Tampilkan postingan dengan label Daerah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Daerah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 25 Februari 2018

Dzikir di Istana Bukti Umat Islam Peduli Keutuhan Bangsa dan Negara

Jakarta, Shautus Salam. Dzikir nasional yang digelar di halaman Istana Merdeka Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta, Selasa (1/8) malam, menjadi bukti umat Islam peduli dan memikirkan keutuhan bangsa dan negara Indonesia. Seperti disampaikan dalam doa Mustasyar PBNU KH Maemun Zubair (Mbah Moen).

Hal tersebut dikatakan Rais Syuriyah PBNU KH Ahmad Ishomuddin kepada Shautus Salam usai penutupan dzikir. “Tadi dikatakan Mbah Moen dalam doa beliau, semoga bangsa Indonesia dijauhkan dari perpecahan dan pertikaian sesama anak bangsa,” ujarnya.

Dzikir di Istana Bukti Umat Islam Peduli Keutuhan Bangsa dan Negara (Sumber Gambar : Nu Online)
Dzikir di Istana Bukti Umat Islam Peduli Keutuhan Bangsa dan Negara (Sumber Gambar : Nu Online)

Dzikir di Istana Bukti Umat Islam Peduli Keutuhan Bangsa dan Negara

Kiai Ishom, sapaan akrabnya, berharap acara serupa dilaksanakan di tempat yang lebih luas. Misalnya, di Monumen Nasional (Monas) agar bisa diikuti lebih banyak lagi oleh masyarakat.

 

“Kalau di Istana kan sempit. Apalagi yang datang ribuan,” tandasnya.

Shautus Salam

Saat ditanya arah majelis dzikir tersebut, apakah bermuatan politis atau bakal menjadi ormas bahkan partai politik, kiai asal Lampung ini langsung menepis.

 

Shautus Salam

“Saya kira tidak lah. Para kiai yang datang banyak dari kalangan syuriyah yang ikhlas. Saya pribadi berharap ini fokus ke dzikir saja,” kata Kiai Ishom.

Sementara itu, salah satu pengurus PWNU Kalimantan Barat, KH Faruqi, di sela-sela ramah tamah mengaku sangat mendukung dan antusias sekali mengikuti dzikir di Istana.

 

“Saya melihat ini tonggak persatuan antara ulama dan umara. Ke depan perlu makin dikuatkan,” ujarnya.

Kiai Faruqi yang datang bersama empat orang dari Pontianak berharap dzikir nasional bisa memantik persatuan dan kesatuan seluruh elemen bangsa. “Semoga di tahun-tahun berikutnya acara seperti ini bisa diadakan kembali,” harapnya.

Hadir dalam acara tersebut, jajaran para kiai sepuh seperti KH Anwar Mansyur Jawa Timur, KH Bagindo Leter Sumatera Barat, KH Abuya Muhtadi Banten, RM Irfa’i Nachrawi Yogyakarta, dan KH Aniq Muhammadun Jawa Tengah. 

Selain para kiai sepuh, ribuan jemaah dari sejumlah pondok pesantren di Jabodetabek tampak berduyun-duyun memasuki halaman Istana sejak petang. Mereka kemudian melaksanakan salat maghrib berjamaah.

Usai berjamaah, hadirin tampak antusias menikmati penampilan grup nasyid Snada dan musik gambus Hubbul Wathon. 

Dzikir kebangsaan yang bertema ‘Mensyukuri Nikmat Kemerdekaan’ ini terselenggara berkat kerjasama pihak Istana Negara dengan Majelis Dzikir Hubbul Wathon yang diinisiasi Rais Aam Syuriyah PBNU KH Ma’ruf Amin. (Musthofa Asrori/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Pondok Pesantren, Daerah Shautus Salam

Senin, 12 Februari 2018

PCNU Kabupaten Pangandaran Akan Dibentuk

Jakarta, Shautus Salam. Sebagai Daerah Otonomi Baru (DOB), warga NU Kabupaten Pangandaran ingin mendirikan kepengurusan NU tingkat kabupaten. Mereka akan segera membentuk Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU).? ?

PCNU Kabupaten Pangandaran Akan Dibentuk (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Kabupaten Pangandaran Akan Dibentuk (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Kabupaten Pangandaran Akan Dibentuk

Untuk itu, PCNU Kabupaten Ciamis, sebagai organisasi induk dari pemekaran Kabupaten Pangandaran, telah mempersiapkan diri untuk mendorong agar DOB Pangandaran segera terbentuk PCNU.

PCNU Kabupaten Ciamis kemudian menunjuk Tim 13 yang terdiri dari kiai NU. Kiai-kiai tersebut adalah pengurus PCNU Ciamis yang berdomisili di wilayah DOB Pangandaran. Agendanya untuk menggelar Konferensia Cabang (Konfercab).

Shautus Salam

Tim 13 membentuk panitia Konferensi Cabang I untuk mengadakan Rapat Kerja Panitia. Rapat kerja diketuai Ahmad Irfan Alawy di Pondok Pesantren As-Sujaiyah Kecamatan Parigi pada tanggal 16-03-2013 lalu.

Menurut salah seorang panitia Konfercab, Hafidz Ismail, hasil rapat kerja tersebut adalah, Konfercab PCNU Kabupaten Pangandaran dilaksanakan di Pondok Pesantren Asy-Syujaiyah pada tanggal 20-21 April 2013.

Shautus Salam

“Pra-Konfercab diadakan kegiatan, yaitu halaqoh dengan peserta pengurus-pengurus NU dari 11 MWC,” katanya kepadaShautus Salam melalui pesawat telepon, Kamis, (18/4).

Hafidz menambahkan, halaqoh bertema "Internalisasi khittah NU 1926 sebagai media memperkokoh soliditas organisasi menuju Kabupaten Pangandaran yang mandiri" tersebut telah digelar pada 15 April 2013.

?

Penulis: Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Pendidikan, Halaqoh, Daerah Shautus Salam

Rabu, 07 Februari 2018

Kisah di Balik Bendera NU Raksasa Seberat 6 Kuintal (2)

Mataram, Shautus Salam. Proses pembuatan bendera raksasa NU, hingga kemarin, Senin (20/11) memakan waktu 40 hari. Beberapa faktor, terutama masalah cuaca, menyebabkan proses pembuatannya molor 10 hari dari waktu yang ditargetkan. Pasalnya, beberapa tahap perampungan bendera itu dilakukan di ruangan terbuka, bahkan di lapangan sepak bola.   

Kisah di Balik Bendera NU Raksasa Seberat 6 Kuintal (2) (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah di Balik Bendera NU Raksasa Seberat 6 Kuintal (2) (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah di Balik Bendera NU Raksasa Seberat 6 Kuintal (2)

“Kini tahap finishing, tapi saya yakin akan selesai,” kata koordinator pembuatan bendera itu, Muhammad Hirjan, di kompleks Pendidik NU, kota Mataram, Senin malam (20/11).

Ia menjelaskan, bendera raksasa berukuran 60 m x 40 m atau seluas 240 m persegi. Bobotnya sekitar 600 kg atau 6 kuintal. Sementara yang menjahit kain-kain berwarna hijau itu menjadi satu, hanya satu orang, Ahmad Ritaudin, yang dibantu oleh beberapa asistennya.

Shautus Salam

“Hingga malam ini, ia masih mengerjakannya, memperluas kain itu,” kata dia.

Shautus Salam

Logo NU di bendera di kain itu, lanjutnya, dilakukan secara manual oleh sembilan orang. Mereka tidak membuat pola atau seketsa terlebih dahulu, melainkan langsung menggunakan rol. Sembilan orang itu memang ahli kaligrafi Lombok sehingga bisa menyerasikan ukuran besar huruf dengan luas kain.

Semua yang terlibat pada pembuatan itu, kata dia, adalah para santri dari pesantren-pesantren bumi seribu mesjid. Ahmad Ritaudin misalnya, adalah alumnus pondok pesantren Qomarul Huda, Bagu, yang diasuh Mustasyar PBNU TGH Turmudzi Badaruddin.

Bendera NU raksasa itu akan dihadirkan pada Pawai Ta’aruf Musyawarah Nasional (Munas) dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama 2017 di Nusa Tenggara Barat, Rabu (22/11).

Pawai itu akan diawali dengan yang dihadiri belasan ribu Nahdliyin, Selasa (22/11). Rute pawai itu dari Islamic Center kota Mataram ke lapangan Sangkareang sejauh 1 km. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Daerah, Humor Islam Shautus Salam

Senin, 29 Januari 2018

Umi Azizah : Muslimat Perkuat Ketahanan Keluarga

Tegal, Shautus Salam.



Ketua PC Muslimat NU Kabupaten Tegal Dra Hj Umi Azizah menjamin Muslimat NU mampu memperkuat ketahanan keluarga. Pasalnya, seluruh anggota yang terlibat mampu membentengi diri dan keluargannya dari virus virus negative perkembangan zaman. Bahkan lewat Muslimat NU, mampu mengantarkan menjadi keluarga yang sakinah mawadah warohmah.

Umi Azizah : Muslimat Perkuat Ketahanan Keluarga (Sumber Gambar : Nu Online)
Umi Azizah : Muslimat Perkuat Ketahanan Keluarga (Sumber Gambar : Nu Online)

Umi Azizah : Muslimat Perkuat Ketahanan Keluarga

Demikian disampaikan Umi Azizah dalam perbincangan dengan Shautus Salam di ruang kerjanya kantor Wakil Bupati Tegal, Kamis (8/12).?

Menurutnya, ketahanan keluarga sangat vital karena berpengaruh langsung terhadap ketahan negara. Bila keluarga rapuh, maka Negara akan ambruk. Peranan itu, tentu saja sangat bergantung kepada seorang Ibu, Wanita yang merupakan tiang Negara.?

Muslimat NU Tegal, lanjutnya, dalam menjaga ketahanan keluarga melalui berbagai bidang program. Seperti bidang pendidikan, social, ekonomi, lingkungan hingga dakwah. ? Dari bidang bidang tersebut, diarahkan untuk menjaga delapan fungsi keluarga sebagai pusat agama, social, cinta kasih, perlindungan, ekonomi, pelestari lingkungan dan fungsi reproduksi. “Dengan memanfaatkan fungsi fungsi tersebut, akan tercipta keluarga yang berkualitas, berdaya guna dengan hiasan anak yang saleh saleha,” ucapnya.?

Shautus Salam

Tidak dipungkiri, kata Wakil Bupati Tegal ini, perubahan dunia menjadi tantangan yang tidak ringan bagi seorang ibu, termasuk organisasi kewanitaan seperti Muslimat NU. Juga lahirnya gerakan radikalisme dan bahaya narkoba, menjadi pekerjaan rumah tersendiri agar anak-anak kita tidak terpengaruh. “Upaya penguatan sebagai benteng dan filter dari berbagai tantangan tersebut, menjadi fardlu ain bagi Muslimat NU,” tegasnya.

Untuk itu, lanjutnya, program yang dijalankan Muslimat pun selalu berpihak pada kepedulian kebutuhan Nahdliyin. Diantaranya, menggelar kursus pra nikah untuk memberi pencerahan kepada calon pengantin tentang kesehatan reproduksi. Apalagi trend pernikahan dini tidak bisa dibendung. Padahal, pernikahan dini rentan dengan peningkatan Angka Kematian Ibu atau Maternal Mortality Ratio (MMR), Angka Kematian Anak (AKA), Angka Kematian Bayi (AKB) Angka Kematian Ibu (AKI).

Muslimat juga membantu keluarga tak jelas, dengan menggelar sidang terpadu itsbat nikah. Atau menetapkan Akad Nikah yang telah dilaksanakan sesuai dengan Syari’at Islam (Hukum Munakahah) akibat poligami misalnya, agar tercatat dalam Register Nikah di Kantor Urusan Agama Kecamatan yang berwenang. “Dengan demikian, hak-hak anak akan terpenuhi. Muslimat NU juga membantu percepatan pembuatan akte kelahiran yang ditangani PAC,” ujarnya.

Selain itu, Umi gembira karena Muslimat lebih intensif dalam menyelenggarakan pengajian. Istilah Tegalnya, laka dina gabuk (tiada ada hari kosong) dalam hal pengajian. PC pun menyelenggarakan Pengajian keliling ke 19 PAC. Yang paling menggembirakan se Kabupaten Tegal ada 987 majelis taklim.

Shautus Salam

Program lain, pelatihan ketrampilan hasil usaha kreatif. Dari kelompok usaha terbentuklah Kelompok Usaha Bersama (KUBE), hingga mencapai 319 Kube di seluruh ranting se Kabupaten Tegal. “Koperasi Anisa Muslimat, turut membantu pemasaran dan penyertaan modalnya juga,” terang ibu dari 6 anak ini,?

Di bidang social, masih kata Umi, Muslimat NU Tegal menangani Pendidikan Anak Usia Dini, Tercatat ada 97 Taman Kanak-kanak (TK) Muslimat NU, 67 Kelompok Bermainn (KB), dan 39 Raudlatul Athfal (RA) serta 548 Taman Pendidikan Al Quran (TPQ).?

Karya Muslimat NU berupa Metode Asyifa telah direkomendasikan oleh Yayasan pendidikan Muslimat NU (YPM NU) pusat, untuk dijadikan bahan pembelajaran resmi di TPQ TPQ seluruh Indonesia. “Metode Asyifa telah digunakan di Tegal sejak Juni 2002 dan tahun 2016 baru direkomendasikan untuk digunakan di berbagai TPQ seluruh Indonesia,” ucapnya bangga.?

Untuk Yayasan Kesejahteraan Muslimat NU (YKM NU) telah mendirikan Darul Yatama dengan ratusan anak yatim piatu yang diasuh. Yayasan Haji Muslimat NU (YHM NU) juga terus berkembang. Pada musim haji 2016, KBIH YHM NU memberangkatkan 160 jamaah haji. Sedangkan untuk tahun 2017, sudah masuk 137 calhaj yang tergabung ke KBIH YHM NU. Tapi biasanya, akan terus bertambah jumlah calhaj yang tergabung ketika mendekati manasik,” tuturnya.?

Kepada para ibu-ibu muda maupun sepuh, Umi mengajak untuk tidak jemu-jemu berorganisasi di Muslimat ataupun Fatayat. Karena nilai faedahnya lebih besar jika dibandingkan dengan mudlaratnya. “Yang penting tidak melupakan pendidikan anak-anaknya dan selalu menjadi pendamping suami setia,” pungkasnya. (wasdiun).

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Pertandingan, Daerah, Kajian Islam Shautus Salam

Rabu, 24 Januari 2018

KH Sholeh Bahruddin Tradisikan Menulis dan Membagikan Buku Secara Gratis

Pasuruan, Shautus Salam. Tidak banyak kiai yang memiliki waktu dan kemampuan dalam menulis buku. Tapi kiai ini tidak semata menuangkan gagasan keagamaan lewat buku, juga membagikan karyanya secara cuma-cuma kepada masyarakat.

KH Sholeh Bahruddin Tradisikan Menulis dan Membagikan Buku Secara Gratis (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Sholeh Bahruddin Tradisikan Menulis dan Membagikan Buku Secara Gratis (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Sholeh Bahruddin Tradisikan Menulis dan Membagikan Buku Secara Gratis

Dialah KH Sholeh Bahruddin, Pengasuh Pondok Pesantren Ngalah, Sengonagung, Purwosari, Pasuruan, Jawa Timur. Baginya, menulis buku adalah sebagai panggilan jiwa sekaligus ingin meniru tradisi agung yang telah dilakukan para ulama terdahulu.

"Saya ingin meniru pengarang kitab Fathul Qarib, Fathul Muin dan lain-lain," katanya kepada sejumlah Pengurus Wilayah Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama (PW LFNU) Jawa Timur.

Shautus Salam

Penegasan ini disampaikan Kiai Sholeh, di sela-sela acara Pendidikan dan Latihan (Diklat) falakiyah akhir pekan lalu yang diikuti ratusan peserta dari PC LFNU, utusan pesantren, pejabat kementerian agama, serta dosen sejumlah perguruan tinggi di pesantrennya.

Ia menandaskan, para pengarang kitab atau muallif tempo dulu tidak sekedar menulis kitab, juga tidak berkenan menerima dan meminta royalti dari karya yang telah dibuat. "Justru dengan tidak meminta royalti seperti ini, maka manfaat karya-karya mereka bisa bertahan ratusan tahun bahkan hingga sekarang," tandas  Mustasyar PCNU Kabupaten Pasuruan ini.

Shautus Salam

Kepada setiap peserta diklat falakiyah, Kiai Sholeh memberikan secara gratis buku berjudul Ensiklopedi Fikih Jawabul Masail Bermadzhab Empat. Buku setebal 572 halaman dan dicetak dengan hard cover ini disusun bersama para santri. Isinya adalah tentang tanya jawab hukun Islam terhadap berbagai masalah berdasarkan sudut pandang keagamaan. Mulai dari masalah internasional, kebangsaan, politik, sosial, ekonomi, akidah, hinga persoalan amaliah ibadah sehari-hari.

Menurut Kiai Sholeh, buku-buku hasil karangannya memang sengaja dicetak dan dibagi-bagikan secara gratis. Bahkan  sudah didownload di situs pesantren dan dapat dimanfaatkan oleh siapapun tanpa batas. "Yang penting asas manfaat. Boleh diperbanyak dan tidak perlu izin," ungkapnya. Ia menandaskan, kalau hendak diterbitkan lagi maka identitas Pesantren Ngalah sebagai penerbit bisa dihilangkan.

Kiai Sholeh dan pesantren yang diasuhnya telah mentradisikan kegiatan menyusun, menerbitkan dan membagikan buku secara gratis sejak lama. Judul dan bahasan dari buku yang dihasilkan juga bervariasi. "Saya mendidik para santri agar memiliki kemampuan menulis dengan baik," ungkapnya. 

Tidak hanya itu, kepada seluruh pengurus PW LFNU Jatim saat itu, Kiai Sholeh juga menghadiahkan satu buku dengan judul Sabilus Salikin. Buku setebal 791 halaman tersebut berisi tentang ensiklopedi tarekat yang berjumlah 31 aliran. Selain itu, di bagian awal dan akhir buku dijelaskan tentang esensi tasawuf dan tarekat serta tanya jawab masalah tarekat.

"Mudah-mudahan buku ini bisa menjadi jawaban atas berbagai tuduhan terhadap tasawuf dan pengamal tarekat, semakin banyak yang memanfaatkan buku tersebut tentu kian baik,” pungkas kiai yang juga mursyid tarekat ini. (Syaifullah/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Daerah, Pahlawan Shautus Salam

Kamis, 04 Januari 2018

Lomba Hadrah Meriahkan Pasar Rakyat di Solo

Solo, Shautus Salam. Keceriaan hadir dalam gelaran Pasar Rakyat di Kota Barat Solo, Ahad (10/3) kemarin. Meskipun hujan mengguyur lokasi acara, tetapi tidak ikut menghilangkan kegembiraan puluhan anak yang ikut dalam lomba mewarnai. Puluhan anak usia SD tersebut, turut serta dalam lomba yang diselenggarakan panitia acara pasar rakyat.

Lomba Hadrah Meriahkan Pasar Rakyat di Solo (Sumber Gambar : Nu Online)
Lomba Hadrah Meriahkan Pasar Rakyat di Solo (Sumber Gambar : Nu Online)

Lomba Hadrah Meriahkan Pasar Rakyat di Solo

Selain lomba menggambar dan mewarnai, panitia juga mengadakan lomba festival hadrah dan festival band tingkat pelajar. Dalam lomba hadrah tersebut, tampil sebagai juara pertama adalah grup hadrah Hadratul Muhibbin (HM) dari Banjarsari Surakarta. Mereka mampu menyisihkan puluhan grup hadrah lain yang datang dari wilayah Solo dan sekitarnya.

Alhamdulillah grup kami mendapat juara pertama,“ kata salah satu personil HM, Wahyu Hartanto.

Shautus Salam

Sayangnya, acara pasar rakyat dua hari kemarin sedikit terkendala cuaca. Hujan yang terus mengguyur Kota Solo, membuat warga jadi sedikit enggan untuk datang ke lokasi. Alhasil meskipun panggung yang besar dan stand yang banyak, jadi kurang terasa ramai dengan kurangnya pengunjung yang hadir.

“Ya, hujan memang jadi kendala tersendiri, disamping memang promo yang dirasa masih kurang,” ungkap Sejuk, salah satu panitia.

Shautus Salam

Meskipun demikian, pada akhirnya rangkaian acara yang sudah disiapkan panitia dapat berjalan dengan lancar.

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Ajie Najmuddin

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Daerah Shautus Salam

Kamis, 21 Desember 2017

Pemenang Lomba MWC dan Ranting NU Sehat Dapat Dana Pembinaan 39 Juta

Pringsewu, Shautus Salam. Dalam rangka mewujudkan organisasi yang berkualitas serta meningkatkan motivasi pengurus untuk terus berkhidmah di NU, PCNU Pringsewu menggelar Kegiatan Lomba MWCNU dan Ranting NU Sehat Se-Kabupaten Pringsewu.

Pemenang Lomba MWC dan Ranting NU Sehat Dapat Dana Pembinaan 39 Juta (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemenang Lomba MWC dan Ranting NU Sehat Dapat Dana Pembinaan 39 Juta (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemenang Lomba MWC dan Ranting NU Sehat Dapat Dana Pembinaan 39 Juta

Setelah dilakukan Proses Penilaian oleh Tim Khusus terhadap 9 MWC dan 131 Ranting selama lebih kurang 3 bulan, para pemenang lomba diumumkan pada Kamis (19/1) dibarengkan dengan Pringatan Hari Lahir NU ke 91 tingkat Kabupaten Pringsewu di Gedung NU setempat.

"Ada tiga MWC dan tiga Ranting dari setiap Kecamatan yang kita pilih sebagai Juara. Dan mereka berhak mendapatkan Thropi, Hadiah serta dana Pembinaan dari PCNU Pringsewu," Jelas Ketua Tanfidziyyah H. Taufiqurrohim disela-sela pengumuman lomba tersebut.

Mas Tas Taufik, begitu Ia biasa disapa menjelaskan bahwa dana untuk pembinaan pemenang lomba tersebut mencapai 39 juta. "Kita berharap kedepan Jamiyyah NU di Kabupaten Pringsewu terus meningkatkan kualitas organisasi dan pengurus akan lebih serius lagi dalam mengurus ummat," harapnya.

Shautus Salam

Ia menjelaskan pula bahwa beberapa indikator Tim penilai dalam memberikan nilai antara lain adalah ketertiban administrasi, kuantitas dan kualitas realisasi program kerja dan kelengkapan organisasi. Setelah penilaian dengan langsung terjun ke daerah tersebut dilaksanakan akhirnya terpilih MWC NU Kecamatan Adiluwih menjadi Juara I Lomba tingkat Kecamatan. Untuk Juara II diraih oleh MWC NU Pringsewu dan Juara III diraih oleh MWC NU Pagelaran.

Selain itu Tim Penilai juga memberikan penghargaan kepada beberapa MWC yang menonjol dalam kategori tertentu. Diantara Kategori tersebut adalah Kelengkapan Badan Otonom dan Lembaga, Keaktifan Lembaga Pendidikan Maarif, Kekompakan dengan Banom dan beberapa kategori lain.

Sementara untuk Pemenang Lomba Ranting NU Sehat sebagai berikut: Kecamatan Adiluwih. Juara I Ranting NU Bandung Baru, Juara II Ranting NU Tri Tunggal Mulyo dan Juara III Ranting NU Srikaton. Kecamatan Pringsewu. Juara I Ranting NU Fajar Agung Barat, Juara II Ranting NU Fajaresuk dan Juara III Ranting NU Margakaya.

Kecamatan Pagelaran. Juara I Ranting NU Sumberejo , Juara II Ranting NU Patoman dan Juara III Ranting NU Tanjung Dalam. Kecamatan Ambarawa. Juara I Ranting NU Jati Agung , Juara II Ranting NU Ambarawa dan Juara III Ranting NU Sumberagung . Kecamatan Banyumas . Juara I Ranting NU Mulyorejo , Juara II Ranting NU Banyumas dan Juara III Ranting NU Sri Rahayu.

Kecamatan Pagelaran Utara. Juara I Ranting NU  Margosari, Juara II Ranting NU Gunung Raya  dan Juara III Ranting NU Fajar Mulya. Kecamatan Gading Rejo . Juara I Ranting NU Tegalsari, Juara II Ranting NU Klaten dan Juara III Ranting NU Gadingrejo.

Shautus Salam

Kecamatan Pardasuka. Juara I Ranting NU Pujodadi, Juara II Ranting NU Rantau Tijang  dan Juara III Ranting NU Pardasuka. Kecamatan Sukoharjo . Juara I Ranting NU Waringin Sari Barat, Juara II Ranting NU  Panggungrrjo Utara dan Juara III Ranting NU Siliwangi.

Hadiah bagi Pemenang MWC NU Sehat diserahkan langsung oleh Mustasyar PCNU Pringsewu KH. Sujadi didampingi oleh Jajaran Jajaran Syuriyah dan Tanfidziyyah PCNU Pringsewu. Sementara untuk Lomba Ranting NU Sehat penyerahan diberikan oleh setiap Ketua MWC masing-masing. (Muhammad Faizin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam News, Daerah, Halaqoh Shautus Salam

Selasa, 19 Desember 2017

Pesantren Tremas Khataman Kubro Setelah Ngaji 61 Kitab

Pacitan, Shautus Salam? . Perguruan Islam Pondok Tremas Pacitan menggelar “Khataman Kubro” setelah pengajian Ramdahan selama 27 hari. Senin malam (13/7), para santri dengan penuh khidmat mengikuti khataman yang digelar di halaman ndalem Nyai Hj, Qibtiyah Habib.

Pesantren Tremas Khataman Kubro Setelah Ngaji 61 Kitab (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Tremas Khataman Kubro Setelah Ngaji 61 Kitab (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Tremas Khataman Kubro Setelah Ngaji 61 Kitab

KH Muad Harits, salah satu pengasuh mengatakan, pada bulan suci Ramadhan tahun ini Perguruan Islam Pondok Tremas Pacitan menggelar dan membacakan 73 kitab kuning kepada para santri, di antaranya fan hadits, fiqih, ilmu alat, dan ilmu hikmah.

“Khataman kubro alhamdulillah tahun ini bisa menghatamkan 61 kitab dari 73 kitab yang dibaca. semoga bermanfaat dan berkah untuk yang membaca dan mustami nya dan mendapat berkah Ramadhan amien,” tuturnya

Shautus Salam

Ia mengaku sangat mengapresiasi semangat para santri dalam mengaji karena mereka harus mengikuti rangkaian pengajian yang cukup padat di bulan Ramadhan ini.

Ia berharap seluruh santri yang mengikuti pengajian Ramadhan mendapatkan berkah dan semoga dapat menjumpai bulan suci Ramadhan pada tahun depan.

Shautus Salam

Selama mengikuti pengajian ramadhan, para santri mendapatkan ? banyak ilmu dari keterangan keterangan yang dibacakan oleh para qori’ (pembaca kitab). Sementara penjelasan lengkap tentang kitab tersebut hanya terdapat saat mengikuti pengajian biasa.

“Kajian-kajian Islam yang paling murni insya Allah hanya ada di pesantren. Lalu untuk media ? Google dan medsos masih perlu ekstra hati-hati untuk kita kaji,” tambahnya.

Dalam acara khataman kubro yang digelar sehabis jamaah terawih ini diisi dengan pembacaan kalimah toyyibah tahlil dan tausyiah yang disampaikan pengasuh. Beberapa pengasuh tampak hadir di antaranya KH Fuad Habib Dimyathi, KH.Luqman Harits Dimyathi, KH Muhammad Habib dan KH Achid Turmudzi. (Zaenal Faizin/Abdullah Alawi)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam IMNU, Daerah Shautus Salam

Selasa, 28 November 2017

MWCNU Bandar Surabaya Lampung Tengah Miliki Gedung Baru

Lampung Tengah, Shautus Salam. Majelis Wakil Cabang NU (MWCNU) Bandar Surabaya, Kebupaten Lampung Tengah, Lampung, memiliki gedung baru sebagai kantor dan sarana penunjang operasional kerja organisasi.

Gedung yang terletak di Desa Surabaya Ilir, Kecamatan Bandar Surabaya, ini telah diresmikan dengan disaksikan kurang lebih 600-an warga NU se-Kecamatan Bandar Surabaya, pada akhir pekan lalu.

MWCNU Bandar Surabaya Lampung Tengah Miliki Gedung Baru (Sumber Gambar : Nu Online)
MWCNU Bandar Surabaya Lampung Tengah Miliki Gedung Baru (Sumber Gambar : Nu Online)

MWCNU Bandar Surabaya Lampung Tengah Miliki Gedung Baru

Ketua PCNU Lampung Tengah Kiai A Jailani MS menyambut gembira adanya gedung baru MWCNU Bandar Surabaya. Menurutnya, ini memberi tanda bahwa panji-panji NU dan ruh NU hidup di seluruh pelosok-pelosok desa se-Lampung Tengah, mengingat kabupaten ini adalah yang paling luas di Provinsi Lampung, yaitu sebanyak 28 kecamatan dan Bandar Surabaya adalah kecamatan paling ujung timur Lampung Tengah.

Shautus Salam

“Harapan saya gedung kebanggaan warga nahdlyyin di kecamatan Bandar Surabaya ini adalah sebagai ruh dan gedung ini dapat dimaksimalkan sebaik-baiknya dan sebanyak mungkin oleh keluarga besar NU, baik Muslimat, GP Ansor, Fatayat NU, IPNU, IPPNU dan lain-lain,” ujarnya saat peresmian, Ahad (11/10).

Di sela-sela peresmian gedung MWCNU Bandar Surabaya juga dilaksanakan pelantikan jajaran pengurus PAC GP Ansor Bandar Surabaya masa khidmat 2015-2018 yang diketuai sahabat Nur Kholis dengan sekretaris, Apriadi.

Shautus Salam

Joko Utomo, selaku aktivis muda NU Lampung Tengah yang juga mantan Sekretaris PC IPNU Lampung Tengah mengaku bangga sekaligus berharap gedung MWC NU ini dapat dimanfaatkan untuk kegiatan yang positif untuk mensyiarkan dakwah NU, sekaligus sebagai pusat penyebaran Islam yang Rahmatan Lil Alamin bagi lingkungan masyarakat se kecamatan Bandar Surabaya khususnya dan kabupaten Lampung Tengah pada umumnya.

Hadir dalam peresmian gedung MWC NU Bandar Surabaya antara lain; KH. Daroini Ali, S.H.I (Pengasuh Pesantren Sabilun Najah Seputih Raman), jajaran pengurus PCNU Lampung Tengah, jajaran pengurus MWCNU Bandar Surabaya, kiai-kiai pengasuh pesantren, kiai-kiai langgar/musholla, perangkat kecamatan, Polsek, perangkat kampung, Muslimat NU, GP Ansor, Fatayat NU, IPNU, IPPNU, Banser, dan lain-lain. (Akhmad Syarief Kurniawan/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Daerah, Cerita, Quote Shautus Salam

Senin, 27 November 2017

NU harus Mampu Penuhi Kebutuhan Warganya

Jakarta, Shautus Salam. Rais Aam PBNU KH Sahal Mahfudz mengungkapkan bahwa NU harus menggunakan pendekatan berdasarkan kebutuhan. Kalau tidak suatu saat pasti akan hilang karena ditinggal warganya.

“Kalau sekarang masih kuat ke-NU-annya, banyak orang kalau tak NU tidak mau. Ini karena kokohnya jamaah yang dipengaruhi kultur dan tzakofah.,” tuturnya dalam Halaqoh Penyusunan Rancangan Program Pemberdayaan Syuriah Nahdlatul Ulama di Jakarta, Kamis.

Namun demikian, NU harus merubah paradigmanya karena jika suatu saat tidak bisa memenuhi kebutuhan, akan ditinggalkan masyarakat karena mereka akan beralih pada organisasi lain

NU harus Mampu Penuhi Kebutuhan Warganya (Sumber Gambar : Nu Online)
NU harus Mampu Penuhi Kebutuhan Warganya (Sumber Gambar : Nu Online)

NU harus Mampu Penuhi Kebutuhan Warganya

Upaya untuk mengembangkan NU dengan berbasis pada kebutuhan tersebut bisa dilakukan dengan peningkatan kemampuan para pengurusnya. Menurut Kiai Sahal, jajaran syuriyah layak untuk mendapatkan prioritas pertama.

Selama ini banyak pengurus syuriah yang lebih menguasai aspek-aspek keagamaan daripada aspek manajerial dan keorganisasian. Sering seorang syuriah hanya berpendidikan ibtidaiyah tapi bisa menjadi kiai karena mondok di pesantren dalam jangka waktu lama. Disisi lain, jajaran tanfidziyah atau pelaksana banyak yang bergelar S1 sehingga sering ada kesenjangan.

Kondisi inilah yang salah satunya menjadi alasan PBNU menyelenggarakan halaqah dalam upaya meningkatkan pemberdayaan jajaran syuriah. Namun pengaruh Ponpes Maslahul Huda Pati tersebut berpesan agar upaya ini mempertimbangkan aspek jamaah dan jamiyyah sehingga tidak terjadi gelojal yang tidak diinginkan.

Shautus Salam

Ketua Umum MUI tersebut menjelaskan kesenjangan yang timbul ini bisa ditarik dari latar belakang berdirinya NU. Pada zaman dahulu, embrio NU adalah sebuah jamaah, kelompok ulama-ulama yang melakukan kegiatan yang belum dijadikan organisasi yang akhirnya diformalkan manjadi jamaah.

Pada masa awalnya, yang aktif dalam organisasi tersebut juga para ulama. Namun kebutuhan adanya pengurus akhirnya melibatkan orang lain untuk terlibat dalam organisasi.

?

Sampai sekarang, kesenjangan antara syuriah dan tanfidziah tersebut masih terasa. Salah satunya disebabkan oleh pola rekrutmen pengurus syuriyah yang dalam hal tertentu masih kental nuansa jamiyyahnya.

Shautus Salam

“Kalau menggunakan pendekatan jamiyyah, pakai banyak kriteria dan syarat. Kalau pengurus syuriah biasanya pakai aklamasi pura-pura, saya sendiri juga begitu. Tapi kalau tanfidziyah pilihan langsung, kan lain. Ini persoalan jamaah, saya akui itu,” tandasnya.

Akibatnya, seringkali terjadi para pengurus syuriah ketika dimintai pendapat oleh ummatnya tentang suatu masalah seringkali masalah menyerahkan ke jajaran tanfidziyah. Akibatnya timbul kesan bahwa tanfidziyah lebih berkuasa dibandingkan dengan syuriyah karena mereka lebih sering tampil di depan public dan membahas berbagai masalah.

“Ini terjadi karena memang kiai tidak menguasai masalahnya, karena memang cara pemilihan belum sepenuhnya menggunakan kriteria jamiyyah. Kita masih menggunakan pola-pola jamaah itu tadi dalam pola rekrutmen kepengurusan.

Pelatihan ini diikuti oleh 40 orang dari jajaran syuriah, tanfidziyah, lembaga, lajnah, badan otonom dari PBNU dan beberapa pengurus wilayah NU. Acara berlangsung pada 5-6 April dengan membahas meneguhkan peran dan fungsi syuriah dalam struktur organisasi NU, merumuskan sosok kader ideal syuriah NU untuk masa mendatang dan merumuskan rancangan program pemberdayaan syuriah Nahdlatul Ulama. (mkf)



Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Kajian Sunnah, Pemurnian Aqidah, Daerah Shautus Salam

Sabtu, 11 November 2017

Urgensi Teologi Toleransi untuk Kerukunan Umat Beragama

Oleh H Zulfikar Damam Ikhwanto



Sampai sekarang, pembicaraan tentang kerukunan umat beragama masih menjadi isu strategis untuk menunjang ketahanan nasional dan juga menyamakan persepsi serta memperkuat pemahaman tentang wawasan kebangsaan. Kerukunan umat beragama menjadi begitu penting untuk mencapai kesejahteraan hidup di negeri Nusantara ini, yang jamak diketahui beragam adat istiadat dan budaya begitu juga dengan agama. Perbedaan ini sangatlah berisiko pada kecenderungan konflik, terutama bagi pihak yang mencita-citakan terciptanya kekacauan di masyarakat. Untuk meminimalisasi bentrokan kepentingan antarumat beragama, maka kebijakan Pemerintah harus menyentuh pada pokok masalah antara lain pendirian tempat ibadah, penyiaran agama, bantuan keagamaan dari luar negeri dan tenaga asing bidang keagamaan. Meski pada tataran pelaksanaannya masih menyisakan masalah baru, sehingga harus terus ada evaluasi dan koreksi secara berkelanjutan.

Urgensi Teologi Toleransi untuk Kerukunan Umat Beragama (Sumber Gambar : Nu Online)
Urgensi Teologi Toleransi untuk Kerukunan Umat Beragama (Sumber Gambar : Nu Online)

Urgensi Teologi Toleransi untuk Kerukunan Umat Beragama

Kerukunan umat beragama adalah keadaan hubungan sesama umat beragama yang dilandasi toleransi, saling pengertian, saling menghormati, menghargai kesetaraan dalam pengamalan ajaran agamanya dan kerja sama dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Adapun Jargon yang dikampayekan oleh Pemerintah dikenal dengan sebutan Tri Kerukunan, meliputi kerukunan intern umat beragama, kerukunan antarumat beragama, serta kerukunan antara umat beragama dan Pemerintah. Konsep ini diharapkan menjadi inspirasi untuk mewujudkan kebersamaan dalam berbagai perbedaan. Jangan sampai terjadi pengekangan atau pengurangan hak manusia dalam menjalankan kewajiban dan ajaran agama yang diyakininya.

Tragedi Ambon, Halmahera, Poso, Palu, Sampit, Palangkaraya dan beberapa daerah lain merupakan bentuk disharmoni beberapa waktu yang lalu terjadi, tetapi juga sangat mungkin terjadi di masa mendatang. Kerukunan sosial seolah menjadi mimpi belaka ketika sesama anak bangsa sulit menciptakan kerukunan. Disadari atau tidak, konflik paling laten di negeri Nusantara ini selalu bernuansa SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), utamanya konflik dikarenakan suku dan agama. Problemnya, konflik antarsuku mungkin bisa diatasi dengan kerangka resep nasionalisme, akan tetapi konflik antaragama sulit disembuhkan dengan hanya mengandalkan jargon kebangsaan. Pasalnya, agama selalu dipandang sebagai entitas supranasional.

Shautus Salam

Kondisi kehidupan keagamaan di Indonesia juga ditandai oleh berbagai faktor sosial dan budaya, seperti perbedaan tingkat pendidikan para pemeluk agama, perbedaan tingkat sosial ekonomi para pemeluk agama, perbedaan latar belakang budaya, serta perbedaan suku dan daerah asal. Kerukunan umat beragama akan terbangun dan terpelihara dengan baik apabila jurang pemisah dalam bidang sosial dan budaya dapat dipersempit. Sebaliknya, kerukunan umat beragama akan rentan dan terganggu apabila jurang pemisah antarkelompok agama dalam aspek-aspek sosial dan budaya ini semakin lebar, termasuk jurang-jurang pemisah sosial baru yang akan muncul akibat krisis moneter global saat ini.

Konflik-konflik yang pernah terjadi bermula dari murni konflik tentang kesenjangan ekonomi atau politik, kemudian bergeser dengan cepat menjadi konflik antara pemeluk agama. Oleh karena itu, pemeliharaan kerukunan umat beragama bukan hanya menjadi tanggungjawab para pejabat pemerintah dan pemuka agama, melainkan tanggung jawab seluruh lapisan masyarakat. Setiap negara di dunia memiliki keunikan tersendiri dalam membina dan memelihara kerukunan umat beragama, tak terkecuali Indonesia. Keunikan tersebut terjadi karena bermacam-macam faktor seperti sejarah, politik, sosial, budaya/etnis, geografi, demografi, pendidikan, ekonomi, serta faktor keragaman agama itu sendiri. Di Indonesia, sejak zaman pra sejarah sudah berkembang berbagai agama dan kepercayaan, baik agama asli seperti animisme, dinamisme, maupun agama impor yang dibawa oleh pendatang dari Barat maupun Timur. Agama-agama ini dibawa melalui jalur perdagangan, politik imperialisme, dan misi agama. Semenjak itulah agama-agama yang ada di Indonesia terus berkembang dan diikuti oleh semakin bertambahnya jumlah para pemeluk, hingga saat ini tak kurang ada enam agama resmi yang diakui oleh negara yaitu Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan Konghuchu, ditambah dengan bermacam-macam aliran/sekte lainnya.

Shautus Salam

Dalam konsep masyarakat multikultural ialah bahwa di atas pluralisme masyarakat itu hendaknya dibangun suatu rasa kebangsaan bersama tetapi dengan tetap menghargai, mengedepankan, dan membanggakan kemajemukan dalam masyarakat itu. Dengan demikian setidaknya ada tiga syarat bagi adanya suatu masyarakat multikultural, yaitu adanya pluralisme masyarakat; adanya cita-cita untuk mengembangkan semangat kebangsaan yang sama; adanya kebanggaan terhadap pluralisme itu. Karena itu ada empat pilar pokok yang sudah disepakati bersama oleh seluruh rakyat Indonesia sebagai nilai-nilai perekat bangsa, yaitu Pancasila, UUD 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhinneka Tunggal Ika. Keempat nilai tersebut merupakan kristalisasi nilai-nilai yang digali dari budaya asli bangsa Indonesia. Kerukunan dan keharmonisan hidup seluruh masyarakat akan senantiasa terpelihara dan terjamin selama nilai-nilai tersebut dipegang teguh secara konsekwen oleh masing-masing warga negara.

Selain dengan eksistensi nasionalisme itu, penerimaan pluralisme ini tidak bisa hanya didasarkan atas kesadaran bahwa kita ini adalah bangsa yang majemuk dari semua sisi ke-SARA-nya saja. Sebab jika ini yang menjadi pijakan, maka sesungguhnya kita berangkat dari fakta sosial yang terpecah-pecah. Oleh karenanya dibutuhkan pemahaman pluralisme sebagai cara untuk menghindari kefanatikan. Yakni, secara teologis, seringkali diajarkan pada kita untuk memperkuat keimanan dengan segala pencapaiannya menuju surga tanpa dibarengi dengan kesadaran berdialog dengan agama-agama lain. Kondisi inilah yang menjadikan pendidikan atau pemahaman agama menjadi sangat eksklusif dan tidak toleran. Padahal di era pluralisme dewasa ini, pendidikan atau pemahaman agama ini mesti melakukan reorientasi filosofis paradigmatik tentang bagaimana membangun pemahaman keberagamaan peserta didik atau pengikut yang lebih inklusif-pluralis,multikultural, humanis, dialogis-persuasif, kontekstual, substantif dan aktif sosial.

Sehingga, bila ini tidak diikhtiarkan secara benar dan optimal, akan sangat berpotensi menimbulkan pemahaman yang eksklusif dan tindakan sewenang-wenang yang dekat dengan kekerasan, sebut saja kekerasan yang dilakukan untuk melawan hegemoni Barat oleh Usamah bin Laden, Imam Samudra, Amrozi, Abu Dujana dan lainnya dengan tegas mengatasnamakan Islam dalam meledakkan simbol-simbol kekafiran. Dalam skala nasional, kekerasan yang dialami oleh jamaah Ahmadiyah, peristiwa bom Bali, Hotel JW Mariot, serta berbagai bentuk kekerasan ormas Islam seperti di setiap tahun, khususnya menjelang bulan Ramadhan. Penolakan masyarakat atas ibadah Gereja di Jawa Barat hingga penikaman terhadap seorang Pendeta ketika akan melaksanakan ibadah, pembakaran Pesantren Syiah di Madura, pembubaran atas seminar dan bedah buku Irshad Manji di Yogyakarta hingga pengrusakan pada kantor LKiS, adalah contoh segelintir kekerasan yang dilakukan oleh kelompok-kelompok tertentu atas nama agama.

Akhirnya dalam spirit kesatuan, kita menghargai keberbedaan. Perbedaan agama-agama ini harus dikenal dan diolah lebih lanjut, karena perbedaan ini secara potensial bernilai dan penting bagi setiap orang beragama dalam pemerkayaan imannya. Pluralisme dan kemanusiaan tetap harus menjadi komitmen dan sikap yang dibangun oleh setiap individu dalam beragama, karena baik pluralisme dan kemanusiaan adalah cita-cita yang dibangun oleh al-Quran melalui asas rahmatan li al-alamin (kasih sayang bagi semesta alam). ?



Penulis adalah Ketua Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Jombang


Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Aswaja, Daerah Shautus Salam

Rabu, 11 Oktober 2017

Kontroversi Pemimpin Non-Muslim, Ini Klarifikasi Pernyataan Kang Said

Jakarta, Shautus Salam - Belakangan ini Ketua Umum NU KH Said Aqil Siroj (Kang Said) disorot sejumlah pihak soal pernyataannya yang membolehkan umat Islam memilih pemimpin non-Muslim. Pernyataan Kang Said oleh sebagian masyarakat dinilai menyalahi pandangan politik sekelompok masyarakat yang melarang umat Islam mengangkat pemimpin non-Muslim.

“Pernyataan Kang Said ini mesti dilihat secara utuh bagaimana pernyataannya terlontar,” kata Wasekjen NU H Masduki Baidlawi (Cak Duki) di Jakarta, Selasa (26/4) malam.

Kontroversi Pemimpin Non-Muslim, Ini Klarifikasi Pernyataan Kang Said (Sumber Gambar : Nu Online)
Kontroversi Pemimpin Non-Muslim, Ini Klarifikasi Pernyataan Kang Said (Sumber Gambar : Nu Online)

Kontroversi Pemimpin Non-Muslim, Ini Klarifikasi Pernyataan Kang Said

Cak Duki menambahkan, pernyataan Kang Said itu bukan dalam rangka mendukung calon pemimpin non-Muslim. Kang Said lebih menekankan aspek kejujuran dan keadilan dalam memilih pemimpin.

Shautus Salam

Karenanya pemimpin non-Muslim yang adil dan jujur dalam konteks khususnya Indonesia masih lebih baik daripada pemimpin muslim yang berbuat aniaya. Pasalnya unsur primer yang dibutuhkan dalam kepemimpinan baik pusat maupun daerah di Indonesia saat ini adalah kejujuran dan keadilan.

“Jujur dan adil ini sifat yang mungkin saja melekat pada diri muslim dan non-Muslim,” kata Cak Duki.

Pernyataan Kang Said juga bukan tanpa dasar. Itu sebenarnya pernyataan Sayidina Ali Ra yang dikutip Ibnu Taimiyah yang menyatakan bahwa negara yang adil akan kekal sekalipun ia negara kafir. Sebaliknya, negara yang zalim akan binasa sekalipun ia negara Islam.

Shautus Salam

“Yang benar itu ya pemimpin Muslim yang jujur dan adil. Tetapi kalau tidak ada, secara darurat dan terpaksa kita boleh memilih pemimpin non-Muslim yang memiliki integritas,” kata Cak Duki.

Kalaupun sampai terjadi, kekuasaan pemimpin non-Muslim tetap terpantau. Karena memang kekuasaan zaman sekarang sudah terdiferensiasi. Pemimpin dipantau lembaga legislatif, yudikatif, dan juga masyarakat. Berbeda dengan raja-raja zaman dahulu yang memiliki kekuasaan tunggal tanpa kontrol.

Dari sini kemudian pemimpin non-Muslim dan perempuan dimungkinkan. Perihal ini juga sudah diputuskan dalam bahtsul masail pada forum Muktamar NU di Pesantren Lirboyo Kabupaten Kediri Provinsi Jawa Timur tahun 1999.

“Memilih pemimpin non-Muslim bersifat boleh, bukan pilihan utama. Yang benar itu ya tadi, pemimpin Muslim yang jujur dan adil,” tandas Cak Duki.

Sebagaimana diketahui, Kang Said menyatakan bolehnya seorang muslim memilih pemimpin non-Muslim saat ditanya wartawan di kantor PBNU Jalan Kramat Raya, Jakarta, Sabtu (16/4) lalu. “Siapa saja yang mampu dan dipercaya rakyat, pemimpin yang adil meski itu non-Muslim tapi jujur, itu lebih baik daripada pemimpin Muslim tapi zalim. Di mana saja dan siapa saja,” jawab Kang Said seperti dilansir di sejumlah media. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Cerita, Daerah, Kajian Shautus Salam

Senin, 09 Oktober 2017

Ansor Kaliori Tegaskan Netral di Tahun Politik

Rembang, Shautus Salam. Ketua Pimpinan Anak Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Kaliori, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, Abdul Rosyid menegaskan, pihaknya akan tetap menjaga netralitas menjelang hingga usai pemilihan legislatif 2014.

Ansor Kaliori Tegaskan Netral di Tahun Politik (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Kaliori Tegaskan Netral di Tahun Politik (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Kaliori Tegaskan Netral di Tahun Politik

Menurut dia, masih banyak yang perlu dibenahi di internal organisasi, termasuk penataan lembaga dan pengoptimalan program. Demikian ia sampaikan, Jumat (21/2) malam, dalam acara pengajian rutin GP Ansor PAC Kaliori.

Rapat kerja (Raker) GP Ansor PAC Kaliori yang digelar di kantor NU pada pertengahan 2013 lalu menghasilkan program kerja di empat belas lembaga pelaksana. Tetapi, kata Rosyid, beberapa lembaga dinilai belum berjalan maksimal dalam meralisasikan program-programnya.

Shautus Salam

Rosyid menjelaskan, meski demikian, lembaga yang membidangi dakwah dan keorganisasian tergolong berhasil menggait kader dari 24 Desa yang ada di kecamatan Kaliori. Pihaknya berencana akan menggelar rapat kerja kedua pertengahan Marert nanti yang dirangkai dengan Pelatihan Kepemimpinan Dasar (PKD).

Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama Desa Kuangsan, Kecamatan Kaliori, Nasuha mendorong GP Ansor setempat dapat melangkah lebih maju dari tahun-tahun sebelumnya. Pasalnya, tahun politik 2014 dinilai sebagai ujian besar warga NU untuk tidak terseret ke dalam kepentingan pragmatis. (Ahmad Asmu’i/Mahbib)

Shautus Salam

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Khutbah, Daerah, Olahraga Shautus Salam

Kamis, 05 Oktober 2017

Nikmati Aplikasi Android NU Online Versi-2

Jakarta, Shautus Salam. Mengikuti perkembangan teknologi yang tak pernah berhenti, Alhamdulillah kali ini Shautus Salam telah meluncurkan aplikasi android versi ke-2 yang telah mendapat beberapa penyempurnaan dari berbagai kekurangan yang ada pada versi sebelumnya. Berikut ini cara mengaplikasikannya.

Menurut salah seorang tim IT Shautus Salam, Ardyan Novanto Arnowo, pada aplikasi android yang baru ini, Shautus Salam sudah dapat menyesuaikan ukuran tampilan layar pada berbagai versi android pengguna seperti ginger bread, honeycomb, Ice Cream Sandwidch, bahkan Jelly Bean. Pada ukuran huruf (fonts) juga sudah diperbesar, sehingga memudahkan pengakses utuk dapat membaca konten website serta bernavigasi di dalamnya.

Nikmati Aplikasi Android NU Online Versi-2 (Sumber Gambar : Nu Online)
Nikmati Aplikasi Android NU Online Versi-2 (Sumber Gambar : Nu Online)

Nikmati Aplikasi Android NU Online Versi-2

Aplikasi android Shautus Salam versi ke 2 ini dapat di download melalui google play store atau klik link berikut:

https://play.google.com/store/apps/details?id=com.NUonline.NUmobile2

Shautus Salam

Shautus Salam

Aplikasi android versi ke-2 ini otomatis update dari versi sebelumnya pada google play store. Aplikasi android versi ke-2 ini dipasang di google play sebagai aplikasi terpisah dari sebelumnya, karena kebijakan google play tidak mengizinkan upload update APK jika certificate-nya berbeda.

“Namun penting untuk diperhatikan adalah melakukan uninstall atau menghapus aplikasi android Shautus Salam versi yang lama terlebih dahulu sebelum melakukan instalasi versi yang terbaru ini,” kata Ovan, panggilan akrab Ardyan Novanto Arnowo.

Ditambahkannya, saat ini juga masih dikembangkan lagi fitur untuk dapat melakukan share ke twitter dan facebook melalui aplikasi android terbaru tersebut.

Shautus Salam sebagai corong Nahdlatul Ulama dan Islam Ahlussunnah wal Jama’ah telah siap menyambut era teknologi informasi yang semakin tidak terbatas ruang dan waktu. Pada awalnya Shautus Salam hanya fokus pada pemberitaan melalui website resmi PBNU yang beralamat pada www.nu.or.id saja, namun seiring dengan waktu dan kemajuan jaman, maka juga dilakukan pembaruan pada berbagai bidang demi memudahkan Nahdliyin dimana saja untuk bisa mendapatkan informasi tentang NU dan berbagai kegiatannya.

2013 lalu, pada peringatan hari lahir atau Harlah ke-10, telah diluncurkan web versi mobile Shautus Salam yang akan otomatis dapat terdeteksi oleh browser pada perangkat bergerak sehingga akan langsung mengarah pada http://m.nu.or.id lalu diluncurkan pula versi android Shautus Salam yang pertama.

“Namun dikarenakan pertumbuhan teknologi yang tidak pernah berhenti, begitu pula kami di Shautus Salam akan terus berimprovisasi. Maka diluncurkanlah aplikasi android Shautus Salam versi ke-2 ini,” kata Ovan. (A. Khoirul Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Daerah, Pertandingan Shautus Salam

Kamis, 07 September 2017

Sambut Siswa Baru, MA Futuhiyyah 2 Mranggen Gelar Manaqiban

Demak, Shautus Salam. Menyambut Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) 2014/2015, MA Futuhiyyah 2 Mranggen Demak mengadakan pembacaan manaqib Syekh Abdul Qodir Al-Jailani, Rabu (29/4). Manaqiban diawali pembacaan tahlil bersama yang dipimpin KH Abdul Latif Makmun.

Sambut Siswa Baru, MA Futuhiyyah 2 Mranggen Gelar Manaqiban (Sumber Gambar : Nu Online)
Sambut Siswa Baru, MA Futuhiyyah 2 Mranggen Gelar Manaqiban (Sumber Gambar : Nu Online)

Sambut Siswa Baru, MA Futuhiyyah 2 Mranggen Gelar Manaqiban

Pembacaan manaqib ini dimaksudkan untuk berdoa dan bertawassul bersama dalam rangka sukses PPDB 2014 MA Futuhiyyah 2 Mranggen, kata Kepala MA H Helmi Wafa.

Isi kandungan kitab manaqib meliputi silsilah nasab Syekh Abdul Qodir Al-Jailani, sejarah hidupnya, akhlaq, dan karomah-karomahnya. Di samping itu tercantum juga doa-doa bersajak yang bermuatan pujian dan tawassul kepada Syekh Abdul Qodir.

Shautus Salam

“Sudah menjadi tradisi bagi civitas MA Futuhiyyah 2 setiap kali mengawali PPDB dengan membaca manaqib Syeikh Abdul Qodir dengan mengharap keberkahannya,” imbuh Ketua panitia PPDB Lukman Hakim. (Ben Zabidy/Alhafiz K)

Shautus Salam

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Internasional, Pertandingan, Daerah Shautus Salam

Minggu, 27 Agustus 2017

Berbagai Pihak Tolak Upaya Hidupkan Kembali WTO

Jakarta, Shautus Salam. Aliansi yang tergabung dalam Gerakan Rakyat Lawan Neokolonialisme-Imperialisme menolak kehadiran Pascal Lamy, Direktur Jenderal Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) ke Indonesia hari ini (20/2). Disinyalir kehadiran Lamy terkait dengan usaha membangkitkan kembali WTO dan untuk melegalkan perdagangan bebas yang lebih luas.

Pagi ini aliansi menggelar orasi di depan Masjid Istiqlal Jakarta dan akan diteruskan ke Bundaran Hotel Indonesia dan beberapa pusat pengambil kebijakan ekonomi. Aliansi terdiri dari Federasi Serikat Petani Indonesia (FSPI), Aliansi Buruh Menggugat (ABM), Koalisi Anti Utang (KAU), Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), Walhi Jakarta, Front Perjuangan Pemuda Indonesia (FPPI), Lingkar Studi-Aksi untuk Demokrasi Indonesia (LS-ADI), Komite Mahasiswa Anti Imperialisme (KMAI), Kesatuan Aksi Mahasiswa LAKSI 31 (KAM LAKSI 31), dan Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia (PBHI).

“Kunjungan Pascal Lamy tentunya bukan sekadar kunjungan persahabatan, melainkan dalam misi utama untuk kembali menghidupkan negosiasi WTO yang mati suri. Hal ini bisa direalisasikan dengan antek-antek neoliberalisme yang mengatur perekonomian Indonesia, seperti Mafia Berkeley dan rejim pemerintahan boneka,” kata Achmad Ya’kub dari FSPI.

Berbagai Pihak Tolak Upaya Hidupkan Kembali WTO (Sumber Gambar : Nu Online)
Berbagai Pihak Tolak Upaya Hidupkan Kembali WTO (Sumber Gambar : Nu Online)

Berbagai Pihak Tolak Upaya Hidupkan Kembali WTO

Dalam laporan persnya aliansi menyatakan, sejak negosiasi di WTO mati suri di bulan Juli 2006 lalu, sudah banyak upaya untuk menghidupkan kembali rejim perdagangan global yang menakutkan ini. Inisiasi selalu dilakukan oleh pihak-pihak yang mendominasi di forum WTO, seperti Amerika Serikat, Uni Eropa, Jepang, Australia, Brazil dan India.

WTO adalah alat penjajahan yang pasti tidak akan memperhitungkan kepentingan rakyat banyak seperti petani kecil, buruh, dan kaum miskin kota. Sejak berdiri tahun 1995, sekitar 80 persen lebih volume perdagangan bebas dunia diraup oleh perusahaan transnasional raksasa. Makna pembentukan WTO untuk mewujudkan pekerjaan dan kesejahteraan bagi rakyat ternyata tak terwujud.

Shautus Salam

 

Dikatakan, menteri perekonomian dan menteri perdagangan sudah lama mencetak image Indonesia sebagai anak manis (good boy) di forum internasional macam WTO, IMF dan Bank Dunia. Mereka juga yang menjual pertanian, jasa, dan industri pada mekanisme pasar bebas dan membuat rakyat kecil sengsara. Mereka jugalah yang tidak melibatkan rakyat dalam pengambilan keputusan, dan dengan mudahnya menukarkan (trade off) pertanian dengan komoditi lain yang hanya akan menguntungkan segelintir pihak belaka. (nam)

Shautus Salam



Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Daerah Shautus Salam

Rabu, 16 Agustus 2017

Mubes Iksab TBS Kudus Angkat Tema Aswaja Pagar Nusantara

Kudus, Shautus Salam - Maraknya kasus terorisme, dan gerakan anti-Pancasila yang dinilai meresahkan masyarakat luas mendapat perhatian dari kalangan santri di Kudus, Jawa Tengah. Para santri yang tergabung dalam Ikatan Santri Abiturien (Iksab) MA NU TBS Kudus menggelar Musyawarah Besar dengan tema "Aswaja Pagar Nusantara" di Aula Masjid Darul Ilmi Universitas Muria Kudus, Kamis (15/9/16).

?

Menurut Ketua panitia acara Arif Mustain S.Pd kegiatan tersebut dilaksanakan sebagai sikap atas adanya pihak-pihak yang mengatasnamakan Islam untuk kepentingan yang justru merugikan Islam, misalnya radikalisme dan terorisme.

?

Mubes Iksab TBS Kudus Angkat Tema Aswaja Pagar Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
Mubes Iksab TBS Kudus Angkat Tema Aswaja Pagar Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

Mubes Iksab TBS Kudus Angkat Tema Aswaja Pagar Nusantara

"Kami merasa perihatin atas berbagai hal yang dituduhkan kepada Islam khususnya yang merugikan seperti terorisme. Jadi itulah alasan mengapa saat ini kami berkumpul. Tidak lain adalah upaya membantu pemerintah dalam menangkal gerakan-gerakan radikal," terangnya

?

Hal senada juga diungkapkan Zainuri MM, Wakil Rektor Universitas Muria Kudus (UMK). Menurutnya, saat ini pemerintah Indonesia perlu meniru Brunei Darussalam dalam melakukan proteksi terhadap penyebaran aliran radikal.

Shautus Salam

?

"Saya kira pemerintah Indonesia perlu meniru Brunei Darussalam. Soal materi khutbah Jumat saja harus melalui seleksi oleh majelis ulama di sana," katanya.

Shautus Salam

Menurut Zainuri, meskipun berniat untuk mengamalkan ajakan amar maruf nahi munkar, dakwah dilakukan dengan cara-cara kekerasan akan turut memperburuk citra Islam itu sendiri.

"Jadi apa-apa yang berdampak buruk pada Islam itu tidak sebatas pada gerakan terorisme atau radikalisme. Tapi cara menebar kebaikan dengan cara kekerasan itu juga turut jadi penyebab bahkan justru menjauhkan dari tujuan utama," imbuhnya

Pada kesempatan tersebut selain membahas pentingnya kampanye Islam yang damai juga dilangsungkan pelantikan dan pengesahan pengurus Iksab periode 2016-2020. Dilanjutkan dengan Forum Group Diskusi (FGD) yang dibagi ke dalam lima devisi antara lain devisi penguatan aswaja, pengembangan multimedia dan data, kemandirian ekonomi, penguatan jaringan, dan pemberdayaan alumni. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Daerah Shautus Salam

Rabu, 19 Juli 2017

Di KUA Cipondoh, Mahasiswa STISNU Nusantara Amati Praktik Administrasi Akad Nikah

Tangerang, Shautus Salam - Mahasiswa Program Studi Hukum Keluarga Islam (HKI) Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Nahdlatul Ulama (STISNU) Nusantara Tangerang menggelar kunjungan akademik ke Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Cipondoh, Tangerang, Kamis (5/1). Di bawah bimbingan Kepala KUA Cipondoh H Amir, mereka mempelajari seluk beluk administratif akad nikah.

H Amir mengapresiasi kedatangan para mahasiswa STISNU untuk belajar aktif dan mengetahui kegiatan harian di KUA Cipondoh. "Kita berikan bekal pemahaman teknis mulai dari pencatatan sampai tatacara akad pernikahan. Semua dipraktikkan," katanya.

Di KUA Cipondoh, Mahasiswa STISNU Nusantara Amati Praktik Administrasi Akad Nikah (Sumber Gambar : Nu Online)
Di KUA Cipondoh, Mahasiswa STISNU Nusantara Amati Praktik Administrasi Akad Nikah (Sumber Gambar : Nu Online)

Di KUA Cipondoh, Mahasiswa STISNU Nusantara Amati Praktik Administrasi Akad Nikah

KH Mahrusillah, dosen pengampu matakuliah Fikih Munakahat, menegaskan, syarat kelulusan matakuliah ini adalah keikutsertaan mahasiswa pada program coaching clinic ke KUA-KUA. Selain itu mereka diwajibkan menghafal prakata dalam akad nikah dan khutbah nikah.

Muhamad Haikal, mahasiswa program coaching clinic KUA, mengaku senang dengan kegiatan ini karena banyak ilmu baru yang didapat meskipun semua masalah pernikahan secara teori sudah dijelaskan di dalam kelas.

Shautus Salam

"Alhamdulillah, saya banyak mendapatkan informasi. Jadinya, senang sekali," kata Haikal.

Shautus Salam

Wakil Ketua Bidang Akademik STISNU Nusantara Muhamad Qustulani menjelaskan, kurikulum di STISNU mewajibkan mahasiswa praktikum matakuliah turun di lapangan.

"Porsinya 70 % materi, 30 % di lapangan. Tujuannya agar mahasiswa mampu mengidentifikasi persoalan dan bisa menyinergikan antara teori dan permasalahan di lapangan," kata Qustulani.

Kunjungan akademik ini ditutup dengan foto bersama dengan Kepala KUA Kecamatan Cipondoh Kota Tangerang H Amir. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Fragmen, Daerah, Kyai Shautus Salam

Minggu, 09 Juli 2017

Pelajar Kurang Ngaji, IPNU-IPPNU Diharap Bergerak

Tasikmalaya, Shautus Salam. Sejumlah pemuda-pemudi di Kecamatan Bungursari, Kota Tasikmalaya Jawa Barat, menyelenggarakan pengajian gabungan sekaligus memperingati Maulid Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, Senin (28/12), di Madrasah Al-Barokah, Sukahurip, Bungursari.

Ketua Muda-mudi Al-Barokah Arif Muhammad Abdurrohman mengatakan, pengajian gabungan yang ketujuh kalinya ini diikuti oleh enam madrasah pengajian yang ada di Bungursari dan sudah berjalan sejak 2012. Pesertanya terdiri dari kalangan pelajar SMP, SMA, dan perguruan tinggi, serta pemuda yang sudah bekerja.

Pelajar Kurang Ngaji, IPNU-IPPNU Diharap Bergerak (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar Kurang Ngaji, IPNU-IPPNU Diharap Bergerak (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar Kurang Ngaji, IPNU-IPPNU Diharap Bergerak

Menurut dia, latar belakang pertama kali pengajian gabungan ini diadakan adalah banyaknya muda-mudi yang memiliki semangat yang rendah dalam mengaji. “Dari situlah timbul keinginan untuk melakukan pengajian gabungan dengan muda-mudi kampung lain.”

Shautus Salam

Hadir pula dalam kegiatan tersebut antara lain pengurus Ikatan Pelajar NU (IPNU) dan tokoh masyarakat setempat. Di hadapan mereka, Arif berharap ke depan muda-mudi sekarang lebih giat dan kompak untuk mengaji.

Shautus Salam

“IPNU harus siap mengkoordinir para pelajar-pelajar yang sudah lemah untuk menuntut ilmu akherat,” sambungnya.

Menurut Ketua Pimpinan Cabang IPNU Kota Tasikmalaya, Saepul Malik, kegiatan ini merupakan satu cara syiar paham Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyah demi terlaksananya Islam rahmatan lil alamin di kalangan pelajar.

Ia menambahkan, kegiatan tersebut harus dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh IPNU-IPPNU untuk terus melebarkan sayap perjuangannya kepada para pelajar yang lemah dari segi semangat mengaji. (Agum Gumilar/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Daerah, Pertandingan Shautus Salam

Kamis, 01 Juni 2017

Tiga Arena Perjuangan LTM-PBNU (1)

Jakarta, Shautus Salam

Memasuki tahun ketiga kepengurusan Lembaga Takmir Masjid Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LTM-PBNU) masa khidmat 2015-2020, LTM-PBNU memantapkan arena perjuangannya. Sektretaris LTM-PBNU Ibnu Hazen mengatakan terdapat tiga arena perjuangan yakni penguatan akidah, penguatan ekonomi, dan penguasaan informasi dan komunikasi.

Tiga Arena Perjuangan LTM-PBNU (1) (Sumber Gambar : Nu Online)
Tiga Arena Perjuangan LTM-PBNU (1) (Sumber Gambar : Nu Online)

Tiga Arena Perjuangan LTM-PBNU (1)

Tiga arena perjuangan tersebut diperkuat dalam diskusi pengurus LTM-PBNU yang dilaksanakan bersamaan Family Gathering LTM-PBNU, 20-21 Januari 2018 lalu di Vila Kelana, Cibodas, Cipanas, Cianjur, Jawa Barat.

“Untuk penguatan akidah diturunkan menjadi penguatan paham ahlussunah waljamaah annahdliyah; penguatan ideologi Pancasila dan NKRI; dan menjaga hubungan antara agama dan negara,” kata Ibnu di Gedung PBNU, Selasa (23/1).

Ibnu menambahkan penguatan-penguatan tersebut dilakukan dengan sejumlah strategi meliputi pelatihan, workshop, seminar, halaqah, pendampingan dan mentoring.

“Strategi dilakukan sebagai wadah dan media pembentukan wawasan, nilai, sikap, transformasi keilmuan, dan menjadi informasi yang strategis untuk kaderisasi,” ia memaparkan.

Shautus Salam

Strategi tersebut dilakukan berbasiskan masjid yang menyasar masyarakat umum, kampus dan perkantoran serta sekolah dan kompleks perumahan.

“Tentu metode dan pendekatan yang dilakukan berbeda-beda untuk arena-arena itu,” sambung Ibnu.

Shautus Salam

Ibnu menegaskan keluaran yang ingin dihasilkan melalui strategi tersebut adalah terbentuknya jaringan muharik aswaja NU dari tingkat nasional hingga ke desa-desa. (Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Pondok Pesantren, Daerah, Sunnah Shautus Salam

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Shautus Salam sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Shautus Salam. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Shautus Salam dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock