Tampilkan postingan dengan label Jadwal Kajian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jadwal Kajian. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 Maret 2018

Ke Indonesia, Syekh Wahbah Zuhaili Singgah di Pesantren Al-Kenaniyah

Jakarta, Shautus Salam. Ulama besar asal Suriah Syekh Wahbah Zuhaili berkunjung ke Pondok Pesantren Putri Al-Kenaniyah, Pulomas, Jakarta Timur, Sabtu (16/11). Di pesantren yang dipimpin oleh KH Hambali Ilyas itu, Syekh Wahbah bertemu Rais Syiriyah PBNU KH Hasyim Muzadi dan sejumlah muridnya yang sempat mengenyam pendidikan di Suriah.

Kepada para muridnya, ahli fiqih kontemporer itu berpesan agar senantiasa berzikir, mengingat Allah SWT dalam setiap kesempatan. "Mari kita mendekatkan diri sejak kita bangun tidur hingga tidur kembali," katanya.

Ke Indonesia, Syekh Wahbah Zuhaili Singgah di Pesantren Al-Kenaniyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Ke Indonesia, Syekh Wahbah Zuhaili Singgah di Pesantren Al-Kenaniyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Ke Indonesia, Syekh Wahbah Zuhaili Singgah di Pesantren Al-Kenaniyah

Tidak menyampaikan teori uhul fiqih yang rumit, Syekh Wahbah malah mengingatkan agar para santrinya senantiasa menjalankan beberapa rutinitas sederhana seperti membaca ayat kursi, surat-surat yang masuk dalam kategori al-munjiyat, serta surat surat pendek seperti al-Kafirun, al-Ikhlas, al-Falak dan An-Nas, sembari menjelaskan fadhilah atau keutamaan membaca beberapa surat dan ayat tersebut.

Kunjungan Syekh Wahbah ke Indonesia menurut, H Fathir Hambali, putra tertua KH Hambali Ilyas, adalah untuk memenuhi undangan Bank Indonesia. Penyusun karya besar Fiqih Islam wa Adillatuh dan sejumlah karya di bidang fiqih dan ushul fikih itu diminta menyampaikan ceramah mengenai ekonomi syariah.

Syekh Wahbah adalah ulama Suriah yang sering berkunjung ke Indonesia dan cukup dekat dengan NU. Karya-karyanya menjadi rujukan dalam bahtsul masail diniyyah atau pembahasan masalah-masalah keagamaan yang diselenggarakan di lingkungan NU.

Shautus Salam

Bersama Syekh Said Ramadhan Al-Buthi yang belum lama ini meninggal dunia dalam konflik bersaudara di Suriah, dua ulama fiqih madhab Syafii itu juga sempat menghadiri forum International Conference of Islamic Scholars (ICIS) yang diselenggarakan oleh PBNU di bawah pimpinan KH Hasyim Muzadi. (A. Khoirul Anam)

Shautus Salam

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Pesantren, Jadwal Kajian, Pendidikan Shautus Salam

Rabu, 28 Februari 2018

Ingin Anak Selamat, Masukkan ke Pesantren

Probolinggo, Shautus Salam

Keberadaan Nahdlatul Ulama (NU) mempunyai andil yang sangat besar terhadap sejarah berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Dimana seorang ulama NU, KH Wahid Hasyim turut berperan terhadap lahirnya Pancasila.

Hal tersebut disampaikan oleh Mustasyar PCNU Kota Kraksaan H Hasan Aminuddin saat menghadiri peringatan hari lahir (harlah) ke-93 NU di Pondok Hati di Dusun Toroyan Desa Rangkang Kecamatan Kraksaan Kabupaten Probolinggo, Senin (9/5) malam.

Ingin Anak Selamat, Masukkan ke Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Ingin Anak Selamat, Masukkan ke Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Ingin Anak Selamat, Masukkan ke Pesantren

Menurut Hasan, saat ini sedang marak kejadian kekerasan dan pelecehan seksual ? terhadap anak dan perempuan. “Dari hasil pengamatan yang saya lakukan terhadap semua kejadian, ternyata miras dan shabu-shabu menjadi akar permasalahan merebaknya kekerasan dan pelecehan seksual terhadap anak dan perempuan,” katanya.

Lebih lanjut Hasan menerangkan, miras dan shabu-shabu tidak hanya terjadi di lingkungan bebas. Pasalnya di lingkungan pondok pesantren pun, hari ini sudah banyak beredar obat-obatan terlarang. Dimana botol minuman air mineral isinya diganti minuman beralkohol.

Shautus Salam

“Inilah bentuk penjajahan yang dilakukan oleh bangsa lain. Mereka tidak mampu menjajah secara fisik, tetapi melalui budaya dan merusak mental masa depan generasi bangsa,” jelasnya.

Hasan pun meminta kepada para orang tua agar menyelamatkan anak cucunya dari perbuatan yang tidak jelas. “Setelah lulus SD, masukkan anak ke pesantren. Karena disana nantinya juga dibekali dengan ilmu umum dan ilmu agama serta akhlak,” tegasnya.

Seni budaya Islam NU jelas Hasan sangatlah banyak. Tetapi ironinya, saat ini sudah banyak anak cucu orang NU gemarnya bukan pada seni budaya Islam NU. Hal ini dikarenakan adanya budaya luar yang masuk dan bertentangan dengan aqidah Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja).

“Inilah potret yang terjadi hari ini, dimana ada pergeseran budaya NU. Oleh karena itu, saya sangat bangga karena PCNU Kota Kraksaan menggerakkan kembali muda mudi NU dalam wadah Ishari,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam

Shautus Salam Pendidikan, Jadwal Kajian, Ubudiyah Shautus Salam

Rabu, 21 Februari 2018

Warga NU Mulia Kencana, Papua Istighatsah untuk Rohingya

Mimika, Shautus Salam 

Kepedulian warga NU Kampung Mulia Kencana atas nasib warga Rohingnya diwujudkan dengan Istighatsah Sabtu malam, 10 September 2017. Jamaah putra putri dan remaja masjid hadir di acara ini yang digelar selepas Shalat Isya.

Warga NU Mulia Kencana, Papua Istighatsah untuk Rohingya (Sumber Gambar : Nu Online)
Warga NU Mulia Kencana, Papua Istighatsah untuk Rohingya (Sumber Gambar : Nu Online)

Warga NU Mulia Kencana, Papua Istighatsah untuk Rohingya

Ketua Takmir masjid At-Taubah Kampung Mulia Kencana, Syafiuddin mengajak jamaah untuk aktif dalam kegiatan seperti shalat berjamaah serta Istighatsah seperti. 

"Tentu kita harap kegiatan ini bisa berjalan terus sekaligus kita doakan warga Rohingnya lewat Istighatsah ini. Kita tunjukkan rasa persaudaraan kita sesama muslim, " lanjutnya

Acara dilanjutkan dengan penjelasan program Istighatsah An-Nahdliyyah ini oleh Wakil Ketua PCNU Mimika, Sugiarso. 

"Majelis Istighatsah ini adalah wadah kita untuk seribu hajat dan masalah. Yang punya hajat khusus, misalnya syukuran panen, bisa memanfaatkan majelis istighatsah ini untuk hajat tersebut. Jadi tidak perlu mengundang khusus, namun digabungkan dengan istighatsah," demikian penjelasannya

Shautus Salam

Ust. Hasyim Asyari, sebelum istighatsah menyampaikan bahwa dzikir itu bisa menghilangkan kemunafikan serta benteng dari godaan setan. 

"Setan itu akan mengkerut jika kita dzikir. Awalnya berat karena setan masih besar, namun harus dipaksa dzikir agar terlindung dari setan," urainya. 

Acara dilanjutkan dengan istighatsah dengan menyampaikan niat masing-masing serta doa untuk Rohingnya.

Shautus Salam

Hadir dalam acara itu sesepuh kampung, H Ahmadun, Azhari, dan Suhaemi. Acara ditutup dengan jajanan khas Kampung Mulia Kencana, dan menu makan besar urap. (Red: Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Sunnah, Jadwal Kajian, Berita Shautus Salam

Kamis, 18 Januari 2018

23 Mahasiswa Afganistan Mulai Tinggal di Unwahas

Semarang, Shautus Salam. Sebanyak 23 mahasiswa asal Afganistan yang menerima beasiswa penuh dari Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU) sudah mulai tinggal dan akan belajar di salah satu perguruan tinggi NU, Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang.

23 Mahasiswa Afganistan Mulai Tinggal di Unwahas (Sumber Gambar : Nu Online)
23 Mahasiswa Afganistan Mulai Tinggal di Unwahas (Sumber Gambar : Nu Online)

23 Mahasiswa Afganistan Mulai Tinggal di Unwahas

Ahad (27/10) 23 mahasiswa asal negara tersebut sudah tiba di Semarang dan diserahterimakan dari PBNU ke Unwahas.

Rektor Unwahas Dr Noor Achmad mengatakan, program beasiswa bebas biaya kuliah yang diberikan kepada mahasiswa Afganistan itu merupakan kerja sama NU dengan Pemerintah Afganistan. Tujuannya NU mencoba sebagai penengah konflik di sana dan menggandeng Unwahas untuk memfasilitasi mahasiswa tersebut.

Shautus Salam

"Beasiswa ini adalah wujud realisasi kerja sama itu. Para mahasiswa Afganistan tersebut memang belum kuliah dan akan difasilitasi Unwahas untuk belajar di jenjang S-1, ungkapnya usai menerima para mahasiswa Afganistan di kampus Unwahas Menoreh.

Shautus Salam

Sebanyak 23 mahasiswa telah diseleksi oleh pihak universitas dan ditempatkan di program studi sesuai pilihan mereka. Adapun mereka akan kuliah di sejumlah prodi seperti, Hukum, Hubungan Internasional, Farmasi, Ilmu Politik, Ekonomi, dan sebagainya. Sedangkan terkait tempat tinggal, para mahasiswa Afganistan akan menempati asrama atau pondok pesantren Unwahas.

Pada kesempatan penerimaan mahasiswa program beasiswa PBNU itu juga hadir Wakil Ketua PBNU KH Dr Asad Said Ali, Penanggungjawab Beasiswa PBNU KH Mashuri Malik, Ketua Yayasan Unwahas H Suwanto, dan jajaran pimpinan Unwahas lainnya.

Penanggung jawab Beasiswa PBNU, KH Mashuri Malik menyampaikan, beasiswa yang diberikan kepada mahasiswa Afganistan tersebut berasal dari penghimpunan dana umat NU.

"Kami yakin beasiswa ini sangat bermanfaat bagi para mahasiswa Afganistan. Kami juga percaya bahwa mereka bisa beradaptasi dan belajar di Unwahas, sebab disini juga merupakan lingkungan pesantren. Sehingga paling tidak setelah mengenyam ilmu dan lulus dari Unwahas mereka bisa benar-benar menerapkan di negaranya," katanya.

Terkait penerimaan mahasiswa asing, sebelumnya Unwahas di tahun akademik 2013/2014 ini menerima 48 mahasiswa dari Thailand untuk studi di salah satu universitas unggulan NU tersebut. (Suaramerdeka/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Jadwal Kajian Shautus Salam

Rabu, 17 Januari 2018

Tim Sepakbola Pesantren Darul Quran Bengkel Taklukkan Pesantren Al-Mansuriah

Mataram, Shautus Salam - Tim keseblasan Pesantren Al-Mansuriah Bonder asuhan Ketua PWNU NTB TGH Achmad Taqiuddin Mansur ditaklukkan Pesantren Darul Quran Bengkel Labuapi Lombok Barat dengan skor 0-1. Pertandingan yang digelar? di lapangan TNI AU Rembige Kota Mataram,? Jumat (19/8) pagi berlangsung seru.

Pesantren Al-Mansuriah yang dijaga Ipan Dirgantara kebobolan lewat tendangan ringan? Kaspul.? Pemain dengan nomor punggung 9 ini membawa tim? Pesantren Darul Quran? Bengkel unggul hingga peluit panjang dibunyikan.

Tim Sepakbola Pesantren Darul Quran Bengkel Taklukkan Pesantren Al-Mansuriah (Sumber Gambar : Nu Online)
Tim Sepakbola Pesantren Darul Quran Bengkel Taklukkan Pesantren Al-Mansuriah (Sumber Gambar : Nu Online)

Tim Sepakbola Pesantren Darul Quran Bengkel Taklukkan Pesantren Al-Mansuriah

Tim ini sudah diprediksi oleh Satkorwil Banser Ansor NU NTB Murakib KH yang juga alumi Al-Mansuriah dari satu hari sebelum pertandingan. Karena Ketua PWNU NTB merupakan alumnus Pesantren Darul Quran Bengkel.

Shautus Salam

"Tidak akan menang Al-Mansuriah karena ibarat ibu sama anak," kata Abah Roket Sapaan akrabnya Murakib.

Menurut Abah Roket dengan nada canda, kalau pun menang, kita akan malu sama orang tua karena ibarat ibu dan anak menjadi berkah kalau pun kalah. (Hadi/Alhafiz K)

Shautus Salam

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Jadwal Kajian, Pesantren Shautus Salam

Selasa, 16 Januari 2018

Pesantren, Tempat Menempa Jadi Individu yang Baik

Way Kanan, Shautus Salam - Pesantren adalah tempat belajar yang mengubah perilaku hidup individu menjadi lebih baik. Pengakuan ini disampaikan Rudi Hartono, santri Assiddiqiyah 11 Gunung Labuhan Kabupaten Way Kanan yang berasal dari Kabupaten Tanggamus.

"Di tempat ini saya bisa mengubah perilaku saya menjadi lebih baik. Ilmu pengetahuan juga saya dapatkan, baik agama, sosial, maupun umum," kata dia saat diwawancarai santri Bimbingan Belajar Pasca Ujian Nasional (BPUN) GP Ansor Way Kanan di Gunung Labuhan, Jumat (20/5).

Pesantren, Tempat Menempa Jadi Individu yang Baik (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren, Tempat Menempa Jadi Individu yang Baik (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren, Tempat Menempa Jadi Individu yang Baik

Rudi lahir di Petai Kayu, Ulu Belu, Tanggamus 4 Juli 2000. Setelah menimba ilmu di pesantren asuhan Kiai Imam Murtadlo Sayuthi, anak kedua dari Jumari dan Siti Rumanah itu menyatakan manfaat dari belajar membaca Al-Quran.

"Dari belajar membaca Al-Quran saya mengerti akan panjang pendek huruf-huruf hijaiyah dan memahami hukum-hukum di dalamnya yang menurut saya sangat berat," kata dia lagi.

Shautus Salam

Rudi mengaku mengerti dan paham akan manfaat dalam belajar bahasa Arab dan Inggris. "Dua pelajaran ini menurut saya sangat mengasyikkan," tuturnya.

Shautus Salam

Kendati sesekali merasa sedih karena jauh dari orang tua, Rudi bahagia ketika santri-santri lain menghiburnya sehingga kerinduan terhadap orang tua tidak menjadi halangan.

"Saya ingin mendapat ilmu pengetahuan dan menuntut ilmu untuk menuju masa depan guna membahagiakan kedua orang tuanya. Maka di sinilah saya menjadikan pesantren sebagai tempat hidup," ujar Rudi.

Pesantren Assiddiqiyah tempat berlangsungnya Pesantren Kilat BPUN Ansor Way Kanan dipimpin Gatot Arifianto berada di Kampung Labuhan Jaya Kecamatan Gunung Labuhan. Dua sekolah, yakni SMP dan SMK Manbaul Ulum disediakan untuk belajar ilmu pengetahuan umum bagi para santri. (Nila Suryani/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam News, Jadwal Kajian Shautus Salam

Senin, 15 Januari 2018

UIN Walisongo Akan Bedah "Al-Quran Bukan Kitab Teror"

Semarang, Shautus Salam. Fakultas Ushuluddin dan Humaniora (FUHUM) UIN Walisongo Semarang akan menggelar diskusi dan bedah buku Al-Quran Bukan Kitab Teror Membangun Perdamaian Berbasis Al-Quran,? karya Wakil Katib PWNU Jateng, KH Imam Taufiq. Buku terbitan Bentang Pustaka ini akan dikaji pada Rabu, (20/4) besok mulai pukul 08.30 Wib bertempat di aula 1 kampus 1 UIN Walisongo Semarang.?

Selain penulis, akan hadir sebagai pembanding Munirul Ikhwan (pakar tafsir alumni Al-Azhar Mesir, Leiden University dan Freie Universitat Jerman) dan Irfan Amali (Founder Gerakan Peace Generation Jakarta).

?

UIN Walisongo Akan Bedah Al-Quran Bukan Kitab Teror (Sumber Gambar : Nu Online)
UIN Walisongo Akan Bedah Al-Quran Bukan Kitab Teror (Sumber Gambar : Nu Online)

UIN Walisongo Akan Bedah "Al-Quran Bukan Kitab Teror"

Diskusi ini merupakan agenda rutin yang diadakan FUHUM. Secara ringkas buku ini merupakan hasil karya ilmiah untuk meraih gelar doktor pada 2011. Terdapat pemangkasan disana-sini walaupun tak menghilangkan substansi. Hal ini untuk menyesuaikan pembaca agar mudah memahami buku ini.

?

"Diskusi rutin ini biasanya untuk internal FUHUM, kali ini diperluas," ungkap wakil Dekan I, Ahmad Musyafiq.

Shautus Salam

?

Tema buku ini diakui sesuai dengan kegelisahan bersama, yakni melawan faham radikalisme dan terorisme yang mengatasnamakan agama. Selain itu, diskusi ini juga sesuai dengan visi FUHUM untuk menjadi fakultas yang unggul dalam riset ilmu-ilmu pokok keislaman (ushuluddin) berbasis pada kesatuan ilmu pengetahuan untuk kemanusiaan dan peradaban.

Shautus Salam

?

"Dengan kegiatan ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan peran FUHUM di tengah-tengah masyarakat," harap pengurus Lembaga Dakwah PWNU Jateng ini.

?

Dalam kegiatan ini panitia menyediakan 100 eksemplar buku yang akan dibagikan secara gratis. (M. Zulfa/Zunus)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Meme Islam, Jadwal Kajian Shautus Salam

Sabtu, 30 Desember 2017

Gus Yaqut: Tiga Kelompok Ini Jadi Sumber Persoalan Bangsa

Jakarta, Shautus Salam

Ketua Umum GP Ansor, H Yaqut Cholil Qoumas mengungkapkan saat ini ada tiga kelompok yang mengganggu kehidupan berbangsa.

Gus Yaqut: Tiga Kelompok Ini Jadi Sumber Persoalan Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Yaqut: Tiga Kelompok Ini Jadi Sumber Persoalan Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Yaqut: Tiga Kelompok Ini Jadi Sumber Persoalan Bangsa

“Pertama adalah kelompok yang mempertanyakan kembali konsensus dasar negara, padahal para founding father kita telah menetapkan konsensus dasar tersebut sebagai landasan NKRI,” urai Gus Yaqut saat membuka diskusi Mengaji dan Mengkaji Islam, Medsos, dan Generasi Milenial di Gedung GP Ansor, Jakarta Pusat, Senin (25/9) malam.

Menurut Gus Yaqut, kelompok tersebut juga merasa paling Islam, dan menganggap masyarakat Indonesia harus menjadi warga yang seragam seperti pemikiran mereka.

Kelompok kedua, sambung Gus Yaqut, adalah menganggap kelompok lain yang tidak seperti mereka, bukan sebagai Islam.

Shautus Salam

“Saya pun mereka anggap tidak Muslim, karena mereka anggap saya berbeda,” kata Gus Yaqut.

Kehadiran kedua kelompok tersebut, diperparah oleh adanya kelompok ketiga, yaitu yang memilih diam saja padahal menyadari adanya kedua kelompok lainnya. 

“Saat kampanye gubernur dan wakil gubernur DKI yang lalu, misalnya ada jenazah masyarakat yang ditolak dan tidak dishalatkan bila memilih calon non Muslim. Tapi banyak yang diam saja karena berpikir bukan saya yang ditolak jenazahnya,” urai Gus Yaqut.

Ia mengimbau masyarakat agar berani menyuarakan penolakan terhadap ketiga kelompok itu.

Shautus Salam

“Harus berani bersuara untuk selamatkan Indonesia,” tegasnya. (Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Makam, Jadwal Kajian, Pesantren Shautus Salam

Minggu, 24 Desember 2017

Sesepuh NU dan Pesantren Benda Kerep Wafat

Jakarta, Shautus Salam?



Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Warga NU Jawa Barat, khususnya Cirebon, kehilangan salah seorang kiainya. Sesepuh Pesantren Benda Kerep, Cirebon KH Hasan Abu Bakar wafat pada Jumat 29 September 2017 pada pukul 08:20.

“Beliau kiai sufi, panutan kiai NU Ciayu Majakuning (Cirebon, Indramayu, Majalengka. Kuningan),” ungkap Nasrullah Affandi, salah seorang Pengasuh Pondok Pesantren Asy-Syafiiyyah Kedungwungu, Krangkeng, Indramayu ketika dikonfirmasi Shautus Salam tentang sosok Kiai Hasan.?

Sesepuh NU dan Pesantren Benda Kerep Wafat (Sumber Gambar : Nu Online)
Sesepuh NU dan Pesantren Benda Kerep Wafat (Sumber Gambar : Nu Online)

Sesepuh NU dan Pesantren Benda Kerep Wafat

Menurut dia, para tokoh nasional pernah bersilaturahim kepada Kiai Hasan, di antaranya Wakil Presiden JUsuf Kalla, dan pejabat lain seperti menteri dan gubernur.?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam

Shautus Salam Jadwal Kajian, Meme Islam Shautus Salam

Shautus Salam

Sabtu, 23 Desember 2017

Kemristekdikti Tawarkan Beasiswa BUDI untuk Belajar ke Luar Negeri

Jakarta, Shautus Salam

Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) kembali membuka kesempatan kepada dosen untuk melanjutkan pendidikan jenjang doktor atau S3 di luar negeri melalui Beasiswa Untuk Dosen Indonesia (BUDI LN).

"Dalam waktu satu pekan ke depan, kami membuka kesempatan untuk dosen-dosen mendaftar Program BUDI LN," ujar Dirjen Sumber Daya Iptek dan Dikti Kemristekdikti, Ali Ghufron Mukti di Jakarta, Rabu.

Kemristekdikti Tawarkan Beasiswa BUDI untuk Belajar ke Luar Negeri (Sumber Gambar : Nu Online)
Kemristekdikti Tawarkan Beasiswa BUDI untuk Belajar ke Luar Negeri (Sumber Gambar : Nu Online)

Kemristekdikti Tawarkan Beasiswa BUDI untuk Belajar ke Luar Negeri

Kemristekdikti kembali membuka kesempatan tersebut, setelah sebelumnya mengumumkan 168 penerima beasiswa BUDI LN.

Beasiswa tersebut diperuntukkan bagi dosen-dosen yang mengajar di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) maupun Perguruan Tinggi Swasta (PTS) asalkan telah memiliki Nomor Induk Dosen Nasional (NIDN) dan Nomor Induk Khusus (NIDK).?

"Pada tahun ini, kuota untuk BUDI LN sebanyak 300 beasiswa. Namun, dari hasil seleksi kuota tersebut tidak terpenuhi. Beberapa penyebabnya karena tidak memenuhi syarat dan ada juga pelamar yang sudah mendapatkan beasiswa dari sponsor lain," ujarnya.

Shautus Salam

Kuota BUDI LN untuk tahap kedua yakni 130 beasiswa.

Tahapan seleksi untuk BUDI LN, lanjut Ghufron, tidak terlalu sulit, meliputi seleksi administrasi dan wawancara, serta cakap dalam kemampuan Bahasa Inggris.

Beasiswa BUDI bertujuan untuk menyelesaikan permasalahan yang ada di pendidikan tinggi. Salah satu permasalahannya adalah ada sekitar 59.000 dosen yang masih bergelar sarjana.?

Padahal idealnya menurut UU Guru dan Dosen, tidak ada lagi dosen yang bergelar sarjana.

Shautus Salam

Beasiswa yang merupakan kerja sama Kemristekdikti dan Lembaga Pengelolaan Dana Pendidikan (LPDP) itu terdiri atas beasiswa dalam negeri dan luar negeri.?

Beasiswa itu diluncurkan oleh Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir pada peringatan Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2016.?

Kuota beasiswa yang dialokasikan yakni 2.000 beasiswa untuk dalam negeri dan 300 beasiswa luar negeri. Khusus untuk luar negeri, merupakan beasiswa program doktor atau S3. (Antara/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Jadwal Kajian, Halaqoh Shautus Salam

Jumat, 22 Desember 2017

Tahlilan Ibarat Wedang Jahe dari Sumur Al-Qur’an

Magetan, Shautus Salam. Kiai Sholikhin menjelaskan, kenduri tahlilan yang biasa dilakukan masyarakat pada hakikatnya adalah dzikir kepada Allah SWT. Dalam Al-Quran dzikir diperintahkkan melalui ayat “fadzkurullaha dzikron kasira”(perbanyaklah dzikir kepada Allah).

Ia menambahkan, dalam tahlilan juga ada bacaan tasbih yang diperintahkan Al-Quran pada ayat “fasabihu bukrota waashila”. Juga shalawat kepada Nabi Muhammad SAW, serta bacaan lain yang diperintahkan dalam Al Qur’an.

Tahlilan Ibarat Wedang Jahe dari Sumur Al-Qur’an (Sumber Gambar : Nu Online)
Tahlilan Ibarat Wedang Jahe dari Sumur Al-Qur’an (Sumber Gambar : Nu Online)

Tahlilan Ibarat Wedang Jahe dari Sumur Al-Qur’an

Meski demikian, Kiai Sholikhin menganjurkan agar warga masyarakat, khususnya orang NU juga harus menyadari imbauan secara langsung tentang tahlilan di dalam Al Qur’an tidak ada. ”Tidak ada ayat yang mengimbau secara langsung untuk tahlilan misal yaayuhaladzina amanu hallilu tahlillan, tidak ada,” tegasnya pada pengajian di halaman kator PCNU Magetan, Ahad (8/6).

Shautus Salam

Kemudian ia menukil perkataan kiai Mukhtar Syafa’at Blok Agung Banyuwangi yang mengumpamakan tahlilan dan Al Qur’an itu seperti wedang jahe dan air sumur.

Shautus Salam

“Kulo nante mireng dawuhe almaghfurlah kiai Mukhtar Syafa’at nyontoheke sing cocok antarane Al Qur’an karo tahlilan iku koyok banyu sumur karo wedang jahe. Wedang jahe itu tahlilan, Al Qur’an itu air sumur.”

Kiai asal Surabaya tersebut menjelaskan maksud perkataannya, “jika kamu hendak mencari wedang jahe di sumur maka tak akan ketemu sampai kapan pun, tapi sadarilah bahwa wedang jahe ini airnya berasal dari air sumur.”

Hal ini, tambah dia, sama ketika mencari perintah tahlilan di dalam Al Qur’an, maka tidak akan ketemu, namun harus diketahui bahwa isi bacaan tahlilan itu berasal dari perintah Al Qur’an. (?Ahmad Rosyidi/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Jadwal Kajian, Berita Shautus Salam

Selasa, 19 Desember 2017

Menyerap Pelajaran Penting Tahun Baru Hijriah

Khutbah I

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Menyerap Pelajaran Penting Tahun Baru Hijriah (Sumber Gambar : Nu Online)
Menyerap Pelajaran Penting Tahun Baru Hijriah (Sumber Gambar : Nu Online)

Menyerap Pelajaran Penting Tahun Baru Hijriah

? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ?.

Shautus Salam

Waktu mengalir terus. Dan “tanpa terasa” kita sampai kepada pergantian tahun hijriah untuk kesekian kalinya. Detik menuju menit, jam, hari, bulan, hingga tahun senantiasa bergerak maju yang berarti semakin bertambah pula usia manusia. Yang perlu menjadi catatan adalah: apakah bertambah pula keberkahan usia kita? Ini pertanyaan singkat dan hanya bisa dijawab dengan merefleksikan secara panjang-lebar jejak perjalan hidup kita yang sudah lewat.

Tahun baru hijriah yang kita peringati setiap tahun terkandung sejarah dan nilai-nilai yang terus relevan hingga kini. Nabi sendiri tak pernah menetapkan kapan tahun baru Islam dimulai. Begitu pula tidak dilakukan oleh khalifah pertama, Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq. Awal penanggalan itu resmi diputuskan pada era khalifah kedua, Sayyidina Umar bin Khathab, sahabat Nabi yang terkenal membuat banyak gebrakan selama memimpin umat Islam.

Shautus Salam

Keputusan itu diambil melalui jalan musyawarah. Semula muncul beberapa usulan, di antaranya bahwa tahun Islam dihitung mulai dari masa kelahiran Nabi Muhammad. Ini adalah usulan yang cukup rasional. Rasulullah adalah manusia luar biasa yang melakukan revolusi ke arah peradaban yang lebih baik masyarakat Arab waktu itu. Karena itu kelahiran beliau adalah monumen bagi kelahiran perdaban itu sendiri. Tahun baru Masehi pun dimulai dari masa kelahiran figur yang diyakini membawa perubahan besar, yakni Isa al-Masih.

Yang menarik, Umar bin Khatab menolak usulan ini. Singkat cerita, forum musyawarah menyepakati momen hijrah Nabi dari Makkah menuju Madinah sebagai awal penghitungan kalender Islam atau kalender qamariyah yang merujuk pada perputaran bulan (bukan matahari). Karenanya kelak dikenal dengan tahun hijriah yang berasal dari kata hijrah (migrasi, pindah).

Jamaah shalat Jum’at rahimakumullah,

Memilih momen hijrah daripada momen kelahiran Nabi yang dilakukan Umar dan para sahabat lainnya mengandung makna yang sangat dalam. Kelahiran yang dialami manusia adalah peristiwa alamiah yang tak bisa ditolaknya. Nabi Muhammad pun saat lahir tak serta merta diangkat menjadi nabi kecuali setelah berusia 40 tahun. Beliau kala itu hanyalah bayi putra Abdullah bin Abdul Muthalib. Hal ini berbeda dari hijrah yang mengandung tekad, semangat perjuangan, perencanaan, dan kerja keras ke arah tujuan yang jelas: terealisasinya nilai-nilai kemanusiaan universal yang berlandaskan asas ketuhanan dalam Islam (rahmatan lil ‘alamin).

Nabi memutuskan hijrah setelah melalui proses panjang selama 13 tahun di Makkah dengan berbagai tantangan dan jerih payahnya. Mula-mula beliau berdakwah secara tersembunyi, dimulai dari keluarga, orang-orang terdekat, dan pelan-pelan lalu kepada masyarakat luas secara terbuka. Selama itu, Rasulullah mendapat cukup banyak rintangan, mulai dari dicaci-maki, dilempar kotoran unta, kekerasan fisik, hingga percobaan pembunuhan. Semua dilalui dengan penuh kesabaran dan kebijaksanaan. Modal utama hingga hingga beliau berhasil menyadarkan sejumlah orang adalah akhlak mulia.

Rasulullah tampil sebagai agen perubahan di tengah masyarakat Arab yang begitu bejat. Asas tauhid melenceng jauh karena menganggap berhala sebagai Tuhan. Nilai-nilai kemanusiaan juga nyaris tak ada lantaran masih maraknya perbudakan, fanatisme suku, harta riba, penguburan hidup-hidup bayi perempuan, dan lain-lain. Rasulullah yang hendak mengubah cara pandang dan perilaku masyarakat jahiliyah mesti berhadapan para pembesar suku yang iri dan tamak kekuasaan, termasuk dari paman beliau sendiri, Abu Jahal dan Abu Lahab. Pengikut Islam bertambah, dan secara bersamaan bertambah pula tekanan dari musyrikin Quraisy. Hingga akhirnya atas perintah Allah, Nabi Muhammad bersama para sahabatnya berhijrah dari Makkah ke kota Yatsrib yang kelak dikenal dengan sebutan Madinah.

Perjalanan hijrah dilakukan di malam hari dengan cara sembunyi-sembunyi dan penuh kecemasan, menghindari kejaran kaum musyrikin Quraisy. Beruntung kala di kota Yatsrib, Rasulllah bersama sahabat-sahabatnya disambut positif penduduk setempat. Sebagian dari mereka mengenal Islam dan bahkan sudah beraiat kepada Nabi saat di Makkah. Di sinilah Nabi membangun peradaban Islam yang kokoh. Jumlah penganut semakin banyak, semangat persaudaraan antara Muhajirin dan Ansor dipupuk, dan kesepakatan-kesepakatan dengan kelompok di luar Islam diciptakan, demi terwujudnya kehidupan masyarakat yang damai.

Mula-mula yang dilakukan Nabi setelah hijrah adalah mengubah nama dari Yatsrib menjadi Madinah. Mengapa Madinah (yang sekarang dimaknai sebagai “kota”)? Secara bahasa madînah berarti tempat peradaban. Perubahan nama ini memberi pesan tentang pergeseran pola perjuangan Nabi yang semula di Makkah banyak dipusatkan pada penyadaran pribadi-pribadi, menuju dakwah dalam konteks sosial yang terorganisisasi dalam negara Madinah. Di sini konstitusi (mitsaq al-madinah atau Piagam Madinah) dibangun, struktur pemerintahan disusun, dan aturan-aturan Islam seputar muamalah (hubungan antarsesama) banyak dikeluarkan di sana. Tentang Piagam Madinah, Nabi menjadikannya sebagai titik temu dari masyarakat Madinah yang plural saat itu, yang meliputi orang Muslim, orang Yahudi, suku-suku di Madinah, dan lain-lain. Demikianlah hijrah Nabi yang monumental itu seperti mendapatkan momentum puncaknya, yakni terwujudnya masyarakat yang beradab.

Jamaah shalat Jum’at rahimakumullah,

Setidaknya ada dua poin yang perlu digarisbawahi dari ulasan tersebut. Pertama, tahun baru hijriah harus dimaknai dalam kerangka perjuangan Nabi dalam merealisasikan nilai-nilai kemanusiaan universal yang berlandaskan asas ketuhanan dalam Islam (rahmatan lil ‘alamin). Nabi sebagai sosok—termasuk momen kelahirannya—memang layak dihormati, tapi ada yang lebih penting lagi yakni spirit dan prestasi beliau sepanjang periode risalah. Dalam perjuangan itu ada ikhtiar, pengorbanan, keteguhan prinsip, keseriusan, kesabaran, dan keikhlasan. Yang terakhir ini menjadi sangat penting karena Rasulullah bersabda:

? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya: “Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena menginginkan kehidupan yang layak di dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan.”

Nabi dan para sahabatnya menunjukkan ketulusan yang luar biasa semata hanya untuk jalan Allah. Namun justru karena niat seperti inilah mereka mendapatkan banyak hal, termasuk persaudaraan, keluarga baru, hingga kekayaan dan kesejahteraan selama di Madinah. Keikhlasan dan kerja kerasa dalam membangun masyarakat berketuhanan sekaligus berkeadaban berbuah manis meskipun tantangan akan selalu ada. Inilah teladan yang berikan Nabi dari hasil berhijrah.

Poin kedua adalah kenyataan bahwa Nabi tidak membangun negara berdasarkan fanatisme kelompok atau suku. Rasulullah menginisasi terciptanya kesepakatan bersama kepada seluruh penduduk Yatsrib untuk kepentingan jaminan kebasan beragama, keamanan, penegakan akhlak mulia, dan persaudaraan antaranggota masyarakat. Tujuan dari kesepakatan tersebut masih relevan kita terapkan hingga sekarang. Inilah hijrah yang tak hanya bermakna secara harfiah “pindah tempat”, melainkan juga pindah orientasi: dari yang buruk menjadi yang baik, dari yang baik menjadi lebih baik. Dan Rasulullah meneladankan, perubahan tersebut tak hanya untuk dirinya sendiri tapi juga untuk masyarakat secara kolektif.Semoga pergantian tahun hijriah membawa keberkahan bagi umur kita dengan belajar dari peristiwa hijrah Rasulullah yang monumental lengkap dengan nilai-nilai positif di dalamnya. Wallahu a’lam.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.? ? ? ? ? ? ? ? ?



Khutbah II


? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ! ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?



Alif Budi Luhur
Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Tegal, Jadwal Kajian, Quote Shautus Salam

Sabtu, 16 Desember 2017

Bahas Putusan MK, Investasi Dana Haji, Izin Minimarket, Mbah Moen: Jangan Jatuhkan Pemerintah

Mataram, Shautus Salam - Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Maimoen Zubair (Mbah Moen) memberikan arahan kepada peserta bahtsul masail ad-diniyah al-waqi‘iyah Munas-Konbes NU 2017 untuk merumuskan secara bijak hasil bahtsul masail. Ia berpesan agar putusan musyawarah tidak berhadap-hadapan dengan kebijakan pemerintah yang bersifat mengikat.

Demikian disampaikan Mbah Moen pada forum bahtsul masail ad-diniyah al-waqi‘iyah Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama NU 2017 di Pesantren Darul Falah, Mataram, Jumat (24/11) pagi.

Bahas Putusan MK, Investasi Dana Haji, Izin Minimarket, Mbah Moen: Jangan Jatuhkan Pemerintah (Sumber Gambar : Nu Online)
Bahas Putusan MK, Investasi Dana Haji, Izin Minimarket, Mbah Moen: Jangan Jatuhkan Pemerintah (Sumber Gambar : Nu Online)

Bahas Putusan MK, Investasi Dana Haji, Izin Minimarket, Mbah Moen: Jangan Jatuhkan Pemerintah

“Saya minta jangan melawan hukum pemerintah. Tetapi kita hanya menjelaskan bahwa hukum Islam yang sebenarnya adalah begini. Jangan jatuhkan pemerintah,” kata Mbah Moen memberikan wejangannya sebelum musyawarah bahtsul masail ad-diniyah al-waqi‘iyah.

Sebagaimana diketahui, forum bahtsul masail ad-diniyah al-waqi‘iyah Munas NU 2017 ini membahas dari sudut pandang hukum syariat investasi dana haji untuk infrastruktur, status dan hak anak lahir di luar nikah, dan pemberian izin oleh pemerintah untuk perusahaan minimarket.

Shautus Salam

“Putusan kita jangan melawan pemerintah. Saya minta jawaban yang luwes. Bangsa kita ini adalah bangsa yang ditolong Allah,” kata Mbah Moen yang kerap mengulang pesannya di hadapan sedikitnya seratus peserta bahtsul masail waqi’iyah NU.

Shautus Salam

Menurutnya, NU harus menjaga hubungan baik dengan pemerintah. Kalau menyampaikan aspirasi, hendaklah dengan tenang.

“Apalagi NU. Ini sudah jelas. Saya khawatir kalau NU buruk hubungan dengan pemerintah, maka ke depannya Indonesia menjadi buruk. Tetapi kalau menciptakan kondusif untuk Indonesia, maka dari membenahi Indonesia, NU dapat memperbaiki dunia,” kata Mbah Moen. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Cerita, Jadwal Kajian Shautus Salam

Jumat, 15 Desember 2017

Ikrar Santri dan Resolusi Jihad Gelorakan Semangat Peserta Apel di Demak

Demak, Shautus Salam. Pelaksanaan Apel Santri di alun-alun kabupaten Demak, Kamis (22/10) disambut antusias para santri dan pengasuhnya. Peserta yang semula diprediksi 7000 santri dari 70 pesantren, ternyata mencapai angka 10000 santri dari 117 pesantren. Barisan santri berjubel karena dirapatkan agar semua santri bisa masuk dalam barisan sebagai peserta.

Mereka sengaja mendatangi alun-alun tanpa kendaraan, namun berjalan kaki dengan maksud mensyiarkan hari bersejarah ini kepada masyarakat. Kedatangan mereka mendadak membuat panitia berkoordinasi dengan Polres Demak untuk pengawalan mobil sebagai pengamanan perjalanan peserta menuju arena apel.

Ikrar Santri dan Resolusi Jihad Gelorakan Semangat Peserta Apel di Demak (Sumber Gambar : Nu Online)
Ikrar Santri dan Resolusi Jihad Gelorakan Semangat Peserta Apel di Demak (Sumber Gambar : Nu Online)

Ikrar Santri dan Resolusi Jihad Gelorakan Semangat Peserta Apel di Demak

Semangat santri tambah bergelora saat teks Resolusi Jihad yang dibacakan Ketua MWCNU Demak Kiai Yatin Ch (pengasuh pesantren At-Taslim Demak) ? dan ikrar santri oleh Taslim Arief dari pesantren Fathul Huda Sidorejo dengan pekik takbir “Allahu Akbar” usai dibacakan sehingga suara menggema terdengar di arena apel.

Shautus Salam

Berdasarkan pantauan Shautus Salam baik tamu undangan di tribun kehormatan maupun peserta apel terlihat mata mereka berkaca-kaca bahkan ada yang meneteskan air mata. Hal ini juga diakui Sekretaris MWCNU Kota Demak M Aly Murtadlo.

Shautus Salam

“Saya tidak menduga ternyata para pengasuh pesantren dan santrinya memiliki semangat begitu tinggi di mana para santri dan kiai mendapatkan apresiasi dengan penetapan Hari Santri,” kata Gus Ali di arena apel.

Dalam kesempatan yang sama pengasuh pesantren Barokatul Qur’an Megonten Kecamatan Kebon Agung Demak KH Ali Subhan AH merasa bangga dengan semangat santri yang begitu membara di mana pemerintah telah menetapkan Hari Santri sebagai wujud penghargaan pemerintah pada ulama, kiai, dan santri dalam membela dan menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Alhamdulillah sudah ada pengakuan dari pemerintah kiprah dan jasa para kiai dan santrinya dalam membela negara ini,” tutur Kiai Ali.

Dalam apel tampak hadir Kapolres Demak, Dandim, Kajari, Ketua MUI KH Moh Asyiq, Rais Syuriyah KH Alawy Mas’udi, selaku Pembina upacara Musytasar KH Moch Dachirin Said. Sementara do’a dipimpin Mustasyar NU KH Zainal Arifin Maksum. (A Shiddiq Sugiarto/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Bahtsul Masail, Jadwal Kajian Shautus Salam

Sabtu, 02 Desember 2017

Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan Bakal Dirikan Sekolah Tinggi Tasawuf

Padangpariaman, Shautus Salam . Pondok Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan, Pakandangan, Kecamatan VIan  Lingkungan, Kabupaten Padangpariaman  terus berupaya meningkatkan jenjang pendidikan, yakni berencana mendirikan Sekolah Tinggi Agama Islam bidang tasawuf. Saat ini sudah berjalan pendidikan kitab gundul selama tujuh tahun. Bahkan masih banyak yang sudah menamatkan pendidikan 7 tahun masih bertahan belajar di Pondok Pesantren Nurul Yaqin.

Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan Bakal Dirikan Sekolah Tinggi Tasawuf (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan Bakal Dirikan Sekolah Tinggi Tasawuf (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan Bakal Dirikan Sekolah Tinggi Tasawuf

Ketua Yayasan Pondok Pesantren Nurul Yaqin Idarussalam mengungkapkan hal itu pada muzakarah Alumni Pesantren Nurul Yaqin, Ahad (8/2/2015) di gedung Rusunawa Pondok Pesantren Nurul Yaqin. Muzakarah menghadirkan Direktur Pendidikan Tinggi Agama Islam (PTAI) Kementerian Agama RI Prof.Dr.Amsal Bakhtiar, MA, Bupati Padangpariaman Ali Mukhni. Juga tampak hadir Pembantu Rektor I  IAIN Imam Bonjol Padang DR. Syafruddin, Ketua MUI Padangpariaman Dr. Zainal Tuanku Mudo, Wakil Pimpinan Pondok Pesantren Almuhdil Karim Tuanku Bagindo, Kepala Kemenag Kabupaten Padangpariaman Masrican, alumni, pengurus dan majelis guru Pesantren Nurul Yaqin.

Menurut Idarussaliam, setiap tahun Pesantren Nurul Yaqin menghasilkan lulusan sekitar 50 orang tuanku setiap tahunnya. Dengan jumlah santri saat ini 706 orang dengan jumlah guru 103 orang. "Mencermati perkembangan masyarakat belakangan ini yang semakin kering dari nilai-nilai moral, akhlak, ketenangan batin (jiwa), tasawuf bakal menjadi perhatian masyarakat," kata Idarussalam yang juga Kepala BKD Kabupaten Padangpariaman ini.

Shautus Salam

Menanggapi laporan Idarussalam, Direktur PTAI Amsal menyambut baik ide pimpinan Pesantren Nurul Yaqin mendirikan sekolah tinggi tasawuf. Pertanyaannya, apakah masih perlu tasawuf di zaman modern. Dalam kajian keilmuan, zaman modern itu berkisar abad 16, 19 dan 20. Pada masa itu banyak muncul penemuan-penemuan.  Tahun 1700-an ditemukan mesin uap yang merubah peradaban kehidupan manusia.

"Sekarang kita hidup di zaman era informasi. Segalanya dilakukan dengan multimedia. Bayangkan di Jerman yang jarak 15.000 km atau setengah lingkaran bumi, yang ditempuh dengan 14 jam perjalanan dengan pesawat boing, dari sini (Indonesia)  dapat disaksikan pertandingan sepakbola diwaktu yang bersamaan. Dunia kini seperti tanpa batas lagi," kata Amsal.

Shautus Salam

Era informasi tersebut, sangat mempengaruhi perilaku, sikap dan pikir masyarakat. Jika diamati, makin banyak hancurnya moral masyarakat akibat era informasi. Sedangkan tasawuf memperkuat moral umat. "Tidak benar anggapan tasawuf (tarekat) menjadi penghambat kemajuan umat Islam," kata Amsal.

Menurut Amsal, penganut tasawuf bukan berhenti bekerja, menerima saja, berzikir semata setiap waktu. Hanya berzikir di masjid memohon rezeki dari Tuhan. Tidak begitu. Tapi tasawuf juga harus bekerja, harus berusaha. Orang yang ingin dapat hidayahpun juga harus usaha.

Pada abad 17 -20, terbukti tarekat-tarekat mampu menggerakkan rakyat (umat) mengusir bangsa kolonial yang menguasai bangsa yang menganut Islam. salah satu contoh di negara Aljazair, tarekat mampu mengusir kolonial Perancis, tutur Amsal.

Pondok Pesantren Nurul Yaqin ini terlihat cukup maju. Sehingga lulusannya bisa kuliah dimana saja. Mereka tidak  takut kuliah ke mana-mana. Tidak saja di Sumatera Barat, di pulau Jawa, tapi juga sudah ada yang keluar negeri. Di pesantren Nurul Yaqin ini menjadi gudang ilmu kitab kuning. Jadi memiliki kompetensi untuk mengembangkan disiplin ilmu tasawuf dan tarekat, tambah Amsal.

Bupati Padangpariamana Ali Mukhni menyebutkan, kehadiran Pesantren Nurul Yaqin membuktikan pentingnya menyatu antara ulama dengan pemerintah. Apa yang sudah dilakukan Pemerintah Kabupaten Padangpariaman terhadap Pesantren Nurul Yaqin merupakan bentuk perhatian terhadap kemajuan lembaga pendidikan agama ini. "Insya Allah kita akan upayakan tahun ini bisa mendapatkan dana sebesar Rp 8 – 10 miliar untuk pembangunan gedung baru seperti Rusunawa yang baru ditempati ini," kata Ali Mukhni menambahkan. (Armaidi Tanjung/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Jadwal Kajian Shautus Salam

Kamis, 03 Agustus 2017

Menengok Perkembangan Perpustakaan PBNU

Jakarta, Shautus Salam - Rabu, jam tiga sore Perpustakaan PBNU tampak lengang. Tampak dua pengunjung yang sedang membaca, Kepala Perpustakaan H Syatiri, dan pegawai yang sedang berkutat dengan kerjanya. Berbagai buku, dokumen-dokumen NU dan banom-banomnya memenuhi rak-rak buku yang berjajar, foto tokoh-tokoh NU terpasang ditembok dengan gagah.

Pelayanannya sangat ramah, pegawai perpustakaan yang dipimpin H Syatiri akan dengan senang hati membantu para pengunjung yang membutuhkan bahan-bahan tentang ke-NUan.

Menengok Perkembangan Perpustakaan PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Menengok Perkembangan Perpustakaan PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Menengok Perkembangan Perpustakaan PBNU

H Syatiri saat ditemui di ruangan yang dikelolanya, Rabu (8/2) mengatakan bahwa pengunjung yang datang ke perpustakaan adalah orang yang betul-betul mencari informasi tentang ke-Nuan di antaranya: peneliti, mahasiswa, dan ada wartawan. Karena menurutnya, sumber rujukan informasi tentang ke-Nuan yang cukup memadai dapat ditemukan di perpustakaan PBNU.

Shautus Salam

Sejak perpustakaan pindah secara fisik dari Kantor Lakpesdam NU di Menteng Dalam, Tebet, Jakarta Selatan pada tahun 2006, kini perkembangan koleksi perpustakaan sangat pesat. Dari 2500 koleksi tahun 2006, koleksi berkembang menjadi 9000 koleksi pada tahun 2012, dan pada tahun 2017 ini meningkat lagi mencapai 12000 koleksi.

Tapi peningkatan dan pengembangan Perpustakaan PBNU tidak berjalan mulus, karena persoalan terus menghampiri. Sebagaimana persoalan pendanaan yang diutarakannya.

Shautus Salam

Menurutnya, saat perpustakaan dikelola Lakpesdam, pendanaannya berasal dari Asia Foundation, tapi di tengah jalan bantuan untuk program pengembangan perpustakaan tersebut terhenti.

“Saya tidak tahu alasannya,” ujarnya.

Sejak pemutusan bantuan tersebut otomatis perpustakaan yang dikelolanya terkena dampak, tidak ada lagi biaya operasional.

“Sekarang belum bisa membeli buku baru secara rutin. Padahal buku-buku tentang ke-NUan, karya tokoh-tokoh banyak terbit setiap bulan,” imbuhnya.

Tapi H Syatiri tidak kehilangan akal demi berkembangnya Perpustakaan PBNU. Ia berinisiatif dengan cara memanfaatkan momen-momen tertentu, seperti menghadiri Kongres Muslimat November 2016 di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta dan pameran NU Expo di Surabaya Desember 2016.

Tidak berhenti di pameran dan acara-acara seremonial, ia juga menjalin hubungan secara personal dengan para penulis, penerbit, dan pengamat untuk terus mengembangkan perpustakaan PBNU.

“Banyak yang men-support, banyak yang membantu,” ujarnya.

Ia mengatakan, pihaknya masih punya obsesi mengembangkan perpustakaan untuk dijadikan pilot project. Hal tersebut supaya bisa dikembangkan di perpustakaan wilayah, dan cabang NU. Perpustakaan masing-masing daerah nantinya memiliki khazanah ke-Nuan daerahnya, karya-karya ulama daerahnya, dan juga sejarah NU daerahnya.

“Itu yang masih sangat minim sekali, dan yang harus digarap NU di daerah-daerah,” tegasnya. (Husni Sahal/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Bahtsul Masail, Kajian Islam, Jadwal Kajian Shautus Salam

Selasa, 21 Februari 2017

Kiriman yang Baik untuk Mayyit

Orang mati tidak mungkin bisa kembali lagi. Sebagaimana tidak mungkinnya orang mati menambah amal sebagai revisi atas amal yang telah diperbuatnya selama hidup. Karena sedari masa hidupnya telah diingatkan bahwa ‘ad-dunya mazra’atul akhirat’. itu artinya, masa hidup merupakan momentum penanaman dan masa mati adalah waktu untuk memanen. Maka janganlah mengharap untuk menambah amal ketika telah mati, nikmati saja hasil dari amal ketika hidup.

Diantara bentuk tanaman yang bisa diunduh saat mati adalah apa yang pernah dikatakan Rasulullah saw dalam hadits yang terkenal:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

"Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah segala amalannya, kecuali dari tiga perkara: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak shaleh yang mendoakannya". [HR. Muslim, Abu Dawud dan Nasa’i]

Kiriman yang Baik untuk Mayyit (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiriman yang Baik untuk Mayyit (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiriman yang Baik untuk Mayyit

Sesungguhnya tiga hal ini tidaklah bersifat paten apa adanya, tetapi dapat dimaknai sebagai sebuah inti yang dapat dikembangkan. Misalkan dalam konteks ilmu yang manfaat, sesungguhnya seseorang yang berilmu kemudian meninggal dan ilmunya itu telah disebarkan ke pada murid-muridnya maka ketika sang murid beramal, sang gurupun mendapat bagiannya. Demikian pula dengan amal jariyah dan anak shaleh.

?

Shautus Salam

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.. Dari Sufyan, ia dari seseorang yang pernah mendengar Anas bin Malik R.A. ia berkata. Rasulullah saw bersabda “sesungguhnya amal-amal mereka yang masih hidup itu bisa disodorkan kepada keluarga dan ayah-ayahnya yang sudah meninggal. Jika amal tersebut baik maka mereka merasa gembira dan memuji Allah swt. tapi jika amal tersebut buruk, maka mereka (para mayit) berdoa “ Ya Allah janganlah kau tutup usianya sebelum mereka Kau beri petunjuk”. Kemudian Rasulullah saw bersabda “ mayyit yang ada di dalam kubur itu juga merasa sakit, apabila ia disakiti. Seperti halnya ia masih hidup”.? “bagaimana caranya menyakitkan mayyit” demikian beliau ditanya. “apabila engkau bersengketa dengan seseorang, kemudian seseorang tersbut mencacimu dan mencaci kedua orang tuamu(yang sudah meninggal). Nah, sekarang mayyit yang sama sekali tidak merasa berdosa dan bersengketa , bersitegang urat saraf kepada seseorang serta tidak merasa menyakitkan hati tetangga, turut juga terkena cacian dari seseorang. Jadi dia merasa di sakitkan hatinya jika diperbuat jelek. Juga begitu sebaliknya, dia merasa bergembira ria andaikata diperbuat bagus”

Demikianlah sesungguhnya amal seseorang di dunia ini sangat erat hubungannya dengan nasib orang tua yang telah meninggal. Karena mereka turut merasakan akibat yang ditimbulkan dari kelakuan anak-anaknya yang hidup. (ulil)

Shautus Salam

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Warta, Jadwal Kajian Shautus Salam

Minggu, 08 November 2015

Sosialisasi Pengaturan Menstruasi Dorong Seks Bebas

Jakarta, Shautus Salam. Pimpinan Pusat (PP) Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) menolak upaya pemerintah yang akan melakukan sosialisasi pengaturan menstruasi (menstrual regulation/MR) pada para remaja. Meski sosialisasi itu dilakukan untuk mencegah kehamilan yang tidak diinginkan, upaya itu bisa mendorong berkembangnya budaya seks bebas.

“Kalau disampaikan, ya pada orang yang sudah berkeluarga, pada selected person (orang-orang tertentu, Red) atau selected area (kondisi lingkungan tertentu, Red). Tapi kalau diseminarkan, lebih banyak orang yang mungkin memahaminya secara luas daripada orang yang memahaminya secara proporsional,” kata Ketua Umum PP Muslimat NU Khofifah Indar Parawansa kepada Shautus Salam di Jakarta, Senin (2/4).

MR adalah sebuah tindakan untuk mencegah kehamilan yang tidak diinginkan dengan pemberian obat tertentu sehingga perempuan yang sudah telat masa menstruasinya bisa mendapatkan kembali haidnya.

Sosialisasi Pengaturan Menstruasi Dorong Seks Bebas (Sumber Gambar : Nu Online)
Sosialisasi Pengaturan Menstruasi Dorong Seks Bebas (Sumber Gambar : Nu Online)

Sosialisasi Pengaturan Menstruasi Dorong Seks Bebas

Mantan Menteri Pemberdayaan Perempuan itu berpendapat, sosialisasi dalam bentuk berbagai seminar dengan target kalangan remaja merupakan bentuk yang sangat halus dalam upaya mengembangkan pergaulan bebas di kalangan remaja. Selain MR, sejumlah lembaga swadaya masyarakat pendukungnya juga mengembangkan berbagai model pencegah kehamilan lainnya seperti penggunaan alat kontrasepsi darurat (morning pill) dan mendorong aborsi sebagai salah satu bentuk KB.

“Kalau itu disosialisasikan secara terus-menerus, gimana? Nanti kan timbul pandangan, Anda berzina tak apa-apa. Nanti kan bisa minum obat kalau sudah hamil.? Supaya kita bisa sama-sama menjaga, jangan sampai seks bebas itu akhirnya menjadi sesuatu yang biasa-biasa saja,” papar Khofifah, begitu panggilan akrabnya.

Shautus Salam

Upaya pengesahan aborsi saat itu juga tengah getol diperjuangkan oleh sekelompok yang sama dalam revisi Undang-undang (UU) Kesehatan. Dalam UU itu, aborsi boleh dilakukan dengan syarat yang berat, yakni jika kandungan mengganggu nyawa ibu dan jelas di situ ada suami. Pelanggaran bisa dikenai denda Rp 500 juta.

“Kalau alasannya daripada bunuh diri, kan repot. Daripada mereka melakukan aborsi yang tidak aman karena kehamilan yang tidak diinginkan? Akar masalahnya kan bukan di situ, tapi seks bebas itu. Ini disebabkan aturan-aturan mengenai pornografi, pornoaksi, ini yang belum kita tata,” terang Khofifah.

Karena keprihatinan itu, Muslimat NU mendesak pemerintah agar segera menyelesaikan pembahasan Rancangan Undang-undang Antipornografi dan Pornoaksi. Muslimat NU juga memberikan pembekalan kepada para juru dakwah agar mendapatkan informasi yang proporsional sehingga ketika mereka ketemu dengan tokoh masyarakat, bisa menjawab.

“Jangan malu mendukung RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi karena dianggap konservatif,” tandasnya. (mkf)

Shautus Salam

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Pondok Pesantren, Jadwal Kajian, PonPes Shautus Salam

Kamis, 30 April 2015

GP Ansor dan Fatayat NU Pagak Gelar Diklat Bersama

Malang, Shautus Salam. Pengurus Anak Cabang (PAC)? Ansor dan Fatayat Kecamatan Pagak, Kabupaten Malang menyelenggarakan Diklat Kepemimpinan Dasar (DKD) bersama yang bertempat di Aula Kantor Kecamatan Pagak, Sabtu (14/3). DKD angkatan IX untuk Ansor dan Latihan Kepemimpinan Dasar (LKD) untuk Fatayat ini dibuka langsung oleh Ketua Tanfidziyah MWC NU Pagak, H.Nurwasis.

Dalam sambutannya, Nurwasis mengatakan tentang semangat perjuangan kaum muda, dia mengutip perkataan sahabat Ali, jika punya gagasan maka sampaikannlah kepada pemuda karena pemuda mempunyai semangat untuk merealisasikan ide tersebut.

GP Ansor dan Fatayat NU Pagak Gelar Diklat Bersama (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor dan Fatayat NU Pagak Gelar Diklat Bersama (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor dan Fatayat NU Pagak Gelar Diklat Bersama

“Maka dari itu, apa yang dilakukan kader muda NU ini merupakan semangat pemuda Pagak untuk membangun Pagak lebih baik dan lebih maju,”? lanjutnya.

Shautus Salam

Sambutan juga disampaikan Ketua PC Fatayat Kabupaten Malang, Nur Mutiah yang memberikan penjelasan tentang LKD. Menurutnya, LKD merupakan pemanasan dengan kegiatan lanjutan di kemudian hari.

Shautus Salam

“Karena nanti bulan Agustus Fatayat Kabupaten Malang akan memulai kegiatan LKD secara bergiliran. Maka dari pada itu, diharapkan peserta LKD ini nanti bisa ikut serta dalam kegiatan LKD nanti,” tegasnya.

Sementara itu,? Komandan Satuan Koordinasi Wilayah Banser Jawa Timur, Dr. Umar Usman menjelaskan pentingnya diklat bagi para kader NU di mana pun berada. Hal itu sebagaimana dilaksanakan Banser Jawa Timur yang memang diinstruksikan untuk melaksanakan Diklat Banser disetiap PAC yang dipandu oleh Pengurus Cabang dengan pelaksanan tiap-tiap PAC.

“Menjaga keutuhan NKRI merupakan kewajiban kita. Karena sebagaimana yang telah disampaikan NU, Ansor dan Banser merupakan salah satu penggerak kemerdekaan negeri ini. Jika ada, siapapun dan berbentuk apapun yang ingin merongrong keutuhan NKRI, maka Ansor dan Banser menjadi Garda depan untuk melawannya. Karena bagi NU, NKRI Harga Mati dan sudah final,”? tegas dokter yang praktiknya di Kepanjen ini. (Mukhlis el-Fahri/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Jadwal Kajian Shautus Salam

Selasa, 04 Desember 2012

Kang Said Tak Persoalkan Ulama Berpolitik

Jakarta, Shautus Salam. Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj tak mempersoalkan ulama atau kiai yang aktif dalam politik praktis. Karena, menurutnya, tak tepat bila ulama dan kiai hanya mengurus pengajian, sehingga tak masuk dunia yang lain, termasuk dunia politik.

“Dunia politik itu sesuatu hal yang harus ada, dan dituntut dilakukan profesional. Tapi memang, para kiai yang terjun ke politik, harus paham betul soal politik,” kata Kang Said, begitu panggilan akrabnya, kepada wartawan pada acara Silaturahmi Pengasuh Pondok Pesantren se-Indonesia, Jumat (18/5) lalu, di Asrama haji Pondok Gede, Jakarta.

Kang Said Tak Persoalkan Ulama Berpolitik (Sumber Gambar : Nu Online)
Kang Said Tak Persoalkan Ulama Berpolitik (Sumber Gambar : Nu Online)

Kang Said Tak Persoalkan Ulama Berpolitik

Dalam acara yang digelar Rabithah Maahid Islamiyah (RMI) NU atau asosiasi ponpes NU se-Indonesia itu, Kang Said mengingatkan, sejak dulu para ulama pun terjun ke politik. Ia mencontohkan para ulama yang berpolitik pada zaman dulu, seperti KH Agus Salim, dan KH Wahid Hasyim, ayahanda KH Abdurrahmnan Wahid (Gus Dur).

“Buktinya, mereka banyak memberikan pencerahan kepada kita dalam bernegara,” tegasnya.

Menurutnya, NU tidak mempermasalahkan jika kiai berkiprah ke dunia politik, dan menganggapnya sebagai bagian sikap yang harus dihargai. “Asal mumpuni, ya silakan. Kalau ada kecenderungan ulama bakatnya ke politik, silakan saja,” katanya.

Shautus Salam

Kang Said juga mengingatkan, untuk terjun ke politik tak bisa sembarangan. “Kalau cuma paham ngaji, lalu terjun ke partai politik,  hanya akan jadi permainan eksternal maupun pimpinan partainya. Itu memang ada dan terjadi, meski tidak usah disebutkan namanya,” pungkasnya.

Sebelumnya, dalam kesempatan yang sama, Menteri Agama (Menag) RI Maftuh Basyuni mengritik para ulama.  Menurutnya, banyak ulama lebih memilih hijrah ke panggung politik daripada konsisten mengurusi pondok pesantren (ponpes). Menag mengaku cemas. Sebab, bila hal itu berlanjut terus, nasib ponpes akan terbengkalai.

Shautus Salam

“Ada sejumlah ulama yang lebih suka di dunia politik ketimbang menjadi pendidik. Padahal, di negeri ini kiai dan ulama identik sebagai pendidik yang mencetak generasi penerus,” tegas Menag disambut tepuk tangan sekitar 350 peserta acara.

“Bukannya tidak boleh para kiai dan ulama masuk ke dunia politik, tapi jangan meninggalkan dunia pesantren hingga terbengkalai,” ujar Menag mengingatkan.

Namun Maftuh tak hanya mengritik para ulama. Pada bagian lain dia mengaku bangga lantaran keberadaan pesantren, yang diasuh para ulama, semakin banyak di seluruh wilayah Indonesia.

Menurutnya, para ulama maupun pimpinan ponpes mau tidak mau harus siap menghadapi era globalisasi. Dia juga mengingatkan bahwa peran pesantren sebagai moral force harus dipertahankan. “Peran ulama sangat dibutuhkan dalam meluruskan langkah-langkah strategis,” ujarnya. (rif/nam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Jadwal Kajian Shautus Salam

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Shautus Salam sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Shautus Salam. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Shautus Salam dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock