Tampilkan postingan dengan label Khutbah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Khutbah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 Maret 2018

Majelis Mayoran Asparagus Madiun Benahi Pesantren

Madiun, Shautus Salam - Kumpulan para gus se-Kabupaten Madiun mengadakan mayoran “makan bersama” ruti bulanan, Senin (25/12). Mereka mengangkat berbagai persoalan sebagai dialog di antara mereka untuk membenahi pondok pesantren.

Kegiatan ini merupakan konsolidasi para generasi penerus pesantren dan ulama. Misi yang akan mereka usung adalah menjalin silaturahmi para gus se-Kabupaten Madiun untuk kemajuan umat dan memperkuat jalinan pesantren dengan bingkai yang santai ala santri.

Majelis Mayoran Asparagus Madiun Benahi Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Majelis Mayoran Asparagus Madiun Benahi Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Majelis Mayoran Asparagus Madiun Benahi Pesantren

“Memang kegiatan ini sangatlah baru di kalangan asparagus di wilayah Kabupaten Madiun, tetapi ini akan menjadi wadah bagi generasi penerus pesantren untuk lebih meningkatkan daya saing dalam hal pendidikan,” kata Gus Abdul Rouf, koordinator kegiatan ini.

Acara ini merupakan kali pertama untuk di Pesantren Selopuro. Acara ini diawali dengan ziarah ke makam para kiai setempat dan dilanjutkan dengan diskusi ala santri. Setelah itu ditutup dengan makan seadanya.

Shautus Salam

“Kita berharap kegiatan ini selalu istiqamah dan selalu menjadikan hasil pemikiran yang baik bagi pondok pesantren yang notabene hari ini kurang sekali dapat bersaing di wilayah Madiun,” kata Abdul Rouf (Hendi Sulaksono/Alhafiz K)

Shautus Salam

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Aswaja, Khutbah Shautus Salam

Sabtu, 03 Maret 2018

Ketua PBNU Resmikan MWC NU Sukoharjo

Wonosobo, Shautus Salam. Merupakan kebanggaan tersendiri bagi pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC) NU Kecamatan Sukoharjo, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Sebab Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Agil Siroj secara langsung meresmikan Gedung MWC NU Sukoharjo, Jumat (6/9).

Ketua PBNU Resmikan MWC NU Sukoharjo (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketua PBNU Resmikan MWC NU Sukoharjo (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketua PBNU Resmikan MWC NU Sukoharjo

Acara peresmian berlangsungn meriah karena dihadiri oleh ketua beserta pengurus PCNU Wonosobo, ? MWC NU Sukoharjo dan Ranting serta para ulama, kiai, dan warga NU.?

Gedung MWC ? tersebut berdiri di dalam kompleks Kecamatan Sukoharjo dan berada di poros jalan utama, dibangun atas swadaya warga Nahdiyin. Pembangunan kantor cabang ini sangat monumental karena merupakan kantor pertama yang dibangun oleh MWC NU Sukoharjo dan memiliki tiga lantai. ?

Shautus Salam

Peresmian Gedung MWC NU Sukoharjo secara simbolik, dibuka dengan penandatanganan yang dilakukan oleh Ketua Umum yang disaksikan oleh Ketua PCNU, Pengurus MWC dan tamu undangan.?

Pada kesempatan itu Kiai Said menyampaikan ke depan NU harus lebih memperkuat kelembagaan NU sebagai jam’iyyah keagamaan serta jam’iyyah kemasyarakatan. Sebab NU bukanlah perkumpulan politik maupun perkumpulan milik pemerintah melainkan perkumpulan masyarakat.?

Shautus Salam

“Struktur kepengurusan NU harus dapat berfungsi efektif dengan menggunakan manajemen modern dengan tetap memelihara kultur dan tradisi yang menjadi bagian tak terpisahkan dengan nafas dan budaya NU. Karena NU itu adalah perkumpulan masyarakat yang mampu menjembatani masyarakat,” katanya.

Selain itu, Ia juga menghimbau warga NU untuk memperkuat pendidikan Islam sebagai pilar pembangunan bangsa. Karena berbagai kebijakan, komitmen, dan regulasi sangat mendukung serta memberi kesempatan yang besar kepada masyarakat untuk berpartisipasi di dalam dunia pendidikan.

Gedung MWC NU berlantai tiga yang cukup megah itu rencananya akan digunakan untuk berbagai aktifitas Nahdliyin di lingkungan MWC Sukoharjo. Untuk lantai pertama rencananya digunakan sebagai koperasi, kemudian lantai dua digunakan untuk kesekretariatan dan lantai tiga digunakan untuk pertemuan.?

Disebutkan pula, pembangunan gedung MWC NU Sukoharjo yang baru saja diresmikan itu ditargetkan akan menghabiskan biaya hingga Rp2 miliar. Hingga diresmikan, sudah menghabiskan biaya sekitar Rp1,5 miliar.?

“Semua biaya pembangunan gedung MWC NU Sukoharjo itu resmi dari sumbangan Nahdliyin di Sukoharjo dan beberapa donatur,” jelas Khamim Fadhol Ketua MWC NU Sukoharjo.?

Untuk sumbangan yang diberikan oleh warga, Kata Khamim mereka menyumbang secara ikhlas hanya melalui surat. Cara itupun terbilang efektif karena pembangunan mulai tahun 2006 hingga 2013 ini bisa berjalan lancar.?

“Untuk lahannya juga sumbangan atau iuran warga, total harga lahan saja Rp 175 juta,” jelasnya. (Fathul Jamil/Mukafi Niam)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Fragmen, Khutbah, News Shautus Salam

Minggu, 11 Februari 2018

Kang Said Persilakan Muslim Eropa Belajar Islam ala NU

Jakarta, Shautus Salam. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj mengatakan bahwa pendidikan Islam Indonesia terbuka bagi siapa saja. Orang-orang di belahan dunia manapun, kata pengasuh pesantren Ats-Tsaqafah Ciganjur ini, bisa melihat dan mempelajari pendidikan agama Islam Indonesia lebih dekat.

Demikian pernyataa Kang Said di hadapan Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia Vincent Guerend melakukan kunjungan ke kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Jumat (06/11).

Kang Said Persilakan Muslim Eropa Belajar Islam ala NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Kang Said Persilakan Muslim Eropa Belajar Islam ala NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Kang Said Persilakan Muslim Eropa Belajar Islam ala NU

“Kalaupun imam-imam di Eropa ingin belajar seperti Islam yang kami pelajari, dan yakini, kami tidak pernah keberatan memberikan itu,” kata Kang Said.

Shautus Salam

Pertemuan yang dijamu langsung oleh Kang Said bersama pengurus teras PBNU. Mereka lebih banyak membicarakan isu-isu perkembangan Islam.

Dalam diskusi kali ini, Kang Said menyebutkan bahwa ada 1.500 lebih muslim Perancis, 400 lebih Muslim Inggris dan Belgia yang bergabung dengan Islamic State of Iraq and Syria atau dikenal dengan ISIS. Itu menjadi sinyal awal bahwa pendidikan tentang pemahan Islam di sana belum tuntas. Kang Said menyayangkan semua itu terjadi.

Shautus Salam

Sebaliknya, Kang Said mengatakan, NU memiliki lembaga pendidikan tidak kurang 800 ribu pondok pesantren, sekolah, madrasah dan diniyah yang tidak terhitung, serta perguruan tinggi. Semuanya mengajarkan nilai-nilai yang diwariskan para ulama terdahulu mengenai tawasuth (tidak ekstrim), moderat, Tasamuh (toleran), dan amar ma’ruf nahi mungkar yang kemudian menjadi prinsip dasar ber-NU, yang kemudian kita bungkus dengan Islam Nusantara, islam yang menghargai tradisi dan perbedaan.

“Prinsip inilah yang kita jaga dan ajarkan pada kader-kader NU,” pungkasnya.

Sementara Vincent mengatakan, geliat perkembangan Agama Islam di Eropa berjalan pesat. Dibuktikan jumlah pemeluk Islam semakin bertambah. “Kita tidak ingin umat muslim Eropa seperti yang ada di Timur Tengah, saling perang sesama muslim.”

Lebih lanjut, ia mengatakan untuk mencegah itu perlu pemahaman keislaman yang benar. Di Eropa belum ada lembaga pendidikan untuk para imam. “Kalaupun ada juga tidak ada standardisasi yang jelas,” imbuhnya.

Vincent mengapresiasi gerakan Nahdlatul Ulama. menurutnya, selain besar, NU juga aktif di berbagai hal dan juga peduli pada pendidikan dengan pesantrennya.

Sebab itu, kita ingin tahu bagaimana NU mendidik umat Islam yang ada di Indonesia. “Muslim di Indonesia tidak seperti di Timur Tengah, di sini sangat toleran dan menghargai perbedaan,” ujarnya. (Faridur Rohman/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Khutbah Shautus Salam

Rabu, 24 Januari 2018

PKD PMII Kupang Diikuti Dua Cabang Persiapan Satu Definitif

Kupang, NU Oline. Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) menggelar PKD untuk Cabang Persiapan Sikka, Alor, dan Cabang Defenitif Cabang Ende. Kegiatan berlangsung di Wisma Harapan Baik, Kelurahan Kayu Putih, Kecamatan Oebobo, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, pada Jumat (25/12).

Ketua Panitia, Jul Firlan, mengatakan PKD akan berlangsung tanggal 25-27 Desember. Kemudian pada tanggal 28 Desember akan berlangsung Konferensi Cabang ke-VII. ?

PKD PMII Kupang Diikuti Dua Cabang Persiapan Satu Definitif (Sumber Gambar : Nu Online)
PKD PMII Kupang Diikuti Dua Cabang Persiapan Satu Definitif (Sumber Gambar : Nu Online)

PKD PMII Kupang Diikuti Dua Cabang Persiapan Satu Definitif

“Peserta PKD sesuai dengan utusan dua cabang persiapan dan satu cabang defenitif. Sementara yang mengikuti Konfercab diikuti dari Komisariat dan Rayon yang ada di Cabang Kupang. Sedangkan peserta dari cabang lain sebagai peninjau dalam pertarungan Konfercab VII masa khidmat 2015-2016 yang akan datang,” katanya.

Shautus Salam

Sekretaris Mabincab PMII Cabang Kupang Yanto Minggele mengatakan, kader harus memahami sejarah PMII yang sebenarnya. Jangan ber-PMII setengah-setengah, tapi sungguh-sungguh.

Kata Yanto, demi menjaga keabsahan organisasi, perlu adanya sertifkat mulai dari Mapaba, PKD maupun PKL. Sebab, hal itu menjadi penilaian dan menjadi legal formal dari pengkaderan. (Ajhar Jowe/Abdullah Alawi)

Shautus Salam

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Khutbah, AlaSantri Shautus Salam

Sabtu, 20 Januari 2018

Badan Eksekutif Mahasiswa Se-Banten Tolak Gerakan Khilafah HTI

Tangerang, Shautus Salam - Badan eksekutif mahasiswa dari pelbagai kampus di Banten menggelar diskusi terbatas Selamatkan Pancasila dan NKRI di Kota Tangerang di Gedung UNIS A lantai 5 Jalan Syaikh Yusuf, Rabu (4/5) siang. Mereka sepakat untuk menolak gerakan khilafah Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) di Banten dan di Indonesia.

Mereka menolak menolak segala ideologi yang bertentangan dengan Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI, dan Undang-Undang Dasar 1945.

Badan Eksekutif Mahasiswa Se-Banten Tolak Gerakan Khilafah HTI (Sumber Gambar : Nu Online)
Badan Eksekutif Mahasiswa Se-Banten Tolak Gerakan Khilafah HTI (Sumber Gambar : Nu Online)

Badan Eksekutif Mahasiswa Se-Banten Tolak Gerakan Khilafah HTI

Pada forum ini mereka menghadirkan pengurus harian NU Kota Tangerang, Kesbangpol–Kasipoldagri Kaonang, Kodim 0506 Mayor Imam, Kejari Eman Sulaiman, Majelis Pancasila Beben, dan seluruh pengurus BEM se-Banten.

"Hizbut Tahrir selalu menganggap sistem yang diterapkan orang lain adalah sistem kufur, dan wajib dihilangkan untuk selanjutnya diganti dengan sistem Islam. Hizbut Tahrir juga menganggap para penguasa telah dzalim dan fasiq karena telah menerapkan sistem kufur. Hizbut Tahrir menganggap orang yang mengingkari hukum-hukum Islam (Khilafah) sebagai kafir," terang Katib Syuriyah NU Kota Tangerang KH Arif Hidayat dalam paparannya mengutip buku yang menjadi rujukan gerakan Hizbut Tahrir, Manhaj Hizb at-Tahrir fit Taghyir halaman 38.

Shautus Salam

Dengan frase-frase ini, Hizbut Tahrir Indonesia adalah kelompok yang ingin menggantikan Pancasila dan UUD 45 dengan sistem khilafah, jelas Kiai Arif.

Shautus Salam

Seluruh narasumber sepakat menolak khilafah.

Kesbangpol yang diwakili Kasipoldagri Kaonang menjelaskan, “Telah tiga tahun kami mengawasi HTI ini, bahkan pada tanggal 17 Agustus 2015, Sekeretariat HTI tidak mengibarkan bendera Merah Putih. Kami beri ultimatum agar mengibarkan bendera sang saka," tegasnya. (Atha Al-Farhan/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Khutbah Shautus Salam

Senin, 08 Januari 2018

PBNU Instruksikan Nahdliyin Baca Qunut Nazilah dan Hizib Nashor untuk Palestina

Jakarta, Shautus Salam. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) terus melakukan upaya solidaritas, baik lahir maupun batin untuk Palestina. Setelah menggalang dukungan umat Islam Indonesia, NU mengintruksikan kepada Nahdliyin dan bangsa Indonesia untuk membaca Qunut Nazilah dan Hizin Nashor sebagai bentuk solidaritas untuk Palestina.

Instruksi yang tertuang dalam surat Nomor 1693/C.I.34/12/2017 pada Selasa (19/12/2017) ini sebagai bentuk ikhtiar lanjutan setelah kecaman, penolakan, dan diplomasi dari sejumlah negara tidak direspon baik oleh Amerika Serikat.

PBNU Instruksikan Nahdliyin Baca Qunut Nazilah dan Hizib Nashor untuk Palestina (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Instruksikan Nahdliyin Baca Qunut Nazilah dan Hizib Nashor untuk Palestina (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Instruksikan Nahdliyin Baca Qunut Nazilah dan Hizib Nashor untuk Palestina

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj menegaskan, ikhtiar batin ini harus dilakukan setelah mencermati perkembangan terkahir terkait isu Palestina.

“Dimana protes negara-negara di dunia belum mampu menghasilkan kebijakan unilateral Amerika Serikat,” ujar Kiai Said, Selasa (19/12) di Jakarta.

Maka dari itu, sambung Pengasuh Pondok Pesantren Al-Tsaqafah Ciganjur Jakarta Selatan ini, PBNU menginstruksikan kepada seluruh kepengurusan NU di semua tingkatan dan kepada pimpinan pondok pesantren, masjid, dan musholla untuk membacakan qunut nazilah dan hizib nashor.

Shautus Salam

“Ditujukan sebagai wujud solidaritas perjuangan warga Palestina,” tandas Kiai Said. (Fathoni)



Shautus Salam







Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Khutbah, Kiai Shautus Salam

Sabtu, 06 Januari 2018

Cegah Narkoba, Muslimat NU Jember Bentuk LAN

Jember, Shautus Salam. Kepedulian Pimpinan Cabang Muslimat NU Jember, Jawa Timur terhadap pencegahan penyalahgunaan narkoba, patut diacungi jempol. Hal ini? bisa dilihat dari kegetolan lembaga pimpinan Nyai Hj. Emi Kusminarni tersebut untuk memerangi segala bentuk penyalahgunaan obat terlarang itu dengan beragam cara. Salah satunya adalah dengan membentuk Laskar Anti Narkoba (LAN) di tingkat Pengurus Anak Cabang dan Ranting.

Pembentukan LAN tersebut direkomendasikan dalam acara “Sosialisasi Hidup Sehat Tanpa Narkoba” di aula Kantor Muslimat NU Jember, Ahad (20/11). Selain merekomendasikan pembentukan LAN, Nyai Hj. Emi Kusminarni dalam arahannya juga mengajak hadirin untuk menjauhi narkoba serta memastikan anggota keluarganya tidak terlibat penggunaan narkoba, miras dan tidak melakukan seks bebas.

“Kemudian, selain terus mensosialisasikan tentang bahaya narkoba, miras dan seks bebas, saya mengimbau kader Muslimat NU juga tak segan-segan memberikan pendampingan terhadap korban penyalahgunaan narkoba, miras dan sebagainya,” tuturnya.

Cegah Narkoba, Muslimat NU Jember Bentuk LAN (Sumber Gambar : Nu Online)
Cegah Narkoba, Muslimat NU Jember Bentuk LAN (Sumber Gambar : Nu Online)

Cegah Narkoba, Muslimat NU Jember Bentuk LAN

Menurut Nyai Hj. Emi, penyalahgunaan narkoba dewasa ini sudah begitu mencemaskan. Penggunanya tidak hanya kaum dewasa tapi juga sudah merambah kalangan pelajar, bahkan pesantren tak luput dari bidikan pengedar obat haram tersebut. Sungguh miris. Oleh karena itu, ia mengjak para orang tua untuk betul-betul memantau pergaulan anaknya. Sebab, barang atau budaya apapun memang datangnya dari lingkungan dan teman bergaul.

“Untuk soal pergaulan, jangan percaya pada anak seratus persen. Kita harus memantau dan mengontrol siapa-siapa saja temannya. Sebab, narkoba dan prilaku apapun sumbernya dari pergaulan,” urainya.

Dalam kesempatan tersebut Nyai Hj. Emi juga menekankan pentingnya kader Muslimat NU di semua tingkatan untuk ambil bagian dalam pemberantasan penyalahgunaan narkoba, khususnya sosialisasi tentang bahaya narkoba di acara-acara pengajian muslimat.

Shautus Salam

“Sosialisasi bahaya narkoba dan ciri-ciri juga penting. Sebab, bisa jadi itu dibilang obat penenang, padahal narkoba,” ucapnya.

Acara tersebut diikuti oleh lebih dari 100 orang yang terdiri dari pengurus cabang dan anak cabang serta para ketua majelis taklim dan tokoh masyarakat. (aryudi a. razaq/abdullah alawi)

?


Shautus Salam

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Khutbah, Hikmah Shautus Salam

Kamis, 21 Desember 2017

Jangan Tergiur dengan Aliran Agamis Materialistis

Pringsewu, Shautus Salam. Saat menyampaikan materi pada Ngaji Ahad Pagi atau Jihad Pagi di Gedung NU Kabupaten Pringsewu, Ahad (16/10), Ketua PCNU Kabupaten Bogor Jawa Barat KH. Romdhon mengatakan bahwa saat ini banyak terjadi kemiskinan aqidah ditengah masyarakat.

Kang Doni, begitu Ia biasa disapa mengatakan bahwa fenomena semakin banyaknya orang yang memiliki sifat hedonis dan materialistis merupakan tanda sudah terjadinya kerapuhan mental spiritual.

Jangan Tergiur dengan Aliran Agamis Materialistis (Sumber Gambar : Nu Online)
Jangan Tergiur dengan Aliran Agamis Materialistis (Sumber Gambar : Nu Online)

Jangan Tergiur dengan Aliran Agamis Materialistis

Menurut Alumni Pesantren Cipasung Tasikmalaya dan Ciganjur Jakarta ini, banyak orang tergiur dengan iming-iming materi yang berkedok padepokan, Majelis taklim dan sejenisnya. Orang yang tergiur saat ini juga sudah tidak memandang lagi status sosial dan status pendidikan.

"Banyak sekarang yang berpendidikan sampai dengan S3 baik dalam maupun luar negeri yang ikut-ikut dalam aliran yang lebih mengarah kepada kecintaan pada dunia," ungkapnya.

Shautus Salam

Oleh karenanya, ini merupakan tugas yang berat bagi NU untuk memberikan pencerahan agar warga NU tidak ikut terbawa arus dengan aliran-aliran Agamis Materialistis tersebut.

Kedatangan Kang Doni ke PCNU Pringsewu ini dalam rangka Silaturahmi dan lebih menambah ukhuwah antar PCNU Bogor dan Pringsewu. "Mudah-mudahan dengan silaturahmi ini kita dipanjangkan umur dan murah rezeki," harap kang doni.

Silaturahmi tersebut juga dimanfaatkan untuk berdiskusi dengan Mustasyar PCNU Pringsewu H Sujadi yang juga Bupati Pringsewu dan hadir pada kegiatan Jihad Pagi tersebut. Ditemui setelah kegiatan Jihad Pagi, Kang Doni mengatakan bahwa saat ini terjadi kelangkaan seorang ulama yang juga umara.

Padahal menurutnya, sejarah mencatat dimasa lalu banyak sekali para ulama yang juga menjadi pemimpin pemerintahan dan membawa kemaslahatan bagi warganya.

"Kemiskinan struktural jika terjadi umara tidak bisa mengelola pemerintahan. Ketika Ulama menjadi pemimpin Insyaallah kemaslahatan dunia dan akhirat dapat diraih," katanya. (Muhammad Faizin/Fathoni)

Shautus Salam

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Kiai, Habib, Khutbah Shautus Salam

Selasa, 12 Desember 2017

Rahasia Huruf “Dlad" di Lambang NU Menurut KH Ma’ruf Amin

Jakarta, Shautus Salam - Lambang Nahdlatul Ulama terdiri dari susunan gambar bola dunia yang dilingkari tali tersimpul, dikitari oleh sembilan bintang, dengan tulisan Nahdlatul Ulama dalam huruf Arab yang melintang dari sebelah kanan bola dunia ke sebelah kiri.

(Baca: Inilah Perubahan Logo NU Hasil Muktamar Ke-33)

Rahasia Huruf “Dlad di Lambang NU Menurut KH Ma’ruf Amin (Sumber Gambar : Nu Online)
Rahasia Huruf “Dlad di Lambang NU Menurut KH Ma’ruf Amin (Sumber Gambar : Nu Online)

Rahasia Huruf “Dlad" di Lambang NU Menurut KH Ma’ruf Amin

Logo ciptaan KH Ridlwan Abdullah berdasarkan hasil istikharah ini dibuat dengan mempertimbangkan makna-makna di kandungnya. Di mata Rais Aam PBNU KH Ma’ruf Amin, ada yang unik dari gambar susunan huruf di lambang NU. Huruf dlad (?) yang ditulis memanjang melintasi bola dunia adalah isyarat bahwa NU harus memberi warna pada dunia global.

“Huruf ini juga unik. Rasulullah pernah bersabda ‘anâ afshahu man nathaqa bidl-dlâd’ (aku adalah orang yang paling fasih mengucapkan huruf dlad),” katanya di hadapan ribuan warga yang memadati Masjid Agung Sunda Kelapa, Jakarta, Jumat (21/10) malam, dalam acara pembacaan shalawat Nariyah pada peringatan Hari Santri Nasional.

Shautus Salam

Shautus Salam

Menurutnya, Islam ala Ahlussunnah wal Jamaah yang ditampilkan di Nusantara menjadi contoh ideal bagi umat Islam di berbagai penjuru dunia, karena mengusung semangat moderasi, toleransi, dan juga cinta.

“Nahdlatul Ulama tidak ingin Islam tawassuthiyah (moderat) hanya berkembang di Indonesia tapi juga bisa meluas di dunia internasional,” tuturnya.

Ia juga menegaskan bahwa NU sejak dulu memegang prinsip al-muhâfadhah ‘alal qadîmis shâlih wal akhdzu bil jadîdil ashlah (melestarikan tradisi lama yang baik dan mengadopsi hal-hal baru yang lebih baik). Namun, katanya, dua hal ini tidak cukup. “Harus ditambah lagi, al-ishlâh mâ huwal ashlah (membangun perbaikan untuk menjadi lebih baik,” imbuhnya.

Usaha perbaikan atau pembenahan ini, katanya, juga mesti berlangsung terus menerus, tidak berhenti pada satu momen saja. “Sehingga yang pas adalah ‘al-ishlâh mâ huwal ashlah tsummal ashlah wal ashlah. Lebih baik lagi, lebih baik lagi,” paparnya.

Tampak hadir dalam kesempatan ini Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menkopolhukam) Wiranto, Katib ‘Aam PBNU KH Yahya Cholil Staquf, Sekjen PBNU H Helmy Faishal Zaini, Habib Ali bin Abdurrahman Assegaf, Mustasyar PWNU DKI Jakarta KH Maulana Kamal Yusuf, pejabat daerah setempat, dan segenap pengurus syuriyah dan tanfidziyah PWNU DKI Jakarta.

Acara pembacaan shalawat Nariyah tersebut menjadi bagian dari agenda Pembacaan 1 Miliar Shalawat yang digelar secara serentak di Indonesia. Selain di Jakarta, pembacaan shalawat Nariyah juga dipusatkan di Lamongan, Lirboyo, Pasuruan, Situbondo, Lampung Tengah, Balikpapan, dan Samarinda. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Khutbah Shautus Salam

Rabu, 06 Desember 2017

KH Maruf Amin: Produk-produk Syariah Alternatif Ekonomi Dunia

Jakarta, Shautus Salam. Rais Aam PBNU KH Ma’ruf Amin menyebut ekonomi Islam sedang merintis model perekonomian alternatif di tengah praktik ekonomi global yang sarat dengan unsur ribawi (mengandung riba) dan condong eksploitatif. Kiai Ma’ruf melihat ekonomi Islam menawarkan pembebasan dunia perekonomian dari kezaliman yang berbasis keuntungan.

KH Maruf Amin: Produk-produk Syariah Alternatif Ekonomi Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Maruf Amin: Produk-produk Syariah Alternatif Ekonomi Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Maruf Amin: Produk-produk Syariah Alternatif Ekonomi Dunia

Demikian disampaikan Kiai Ma’ruf dalam diskusi bertema “Wujudkan Sistem Ekonomi Islam, dan Memaksimalkan Sumber Energi Alam Untuk Kemaslahatan Umat” yang diselenggarakan Lembaga Takmir Masjid PBNU di Gedung Smesco, Jakarta Selatan, Kamis (15/10) sore.

“Ekonomi Islam itu perpaduan antara prinsip-prinsip ekonomi dan konsep Islam, antara mabadi rabbaniyah dan hilah insaniyah (upaya profesionalisme). Sementara praktik ekonomi global sekarang ini begitu rapuh dengan unsur ribawinya,” kata Kiai Ma’ruf di hadapan sedikitnya 100 peserta diskusi.

Shautus Salam

Karena begitu rapuhnya, banyak orang sekarang melirik ekonomi Islam sebagai alternatif. “Dalam ekonomi Islam, keuntungan kalau misalnya ada dibagi bersama. Basisnya kejujuran dan kepercayaan. Mekanisme ini yang sedang dibangun,” terang Kiai Maruf.

Shautus Salam

Menurut Ketua Umum MUI ini, ekonomi Islam sendiri tidak menghalangi orang mencari keuntungan. Hanya saja pelayanan lebih diarahkan pada kemudahan-kemudahan masyarakat. “Ketika ada orang mengalami kesulitan, harus ada toleransi untuk mereka.”

“Yang saya sayangkan, karena perbankan Islam itu masih kecil, maka ia belum bisa memberikan kemudahan-kemudahan karena dananya dana mahal. Karenanya masih harus ada jaminan. Pasalnya dana di bank itu dananya masyarakat. Dengan begitu investasi tetap terlindungi.”

Sementara perbankan Islam, menurut Kiai Ma’ruf, perlu terus mengevaluasi. Perbankan Islam harus terus menginovasi produk-produknya. Berikutnya, sumber daya manusianya. “Selama ini yang masuk ke bank syariah itu tenaga ala kadarnya. Ke depan kita ingin tenaga terbaik.”

Pada prinsipnya, kita dalam hal muamalah selalu mengacu pada kemaslahatan meskipun pandangan fikihnya lemah. Dalam pengambilan keputusan, kita tidak pernah sendiri. kita memiliki forum musyawarah bersama (working grup) antara DSN, OJK, MA, dan juga asosiasi akuntansi.

Jadi mereka terlibat dalam penggodokannya. Fatwanya bagaimana, regulasinya bagaimana oleh OJK, dan akuntansinya. Dan bahkan eksekusinya seperti apa ketika ada konflik, MA mengetahui karena pihak MA terlibat di dalam pembahasannya, tandas Kiai Maruf.

Narasumber lainnya Prof DR Mesbahi Moghaddam dari Teheran yang mengisi materi perbedaan mendasar antara sistem ekonomi Islam dan sistem ekonomi kapitalis-liberalis. Sementara Ketua Dewan Komisioner OJK Prof DR Muliaman Hadad lebih banyak mengangkat gerakan menuju ekonomi Islam. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Olahraga, Pesantren, Khutbah Shautus Salam

Selasa, 05 Desember 2017

Hukum Berburu dan Memakan Hewan yang Dilindungi

Assalamu’alaikum wr. Wb. Ustadz, saya mau tanya, beberapa hewan langka dilindungi oleh Pemerintah, seperti rusa. (1) Bolehkan kita diam-diam memburu hewan yang dilindungi tersebut untuk dimakan? Tentunya dalam hal ini hewan yang secara zat halal, bukan seperti babi yang sduah jelas haram. (2) Kemudian bagaimana bila kita diberi semur rusa oleh tetangga yang kita tidak tahu asal usul rusa tersebut halalkah dimakan? Terimakasih. (Ega Prasetya Noor)

?

Wa’alaikum salam wr. wb.

Hukum Berburu dan Memakan Hewan yang Dilindungi (Sumber Gambar : Nu Online)
Hukum Berburu dan Memakan Hewan yang Dilindungi (Sumber Gambar : Nu Online)

Hukum Berburu dan Memakan Hewan yang Dilindungi

Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah swt. Perburuan binatang yang dilindungi negara sudah di atur. Di antaranya dalam Undang-Undang RI Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya. Hal yang harus dipahami terlebih dahulu adalah bahwa memburu dan memakannya merupakan dua hal yang berbeda. Jika kedua hal ini berbeda maka memiliki konsekwensi hukum yang berbeda pula.

Hewan termasuk makhluk hidup yang juga memiliki hak hidup dan harus dilindungi. Bahkan ? Apalagi hewan yang hampir mengalami kepunahan. Dalam ayat-ayat yang terkait dengan soal hewan Allah swt mengajak kepada manusia untuk merenungkan keindahan dan keagungan ciptaan-Nya. Dan pada saat bersamaam Allah swt juga mengajak mereka untuk mengkaji dan mengambil pelajaran dari pelbagai macam perilaku binatang, seperti firman-Nya berikut ini:?

? ? ? ? ? ?. “Maka tidakkah mereka memperhatikan unta, bagaimana diciptakan” (Q.S. Al-Ghasyiyah [88]: 17)

Shautus Salam

Pada prinsipnya melindungi hewan yang hampir punah itu untuk menjaga kestabilan dan keseimbangan ekosistem. Artinya jika kita memburunya maka kita sedang terlibat dalam perusakan terhadap keseimbangan ekosistem. Sedangkan perusakan tersebut jelas dilarang. Di dalam al-Quran Allah swt berfirman:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan kepadamu (kebahagian) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan kebahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan (di muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan” (Q.S. al-Qashashash [28]: 77)

Larangan untuk melakukan kerusakan di muka bumi sebagaimana terdapat dalam ayat ini juga mencakup larangan untuk merusak keseimbangan ekosistem. Dari sini saja dapat dipahami bahwa memburu hewan yang dilindungi adalah tidak diperbolehkan karena bertentangan dengan tujuan yang disyariatkan, yaitu merusak keseimbangan ekositem. Misalnya memburu kijang yang dilindungi karena hampir mengalami kepunahan.

Shautus Salam

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. “Adapun sesuatu yang bernyawa (hewan) maka wajib melindunginya apabila hendak dipunahkan sepankang ia tidak khawatir atas dirinya karena kemulian ruh, sehingga jika ada seseorang melihat orang lain memunahkan hewannya sendiri dengan cara yang diharamkan maka wajib baginya untuk mencegahnya” (Muhammad al-Khatib asy-Syarbini, Mugni al-Muhtaj ila Ma’rifati Alfazh al-Minhaj, Bairut-Dar al-Fikr, juz, 4, h. 195)

Namun bagaimana dengan memakan hewan yang dihalal namun dilindungi? Apakah larangan memburu itu juga mengandung larangan untuk mengkonsumsinya? Ternyata soal mengkonsuminya merupakan pengecualian. Sehingga memunahkan hewan yang halal dan lindungi tidak diperbolehkan kecuali untuk dikonsumsi. Hal sebagaimana yang kami pahami pernyataan dalam kitab Mughni al-Muhtaj sebagai berikut ini;

? ? ? - ? ? ? ? ? ? ?

“Dan haram memunahkan hewan yang dimuliakan karena adanya larangan untuk menyembelih hewan kecuali untuk dikonsumsi” (Muhammad al-Khatib asy-Syarbini, Mugni al-Muhtaj ila Ma’rifati Alfazh al-Minhaj, Bairut-Dar al-Fikr, juz, 4, h. 227)

Sedang mengenai pertanyaan kedua hemat kami tidak perlu dijawab. Sebab, soal ketidaktahuan itu tidak memiliki konsekwensi hukum apa-apa. Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Dan saran kami, sebaiknya kita jangan melakukan perburuan hewan yang dilindungi meskipun dengan tujuan untuk dikonsumsi. Sebab, perburuan tersebut dalam merusak keseimbangan ekosistem.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq

Wassalamu’alaikum wr. wb

?

(Mahbub Ma’afi Ramdlan)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Khutbah, Cerita Shautus Salam

Senin, 30 Oktober 2017

Syekh Kasyful Anwar, Ulama Besar dari Kalimantan Selatan

Seyogyanya bagi orang yang alim apabila dia ditanya akan hal yang tidak diketahuinya maka dia akan berkata ‘Aku tidak mengetahuinya’ dan hal tersebut tidak akan mengurangi martabatnya tetapi menunjukkan akan wara’ dan sempurna ilmu.” Demikian sebagian nasihat Syekh Muhammad Kasyful Anwar seorang pembaharu sistem pendidikan sekaligus pimpinan periode ketiga Pondok Pesantren Darussalam Martapura yang merupakan pesantren tertua dan terbesar di Kalimantan.

Syekh Muhammad Kasyful Anwar lahir di Desa Kampung Melayu, Kecamatan Martapura, Kabupaten Banjar, Provinsi Kalimantan Selatan, pada tanggal 4 Rajab 1304 H/29 Maret 1887 pukul 10 pagi malam Selasa. Syekh Muhammad Kasyful Anwar adalah putra al-Allamah KH Ismail bin Muhammad Arsyad bin Muhammad Sholeh bin Badruddin bin Maulana Kamaluddin.

Syekh Kasyful Anwar, Ulama Besar dari Kalimantan Selatan (Sumber Gambar : Nu Online)
Syekh Kasyful Anwar, Ulama Besar dari Kalimantan Selatan (Sumber Gambar : Nu Online)

Syekh Kasyful Anwar, Ulama Besar dari Kalimantan Selatan

Memasuki usia tamyiz, jiwanya sudah dipenuhi dengan cahaya Al-Qur’an dan diasuh langsung oleh orang tuanya sendiri. Di masa mudanya ia tidak belajar di bangku sekolah, karena pada saat itu di Kampung Melayu belum ada madrasah formal. Jadi beliau belajar ilmu agama dengan beberapa masyayikh di antaranya:

- Al-Alim Al-Allamah Syekh Ismail bin Ibrahim bin Muhammad Sholeh bin Mufti Syekh Zainuddin bin Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari

Shautus Salam

- Al Alim Al Allamah Syekh Abdullah Khatib bin Muhammad Sholeh bin Hasanuddin bin Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari.

Pada usia 9 tahun Muhammad Kasyful Anwar dibawa oleh kakek, nenek dan kedua orang tuanya untuk menunaikan ibadah haji sekaligus memperdalam ilmu agama kepada ulama di Kota Makkah.

Shautus Salam

Sebagai pendatang yang belum pandai berbahasa Arab, beliau belajar kepada Al-Alim Al-Allamah Syekh Muhamamd Amin bin Qadhi Haji Mahmud bin Asiah binti Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, seorang ulama yang berasal dari Kampung Pasayangan Martapura dan sudah lama menetap di Kota Makkah.

Selama belajar di Makkah beliau berguru dengan ulama-ulama besar di antaranya:

1. Sayyid Ahmad bin Sayyid Abu Bakar Syatha, anak dari pengarang kitab I’anah Al Thalibin;

2. Habib Ahmad bin Hasan Al-Attas penulis kitab Tadzkirunnas;

3. Syekh Muhammad Ali bin Husein Al-Maliki yang bergelar Sibawaihi pada zamannya, sangat alim dan memiliki berbagai keahlian bidang ilmu;

4. Syekh Umar Hamdan Al-Mahrusi;

5. Syekh Umar Ba Junaid Mufti Syafi’iyah;

6. Syekh Sa’id bin Muhammad Al Yamani;

7. Syekh Muhammad Sholeh bin Muhammad Ba Fadhal;

8. Syekh Muhammad Ahyad Al Bughuri;

9. Sayyid Muhammad Amin Al Kutbi.

Setiap cabang ilmu yang dipelajari, selalu ditelusuri sanadnya, terutama di bidang fiqih, hadits, wirid, dan hizib-hizib. Di bidang hadits, beliau mempelajari secara langsung sebanyak 40 hadits musalsal yang disusun oleh Syekh Mukhtar Atthatih kepada Syekh Muhammad Ahyad Al Bughuri beserta praktiknya baik memakai sorban, libasul hirqah as-shufiah, dzikir, mushafahah, musyabaqah, munawalatussubhah, dan lainnya yang termaktub di kitab tersebut.

Syekh Muhammad Kasyful Anwar juga mengambil ijazah Dalailul Khairat dan Burdatul Madih Al Mubarakah dari Syekh Muhammad Yahya Abu Liman, Syekh Dalaiul Khairat dengan sanad yang mutthasil kepada penyusun keduanya.

Murid-murid beliau sangat banyak dan menjadi ulama besar di antaranya:

1. Syekh Anang Sya’rani Arif seorang muhadits dan juga salah satu Pimpinan Pesantren Darussalam Martapura;

2. Syekh Muhammad Syarwani Abdan Pimpinan PP Datuk Kalampayan Bangil;

3. Syekh Ahmad Marzuki;

4. Syekh Muhammad Samman bin Abdul Qadir;

5. Syekh Abdul Qadir Hasan;

6. Syekh Husien bin Ali;

7. Syekh Salman Yusuf;

8. Syekh Muhammad Samman Mulia.

Selain aktif berjuang di dunia pendidikan sebagai pengajar, Syekh Muhammad Kasyful Anwar juga berjasa memperkaya khazanah perpustakaan Islam dengan berbagai karya tulis yang bermanfaat. Di antara karya tulis beliau:

1. Risalah Tauhid;

2. Risalah Fiqh;

3. Risalah Fi Sirah Sayyidil Mursalin (Ilmu Tarikh);

4. Targhib Al-Ikhwan Fi Tajwid Al Qur’an;

5. Durutsuttashrif (Ilmu Sharaf 4 Jilid);

6. Terjemah kitab Hadits Arbain dalam bahasa Arab Melayu berjudul Al-Tabyin Ar-Rawi Bisyarhi Arba’in An-Nawawi;

7. Terjemah kitab Jauarah Al Tauhid yang berjudul Al Durrul Farid Syarh Jawhar Al Tauhid;

8. Risalah Hasbuna.

Pembaharu Pesantren



Syekh Muhammad Kasyful Anwar menjadi Pimpinan Pesantren Darussalam Martapura pada periode ketiga selama 18 Tahun (1922-1940). Dalam kepemimpinan beliau terjadi perubahan-perubahan fundamental baik di bidang sistem pendidikan, penyusunan kurikulum, pemberdayaan tenaga pengajar, maupun peningkatan infrastruktur yang meliputi pembangunan sarana dan prasarana fisik bangunan. Cara pengajian Pesantren Darussalam yang sebelumnya berupa halaqah diubahnya menjadi model pengajaran klasikal dan berjenjang.

Dengan adanya pembaharuan sistem dan metode pendidikan yang dilakukan Syekh Muhammad Kasyful Anwar di Pesantren Darussalam Martapura, maka banyak berdatangan dan berduyun-duyun para santri dari berbagai daerah di Kalimantan yang belajar di Pesantren Darussalam Martapura. Dalam beberapa tahun saja para alumnusnya terlah tersebar ke berbagai pelosok Kalimantan dan mendapat kepercayaan dari masyarakat kaum muslimin setempat untuk membuka pengajian majelis taklim, mendirikan madrasah dan pondok pesantren. Di antara salah satu alumnus Pesantren Darussalam Martapura yang sangat terkenal dan memimpin majelis taklim yang diikuti oleh ratusan ribu jamaah adalah KH Muhammad Zaini bin Abdul Ghani atau yang lebih dikenal dengan panggilan guru sekumpul.

Syekh Muhammad Kasyful Anwar termasuk orang yang berkecukupan. Beliau adalah pedagang emas dan intan yang dijalankan saudara iparnya di Jakarta. Selain usaha tersebut, beliau juga memiliki sawah dan kebun karet yang dikerjakan oleh tenaga upahan. Di sela-sela kesibukannya, beliau tetap menyempatkan diri turun ke sawah dan kebun bekerja bersama pekerja upahan.

Kemandirian yang Syekh Muhammad Kasyful Anwar miliki menjadikannya tidak mau menerima zakat, bahkan atas kemampuan tersebut beliau mengeluarkan zakat dan memberikan bantuan kepada orang lain. Bahkan gaji guru-guru Pesantren Darussalam Martapura banyak diberikan dari uang pribadi beliau. Walaupun sebagai seorang yang berada namun beliau tetap dalam hidup kesederhanaan karena perilaku zuhudnya. Begitulah kehidupan pribadi seorang ulama Ahlussunnah wal Jama’ah yang memegang teguh disiplin ilmu dan kemasyarakatan.

Syekh Muhammad Kasyful Anwar menikah dengan seorang perempuan bernama Siti Halimah pada bulan Syawwal 1330 H dalam usia 26 tahun dan dikaruniai 6 orang anak, 4 putra dan 2 perempuan.

Setelah berjuang tanpa kenal lelah dari masa belajarnya hingga masa mengajar dalam rangka menyampaikan amanah sebagai pewaris baginda Rasulullah SAW kepada umat baik melalui pendidikan formal dan pengajian nonformal maupun dengan tulisan yang tersebar dan menjadi bahan bacaan terutama di Pesantren Darussalam Martapura, akhirnya pada malam Senin pukul 9.45 WITA, tanggal 18 Syawwal 1359 H/18 September 1940 M Syekh Muhammad Kasyful Anwar berpulang ke Rahmatullah dalam usia 55 tahun dan dimakamkan di Kampung Melayu Martapura. (Erfan Maulana)

?

Dikutip dari Kitab Nurul Abshar (Sebagian Riwayat Hidup) Syekh Muhammad Kasyful Anwar susunan KH Munawwar Gazali Pimpinan Majelis Ta’lim Raudlatul Anwar



Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Nahdlatul Ulama, Khutbah, Makam Shautus Salam

Selasa, 24 Oktober 2017

LP Ma’arif Bondowoso Siap Gelar Perkemahan Pramuka NU

Bondowoso,Shautus Salam. Pengurus Cabang Lembaga Pendidikan (LP) Maarif Nahdlatul Ulama Maarif Kabupaten Bondowoso akan menyelenggarakan kegiatan perkemahan pada 25-27 Desember 2015 di Jl. Cermee Bumi Perkemahan.

LP Ma’arif Bondowoso Siap Gelar Perkemahan Pramuka NU (Sumber Gambar : Nu Online)
LP Ma’arif Bondowoso Siap Gelar Perkemahan Pramuka NU (Sumber Gambar : Nu Online)

LP Ma’arif Bondowoso Siap Gelar Perkemahan Pramuka NU

Ketua Panitia kegiatan, Muhammad Thoyib mengatakan, perkemahan tersebut akan diikuti Gugus Depan (gudep) pangkalan Madrasah Tsnawiyah (MTs) dan Sekolah Menengah Pertama Nahdlatul Ulama se-Kabupaten Bondowoso. Setiap gudep mengirimkan peserta 12 putra dan 12 putri.

Menurut dia, total jumlah peserta sekitar 720 orang. “Jika nantinya ada penambahan dari kuota yang diharapkan kami terbuka dengan senang hati menerima," tambahannya kepada Shautus Salam Ahad (20/12).

Shautus Salam

Tujuan kegiatan ini, lanjut dia, sebagai media berkumpul dan berkegiatan bersama antar -Pramuka Penggalang MTs atau SMP NU se-Kabupaten Bondowoso. Juga meningkatkan pengetahuan bagi generasi muda terhadap gerakan Pramuka. Serta mengimplementasikan perkemahan Maarif NU tahun 2015 sebagai sarana pendidikan bela negara dengan menanamkan nilai-nilai nasionalisme.

Persiapan

Persiapan perkemahan dilaksanakan pada hari Ahad pukul 07:00 WIB sampai siang di Bumi Perkemahan Cermee yang dihadiri Ketua LP Maarif Kabupaten Bondowoso Dr. H. Moh. Syaiful Bahar beserta jajarannya.

Shautus Salam

Moh. Syaiful Bahar melakukan pengamatan Bumi Perkemahan Cermee. Kemudian bersama Ketua Panitia, Thoyib, melakukan rapat koordinasi di aula Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Cermee yang tidak jauh dari lokasi perkemahan.

Pada kesempatan itu, ia Syaiful Bahar mengatakan, kegiatan perkemahaan ini akan menjadi agenda rutinan tiap tahun atau menjelang hari lahirnya NU.

“Insyaallah? tiga hari belakang ini dari data yang masuk ada sekitar 35 lembaga utusan yang akan hadir dimana terbagi menjadi dua regu yaitu putra dan putri sehingga total menjadi 70 regu putra dan putri," tambahnya.

Kemudian ia mengemukakan siapa saja yang hadir pada kegiatan terseebut. Pada pembukaan perkemahan, Pemerintah Kabupaten Bondowoso akan hadir yaitu: Bupati Bondowoso. H. Amin Said Husni, Wakil Bupati Bondowoso yang sekaligus sebagai Kwartir Cabang (Kwarcab) Bondowoso KH Salwa Arifin dan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Bondowoso H. Ahmad Dhafir. (Ade Nurwahyudi/Abdullah Alawi)

LP Ma’arif Bondowoso Siap Gelar Perkemahan Pramuka NU

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Pesantren, Khutbah, Aswaja Shautus Salam

Kamis, 19 Oktober 2017

Syair-syair Hikmah KH Wahid Hasyim (3)

KH Abdul Wahid Hasyim adalah pribadi yang kuat. Ternyata kakakter ini tak hanya berlaku dalam hal mental dan prinsip belaka. Secara ekonomi putra Hadlaratus Syaikh Hasyim Asy’ari ini pun tergolong kuat.

Di masa penjajahan Belanda dan Jepang, Kiai Wahid bersusah-payah bergerilya lewat beragam cara ke berbagai pelosok Nusantara. Seluruh biaya keluar dari kantong sendiri. Tanpa kondisi ekonomi yang mapan, perjuangan bertahun-tahun yang menguras keringat, ongkos, dan pikiran ini niscaya tak akan jalan.

KH Saifuddin Zuhri pernah dibuat heran dengan guru dan pemimpinnya ini. Saat Jepang bermurah hati memberi Kiai Wahid mobil dinas terkait jabatan Shumubu-cho, ia menolak memakai dan memilih membeli mobil sendiri.

“Bagaimana caranya bisa membeli mobil sendiri di zaman begini?” tanya Kiai Saifuddin. Ketika itu hampir tidak ada seorang sipil pun yang memiliki mobil.

Syair-syair Hikmah KH Wahid Hasyim (3) (Sumber Gambar : Nu Online)
Syair-syair Hikmah KH Wahid Hasyim (3) (Sumber Gambar : Nu Online)

Syair-syair Hikmah KH Wahid Hasyim (3)

“Ya Allah! Kalau soal beli mobil saja tidak bisa memecahkannya, bagaimana bisa memecahkan persoalan rakyat?” jawab Kiai Wahid tegas.

Sepertinya Kiai Wahid memegang teguh prinsip umat Islam tak boleh lemah secara ekonomi. Hal ini penting untuk menopang daya tahan dan nafas perjuangan. Tak aneh jika Kiai Wahid yang sehari-hari terkenal hidup sederhana dikisahkan berprofesi sebagai pedagang.

Shautus Salam

Dalam hal ini. kami nukilkan syair-syair yang ditemukan dalam catatan tokoh nasional ini. Secara umum syair hikmah berikut berpesan tentang semangat yang digambarkan di atas.

?

? ? ? ? ? ? # ? ? ? ?

? ? ? ? ? # ? ? ? ? ?


Ketika sedikit kekayaan seseorang, sedikit pula kebanggaannya; bumi dan langitnya (medan geraknya) menyempit. Meski biasanya teguh, tapi kemantabannya hilang: majukah atau mundurkah yang terbaik?

Shautus Salam

?

? ? ? ? ? ? # ? ? ? ? ? ?. Saat kekayaanku sedikit tak seorang pun bersahabat denganku. Saat kekayaanku meningkat semua orang (ingin) menjadi saudaraku.

?

? ? ? ? ? # ? ? ? ? ?

? ? ? ? # ? ? ? ? ?


Aku heran kepada para cendekiawan/ulama. Bagaimana mereka lupa; menggelar jubah ketamakan di hadapan para penguasa, mengerumuni para penindas bak rombongan haji yang sedang tawaf di sekitar Ka’bah.

?

? ? ? ? ? ? # ? ? ? ? ? ?. Peringatan mungkin bermanfaat? (efektif)? untuk orang yang tengah merajuk, tapi tidak untuk orang yang? sedang? bosan.

?

? ? ? ? # ? ? ? ?

? ? ? ? # ? ? ? ?


Kita relakan sujud kepada para monyet demi dunia yang ada di pelukan mereka. Jari-jari kita pun pulang tanpa hasil apa-apa, kecuali sujud yang hina belaka.

?

?

Mahbib Khoiron

Syair-syair dikutip dan diterjemah ulang dari

KH A Wahid Hasjim, Mengapa Saya Memilih Nahdlatul Ulama,? Bandung: Mizan, 2011

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Makam, Khutbah, Kiai Shautus Salam

Senin, 09 Oktober 2017

Ansor Kaliori Tegaskan Netral di Tahun Politik

Rembang, Shautus Salam. Ketua Pimpinan Anak Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Kaliori, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, Abdul Rosyid menegaskan, pihaknya akan tetap menjaga netralitas menjelang hingga usai pemilihan legislatif 2014.

Ansor Kaliori Tegaskan Netral di Tahun Politik (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Kaliori Tegaskan Netral di Tahun Politik (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Kaliori Tegaskan Netral di Tahun Politik

Menurut dia, masih banyak yang perlu dibenahi di internal organisasi, termasuk penataan lembaga dan pengoptimalan program. Demikian ia sampaikan, Jumat (21/2) malam, dalam acara pengajian rutin GP Ansor PAC Kaliori.

Rapat kerja (Raker) GP Ansor PAC Kaliori yang digelar di kantor NU pada pertengahan 2013 lalu menghasilkan program kerja di empat belas lembaga pelaksana. Tetapi, kata Rosyid, beberapa lembaga dinilai belum berjalan maksimal dalam meralisasikan program-programnya.

Shautus Salam

Rosyid menjelaskan, meski demikian, lembaga yang membidangi dakwah dan keorganisasian tergolong berhasil menggait kader dari 24 Desa yang ada di kecamatan Kaliori. Pihaknya berencana akan menggelar rapat kerja kedua pertengahan Marert nanti yang dirangkai dengan Pelatihan Kepemimpinan Dasar (PKD).

Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama Desa Kuangsan, Kecamatan Kaliori, Nasuha mendorong GP Ansor setempat dapat melangkah lebih maju dari tahun-tahun sebelumnya. Pasalnya, tahun politik 2014 dinilai sebagai ujian besar warga NU untuk tidak terseret ke dalam kepentingan pragmatis. (Ahmad Asmu’i/Mahbib)

Shautus Salam

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Khutbah, Daerah, Olahraga Shautus Salam

Hikmah Baca Surat As-Sajdah dan Al-Insan di Subuh Jum’at

Rasulullah menganjurkan memperbanyak amalan sunah di hari Jum’at. Sebab itu, sebagian ulama memakruhkan puasa sunah di hari Jum’at agar tetap bisa fokus memperbanyak amalan sunah. Kemakruhan ini berlaku bagi orang yang tidak mengerjakan puasa pada hari Kamis atau Sabtu.

Ada banyak amalan sunah yang dapat dilakukan di hari Jum’at: mulai malam Jum’at sampai malam Sabtu. Di antara amalan yang disunahkan pada hari Jum’at ialah mandi, sikat gigi, memakai wangi-wangian, memperbanyak shalat sunah, membaca surat Al-Kahfi, dan lain-lain.

Hikmah Baca Surat As-Sajdah dan Al-Insan di Subuh Jum’at (Sumber Gambar : Nu Online)
Hikmah Baca Surat As-Sajdah dan Al-Insan di Subuh Jum’at (Sumber Gambar : Nu Online)

Hikmah Baca Surat As-Sajdah dan Al-Insan di Subuh Jum’at

Selain deretan amalan yang disebutkan di atas, kita disunahkan pula membaca surat Al-Sajdah dan Al-Insan saat shalat Subuh di hari Jum’at. Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW membaca kedua surat tersebut di hari Jum’at.

Abu Hurairah berkata:

Shautus Salam

? ? -? ? ? ?- ? ? ? ? ? ? (? ?) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Shautus Salam

Artinya, “Rasulullah SAW membaca ‘alif lamim tanzil..’ (surat As-Sajdah) pada raka’at pertama shalat Subuh di hari Jum’at. Sementara pada raka’at kedua, beliau membaca ‘hal atâ ‘alal insâni…” (surat Al-Insan),” (HR Muslim(.

Hikmah membaca kedua surat ini dijelaskan oleh Imam As-Suyuthi dalam Nurul Lum’ah fi Khashaish Jum’ah:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Di antara hikmah membaca kedua surat di atas ialah untuk mengingat penciptaan Adam dan kondisi hari kiamat, karena keduanya terjadi pada hari Jum’at. Ibnu Dahiyyah menjelaskan, ada pula yang berpendapat bahwa kesunahan membaca surat tersebut dikarenakan di dalamnya ada sujud sajadah. Sebab itu, Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dari Ibrahim An-Nakha’i bahwa kita disunahkan membaca setiap surat yang terdapat di dalamnya ayat sajadah pada Subuh hari Jum’at.”

Ulama berbeda pendapat tentang hikmah membaca surat As-Sajdah dan Al-Insan di hari Jum’at. Perbedaan ini dapat dibagi menjadi dua. Pertama, ulama yang berpendapat bahwa kesunahan membaca kedua surat itu didasarkan pada makna surat yang menceritakan ihwal penciptaan Nabi Adam dan hari kiamat.

Kedua, ulama yang berpendapat bahwa pembacaan surat As-Sajdah dianjurkan karena di dalamnya terdapat ayat sajadah yang dianjurkan sujud sajadah pada saat membacanya. Sebab itu, bagi ulama yang berpandangan seperti ini tidak membatasi kesunahan pada surat As-Sajdah dan Al-Insan saja. Surat apapun yang dibaca selama di dalamnya terdapat ayat sajadah, tetap dianjurkan untuk dibaca di hari Jum’at. Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam PonPes, Khutbah Shautus Salam

Selasa, 19 September 2017

Dekan ITS: Teknologi Penting untuk Memahami Kitab Kuning

Pacitan, Shautus Salam. Dekan Fakultas Teknik Informatika ITS Surabaya Agus Zainal Arifin menyatakan, laju perkembangan dunia teknologi makin hari semakin cepat. Untuk mempermudah dalam mempelajarai kitab kuning, para santri di pesantren dituntut untuk mengenal dan menguasai teknologi.

“Mari jadikan teknologi ini sebagai wasilah (perantara) untuk mencapai ghoyah (tujuan) dalam memahami kitab kuning,” demikian dikatakan Agus Zainal Arifin saat mengisi materi workshop "Peningkatan Mutu Teknologi dan Peningkatan Penguasaan Kitab Kuning Melalui Aplikasi Berbasis Internet", yang diadakan Badan Eksekutif Mahasantri (BEM) Ma’had Aly Attarmasi, Pesantren Tremas Pacitan, Ahad (1/4).

Agus yang menjabat Wakil Ketua Pengurus Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah (PP RMI NU) itu mengatakan, dewasa ini modal untuk mempelajari kitab kuning sebagai literatur dan referensi Islam tidak cukup hanya dengan menggunakan ilmu alat saja, seperti nahwu dan sharaf. Namun harus dipadukan dengan teknologi. Teknologi, menurutnya mempunyai arti yang sangat luas. 

Dekan ITS: Teknologi Penting untuk Memahami Kitab Kuning (Sumber Gambar : Nu Online)
Dekan ITS: Teknologi Penting untuk Memahami Kitab Kuning (Sumber Gambar : Nu Online)

Dekan ITS: Teknologi Penting untuk Memahami Kitab Kuning

“Kehadiran teknologi bukan bermaksud menggantikan posisi kiai dan kitab kuning, bukan. Justru teknologi hadir untuk mempermudah para kiai dan santri dalam mempelajari kitab kuning,” jelas doktor lulusan Hiroshima University, Jepang itu.

Ia menambahkan, pesantren tidak boleh menjadi bagian dari komunitas yang tertinggal dalam pengusaan teknologi.  Di lingkungan pesantren, antara penguasaan kitab kuning dan teknologi harus berimbang.  Apalagi dengan tibanya era digital, maka semua sudah didigitalkan termasuk kitab kuning. Saat ini aplikasi kitab kuning yang berbasis android sudah banyak beredar, para santri didorong untuk dapat memanfaatkanya.

Shautus Salam

Monggo (silahkan) software- software kitab kuning, yang berbasis android kita download. Untuk mempermudah kita dalam belajar, untuk mencari takbir bahtsul masail dan lain-lain,” katanya.

Agus pun mendorong para santri di pesantren untuk tekun belajar dan lebih kreatif lagi. Kedepan para santri tidak boleh hanya menjadi penikmat aplikasi berbasis android, namun harus mampu menciptakan sendiri aplikasi-aplikasi kitab kuning berbasis android tersebut. 

Sementara itu, Direktur Ma’had Aly Attarmasi KH Luqman Harits mengajak kepada para santri untuk lebih meningkatkan penguasaan kitab kuning. Sebab kitab kuning merupakan literatur warisan para ulama pendahulu dan merupakan kebanggan para santri di pesantren.

Shautus Salam

“Oleh karena itu, kita tidak boleh lemah dalam menguasai kitab kuning,” harapnya. (Zaenal Faizin/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Khutbah, Nahdlatul, Tegal Shautus Salam

Senin, 11 September 2017

Kuliah Dhuha IPNU Diisi Persiapan UN

Cimahi, Shautus Salam. Kegiatan Kuliah Dhuha Remaja (KDR) yang rutin dilaksanakan tiap minggu kedua tiap bulan, kembali dilaksanakan oleh PC IPNU-IPPNU Kota Cimahi dengan pelaksana kegiatan PAC kecamatan Cimahi Utara. 

Kuliah Dhuha IPNU Diisi Persiapan UN (Sumber Gambar : Nu Online)
Kuliah Dhuha IPNU Diisi Persiapan UN (Sumber Gambar : Nu Online)

Kuliah Dhuha IPNU Diisi Persiapan UN

Pada Kegiatan kali ini, yang menjadi pokok bahasan adalah tentang Ujian Nasional, sehingga acara dikemas menjadi tausiyah, seminar motivasi, serta istigotsah dan do’a bersama untuk Ujian Nasional bertemakan “Doa Tanpa Usaha Sia-Sia, Usaha Tanpa Do’a –Apa yang Kau Bisa?”  Kegiatan ini merupakan usaha dan wahana untuk memberikan media khususnya kepada para siswa yang akan menghadapi Ujian Nasional.

Kegiatan dimulai sejak pukul 08.00-12.00 ini diikuti oleh lebih kurang 120 orang pelajar dari berbagai sekolah di kota Cimahi, baik dari tingkatan SMP, SMA juga tingkat perguruan tinggi.

Shautus Salam

Kegiatan diawali dengan sajian hiburan oleh grup el-Mijmar dengan menyuguhkan musik hadrah melantunkan pujian dan shalawat kepada Baginda Nabi Muhammad Saw, dilanjutkan dengan acara seremonial sambutan dari ketua pelaksana yaitu Bagus Legowo serta tausiyah dari ketua PCNU Cimahi KH Enjang Nasrullah. 

Pada kesempatan itu, ketua PCNU memberikan tiga poin utama dalam menghadapi ujian, yaitu berusaha, berdoa dan bertawakal. Dilanjutkan dengan materi motivasi dari Kang Suyanto sebagai perwakilan dari Keluarga Mahasiswa Nahdhatul Ulama (KMNU) UPI. 

Shautus Salam

Kegiatan ini diakhiri dengan istighotsah dipimpin langsung oleh Rais Syuriyah NU kota Cimahi KH Alan Nur Ridwan.

Ketua PC IPNU Kota Cimahi, Fauzul Haq mengatakan “Tujuan dari kegiatan ini, selain untuk meningkatkan ukhuwah antar sesama pelajar di kota Cimahi, untuk memberikan pencerahan kepada para pelajar di kota Cimahi dalam menghadapi ujian, baik Ujian Nasional, Ujian Sekolah, maupun ujian ke Perguruan Tinggi.”

Selain itu ia menambahkan, setidaknya ada tiga problematika pelajar saat menghadapi ujian, pertama orang yang hanya berdo’a namun tidak ia tidak pernah berusaha untuk belajar, sehingga dalam fikirannya hanya ada kata “kumaha engke”, kedua orang yang terlalu fokus dalam belajar, namun ia tidak pernah berdoa seolah ia “tidak perlu” pertolongan dari Allah, bahkan saking “paranoidnya” ia berani meninggalkan kewajibannya sebagai seorang Muslim yang taat. Dan Ketiga orang yang tidak mau berdoa dan berusaha, sehingga ia hanya mencari cara “instan” untuk menjalani ujian. 

Redaktur   : Mukafi Niam

Kontributor: Bustanul Arifin

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Ulama, Khutbah Shautus Salam

Minggu, 03 September 2017

Durrun Syarif, Kitab Unik Mempelajari Syair Klasik

Dalam bentangan khazanah Islam dan pesantren, tak dipungkiri memang jika ulama-ulama masa lalu negeri ini telah banyak menorehkan karya (sajak/syair) yang luar biasa monumentalnya, bahkan bertaraf dunia. Sebut saja Syekh Ahmad Khatib Minangkabawi, Syekh Nawawi Al-Bantani, Syekh Mahfudz At-Termasi, Kiai Hasyim Asy’ari dan Kiai ? Bisri Mustofa yang telah menulis begitu indah Syarh Qashidah Munfarijah, buah pena Taqiudin As Subki yang kesemuannya berbahasa Arab.

Durrun Syarif, Kitab Unik Mempelajari Syair Klasik (Sumber Gambar : Nu Online)
Durrun Syarif, Kitab Unik Mempelajari Syair Klasik (Sumber Gambar : Nu Online)

Durrun Syarif, Kitab Unik Mempelajari Syair Klasik

Kepiawaian para kiai bermain diksi, juga rima dalam sajak (syair), tentu lantaran selain kemahirannya dalam ilmu bahasa Arab (seperti ilmu arudl dan balaghah) juga ditunjang oleh malakah insting ekspresinya yang begitu lembut, karena ia sering terlibat dan turut merasakan kegetiran yang terjadi di sekelilingnya. Salah seorang kiai ? yang punya kelebihan seperti itu ialah Kiai Abdul Hamid Pasuruan, yang dikenal sebagai seorang wali. Menurut Kiai Mustofa Bisri, dalam menerangkan berbagai hal ilmu agama kepada santrinya, ia kerap menjadikan kitab fiqih yang awalnya sulit dimengerti menjadi bentuk? nadzaman? (sajak) yang begitu indah. Beliau, secara khusus juga telah mengadaptasi kitab sufistik? Sullam At Taufiq? yang begitu tebal menjadi sajak yang hanya 553 bait dengan warna lokal Jawa. Selain beliau, Kiai Ahmad Qusyairi Siddiq Jember, yang juga mertua Kiai Hamid Pasuruan juga telah menulis 312 bait sajak di bawah judul? Tanwir Al Hija.? (Irawan, 2013:136).

Shautus Salam

Persoalannya kini, mengapa tradisi kreatif dan arif di masa lalu itu tak bisa bertahan sampai kini? Padahal jumlah kiai dan para gus selalu bertambah. Apalagi jumlah santri yang belajar ke Timur Tengah kian hari kian membludak juga? Sedikitnya ada dua alasan yang mempengaruhinya. Pertama, sebab kiai (santri dan alumni pesantren) kurang menghargai warisan masa lalunya. Kedua, masih sulitnya pedoman membuat syi’ir (sajak) yang praktis dan mudah pada dewasa ini.

Durrun Syarif Menjawab Kebutuhan

Shautus Salam

Semenjak menulis kitab Amtsilati, Kiai Taufiqul Hakim semakin produktif membuat karya-karya update tentang kitab-kitab linguistik arab dan kepesantrenan. Ada? Aqidati, Tafsir Al-Mubarok, Mukhtasor Tuhfat Al-Thullab? (Pasca Amtsilati) dan ratusan kitab lainnya. Lima tahun terakhir ini, Kiai muda sarwa produktif ini juga sering menerbitkan kitab-kitab? nadloman? yang memuat beragam tema yang diambilkan dari kitab-kitab khas pesantren. Kitab nadloman ini menjadi ringkasan dari tema pembahasan sebuah kitab, ambil saja satu contoh kitab paling laris yakni Kitab? Hidayatul Mutaallimin? adalah kitab? nadlom? yang kontennya diambil murni (intisari) dari kitab? Ta’lim Al-Mutaallim. Banyak sudah kitan nadlom yang diterbitkan dan setelah ditelusuri, sampai saat ini beliau sudah menulis sekitar 170-an kitab!

Dari seluruh karya yang ditulis, ada satu kitab yang paling unik dan menarik untuk dikaji dan didalami yaitu kitab? Durrun Syarif? (Mutiara? Mulia). Kitab ini disebut oleh penulisnya sebagai kitab yang berisi metode praktis tuntunan menjadi Muallif. Sekali lagi, menjadi Muallif! Ternyata dengan modal keilmuan dasar nahwu-sharaf yang cukup, kata Kiai Taufiq, seseorang bisa mempelajari kitab Durrun Syarif sekaligus langsung praktek. Ini adalah sebuah tawaran terobosan revolusi pembelajaran pesantren yang luar biasa.?

Lebih konkritnya,? Durrun Syarif? ini adalah sebuah kitab yang menerangkan metodologi membuat syiir atau di kalangan pesantren biasa disebut Ilmu? ‘Arudh.? Ilmu? Arudh? adalah sebuah ilmu yang digunakan untuk mengetahui benar atau tidaknya sebuah? wazan syi’ir, dan juga perubahan? wazan syi’ir? dari beberapa? zihaf? atau? illat. Ilmu? arudh? bisa dibilang satu cabang keilmuan linguistik Bahasa arab yang lumayan rumit. Metode pengajarannya juga bisa dibilang masih tradisional dan minim pembaharuan. Disinilah tawaran? Durrun Syarif? agar? Arudl? mudah dipelajari dan mudah diajarkan. Ilmu Arudl ini memiliki 16 pola? Bahar? (wazan tertentu yang dijadikan pola dalam menggubah syi’ir arab). Namun fokus dalam kitab ini hanya membahas bahar Rajaz, karena bahar ini yang paling banyak ditulis oleh ulama klasik dan paling mudah dihafal.

Selain kitab? Durrun Syarif,? perangkat pembelajaran lainnya adalah kamus? Durrun Syarif? terdiri dari kamus Bahasa Arab, Indonesia, dan Bahasa Lokal seperti Jawa, Sunda,dan Madura. Kamus ini sangat berbeda dengan kamus pada umumnya. Jika kamus umum digunakan untuk mencari awal huruf, namun kamus DS ini khusus mencari akhir huruf kalimat. Karena menggubah syiir, kesamaan dalam akhir kalimat adalah sebuah keniscayaan. Baik versi Bahasa Arab maupun versi Indonesia, kamus ini mencari akhir huruf yang sama. Maka seorang penulis tidak perlu repot memikirkan huruf-huruf akhir yang sama dari sebuah kalimat untuk menulis syiir baik bahasa Arab maupun Indonesia. Tinggal buka kamus, lalu tentukan huruf akhir yang sesuai selera dan sesuai kebutuhan.

Dalam pengantar kitab DS, Kiai Taufiq menceritakan pengalamannya bahwa ia begitu sulit mempelajari ilmu? arudl? yang banyak istilah-istilah yang sulit ia pahami. Namun dengan berbekal ATM (Amati, Tiru, Modifikasi) pada bait? Alfiyah, Zubad, dll Kiai Taufiq memberanikan diri untuk membuat syiir-syiir, walaupun awalnya banyak kesalahan. Maka dari pengalaman ATM itulah, kiai Taufiq ingin menularkan kepada santri-santri dan pembaca, metode menulis syiir. Oleh sebab itu, kiai Taufiq membuat sendiri istilah-istilah baru dalam? Durrun Syarif? dengan maksud untuk mempermudah dalam mempelajari.

Konten Kitab

Kitab yang berisi 64 halaman ini memiliki 8 bab pembahasan. Diantaranya bab (1) tentang mengenal Syiir/Bait, bab (2) & (3) tentang kunci Rajaz yang membahas detail tentang bagian bait yang terdiri dari? Hasywun, Arudl? dan? Darbun.? Kemudian bab (4) membahas mengenai darurat-daruratnya syiir. Bab (5) mengkaji tentang langkah-langkah dalam praktik menggubah syiir, lalu bab (6) menceritakan tentang sejarah syiir dan bab terakhir hanya menampilkan 16? bahar? secara keseluruhan.

Seperti halnya? Amtsilati, Durrun Syarif? menekankan kepada contoh yang praktis. Kunci mempelajari kitab ini adalah bagaimana pembaca bisa memiliki pemahaman dasar tentang kunci? rajaz,? seperti kemampuan menghafal dan memahami not? bahar rajaz? yang terdiri dari 6 x? mustaf’ilun.? Seperti yang tertulis dalam kitab DS :

? ? ? ? ? ? ?/?

? ? ? ? ? ? ? ?

Hasywun? pasti terdiri dari 4 suku kata. Suku kata yang ke 3 hanya satu huruf hidup dan suku kata yang ke 4 terdiri dari dua huruf, yang pertama berharokat dan yang kedua dibaca sukun. Perhatikan, ini kunci utama selain kondisi darurat. Itu kunci membuat bagian? Hasywun,? mengenai kunci? Arudl/ Darbun? itu pasti terdiri dari 4 suku kata atau 3 suku kata. Jika empat suku kata maka suku kata ketiga berupa satu huruf berharokat dan bila tiga suku kata maka suku kata kedua berupada dua huruf, huruf pertama berharokat dan huruf kedua sukun. Ini semua kunci selain kondisi darurat.

Ketika Anda sudah memahami keilmuan dasar ini, maka pembahasan terpenting lainnya adalah Anda harus mendalami 4 langkah dalam praktik menggubah syiir yang terdapat dalam bab (5).





Dalam bab ini, pembaca difasilitasi sebuah metodologi bagaimana proses menjadikan sebuah paragraf bahasa Arab diringkas menjadi sebuah syiir. Langkah ini ditempuh dengan 4 tahapan yaitu (1) Anda ? harus menentukan materi yang akan disyiirkan. Tahapan ini bisa Anda ambil sebuah paragraf dari satu kitab, kemudian Anda pahami dan simpulkan materi yang dipilih kemudian tentukan kata kunci dari kesimpulan yang Anda pahami tanpa meninggalkan bahasa Arabnya.

Setelah memiliki kata kunci dari sebuah kesimpulan maka langkah yang lumayan menguras pikiran adalah merangkai dan menyesuaikan kesimpulan Anda dengan nada baharnya. Di sinilah proses kreatifitas penulis diuji. Pada tahap ini, nahwu-sharaf sangat diperlukan sekali, terutama sharaf karena perubahan kata akan diperlukan untuk menyesuaikan not bahar? Rajaz. Proses dalam merangkai syiir ini dijelaskan detail oleh Kiai Taufiq dengan disertakan 10 contoh bagaimana proses membuat syiir dari sebuah keterangan sebuah kitab.

Tidak hanya sekedar janji, para santri Pasca Amtsilati di ponpes Darul Falah, ponpes yang diasuh oleh Kiai Taufiq sudah memberikan bukti. Kelas? Durrun Syarif? di bawah salah satu ustadz di sana sudah menelurkan karya-karya? nadham? yang ditulis dan dikarang sendiri oleh para santri Pasca. Hal ini tentu sebuah progres dan capaian yang sangat membanggakan dari kalangan pesantren. Kita bisa melihat, bahwasanya santri yang telah memiliki dasar nahwu dan sharaf kemudian dibimbing melalui kitab? Durrun Syarif? telah dapat mensyairkan berbagai macam materi dari berbagai macam kitab ulama-ulama terdahulu. Yang lebih menggembirakan ialah proses menuju hal ini tidak sampai memakan waktu yang lama. (Zulfa, 2016:01)

Dengan adanya sebuah kitab yang sangat mempermudah para kalangan pesantren (kiai dan santri) untuk menjadi pengarang dan menjadi penyair tentu kita sangat berharap, akan terlahirnya masa kejayaan dunia Islam Nusantara kita kembali. Telah sangat lama, kita menunggu penerus para ulama kita yang mendunia. Pernah kita mendengar nama-nama besar yang asli Indonesia seperti Syekh Yasin Al Fadani, Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawi, Syekh Imam Nawawi Al Bantani, Syekh Mahfudz At Termasi dan lain sebagaianya. Beliau-beliau semua menjadi ulama Indonesia yang karyanya membelah sekat dan batas negara bahkan benua. Itu semua berkat karya-karya beliau yang memiliki kualitas mumpuni dan memakai bahasa yang universal bagi dunia Islam yaitu bahasa Arab.

Kang Ipung

Penulis ialah alumni PBA Unhasy Jombang yang juga santri Darul Falah Amtsilati Jepara.

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Khutbah Shautus Salam

Sabtu, 26 Agustus 2017

Ribuan Aktivis Rohis Kumandangkan Shalawat Badar

Jakarta, Shautus Salam

Shalawat Badar mengiringi pembukaan kegiatan Perkemahan Rohis II Tingkat SMA/SMK tahun 2016 yang diikuti oleh kurang lebih 2000 anggota Rohis, Selasa (3/5) di Bumi Perkemahan Cibubur Jakarta. Shalawat khas di kalangan pesantren ini menggema dan menggetarkan suasana pembukaan yang juga menampilkan berbagai atraksi dan tarian, dan pakaian adat daerah.

Ribuan Aktivis Rohis Kumandangkan Shalawat Badar (Sumber Gambar : Nu Online)
Ribuan Aktivis Rohis Kumandangkan Shalawat Badar (Sumber Gambar : Nu Online)

Ribuan Aktivis Rohis Kumandangkan Shalawat Badar

Shalawat tersebut dikumandangkan setelah Qori bernama Nashoihul Ibad (SMAN 68 Jakarta) dan Qori’ah bernama Annisa Nur Lestari (SMAN 1 Bontang, Kaltim) selesai membaca ayat-ayat suci al-Qur’an. Dua siswa Juara Pentas PAI Nasional 2015 lalu ini memimpin ribuan aktivis Rohis beserta para pembinanya untuk mengumandangkan Shalawat Badar.

Para peserta mengikuti pembacaan shalawat itu dengan khidmat karena dibawakan oleh dua siswa teladan tersebut dengan suara yang khas dan menarik perhatian. Ribuan siswa dari 33 provinsi itu secara menggema dan khidmat mengalunkan shalawat yang mengandung semangat membuncah itu.

Kegiatan Perkemahan Rohis Nasional kedua yang diselenggarakan oleh Direktorat PAI Ditjen Pendis Kemenag RI mengambil tema Membangun Generasi Emas, Ramah, dan Bermartabat. Tema ini diambil karena Kementerian Agama ingin mewujudkan generasi Islam yang ramah dan toleran di kalangan Rohis yang selama ini dinilai banyak disusupi oleh paham-paham radikal dan sikap intoleran.

Dalam acara pembukaan tersebut, hadir Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kamaruddin Amin, Direktur PAI H Amin Haedari, beserta jajaran pembina dan pegawai di lingkungan Kemenag dari seluruh provinsi. (Fathoni)

Shautus Salam

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Hikmah, Khutbah, Kajian Shautus Salam

Shautus Salam

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Shautus Salam sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Shautus Salam. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Shautus Salam dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock