Tampilkan postingan dengan label Kiai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kiai. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 Februari 2018

PBNU Seriusi Bidang Prioritas

Probolinggo,Shautus Salam. Semua pihak mengakui kebesaran dan potensi kekuatan Nahdlatul Ulama. Hanya saja karena kurang diorganisir dengan baik, kekuatan itu belum bisa maksimal. Namun untuk mengorganisir itu juga bukanlah pekerjaan gampang. “Karena kita terbiasa menjadi raja-raja kecil,” kata Ketua Umum PBNU KH A Hasyim Muzadi.

Kalimat itu disampaikan Hasyim di sela-sela deklarasi Forum Silaturahmi Pimpinan Daerah NU (Fospida NU) yang berlangsung di Hotel Bromo View, Probolinggo. Fospida adalah forum tempat berkumpul, berkomunikasi dan saling bekerja sama para kepala daerah yang berlatar belakang NU. Mereka adalah para bupati, wakil bupati, walikota dan wakil walikota.

PBNU Seriusi Bidang Prioritas (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Seriusi Bidang Prioritas (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Seriusi Bidang Prioritas

Sabtu, 24 Februari 2018

Temuan Penelitian Layanan Pendidikan Agama di SMAN 1 Denpasar

Jakarta, Shautus Salam. Masyarakat Bali dan khususnya kota Denpasar yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kebersamaan dan kebangsaan, tentu dapat menunjukkan sikap dan perilaku toleran yang dapat menjadi contoh dan suri teladan dalam kebidupan bermasyarakat dan berbangsa. 

Untuk itu, penelitian di SMAN 1 kota Denpasar dikemukakan sebagai fakta dan bukti adanya apresiasi dan dukungan pemerintah daerah, dan masyarakat (komite sekolah) dalam menjunjung tinggi nilai toleransi. 

Temuan Penelitian Layanan Pendidikan Agama di SMAN 1 Denpasar (Sumber Gambar : Nu Online)
Temuan Penelitian Layanan Pendidikan Agama di SMAN 1 Denpasar (Sumber Gambar : Nu Online)

Temuan Penelitian Layanan Pendidikan Agama di SMAN 1 Denpasar

Hasil penelitian Balitbang Diklat Kemenag 2016 menemukan layanan pendidikan agama di SMAN 1 Denpasar dilaksanakan sesuai dengan agama siswa. Setiap siswa mendapatkan pelajaran agama dari guru, dan buku sumber yang sesuai dengan agama siswa. Untuk kelas atau rombongan belajar dengan jumlah siswa yang sedikit, maka proses pembelajaran digabung dengan siswa pada kelas lainnya. 

Bahkan pada praktik  ibadah dan pembelajaran dapat dilakukan penggabungan dengan sekolah lain. Pelaksanaan penggabungan pembelajaran agama yang digabung dengan siswa seagama pada sekolah lain di SMAN 1 Denpasar dilakukan oleh siswa agama Katholik dan agama Buddha. 

Rumah/tempat ibadah dalam bentuk bangunan yang berdiri di dalam komplek sekolah adalah Pura. Sementera rumah ibadah agama lain tidak tersedia. Untuk melayani pelaksanaan ibadah siswa agama lain maka disiapkan aula. Tempat ini yang biasa digunakan oleh siswa-siswi dan karyawan muslim untuk melaksanakan ibadah sholat. 

Perayaan hari besar agama dilaksanakan secara bebas, dalam artian bahwa setiap siswa dapat/diperbolehkan bahkan difasilitasi oleh sekolah untuk merayakan peringatan hari besar agamanya. Karja sama antar siswa beda agama juga terlihat dalam perayaan hari besar umat beragama tersebut. 

Shautus Salam

Faktor paling utama yang mendukung penyelenggaraan pendidikan agama sesuai agama siswa adalah Kepala Sekolah dan Komite Sekolah. Sebagai pimpinan lembaga dan memiliki kewenangan, kedua lembaga tersebut berusaha untuk memenuhi ketersediaan guru agama di sekolah SMAN 1 Denpasar. Fungsi kantor Kementerian Agama kota Denpasar untuk memenuhi ketersediaan tenaga pengajar, dan buku-buku agama masih belum terlaksana maksimal.

Secara umum, penerima manfaat dari penelitian ini adalah seluruh pemangku kepentingan pendidikan khususnya masyarakat dan lembaga penyelenggara pendidikan di kota Denpasar pada khususnya. Melalui penelitian ini masyarakat dapat mengetahui salah satu profil lembaga pendidikan pada daerah mayoritas Hindu yang memiliki perhatian dan kepedulian untuk memberikan layanan pendidikan agama kepada siswanya sesuai agama yang dianutnya. 

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memperkuat kesan masyarakat Bali, dan Denpasar pada khususnya sebagai bagian dari masyarakat Indonesia yang menjunjung tinggi nilai-nilai kebhinnekaan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. (Kendi Setiawan)

Shautus Salam

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Ulama, Nasional, Kiai Shautus Salam

Selasa, 06 Februari 2018

Halal Bihalal, Alumni Pelajar NU Tasik Pikirkan Kader

Tasikmalaya, Shautus Salam - Majelis Alumni Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (MA IPNU) Kota Tasikmalaya menggelar Halal Bihalal, Ahad (17/7). Sebanyak 30 orang hadirin ini melakukan restrukturisasi kepengurusan presedium MA IPNU Kota Tasikmalaya.

Kepengurusan MA IPNU ini diharapkan mampu mendistribusikan para kader, anggota, atau junior-juniornya sesuai kemampuan dan keahliannya pascapengabdian mereka di IPNU.

Halal Bihalal, Alumni Pelajar NU Tasik Pikirkan Kader (Sumber Gambar : Nu Online)
Halal Bihalal, Alumni Pelajar NU Tasik Pikirkan Kader (Sumber Gambar : Nu Online)

Halal Bihalal, Alumni Pelajar NU Tasik Pikirkan Kader

Menurut Ketua Pelaksana Halal Bihalal MA IPNU Aan Ahmad Farhan, hal ini merupakan agenda pertama yang dilakukan MA IPNU Kota Tasikmalaya. Meskipun yang hadir sedikit, gagasan ini harus menjadi gerakan untuk ke depannya.

“Acara halal bihalal ini bukan sekadar untuk saling memaafkan, akan tetapi momentum di mana para alumni dapat bertatap muka langsung, alumni dan pengurus, alumni dan kader serta anggota IPNU,” kata Aan.

Shautus Salam

Sementara Ketua Presedium MA IPNU Kota Tasikmalaya KH Didi Hudaya berharap gagasan ini harus menjadi gerakan MA IPNU untuk ke depannya, dan harus berlangsung di masa mendatang. Dengan begitu keterkaitan alumni, pengurus, kader dan anggota terjalin dengan kuat dan erat.

Shautus Salam

“Kita itu jangan menjadi aktivis curriculum vitae saja, tetapi harus menjadi penggagas dan penggerak serta pemecah suatu permasalahan,” kata Kiai Didi.

Pada kesempatan ini ia berharap para kader NU menjaga dan mencintai serta melestarikan tradisi-tradisi yang sudah diwariskan oleh para kiai NU terdahulu. (Agum Gumilar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Ulama, Nasional, Kiai Shautus Salam

NU ‘Diserang’ GAM

Banyuasin, Shautus Salam

Nahdlatul Ulama (NU) harus benar-benar waspada. Karena, organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di Indonesia itu, saat ini sedang diserang GAM, kata Pengasuh Pondok Pesantren Asshiddiqiyah, Jakarta, KH Nur Muhammad Iskandar.



NU ‘Diserang’ GAM (Sumber Gambar : Nu Online)
NU ‘Diserang’ GAM (Sumber Gambar : Nu Online)

NU ‘Diserang’ GAM

Namun, menurutnya, GAM yang dimaksud bukanlah kelompok separatis Gerakan Aceh Merdeka, melainkan Gerakan Anti-Maulid. Gerakan yang dipelopori kelompok Islam garis keras itu, katanya, selalu berusaha menfitnah NU sebagai ahli bid’ah (mengada-ada dalam beribadah) dan khurafat (khayalan).

Kiai Nur, demikian panggilan akrabnya, mengatakan hal itu di hadapan para peserta Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional VI Antar-Pondok Pesantren se-Indonesia di Pondok Pesantren Sabilul Hasanah, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, Rabu (5/9) malam.

Shautus Salam

Ia menjelaskan, kelompok Islam garis keras itu tak henti-hentinya ‘mengkampanyekan’ bahwa ajaran dan amalan-amalan ibadah yang sudah menjadi tradisi NU, seperti, peringatan Maulid Nabi, tahlilan, ziarah kubur, dan sebagainya, adalah sesat karena dinilai tidak sesuai dengan ajaran Rasulullah Muhammad.

Shautus Salam

“Mengapa tahlil, Maulid Nabi, ziarah kubur yang selalu dipersoalkan? Padahal masih banyak persoalan yang dihadapi bangsa ini yang lebih patut dan harus dipersoalkan, seperti penyakit korupsi, masalah kemiskinan, dan lain-lain. Mengapa itu tidak dipersoalkan,” kata Kiai Nur lantang.

Tak hanya itu. Menurutnya, pesantren pun, oleh kelompok Islam garis keras itu, kerap disebut-sebut sebagai tempat penyebaran ajaran-ajaran yang dianggap bid’ah dan sesat tersebut.

“Ada upaya de-pesantren-isasi dan de-NU-isasi. Padahal, sejak jauh sebelum Republik ini berdiri hingga saat ini, NU dan pesantren selalu tampil mengambil posisi terdepan dalam menjaga negara ini,” terang Kiai Nur.

Penilaian-penilaian bernada negatif itu, ujarnya, terasa begitu menyakitkan bagi NU. Namun demikian, NU tak pernah memberikan reaksi secara berlebihan, apalagi menggunakan cara-cara kekerasan, dalam menghadapinya. Hal itu, katanya, karena NU dikenal moderat sebagai prinsip dari nilai-nilai Ahlussunnah Wal Jamaah.

“Islam Ahlussunnah Wal Jamaah merupakan benteng yang paling kokoh, benteng yang paling kuat bagi Islam, terutama Islam Indonesia. Islam Ahlussunnah Wal Jamaah, seperti Islam yang berkembang di Asia dan terbesar di Indonesia, merupakan Islam yang rasional, tidak emosional,” terangnya. (rif)Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Doa, Kiai Shautus Salam

Selasa, 30 Januari 2018

Produsen Panci Berlafadz "Alhamdu Allah" Minta Maaf

Sidoarjo, Shautus Salam

General Manager (GM) PT Pektroindo Anugerah Sukses Abadi, produsen panci Paramount yang berlafadz "Alhamdu Allah", Ciputra Alim meminta maaf kepada seluruh umat Islam terkait produknya yang menjadi polemik, karena bertempelkan stiker berlafadz "Alhamdu Allah". Ia juga mengaku khilaf atas kejadian tersebut.

Produsen Panci Berlafadz Alhamdu Allah Minta Maaf (Sumber Gambar : Nu Online)
Produsen Panci Berlafadz Alhamdu Allah Minta Maaf (Sumber Gambar : Nu Online)

Produsen Panci Berlafadz "Alhamdu Allah" Minta Maaf

Ciputra mengaku, tidak ada maksud sama sekali melakukan penistaan agama dalam produk panci yang diproduksi massal tersebut. Namun, pihak pabrik sebenarnya hanya ingin menempelkan stiker tersebut sebagai wujud rasa syukur, setelah hampir 12 tahun tidak berproduksi dan akhirnya bisa produksi kembali pada akhir 2015.

"Sejak kisaran tahun 2003, pabrik panci tidak berproduksi dan baru memulai produksi kembali kisaran akhir 2015. Atas dasar itu, sejumlah karyawan yang Muslim mengusulkan agar menyertakan kata "Alhamdulillah" di stiker produk panci Paramount. Ungkapan itu, sebagai bentuk syukur karyawan yang bisa bekerja kembali di perusahaan panci," kata Ciputra sembari menceritakan asal usulnya kepada wartawan saat ditemui di kantornya Jalan Gajah Mada, Desa Kedungturi, Kecamatan Taman, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, Selasa (26/1).

Namun tak disangka, lanjut dia, niatan itu justru menimbulkan polemik di kalangan umat Islam. Apalagi, kata yang dimaksud "Alhamdulillah" itu ternyata hurufnya kurang dan menjadi "Alhamdu Allah".?

"Kami atas nama perusahaan meminta maaf dan berjanji akan mengganti stiker lafadz ? "Alhamdu Allah" dengan stiker baru tanpa tulisan Arab. Selain itu, kami juga akan menarik produk yang beredar di pasaran," ucapnya.

Shautus Salam

Seperti diberitakan sebelumnya, bahwa produk panci Paramount yang belafadz "Alhamdu Allah" itu ditemukan di sejumlah wilayah, antara lain Pasuruan dan Jember. Temuan lafadz Allah itu, spontan membuat sebagian umat Islam merasa kecewa. Bahkan, MUI Pasuruan dan sebuah ormas Islam di Pasuruan sempat melaporkan polemik itu ke Mapolres Pasuruan. MUI dan salah satu ormas Islam tersebut menyebutkan, pencatuman lafadz "Alhamdu Allah" di barang yang tidak semestinya bisa dianggap sebagai penistaan agama. (Moh Kholidun/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Kiai, Bahtsul Masail, AlaSantri Shautus Salam

Shautus Salam

Senin, 22 Januari 2018

Ketum PBNU: NU Merawat Agama dengan Tradisi

Jakarta,Shautus Salam

Fenomena keagamaan mutakhir, menunjukkan gejala semakin mengerasnya kelompok Muslim radikal. Kelompok-kelompok Islam yang melakukan aksi politik dengan simbol agama, mengabaikan tradisi-tradisi yang selama ini menjadi strategi dakwah.

Ketum PBNU: NU Merawat Agama dengan Tradisi (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketum PBNU: NU Merawat Agama dengan Tradisi (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketum PBNU: NU Merawat Agama dengan Tradisi

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, KH Said Aqil Siroj mengungkapkan betapa pergerakan ormas-ormas Islam yang menyingkirkan tradisi, melupakan sejarah panjang dakwah Islam di negeri ini.

Hal ini, disampaikan Kiai Said, menjelang Peringatan Harlah Nahdlatul Ulama, di kantor PBNU, Jakarta, pada Sabtu (28/01/2017). Peringatan Harlah NU akan diselenggarakan pada 30-31 Januari 2017.

Shautus Salam

"Mereka yang berdakwah dengan kekerasan dan memusuhi seni budaya, lupa dengan sejarah hadirnya Islam di bumi Nusantara. Dakwah Wali Songo dengan cara damai, menggunakan rasa dan seni. Medianya berupa wayang dan suluk-suluk yang menguatkan rasa," ungkap Kiai Said.

Menurut Kiai Said, memahami cara dakwah Wali Songo, harus bertahap hingga komprehensif. "Dakwah para wali itu merangkul, bukan memukul. Misalnya, mereka yang suka slametan diajak slametan dulu, yang kemudian diisi dengan ritual Islam, membaca ayat-ayat Al-Quran dan shalawat. Wayang juga sama, ada pesan tentang syahadat dan ajaran Islam," jelas Kiai Said.

Shautus Salam

Kiai Said berpesan, agar pendakwah Islam haruslah belajar dari Wali Songo. "Strategi Wali Songo dan kiai-kiai pesantren berhasil mengislamkan orang kafir. Ini sudah terbukti. Bukan malah mengkafir-kafirkan orang," terang Kiai Said.

Dalam uraiannya, Kiai Said menjelaskan tentang pentingnya fiqih, akhlak dan tasawuf sebagai rangkaian yang tidak bisa putus.

Menurut Kiai Said, dengan memahami hukum Islam, teladan sikap Rasulullah dan puncak spiritualitas, maka Islam akan menjadi agama yang sejuk dan ramah, bukan agama yang mengerikan. (Red: Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Kiai Shautus Salam

Senin, 08 Januari 2018

PBNU Instruksikan Nahdliyin Baca Qunut Nazilah dan Hizib Nashor untuk Palestina

Jakarta, Shautus Salam. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) terus melakukan upaya solidaritas, baik lahir maupun batin untuk Palestina. Setelah menggalang dukungan umat Islam Indonesia, NU mengintruksikan kepada Nahdliyin dan bangsa Indonesia untuk membaca Qunut Nazilah dan Hizin Nashor sebagai bentuk solidaritas untuk Palestina.

Instruksi yang tertuang dalam surat Nomor 1693/C.I.34/12/2017 pada Selasa (19/12/2017) ini sebagai bentuk ikhtiar lanjutan setelah kecaman, penolakan, dan diplomasi dari sejumlah negara tidak direspon baik oleh Amerika Serikat.

PBNU Instruksikan Nahdliyin Baca Qunut Nazilah dan Hizib Nashor untuk Palestina (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Instruksikan Nahdliyin Baca Qunut Nazilah dan Hizib Nashor untuk Palestina (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Instruksikan Nahdliyin Baca Qunut Nazilah dan Hizib Nashor untuk Palestina

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj menegaskan, ikhtiar batin ini harus dilakukan setelah mencermati perkembangan terkahir terkait isu Palestina.

“Dimana protes negara-negara di dunia belum mampu menghasilkan kebijakan unilateral Amerika Serikat,” ujar Kiai Said, Selasa (19/12) di Jakarta.

Maka dari itu, sambung Pengasuh Pondok Pesantren Al-Tsaqafah Ciganjur Jakarta Selatan ini, PBNU menginstruksikan kepada seluruh kepengurusan NU di semua tingkatan dan kepada pimpinan pondok pesantren, masjid, dan musholla untuk membacakan qunut nazilah dan hizib nashor.

Shautus Salam

“Ditujukan sebagai wujud solidaritas perjuangan warga Palestina,” tandas Kiai Said. (Fathoni)



Shautus Salam







Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Khutbah, Kiai Shautus Salam

Minggu, 31 Desember 2017

Kang Abik Berbagi Kiat Tulis Novel dengan Santri Jombang

Jombang, Shautus Salam - Kehadiran novelis kondang Habiburrahman El-Shirazy (Kang Abik) di Pesantren Tebuireng Jombang, disambut antusias lebih dari seribu santri yang memenuhi Masjid Ulul Albab Tebuireng, Jumat (28/4) sore. Dalam peluncuran novel terbaru berjudul Bidadari Bermata Bening, Kang Abik sejak awal penuturannya berhasil memukau peserta yang berulangkali memberikan aplaus.

Selain mengulas isi novel terbarunya, alumnus Universitas Al-Azhar Mesir ini juga memotivasi peserta agar membuat karya yang menarik minat pembaca. Menurut dia, menjadi penulis membutuhkan proses panjang, yang dimulai dari hal-hal kecil. Pria kelahiran Semarang ini pun bercerita, saat mulai belajar menulis di majalah dinding (mading), tidak jarang dia dipandang sebelah mata oleh teman-temannya.

Kang Abik Berbagi Kiat Tulis Novel dengan Santri Jombang (Sumber Gambar : Nu Online)
Kang Abik Berbagi Kiat Tulis Novel dengan Santri Jombang (Sumber Gambar : Nu Online)

Kang Abik Berbagi Kiat Tulis Novel dengan Santri Jombang

"Lakukan apa yang saya lakukan dulu. Tidak ada penulis yang sukses jika tidak diawali dari satu kata, dua kata. Tidak ada penulis yang langsung sukses. Saya pun mulai menulis dari majalah dinding," ujarnya.

Selain itu, Kang Abik menuturkan bahwa penguasaan data untuk menyusun alur cerita yang menarik dan menggungah, juga sangat penting. "Data itu sangat penting. Saya menulis (novel) ini pakai riset," ungkapnya.

Shautus Salam

Shautus Salam

Agar menarik, cerita apa pun harus dibumbui konflik. "Bisa hard conflict, bisa soft conflict, atau inner conflict (konflik batin). Dan harus ada sudut pandang pengarang," imbuh alumnus Madrasah Aliyah Program Khusus (MAPK) Surakarta ini.

Selain berbagi kiat menjadi penulis, Kang Abik juga bercerita bahwa ibunya dulu sempat menginginkan dia belajar di Pesantren Tebuireng. Karena itu, meski belum pernah berkunjung, dia mengaku sudah jatuh cinta pada pesantren yang didirikan Hadlratus Syekh KHM Hasyim Asyari ini. "Tebuireng adalah tempat yang dulu diinginkan ibu saya untuk mondok," imbuhnya.

Dalam kesempatan tersebut, Wakil Pengasuh Pesantren Tebuireng KH Abdul Hakim Mahfudz memuji novel ke-15 Kang Abik ini. "Ini bukan sekadar novel. Tapi lebih kepada keintiman kehidupan seorang santri dan cita-cita yang diperjuangkan. Ada unsur ibadah dan iman yang dimunculkan, sebagai kekayaan religi pesantren," ucap pria yang akrab dipanggil Gus Kikin ini.

Gus Kikin memuji Kang Abik sebagai santri yang mampu merefleksikan dunia pesantren ke dalam bentuk tekstual yang indah dan kaya akan simbol sastra. "Tidak melulu menghadirkan hal yang berbau cinta dalam novel, tetapi membubuhkan pesan bernuansa religi di dalam setiap karya-karyanya," puji bapak dua anak ini.

Dalam kesempatan tersebut, Gus Kikin juga berpesan agar para santri memilih jenis buku bacaannya. Menurut dia, jika para santri gemar membaca novel Barat, secara tidak langsung watak dan perilakunya akan cenderung meniru budaya mereka.

Menurut cicit KHM Hasyim Asyari itu, kalau santri membaca komik Superman, misalnya, bisa jadi dia akan berkhayal bisa terbang. Kalau yang dibaca buku karya JK. Rowling, dia juga akan berimajinasi menaiki sapu terbang.

"Tapi, jika ada novel yang berkualitas seperti ini, bisa jadi orang asing akan termotivasi dengan budaya Indonesia dan tertarik untuk mempelajari. Khususnya dunia kepesantrenan," pungkasnya. (Syamsul Arifin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Hikmah, Kiai Shautus Salam

Rabu, 27 Desember 2017

22 Titik Kegiatan Safari Ramadhan PCNU Pringsewu Sukses Dilaksanakan

Pringsewu, Shautus Salam. Pada Ramadhan 1437 H ini PCNU Kabupaten Pringsewu berhasil menggelar Safari Ramadhan di 22 lokasi di 9 Kecamatan yang ada di Bumi Secancanan Bersenyum Manis ini. Hal tersebut disampaikan Ketua Tanfidziyyah PCNU Pringsewu H. Taufiqurrahim dalam Acara Penutupan Rangkaian Safari Ramadhan yang dipusatkan di Gedung NU Pringsewu, Ahad (4/7).

22 Titik Kegiatan Safari Ramadhan PCNU Pringsewu Sukses Dilaksanakan (Sumber Gambar : Nu Online)
22 Titik Kegiatan Safari Ramadhan PCNU Pringsewu Sukses Dilaksanakan (Sumber Gambar : Nu Online)

22 Titik Kegiatan Safari Ramadhan PCNU Pringsewu Sukses Dilaksanakan

Taufiq menjelaskan bahwa Safari Ramadhan pada tahun ini difokuskan untuk penguatan organisasi dan amaliyyah Ahlussunnah wal Jamaah bagi para pengurus NU di tingkatan MWC Kecamatan dan Ranting Pekon . "Kegiatan ini terdiri dari dua Gelombang. Gelombang pertama untuk jajaran pengurus Tanfidziyyah dan Gelombang kedua untuk Syuriyah," katanya.

Khusus pada gelombang Kedua yang dilaksanakan mulai pertengahan Ramadhan, Materi safari Ramadhan diisi juga dengan Sosialisasi Lembaga Amil Zakat Infaq Shadaqah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) Kabupaten Pringsewu. "Dalam sosialisasi tersebut juga dilakukan tanya jawab seputar Fiqh Zakat yang dipandu oleh Lembaga Bahtsul Masail PWNU Lampung," ujarnya.

Selain Safari di 9 MWC NU Kecamatan, PCNU juga mengadakan Jihad Sore atau Ngaji Ahad Sore yang merupakan rangkaian dari Safari Ramadhan di Gedung NU sebanyak 4 kali. "Jihad sore ini merupakan Kegiatan Rutin yang biasanya dilakukan pada pagi hari. Khusus pada Ramadhan kita laksanakan pada sore hari yang dilanjutkan dengan Buka Puasa Bersama dan Shalat Maghrib Berjamaah," tambahnya.

Taufiq berharap Kegiatan ini akan meningkatkan pemahaman dan kesemangatan para pengurus dilevel MWC dan Ranting untuk terus berkhidmah di Jamiyyah Nahdlatul Ulama. " Kita juga berharap Kegiatan Safari Ramadhan pada tahun mendatang akan lebih berkualitas sehingga berpengaruh signifikan terhadap perkembangan organisasi," harapnya.

Shautus Salam

Hadir pada acara penutupan tersebut Mustasyar PCNU Pringsewu KH Sujadi, Ketua MUI Kabupaten Pringsewu KH Hambali Segenap Pengurus PCNU, MWC NU, Badan Otonom dan Lembaga se Kabupaten Pringsewu. (Muhammad Faizin/Fathoni)

Shautus Salam

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam IMNU, Santri, Kiai Shautus Salam

Kamis, 21 Desember 2017

Calhaj asal NTB Melahirkan di Madinah

Jakarta, Shautus Salam. Seorang jamaah haji, Fitri Prihartini bin M. Tohri (23) asal Sukaraja Ampenan Mataram, NTB melahirkan bayi laki-laki dengan berat 2,8 kg di Rumah sakit Syafa Madinah, pada Senin malam (2/10) waktu setempat.



Calhaj asal NTB Melahirkan di Madinah (Sumber Gambar : Nu Online)
Calhaj asal NTB Melahirkan di Madinah (Sumber Gambar : Nu Online)

Calhaj asal NTB Melahirkan di Madinah

Kehamilan Fitri tidak diketahui oleh Ketua Kloter 42 embarkasi Surabaya Minggrehamin Yusuf dan dokter kloter dr Siti Nur Azizah. Mereka pun terkejut ketika jamaah di kloternya yang berhaji tanpa didampingi suaminya itu tiba-tiba melahirkan.

Jangan Tergiur dengan Aliran Agamis Materialistis

Pringsewu, Shautus Salam. Saat menyampaikan materi pada Ngaji Ahad Pagi atau Jihad Pagi di Gedung NU Kabupaten Pringsewu, Ahad (16/10), Ketua PCNU Kabupaten Bogor Jawa Barat KH. Romdhon mengatakan bahwa saat ini banyak terjadi kemiskinan aqidah ditengah masyarakat.

Kang Doni, begitu Ia biasa disapa mengatakan bahwa fenomena semakin banyaknya orang yang memiliki sifat hedonis dan materialistis merupakan tanda sudah terjadinya kerapuhan mental spiritual.

Jangan Tergiur dengan Aliran Agamis Materialistis (Sumber Gambar : Nu Online)
Jangan Tergiur dengan Aliran Agamis Materialistis (Sumber Gambar : Nu Online)

Jangan Tergiur dengan Aliran Agamis Materialistis

Menurut Alumni Pesantren Cipasung Tasikmalaya dan Ciganjur Jakarta ini, banyak orang tergiur dengan iming-iming materi yang berkedok padepokan, Majelis taklim dan sejenisnya. Orang yang tergiur saat ini juga sudah tidak memandang lagi status sosial dan status pendidikan.

"Banyak sekarang yang berpendidikan sampai dengan S3 baik dalam maupun luar negeri yang ikut-ikut dalam aliran yang lebih mengarah kepada kecintaan pada dunia," ungkapnya.

Shautus Salam

Oleh karenanya, ini merupakan tugas yang berat bagi NU untuk memberikan pencerahan agar warga NU tidak ikut terbawa arus dengan aliran-aliran Agamis Materialistis tersebut.

Kedatangan Kang Doni ke PCNU Pringsewu ini dalam rangka Silaturahmi dan lebih menambah ukhuwah antar PCNU Bogor dan Pringsewu. "Mudah-mudahan dengan silaturahmi ini kita dipanjangkan umur dan murah rezeki," harap kang doni.

Silaturahmi tersebut juga dimanfaatkan untuk berdiskusi dengan Mustasyar PCNU Pringsewu H Sujadi yang juga Bupati Pringsewu dan hadir pada kegiatan Jihad Pagi tersebut. Ditemui setelah kegiatan Jihad Pagi, Kang Doni mengatakan bahwa saat ini terjadi kelangkaan seorang ulama yang juga umara.

Padahal menurutnya, sejarah mencatat dimasa lalu banyak sekali para ulama yang juga menjadi pemimpin pemerintahan dan membawa kemaslahatan bagi warganya.

"Kemiskinan struktural jika terjadi umara tidak bisa mengelola pemerintahan. Ketika Ulama menjadi pemimpin Insyaallah kemaslahatan dunia dan akhirat dapat diraih," katanya. (Muhammad Faizin/Fathoni)

Shautus Salam

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Kiai, Habib, Khutbah Shautus Salam

Rabu, 13 Desember 2017

Aktivis NU Itu Wafat Saat Shalat Jumat

Siang itu Jumat 29 September 2017, terik matahari tak mengurangi semangat Muslimin untuk menunaikan ibadah shalat Jumat. Tak terkecuali Haji Hartono yang akan berkhutbah untuk pertama kali di Masjid Al Falah Desa Kalegen, Kecamatan Bandongan, Magelang, Jawa Tengah.?

Pria 66 tahun itu, mengenakan baju koko dan sarung warna putih. Tak lupa peci putih menghiasi kepalanya. Badan tinggi dan tegap mantap melangkah menuju masjid. Suara Kepala SMP Maarif Bandongan selama 24 tahun (1990-2014) itu lantang dan tegas menyampaikan materi khutbahnya hingga selesai.?

Aktivis NU Itu Wafat Saat Shalat Jumat (Sumber Gambar : Nu Online)
Aktivis NU Itu Wafat Saat Shalat Jumat (Sumber Gambar : Nu Online)

Aktivis NU Itu Wafat Saat Shalat Jumat

Saat shalat Jumat yang diimami oleh adik iparnya, KH Syafrodin, ia masih bugar. Namun, pada saat memasuki rakaat kedua tepatnya ketika dibacakan Surat Fatihah Haji Hartono tersungkur. Dua orang yang berada di kanan dan kirinya sontak membatalkan shalatnya untuk mendudukkan dan menalqin hingga shalat selesai.

Jamaah berinisiatif membawa ke rumah sakit. Tetapi dalam perjalanan ia mengembuskan nafas terakhirnya, lalu dimakamkan di pemakaman desa pada sore harinya.?

Haji Hartono pernah diamanahi Ketua Tanfidziah MWCNU Kecamatan Bandongan dan dua kali menjabat Sekretaris MWCNU Kecamatan Bandongan. Ia juga aktivis di PC Maarif NU Kabupaten Magelang.?

Shautus Salam

Hujan deras mengiringi pemakaman sosok yang mengabdikan hidupnya pada Jamiyyah Nahdlatul Ulama, khususnya bidang pendidikan.

KH Najmuddin Khulaimi tidak bisa menutupi kesedihan ditinggalkan kader terbaiknya. Tetapi di sisi lain menunjukkan kebanggaan bahwa teman seperjuangannya dipanggil Allah SWT dalam keadaan yang sangat diinginkannya.?

Kiai Khulaimi bahkan memohon doa para pentakziah agar Jumat berikutnya dialah yang mengikuti jejak Haji Hartono. (Bambang/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam

Shautus Salam Kiai Shautus Salam

Jumat, 24 November 2017

Sunnah Puasa

Yang dimaksud dengan sunnah puasa adalah segala perbuatan yang dianjurkan oleh Nabi Muhammad s.a.w (disunnahkan) ketika sedang melakukan ibadah puasa, diantaranya Pertama, Menyegerakan Berbuka Puasa Ketika waktu magrib telah tiba atau waktu diperbolehkannya untuk berbuka puasa bagi semua muslim yang menjalankannya, maka dianjurkan untuk segera berbuka puasa dari pada menjalankan ibadah-ibadah yang lainnya, termasuk diantaranya menjalankan ibadah sholat maghrib.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ?.

Diceritakan dari Sahal Ibn Sa’ad, Rasulullah s.a.w, bersabda:”manusia selamanya dalam kebaikan, selama ia menyegerakan berbuka puasa” (Hadits Shahih, riwayat al-Bukhari dan Muslim)

Kedua, Membaca Do’a Berbuka Puasa. Membaca do’a berbuka puasa sebelum membatalkan puasa itu perbuatan yang dianjurkan oleh nabi Muhammad s.a.w, sebagai mana sabdanya:

Sunnah Puasa (Sumber Gambar : Nu Online)
Sunnah Puasa (Sumber Gambar : Nu Online)

Sunnah Puasa

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Diceritakan dari Ibnu Umar; Rasulullah s.a.w, apabila berbuka buasa, ia berdo’a: “wahai Tuhanku, karena Engkau aku berpuasa, dan atas rizkimu aku berbuka, maka sirnahlah rasa dahaga dan urat-uratku sekarang jadi basah, dan semoga pahala puasanya tetap kalau Engakau menghendaki. (Hadits Shahihm riwayat al-Bukhari dan Muslim)

Shautus Salam

Ketiga, Berbuka dengan Makan Buah Kurma atau Minum Air Putih. Berbuka puasa diawali dengan memakan buah kurma, dan apabila tidak menemukan buah kurma atau tidak memilikinya, maka dianjurkan untuk meminum air putih terlebih dahulu sebelum memakan dan minum yang lainnya.

? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Dari Anas r.a; “Nabi s.a.w, apbila ia berbuka puasa denga kurma gemading, sebelum Beliau shalat, apabila tidak ditemukannya, ia berbuka dengan kurma biasa, kalau tidak ditemukannya, Beliau berbuka dengan beberapa teguk dari air putih”. ( Hadits Shahih, riwayat Abu Daud dan al-Tirmidzi)

Shautus Salam

 

Keempat, Makan Sahur Sesudah Tengah Malam. Makan sahur sesudah tengah malam, dengan maksud supaya menambah kekuatan ketika puasa.

? ? ? ? ? ? ? ? ? : ? ? ? ? ?

Dari Anas r.a; Rasulullah s.a.w, bersabda: “makan sahurlah kalian, karena sesungguhnya dalam sahur itu terkandung berkah”. (Hadits Shahih, riwayat al-Bukhari dan Muslim)

Kelima Mengakhirkan SahurSahur atau memakan sesuatu di malam hari dengan tujuan memperkuat diri untuk dapat menjalankan ibadah puasa keesokan harinya, maka dianjurkan mengakhirkannya sebelum waktu shubuh tiba.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ?

Dari Abu Dzar r.a: Rasulullah s.a.w, bersabda: tidak akan hilang sifat kebaikan pada diri manusia, selama ia mengakhirkan sahur dan menyegerakan berbuka puasa”. (Hadits Shahih, riwayat Ahmad)

Keenam, Meninggalkan Perkataan Jelek dan Jorok. Di saat menjalankan ibadah puasa, seorang muslim dianjurkan untuk tidak berkata-kata yang tidak bermanfaat, apalagi perkataan jelek dan jorok. Semisal berbohong, menghina orang lain, menggunjing kejelekan orang lain, memfitnah orang lain dsb.

Dan apabila ia dicaci maki oleh orang lain, maka ia dianjurkan untuk mengatakan “saya sedang berpuasa” sampai dua, tiga kali ucapan, menurut Imam Nawawi dalam kitab adzkarnya. Sedangkan menurut Imam Rafi’i, ia dianjurkan untuk mangatakannya dalam hati saja sebagai pengingat agar tidak terpancing emosi. (Sumber: Risalah Puasa/Red.Ulil H)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Kiai Shautus Salam

Kamis, 23 November 2017

Feminisme dalam Islam

Oleh Muhammad Shodiq Masrur



Orang masih sibuk bertanya. Orang juga masih saja sibuk berdebat, melontarkan berbagai argumentasi yang bisa jadi dibangun dari interpretasi pribadi. Isu feminimisme memang tidak habis-habisnya diperbincangkan. Tapi sesungguhnya, sudahkah kita bersepakat koridor feminisme yang diperdebatkan?

Feminisme dalam Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Feminisme dalam Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Feminisme dalam Islam

Bahwa feminisme tidak sama dengan emansipasi, kita harus bisa memahami hal tersebut. Jika emansipasi diterjemahkan sebagai pandangan yang mengusung peran serta wanita di ruang publik. Maka sesungguhnya feminisme lebih dari itu.

Apa yang diperkenalkan oleh Charles Fourier; aktivis sosialis utopis pada tahun 1837 mengenai feminisme adalah bentuk emansipasi secara lebih radikal. Dengan latar belakang kejenuhan akan nasib kaum wanita yang terjadi di barat, feminisme lahir dan mendukung persamaan mutlak hak serta kewajiban antara laki-laki dan perempuan di belbagai bidang. Mulai dari sosial, politik, hingga ekonomi.

Shautus Salam

Jika feminisme disamaartikan dengan emansipasi maka dalam koridor itu Islam sama sekali tidak mempermasalahkannya. Karena ajaran yang dibawa Islam sama sekali tidak merendahkan martabat wanita. Islam juga tidak datang untuk mengungkung dan memenjarakan mereka dalam sel-sel penjara imajiner di luar batas kemanusiaan.

Feminisme dalam Islam

Shautus Salam

Orang masih sibuk bertanya. Orang juga masih saja sibuk berdebat, melontarkan berbagai argumentasi yang bisa jadi dibangun dari interpretasi pribadi. Isu feminimisme memang tidak habis-habisnya diperbincangkan. Tapi sesungguhnya, sudahkah kita bersepakat koridor feminisme yang diperdebatkan?

Bahwa feminisme tidak sama dengan emansipasi, kita harus bisa memahami hal tersebut. Jika emansipasi diterjemahkan sebagai pandangan yang mengusung peran serta wanita di ruang publik. Maka sesungguhnya feminisme lebih dari itu.

Apa yang diperkenalkan oleh Charles Fourier; aktivis sosialis utopis pada tahun 1837 mengenai feminisme adalah bentuk emansipasi secara lebih radikal. Dengan latar belakang kejenuhan akan nasib kaum wanita yang terjadi di barat, feminisme lahir dan mendukung persamaan mutlak hak serta kewajiban antara laki-laki dan perempuan di belbagai bidang. Mulai dari sosial, politik, hingga ekonomi.

Jika feminisme disamaartikan dengan emansipasi maka dalam koridor itu Islam sama sekali tidak mempermasalahkannya. Karena ajaran yang dibawa Islam sama sekali tidak merendahkan martabat wanita. Islam juga tidak datang untuk mengungkung dan memenjarakan mereka dalam sel-sel penjara imajiner di luar batas kemanusiaan.

Islam justru memuliakan mereka. Menempatkan mereka sewajarnya manusia bukan barang dagangan, apalagi binatang. Islam juga mendorong mereka untuk ikut berpartisipasi dalam ruang lingkup publik yang lebih luas seperti halnya laki-laki.

Bandingkan dengan peradaban-peradaban lain di masa lalu. Romawi menempatkan wanita ibarat barang. Kepemilikan atas hak kehidupannya dimilliki seutuhnya oleh ayah mereka. Kebudayaan Cina dan Hindu pun tidak lebih baik daripada itu. Hak kehidupan mereka dimiliki selagi suaminya masih hidup. Saat suaminya meninggal, maka ia juga tidak memiliki hak untuk hidup.

Ajaran agama Islam tidak seperti itu. Al-quran sebagai landasan berpikir dan bertindak dalam agama Islam justru melegitimasi eksistensi keberadaan wanita. Wanita diberikan porsi hak, kewajiban serta hukum yang sama dengan laki-laki. Dalam salah satu ayat, Tuhan menyampaikan pesan bahwa ganjaran kebaikan yang diterima wanita sama persis dengan ganjaran yang laki-laki terima dalam mengamalkan kebaikan.

Islam memberikan ruang lingkungan dan sosial yang layak bagi perempuan. Tidak seperti kebudayaan elite Yunani. Yang mengharuskan wanita selalu berada di dalam istana. Islam memberikan ruang bagi wanita untuk keluar dan berinteraksi. Namun dengan beberapa catatan yang memang harus dipertimbangkan demi kemaslahatan bersama.

Wanita juga mendapatkan kebebasan untuk ikut andil dalam menjalankan perputaran roda ekonomi. Mereka memiliki hak untuk mengatur perdagangan seperti halnya kaum laki-laki. Tidakkah apa yang dilakukan Khadijah semasa hidupnya adalah sebuah dalih bagaimana bebasnya wanita mengatur ekonominya?

Islam juga memberikan ruang gerak wanita untuk berpartisipasi dalam ruang publik. Sudah menjadi maklum; bahwa Aisyah-istri nabi Muhammad yang paling muda merupakan salah seorang perawi hadis yang terkenal. Ia mendapatkan ruang publik untuk bebas bergerak dalam bidang pendidikan. Bahkan, ia juga pernah berpartisipasi dalam bidang peperangan sebagai satu dari tiga orang komandan perang di awal kepemimpin khalifah Ali bin Abi Thalib.

Apa yang dilakukan oleh Khadijah dan Aisyah yang notebene keduanya disebut-sebut sebagai ummahatul mu’minin (ibu dari orang-orang yang beriman) adalah sebuah bukti bahwa Islam mengakui dan meghormati eksistensi serta peran wanita dalam berbagai segmentasi kehidupan. Entah itu ruang privasi maupun ruang publik. Tak ayal bila dapat dipahami bahwa Islam masih selaras dengan feminisme dalam koridor tersebut. Tapi apakah itu berarti Islam juga menerima gagasan persamaan peran dan tanggungjawab antara laki-laki dan perempuan secara mutlak? Sebentar, tunggu dulu.

Sudah menjadi rahasia umum, salah satu dasar pemikiran feminisme adalah pandangan bahwa peran dan tanggung jawab yang berbeda antara laki-laki dan perempuan didasarkan atas nama budaya. Karenanya di tahun 2012, DPR RI memunculkan wacana pengesahan RUU KKG ( kesetaraan dan keadilan gender ) yang sarat kontroversi. Dalam pasal satu ayat yang pertama, disebutkan “Gender adalah perbedaan peran dan tanggung jawab laki-laki dan perempuan yang merupakan hasil konstruksi sosial budaya yang sifatnya tidak tetap dan dapat dipelajari, serta dapat dipertukarkan menurut waktu, tempat, dan budaya tertentu dari satu jenis kelamin ke jenis kelamin lainnya.”

RUU KKG ini terlihat menganggu pikiran Adian Husaini. Dalam salah satu bukunya, ”Seputar Paham Kesetaraan Gender” ia mempermasalahkan sebuah doktrin yang didasarkan pada kontruksi sosial budaya. Terlebih jika itu doktrin agama, maka tidak ada lagi nilai-nilai yang tetap dan bisa dijadikan acuan dalam hidup manusia secara universal. Tidak ada lagi yang sakral, semua bisa diubah sekehendak hatinya. Manusia juga menjadi sangat bebas, bahkan hingga tahapan enggan terikat dengan campur tangan Tuhan.

Memang, dalam khazanah disiplin ilmu ushul fikih dikenal satu kaedah, al-adah muhakamah. Bahwa suatu adat istiadat dapat menjadi landasan legitimasi suatu hukum dalam agama Islam. Namun ia tidak serta-merta mutlak. Ia memiliki batasan-batasan berdasarkan aturan ketetapan Tuhan.

Batasan-batasan inilah yang kontradiktif dengan tuntutan kesetaraan 50 berbanding 50 ala feminis. Tuhan sudah menetapkan wanita dengan kodratinya sebagai wanita. Fisik dan psikologinya jelas berbeda dengan laki-laki.

Ia mengalami fase melahirkan dan menyusui yang tidak mungkin dialami oleh laki-laki. Kedua fase tersebut dan ditambah dengan berbagai faktor lain membuat mereka mendapatkan porsi hukum yang berbeda dengan laki-laki. Di dalam masalah ibadah, jelas sekali mereka mendapatkan dispensasi taklif untuk tidak menjalankan ibadah semisal shalat dan puasa saat mereka mengalami masa menstruasi.

Kemudian, ketetapan-ketetapan lain dalam hukum Islam yang kerap dituntut oleh para feminis sebenarnya mengandung hikmah yang mendalam dalam hukum tersebut. Dalam pembagian harta warisan misalkan, feminisme memandang ajaran agama Islam sebagai ajaran yang tidak adil. Seorang laki-laki yang mendapatkan bagian dua kali lipat dari wanita adalah sebuah ketidaksetaraan yang harus diubah begitu saja.

Padahal jikalau dikaji lebih mendalam, terdapat hikmah yang sebenarnya sangat sederhana. Laki-laki mendapatkan bagian dua kali lipat dari wanita karena laki-laki memiliki tanggung jawab untuk menafkahi istri dan anaknya. Berbeda dengan wanita, harta yang ia miliki benar-benar miliknya sendiri. Ia tidak punya tanggungjawab menafkahi orang lain.

Kemudian terkait kepemimpinan, tidak bisa dielak bahwa isu tersebut merupakan isu yang paling panas nan seksi sampai saat ini. Terlepas dari pro-kontra kepemimpinan wanita yang terjadi, cukuplah kondisi wanita yang memungkinkan hamil, melahirkan, menyusui dan mendidik anak sebagai alasan untuk lebih fokus akan tanggung jawab mereka. Karena untuk menjadi seorang pemimpin, dibutuhkan banyak pengorbanan waktu, tenaga dan tentunya pikiran. Hal ini dapat menyebabkan gugurnya kandungan, terbengkalainya nasib anak dan lain sebagainya.

Meskipun memang, dalam realitanya tidak semua wanita lebih lemah dan tidak dapat memimpin laki-laki. Zakarya al-anshory dalam maha karyanya lubbul ushul menyinggung ayat arrijalu qawwamuna alan nisa’. Bahwa laki-laki lebih kuat dan lebih tangguh daripada wanita. Ia mengatakan, lafal arrijal dan annisa’ dalam ayat di atas sama-sama bersambung dengan alif-lam yang disebut mahiyah jinsiyah. Singkatnya, memang pada hakikatnya laki-laki lebih kuat daripada wanita, namun itu tidak menutup kemungkinan sebaliknya. Bahwa wanita memiliki kemampuan dan kapabilitas dalam memimpin kaum laki-laki itu mungkin saja. Hanya saja, itu terjadi sebagai sesuatu yang jarang,tidak secara global dan menyeluruh.

Penulis adalah alumnus (Program Keagamaan) MAN 1 Surakarta. Saat ini tercatat sebagai mahasiswa di Universitas Islam Indonesia sekaligus Mahasantri di Pondok Pesantren Nailul Ula, Plosokuning, Sleman, Yogyakarta.



Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Kiai, Quote Shautus Salam

Minggu, 19 November 2017

NU DKI Ingin Tiru Kesuksesan PCNU Kota Pekalongan

Pekalongan, Shautus Salam. Apa yang telah dilakukan oleh jajaran Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Pekalongan merupakan langkah yang sangat luar biasa dengan berbagai terobosan untuk menggerakkan organisasi.

Demikian dikatakan Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DKI Jakarta H Tubagus Robby Budiansyah saat memberikan sambutan dan menjelaskan maksud dan tujuan kunjungan muhibbah ke PCNU Kota Pekalongan Ahad (13/4).

NU DKI Ingin Tiru Kesuksesan PCNU Kota Pekalongan (Sumber Gambar : Nu Online)
NU DKI Ingin Tiru Kesuksesan PCNU Kota Pekalongan (Sumber Gambar : Nu Online)

NU DKI Ingin Tiru Kesuksesan PCNU Kota Pekalongan

Diantara aktifitas yang dilakukan adalah mampu mewujudkan bangunan gedung perkantoran yang cukup representatif yang di dalamnya ada aula yang bisa disewakan untuk kegiatan umum.?

Shautus Salam

Tdak hanya itu, bangunan dengan nama Gedung Aswaja ini sekaligus dimanfaatkan untuk kantor simpan pinjam syariah "BMT SM NU", wisata kuliner rumah makan "Selaras" dan media radio komunitas.?

Shautus Salam

Hal ini mendorong jajaran pengurus Wilayah dan Cabang NU se DKI Jakarta untuk belajar banyak kepada PCNU Kota Pekalongan.

Dikatakan Robby, sejak dirinya menerima informasi tentang sukses yang telah dilakukan NU Kota Pekalongan, dirinya menjadi penasaran dan ingin melihat dari dekat. Saat dirinya berkunjung ke Habib Luthfy, dia sempatkan melihat Gedung Aswaja yang cukup megah berdiri di tepi jalur Pantura.?

Meski semula sempat ragu, apa benar ini milik Nahdlatul Ulama, setelah melihat dari dekat dan sedikit informasi yang dia peroleh, akhirnya PWNU DKI beserta enam cabang dengan kendaraan 2 bis melakukan studi banding ke Pekalongan.

Robby yang juga putra Menteri Perumahan Rakyat H. Djan Faridz berharap agar keberhasilan PCNU Kota Pekalongan dapat ditularkan ke PCNU se DKI yang sengaja dia bawa untuk bersama sama melihat dari dekat apa dan bagaimana PCNU Kota Pekalongan.

Sementara itu, Ketua PCNU Kota Pekalongan H Ahmad Rofiq merasa mendapat kehormatan mendapat kunjungan PWNU DKI Jakarta. Pasalnya, sebagai organisasi yang dekat dengan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama dan sebagai daerah yang perputaran uangnya cukup tinggi, tentunya akan memperoleh banyak kemudahan untuk mewujudkan berbagai programnya.

"Apa yang telah dilakukan PCNU Kota Pekalongan semata mata karena kesungguhan dan jeli melihat peluang yang ada, sehingga gagasan dan keinginan memiliki kantor yang representatif dan mampu menjadi kawasan pergerakan ekonomi dapat diwujudkan," ujar Ahmad Rofiq.

Rombongan PWNU DKI Jakarta sebelum ke Pekalongan telah melakukan kegiatan ziarah ke makam almaghfurlah KH Sahal Mahfudh di Kajen Pati, kemudian silaturrahim ke Rais Aam PBNU KH Ahmad Mustofa Bisri di Rembang dan diteruskan silaturrahim dengan PWNU Jawa Tengah di Semarang.

Hadir dalam acara silaturrahim seluruh jajaran Pengurus PCNU Kota Pekalongan, Ketua Lembaga, Lajnah dan Badan Otonom Cabang Kota Pekalongan. (abdul muiz PK/mukafi niam) ? ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Meme Islam, Kiai Shautus Salam

Jumat, 17 November 2017

Pesantren Harus Jadikan Medsos sebagai Lahan Dakwah

Surabaya, Shautus Salam - Saat ini, perkembangan informasi demikian pesat. Sejumlah kabar yang beredar di masyarakat, tidak hanya bisa diterima dari kantor berita, juga lewat media sosial atau medsos. Karenanya pesantren lewat para kiai dan jaringan alumni serta santri juga harus ambil peran.

"Seperti diketahui, medsos saat ini sudah menjadi mode dan media komunikasi yang tidak terelakkan, menjadi gaya hidup di semua lapisan bahkan mampu mengalahkan komunikasi lisan," kata Ketua Lembaga Ta’lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama (LTNNU) Jatim H Ahmad Najib AR, Selasa (15/8).

Pesantren Harus Jadikan Medsos sebagai Lahan Dakwah (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Harus Jadikan Medsos sebagai Lahan Dakwah (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Harus Jadikan Medsos sebagai Lahan Dakwah

Ia menyambut baik kegiatan Ngaji Medsos yang diselenggarakan alumni Pondok Pesantren Al-Falah, Ploso Kediri, beberapa waktu berselang.

Bagi Gus Najib, justru keberadaan medsos yang demikian massif ini dapat dijadikan sarana dalam berdakwah. "Karena itu, dakwah pesantren mau tidak mau harus masuk ke wilayah medsos ini," terangnya.

Shautus Salam

Dalam pandangannya, alumni pesantren harus tampil sebagai garda terdepan demi menjaga nama baik dan kehormatan pesantren di ruang publik termasuk di medsos. "Ketika seorang kiai atau pesantren dicaci maupun difitnah, maka yang bisa membela adalah alumni, bukan santri yang masih ada di pesantren," terang alumnus pascasarjana Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya tersebut.

Shautus Salam

Sebagai solusi, Gus Najib berharap ajaran dan nasihat kiai pesantren harus mulai banyak dipublikasikan ke masyarakat secara luas, termasuk lewat medsos. "Karena dengan cara itu dakwah pesantren bisa dikenal publik sekaligus menjadi pembendung ajaran lain yang bertentangan dengan Ahlussunnah wal Jamaah an-nahdliyah yang berpotensi merusak tatanan," pungkasnya.

LTNNU Jatim bersama Forum Komunikasi Putra Delta PP Al-Falah Ploso Mojo Kediri di Sidoarjo menyelenggarakan Ngaji Medsos; Media Dakwah Santri di Era Cyber. Kegiatan diselenggarakan di Pondok Pesantren Al-Falah Siwalanpanji, Buduran, Ahad (13/8) lalu. (Ibnu Nawawi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Halaqoh, Kiai Shautus Salam

Selasa, 14 November 2017

Kiai Ma’ruf: Lindungi Generasi Muda dari Ajaran Terorisme di Dunia Maya

Jakarta, Shautus Salam - Media sosial maupun dunia maya telah terbukti menjadi sarana sangat efektif bagi kaum teroris menyebar ajaran radikalnya. Telah banyak orang tiba-tiba menjadi radikal dan jadi teroris hanya karena terpengaruh media. Mestinya hal itu diantisipasi, tetapi nyatanya terlambat.

Evaluasi itu disampaikan Rais Am PBNU KH Ma`ruf Amin ketika menyampaikan sambutan dalam Workshop Pencegahan Propaganda Radikal Terorisme di Dunia Maya Bersama Media, OKP dan Ormas yang diselenggarakan oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) di Hotel Millenium Jakarta, Rabu (22/3/2017) malam. ?

Kiai Ma’ruf: Lindungi Generasi Muda dari Ajaran Terorisme di Dunia Maya (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Ma’ruf: Lindungi Generasi Muda dari Ajaran Terorisme di Dunia Maya (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Ma’ruf: Lindungi Generasi Muda dari Ajaran Terorisme di Dunia Maya

"Kita telat mengantisipasi. Mereka lebih dulu," tutur Kiai Ma`ruf.

Upaya menangkal propaganda radikal terorisme, kata dia, harus menggunakan media sosial. Masyarakat terutama generasi mudanya harus dilindungi dari pengaruh ajaran terorisme yang disebar di dunia maya.

Shautus Salam

Shautus Salam

Deradikalisasi, lanjutnya, perlu terus dilakukan untuk mengembalikan mereka ke jalan yang benar. Kebijakannya memakai prinsip lebih baik mencegah daripada mengobati. Tahapannya melalui peringatan. Namun apabila tidak bisa dicegah dan diperingatkan, maka penegakan hukum adalah solusinya.

"Prinsipnya menangkal terorisme adalah mencegah daripada mengobati. Namun apabila tidak bisa dicegah, ya apa boleh buat. Law enforcement," ujarnya.

Di akhir sambutan Kiai Ma’ruf menyampaikan bahwa penggunaan bahasa dalam proses pencegahan pun mesti menyesuaikan, ulama memakai bahasa ulama, aparat menggunakan bahasa aparat, misalnya, dengan istilah turn back crime.

Ia mendorong adanya hasil dalam upaya meminimalisasi pengaruh radikal terorisme. "Mari kitakuatkan persatuan kita, kuatkan NKRI. NKRI adalah harga mati bagi ktia," pungkasnya menutup pidatonya. (Ichwan/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Kiai Shautus Salam

Sabtu, 11 November 2017

LSM Gandi: FDS Kebijakan Diskriminatif dan Meresahkan

Jakarta, Shautus Salam. Pemaksaan kebijakan lima hari sekolah disaat Perpres sedang digodok mendapat sorotan juga dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Gerakan Anti-Diskriminasi (Gandi). Sekretaris Jenderal Gandi Ahmad Ari Masyhuri menilai lima hari sekolah atau yang disebut juga Full Day School (FDS) merupakan kebijakan diskriminatif dan meresahkan.

LSM Gandi: FDS Kebijakan Diskriminatif dan Meresahkan (Sumber Gambar : Nu Online)
LSM Gandi: FDS Kebijakan Diskriminatif dan Meresahkan (Sumber Gambar : Nu Online)

LSM Gandi: FDS Kebijakan Diskriminatif dan Meresahkan

Menurut Ari, kebijakan Mendikbud terkait Full/Five Day(s) School (FDS) melalui Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 23 Tahun 2017 tentang Hari Sekolah merupakan kebijakan yang mengada-ada dan bersifat diskriminatif.?

Hal ini disebabkan kebijakan tersebut sangat nyata tidak bisa dilaksanakan oleh seluruh sekolah di Negara ini. Padahal ketika sebuah kebijakan dikeluarkan maka ia bersifat mengikat dan pasti bagi seluruh obyek hukum, dalam hal ini adalah sekolah, yang ada di wilayah Negara Republik Indonesia.

Ari pun merinci bahwa sebagaimana dalam Pasal 9 Permendikbud tersebut terdapat klausul yang menyatakan “Dalam hal kesiapan sumber daya pada sekolah dan akses transportasi belum memadai… dapat dilakukan secara bertahap”. Kata-kata “belum memadai” dan “dapat dilakukan secara bertahap” tersebut menunjukkan bahwa kebijakan ini dipaksakan dan tidak layak untuk dikeluarkan.?

Shautus Salam

“Sebab ketika sebuah kebijakan tidak mencakup seluruh obyek hukum dan tidak mengakomodasi seluruh kepentingan masyarakat berarti kebijakan tersebut merupakan kebijakan yang tidak adil dan diskriminatif,” tegas Ari kepada Shautus Salam lewat keterangan tertulisnya, Senin (14/8).

Padahal, imbuhnya, semua sekolah mempunyai kedudukan dan hak yang sama di mata hukum. Hal ini sudah sangat jelas bertentangan dengan Pancasila, UUD 1945, dan peraturan perundang-undangan yang terkait.?

Shautus Salam

Menurut Gandi, kebijakan FDS harus diawali dengan kesiapan dengan sarana-prasarana yang memadai. Sementara, rasio peserta didik terhadap sarana prasarana dan tenaga pengajar di Indonesia masih sangat timpang. Bahkan, ketimpangan ini juga banyak terjadi di sekolah dasar yang dikelola oleh pemerintah.?

Bagaimana mungkin kebijakan yang bersifat nasional ini bisa dilaksanakan, sementara sekolah tingkat dasar yang dikelola oleh pemerintah saja masih belum dapat menerapkannya? Apalagi sekolah-sekolah tingkat menengah pertama dan atas, serta sekolah yang dikelola oleh masyarakat secara swadaya.?

Di mana sekolah-sekolah yang dikelola masyarakat tersebut memiliki beragam karakteristik dan terbukti memberikan kontribusi bagi Negara.?

“Oleh karena itu, sebaiknya Kemendikbud lebih berkonsentrasi untuk membenahi sarana-prasana dan tenaga pengajar terlebih dahulu sebelum mengeluarkan kebijakan tersebut,” kata Ari Masyhuri. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Pahlawan, Kiai, Internasional Shautus Salam

Selasa, 31 Oktober 2017

Bersinergi dengan KPPPA, Fatayat NU Launching Program Gelatik

Jakarta, Shautus Salam - Pengurus Pusat (PP) Fatayat Nahdhatul Ulama (NU) melaunching program Gerakan Perlindungan Anak dari Tindak Kekerasan yang disingkat Gelatik. Kegiatan yang dilaksanakan di Hotel Sari Pan Pasific, Senin (19/9) ini dihadiri pihak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) serta perwakilan organisasi dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).

Dalam sambutannya, Ketua PP Fatayat NU, Anggia Ermarini menjelaskan, program Gelatik dilatarbelakangi maraknya tindak kekerasan yang menimpa anak akhir-akhir ini. Apalagi, sebagai organisasi Fatayat NU juga fokus terhadap kasus-kasus sosial kemasyarakatan salah satunya terkait tindak kekerasan.

Bersinergi dengan KPPPA, Fatayat NU Launching Program Gelatik (Sumber Gambar : Nu Online)
Bersinergi dengan KPPPA, Fatayat NU Launching Program Gelatik (Sumber Gambar : Nu Online)

Bersinergi dengan KPPPA, Fatayat NU Launching Program Gelatik

"Sejak terbentuk memang Fatayat jelas fokus terhadap masalah sosial yang ada. Kali ini, kami khusus memprogramkan Gelatik agar anggota-anggota Fatayat hingga tingkat Pengurus Anak Ranting turut serta melindungi anak-anak dari kekerasan," ujarnya.

Ditambahkan, sementara ini sebagai langkah awal akan program Gelatik akan dilakukan di Kabupaten Brebes dan Kabupaten Lampung Timur sebagai pelopor awal. "Rencana ke depan semoga bisa menyeluruh ke semua tingkatan pengurus Fatayat NU," imbuhnya.

Shautus Salam

Selain launching program, juga dilakukan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dengan KPPPA sebagai tindaklanjut program dalam jangka panjang serta turut serta mengantisipasi masalah kekerasan di Indonesia.

Shautus Salam

Sementara itu, Deputi Perlindungan Anak KPPPA, Pribudiarta Nur Sitepu mengapresiasi kegiatan yang diprogramkan pihak PP Fatayat NU. Selain itu, pihaknya juga mengharapkan partisipasi semua elemen untuk menanggulangi masalah kekerasan ini.

"Selama ini, pihak KPPPA sudah mencanangkan berbagai program mulai Kota Layak Anak (KLA) hingga Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM) yang melibatkan langsung masyarakat dari semua tingkatan," ujarnya.

Dia yakin, kesadaran untuk menjaga anak sebenarnya menjadi tanggung jawab bersama sehingga harus bersinergi. "Selama ini, masalah-masalah anak terjadi karena orang tua kurang peduli, anak yang tak mampu memahami situasi hingga kurangnya komunikasi antar keluarga," jelasnya. (Mahbib Khoiron)Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Ulama, Warta, Kiai Shautus Salam

Jumat, 27 Oktober 2017

Lesbumi NU Sulut dan Al-Hikam Cinta Indonesia Ziarahi Wali Songo

Jombang, Shautus Salam - Sebagai wujud penghormatan kepada Ulama dan melanjutkan tradisi, Yayasan Al Hikam Cinta Indonesia (ACI) dan Lesbumi NU Sulut melakukan rekam jejak Islam Nusantara dengan berziarah ke makam Wali Songo dan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Kegiatan ini dilaksanakan pada Jum’at (22/04), yang dimulai dari Ampel, Surabaya hingga ke Cirebon.

Ziarah yang bertajuk “Belajar Dari Ulama Nusantara, Menuai Berkah” ini diikuti sebanyak 60 peserta yang terdiri dari Jamaah ACI asal Kalimantan Utara dan Pengurus Lesbumi NU Sulawesi Utara (Sulut).

Lesbumi NU Sulut dan Al-Hikam Cinta Indonesia Ziarahi Wali Songo (Sumber Gambar : Nu Online)
Lesbumi NU Sulut dan Al-Hikam Cinta Indonesia Ziarahi Wali Songo (Sumber Gambar : Nu Online)

Lesbumi NU Sulut dan Al-Hikam Cinta Indonesia Ziarahi Wali Songo

Habib Muhsin Bilfagih, pengasuh Yayasan ACI, menyatakan bahwa ziarah kali ini adalah momen bagi para peserta untuk kembali mempelajari sejarah Islam Nusantara yang berkembang melalui dakwah para aulia.

“Kita belajar sekaligus mengambil berkah melalui ziarah ini. Kita akrabkan umat Islam dengan tradisi. Kendati kita berasal Indonesia Timur, kita tetap tunjukkan kepada bangsa, bahwa kecintaan dan kerinduan kepada ulama harus diwujudnyatakan melalui ziarah,” papar Mustasyar PWNU Sulut.

Shautus Salam

Senada dengan Habib, Ketua rombongan ziarah, Muh. Iqbal menyampaikan bahwa agenda ziarah ini sudah direncanakan beberapa tahun lalu, baru terwujud pada April kali ini. “Ini agenda lama kita. Namun baru terealisasi saat ini. Peserta ziarah berasal dari beragam kalangan, mulai dari PNS hingga wiraswasta serta mahasiswa, baik yang dari Manado maupun Tarakan. Semula ada 98 orang yang mendaftar, namun yang positif ikut hanya 60 peserta,” ungkap ustadz yang akrab disapa Kang Iqbal ini.

Shautus Salam

Sementara itu, Ketua Lesbumi NU Sulut Taufik Bilfagih menginformasikan bahwa keberadaan Lesbumi untuk ikut andil memberikan tambahan pengetahuan kepada peserta. “Di setiap makam, selain berdoa kepada Allah, kita juga akan menyuguhi peserta dengan materi-materi sejarah dakwah para Walisongo. Bahkan, setiba di Jakarta nanti, kami akan ke kantor PBNU untuk mendapat pencerahan dari KH Agus Sunyoto, Ketum Lesbumi PBNU. Apalagi beliau adalah penulis Atlas Walisongo yang menjadi bahan bacaan peserta ziarah.”

Dijadwalkan, Senin (25/04) malam, rombongan sudah berada di Jakarta, dan akan kembali ke daerah masing-masing pada esok harinya. “Selasa (26/04) siang, kita udah di Soekarno-Hatta untuk kembali ke daerah. Semoga semua berkah” tutup Taufik. (Red: Abdullah Alawi)



Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Kiai Shautus Salam

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Shautus Salam sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Shautus Salam. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Shautus Salam dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock