cermat, teliti dan selektif), tatak (legowo, sabar), sehingga tutuk (sampai, selesai dengan hasil yang memuaskan).

3. “3 K “: kuli-kiai-komando. Setiap santri haruslah mampu memerankan diri sebagai kuli (siap bekerja keras), kiai (siap mengamalkan ilmu dan berdoa), komando (siap menjadi pemimpin yang piwai mengambil keputusan, bijak serta berwibawa)

4. “Kita harus tegak, tegas dan tegar selama benar.“ Setiap melaksanakan kebenaran, kita harus tegak (penuh keyakinan, tidak goyah oleh pengaruh apa pun), tegas (tak kenal kompromi terhadap pelanggaran aturan), tegar (ikhlas, sabar).

5. “3 R “: rampung bangunane – rame jama’ahe – rukun masyarakate “. Dalam mendirikan sarana apa pun, ada 3 hal yang harus diupayakan yakni “rampung bangunane“ (bisa terwujud ), rame jama’ahe (berfungsi dan dibutuhkan para pemangku kepentingan ), rukun masyarakate (menjadi sumber kedamaian dan perekat persatuan).

6. “Aja mung benteng ulama, ning nahnu anshorullah, masyriq-maghrib “ di samping perannya sebagai benteng ulama, Banser seharusnya mampu menjalankan peran yang lebih luas di seluruh permukaan bumi, dalam bingkai “nahnu anshorulloh”.

7. “ 3 S “: ? shalat-sinau-sungkem. Maksudnya “shalat“, seorang santri harus tekun beribadah, prihatin dan berdoa. Sinau,? santri harus belajar terus menerus. “Sungkem“ santri harus mempunyai akhlak yang mulia, tahu sopan santun, tawadhu’ pada kiai/guru.

8. “ 2 B“: berhasil-berkah. Dalam mencapai cita-cita/usaha harus mempunyai komitmen yang kuat agar tercapai yang di inginkan.” Berkah “setiap cita-cita/ usaha harus di mulai dengan niat ibadah (niat baik) agar mendapat keberkahan dari Allah SWT.

9. “Dadi uwong ki ojo gur mangan terus tapi yo ngising barang” (Jadi orang itu jangan hanya makan aja tapi ya buang air besar juga). Kita tidak boleh hanya melulu mencari harta terus, tapi kita juga harus rajin bersedekah.

(Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam News, PonPes, Doa Shautus Salam

Jumat, 23 Februari 2018

Mensos Targetkan Indonesia Bebas Anak Jalanan di Tahun 2017

Sidoarjo, Shautus Salam. Menteri Sosial RI, Hj Khofifah Indar Parawansa menargetkan Indonesia bebas anak jalanan di tahun 2017 ini. Menurutnya, Indonesia bebas anak jalanan merupakan bagian dari proses eksplorasi per kabupaten kota di bulan Mei 2015 lalu.

Mensos Targetkan Indonesia Bebas Anak Jalanan di Tahun 2017 (Sumber Gambar : Nu Online)
Mensos Targetkan Indonesia Bebas Anak Jalanan di Tahun 2017 (Sumber Gambar : Nu Online)

Mensos Targetkan Indonesia Bebas Anak Jalanan di Tahun 2017

Khofifah menghitung dari 2015 seluruh kabupaten kota, berapa data anak jalanannya itu supaya masing-masing daerah terdorong, termotivasi dan kinerjanya bisa terukur.

"Kota-kota ini biasanya menjadi sentra siapa saja untuk mencari gula-gula, mencari keuntungan . Banyak juga ditemukan anak-anak ini kemudian dieksploitasi, apakah oleh pihak lain ataukah orang tuanya, itulah yang kemudian secara simultan kita menyiapkan program antara lain desaku menanti seperti di Desa Kedungkandang Kota Malang, itu satu paket gelandangan, pengemis dan anak jalanan bisa direlokasi," kata Khofifah disela-sela acara dzikir akbar di depan Masjid Agung Sidoarjo, Ahad (12/2).

Ketum PP Muslimat NU itu menjelaskan bahwa, di Desa Kedungkandang Kota Malang, tahun Maret lalu dilakukan peletakan batu pertama, Oktober kemudian diresmikan dan Januari 2017 sudah bisa menjadi destinasi wisata baru.

Shautus Salam

"Jadi Kementerian Sosial mencoba mencari format yang betul-betul solutif. Ketika puasa kita selalu cerita gelandangan, pengemis, ketika kita ke jalan masih menemukan anak-anak jalanan, ini harus dilakukan reintegrasi sosial satu paket tidak hanya anaknya, tetapi juga orang tuanya," jelasnya.

Khofifah menyebutkan bahwa di Jawa Timur salah satu contoh yang bisa dijadikan runmodel yaitu Kedungkandang. Kalau ini bisa diikuti kota-kota lain, yang memang ditemukan gelandangan, pengemis atau anak jalanan relokasinya ini satu paket. Tidak bisa anakya saja, kalau orang tuanya tidak ada pendekatan secara ekonomi, kemungkinan nanti masih akan mengajak anaknya ke jalan.

"Nah format satu paket solutif seperti yang dilakukan di Kota Malang itu semoga bisa dijadikan runmodel di kota lain," harapnya. (Moh Kholidun/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam

Shautus Salam Bahtsul Masail, Doa Shautus Salam

Jumat, 16 Februari 2018

Menakar Kesadaran Profetik Gerakan Kepemudaan

Oleh Ananta Damarjati

Tidak bisa dipungkiri, perdebatan antara agama dan sains merupakan perdebatan abadi. Kedua entitas tersebut cenderung sulit dipersatukan. Agama memaksa sains agar terikat oleh nilai, sebaliknya, sains menuntut seseorang untuk menelanjangi dirinya dari segala macam bentuk dogma sebelum memasuki gerbang “kebenaran” objektif yang diidentikan dengannya. Dalam arti lain, sains harus bebas nilai.

Menakar Kesadaran Profetik Gerakan Kepemudaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Menakar Kesadaran Profetik Gerakan Kepemudaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Menakar Kesadaran Profetik Gerakan Kepemudaan

Premis-premis yang diajukan filsafat barat (filsafat kritis) juga selalu meletakkan dirinya sebagai oposisi biner dari gagasan tentang wahyu agama. Sehubungan dengan itu, Kuntowijoyo dalam bukunya mengutip pendapat Roger Garaudy, bahwa filsafat barat (filsafat kritis) “tidak memuaskan, sebab terombang-ambing antara dua kubu idealis dan materialis, tanpa kesudahan. Filsafat barat (filsafat kritis) itu lahir dari pernyataan: Bagaimana pengetahuan dimungkinkan. Dia (Garaudy) menyarankan untuk mengubah pertanyaan itu menjadi: Bagaimana wahyu itu dimungkinkan.” (2006:97). Garaudy berpendapat bahwa “Filsafat barat sudah ‘membunuh’ Tuhan dan manusia”. Oleh karena itu dia menyarankan “supaya umat manusia memakai filsafat kenabian dari Islam (Garaudy, 1982:139-168) dengan mengakui wahyu” (2006:98).

Di sini dapat dipahami bahwa filsafat barat menitikberatkan epistemologi pengetahuannya melalui akal. Dan Garaudy seolah menegaskan, bahwa ada sebuah kebenaran hakiki melalui wahyu yang lebih tinggi di atas kebenaran yang diperoleh lewat akal.

Shautus Salam



Wahyu dalam paradigma profetik


Shautus Salam

Hal wahyu menjadi menarik jika diurai dalam konteks sosio-historis peradaban manusia. Di tanah Nusantarakuno (baca; Dipantara) sebelum secara simbolis identik dengan Majapahit, nenek moyang kita sudahmelakukan berbagai kegiatan sembahyang terstruktur dan metodis, atau pola asketis lain.

Bahkan, -menyitir gagasan Emha Ainun Najib- Resi atau ahli pertapaan zaman itu telah mencapai maqam tertinggi sebelum akhirnya selangkah lagi dapat mempertemukan dirinya dengan Tuhan.

Sayangnya, pertemuan itu tidak pernah terjadi jika tanpa informasi (wahyu) langsung dari Tuhan sendiri tentang siapa diri-Nya.Maka diturunkanlah oleh Tuhan secara langsung, informasi-informasi mengenai diri-Nya melalui Nabi dan Rosul-Nya, kemudian wahyu tersebut termanifestasi secara sakral menjadi teks kitab suci.

Syahdan, sejarah dan pergulatan panjang peradaban manusia tidak lantas menjadikan wahyu yang tertuang dalam Al-Qur’an kita sekarang, lapuk termakan jaman dan usang.Hal tersebut karena, paradigma profetik para Nabi dan Rosul dalam menyampaikan ajaran tauhid sampai saat ini masihdan terus ditularkan oleh para cendekiawan (pelajar, mahasiswa, pemuda)bahkan sejak wafatnya Rosul terakhir di muka bumi, Muhammad SAW 14 abad yang lalu, tidak melunturkan semangat itu.

Berkat semangat profetik yangditeruskan para cendekiawan yang bersentuhan langsung dengan Al-Qur’an dalam tataran keilmuan itu pula lah, manusia abad ini tetap memiliki kesadaran tentang adanya kesatuan esensial secara asasi antara subjek-objek, yaitu manusia-Tuhan (Ha’iri, 1994:20), dan kemudian menjadi tradisi besar spiritualitas manusia.

Berkat semangat kenabian dalam menyebar informasi yang terkandung dalam kitab suci pula, manusia secara epistemologis dapat memahami eksistensi Tuhan melalui refleksi pancaran cahaya-Nya terhadap seni, politik, agama dan jagad raya secara keseluruhan.



Aplikasi Kesadaran Profetik dalam Organisasi


Jika menilik lagi konsep ilmu sosial profetik Kuntowijoyo dan mengkontekstualisasikannya dengan peran cendekiawan sebagai suksesor dakwah Islam sejak Rasulullah SAW wafat, maka terlihat peran mereka begitu kental dalam menjaga gawang struktur transendental Al-Qur’an, baik yang berkenaan dengan muamalah ataupun ibadah mahdlah.

Dengan menjaga teksnya, menerapkan ajaran yang terkandung di dalamnya, serta mengukur relevansinya dengan realita, ritme dan progresivitas sosial masa kini tanpa mengubah strukturnya, seorang cendekiawan telah memenuhi dimensi etika profetik, karena ada tanggungjawab sosial dan kerja transformatif dalam praksisnya.

Seorang cendekiawan muda, Lafran Panepada tahun 1947 yang membuka kesadaran lebih luas tentang paradigma ini, ketika dia mengikutsertakan sejumlah orang untuk ikut bertanggungjawab atas kesadaran profetik dan mengkonsepsinya dalam bentuk organisasi. Mereka menyengajakan diri untuk terlibat dalam sejarah kemanusiaan dengan mengambil porsi besar tanggungjawab sosial dari masyarakat di Indonesia.

Pembentukan organisasi ini agaknya merupakan titik tengah, atau bahkan perkawinan gejala sosial masyarakat (modernitas, sains, sosial-budaya.dll) dengan nilai kebenaran agama. Dalam perpektif sosial profetik Kuntowijoyo, hal ini merupakan metodologi integralistik untuk mencapai peradaban kemanusiaan yang maju, serta upaya memecahkan masalah relasi antara Islam dan dunia modern yang menimbulkan ketegangan baik dengansosial, kebudayaan dan politik.

Gagasan ini bertitik tolak dari ajaran dan nilai-nilai keagamaan yang bersifat subjektif dalam arti lain menyangkut keyakinan orang per orang. Namun menurut Dawam Rahardjo, ajaran keagamaan itu khususnya di Indonesia, tidak bisa ditolak. Atau harus sedemikian rupa diakomodasi sebagaimana dilakukan oleh penguasa zaman lalu (Contoh; Sultan Agung, Sunan Kalijaga, dsb).

Pendekatan akomodasi dan objektifikasi di atas sangat penting untuk menghindari konflik-konflik yang timbul seperti yang terlihat dalam masyarakat Indonesia sekarang, serta dalam rangka mengharmoniskan hubungan agama dengan politik, seni, filsafat, sosial dan budaya.

Beruntunglah Indonesia memiliki beberapa organisasi kepemudaan yang secara tidak langsung berani mendeklarasikan dirinya sebagaiorganisasi “berkesadaran kenabian”, lalu ikut andil menyadarkan masyarakatluas, Negara, serta Pemerintah tentang berbagai isu sensitif? yang bersentuhan langsung dengan agama.

Namun, jika melihat pergerakan organisasi“profetik” kepemudaan sekarang ini, perlukah mempertanyakan lagi perihal konsistensi etika dan kesadaran profetik serta manifestasi kesadaran kenabian dalam menyoal relevansinya terhadap hal-hal yang menjadi objek kajian mereka?



Refleksi Profetisitas Gerakan Kepemudaan



Bagi Kuntowijoyo, menjalankan misi profetik harus mampu menerjemahkan tiga peran, yaitu tentang pentingnya melakukan amar ma’ruf (humanisasi), nahi munkar (liberasi) dan tu’minu billah (transendensi). Di sinilah menurut saya, gerakan kepemudaan menjadi mode komunikasi yang bertemu dengan misi dakwah –peran kenabian-, yang melahirkan organisasi dengan nilai-nilai profetik.

Secara garis besar, Kuntowijoyo berusaha menjelaskan, bahwa dengan humanisasi, manusia akan mampu menjadi manusia sejati yang menyeru pada kebaikan. Menjalankan tugas dan tanggung jawab sebagai individu, masyarakat dan hamba Tuhan. Sementara liberasi bertujuan memerdekaan manusia dari segala bentuk ketidakadilan yang bertentangan dengan perikemanusiaan dan akal budi manusia.

Sedangkan melalui kesadaran transendental, yaitu kesadaran lillah, billah, lirrasul, birrasul, secara langsung berdampak pada meningkatnya iman. Sehingga manusia akan mampu melakukan tugas humanisasi dan liberasi secara utuh.

Langkah Lafran Pane menginstitusionalisasi kesadaran profetiknya (yang kemudian diikuti sebagian besar organisasi lain), secara manifestasi adalah mengikutsertakan sejumlah orang untuk ikut bertanggung jawab atas “pengkonstruksian dunia”nya, karena merekalah yang berkesadaran turut membentuk dunia tersebut. Mereka sebagai bagian dari anggota masyarakat mencoba memahami dunia yang sebenarnya mereka bentuk sendiri.

Faktanya, organisasi kepemudaan yang mengusung napas agama telah mampu menjadi mesin yang mengonstruksi dunia sosial di sekitarnya. Atau memang telah didesain secara struktural untuk menyediakan calon pemimpin berkelas secara individu. Yang jelas, konstruksi sosial, kebudayaan sampai politik tidak pernah lepas dari pergerakan organisasi kepemudaan sejak awal keberadaannya di Indonesia.

Namun seiring dengan semakin tingginya posisi tawar, eksistensi dan aktualisasi diripada organisasi kepemudaan terhadap segala sendi sosial, politik dan kebudayaan kemasyarakatan kita, tidak bisa tidak, akan selalu ada potensi-potensi penyimpangan seperti korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN).

Di satu sisi saya percaya, bahwa oganisasi kepemudaan dimanapun tidak pernah ditatar untuk melakukan KKN, baik personal, institusional maupun struktural.Tapi disisi lain, jika dilihat dari gejala sosialnya secara historis, memang nyatanya banyak anak kandung “organisasi profetik”itu yang tersandung kasus KKN.Tidak etis jika hal ini dipungkiri, karena hal itu adalah salah satu naluri personal dan institusional.

Atau boleh dikatakan, sayap kecenderungan secara politik-kebudayaan (KKN) tersebut serta merta muncul bersamaan ketika mereka sedang memperjuangkan humanisasi dan liberasi, dan dalam waktu yang bersamaan melupakan wacana transendensi.

Namun yang tak kalah penting, tidak sedikit pula anak kandung “organisasi profetik” yang mampu menerjemahkan misi transendental ketika mengidentifikasi dirinya dengan batasan-batasan, arah serta tujuan yang telah secara tegas ditatar oleh organisasinya. Anak kandung yang tidak lupa untuk senantiasa lillah, billah, lirrasul, birrasul, dalam hal apa pun.

Termasuk ketika sedang melakukan transaksi politis dengan manusia lain yang sarat kepentingan, bahkan murni seratuspersen kepentingan. Tak jarang kepentingan tersebut menyamar sebagai ideologi, eksplisit maupun implisit. Yang tak jarang pula dalam transaksi tersebut memaksa pelakunya untuk berlaku kejam.

Sejauh ini yang saya pahami dari konsep-konsep Kuntowijoyo, bahwa praksis transendental tidak hanya mampu menyerap dan mengekspresikan secara dialektis sebuah realita, tapi juga memberi arah bagi realita tersebut, serta melakukan penilaian dan kritik sosial budaya secara beradab. Sekaligus menjadi petunjuk ke arah humanisasi dan liberasi.

“Organisasi profetik” kepemudaan yang sudah menentukan bahwa batasan, arah dan tujuannya adalah sesuai dengan Al-Qur’an, seharusnya –menurut Kuntowijoyo- menjadikan Al-Qur’an pula sebagai cara berfikir. “Ia akan memberikan kerangka bagi pertumbuhan ilmupengetahuan empiris dan ilmu pengetahuan rasional yang orisinal dalam arti sesuaidengan kebutuhan pragmatis masyarakat Islam, yaitu mengaktualisasikan misinya menjadi khalifah di bumi”.

Maka sangat urgen, bagi setiap organisasi yang “berkesadaran kenabian” untuk mempertanyakan ulang misi transendensinya. Jangan sampai, dapur organisasi yang memasak dengan serius kader-kadernya, menjadi tidak berarti ketika terpajang di etalase kepemimpinan, karena telah tercemar polusi kepentingan, serta dipencloki laler kekuasaan. Sehingga lupa arah, batasan, dan tujuan dunianya, serta menjadikan pribadinya untuk cenderung bebas nilai.

Ketika hal tersebut terjadi, kita patut bertanya: Quo Vadis profetisitas organisasi kepemudaan? Quo Vadis cendekia muda, pelajar, mahasiswa, Nabi kolektif bagi masyarakat?

Penulis adalah alumni Pondok Pesantren Kedunglo, Kediri; anggota aktif Lingkar Studi “Matakuhati” Semarang.


Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam RMI NU, Olahraga, Doa Shautus Salam

Senin, 12 Februari 2018

NU Serang Ngaji Kitab Kuning Keliling

Serang, Shautus Salam. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Serang, Banten, mengagendakan pengajian kitab kuning keliling ke pengurus NU tingkat kecamatan (MWC), Ranting, dan pesantren-pesantren di Kota Serang.

NU Serang Ngaji Kitab Kuning Keliling (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Serang Ngaji Kitab Kuning Keliling (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Serang Ngaji Kitab Kuning Keliling

Menurut Ketua PCNU Kota Serang KH Matin Sarqowi, kegiatan tersebut adalah menimba dari semangat Syekh Nawawi Al-Bantani, seorang ulama besar, guru-guru kiai Nusantara yang juga pengarang mumpuni kitab kitab kuning.

Di samping itu, sambung kiai pengasuh Pesantren Al-Fathaniyah dengan 350 santri putra-putri tersebut, Kota Serang dengan luas  ilayah 266,74 km persegi, didukung sekitar 3000 pesantren salaf yang berkultur NU.

Shautus Salam

“Jadi, sangat mungkin dilakukan,” katanya, ketika dihubungi Shautus Salam selepas dilantik menjadi Ketua PCNU Kota Serang periode 2012-2017, di Serang, Sabtu (22/12).

Kegiatan tersebut merupakan perwujudan dari NU sebagai organisi dakwah kepada masyarakat luas. “Serang itu sangat kental NU, tapi kultur.”

Shautus Salam

Dengan kegiatan tersebut, kiai berusia 41 tahuu tersebut berharap pesantren-pesantren yang berkultur NU, juga paham NU secara organisasi.

Selain itu, Kiai Matin akan melakukan konsolidasi internal di organisasi dengan memperbaiki administrasi dan menajemen; membuka jaringan untuk kader-kader NU Kota Serang. Juga akan membidik bidang ekonomi sebagai pemberdayaan warga Nahdliyin.

Redaktur: A. Khoirul Anam

Penulis   : Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Doa, AlaNu Shautus Salam

Rabu, 07 Februari 2018

Soal HTI, Pemerintah RI Tidak Aniaya Agama Islam

Jakarta, Shautus Salam - Rais Syuriyah PBNU KH Ahmad Ishomuddin menanggapi pimpinan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang menganggap bahwa putusan pemerintah terkait pembubaran HTI sebagai bentuk perlawanan terhadap Islam.

“Pemerintah sama sekali tidak melawan dakwah Islam. Pemerintah Republik Indonesia tidak melawan agama Islam sama sekali. Yang dilawan adalah gerakan politik Hizbut Tahrir,” kata Kiai Ishom saat menjadi pembicara pada diskusi bertajuk “Khilafah dalam Pandangan Islam” di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Kamis (12/5).

Soal HTI, Pemerintah RI Tidak Aniaya Agama Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Soal HTI, Pemerintah RI Tidak Aniaya Agama Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Soal HTI, Pemerintah RI Tidak Aniaya Agama Islam

HTI, kata Kiai Ishomuddin, merupakan gerakan politik yang menggunakan simbol bendera putih dan hitam yang bertuliskan tauhid dengan menempuh jalan dakwah di negara Republik Indonesia.

Shautus Salam

Ia menambahkan, HTI seringkali mengatasnamakan umat Islam untuk mencapai tujuan-tujuan politiknya, yaitu menegakkan khilafah yang sifatnya internasional.

“Mereka ingin membuat sistem negara khilafah yang dipimpin khalifah mulai dari Sabang sampai Maroko, bukan Sabang sampai Merauke, tapi dari Sabang sampai Maroko,” terang Kiai Ishomuddin.

“Mereka menentang nation-state, negara bangsa,” tambahnya.

Shautus Salam

Diskusi ini dibuka oleh Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj. Kang Said menguraikan singkat sejarah Hizbut Tahrir dari mulai Palestina sampai masuk ke Indonesia. (Husni Sahal/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Santri, Doa Shautus Salam

Selasa, 06 Februari 2018

NU ‘Diserang’ GAM

Banyuasin, Shautus Salam

Nahdlatul Ulama (NU) harus benar-benar waspada. Karena, organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di Indonesia itu, saat ini sedang diserang GAM, kata Pengasuh Pondok Pesantren Asshiddiqiyah, Jakarta, KH Nur Muhammad Iskandar.



NU ‘Diserang’ GAM (Sumber Gambar : Nu Online)
NU ‘Diserang’ GAM (Sumber Gambar : Nu Online)

NU ‘Diserang’ GAM

Namun, menurutnya, GAM yang dimaksud bukanlah kelompok separatis Gerakan Aceh Merdeka, melainkan Gerakan Anti-Maulid. Gerakan yang dipelopori kelompok Islam garis keras itu, katanya, selalu berusaha menfitnah NU sebagai ahli bid’ah (mengada-ada dalam beribadah) dan khurafat (khayalan).

Kiai Nur, demikian panggilan akrabnya, mengatakan hal itu di hadapan para peserta Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional VI Antar-Pondok Pesantren se-Indonesia di Pondok Pesantren Sabilul Hasanah, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, Rabu (5/9) malam.

Shautus Salam

Ia menjelaskan, kelompok Islam garis keras itu tak henti-hentinya ‘mengkampanyekan’ bahwa ajaran dan amalan-amalan ibadah yang sudah menjadi tradisi NU, seperti, peringatan Maulid Nabi, tahlilan, ziarah kubur, dan sebagainya, adalah sesat karena dinilai tidak sesuai dengan ajaran Rasulullah Muhammad.

Shautus Salam

“Mengapa tahlil, Maulid Nabi, ziarah kubur yang selalu dipersoalkan? Padahal masih banyak persoalan yang dihadapi bangsa ini yang lebih patut dan harus dipersoalkan, seperti penyakit korupsi, masalah kemiskinan, dan lain-lain. Mengapa itu tidak dipersoalkan,” kata Kiai Nur lantang.

Tak hanya itu. Menurutnya, pesantren pun, oleh kelompok Islam garis keras itu, kerap disebut-sebut sebagai tempat penyebaran ajaran-ajaran yang dianggap bid’ah dan sesat tersebut.

“Ada upaya de-pesantren-isasi dan de-NU-isasi. Padahal, sejak jauh sebelum Republik ini berdiri hingga saat ini, NU dan pesantren selalu tampil mengambil posisi terdepan dalam menjaga negara ini,” terang Kiai Nur.

Penilaian-penilaian bernada negatif itu, ujarnya, terasa begitu menyakitkan bagi NU. Namun demikian, NU tak pernah memberikan reaksi secara berlebihan, apalagi menggunakan cara-cara kekerasan, dalam menghadapinya. Hal itu, katanya, karena NU dikenal moderat sebagai prinsip dari nilai-nilai Ahlussunnah Wal Jamaah.

“Islam Ahlussunnah Wal Jamaah merupakan benteng yang paling kokoh, benteng yang paling kuat bagi Islam, terutama Islam Indonesia. Islam Ahlussunnah Wal Jamaah, seperti Islam yang berkembang di Asia dan terbesar di Indonesia, merupakan Islam yang rasional, tidak emosional,” terangnya. (rif)Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Doa, Kiai Shautus Salam

Sabtu, 03 Februari 2018

Hoax, Literasi dan Pesan Islam

Oleh Syafiq Naqsyabandi

Kewarasan pikir manusia Indonesia diguncang dengan beredar luas-nya berita palsu (hoax). Kabar yang tidak bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya begitu mudah menyebar, terutama dengan perantara sosial media. Kondisi ini tentunya mengundang pertanyaan, mengapa semua ini bisa terjadi dan dalam skala yang begitu besar?

Hoax, Literasi dan Pesan Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Hoax, Literasi dan Pesan Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Hoax, Literasi dan Pesan Islam

Netizen merupakan subjek sekaligus objek dari sosial media. Oleh karenanya netizen mempunyai pengaruh yang paling utama dalam arus informasi di dunia maya. Netizen di Indonesia pada tahun 2016, menurut APJII (Asosiasi Penyelenggara Jaringan Internet Indonesia), berjumlah 132,7 juta jiwa atau 51,1 persen dari total penduduk Indonesia. Adapun tiga besar sosial media yang paling banyak digunakan netizen Indonesia adalah facebook dengan 71,6 juta pengguna (54 persen), disusul instagram dengan 19,9 juta pengguna (15 persen), dan youtube dengan 14,5 juta pengguna (11 persen).?

Sementara menurut situs statista.com, lima besar sosial media yang paling banyak digunakan netizen Indonesia berturut-turut adalah Facebook, Instagram, Twitter, Path, dan Google+. Besarnya netizen Indonesia yang menggunakan facebook, menempatkan Indonesia pada peringkat keempat negara dengan pengguna facebook terbanyak di dunia. Sementara tiga besar negara pengguna facebook di dunia adalah India dengan 195,16 juta pengguna, Amerika Serikat dengan 191,3 juta pengguna, dan Brazil dengan 90,11 juta pengguna.?

Data (APJII 2016) menunjukkan aktifitas yang paling banyak dilakukan oleh netizen adalah berbagi informasi dengan pelaku sebanyak 129,3 juta, diikuti dengan aktifitas berdagang dengan pelaku sebanyak 125,5 juta, dan aktiftas sosialisasi kebijakan pemerintah dengan pelaku sebanyak 119,9 juta. Demikian dapat dilihat bahwa netizen Indonesia adalah sebuah komunitas besar dengan jumlah lebih dari separuh populasi Indonesia yang selalu terhubung dan aktif berbagi informasi. Lantas, kenapa informasi hoax menjadi begitu dominan?

Kutipan terkenal David Kushner menyatakan bahwa berita bohong hanyalah gejala, penyakit sesungguhnya adalah kurangnya keinginan mencari bukti, bertanya, dan berpikir kritis. Secara implisit David Kushner menyampaikan bahwa penyebab menyebarnya hoax adalah kurangnya budaya literasi. Menurut UNESCO, literasi adalah kemampuan untuk mengidentifikasi, memahami, menerjemahkan, menciptakan, mengkomunikasikan dan memperhitungkan, menggunakan bahan tertulis maupun tercetak yang berhubungan dengan berbagai konteks.?

Shautus Salam

Secara umum literasi biasa dipahami sebagai kemampuan membaca dan menulis. Perkembangan terbaru menyatakan bahwa literasi tidak hanya membaca dan menulis, tetapi juga mencakup bidang lain seperti matematika, sains, sosial, lingkungan, keuangan, bahkan moral (Campbell, Kirsch, Kolstad 1992; Gomez 2008). ? ? ?

Shautus Salam

Ternyata, kondisi literasi Indonesia berada dalam tahap yang memprihatinkan. Hasil penelitian Central Connecticut State University (CCSU) tahun 2016, Indonesia menempati rangking literasi ke 60 dari 61 negara dalam The World’s Most Literate Nations. Indonesia tertinggal dari negara pengguna facebook terbanyak lainnya, yakni Amerika Serikat (7) dan Brazil (43). Indonesia juga tertinggal dari sesama negara ASEAN, yakni Singapura (36), Malaysia (53) dan Thailand (59). Adapun lima besar urutan negara dengan rangking literasi tertinggi adalah Finlandia, Norwegia, Islandia, Denmark, dan Swedia.Data minat baca sebagai unsur literasi juga tidak menggembirakan. UNESCO pada tahun 2012 menyatakan bahwa indeks minat baca Indonesia hanya 0,001 yang berarti hanya ada 1 orang yang membaca dari setiap 1000 penduduk. Sementara kajian Perpustakaan Nasional pada tahun 2015 menunjukkan minat baca masyarakat masih 25,1 atau masuk kategori rendah.?

Demikian dapat dilihat ternyata komunitas netizen Indonesia kurang mendapatkan suplai nutrisi untuk membuat konten maupun pembicaraan yang bermutu di sosial media. Wajar jika akhirnya informasi yang beredar di sosial media didominasi oleh hoax, karena netizen gagal mengidentifikasi kebenaran suatu informasi yang diterima.?

Netizen kemudian mempercayai hoax karena seringnya pengulangan, sesuai kata Plato bahwa kebenaran dapat dibuat dengan pengulangan kebohongan. Netizen menjadi begitu saja percaya bahwa ada lambang palu arit di uang rupiah. Netizen begitu mudah percaya bahwa desain uang rupiah baru dipengaruhi desain mata uang yuan/renmibi. Sampai yang paling parah adalah munculnya komunitas yang percaya bahwa bumi tidak bulat melainkan datar.

Kondisi ini dimanfaatkan oleh produsen hoax untuk mencari keuntungan. Produsen hoax mendapat keuntungan dengan banyaknya pengunjung website mereka. Tingginya trafik pengunjung akan mendatangkan iklan. Produsen hoax di Indonesia bisa meraup hingga Rp. 700 juta dalam satu tahun (Kompas.com; CNNIndonesia.com, 2/12/2016). Sebagai perbandingan, penulis berita palsu di Amerika Serikat dapat memperoleh keuntungan lebih dari 10 ribu USD atau setara Rp135 juta perbulan (washingtonpost.com, 18/11/2016).?

Motif lain produsen hoax selain keuntungan adalah untuk menguasai gagasan. Seperti yang dinyatakan Karl Marxbahwa mereka yang menguasai basis material akan menguasai gagasan dalam suatu zaman. Produsen hoax kemudian dapat mengarahkan pembicaraan pengguna sosial media kepada agenda-agenda tertentu, misalnya untuk mendelegitimasi pemerintahan atau menjatuhkan kredibilitas seorang tokoh dan organisasi masyarakat. Sayangnya, penyebar hoax tidak mempertimbangkan akibat dari aneka informasi yang disebarkan. Ancaman disintegrasi sosial sampai disintegrasi bangsa kini menjadi nyata gara-gara dominasi hoax dalam perbincangan netizen.

Sangat disayangkan bahwa para penyebar hoax yang dominan adalah situs-situs yang memakai label ‘Islam’ atau orang-orang dengan profil keislaman yang kuat. Padahal terdapat pesan untuk menjauhi menyebarkan hoax pada al-Quran yang berbunyi “... maka jauhilah (penyembahan) berhala-berhala yang najis itu, dan jauhilah perkataan dusta.” (Q.S al Hajj: 30). Tafsir Ibnu Katsir menceritakan bahwa Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Marwan ibnu Mu’awiyah al Fazzari, telah menceritakan kepada kami Sufyan Ibnu Ziyad, dari Fatik Ibnu Fudalah, dari Aiman Ibnu Karim yang menceritakan bahwa Rasulullah SAW berdiri melakukan khotbah. Beliau bersabda “Hai manusia, kesaksian palsu sebanding dengan mempersekutukan Allah!”.?

Beliau mengucapkan sabdanya ini sebanyak tiga kali, kemudian membaca Firman Allah SWT: “Maka jauhilah oleh kalian berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta." (Q.S Al Hajj : 30). Adapun Imam Bukhari meriwayatkan suatu hadits nabi yang berbunyi, “Maukah kalian aku beritahu tentang sebesar-besar dosa besar? Yaitu mempersekutukan Alloh dan durhaka pada kedua orang tua. Ketahuilah juga termasuk perkataan/persaksian dusta/palsu.” (HR Bukhari). Hadits ini shahih, diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Jalan Abi Bakrah Radhiyallohu‘anhu (no. 2654, 5976, 6273, 6274, 6919) dan dalam al-Adabul Mufrad (no. 15); Muslim (no. 87).

Hoax dapat dilawan setidaknya dengan tiga cara. Cara pertama adalah memverifikasi kebenaran suatu informasi yang diterima. Cara kedua memproduksi konten yang mengoreksi kabar hoax. Cara ketiga adalah meningkatkan minat baca, baik kepada orang lain maupun kepada diri sendiri.?

Walau sedikit terlambat, langkah pemerintah untuk mulai mengawasi dan meredam tersebarnya hoax patut diapresiasi dan didukung oleh segenap komponen bangsa. Meredam penyebaran hoax bukanlah kepentingan kelompok tertentu atau kepentingan politik penguasa, tapi harus menjadi kepentingan kita semua. Mengingat mencerdaskan kehidupan bangsa adalah salah satu tujuan luhur bagi kita semua dalam berbangsa dan bernegara.***

Penulis adalah Warga NU, tinggal di Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah. Facebook: Syafiq Naqsyabandi.

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Hikmah, IMNU, Doa Shautus Salam

Selasa, 30 Januari 2018

Tatacara Shalat Sunah di Atas Kendaraan

Mengingat bahwa di era modern ini mobilitas seseorang sangat tinggi dari satu daerah ke daerah lain, maka bagi seorang Muslim, memahami tatacara shalat dalam perjalanan menjadi penting. Hal ini untuk tetap mampu menjaga shalat wajib ataupun shalat lain yang sudah menjadi rutinitas.

Di masyarakat kita, sembahyang dhuha adalah salah satu amalan yang banyak dilakukan dan bahkan ada yang merutinkan. Berdasarkan beberapa sumber fikih, hukum shalat dhuha ini adalah dianjurkan (mustahab).

Tatacara Shalat Sunah di Atas Kendaraan (Sumber Gambar : Nu Online)
Tatacara Shalat Sunah di Atas Kendaraan (Sumber Gambar : Nu Online)

Tatacara Shalat Sunah di Atas Kendaraan

Pertanyaannya, bagaimana melakukan shalat-shalat sunah yang dianjurkan ini saat berkendara di perjalanan? Dalam suatu riwayat dalam Shahih Al-Bukhari disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW pernah disebutkan oleh Jabir bin Abdillah melakukan shalat sunnah di atas kendaraan, tanpa menghadap kiblat.

? ? -? ? ? ?- ? ? ? ? ? ? ? ?

Shautus Salam

Shautus Salam

Artinya, “Nabi Muhammad SAW shalat tathawwu’ (sunah) saat beliau sedang berkendara, tanpa menghadap arah kiblat.”

Kisah lain menuturkan, suatu ketika sahabat Anas bin Malik RA sedang menuju Syam. Ia disambut oleh warga setempat. Tapi warga tersebut, yang dalam Irsyadus Sari li Syarhi Shahihil Bukhari karya Imam Al-Qasthalani adalah saudara dari Muhammad bin Sirin seorang tokoh tabi’in, melihat Anas bin Malik shalat mengendarai keledai, tapi wajahnya tidak menghadap kiblat.

“Aku melihatmu shalat, tapi tidak menghadap kiblat,”

“Kalau aku tidak melihat Nabi melakukan seperti itu, aku tidak akan melakukannya juga,” terang Anas bin Malik.

Dari dua riwayat ini, kasus bapak sepuh yang ditemui Jumari tadi menemui maksudnya. Shalat sunah di kendaraan, meskipun tidak menghadap kiblat, itu boleh dilakukan. Selain itu, pelaksanaannya pun bisa dilakukan sesuai kondisi yang ada, seperti dilakukan dengan duduk dan tanpa wudhu, yakni hanya dengan bertayamum. Tapi ingat, ini untuk shalat sunah saja.

Untuk menjaga keamanan berkendara, jangan melakukan hal seperti ini saat mengemudi kendaraan di jalanan atau menjadi sopir. Shalat sunah apapun bisa dilakukan semisal Anda ingin sembahyang saat naik dokar, angkot, bus sambil dibonceng di motor, dan sebagainya, sekiranya nyaman dan tidak berlebihan. Wallahu a’lam. (M Iqbal Syauqi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Tokoh, Doa, RMI NU Shautus Salam

Selasa, 23 Januari 2018

Penolakan Dua Bisri

Apabila di organisasi atau lembaga lain, posisi pucuk pimpinan seolah menjadi barang rebutan, namun tidak demikian pada amanah sebagai Rais ‘Aam di dalam Jam’iyyah Nahdlatul Ulama (NU).

Sejarah mencatat, seringkali proses pergantian Rais ‘Aam diwarnai dengan penolakan atau sikap tidak bersedia dari kandidat yang terpilih untuk mengemban amanah ini, seperti yang dilakukan KH Mustofa Bisri pada Muktamar Ke-33 NU di Jombang.

Penolakan Dua Bisri (Sumber Gambar : Nu Online)
Penolakan Dua Bisri (Sumber Gambar : Nu Online)

Penolakan Dua Bisri

Hal serupa pernah terjadi pada gelaran Muktamar NU 48 tahun silam, tepatnya pada Muktamar Ke-24 di Bandung, Juli 1967. Menariknya, entah hanya kebetulan semata, pada nama tokoh tersebut juga melekat nama Bisri.

Shautus Salam

Adalah KH Bisri Syansuri, yang kala itu dalam pemilihan Rais ‘Aam PBNU berhasil mendapatkan suara terbanyak mengungguli KH Abdul Wahab Chasbullah.

Para muktamirin merasa kasihan dengan kondisi fisik Kiai Wahab yang sudah sangat lemah dan uzur sepuh untuk kembali memimpin NU.

Shautus Salam

Namun, sebelum forum memutuskan untuk mengangkat Kiai Bisri sebagai Rais ‘Aam menggantikan Kiai Wahab, jabatan tersebut dengan tegas ditolaknya. Selama Kiai Wahab masih hidup, ia tidak akan menjadi Rais ‘Aam. Kiai Bisri baru bersedia menggantikan jabatan tersebut, ketika Kiai Wahab wafat pada tahun 1971.

Sejarah juga mencatat, selain penolakan kedua Bisri ini, sikap serupa juga pernah diperlihatkan beberapa kiai saat disodori posisi Rais ‘Aam yang kosong saat Kiai Bisri wafat. Termasuk dua ulama kharismatik, ? KH R Asad Syamsul Arifin Situbondo dan KH Machrus Ali Lirboyo juga ikut menolak.

”Meski Malaikat Jibril turun dari langit untuk memaksa, saya tetap akan menolak, yang pantas itu Kiai Machrus Ali, Lirboyo,” tukas Kiai As’ad.

Jawaban Kiai Machrus pun tak kalah ‘angker’, ”Jangankan Malaikat Jibril, kalaupun Malaikat Izrail turun dan memaksa saya, saya tetap tidak bersedia!” (Ajie Najmuddin)

Sumber pendukung: Saifuddin Zuhri, Mbah Wahab Hasbullah Kiai Nasionalis Pendiri NU.

Foto: KH Bisri Syansuri (kiri) dan KH A Wahab Chasbullah dalam sebuah kesempatan. (koleksi Perpustakaan PBNU)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Doa, Hadits Shautus Salam

Sabtu, 20 Januari 2018

GP Ansor NTB dan PC Ansor se-Lombok Resmi Dilantik

Lombok Tengah, Shautus Salam - Ketua Umum PP GP Ansor H Yaqut Qaumas didampingi Korwil NTB M Zakaria melantik kepengurusan GP Ansor NTB dan cabang GP Ansor se-Pulau Lombok. Pelantikan yang berlangsung di Bencingan, alun-alun Tastura, Lombok Tengah, Rabu (27/1) ini dihadiri ulama, umara, dan ribuan warga yang tampak antusias menyaksikan prosesi kegiatan dari awal sampai akhir.

Ketua Umum PP GP Ansor H Yaqut Qaumas mengapresiasi keramaian acara tersebut karena dihadiri ribuan jamaah nahdyin. "Saya tidak menyangka akan seramai dan semeriah ini," katanya.

GP Ansor NTB dan PC Ansor se-Lombok Resmi Dilantik (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor NTB dan PC Ansor se-Lombok Resmi Dilantik (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor NTB dan PC Ansor se-Lombok Resmi Dilantik

Mewujudkan cita-cita organisasi harus sama-sama, pesan Gus Yaqut. Ia berharap harmonisasi sesama pengurus tetap dijaga. "Insya Allah kalau ngurus Ansor pasti dapat berkah. Semua pengurus kalau ketuanya jadi apapun, yang di bawah juga harus bisa menerima manfaatnya," katanya.

Ketua GP Ansor NTB H Zamroni Aziz siap membangun senergi dengan pemerintah, kepolisian, TNI, tokoh lintas agama, dan lintas pemuda untuk menjaga kedamaian dan kondusifitas di Nusa Tenggara Barat.

Shautus Salam

"Kalau ada konflik pemuda atau membawa paham-paham baru, itu jelas bukan kader Ansor" kata Zamroni.

Tampak hadir Mustasyar PBNU TGH Turmudzi Badarudin, Ketua PWNU NTB Drs TGH Achmad Taqiudin Mansur, TGH Maarif Makmun, TGH Safwan Hakim, TGH M Nasir, TGH Mutawalli dan ulama lainnya.

Shautus Salam

Tampak unsur pemerintah perwakilan Gubernur NTB, Danrem 162 Wirabakti NTB, perwakilan Kapolda NTB, Ketua KPU NTB L Aksar Ansor, Pejabat Bupat Lombok Tengah Ibnu Salim, Pejabat Bupati Lombok Utara Azhari, dan Kemenag kabupaten/kota se-Lombok.

Pelantikan dilanjutkan dengan orasi kebangsaan, seminar regional, dan rapat kerja wilayah yang diikuti seluruh perwakilan cabang GP Ansor se-NTB di Pesantren Qomarul Huda, Bagu, Lombok Tengah, Rabu-Kamis (27-28/1). (Hadi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Doa Shautus Salam

Rabu, 17 Januari 2018

Selain Kitab Suci, Al Quran Juga Kitab Literasi

Semarang, Shautus Salam

Bertempat di ruang rapat Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kebangpol) Provinsi Jawa Tengah, Kamis (7/12), dosen STAINU Temanggung, Hamidulloh Ibda mengajak puluhan PNS Kesbangpol itu melek literasi media digital.



Selain Kitab Suci, Al Quran Juga Kitab Literasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Selain Kitab Suci, Al Quran Juga Kitab Literasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Selain Kitab Suci, Al Quran Juga Kitab Literasi



Menurut dia, selain menjadi kitab suci yang berisi petunjuk, hukum-hukum, dan sejarah, kitab Alquran adalah kitab literasi karena perintah Tuhan pertama kali kepada Nabi Muhammad adalah perintah membaca.

"Perintah Tuhan pertama kali tidaklah bekerja, menikah, shalat, apalagi korupsi, tapi iqra. Bacalah, dan dengan kalam. Ini jelas-jelas adalah perintah literasi," kata Ibda yang juga pengurus Bidang Literasi Media Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Provinsi Jateng.

Shautus Salam

Kegiatan tersebut diikuti puluhan peserta yang didominasi abdi negara (PNS) dalam kegiatan bertajuk Pendidikan dan Pelatihan Literasi Media dan Jurnalisme Umum. Kegiatan sebagai upaya menajamkan PPID di Badan Kesbangpol Provinsi Jateng selama dua hari, Rabu-Kamis, 6-7 Desember 2017.

Shautus Salam

Jadi, katanya, Al Quran merupakan kitab literasi sebagai penyempurna kitab sebelumnya, yaitu Taurat, Zabur dan Injil.

"Di Al Quran, perintah membaca ada 89 kali dan menulis 303 kali. Maka sesuai pilar literasi yaitu baca, tulis dan arsip, puncak dari literasi adalah tulisan karena ia akan abadi," ungkap penulis buku Sing Penting NUlis Terus.

Dijelaskan Ibda, tradisi literasi menjadi solusi atas kondisi SDM dan bisa mendorong akselerasi kualitas literat dan memberantas buta aksara, buta informasi dan buta media di negeri ini. Sebab, menurut dia, perkembangan zaman begitu pesat dan hanya orang yang menguasai media digital yang akan berkuasa.

"Tantangan kita, terutama abdi negera di Badan Kesbangpol adalah banjir informasi, serangan hate speech, hoaks dan fake news. Ada sekitar 800 ribu situs penyebar hoaks sampai akhir 2016. Lalu kita adalah jamiyah medsosiyah, pengguna aktif gawai tapi masih nggak paham cara menyeleksi, mengakses dengan bijak dan mampu membedakan mana berita orisinil, dan mana berita palsu," jelasnya.

Literasi media digital, menurut dia adalah bukan sekadar mengetahui jenis media daring, siber atau online, dan membedakannya dengan medsos.





"Namun mampu memetakan, mana media pers, blog dan mana website milik lembaga atau pemerintah. Sebab, tidak semua situs itu bisa kita konsumsi," ujar dia.

Kalau sesuai regulasi, katanya, minimal media siber itu sudah dapat izin SK Kemenkum HAM, berbadan hukum, mendapat SIUP, TDP, ada surat domisili.





"Lalu, mereka juga harus punya kantor, wartawan di lapangan, berita bukan copy paste. Juga harus punya susunan redaksi, kontak dan profil, jurnalisnya sudah lolos Uji Kompetensi Wartawan, dan terhimpun dalam organisasi pers seperti PWI, AJI, AWPI, IWO dan yang lain," kata dia.

Selain itu, katanya, media siber yang laik konsumsi juga harus ramah, beritanya tidak hoaks, fake dan tidak menjadi pabrik hate speech dan perusak isu SARA.





"Minimal media digital yang kita konsumsi memenuhi prinsip dan menerapkan peran dan fungsi pers sendiri. Ya menginformasikan, edukasi, kontrol, hiburan dan menjadi jembatan antara pemerintah dan rakyat," ujar dia.

Hal itu pun Ibda sampaikan belum tentu cukup, karena media digital yang dikonsumsi juga harus bisa menerapkan 9 ayat atau prinsip bahkan 10 prinsip jurnalisme menurut Bill Kovach dan Tom Rosenstiel.





"Sejak tahun 2001, lewat buku The Elements of Journalism, Bill Kovach dan Tom Rosenstiel mengajarkan kita untuk melakukan 9 ayat jurnalisme agar media dan berita itu benar-benar mencerahkan," beber dia.

Semuanya juga harus diimbangi dengan dua cara berpikir.





"Pertama adalah cara berpikir wartawan. Bisa dilakukan dengan wawancara, klarifikasi atau tabayun. Wartawan bisa mendasarkan kebenaran hanya sebatas wawancara dan klarifikasi. Tapi apa cukup itu? Tentu harus dilengkapi yang kedua, yaitu cara berpikir ilmuwan. Jadi untuk mendapatkan kebenaran, harus ilmiah, logis, sistematis, metodologis, empiris dan juga minimal melalui tiga tahap filsafat ilmu, yaitu ontologi, epistemologi dan aksiologi," beber dia.

Dalam implementasi literasi media, kata dia, minimal kita harus melakukan beberapa hal teknis.





"Mulai dari pasang kuda-kuda, melawan berita hoaks, fake, fitnah, menguasai berita, mengolah berita menjadi positif, arif dan aktif di medsos, berdakwah melalui medsos dan kembali kepada Al Quran atau kitab suci lain sebagai kitab literasi," paparnya.

Penulis buku Stop Pacaran Ayo Nikah ini berharap, ke depan literasi tidak hanya menjadi bahan diskusi melainkan semua hal bisa dijadikan wahana literasi, karena hakikat literasi adalah upaya untuk mendapatkan pengetahuan, membaca, menulis dan mengetahui sumber informasi dan ilmu.

Ia mengajak gerakan literasi media digital dimulai dari diri sendiri.

"Literasi bukan segalanya, namun segalanya bisa berawal dari sana," tegas dia. (Red: Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Doa, Kajian Sunnah, Ubudiyah Shautus Salam

Rabu, 03 Januari 2018

Tawadhu dan Pembelaan Harkat Hidup Manusia Menurut Ibnu Athaillah

Unggah ungguh atau tata krama belaka bukanlah tawadhu karena ini hanya dampak saja dari ketawadhuan. Tawadhu bermakna jauh lebih dahulu dari sekadar sopan santun. Tawadhu adalah sikap batin yang menjelma dalam praktik lahiriyah secara proporsional dan wajar.

Karena merupakan sikap batin, ketawadhuan sulit diukur. Yang bisa dilihat hanya praktik lahiriyah yang proporsional dan wajar. Bisa jadi dalam tata krama tertentu, seseorang dapat menyesuaikan diri tetapi sesungguhnya ia belum terbilang orang yang tawadhu. Masalah ini disinggung oleh Syekh Ibnu Athaillah sebagai berikut:

Tawadhu dan Pembelaan Harkat Hidup Manusia Menurut Ibnu Athaillah (Sumber Gambar : Nu Online)
Tawadhu dan Pembelaan Harkat Hidup Manusia Menurut Ibnu Athaillah (Sumber Gambar : Nu Online)

Tawadhu dan Pembelaan Harkat Hidup Manusia Menurut Ibnu Athaillah

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Shautus Salam

Artinya, “Orang yang tawadhu itu bukan ia yang ketika merendah menganggap dirinya lebih tinggi dari yang dilakukannya. Tetapi, orang yang tawadhu itu ia yang ketika merendah menganggap dirinya lebih rendah dari yang dilakukannya.”

Shautus Salam

Ketawadhuan hanya bisa diukur oleh diri manusia itu sendiri karena hanya mereka yang mengerti batin mereka. Penilaian atas sikap batin itu persis dengan penilaian atas ibadah puasa. Hanya mereka sendiri yang dapat menyadari apakah mereka merasa lebih tinggi atau merasa istimewa dibanding orang lain atau bahkan makhluk lain.

Syekh Ibnul Hajib menyebutkan secara jelas bahwa ketawadhuan adalah sebuah sikap batin yang merendah. Sikap batin ini yang melahirkan tata krama dan sikap sosial yang wajar. demikian disampaikan Syekh Ibnul Hajib sebagai berikut:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Menurut saya, ketawadhuan hakiki adalah sikap yang muncul dari orang yang memandang segala sesuatu dari Allah. Ketika ia merendah, maka ia merasa bahwa segala sesuatunya berhak lebih banyak lagi ketakziman dan merasa bahwa dirinya dalam kerendahan dan kehinaan lebih rendah dari ketawadhuan yang telah dilakukannya. Orang yang merasa istimewa di tengah yang lain bukan orang yang tawadhu. Kalaupun ia merendah di tengah yang lain, tetapi memandang dirinya lebih tinggi dan lebih utama dari ketawadhuan yang dilakukannya, maka hakikatnya ia orang yang takabur karena ia menyematkan ketawadhuan bagi dirinya sendiri karena sesuatu yang menurutnya layak ia terima,” (Lihat Syekh Ibnul Hajib, Iqazhul Himam, Beirut, Darul Fikr, tanpa catatan tahun, juz I, halaman 238).

Sebagaimana dikatakan di atas bahwa ketawadhuan mengandung konsep yang lebih luas dari sekadar formalitas tata krama, unggah ungguh, adab, atau sopan santun. Ketawadhuan bisa dipahami dalam konteks hukum dan etika. Hal ini yang kiranya jarang disampaikan banyak orang.

Ketawadhuan adalah upaya dalam membela dan menjamin hak pribadi dan hak orang lain. Ketawadhuan juga berarti upaya mempertahankan harkat manusia baik diri sendiri maupun orang lain. Jangan sampai diri sendiri terhina. Jangan sampai orang lain terhina dan dirugikan karena ulah kita. Pengertian ketawadhuan ini justru jauh sekali berbeda dari sekadar tata karma atau sopan santun. Hal ini sebagaimana keterangan Syekh Ibrahim Al-Aqshara’i berikut ini:

?: ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Bagi saya, ketawadhuan itu bergerak antara kerendahan dan ketakaburan. Kerendahan itu adalah kamu menjadi hina dan hakmu terlantar. Sementara takabur adalah kau menjadi sebab atas kehinaan orang lain dan haknya terlantar karenamu. Sedangkan ketawadhuan itu adalah kau tidak menjadi hina dan orang lain tidak menjadi hina karenamu; hakmu tidak terlantar dan hak orang lain tidak terlantar karenamu,” (Lihat Syekh Ibrahim Al-Aqshara’i, Ihkamul Hikam, Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyah, 2008 M/1429 H, halaman 135).

Meskipun hanya sikap batin, tanda-tanda ketawadhuan itu dapat dilihat dengan jelas. Syekh Syarqawi menyebutkan sejumlah tanda konkret mutawadhi‘in yang memiliki kepribadian tangguh dalam menghadapi berbagai tekanan sosial dan tabah dalam menjaga diri dari godaan kemunafikan hidup. Berikut ini kutipannya:

? ? ? ? ?) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? (? ? ? ? ?) ? ? ? ? ? ? ? ? (? ?) ? (? ? ?) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? (? ? ? ? ?) ? ? ? ? ? ? ? ?... ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Orang yang tawadhu itu bukan ia yang ketika merendah) berlaku sebagai laku orang bermaqam mutawadhi‘in, antara lain duduk di belakang dalam sebuah forum (menganggap dirinya lebih tinggi dari yang dilakukannya) merasa dirinya berhak duduk di depan. (Tetapi, orang yang tawadhu itu) adalah (ia yang ketika merendah) berlaku sebagai laku orang bermaqam mutawadhi‘in, antara lain duduk tak jauh dari depan pada sebuah forum (menganggap dirinya lebih rendah dari yang dilakukannya) merasa dirinya justru lebih berhak duduk di belakang... Tanda riil dari perilaku mutawadhi‘in adalah ia yang tidak marah ketika dicela atau difitnah, tidak membenci ketika dicaci atau dituduh melakukan dosa besar; tidak ngotot mengejar pencitraan, mencari muka atau mengambil hati orang lain; dan tidak merasa bahwa dirinya memiliki tempat di hati banyak orang,” (Lihat Syekh Syarqawi, Syarhul Hikam, Semarang, Maktabah Thaha Putra, tanpa catatan tahun, juz II, halaman 60-61).

Dari sejumlah keterangan ulama itu, kita dapat menyimpulkan bahwa ketawadhuan hanya dimiliki oleh orang-orang besar. Tawadhu adalah mereka yang siap belajar (mondok, ngaji, sekolah, kuliah. Pokoknya belajar) ketika bodoh, bertanya ketika tidak mengetahui, berterima kasih atas budi baik orang lain, memohon maaf atas kesalahan. Tidak banyak orang yang bersikap tawadhu. Hanya mereka yang berjiwa besar dapat mencapai derajat mutawadhi‘in. Karena hanya mereka yang siap melawan arus demi hak dan harkat hidup manusia. Wallahu a’lam. (Alhafiz K)Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Kajian Sunnah, Ubudiyah, Doa Shautus Salam

Jumat, 29 Desember 2017

Perempuan Harus Berpolitik

Jombang, Shautus Salam. Banyak yang memandang sebelah mata kiprah perempuan di dunia politik. Padahal banyak hal yang bisa dilakukan perempuan saat terlibat di politik praktis.

Perempuan Harus Berpolitik (Sumber Gambar : Nu Online)
Perempuan Harus Berpolitik (Sumber Gambar : Nu Online)

Perempuan Harus Berpolitik

Penegasan ini disampaikan Mahfudhoh Ali Ubaid kepada Shautus Salam (10/4). Ditemui di kediamannya, dalem kesepuhan Pondok  

Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang, mantan Ketua Umum PP Fatayat NU dua periode ini menolak keras pendapat yang mengatakan bahwa dunia politik adalah kotor.

"Itu hanya pandangan orang yang tidak mengerti  politik yang sebenarnya," katanya.

Shautus Salam

Baginya, banyak keputusan politik yang mengharuskan perempuan terlibat secara aktif di dalamnya. 

Shautus Salam

"Lahirnya  kebijakan yang mengatur tentang ibu hamil, perhatian kepada para janda, Posyandu, gizi anak dan sejenisnya adalah upaya serius yang dilakukan para perempuan di dunia politik," katanya.

Tanpa kehadiran  perempuan di ranah politik, akan sangat sulit dapat melahirkan kebijakan yang memihak  perempuan. 

"Karena itu saya menolak dengan keras pandangan yang menganggap perempuan tidak perlu tampil di dunia politik," lanjutnya.

Lahirnya aturan yang mensyaratkan kuota perempuan harus mencapai 30 persen, hendaknya dapat dioptimalkan untuk peran politik tersebut. Sehingga Ibu Mahfudhoh, sapaan kersehariannya sangat prihatin terhadap ketidak mampuan partai politik yang tidak mampu mencapai angka tersebut untuk komposisi calon wakil rakyatnya. 

"Bagaimana mungkin angka seperti itu tidak bisa dipenuhi oleh partai politik?" sergahnya. "Ini adalah kegagalan dalam proses seleksi dan kaderisasi terhadap kiprah perempuan," lanjutnya.

Ia berharap, kejadian ini tidak terulang pada pesta demokrasi mendatang. "Berikan kesempatan yang sama bagi perempuan untuk berkiprah di segala sektor, termasuk politik," harapnya. 

Namun demikian ia berharap peran politik yang telah terbuka lebar itu dapat dioptimalkan untuk mendorong kebijakan yang lebih berpihak pada perempuan. 

"Tapi jangan sampai melupakan tugas utama sebagai ibu rumah tangga," pungkasnya.

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Syaifullah

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Doa, Syariah Shautus Salam

Rabu, 27 Desember 2017

Musabaqah Kitab Kuning di NTB Resmi Dimulai

Lombok Tengah, Shautus Salam. Babak penyisihan Musabaqoh Kitab Kuning wilayah Nusa Tenggara Barat digelar di Ponpes Qamarul Huda Bagu, Pringgarata, Loteng.? Lomba yang diiniasiai Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini dimaksudkan sebagai upaya melestarikan tradisi membaca Kitab Kuning."Musabaqoh Kitab Kuning ini merupakan bagian dari kita menjaga tradisi membaca Kitab Kuning untuk menatap masa depan yang lebih baik," kata Sekretaris DPW PKB NTB, Akhdiansyah saat pembukaan Musabaqoh Kitab Kuning, Kamis (7/4/).

Kegiatan tersebut, lanjut Akhdiansyah, merupakan salah satu peran aktif PKB dalam upaya turut melestarikan tradisi-tradisi pendidikan di pondok pesantren, seperti tradisi membaca Kitab Kuning yang telah menjadi warisan para ulama.

Melalui program Musabaqoh ini, tradisi membaca Kitab Kuning akan terus tejaga dan terawat. Selain tradisi membaca Kitab Kuning, lanjut politisi muda ini, ? tradisi Nusantara Mengaji juga akan dilaksanakan DPP PKB, bahkan seluruh anggota Dewan dari PKB diperintahkan masing-masing membawa 200 orang dalam acara Nusantara Mengaji.

Musabaqah Kitab Kuning di NTB Resmi Dimulai (Sumber Gambar : Nu Online)
Musabaqah Kitab Kuning di NTB Resmi Dimulai (Sumber Gambar : Nu Online)

Musabaqah Kitab Kuning di NTB Resmi Dimulai

"Ini dalam rangka merawat dan menjaga tradisi, untuk kemajuan bangsa", ujar Akhdiansyah?

Musabaqoh tersebut juga dijadikan ajang mencari peserta terbaik yang akan mewakili NTB di tingkat nasional. "Besar harapan kami, salah satu terbaik dari ratusan peserta perwakilan masing-masing ponpes yang mendaftar, nantinya mampu meraih juara di tingkat nasional," harapnya.

Shautus Salam

Acara yang dibuka langsung oleh pembina dan pengasuh Ponpes Qamarul Huda, TGH LM Turmudzi Badarudin itu, dihadiri seluruh anggota DPRD Kabupaten Loteng dan Provinsi NTB dari PKB, ketua DPC PKB se-NTB, para ustadz dan santri, serta peserta Musabaqoh.

Dalam sambutannya, Tuan Guru Bagu sapaan TGH LM Turmudzi Badarudin, menyampaikan bahwa sangat mendukung Musabaqoh Kitab Kuning yang dilaksanakan PKB. "Musabaqoh yang dilaksanakan PKB hari ini bagus. Semoga semua yang mengaji akan mewarisi ilmu para ulama," kata musasyar PBNU ini

Shautus Salam

Hal itu dianggap sangat perlu untuk keberkahan suatu ilmu. Diungkapkan, yang dikerjakan para ulama terdahulu seperti mengaji, menghafal kitab dan selalu menghadiri majelis baik di Timur Tengah maupun dalam negeri, sehingga ilmu itu menjadi barokah.

"Semoga kehadiran para anggota Dewan dan anggota Hakam serta seluruh peserta di acara ini mendapat barokah", katanya (Syamsul Hadi/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam AlaNu, Doa, Kyai Shautus Salam

Selasa, 26 Desember 2017

Dua Seniman Asal Jawa Barat Tegaskan Pentingnya Jaga Kampung

Tasikmalaya, Shautus Salam. Dua Tokoh Seniman Asal Jawa Barat Acil Bimbo dan Acep Zamzam ? Noor menyoroti dengan serius terhadap pentingnya gerakan Jaga Lembur (Jaga Kampung Halaman) di tengah realita dan kondisi ? yang memprihatinkan seperti saat ini.

Keduanya berkumpul bersama anak muda Tasikmalaya saat mengadakan Focus Group Diskusi (FGD) dengan Tema “Jaga Lembur” yang dilaksanakan oleh Sarjana NU Kabupaten Tasikmalaya, Pergerakan Relawan Kemanusiaan dan Lingkungan Tasikmalaya (PRKT) dan Keluarga Pelajar Mahasiswa Tasikmalaya di Yogyakarta (KPMT-Y) di Pondok Pesantren Manarul Hikam Tampian, Singaparna Kabupaten Tasikmalaya.

Dua Seniman Asal Jawa Barat Tegaskan Pentingnya Jaga Kampung (Sumber Gambar : Nu Online)
Dua Seniman Asal Jawa Barat Tegaskan Pentingnya Jaga Kampung (Sumber Gambar : Nu Online)

Dua Seniman Asal Jawa Barat Tegaskan Pentingnya Jaga Kampung

Acil Bimbo Menyatakan Jaga Lembur adalah revitalisasi kecintaan kita pada daerah dan ? jika dulu sejengkal tanah diperjungkan dengan tetesan darah, tapi sekarang malah seenaknya dijual atau dikuasai orang lain.?

“Di tengah krisisnya kecintaan kita kita pada kampung halaman kita di Indonesia disuguhkan dengan berbagai permasalahan seperti Korupsi, Narkoba, Kekerasan dan sebagainya. Orang yang korupsi adalah orang yang tidak cinta pada daerahnya sendiri,” jelasnya.

Shautus Salam

“Dan kita juga jangan kalah ditanah sendiri dan harus bangkit dan tekadkan bahwa kami orang tangguh, orang unggul, dan bukan pecundang, semuanya harus pintar dan ingat bahwa tidak ada sukses yang tidak dibeli oleh capek,” imbuhnya.

Seniman Asal Cipasung Acep Zamzam Noor juga menuturkan bahwa Jaga Lembur adalah hal yang sangat penting dan harus diperjuangkan di Tasikmalaya. “Kita lihat realita di Tasikmalaya setelah meletusnya ? Gunung Galunggung pasir Vulkanik Glaunggung itu sangat laku dan banyak dijadikan bahan untuk pembangunan di mana-mana, dari sana muncul mafia pasir di Tasikmalaya,” ujarnya.

Dan ketika Pasir Galunggung Habis Bukit Bukit di Tasikmalaya habis dikikis oleh mereka, dulu Tasikmalaya Kota Sampai Singaparna itu terkenal dengan Seribu Bukit. Namun bukit-bukit itu dikikis habis dan entah ke mana.

“Apalagi dengan penambangan pasir besi di selatan itu sangat merusak lingkungan. Memang dengan perkembangan penduduk, bukit-bukit itu dikikis dan setelah rata jadi perumahan, tapi seharusnya harus ada bagian yang dipertahankan, ini bukit dikikis dan sawah pun dikeruk, seharusnya pemerintah haarus memperhatikan itu,” tegasnya. (Husni Mubarok/Fathoni)

Shautus Salam

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Doa, Pesantren Shautus Salam

Sabtu, 16 Desember 2017

Assalafiyyah Mlangi Siap Bangun Pesantren Terpadu

Sleman, Shautus Salam. Pondok Pesantren Assalafiyyah Mlangi, Nogotirto, Gamping, Sleman, DIY akan segera membangun komplek Pesantren Assalafiyyah II Terpadu. Lokasinya tak jauh dari komplek Assalafiyyah I, yakni di tengah pesawahan di Dusun Mlangi.

Assalafiyyah Mlangi Siap Bangun Pesantren Terpadu (Sumber Gambar : Nu Online)
Assalafiyyah Mlangi Siap Bangun Pesantren Terpadu (Sumber Gambar : Nu Online)

Assalafiyyah Mlangi Siap Bangun Pesantren Terpadu

“Nantinya di kompleks Assalafiyyah Terpadu ini akan dibangun tempat yang baru untuk anak-anak MTs dan MA, masjid, serta rusunawa,” ujar KH Noor Hamid Majid, Pimpinan Pesantren Assalafiyyah pada peletakan batu pertama, Rabu (30/04), di komplek bakal Pesantren Assalafiyyah II Terpadu, Mlangi.

Kiai Noor Hamid menambahkan, di komplek baru akan dibangun rumah kediaman Gus Irwan Masduki yang akan dipercayai memegang MTs dan MA. Ia juga memohon doa restu dan dukungan demi kelancaran pembangunan yang akan dimulai pada bulan Juni tersebut.

Shautus Salam

KH Noor Hamid Majid pada sambutannya juga memaparkan beberapa program unggulan MTs dan MA Assalafiyyah, seperti tahfidzul Qur’an, qiro’atul kutub, dan penguasaan bahasa Arab dan Inggris.

Shautus Salam

Khusus untuk program tahfidzul Qur’an, lanjutnya, ada target-target yang telah dipersiapkan. Untuk tingkat MTs, kelas I ditargetkan hafal 5 juz, kelas II hafal 10 juz, dan kelas III hafal 15 juz. Selanjutnya untuk sampai pada hafalan 30 juz dilanjutkan di tingkat MA.

KH Hasan Abdullah, pengasuh Pesantren Assalafiyyah sekaligus Katib Syuriah PWNU DIY menguatkan, “Nantinya kalau Assalafiyyah II Terpadu sudah ada akan digunakan untuk santri-santri yang nyambi sekolah atau kuliah, sedangkan Assalafiyyah I akan digunakan untuk yang konsentrasi mondok saja,” ujarnya kepada Shautus Salam.

Pesantren Assalafiyyah Mlangi yang didirikan oleh KH Masduqi pada tahun 1936 tersebut baru membuka pendidikan formal yakni MTs dan MA tahun 2013. (Dwi Khoirotun Nisa’/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Doa, Pahlawan Shautus Salam

Rabu, 13 Desember 2017

Sanksi Lemah, Kejahatan Kekerasan Seksual Terus Berulang

Jakarta, Shautus Salam. Wakil Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia Maria Advianti menilai lemahnya sanksi yang dijatuhkan putusan pengadilan mengakibatkan kejahatan kekerasan seksual terhadap anak tidak menemukan kata henti. Sementara penegakan hukum, menurut Maria, sangat penting selain membuat para pelaku jera tetapi juga mencegah pelaku-pelaku baru.

Meskipun tuntutan berat diarahkan jaksa terhadap para pelaku, Maria menyayangkan hakim yang kerap menjatuhkan sanksi ringan terhadap pelaku. Penegakan hukum yang terus berlarut-larut terhadap kasus seperti ini, juga menjadi masalah tersendiri dalam peradilan di Indonesia.

Sanksi Lemah, Kejahatan Kekerasan Seksual Terus Berulang (Sumber Gambar : Nu Online)
Sanksi Lemah, Kejahatan Kekerasan Seksual Terus Berulang (Sumber Gambar : Nu Online)

Sanksi Lemah, Kejahatan Kekerasan Seksual Terus Berulang

Secara normatif, sanksi bagi pelaku kekerasan seksual meningkat seperti undang-undang nomor 23 tahun 2002 dan nomor 44 tahun 2008. Ini patut disyukuri, lanjut Maria. Tetapi eksekusi undang-undang ini yang nihil.

Shautus Salam

Kalau dulu, sanksi kepada pelaku lebih lemah lagi. Para hakim mengacu kepada KUHP yang menyatakan hukuman kurungan minimal 5 tahun bagi pelaku pemerkosaan. Sementara kekerasan seksual tidak melulu pemerkosaan, kata Maria.

“Kita minta sanksi berat bagi pelaku kekerasan seksual anak,” kata Maria yang kini dipercaya mengurus Koperasi Yasmin, unit usaha Fatayat NU kepada Shautus Salam, Rabu (14/5) petang.

Shautus Salam

Dengan putusan ringan, para pelaku semakin leluasa untuk melakukan atau mengulang aksi jahatnya. Kecuali itu, pelaku yang diputus bebas ini merusak kejiwaan korban. Karena pelaku yang umumnya orang dekat dengan korban masih beredar bebas di sekitar korban.

“Ini tidak boleh dibiarkan. Korban akan terus merasa tertekan benci dan takut melihat pelaku masih berada di lingkungan mereka tanpa penahanan,” tandas Maria yang menunjuk aparat hukum sebagai pengaruh perubahan masyarakat perihal kejahatan kekerasan seksual terhadap anak. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Doa, Lomba Shautus Salam

Selasa, 12 Desember 2017

MWC NU Sumberrejo Mulai Pembangunan Gedung Serbaguna

Sumberrejo, Shautus Salam



Siang itu, setelah pelaksanaan shalat Jum’at selesai jalan Penghubung Utama Kecamatan (jalan PUK) Sumberrejo, Bojonegoro sampai Kanor nampak macet dengan kehadiran rombongan jamaah dari segala penjuru kecamatan Sumberrejo dan sekitarnya untuk ikut menyaksikan prosesi peletakan batu pertama gedung serbaguna Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) kecamatan Sumberrejo.

MWC NU Sumberrejo Mulai Pembangunan Gedung Serbaguna (Sumber Gambar : Nu Online)
MWC NU Sumberrejo Mulai Pembangunan Gedung Serbaguna (Sumber Gambar : Nu Online)

MWC NU Sumberrejo Mulai Pembangunan Gedung Serbaguna

Ribuan orang yang didominasi ibu-ibu hadir pada acara tersebut. Maklum agenda kegiatan MWCNU Sumberrejo ini sekaligus menjadi satu dengan acara pengajian umum PAC Muslimat NU dan PAC Fatayat NU Sumberrejo sekaligus kegiatannya dengan santunan kepada anak yatim dan para dhuafa.

KH Ali Muhajir dari Jombang yang memberi tausiyah juga mengajak hadirin untuk ikut menyumbangkan saat itu juga yang akhirnya terkumpul sekitar sembilan juta. Total uang yang sudah terkumpul dari sumbangan PAC Muslimat NU dan PAC Fatayat NU berjumlah sekitar lima ratus juta rupiah.

Proses peletakan batu pertama dilakukan oleh Ketua Tanfidziyah PCNU Bojonegoro KH Cholid Ubaid, ? dilanjutkan oleh Bupati Bojonegoro, Kepala Kementerian Agama Bojonegoro dan Camat Sumberrejo lantas ditutup dengan do’a oleh KH Ali Muhajir.

Shautus Salam

Gedung serbaguna ini direncanakan berlantai tiga yang pemanfaatannya bisa digunakan untuk menunjang berbagai kegiatan NU atau masyarakat. Red Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Doa Shautus Salam

Shautus Salam

Minggu, 10 Desember 2017

Rukyatul Hilal Awal Syawal Digelar Hari Ini

Jakarta, Shautus Salam. Rukyatul hilal atau observasi bulan sabit digelar di berbagai titik strategis di Indonesia, Ahad (27/7) sore ini, bertepatan dengan 29 Ramadhan 1435 H. Rukyat diselenggarakan di kawasan pantai, bukit, menara atau balai rukyat yang mempunyai ketinggian tertentu terhadap ufuk barat.

Ketua Lajnah Falakiyah PBNU, KH A Ghazalie Masroeri mengatakan, pihaknya mengkoordinir sedikitnya 70 titik rukyat di seluruh Indonesia.

Rukyatul Hilal Awal Syawal Digelar Hari Ini (Sumber Gambar : Nu Online)
Rukyatul Hilal Awal Syawal Digelar Hari Ini (Sumber Gambar : Nu Online)

Rukyatul Hilal Awal Syawal Digelar Hari Ini

“Kami mengimbau agar hasil rukyat segera dilaporkan ke Lajnah Falakiyah PBNU, baik berhasil atau tidak,” kata Kiai Ghazalie dihubugi Shautus Salam, Ahad pagi.

Berdasarkan data hisab atau perhitungan astronomis yang dilakukan oleh Lajnah Falakiyah, umur bulan pada saat diadakan rukyat sudah melebihi 12 jam melewati masa ijtima’ atau konjungsi. Sementara tinggi hilal pada saat matahari terbenam sudah mencapai 3,5 derajat dan jarak antara bulan dengan matahari mencapai 5 derajat.

“Jadi berdasarkan prediksi hisab itu sudah ideal untuk rukyat. Namun kami tetap menghimbau para perukyat untuk melaksanakan shalat hajat terlebih dahulu agar usaha kita dimudahkan oleh Allah SWT. Walaupun menurut prediksi hisab, hilal sudah bisa dilihat tapi kalau kita takabur malah Allah tidak akan menunjukkan hilal kepada kita,” kata Kiai Ghazali.

Shautus Salam

Ditambahkan, Lajnah Falakiyah PBNU juga berharap warga nahdliyin dan umat Islam pada umumnya dapat ikut berpartisipasi dalam kegiatan rukyat bersama para ahli hisab-rukyat setempat, dengan memanfaatkan peralatan yang dipunyai, semisal teleskop atau kamera dgital untuk dokumentasi. Beberapa daerah atau cabang NU yang tidak mempunyai lokasi rukyat strategis dapat bergabung dengan daerah sekitarnya. “Rukyat dapat bernilai ta’abudi (ibadah),” kata Kiai Ghazalie.

Lebih dari itu, pelaksanaan rukyat kata Kiai Ghazali, mestinya mengingatkan bahwa Indonesia adalah negara kepulauan. Pemerintah mestinya memfasilitasi pelaksanaan rukyat terutama di pulau-puau kecil dan terpencil yang strategis.

“Maka rukyat kali ini kami beri tema memperluas jaringan rukyat nasional dalam rangka memperkuat ukhuwah wathoniyah untuk ketahanan nasional,” tambahnya. (A. Khoirul Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam

Shautus Salam Doa Shautus Salam

Jumat, 01 Desember 2017

Muslimat NU Bersilaturrahim dengan Gubernur Jokowi

Jakarta, Shautus Salam. Rapat Kerja Nasional (Rakernas) dan Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) Muslimat NU diawali silaturahim bertajuk “Ta’aruf dengan Gubernur Daerah Khsusus Ibu Kota (DKI) Jakarta Joko Widodo” di Aula Serbaguna Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, pada  Selasa malam (27/5).

Muslimat NU Bersilaturrahim dengan Gubernur Jokowi (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslimat NU Bersilaturrahim dengan Gubernur Jokowi (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslimat NU Bersilaturrahim dengan Gubernur Jokowi

Gubernur yang akrab disapa dengan Jokowi tersebut hadir di tengah-tengah ibu-ibu Muslimat sekitar pukul 19.30. Pada sambutannya, setelah membaca salam, ia memulai pembukaan dengan bahasa Arab.

“Alhamdulillahi robbil ‘alamin washolati wassalamu ‘ala asyrofil anbiya’i wal mursalin sayyidina wahibibina wa syafi’ina Muhammadin wa ‘ala alihi awsohbihi ajma’in,” ucapnya dengan lancar. Ia berdiam dulu sebentar karena bacaan itu langsung dihadiahi tepuk tangan ibu-ibu.   

Shautus Salam

Kemudian Jokowi bercerita perihal diundangnya ke acara tersebut. Ia mengutip undangan lisan Ketua Umum Muslimat NU Khofifah Indar Parawansa. “Pokoknya Pak Jokowi hadir saja untuk foto-foto bersama ibu-ibu Muslimat,” katanya disambut tepuk tangan ibu-ibu.

Ia kemudian mengkonfirmasi tuduhan-tuduhan yang dialamatkan kepadanya di sosial media dan berita di media massa. Mulai dari isu penghapusan tunjangan guru. Menurut dia, Itu tuduhan tidak benar, “Lho...lho...lho..., kalau mau dinaikan itu benar,” katanya disambut tepuk tangan ibu-ibu.  “Saya tahu kebanyakan profesi Muslimat NU itu sebagai guru,” sambungnya.”  

Shautus Salam

Menurut dia, pendidikan itu di negara mana pun sangat penting dan harus dinomorsatukan. Ia menyebutkan, kurikulum pendidikan Indonesia harus dierivisi. “Kalau di SD, menurut saya, 80 persen mengenai pendidikan budi pekerti, masalah sopan santun, karakter, 20 persen baru yang namanya pengetahuan. Bukan dibalik,” katanya.

Kemudian di SMP dengan porsi 60-40. Menurut dia prosinya tetap pendidikan budi pekerti harus yang lebih banyak, “Baru setingkat SMA dan SMK, 20-80,” katanya.

Selanjutnya ia membantah tuduhan nama depannya Habertus. Juga pernah berhaji pada tahun 2003. Sementara kalau umroh, kata dia, tidak terhitung. Di akhir, sambutan Jokowi mengucapkan selamat datang di Jakarta. Ia mohon maaf ibu kota masih macet. Untuk mengatasinya sedang dirintis kereta api bawah tanah, "Tapi itu 5 tahun yang akan datang," katanya.

Jokowi hadir di acara tersebut sampai acara usai. Ia kemudian berfoto dengan hampir seluruh ibu-ibu di ruangan tersebut secara berkelompok dan bergantian.   

Hadir pada kegiatan bertema “Muslimat NU Berkhidmah untuk Indonesia Bermartabat” tersebut, Ketua PBNU H. Slamet Effendi Yusuf, Ketua Umum PP Muslimat NU Khofifah Indar Parawansa dan segenap pengurus, Alwi Shihab, Hj Aisah Hamid Baidlwi, Dorce Gamalama, Yenny Wahid. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam AlaNu, Doa, Kyai Shautus Salam

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Shautus Salam sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Shautus Salam. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Shautus Salam dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock