Tampilkan postingan dengan label Amalan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Amalan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 25 Februari 2018

Fathul Mannan, Kitab Tajwid Jawa Pegon Karya KH Maftuh Lirboyo

Ini adalah halaman sampul dari kitab berjudul “Fath al-Mannân li Tashhîh Alfâzh al-Qur’ân” yang mengkaji seluk beluk bidang Phonologi Arab (Ilmu Tajwid) karangan KH. Maftuh Basthul Birri, pengasuh Madrasah Murattilil Qur’an (MMQ) Pesantren Agung Lirboyo, Kediri (Jawa Timur).

Sosok KH. Maftuh Basthul Birri (lahir di Purworejo, 1948) sendiri adalah guru utama saya dalam bidang Tajwid al-Qur’an ketika belajar di Pesantren Lirboyo dulu. Saya mengaji tajwid dan menyetor beberapa hafalan surat-surat al-Qur’an kepada beliau, juga kepada murid-murid beliau (Ustadz Nahrowi Bondowoso dan Ustadz Hazbullah Nganjuk) sepanjang tahun 1999 hingga 2001, mulai dari tingkat pemula hingga menengah. “Fath al-Mannân” menjadi salah satu kitab acuan ajar di Madrasah Murattilil Qur’an Lirboyo.

Fathul Mannan, Kitab Tajwid Jawa Pegon Karya KH Maftuh Lirboyo (Sumber Gambar : Nu Online)
Fathul Mannan, Kitab Tajwid Jawa Pegon Karya KH Maftuh Lirboyo (Sumber Gambar : Nu Online)

Fathul Mannan, Kitab Tajwid Jawa Pegon Karya KH Maftuh Lirboyo

Ketika di Lirboyo dulu saya sempat memiliki naskah kitab ini, namun kemudian hilang entah dimana. Saya kembali mendapatkan naskah kitab ini dari toko kitab di Pesantren Krapyak, Yogyakarta, saat Anjangsana Islam Nusantara bersama rombongan Pascasarana STAINU Jakarta akhir bulan Januari kemarin.

Kitab ini ditulis dalam bahasa Jawa beraksara Arab (Pegon), terdiri dari 3 volume (juz) dengan tebal 148 halaman. Dalam kolofon, pengarang menuliskan jika karya ini selesai dikerjakan pada bulan Rabiul Awwal tahun 1397 Hijri (1977 Masehi). Karya ini kemudian dicetak oleh Percetakan Toko Buku Al-Ihsan, Surabaya (tanpa tahun).

Shautus Salam

Karya ini juga mendapatkan endorsement (taqrîzh) dari beberapa ulama besar ilmu al-Qur’an pada masanya, yang sekaligus guru utama dan mata rantai (sanad) yang menyambungkan genealogi keilmuan pengarang dalam ilmu tajwid dan ilmu-ilmu al-Qur’an, yaitu KH. Muhammad Arwani Kudus, KH. Adlan Ali Jombang, dan KH. Nawawi Abdul Aziz Jogja.

Shautus Salam

Dalam kata pengantarnya, pengarang menulis;

? ? ? ? ? ? ? ? "? ?" ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ?2 ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ?2 ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

(Ini adalah sebuah risalah yang sengaja saya susun dan saya beri nama “Fath al-Mannân” guna menjelaskan dan menerangkan kaidah-kaidah tajwid membaca al-Qur’an. Saya menuliskannya untuk siapa saja yang bersungguh-sungguh hendak membaca al-Qur’an dengan benar. Kitab ini bisa menjadi pedoman yang mudah (?). Isi kitab ini sendiri saya nukilkan dari beberapa kitab rujukan dalam bidang tajwid dan qira’at yang semula menjadi bahan belajar saya dan penelitian saya).

Di atas, KH. Maftuh Basthul Birri mengatakan merujuk pada kitab-kitab referensial dalam bidang kajian Phonologi Arab. Kitab-kitab tersebut adalah; (1) Irsyâd al-Ikhwân fî Syarh Hidâyah al-Shibyân karangan Syaikh Muhammad al-Haddâd ibn ‘Alî ibn Khalaf al-Husainî, (2) al-Minah al-Fikriyyah fî Syarh al-Manzhûmah al-Jazariyyah karangan Syaikh Mullâ ‘Alî Sulthân al-Qârî, (3) al-Itqân fî ‘Ulûm al-Qur’ân karangan al-Imân Jalâl al-Dîn al-Suyûthî, (4) Sirâj al-Qârî fî Syarh al-‘Allâmah al-Syâthibî karangan Syaikh ‘Alî al-Nûrî al-Shafâqusyî, dan (5) Nihâyah al-Qaul al-Mufîd karangan Syaikh Muhammad Makkî Nashr.

Dalam volume satu kitab ini, pengarang menjelaskan panjang lebar tentang definisi dan batasan ilmu tajwid, huruf-huruf al-Qur’an, makharijul huruf, sifat-sifat huruf, serta “tafhîm dan tarqîq” (bacaan tebal dan tipis). Sementara dalam volume kedua, pengarang menguraikan tentang bagaimana membaca huruf Arab secara baik dan benar, “izhar dan idgham”, “ghunnah nun dan mim”, “madd dan layyin”, serta macam-macam madd (bacaan panjang). Adapun pada volume ketiga, pengarang menjelaskan tentang tatacara membaca, memulai bacaan, “washal dan waqaf” dalam bacaan, pembacaan al-Qur’an melalui jalur transmisi (periwayatan) Imam Hafsh, rumus-rumus “waqaf”, dan lain-lain.

Kitab “Fath al-Mannân” ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia beraksara Rumi (Latin) oleh pengarangnya, dengan judul “Standar Tajwid Bacaan Al-Qur’an” dan diterbitkan oleh Penerbit MMQ Lirboyo. (A. Ginanjar Sya’ban)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam RMI NU, Amalan Shautus Salam

Rabu, 14 Februari 2018

Piala Dunia dan Problem Shalat Subuh

Di musim piala dunia seperti sekarang ini, hampir semua pecinta bola selalu mengikuti pertandingan secara live melalui televisi sesuai dengan jadwal. Untuk kali ini Brazil menjadi tuan rumah penyelenggara. Oleh karena itu jadwal pertandingan juga mengikuti waktu setempat. Dari sekian puluh jadwal pertandingan di Brazil, selalu ada satu pertandingan yang dilaksanakan pada malam hari hingga menjelang dini hari, bahkan hingga pagi hari.

Hadirnya musim piala dunia ini cukup menghibur masyarakat Indonesia, tetapi juga menjadi ujian bagi yang lain, ? terutama yang berhubungan dengan shalat subuh. ? Pasalnya, seringkali untuk mengikuti salah satu pertandingan seseorang harus rela bergadang tengah malam hingga menjelang dini hari. Sehingga ketika adzan shalat subuh berkumandang mereka telah terlelap dalam nyenyak tidur. Dengan kata lain seringkali seseorang mengorbankan kesempatan shalat subuh demi mengejar pertandingan sepak bola.

Pertanyaannya kemudian bagaimanakah fiqih memandang permasalahan seperti ini? bolehkah seseorang menyengaja tidur menjelang waktu subuh tiba, sedangkan ia sendiri sadar akan kewajiban shalat subuh dan beratnya bangun untuk melaksanakannya? Apakah bisa dibenarkan me-qadha shalat subuh setiap hari selama satu bulan masa piala dunia? ataukah ada solusi lainnya?

Piala Dunia dan Problem Shalat Subuh (Sumber Gambar : Nu Online)
Piala Dunia dan Problem Shalat Subuh (Sumber Gambar : Nu Online)

Piala Dunia dan Problem Shalat Subuh

Pada dasarnya orang yang tidur sebelum memasuki waktu shalat terbebas dari tuntutan kewajiban. Sebagaimana misalnya seseorang yang terlalu lelah bekerja dan tertidur sore hari hingga melewati waktu maghrib, maka shalat maghribnya harus dikerjakan secara qadha ketika dia terbangun di malam hari. Begitu pula dengan orang yang terlewat melakukan shalat subuh karena bangun di pagi hari ketika matahari telah tinggi. ? ? ?

Namun hal ini berbeda jika terdapat unsur kesengajaan di dalamnya. Artinya, jika seseorang sengaja bergadang kemudian tidur sebelum waktu subuh, sedangkan dia yakin bahwa ia tidak akan mampu bangun melaksanakan shalat subuh, maka tidur seperti itu hukumnya haram. Dan harus tetap melaksanakan shalat subuh meskipun dengan me-qadha-nya.

Demikia keterangan Dalam Syarah al-Yaqutun Nafis:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?...

Shautus Salam

Demikianlah sebaiknya para pecinta bola menghindarkan tidur menjelang subuh, apalagi jika ia yakin tidak akan mampu bangun untuk mendirikan shalat subuh. Karena yang demikian itu sungguh dilarang (haram). Red: Ulil H

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam

Shautus Salam Amalan, Olahraga Shautus Salam

Rabu, 07 Februari 2018

Tim Silat Al-Ma’arif Udanawu Juara Umum Kejurnas

Blitar, Shautus Salam. Tim Pencak Silat Madrasah Aliyah Ma’arif? Undawu Blitar, menjadi juara umum Kejurnas Inten Porsigal (Pendidikan Olah Raga Silat Indah Garuda Loncat) di Pesantren Mojosari, Nganjuk , Jawa Timur.

Tim Silat Al-Ma’arif Udanawu Juara Umum Kejurnas (Sumber Gambar : Nu Online)
Tim Silat Al-Ma’arif Udanawu Juara Umum Kejurnas (Sumber Gambar : Nu Online)

Tim Silat Al-Ma’arif Udanawu Juara Umum Kejurnas

Mereka? berhasil meraih peringkat utama setelah berhasil mengumpulkan 16 medali emas dari 25 kelas yang dipertandingkan dalam Kejurnas yang berlangsung? sejak 14-16 Agustus 2014 tersebut.

Pada babak final tim yang bermarkas di Jalan Raya Bakung Udanawu tersebut berhasil meloloskan 22 pesilatnya. Dari jumlah itu, 16 pesilat berhasil melibas pesaing-pesaingnya.

Shautus Salam

Mereka adalah Moh. Syaiful Anawar (kelas E Putra Dewasa), Frebri Adi Gunawan (Kelas A Putra Dewasa),Moh. Taufikurrohim (Kelas B Dewasa Putra),Moh.Ainun Fuad( Kelas D Dewasa Putra), M.Choirul Anwar ( Kelas E Dewasa Putra), Mila Choirun Nisa’ ( Kelas A Putri Dewasa),Nur Aina ( Kelas B Dewasa Putri).Kemudian disulul katagori pesilat remaja masing-masing M.Rizal Taufiqi ( Kelas A Remaja Putra), M. Febri Nur Windani (Kelas D Remaja Putra), Wahyudi (Kelas D Remaja Putra),M. Choirul Anwari (Kelas E Remaja Putra),Naja Daroini (Kelas F Remaja Putra), M. Subhan ( Kelas H Remaja Putra) dan Cindy Wulandari (Kelas B Remaja Putri), Peni Asrurin ( Kelas C Remaja Putri).

Shautus Salam

Moh. Rokib,official Tim Aliyah Ma’arif mengatakan JawaTimur sebagai tuan rumah mengikutkan 5 tim. Masing-masing Blitar A? (Kota Blitar), Blitar B (Blitar Kabupaten) diwakili Aliyah Ma’arif, Surabaya, Lamongan dan Ponorogo.

“Meski sama-sama dari Jatim, 5 tim ini bersaing ketat. Selain dengan tim luar daerah seperti DKI Jakarta, Jabar, Lampung dan Jawa Tengah serta Kalimantan. Ditingkat Jatim sendiri juga bermain ketat. Misalnya saat melawan Ponorogo,Lamongan dan Ponorogo. Pesilat kami sempat ada yang cedera,’’ ungkap Moh. Rokib kepada Shautus Salam.

Menurutnya, Kejurnas kali ini memang sangat berat.Karena diselenggarakan mepet dengan hari raya Idul Fitri. Sehingga, para pesilat pada bulan puasa harus tetap latihan.

“Ya, terpaksa kita harus nyiasati latihan. Yakni saat Mau buka puasa dan setelah salat traweh. Alhamdulillah kerja keras anak-anak berhasil dan menjadi juara,’’ katanya. “ Semoga keberhasilan ini bisa memicu semangat anak-anak dalam berlatih dan meraih prestasi yang lebih tinggi lagi serta barokah,’’ tambahnya.

Kiai Chalim Bastomi (Gus Chalim), selaku tuan rumah menyatakan sangat bangga bisa menyelenggarakan Kejurnas Intern Porsigal tahun 2014 ini.

“Kami ditunjuk sebagai penyelenggara saja sudah terima kasih. Apalagi bisa menelurkan sang juara dalam penyelenggaraan ini.Meski masih ada kekurangan disana sini. Ditambah lagi para pesilatnya dari beberapa pesantren dan madrasah. Jadi Kejurnas ini sama saja dengan seleksi para santri. Jadi kita juga yang menang,’’ kata Gus Chalim. (Imam Kusnin Ahmad/Anam)

Foto: Tim Al-Ma’arif Usai Menerima Trofi Juara diabadikan bersama Guru Besar KH Gholib Thohir, Gus Chalim.

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Amalan, Ubudiyah Shautus Salam

Jumat, 26 Januari 2018

Lewat KPK Expo, PWNU Yogyakarta Dukung Gerakan Antikorupsi

Yogyakarta, Shautus Salam. Komisi Pemberantas Korupsi memberikan sertifikat kepada PWNU Daerah Istimewa Yogyakarta atas partisipasinya pada acara Integrity EXPO di Grha Sabha Pramana UGM, Yogyakarta, Selasa-Kamis (9-11/12).

Lewat KPK Expo, PWNU Yogyakarta Dukung Gerakan Antikorupsi (Sumber Gambar : Nu Online)
Lewat KPK Expo, PWNU Yogyakarta Dukung Gerakan Antikorupsi (Sumber Gambar : Nu Online)

Lewat KPK Expo, PWNU Yogyakarta Dukung Gerakan Antikorupsi

"Stand NU paling unik daripada yang lain pada kesempatan Integrity Expo. Stand NU berbeda dengan kementerian, BUMN, BUMD, atau universitas," kata Sekretaris PWNU DIY Mukhtar Salim.

Mukhtar juga menjelaskan, partisipasi PWNU DIY dalam acara Hari Antikorupsi sedunia ini merupakan wujud komitmen NU dalam mendukung pemerintah untuk memberantas korupsi sampai akar-akarnya.

Shautus Salam

"Warga PWNU DIY banyak sekali yang datang. Terbukti yang datang mengunjungi stand NU setiap harinya hampir mencapai seribu orang," lanjutnya.

Shautus Salam

Mukhtar menegaskan stand NU memiliki keunikan, karena desainnya dipenuhi foto para kiai, silsilah keilmuan NU, puisi Rais Aam PBNU KH Musthofa Bisri, layanan keluarga antikorupsi, dokumen NU antikorupsi, dan Majalah Bangkit. (Madun/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Amalan, Pesantren, Ubudiyah Shautus Salam

Rabu, 17 Januari 2018

PMII: Jangan Anggap Remeh Ancaman Disintegrasi

Jakarta, Shautus Salam. Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII) mengingatkan semua pihak, khususnya pemerintah, agar tidak menganggap remeh ancaman disintegrasi bangsa.

"PMII melihat ancaman disintegrasi bangsa sudah di depan mata jika kita tidak segera berbenah diri," kata Ketua Umum PB PMII Hery Haryanto Azumi di Jakarta, Senin.

Peristiwa penyusupan aktivis gerakan separatis Republik Maluku Selatan (RMS) pada acara yang dihadiri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Ambon, disusul pengibaran bendera Bintang Kejora di Papua, dan deklarasi Partai GAM di Aceh yang terkesan berurutan, kata Hery, tak boleh dianggap angin lalu.

PMII: Jangan Anggap Remeh Ancaman Disintegrasi (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII: Jangan Anggap Remeh Ancaman Disintegrasi (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII: Jangan Anggap Remeh Ancaman Disintegrasi

"Menurut saya, tentu peristiwa yang berurutan ini bukan suatu kebetulan. Ini by design. Terlalu luar biasa jika ini sekadar peristiwa kebetulan," katanya.

Menurut Hery, ancaman disintegrasi setidaknya datang dari dua kelompok. Pertama, dari kelompok separatis yang sangat giat dalam menggalang dukungan komunitas internasional.

"Logika yang seringkali dipakai adalah pelanggaran HAM, diskriminasi, dominasi agama. Otonomi daerah sering disalahtafsirkan sebagai federalisasi," katanya.

Shautus Salam

Ancaman kedua muncul dari kelompok-kelompok radikal dalam agama yang menginginkan adanya pemerintahan global berbasis agama.

Shautus Salam

"Dalam pandangan mereka, negara bangsa adalah penghambat terwujudnya pemerintahan global. Karena itu, NKRI menurut kelompok ini harus digulingkan," katanya.

Karena itu, kata Hery, PMII melihat perlunya bangsa Indonesia segera melakukan pembenahan internal dan lobi-lobi internasional untuk mempertahankan tegaknya NKRI yang berdasar UUD 1945 dan Pancasila yang mengakui berbagai perbedaan yang ada. (ant/mad) 



Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Amalan Shautus Salam

Senin, 15 Januari 2018

Buka Pintu, NU Kapuk Siap Lindungi Mantan Simpatisan HTI

Jakarta, Shautus Salam - KH Gus Siroj Ronggo Lawe (Gus Siroj) secara aklamasi kembali terpilih menjadi Ketua Ranting NU Kelurahan Kapuk, Kecamatan Cengkareng, Jakarta Barat dalam musyawarah Ranting NU pada 15 Juli di Jakarta. Gus Siroj siap menjalankan program prioritas, yakni melayani warga-warga HTI yang sudah tidak memiliki tempat berorganisasi di masyarakat.

Menurutnya, kelompok HTI juga masyarakat yang butuh perlindungan dan tempat untuk bermasyarakat.

Buka Pintu, NU Kapuk Siap Lindungi Mantan Simpatisan HTI (Sumber Gambar : Nu Online)
Buka Pintu, NU Kapuk Siap Lindungi Mantan Simpatisan HTI (Sumber Gambar : Nu Online)

Buka Pintu, NU Kapuk Siap Lindungi Mantan Simpatisan HTI

"Selain menjalankan program-program yang sudah menjadi tradisi dan amalan NU selama ini, kami berencana mengajak warga HTI bergabung ke NU untuk bersama-sama mengikuti ajaran Ahlussunnah wal Jamaah," tegas mantan komandan Banser NU ini.

Untuk memperkuat dan menjalankan roda organisasi, pihaknya bersama pengurus Ranting NU Kapuk berencana akan menggelar musyawarah Ranting NU pada 27 Agustus mendatang dengan diawali ziarah Walisongo dan ke makam pendiri NU untuk meminta doa restu menjalankan roda organisasi di DKI Jakarta.

Shautus Salam

Dalam musyawarah nanti, kata Gus Siroj, pihaknya akan membahas berbagai program dan kegiatan NU Kapuk, serta berencana melakukan peremajaan di 16 anak Ranting NU Kapuk. "Jadi, peremajaan itu harus dilakukan karena penting untuk menghidupkan generasi selanjutnya, kalau organisasi tidak jalan, ya harus diganti," ungkapnya.

Shautus Salam

Sementara itu, Rais Syuriyah Ranting NU Kapuk Moch Ali dalam taushiyahnya meminta pengurus anak Ranting NU untuk tetap mempertahankan Gus Siroj menjadi Ketua NU. Karena menurutnya, Kelurahan Kapuk membutuhkan tokoh seperti Gus Siroj dalam menjalankan roda organisasi.

"Apalagi, daerah Kapuk banyak orang wahabi-nya, makanya sosok kiai seperti beliau (Gus Siroj) sangat dibutuhkan untuk membentengi NU dari ancaman Islam garis keras, dan ekstrem," ujarnya. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Amalan, Internasional, Ulama Shautus Salam

Minggu, 14 Januari 2018

Mahfudhoh Apresiasi Kinerja Perangkat Muslimat NU

Jakarta, Shautus Salam - Dewan Penasihat Pimpinan Pusat (PP) Muslimat Nahdlatul Ulama Nyai Hj Mafudhoh Aly Ubaid mengatakan, keberadaan perangkat mempunyai peranan yang sangat penting, yakni sebagai penguat organsasi Muslimat NU.

“Oleh karena itu sangat hebat Muslimat ini punya lima perangkat,” kata Mahfudhoh pada Pelantikan Perangkat Pusat, dan Rapat Pleno II dan Periodik I di Hotel Acacia Jakarta, Sabtu (14/10).

Mahfudhoh Apresiasi Kinerja Perangkat Muslimat NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahfudhoh Apresiasi Kinerja Perangkat Muslimat NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahfudhoh Apresiasi Kinerja Perangkat Muslimat NU

Menurut Mahfudhoh, kerja perangkat selama ini sangat baik dan mempunyai dampak perubahan. “Ini metode-metode, sistem dan mekanisme yang telah dibina oleh pendiri-pendiri yayasan yang sekarang dikembangkan sesuai dengan kebutuhan, situasi dan keadaan,” terangnya.

Shautus Salam

Meskipun begitu, ia mengingatkan kepada perangkat yang dilantik supaya terus bekerja keras untuk melakukan program-program yang telah dicanangkan di dalam kongres Muslimat NU.

“Kita bersama-sama untuk mengabdi kepada nusa dan bangsa dan agama melalui Muslimat Nahdlatul Ulama,” jelas perempuan yang juga pengasuh Pesantren Al-Lathifiyyah 1 Bahrul Ulum, Tambak Beras, Jombang.

Perempuan yang juga putri pendiri Nahdlatul Ulama KH Abdul Wahab Hasbullah ini mengingatkan agar para perangkat tetap selalu bekerja sama, bergotong-royong, dan saling menghargai sebagai modal motivasi dan penguatan baik untuk perangkat sendiri maupun organisasinya.

Shautus Salam

Lima perangkat pusat Muslimat Nahdaltul Ulama (NU) yang dilantik terdiri atas Yayasan Kesejahteraan Muslimat NU (YKM NU), Yayasan Pendidikan Muslimat NU (YPM NU), Yayasan Haji Muslimat NU (YHM NU), Himpunan Dai’yah dan Majelis Taklim NU (Hidmat MNU), dan Induk Koperasi An-Nisa Muslimat NU (Inkopan MNU).

Hadir pada pelantikan ini Ketua Umum PP Muslimat NU Hj Khofifah Indar Parawansa Dewan Penasihat PP Muslimat Hj Mahfudhoh Aly Ubaid, Hj Aisyah Hamid Baidlowi, Hj Farida Solahuddin Wahid, Ketua II PP muslimat NU Hj Nurhayati Said Aqil Siroj, Ketua III PP Muslimat NU Hj Mursyidah Thahir, Ketua Pimpinan Wilayah (PW) Muslimat NU DKI Jakarta, Ketua PW Muslimat NU Banten, Ketua PW Muslimat NU Jawa Barat, dan Ketua PW Muslimat NU Lampung. (Husni Sahal/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Amalan Shautus Salam

Jumat, 05 Januari 2018

NU Wacanakan Kembali ke Khittah Indonesia 1945

Jakarta, Shautus Salam. Perangkat legal negara Indonesia diresmikan pada tahun 1945. Pada tahun 1945, dasar-dasar Negara dikonsep dengan serius oleh para pendiri bangsa, termasuk tokoh NU. Mereka mengerahkan segala daya; pikiran, waktu, dan tenaga untuk memenuhi kebutuhan acuan bernegara. Mereka menuangkan ide-ide universal sekaligus cocok dengan sosio-kultural masyarakat Indonesia.

Dasar-Dasar Negara itu dirumuskan dalam bentuk keseimbangan antara ideal dan praktik. Ide-ide kemudian dimatangkan dalam diskusi terbuka kalangan terpelajar dari segala macam latar belakang pendidikan dan agama. Bentuk jadinya lalu tertuang dalam Pancasila dan UUD 1945.

NU Wacanakan Kembali ke Khittah Indonesia 1945 (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Wacanakan Kembali ke Khittah Indonesia 1945 (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Wacanakan Kembali ke Khittah Indonesia 1945

Pancasila dan UUD 1945 adalah ide-ide praktis yang menjadi referensi kemudi kebijakan negara. Rumusan Negara ini cukup mampu untuk mengakomodir kepentingan setiap warganya. Dengan semangat universal, segala kebutuhan warga Negara dengan beragam identitas dapat terjamin.

Shautus Salam

Dasar Negara dikemas sedemikian rupa untuk memenuhi hajat hidup orang banyak yang rupa-rupa. Karenanya, bangsa Indonesia dapat tumbuh di sektor politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Tanpa jaminan hukum yang universal, pembangunan tidak akan tumbuh baik.

“Tetapi saat ini, NU melihat pembangunan bangsa menjadi persoalan serius. NU menyerukan masyarakat Indonesia untuk kembali ke khittah Indonesia 1945,” kata Kang Said, ketua umum PBNU dalam tausiyah di acara tahlil dan zikir memperingati harlah ke-89 NU di lt. 8 Gedung PBNU Jl. Kramat Raya No. 164 Jakarta Pusat, Rabu (6/6) malam.

Shautus Salam

Khittah Indonesia 1945 tidak lain adalah Proklamasi, UUD 1945, Pancasila, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika. Gangguan dan ancaman terhadap khittah Indonesia 1945, cukup terlihat. Suara dan tindakan segelintir masyarakat, mengarah kepada keretakan elemen-elemen kebangsaan, tambah Kang Said di hadapan sedikitnya 130 hadirin yang turut berzikir.

Indonesia bukan Negara Islam, juga bukan Negara NU. Sekarang banyak orang malu menyebutkan dasar Negara Indonesia. Hal ini tidak bisa diabaikan. NU mengajak masyarakat untuk menjunjung tinggi kebhinekaan dan kemasyarakatan. NU akan mengawal kebangsaan. Sekarang banyak orang malu menyebutkan dasar Negara Indonesia. NU tidak akan segan dan bosan mengajak bangsa ini kembali ke khittah Indonesia 1945, tandas Kang Said.

Redaktur: Mukafi Niam

Penulis ? : Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Sholawat, Amalan Shautus Salam

Minggu, 24 Desember 2017

Aswaja NU Center Jawa Timur Bentuk Tim Narasumber

Surabaya, Shautus Salam. Respon masyarakat terhadap keberadaan Aswaja NU Center demikian menggembirakan. Hal mendesak yang harus segera dilengkapi adalah ketersediaan pemateri yang bisa setiap saat dihadirkan.

"Karena itu untuk periode ini kami membentuk tim narasumber," kata KH Abdurrahman Navis, Sabtu (3/9) petang. Keberadaan tim tersebut sebagai proses regenerasi sekaligus memberikan jaminan bagi ketersediaan pemateri yang sesuai spesifikasi, lanjut Direktur PW Aswaja NU Center Jatim ini.

Aswaja NU Center Jawa Timur Bentuk Tim Narasumber (Sumber Gambar : Nu Online)
Aswaja NU Center Jawa Timur Bentuk Tim Narasumber (Sumber Gambar : Nu Online)

Aswaja NU Center Jawa Timur Bentuk Tim Narasumber

Ada tiga tugas utama dari tim yang beranggotakan 13 orang tersebut. "Pertama adalah memberikan tulisan tentang materi keaswajaan untuk dimuat di sejumlah media sosial," kata Pengasuh Pesantren Nurul Huda Surabaya ini. Diharapkan lewat penjadwalan yang rutin, maka setiap narasumber bisa berbagi sudut pandang terkait masalah keaswajaan. "Khususnya yang sedang hangat diperbincangkan di media sosial," lanjutnya.

Sedangkan tugas kedua adalah menyiapkan materi yang disampaikan dalam bentuk shoting video. "Konten atau isinya seputar Aswaja yang akan dishare di yuotube serta Aswaja TV," kata Kiai Navis, sapaan akrabnya. Dengan jumlah nara sumber yang tersedia, diharapkan setiap hari ada materi singkat seputar Aswaja yang disampaikan lewat audio visual tersebut.

Shautus Salam

Dan yang juga tidak kalah penting adalah keberadaan mereka bisa menjadi narasumber pada kegiatan pendalaman materi yang dikelola Aswaja NU Center. "Karena banyak radio, televisi, sekolah, masjid atau mushalla serta jamaah pengajian yang berkeinginan mendapat pendalaman Aswaja," ungkapnya.

Keberadaan tim narasumber tersebut dibahas secara khusus pada kegiatan taaruf dan rapat kerja (raker) PW Aswaja NU Center Jatim di kantor setempat. Sejumlah nama yang dipercaya sebagai anggota antara lan KH Romadhon Khotib, Ustadz Fathul Qodir, Ahmad Muntaha AM, Nur Fauzi, Multazam Muslih, M. Luqmananul Hakim, HM Nasir Elhaq Abdi, Kholili Hasib, H Abd. Qodir Mahrus, M Syakur Dewa, M Badrul Munir, juga Hj. Mutimmah Faidah.

Shautus Salam

Kiai Navis juga mengingatkan bahwa para anggota hendaknya lebih peka terhadap problematika keumatan khususnya yang mengemuka di media sosial atau medsos. "Karenanya, harus ada yang ditugasi khusus untuk melakukan pemantauan untuk menangkap problem keumatan yang sedang hangat diperbincangkan," harap dosen di UIN Sunan Ampel Surabaya tersebut. (Ibnu Nawawi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Amalan Shautus Salam

Jumat, 15 Desember 2017

Usai UN, Siswa MAN Langsung Sujud Syukur

Blora, Shautus Salam. Sekitar 200 siswa-siswi Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Blora, Kamis (19/2) siang melakukan sujud syukur di Masjid Baitul Ghofur yang berada dalam komplek madrasah tersebut.

Usai UN, Siswa MAN Langsung Sujud Syukur (Sumber Gambar : Nu Online)
Usai UN, Siswa MAN Langsung Sujud Syukur (Sumber Gambar : Nu Online)

Usai UN, Siswa MAN Langsung Sujud Syukur

Pantauan Shautus Salam, sekitar pukul 13.00 WIB, sesaat setelah mereka usai mengikuti ujian nasional (UN) untuk hari terakhir, mereka langsung berbondong-bondong mengambil air wudhu. Tak lama kemudian, mereka melaksanakan jamaah sholat dhuhur.

Usai sholat dhuhur, mereka langsung bersama-sama melaksanakan syujud syukur. Mereka dengan penuh khidmah melaksanakan dua kali sujud sebagai tanda syukur atas selesainya pelaksanaan UN. Setelah itu, mereka berdoa bersama-sama agar diberikan kesuksesan oleh Allah.

Shautus Salam

Kepala MAN Blora, Drs H Suhamto MPd mengatakan, kendati hasil ujian nasional baru akan diumumkan pada 26 Mei, siswanya tetap diajak melaksanakan sujud syukur. Sujud syukur itu sebagai ungkapan terima kasih kepada Allah karena mereka sudah merampungkan kegiatan pembelajaran di MAN.

Dengan sujud syukur itu, para siswa juga berdoa agar dalam ujian yang baru digelar tersebut mereka bisa lulus dengan hasil memuaskan. Yakni, lulus dengan prosentase lulus 100 persen.

Shautus Salam

”Besuk setelah pengumuman kelulusan, mereka juga akan kami ajak bersyukur lagi,” tegasnya.

Setelah melaksanakan sujud syukur, mereka mengikuti acara sosialisasi dari Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al-Muhamad Cepu. Para siswa yang tidak meneruskan kuliah di luar daerah, diajak bergabung di STAI yang lokasi berada di komplek Pondok Pesantren Al-Muhamad. Perguruan tinggi tersebut membuka tiga program studi, yakni Pendidikan Agama Islam (PAI), Perbankan Syariah dan Ahwal Asy Syaksyiah.

Redaktur   : A. Khoirul Anam

Kontibutor: Sholihin Hasan

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Amalan, Habib Shautus Salam

Jumat, 08 Desember 2017

Guru para Ahli Falak Indonesia

Penanggalan adalah alat ukur yang disepakati oleh setiap orang sebagai penentu kejadian-kejadian di sekeliling mereka. Karena masyarakat Indonesia mengenal dua jenis penanggalan, yakni penanggalan Qomariyah (berdasarkan edar Bulan) dan Syamsiyah (berdasarkan edar Matahari), maka menjadi cukup pelik untuk menyatukan keduanya.

Kepelikan ini dikarenakan penanggalan Qomariyah memiliki dua metode penentuan, yakni metode hisab (hitungan) dan rukyah (melihat) langsung wujud hilal (bulan sabit). Karena penanggalan Islam (syariah) didasarkan pada penanggalan Qomariyah maka tentu saja segala peristiwa-peristiwa keagamaan ditentukan berdasarkan penanggalan Qomariyah. Artinya jadwal dapat ditentukan dengan dua metode penentuan waktu pada sistem penanggalan ini. Padahal hasil dari masing-masing metode seringkali berbeda. Perangkat keilmuan yang digunakan untuk menentukan jadwal penanggalan syar’i inilah yang disebut sebagai ilmu falak. Maka tokoh-tokoh ilmu dan pengambil keputusan jadwal-jadwal penanggalan syar’i juga kemudian desebut sebagai ahli falak.

Guru para Ahli Falak Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Guru para Ahli Falak Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Guru para Ahli Falak Indonesia

Ketika terjadi peristiwa-peristiwa penting dalam kehidupan keagamaan masyarakat dengan hasil penentuan yang berbeda, maka umat pun biasanya menjadi terpecah, karena masing-masing pihak memiliki argumen dan landasan hukum yang biasanya juga dianggap sama-sama kuat dan valid.

Shautus Salam

Perselisihan menjadi semakin komplek manakala masing-masing pihak yang berbeda pendapat lebih mengedepankan ego masing-masing kelompoknya. Perbedaan penentuan ini kemudian menjadi semakin meruncing karena dianggap sebagai perbedaan akidah. Kondisi demikian ini terus berlarut-larut terjadi dalam kehidupan umat Islam Indonesia.

Di tengah kondisi yang demikian, tentu umat membutuhkan panutan yang dapat mereka ikuti. Seorang figur yang dapat mempertanggungjawabkan pendapatnya serta tidak menimbulkan persengketaan berkepanjangan dan bertele-tele. Singkatnya, umat membutuhkan seorang pemimpin yang mampu mengayomi dan meredam konflik.

Dalam hal ini, umat Islam Nusantara memilik salah seorang tokoh falak dari kota Kudus Jawa Tengah yang cukup mumpuni dan layak diteladani. Beliau adalah KH. Turaichan Adjhuri Asy-Syarofi, yang semasa hidupnya dipercayai menjadi Ketua Markas Penanggalan Jawa Tengah.

Shautus Salam

Ulama kelahiran Kudus, 10 Maret 1915 ini adalah putera Kiai Adjhuri dan Ibu Nyai Sukainah. Terlahir di lingkungan agamis kota santri, sebagai anak yang membekali dirinya dengan belajar melaui sistem tradisional masyarakat yang telah turn-temurun dijalani keluarga dan teman-teman di sekitarnya. Mengaji pada para Kiyai dan ulama di sekitar tempat tinggalnya dan memulai pendidikan formal di daerah setempat tanpa mengurangi menimba ilmu dalam sistem tradisional. Satu hal yang menjadi ciri Mbah Tur, Sapaan akrabnya, dibanding tokoh-tokoh dari daerah lain adalah bahwa Beliau tidak pernah mondok di sebuah pesantren sebagai santri yang diasramakan. Meski sebenarnya hal ini lazim bagi para ulama di daerah asalnya, namun tidaklah demikian halnya dengan para ulama yang berasal dari daerah-daerah Nusantara lainnya.

Kiai Turaichan hanya mengenyam pendidikan formal selama dua tahun saja, yakni ketika berusia tiga belas hingga lima belas tahun. Tepatnya di Madrasah Tasywiquth Thullab Salafiyyah (TBS) Kudus pada kisaran tahun 1928 M. yakni sejak madrasah tersebut didirikan. Namun karena kemampuannya yang melebihi rata-rata, maka beliau justru diperbantukan untuk membantu palaksanaan belajar mangajar. Namun demikian Beliau tetap melanjutkan menuntut ilmu dalam garis tradisional (non formal).

Sejak mulai mengajar di Madrasah TBS Kudus inilah, Kiai Turaichan mulai aktif di dunia pergerakan. Dalam arti Beliau mulai melibatkan diri dalam dunia dakwah kemasyarakatan dan diskusi-diskusi ilmiah keagamaan. Mulai dari tingkat terendah di kampung halaman sendiri, hingga tingkat nasional.

Sejak saat itu pula Beliau mulai turut aktif terlibat dalam forum-forum diskusi Batsul Masail pada muktamar-muktamar NU. Kecerdasan dan Keberaniannya mengungkapkan argumen telah terlihat sejak awal keterlibatannya dalam forum-forum tersebut. Ia tanpa segan-segan mengungkapkan pendapatnya di depan siapa pun tanpa merasa pekewuh jika pendapatnya berbeda dengan pendapat ulama-ulama yang lebih senior, seperti KH. Bisri Sansuri dari Pati yang kemudian mendirikan Pesantren Denanyar Jombang.

Kiprahnya Mbah Tur juga telihat dalam dunia politik di tingat pusat. Beberapa kali Kiai Turaichan ditunjuk menjadi panitia Ad Hoc oleh pimpinan Pusat Partai NU. Sementara di daerahnya sendiri, tercatat Beliau menjadi Rais Syuriyah Pimpinan Cabang. Pernah juga dipercaya menjadi qodhi (hakim) pemerintah pusat pada tahun 1955-1977 M.

Namun spesifikasi keilmuan yang menjadikannya sedemikian populer dan kharismatis adalah di bidang falak. Hal ini dikarenakan Kiai Turaichan sedemikian teguh dalam memegang pendapatnya. Beliau tergabung dalam tim Lajnah Falakiyyah PBNU. Beberapa kali terlibat silang pendapat dengan pendapat ulama-ulama mayoritas, namun ia tetap kukuh mempertahankan pendapatnya. Terbukti kemudian, pendapat-pendapatnya lebih banyak yang sesuai dengan kenyataan. Hal inilah yang membuat kharisma dan kealiman serta ketelitian Beliau semakin diperhitungkan. Hingga Kiai Turaichan kemudian lebih dikenal sebagai ahli falak yang sangat mashur di Indonesia, dan mempunyai banyak murid menekuni ilmu falakiyah hingga sekarang.

Selanjutnya, Mbah Tur tidak pernah absen dalam muktamar-muktamar NU, kecuali sedang udzur karena kesehatan. Belakangan, ketika terjadi perubahan asas dasar NU dari asas Ahlussunnah wal Jamaah menjadi asas Pancasila, Mbah Tur menyatakan mufaroqoh (memisahkan diri) dari Jamiyyah (keorganisasian NU).

Hal yang menarik di sini adalah, meski telah menyatakan mufaroqoh secara keorganisasian namun Beliau tetap dipercaya sebagai Rais Suriyah di tingkat Cabang. Sedangkan untuk tingkat Pusat Kiai Turaichan memang tidak lagi aktif seperti dahulu. Karenanya, Kiai Turaichan kemudian mempopulerkan istilah ”Lokalitas NU” yang berarti tetap setia untuk eksis memperjuangkan Jam’iyyah NU dalam skala lokal, yakni di NU cabang Kudus saja. Untuk tingkat yang lain (lebih tinggi), Beliau telah menyatakan mufaroqoh. Bahkan seringkali Beliau juga seringkali memiliki pendapat-pendapat falakiyah (penetapan tanggal suatu kejadian yang berbeda dengan garis kebijakan PBNU, dan karena telah menyatakan mufaroqoh, maka beliau tidak merasa terikat oleh keputusan apa pun yang dibuat oleh PBNU.

Kendati demikian, Kiai Turaichan tetap menjalin hubungan yang baik dengan pihak-pihak yang sering menolak keputusannya. Bahkan Beliau selalu bersikap akomodatif kepada pemerintah, walaupun pemerintah pernah beberapa kali mencekalnya karena mengeluarkan pernyataan berbeda dengan pemerintah perihal penentuan awal bulan Syawal. Termasuk akan menyidangkannya ke pengadilan pada tahun 1984, ketika menentang perintah pemerintah untuk berdiam diri di rumah saat terjadi gerhana Matahari total pada tahun tersebut. Alih-alih menaati, Beliau justru mengajak untuk melihat peristiwa tersebut secara langsung dengan mata kepala telanjang.

Pada waktu terjadi peristiwa gerhana Matahari total tersebut, Mbah Tur memberi pengumuman kepada umat Muslim di Kudus, bahwa gerhana Matahari total adalah fenomena alam yang tidak akan menimbulkan dampak (penyakit) apapun bagi manusia jika iengin melihatnya, bahkan Allah-lah yang memerintahkan untuk melihatnya secara langsung. Hal ini dikarenakan redaksi pengabaran fenomena yang menunjukkan keagungan Allah ini difirmankan oleh Allah menggunakan kata ”abshara”. Artinya, perintah melihat dengan kata ”abshara” adalah melihat secara langsung dengan mata, bukan makna denotatif seperti mengamati, meneliti dan lain-lain, meskipun memang ia dapat berarti demikian secara lebih luas.

Pada hari terjadinya gerhana matahari total di tahun tersebut, Kiai Turaichan tengah berkhutbah di Masjid al-Aqsha, menara Kudus. Tiba-tiba di tengah-tengah Beliau berkhutbah, Beliau berkata kepada seluruh jamah yang hadir, ”Wahai Saudara-saudara, jika Kalian tidak percaya, maka buktikan. Sekarang peristiwa yang dikatakan menakutkan, sedang berlangsung. Silahkan keluar dan buktikan, bahwa Allah tidak menciptakan bala’ atau musibah darinya. Silahkan. Keluar dan saksikan secara langsung!” Maka, para Jamaah pun lantas segera berhamburan keluar, menenagadah ke langit dan menyaksikan secara langsung dengan mata kepala telanjang terjadinya gerhana Matahari total.

Setelah beberapa saat, para jamaah kembali ke tempatnya semula, acara khutbah khushufusy Syamsy pun dilanjutkan dan tidak terjadi suatu musibah apa pun bagi mereka semua. Namun karena keberaniannya ini, Kiai Turaichan harus menghadap dan mempertanggungjawabkan tindakannya di depan aparat negara yang sedemikian represif waktu itu. Meski demikian sama sekali Kiai Turaichan tidak menunjukkan tabiat mendendam terhadap pemerintah.

Bahkan hingga menjelang akhir hayatnya pada 20 Agustus 1999, Mbah Tur termasuk ulama yang sangat antusias mendukung undang-undang pencatatan nikah oleh negara yang telah berlaku sejak tahun 1946 tersebut. Beliau sangat getol menentang praktik-praktik nikah Sirri atau di bawah tangan. Menurutnya, selama hukum pemerintah berpijak pada kemaslahatan umat dan tidak bertentangan dengan syariat Islam, maka wajib bagi seluruh umat muslim yang menjadi warga negara Indonesia untuk menaatinya. Artinya pelanggaran atas suatu peraturan (undang-undang) tersebut adalah juga dihukumi sebagai kemaksiatan terhadap Allah. Demikian pun menaatinya, berarti adalah menaati peraturan Allah. (Syaifullah Amin)Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Humor Islam, Budaya, Amalan Shautus Salam

Senin, 04 Desember 2017

Agendakan Pelatihan, Fatayat Malo Upayakan Pendirian Koperasi

Bojonegoro, Shautus Salam

Pimpinan Anak Cabang (PAC) Fatayat NU Kecamatan Malo, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, menjalin kerja sama dengan PT Mitra Insan Mandiri dalam rangka pengembangan sumber daya manusia dalam bentuk pelatihan dan mendirikan koperasi Fatayat.

Kedua belah pihak menandatangani nota kesepahaman (MoU) pada acara pelantikan pengurus baru PAC Fatayat NU setempat di Balai Kantor Kecamatan Malo, bertepatan dengan peringatan hari lahir ke-90 NU, Ahad (31/1).

Agendakan Pelatihan, Fatayat Malo Upayakan Pendirian Koperasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Agendakan Pelatihan, Fatayat Malo Upayakan Pendirian Koperasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Agendakan Pelatihan, Fatayat Malo Upayakan Pendirian Koperasi

Turut menyaksikan Sekretaris Pimpinan Pusat Fatayat NU Margaret Aliyatul Maimunah, serta para pengurus dari PCNU Bojonegoro, Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Bojonegoro, dan PAC Fatayat NU di sejumlah kecamatan di Kota Ledre ini, seperti Kecamatan Padangan, Kedewan, Kasiman, Gayam, dan Kalitidu.

Shautus Salam

Ketua PAC Fatayat NU Malo Uthfiatul Ummi Farida berharap pasca pelantikan ini, para pengurus lebih bersemangat dalam menjalankan program. Ia mengaku tengah mengagendakan program pelatihan untuk para kader perempuan NU.

"Pesan dari penasehat, nanti akan ada pelatihan menjahit untuk Fatayat-Muslimat sebagai awal menjadi usaha kreatif," terangnya.

Shautus Salam

Munif Sulaiman, penanggung jawab kegiatan, mengaku acara ini merupakan rangkaian dari peringatan harlah ke-90 NU. Di dalamnya ada bakti sosial, pengobatan gratis, marching band dan ditutup dengan pelantikan PAC Fatayat NU Malo.

"Ada tausyiyah organisasi dan sebagai silaturrohim stakeholder, Muspika, NU dan para banom (badan otonom)," ungkap warga Kecamatan Malo itu.

Wakil Sekretaris PP PSNU Pagar Nusa ini menambahkan, pelantikan PAC Fatayat NU Malo paling dan istimewa karena dihadiri Sekretaris Umum PP Fatayat NU Margaret Aliyatul Lailiyah. Munif berharap Fatayat NU Malo dapat bersinergi dengan banom NU yang lain dan melakukan penguatan badan ekonomi. (M. Yazid/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Pemurnian Aqidah, Hadits, Amalan Shautus Salam

Jumat, 24 November 2017

Datangi PCNU Garut, Geng Motor XTC Belajar Aswaja An-Nahdliyyah

Garut, Shautus Salam - Pengurus Cabang Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama Kabupaten Garut melakukan pembinaan terhadap kelompok geng motor di Sekretariat PCNU Kabupaten Garut Jalan KH Hasan Arif, Sabtu (24/9). Anggota geng motor XTC datang ke Sekretariat PCNU Kabupaten Garut untuk bersilaturahmi dengan jajaran PCNU Kabupaten Garut.

Mereka ingin mengenal lebih dalam tentang ajaran Islam Ahlussunnah Waljamaah An-Nahdliyah yang dibina langsung oleh Ketua LDNU Kab Garut KH Lukman Hakim. Sementara geng motor selama ini dikenal oleh masyarakat sebagai kelompok yang selalu meresahkan di jalan-jalan dan selalu melakukan onar.

Datangi PCNU Garut, Geng Motor XTC Belajar Aswaja An-Nahdliyyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Datangi PCNU Garut, Geng Motor XTC Belajar Aswaja An-Nahdliyyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Datangi PCNU Garut, Geng Motor XTC Belajar Aswaja An-Nahdliyyah

Selain itu, anggota XTC tersebut ingin hijrah dari hal-hal yang dianggap buruk oleh masyarakat pada hal-hal yang bermanfaat bagi mereka dan masyarakat sekitar.

Kiai Lukman mengajak mereka untuk ikut serta dalam membela Pancasila dan NKRI. Sementara mereka menyatakan siap mengabdikan diri untuk membela Pancasila dan NKRI jika dibutuhkan. (Muhammad Salim/Alhafiz K)

Shautus Salam

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam

Shautus Salam Amalan Shautus Salam

Minggu, 19 November 2017

Ketika Suami-Istri Bergurau

Suami jangan sekali-kali main tangan kepada istri. Begitupun sebaliknya. Main tangan artinya mendaratkan pukulan atau tamparan di bagian manapun juga. Terlebih lagi kalau sudah main kayu atau senjata tajam dengan aneka rupanya. Ini dapat membahayakan keduanya sekaligus orang banyak.

Alasan main tangan tentu bisa beraneka rupa. Makna harfiahnya, alasan itu bisa dikumpulkan sebanyak-banyaknya kalau mau memikirkan semalam suntuk. Kalau tidak mau serius, ambil saja alasan apapun yang melintas di kepala. Ini kerjaan paling ringan.

Ketika Suami-Istri Bergurau (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketika Suami-Istri Bergurau (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketika Suami-Istri Bergurau

Perilaku baku hantam atau main tempeleng ini bisa dijadikan contoh buruk oleh anak-anak mereka. Atau sebaliknya, anak-anak memiliki nilai kemanusiaannya sendiri. Rasa iba timbul. Akibatnya, harga diri orang tua jatuh merosot tanpa bisa dihargai barang sepeser pun di mata anak mereka.

Shautus Salam

Sedangkan suami itu sejatinya harus memperlakukan istri dengan baik. Demikian pula istri. Keduanya harus saling bersikap lembut. Kalau bisa bicara dengan santun dan menyenangkan, kenapa harus memilih bentak-bentak atau teriak seolah pasangannya mengalami gangguan pendengaran?

Shautus Salam

Perihal sikap dan perilaku keseharian suami-istri ini memiliki sangkut-paut dengan urusan keimanan. Tidak main-main; keimanan. Jangan sampai Tuhan menilai rendah mutu keimanan hanya karena seseorang membanting pintu keras-keras akibat jengkel terhadap pasangannya. Rendahnya mutu keimanan itu sama murahnya dengan ongkos bis kota di Jakarta dengan jaminan keselamatan ala kadarnya. Ala kadarnya bisa diartikan, tanpa jaminan keselamatan.

Rasulullah SAW mengimbau suami-istri untuk pandai menghibur dan membahagiakan pasangan. Gurauan dan humor-humor ringan sangat dibutuhkan. Jangan sampai komunikasi berjalan adem tanpa letupan tawa bahagia. Rumah seperti ini bisa dikira tetangga sebagai rumah kosong atau sekurang-kurangnya seperti museum. Dingin.

Dalam kitab al-Azkar, Imam Nawawi menyebutkan hadis di bawah ini.

وروينا فى كتاب الترمذى وسنن النسائ عن عائشة رضي الله عنها قالت، قال رسول الله صلى الله عليه وسلم، أكمل المؤمنين إيمانا أحسنهم خلقا وألطفهم لأهله

Dalam kitab hadis Turmudzi dan Nasa’i, Siti A‘isyah RA meriwayatkan sabda Rasulullah SAW, “Orang beriman yang imannya paling sempurna ialah mereka yang paling baik berakhlak dan paling lembut (murah senyum) kepada keluarganya.”

(Alhafiz Kurniawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam IMNU, Amalan Shautus Salam

Sabtu, 18 November 2017

Harlah Ke-61 IPPNU, Momentum Perkuat Aswaja Pelajar Putri

Jakarta, Shautus Salam

Pimpinan Pusat (PP) Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) menggelar tasyakuran hari lahir ke-61 dengan istighosah, potong tumpeng bersama para pengurus di gedung PBNU pada Rabu (2/3). Hal itu dilakukan sebagai upaya memperkuat gairah perjuangan IPPNU ke depan.

Harlah Ke-61 IPPNU, Momentum Perkuat Aswaja Pelajar Putri (Sumber Gambar : Nu Online)
Harlah Ke-61 IPPNU, Momentum Perkuat Aswaja Pelajar Putri (Sumber Gambar : Nu Online)

Harlah Ke-61 IPPNU, Momentum Perkuat Aswaja Pelajar Putri

Ketua Umum Pimpina Pusat IPPNU Puti Hasni mengatakan, harlah ini harus dijadikan titik tolak bagi IPPNU untuk memperkuat dan memaksimalkan perannya dalam membentuk pelajar putri Indonesia yang berpaham Ahlussunnah wal Jamaah an-nahdliyyah, moderat, dan nasionalis.

"Saya mengartikan harlah ini sebagai spirit baru, sebuah suntikan spirit untuk berjuang bersama membangun pelajar putri Indonesia melalui IPPNU," paparnya.

Shautus Salam

Puti ingin IPPNU semakin bermanfaat untuk semua elemen, terutama kalangan pelajar dan santri. Bisa lebih baik lagi dari tahun-tahun sebelumnya. Untuk itu, ia menegaskan pengurus dari tingkat Pusat sampai Komisariat harus bahu-membahu untuk menghadapi tantangan ke depan.

Sebagai penerus estafet perjuangan, baik dalam konteks mempertahankan Islam Ahlussunnah Wal Jamaah maupun konteks perjuangan sosial-politik di Indonesia, menurut Puti, IPPNU harus selalu memberi solusi-solusi cerdas bagi kemajuan semua itu.

Shautus Salam

"Usia yang amat matang ini, IPPNU akan terus melanjutkan estafet perjuangan nilai-nilai Nahdlatul Ulama, yaitu tasamuh, tawazun, Itidal, dan adalah di kalangan segenap pelajar Indonesia, sebagaimana yang telah diteladankan para pendiri dan pendahulu. IPPNU akan senantiasa berjuang memajukan, mencerdaskan, memuliakan, dan membangun kreativitas, inovasi, toleransi, penghormatan kemanusiaan, dan perdamaian pada pelajar nusantara," tandasnya.

Sekretaris Umum IPPNU Eva Rosdiana menambahkan bahwa perjuangan IPPNU masih panjang. "Lahan garapan kita tidaklh mudah karena posisi kita pada lapis terdepan kaderisasi menuju pejuang putri NU," Kata Eva.

Ia berharap IPPNU ke depan lebih fokus perhatikan lahan garapan, agar regenarasi perjuangan pelajar putri tetap terjaga untuk mempertahankan eksistensi perempuan.

"Semoga IPPNU ke depan semakin mampu mengawal pelajar putri yang bermartabat dan beradab serta berakhlaqul karimah," pungkasnya. (Afifah Marwa/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Sejarah, Amalan Shautus Salam

Kamis, 16 November 2017

PMII Jabar Tuntut Kapolri Bertanggung Jawab

Bandung, Shautus Salam. Pengurus Koordinator Cabang (PKC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Jawa Barat menuntut Kapolri bertanggung jawab atas hilangnya terpidana korupsi Susno Duadji, Mantan Kepala Badan Reserse dan Kriminal Mabes Polri. ?

Tuntutan itu disampaikan Ketua PKC PMII Jabar, Edi Rusyandi. Menurut Edi, patut ditelusuri upaya perlindungan terhadap Susno dari Korps Polri. “Bisa jadi, Susno merupakan orang yang banyak tahu atas kebobrokan Polri selama ini,” katanya melalui pers rilis yang dikirim ke Shautus Salam, Senin (29/4).

PMII Jabar Tuntut Kapolri Bertanggung Jawab (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Jabar Tuntut Kapolri Bertanggung Jawab (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Jabar Tuntut Kapolri Bertanggung Jawab

Oleh karena, sambung Edi, PKC PMII Jabar menyatakan, menuntut Kapolri untuk turut bertanggung jawab atas hilangnya Susno Duadji pasca-gagalnya eksekusi. Kedua, sebagai bentuk pertanggungjawaban, PMII Jabar mendesak Kapolri untuk mencopot Kapolda Jabar karena telah gegabah memberikan perlindungan kepada koruptor.

Shautus Salam

Ketiga, mendesak Presiden Republik Indonesia untuk serius melakukan reformasi akhlak para penegak hukum yang ada di institusi Polri yang dari waktu ke waktu semakin jauh dari harapan rakyat.

Shautus Salam

Keempat, mengecam tindakan Polda Jabar yang memberikan perlindungan hukum kepada pelaku korupsi, bertolak belakang dengan kedudukannya sebagai aparatur penegak hukum.

Jika Polda Jabar tidak segera menangkap Susno Duadji, PKC PMII Jawa Barat akan melakukan aksi besar-besaran ke Kantor Polda Jabar.

Seperti diketahui, Tim gabungan kejaksaan gagal melakukan eksekusi terhadap mantan Kepala Bareskrim Polri Komjen Pol (Purn) Susno Duadji, di kediamannya, kawasan Dago Pakar, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Rabu (24/4) lalu.

Susno, terpidana korupsi ini, sekarang tak diketahui keberadaannya. Mantan Kepala Badan Reserse dan Kriminal Mabes Polri itu hilang sejak meninggalkan Mapolda Jawa Barat pada Kamis (25/4).

?

Penulis: Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Amalan, Meme Islam, Makam Shautus Salam

Rabu, 15 November 2017

Muslimat NU Jakarta Pinta Kader Kawal Aswaja dan NKRI

Jakarta, Shautus Salam - Pimpinan Wilayah Muslimat NU DKI Jakarta memperingati Hari Lahir (Harlah) ke-71 Muslimat NU di Masjid Sunda Kelapa, Jakarta Pusat, Kamis (11/5). Kegiatan bertema “Satukan Langkah Membangun Negara Menjaga NKRI” ini dihadiri ratusan kader Muslimat NU se-Jakarta.

Ketua PW Muslimat NU Jakarta Hj Hisbiyah Rochim pada sambutannya meminta kepada kader Muslimat NU Jakarta agar terus mengawal NKRI dan program-program NU.

Muslimat NU Jakarta Pinta Kader Kawal Aswaja dan NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslimat NU Jakarta Pinta Kader Kawal Aswaja dan NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslimat NU Jakarta Pinta Kader Kawal Aswaja dan NKRI

“NU, sejak dulu, sebelum Indonesia merdeka sampai merdeka, bahwa KH Hasyim Asy’ari, KH Wahab Chasbullah, KH Bisri Sansoeri telah berjuang mati-matian membela NKRI. Bagi NU, NKRI harga mati!” ujar Hj Hisbiyah.

Shautus Salam

Ia juga meminta kepada kader Muslimat NU DKI supaya terus mengawal dan mendengungkan tradisi keagamaan NU, seperti tahlil, marhabanan dan lain-lain.

“Tugas kita mengawal Ahlussunnah wal Jama’ah,” kata Hj Hisbiyah.

Shautus Salam

Pada peringatan Harlah ini juga diisi dengan MoU budidaya cabai antara PW Muslimat NU Jakarta dengan Badan Teknologi Pertanian Jakarta.

Pada Harlah tersebut, hadir pengurus PP Muslimat NU Hj Nurhayati Said Aqil Siroj, Sekretaris PW Muslimat NU DKI Jakarta Yayah Ruhyati dan segenap pengurus PW Muslimat NU DKI Jakarta.(Husni Sahal/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam AlaNu, Amalan, Ulama Shautus Salam

Minggu, 12 November 2017

Bertawasul ke Imam al-Ghazali, Barang Hilang Pun Ketemu

Seorang pemuda asal Tegal berusia kira-kira 36 tahun, sebutlah namanya Udin (nama samaran), hari itu sedang dilanda kebingungan. Di saat usaha membuka warung sembako yang dirintis? bersama istrinya belum benar-benar stabil dan menunjukkan perkembangan yang berarti, tiba-tiba sejumlah uang yang selama ini mereka kumpulkan dari hasil berdagangnya itu hilang entah di mana. Padahal Udin belum punya rumah sendiri, melainkan masih ikut tinggal di rumah mertuanya di Cirebon.

Sebab utama kebingungan Udin sebenarnya bukan karena uangnya yang hilang. Tetapi lantaran dia masih tinggal seatap dengan mertuanya, tentu saja orang tua istrinya itu mempersoalkan dan menyayangkan atas kejadian hilangnya uang tersebut. Apalagi mertuanya juga menuntut kepada Udin bagaimana caranya supaya dapat menemukan uang yang raib itu. Ayah istrinya itu seakan menekan Udin yang merupakan santri alumni pesantren agar menunjukkan kemampuannya dalam soal ini. Merasa ditantang demikian, Udin akhirnya menyanggupi dan berjanji akan dapat menemukan uangnya dalam waktu seminggu.

Bertawasul ke Imam al-Ghazali, Barang Hilang Pun Ketemu (Sumber Gambar : Nu Online)
Bertawasul ke Imam al-Ghazali, Barang Hilang Pun Ketemu (Sumber Gambar : Nu Online)

Bertawasul ke Imam al-Ghazali, Barang Hilang Pun Ketemu

Itulah pemantik kebingungan Udin, yaitu terpaksa menyanggupi dan menjanjikan kepada mertuanya akan dapat menemukan kembali uangnya. Padahal meski dia alumni pesantren tapi ia merasa tak memiliki kemampuan layaknya orang pintar yang diidentikkan mempunyai kemampuan supra natural. Kendati menyadari tak memiliki kecakapan demikian, tidak lantas Udin pergi ke dukun atau paranormal. Udin tetap berusaha berpikir dan mencari solusinya sendiri.? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Shautus Salam

Jauh sebelum Udin menikah dua tahunan lalu, dia yang juga menjadi guru honorer di sebuah sekolah formal ini merupakan seorang yang dikenal sangat gandrung (sangat menyukai) dengan kajian agama dalam kitab Ihya Ulumudin karya Imam Al-Ghazali. Dia berusaha sebisa mungkin agar perilaku hidupnya, terutama dalam bidang muamalah bisa berkesesuaian dengan ajaran Imam Ghazali yang tertuang dalam Ihya tersebut. Maka sebagai konsekuensinya Udin ketika menjalankan suatu pekerjaan atau usaha dirinya sangat berhati-hati, tidak asal mendapat untung dan penghasilan besar. Tapi diperhatikan betul apakah bisnis atau jual beli yang ia jalani misalnya, telah sesuai dengan ketentuan fiqih atau justru melanggar.

Shautus Salam

Akhirnya Udin bertawasul (berdoa dengan perantara, red) kepada Imam Ghazali. Lalu curhat kepada Imam Ghazali tentang problem yang sedang dialaminya. Sebagai orang yang telah memiliki bekal ilmu Tauhid yang memadai, tentu Udin sudah paham mana hal-hal yang dikategorikan perbuatan syirik dan mana perbuatan yang diperbolehkan syariat.? ? ?

Ajaibnya, beberapa waktu setelah tawassul dan curhat kepada Imam Ghazali (dengan caranya sendiri), uang yang sebelumnya hilang itu sudah berada kembali di tempat penyimpanannya semula. Tidak diketahui siapa yang mengembalikan uang itu di tempat asalnya. Setelah dihitung ternyata jumlahnya sama, tidak berkurang. Udin riang gembira, walau sebelumnya janji akan dapat menemukan kembali uangnya dalam jangka satu pekan sebetulnya karena terpaksa dan nekad saja—barangkali demi menjaga harga diri. Kini ucapanya itu benar-benar terbukti. Sejak itu Udin mulai diperhitungkan oleh mertuanya.? ? ? ? ? ?

Menurut pandangan Udin keajaiban yang dialaminya itu bukanlah jenis amalan klenik atau mistik, tetapi merupakan suatu kejadian biasa saja yang logis serta dapat dirasionalkan. Dia meyakini bahwa meski sudah wafat ratusan tahun lalu bahkan lebih lama lagi dari itu, arwah para "wali" termasuk Imam Al-Ghazali masih hidup dan dapat mendengar komunikasi orang yang masih hidup saat ini.

Tak hanya itu, lulusan dari salah satu pesantren di Babakan Cirebon ini meyakini ketika seseorang membaca kitab karya para wali tersebut, berarti pembaca sedang berdialog dengan "ruh" pengarang kitab itu dalam arti sesungguhnya.

Saat pembaca mengarungi samudera pemikiran ulama melalui kitabnya, hakikatnya dia tidak sedang berhadapan hanya dengan benda mati berupa kertas bertinta hitam yang berjilid, tapi juga berhadapan dengan "ruh" penulisnya. Kian intens dan seringnya pembaca dalam menelaah pemikiran ulama-auliya sehingga memperoleh pemahaman yang mendalam, maka makin akrab dan kian kenal pula dengan penulisnya. Dari situ terjalinlah hubungan sepritual melalui pengenalan yang intens saat mengkaji karangannya.

Pandangan Udin di atas? menurut penulis artikel ini sangat kompatibel jika dikaitkan dengan adab seorang pembelajar dalam tradisi pesantren yang begitu mengagungkan kitab karangan ulama seperti misalnya imbauan supaya dalam keadaan punya wudhu saat pelajar memegang kitab, tidak boleh ditaruh di tempat yang rendah sehingga terlangkahi, tidak boleh ditaruh di atas kitab sesuatu barang dan etika lainnya. Penghormatan yang tinggi demikian karena tulisan ulama-aulia tidak sekadar berupa kumpulan kertas dan tinta, melainkan juga terdapat "jiwa" pengarangnya.? ? ? ? ?

Di samping itu dalam konteks hubungan buku dan pengarangnya pandangan Udin tersebut jauh lebih filosofis dibandingkan pernyataan sastrawan Pramoedya Ananta Toer misalnya yang pernah mengatakan bahwa semua buku hasil karanganya tak lain adalah anak-anak rohaninya yang mempunyai sejarahnya masing-masing. ?

* Ditulis oleh M. Haromain, berdasarkan penuturan kawan informan dari Plered Cirebon belum lama ini.? ?



=====

Shautus Salam mengajak kepada pembaca semua untuk berbagi kisah inspiratif penuh hikmah baik tentang cerita nyata diri sendiri atau pengalaman orang lain. Silakan kirim ke email: redaksi@nu.or.id

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Amalan, Warta Shautus Salam

Kamis, 09 November 2017

Pendidikan Anti Korupsi Akan Disisipkan dalam Materi Pelajaran Madrasah

Jakarta, Shautus Salam. Direktorat Pendidikan Madrasah bersama Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) serta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengadakan pertemuan guna membahas kurikulum Pendidikan Anti Korupsi (PAK) di Madrasah/Sekolah.

Direktur Pendidikan Madrasah, Nur Kholis Setiawan mengatakan bahwa tujuan pertemuan tersebut guna memantapkan langkah implementasi PAK dalam dunia pendidikan. Sejatinya, Nur Kholis menjelaskan, bahwa Kemenag, Kemendikbud serta KPK sendiri tidak berangkat dari titik nol dalam hal implementasi PAK.

Pendidikan Anti Korupsi Akan Disisipkan dalam Materi Pelajaran Madrasah (Sumber Gambar : Nu Online)
Pendidikan Anti Korupsi Akan Disisipkan dalam Materi Pelajaran Madrasah (Sumber Gambar : Nu Online)

Pendidikan Anti Korupsi Akan Disisipkan dalam Materi Pelajaran Madrasah

"Cuma belum tersinergikan dengan baik. Misal di Kemenag, ada lima budaya kerja, di Dikbud ada tunas-tunas integritas," katanya, Kamis (12/11/15) di Jakarta seperti dikutip dari laman kemenag.go.id.

Dia berharap, dalam forum pertemuan tersebut bisa dicarikan bagaimana cara terbaik dalam menyampaikan materi kepada peserta didik dalam hal ini siswa yang berada di pendidikan dari jenjang Taman Kanak-kanak/Raudlatul Athfal (TK/RA) hingga Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah (SMA/MA).?

Shautus Salam

"Saya yakin pertemuan ini tinggal mengerucutkan bagaimana cara fun dan menarik dan efektif untuk menyampaikan pesan ke peserta didik," ujarnya.

Shautus Salam

Dengan mengemban 76551 lembaga dengan 9,2 juta siswa tanggung jawab untuk mendesiminasikan nilai-nilai PAK butuh kerjasama agar target dan pesan mengenai PAK tercapai.

"Dalam forum ini saya mengusulkan bahwa PAK ini bukan mata pelajaran baru, kami (ingin) menghindari itu. Kasihan peserta didik. Karena kalau semua diakomodir (menjadi mata pelajaran), maka tidak akan menjadikan pintar, tapi kopyor," paparnya.

Untuk itu, Nur Kholis menjelaskan bahwa caranya ialah dengan menginjeksikan nilai-nilai PAK ke mata pelajaran seperti Akidah Akhlak, Al-Qur`an Hadits, Fikih, Sejarah Kebudayaan Islam dan Bahasa Arab.

"Disitulah kami sisipkan pendidikan anti korupsi," tukas Direktur.

Sebelumnya, delegasi KPK dari Deputi Pencegahan, Bidang Pendidikan dan Pelayanan Masyarakat Sandi Justiana mengatakan bahwa dalam forum tersebut tercapai kesepakatan nilai-nilai yang menjadi acuan serta indikator dalam pengukuran PAK.

"Juga bagaimana implementasi nilai-nilai tersebut di sekolah/madrasah," kata Sandi.

Selain mempersiapkan bahan menjelang Hari Anti Korupsi, Sandi juga berharap pada tahun depan terjadi kolaborasi yang mapan antara Kemenag, Kemendikbud serta KPK serta terjalin garis koordinasi dalam menyebarkan PAK ke seluruh tanah air.

"Tidak ada sekolah yang sering mendapatkan intervensi dari pusat," pungkasnya. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam AlaNu, Amalan Shautus Salam

Minggu, 05 November 2017

Sekolah Kader Kopri Perdana Se-Jawa Timur Berlangsung di Jombang

Jombang, Shautus Salam. Korps Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Putri (Kopri) Kabupaten Jombang, Jawa Timur akan menggelar Sekolah Kader Kopri (SKK) se-Jawa Timur pada 10-12 November 2016 mendatang di aula kantor Muslimat NU setempat.?

Sekolah Kader Kopri Perdana Se-Jawa Timur Berlangsung di Jombang (Sumber Gambar : Nu Online)
Sekolah Kader Kopri Perdana Se-Jawa Timur Berlangsung di Jombang (Sumber Gambar : Nu Online)

Sekolah Kader Kopri Perdana Se-Jawa Timur Berlangsung di Jombang

SKK ini adalah kegiatan kaderisasi perdana yang diselenggarakan Kopri Cabang Jombang. Ketua Pelaksana SKK, Syafik Syafaatin mengungkapkan persiapan untuk kegiatan tersebut hingga saat ini masih terus dilakukan, termasuk koordinasi antar panitia dan sejumlah Pengurus Komisariat PMII se-Jombang sebagai calon peserta. Selain itu, juga calon peserta di luar daerah.?

"SKK Kopri Cabang Jombang, ini baru yang pertama kali, makanya kami selaku panitia aktif melakukan sosialisasi baik kader putri dalam Jombang, maupun luar Jombang," terang Syafa, sapaan akrabnya, Selasa (1/11/2016).

Sementara untuk narasumber kegiatan, Syafa menjelaskan akan mendatangkan orang-orang yang memang dianggap kompeten di masing-masing materi SKK. Diantaranya ? Ketua Kopri PKC Jawa Timur, Nafis, Ema Umiyatul Chusnah (Anggota DPRD Jombang), Ai Rahma (Ketua Kopri PB), Aan Anshori (Gusdurian Jombang), Roy Murtadho (Islam Bergerak), Hj Istibsjaroh (Mantan DPD RI), Palupi Pusporini (Direktur WCC Jombang).

Namun demikian, sesuai persyaratan yang berlaku, sebelum digelar SKK, para peserta setidaknya pernah mengikuti Sekolah Islam Gender (SIG) atau Sekolah Kader Putri (SKP) sebelumnya. Syafa menjelaskan, dirinya sudah berkoordinasi dengan Nafis perihal SIG atau SKP.?

Shautus Salam

"Kita sudah mengkoordinasikan dengan Ketua Kopri PKC Jawa Timur, Sahabat Nafis, jika memang peserta yang mau ikut SKK, harus SIG atau SKP dahulu," imbuh Syafa yang juga Sekretaris Kopri Cabang Jombang itu.

Ia berharap dengan diselenggarakannya kegiatan ini, akan muncul kader putri PMII yang tangguh, dan sadar akan potensi dalam diri masing-masing. (Syamsul Arifin/Fathoni)

Shautus Salam

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Amalan, Tegal Shautus Salam

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Shautus Salam sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Shautus Salam. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Shautus Salam dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock