Tampilkan postingan dengan label Pondok Pesantren. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pondok Pesantren. Tampilkan semua postingan

Minggu, 25 Februari 2018

Dzikir di Istana Bukti Umat Islam Peduli Keutuhan Bangsa dan Negara

Jakarta, Shautus Salam. Dzikir nasional yang digelar di halaman Istana Merdeka Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta, Selasa (1/8) malam, menjadi bukti umat Islam peduli dan memikirkan keutuhan bangsa dan negara Indonesia. Seperti disampaikan dalam doa Mustasyar PBNU KH Maemun Zubair (Mbah Moen).

Hal tersebut dikatakan Rais Syuriyah PBNU KH Ahmad Ishomuddin kepada Shautus Salam usai penutupan dzikir. “Tadi dikatakan Mbah Moen dalam doa beliau, semoga bangsa Indonesia dijauhkan dari perpecahan dan pertikaian sesama anak bangsa,” ujarnya.

Dzikir di Istana Bukti Umat Islam Peduli Keutuhan Bangsa dan Negara (Sumber Gambar : Nu Online)
Dzikir di Istana Bukti Umat Islam Peduli Keutuhan Bangsa dan Negara (Sumber Gambar : Nu Online)

Dzikir di Istana Bukti Umat Islam Peduli Keutuhan Bangsa dan Negara

Kiai Ishom, sapaan akrabnya, berharap acara serupa dilaksanakan di tempat yang lebih luas. Misalnya, di Monumen Nasional (Monas) agar bisa diikuti lebih banyak lagi oleh masyarakat.

 

“Kalau di Istana kan sempit. Apalagi yang datang ribuan,” tandasnya.

Shautus Salam

Saat ditanya arah majelis dzikir tersebut, apakah bermuatan politis atau bakal menjadi ormas bahkan partai politik, kiai asal Lampung ini langsung menepis.

 

Shautus Salam

“Saya kira tidak lah. Para kiai yang datang banyak dari kalangan syuriyah yang ikhlas. Saya pribadi berharap ini fokus ke dzikir saja,” kata Kiai Ishom.

Sementara itu, salah satu pengurus PWNU Kalimantan Barat, KH Faruqi, di sela-sela ramah tamah mengaku sangat mendukung dan antusias sekali mengikuti dzikir di Istana.

 

“Saya melihat ini tonggak persatuan antara ulama dan umara. Ke depan perlu makin dikuatkan,” ujarnya.

Kiai Faruqi yang datang bersama empat orang dari Pontianak berharap dzikir nasional bisa memantik persatuan dan kesatuan seluruh elemen bangsa. “Semoga di tahun-tahun berikutnya acara seperti ini bisa diadakan kembali,” harapnya.

Hadir dalam acara tersebut, jajaran para kiai sepuh seperti KH Anwar Mansyur Jawa Timur, KH Bagindo Leter Sumatera Barat, KH Abuya Muhtadi Banten, RM Irfa’i Nachrawi Yogyakarta, dan KH Aniq Muhammadun Jawa Tengah. 

Selain para kiai sepuh, ribuan jemaah dari sejumlah pondok pesantren di Jabodetabek tampak berduyun-duyun memasuki halaman Istana sejak petang. Mereka kemudian melaksanakan salat maghrib berjamaah.

Usai berjamaah, hadirin tampak antusias menikmati penampilan grup nasyid Snada dan musik gambus Hubbul Wathon. 

Dzikir kebangsaan yang bertema ‘Mensyukuri Nikmat Kemerdekaan’ ini terselenggara berkat kerjasama pihak Istana Negara dengan Majelis Dzikir Hubbul Wathon yang diinisiasi Rais Aam Syuriyah PBNU KH Ma’ruf Amin. (Musthofa Asrori/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Pondok Pesantren, Daerah Shautus Salam

Sabtu, 10 Februari 2018

PCNU Subang Imbau Warga Sukseskan Pilkada

Subang, Shautus Salam. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Subang, Jawa Barat mengimbau warga, khususnya nahdliyin di Kabupaten Subang untuk terlibat secara aktif dalam menyukseskan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kabupaten Subang.

PCNU Subang Imbau Warga Sukseskan Pilkada (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Subang Imbau Warga Sukseskan Pilkada (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Subang Imbau Warga Sukseskan Pilkada

Demikian disampaikan Ketua PCNU Subang KH Musyfiq Amrullah melalui pesan singkatnya kepada Shautus Salam, Ahad (1/9).

Sehubungan dengan Pilkada Kabupaten Subang yang rencananya akan digelar pada Ahad depan (8/9), PCNU Subang mengharapkan nahdliyin berpartisipasi secara penuh dalam agenda pemilihan lima tahunan.

Shautus Salam

Menurutnya, Pilkada ini merupakan kesempatan 5 tahunan.

Shautus Salam

"Kepada seluruh nahdliyin Subang, sukseskan Pilkada tanggal 8 September nanti dengan menggunakan hak pilihnya bagi yang sudah mempunyai hak pilih," kata Kiai Musyfiq.

Selain itu, lanjut Pengasuh Pesantren Attawazun Kalijati Subang, Nahdliyin Subang pun harus menciptakan pilkada yang demokratis, damai, bersih dan berwibawa.

Kiai Musyfiq, Lebih lanjut, meminta nahdliyin Subang agar benar-benar teliti dalam memilih Calon Bupati dan Wakil Bupati Subang.

Jangan tergiur dengan iming-iming money politic! Pilihlah calon yang betul-betul seideologi aswaja dan siap memperjuangkan aswaja di Subang, tegas Ketua PCNU Subang yang baru terpilih itu beberapa Ahad lalu.

Kecuali itu, KH Musyfiq mengimbau warga NU untuk mengistikharahkan calon-calon pemimpin kabupaten mereka agar pilihan mereka tepat kepada calon yang diridhoi Allah.

(Aiz Luthfi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Makam, Pondok Pesantren, Kajian Islam Shautus Salam

Senin, 05 Februari 2018

NU Istiqamah Bela NKRI

Jombang, Shautus Salam. KH Marzuqi Mustamar mengingatkan warga dan para fungsionaris NU untuk tetap kukuh dengan tradisi dan amaliyah yang telah diwariskan para ulama salafus shalih. Karena dengan kemitmen menjaga warisan tersebut akan menyelamatkan bangsa dari perpecahan.

Penegasan disampaikan Wakil Rais PWNU Jawa Timur ini saat melantik tiga Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) di Kecamatan Gudo Jombang, Jawa Timur, Kamis (7/8). Ketiga PRNU tersebut adalah Mejoyo Losari, Bugasur Daleman, serta Sukoiber.

NU Istiqamah Bela NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Istiqamah Bela NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Istiqamah Bela NKRI

Bagi dosen Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang Jawa Timur ini, dalam rentang perjalanan panjang bangsa Indonesia, peran dan kiprah serta pembelaan NU kepada eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) demikian menonjol. Sejak zaman pra kemerdekaan, saat kemerdekaan serta hingga kemerdekaan diraih dan hendak direbut kembali oleh penjajah. “Sejarah telah membuktikan hal ini,” kata Kiai Marzuqi.

Shautus Salam

Tidak berhenti sampai di situ kiprah NU. Dalam sejarah panjang kepemimpinan Presiden Soekarno Hatta, loyalitas NU masih terlihat jelas. Demikian juga saat Soeharto berkuasa. Bahkan, ketika banyak organisasi sosial keagamaan dan kekuatan politik terbelah antara menerima atau menentang Pancasila,? NU menjadi organisasi sosial keagamaan yang pertama kali menerima Pancasila sebagai asas organisasi. Dalam banyak kesempatan, NU menandaskan bahwa Negara Pancasila adalah upaya final bagi umat Islam dalam memimpikan terbentuknya sebuah negara ideal.

Shautus Salam

Pembelaan dan komitmen terhadap sejarah panjang bangsa ini adalah di antaranya dapat diwujudkan dengan menjaga tradisi keagamaan yang telah mendarang dan mendaging. Karena itu dalam kesempatan tersebut, Kiai Marzuki mengajak semua kalangan untuk menjaga tradisi yang telah ada.

“Identitas NU harus diperjelas dengan amaliyah yang telah menjadi tradisi dan warisan para ulama,” terang Kiai Marzuqi Mustamar. Hanya NU yang konsisten menjaga tradisi kemasyarakatan seperti yang telah digagas oleh para penyebar agama Islam di Nusantara, lanjutnya.

Bagi mantan Ketua PCNU Kota Malang ini, konsistensi dalam menjaga tradisi juga diteruskan dengan keistiqamahan dalam menjaga NKRI. “Hanya NU yang terbukti konsisten dengan komitmen kebangsaan ini,” tegasnya.

Jaga Kekompakan

Ketua PCNU Jombang, KH Dr Isrofil Amar saat memberikan sambutan juga menandaskan agar para fungsionaris NU menjaga kebersamaan dan kekompakan dalam berkhidmah kepada umat. “Kita harus menjaga semangat ittihad atau kekompakan antar para pengurus dan warga,” kata Kiai Isrofil, sapaan akrabnya.

Hal ini kian menemukan momentumnya lantaran belakangan banyak berkembang gerakan dan ideologi transnasional. “Ideologi ini tentu saja akan bertentangan dengan komitmen NU terhadap NKRI,” kata dosen Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum (Unipdu) Peterongan Jombang ini.

“Kebersamaan kita juga harus diimbangi dengan semangat ihtiyat atau kehati-hatian,” tandasnya. Kemunculan ISIS dan ideologi ekstrim kanan maupun kiri hendaknya kian membukakan kesadaran para pengurus untuk menjaga kebersamaan dan kehati-hatian tersebut. Bahkan secara khusus, Kiai Isrofil mengingatkan bahwa kemunculan gerakan yang berbeda dengan NU tersebut kini telah merata dan mengepung lingkungan sekitar. “Karena mohon untuk menjaga putra dan putri maupun lingkungan kita dari ancaman gerakan yang jauh dari semangat seperti ajaran para ulama,” katanya.

Bupati Jombang yang diwakili oleh Kepala Badan Kesatuan Kebangsaan Politik dan Perlindungan Masyarakat, Muhammad Mas’ud menyampaikan harapan agar para pengurus NU bisa bekerja sama dalam menjaga suasana yang kondusif di kota santri ini. Ia juga sependapat dengan para kiai agar setiap tokoh masyarakat dapat menjaga dan membentengi keluarga dari pengaruh paham atau aliran yang mencederai keberadaan NKRI.

Kegiatan pelantikan yang diselenggarakan di Yayasan Pendidikan Islam Wahid Hasyim Pesanggrahan Kecamatan Gudo ini juga dimanfaatkan sebagai sarana halal bihalal antarpengurus. Karena ada tiga kepengurusan yang dilantik, aula terlihat sesak dan suasana demikian meriah. (Syaifullah/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Pondok Pesantren, Meme Islam Shautus Salam

Jumat, 26 Januari 2018

Pesantren Sangat Kaya Epistimologi

Yogyakarta, Shautus Salam. Epistimologi pesantren berbeda dengan epistimologi ilmu sosial, humaniora, dan eksak. Dalam bidang keilmuan tersebut, apa yang disebut sebagai realitas adalah sesuatu yang ditangkap oleh pancaindra. Sedangkan epistimologi pesantren ‘alam mulki wal jabarut dan ‘alam malakut juga dipandang sebagai realitas.

Hal ini yang dikemukakan Mustafied, Ketua Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Komisariat Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, pada Kamis (13/6).

Pesantren Sangat Kaya Epistimologi (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Sangat Kaya Epistimologi (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Sangat Kaya Epistimologi

Dalam acara bedah buku yang bertempat di ruang teatrikal Uhsuludin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga itu, dia memaparkan bahwa pesantren kaya akan epistimologi.

Shautus Salam

“Epistimologi pesantren itu sebenarnya sangat kaya. Ada dalil waqi’i atau realitas, dalil ‘aqli atau rasio dan dalil ilhami atau wahyu,” paparnya.

Shautus Salam

“Di pesantren, kultur yang berkembang, ilmu itu dari Allah. Oleh karena itu, maka ta’allum, tadarus (belajar, red.) bukan variabel yang dominan di pesantren,” ungkapnya, menjelaskan proses pemerolehan ilmu yang ada di pesantren.

Dalam kesempatan tersebut, pihaknya juga menuturkan bahwa hal yang paling menentukan dalam pemerolehan ilmu di pesantren adalah niat serta ketaatan santri pada kiai atau ustadznya.

Namun pihaknya juga memberi pandangan kritis soal relevansi dari epistimologi ala pesantren itu, ”Pertanyaannya adalah, apakah epistimologi itu masih relevan dipertahankan? Ini perlu segera dijawab. Karena jika tidak, pesantren akan terombang-ambing,” imbuhnya.

Redaktur      : Abdullah Alawi

Kontributor  : Nur Hasanatul Hafshaniyah  

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Pondok Pesantren, Pemurnian Aqidah Shautus Salam

Senin, 22 Januari 2018

Kemenag Tak Akan Atur Penggunaan Atribut Keagamaan

Jakarta, Shautus Salam. Kementerian Agama Republik Indonesia menegaskan tak akan membuat aturan berisi perintah atau larangan tentang penggunaan atribut dan pakaian keagamaan tertentu. Sikap ini disampaikan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin terhadap isu penggunaan pakaian atau atribut Kristen jelang peringatan Natal.

Kemenag Tak Akan Atur Penggunaan Atribut Keagamaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kemenag Tak Akan Atur Penggunaan Atribut Keagamaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Kemenag Tak Akan Atur Penggunaan Atribut Keagamaan

“Masing-masing kita dituntut untuk dewasa dan bijak untuk tidak menuntut apalagi memaksa seseorang menggunakan pakaian atau atribut agama yang tidak dianutnya,” katanya dalam siaran pers yang dikirim melalui Bidang Hubungan Masyarakat Kemenag RI, Selasa (9/12).

Seorang Muslim, tambah Lukman, tidak usah dituntut menggunakan kalung salib atau topi sinterklas demi menghormati Hari Natal. Juga umat perempuan nonmuslim tidak perlu dipaksa berjilbab demi hormati Idul Fitri.

Shautus Salam

“Bertoleransi bukanlah saling meleburkan dan mencampurbaurkan identitas masing-masing atribut dan simbol keagamaan yang berbeda. Bertoleransi adalah saling memahami, mengerti, dan menghormati akan perbedaan masing-masing, bukan menuntut pihak lain yang berbeda untuk menjadi sama seperti dirinya,” tegasnya. (Mahbib Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam

Shautus Salam Olahraga, Nasional, Pondok Pesantren Shautus Salam

Minggu, 14 Januari 2018

Banser Lampung Siap Bantu Kesembuhan Setnov dengan Terapi Hijamah

Bandar Lampung, Shautus Salam. Satuan Koordinasi Wilayah (Satkorwil) Banser Lampung siap membantu kesembuhan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Setya Novanto sebagai langkah mendukung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

"Banser Lampung bersama KPK. Kami memandang korupsi bertentangan dengan Pancasila. Sifat dan sikap itu yang harus dimusuhi, bukan orangnya," ujar Kasatkorwil Banser Lampung, Tatang Sumantri, di Bandar Lampung, Sabtu (16/9). 

Ketua Umum Golkar ini mangkir dalam pemeriksaan sebagai tersangka korupsi pengadaan kartu tanda penduduk elektronik (e-KTP), Senin (11/9) karena tengah dirawat di RS Siloam akibat sakit gula darah diidapnya sejak lima tahun silam kambuh. Penyakit bersangkutan diinformasikan telah menggangu fungsi ginjal dan jantung.

Banser Lampung Siap Bantu Kesembuhan Setnov dengan Terapi Hijamah (Sumber Gambar : Nu Online)
Banser Lampung Siap Bantu Kesembuhan Setnov dengan Terapi Hijamah (Sumber Gambar : Nu Online)

Banser Lampung Siap Bantu Kesembuhan Setnov dengan Terapi Hijamah

"Banser Husada Lampung siap kami turunkan membantu kesembuhan Setnov dengan terapi hijamah atau bekam dan Aji Tapak Sesontengan atau ATS," papar Tatang lagi.

Kesediaan tersebut, imbuh Tatang, bukan untuk memojokkan Setnov, namun demi kebaikan bersangkutan hingga negara.

Shautus Salam

Pelaksana Tugas Kepala Satuan Khusus Banser Husada (Basada) Lampung Gatot Arifianto selaku Kamitua (Master) ATS pada 2014 juga terkena diabetes dengan kadar gula mencapai 524.

"Alhamdulillah sembuh dengan ATS dan bersama sahabat-sahabat Basada hingga hari ini telah membantu seribu lebih masyarakat Lampung yang menderita lemah jantung, asma, vertigo, migrain, hernia, pasca stroke, asam urat hingga ginjal serta mendapat apresiasi positif dari publik," kata Tatang lagi.

Wakil Ketua PW GP Ansor Lampung Heriyanto Suud mengaku optimistis penyakit diderita Setnov bisa diatasi sehubungan ada pengalaman penyakit kista bisa hilang total terapi tradisional.

Shautus Salam

"Fakta tersebut memang benar. Apalagi basic ATS ilmiah, tidak lepas dari DNA atau Deoxyribo Nucleic Acid yang menyimpan ribuan tahun informasi," kata dia lagi.

Untuk diketahui, ATS merupakan ilmu pengetahuan leluhur nusantara jaman dahulu yang terbukti mampu membantu kesembuhan beragam penyakit medis dan non medis dengan sentuhan atau tepukan kasih sayang. Kader Ansor dan Banser yang ingin mengetahui lebih jauh atau belajar ATS bisa menghubungi nomor 085382008080. (Syuhud Tsaqafi/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Pertandingan, Pondok Pesantren, Ubudiyah Shautus Salam

Sabtu, 06 Januari 2018

Ketua LP Maarif: Saya Akan Bekerja Cepat

Jakarta, Shautus Salam. Ketua baru Pengurus Pusat Lembaga Pendidikan Maarif Nahdlatul Ulama HZ Arifin Junaidi berjanji akan bekerja secara cepat selama sisa masa kepengurusan ini. Hal ini untuk mengejar sejumlah ketertinggalan yang selama ini belum bisa dicapai.

PBNU mengukuhkan HZ Arifin Junaidi sebagai ketua baru PP LP Ma’arif NU mengantikan Mansyur Ramly di Gedung PBNU, Jakart Pusat, Rabu (16/1) pekan lalu. Pengukuhan dan pelantikan dihadiri Sekretaris Jendral PBNU H Marsudi Syuhud dan jajaran PP LP Maarif NU.

Ketua LP Maarif: Saya Akan Bekerja Cepat (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketua LP Maarif: Saya Akan Bekerja Cepat (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketua LP Maarif: Saya Akan Bekerja Cepat

Menurut Arifin, pihaknya memiliki jaringan yang luas yang perlu diperdayakan secara baik. Terlebih, masa khidmat yang ia emban akan berakhir 2015, ditambah masa jabatan pemerintahan yang akan banyak berperan untuk madrasah NU sisa kurang dari dua tahun lagi.

Shautus Salam

Pernyataan ini disampaikan pada upacara penutupan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) LP Ma’arif NU di Wisma Syahida Inn, Kampus II UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Rabun (23/1). PP LP Ma’arif akan segera menyebar luaskan hasil rapat ini kepada seluruh pengurus di bawah.

”Itulah komitmen saya untuk bekerja cepat di bidang pendidikan,” ujarnya.

Shautus Salam

Arifin menyatakan, PBNU penting untuk selalu melibatan LP Ma’arif NU dalam semua persoalan yang menyangkut pendidikan di lingkungan NU. Sebagai lembaga yang mengurusi pendidikan, pihaknya wajib turut menyelesaikan berbagai masalah, termasuk dalam urusan proses rekrutmen beasiswa pendidikan ke luar negeri.

Redaktur: Mukafi Niam

Penulis ? : Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Pondok Pesantren, Hikmah Shautus Salam

Jumat, 15 Desember 2017

Menag Minta Wisudawan UNU Jaga Nama Baik Nahdlatul Ulama

Surakarta, Shautus Salam

Jagalah nama baik NU. Demikian pesan yang tegas yang disampaikan Menag Lukman Hakim Saifuddin mengawali orasi ilmiah pada Rapat Senat Terbuka Dalam Rangka Wisuda ke XVIII Program Sarjana dan Magister di Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta, Sabtu (27/02) sebagaimana dikutip dari laman kemenag.go.id.

Menag Minta Wisudawan UNU Jaga Nama Baik Nahdlatul Ulama (Sumber Gambar : Nu Online)
Menag Minta Wisudawan UNU Jaga Nama Baik Nahdlatul Ulama (Sumber Gambar : Nu Online)

Menag Minta Wisudawan UNU Jaga Nama Baik Nahdlatul Ulama

Hadir dalam kesempatan ini civitas akademika UNU, para pemimpin perguruan tinggi NU, serta para wisudawan dan wisudawati. ?

“Saudara harus paham betul apa sesungguhnya misi dari kehadiran NU di Republik tercinta ini. Sebab Saudara menyandang predikat yang khas, tidak hanya sekdar sarjana, tapi sarjana Universitas Nahdlatul Ulama,” kata Menag di hadapan 220 wisudawan program sarjana dan magister UNU.?

“Maka pahami betul apa sesungguhnya misi dan peran yang harus dibawakan oleh warga NU,” tambahnya sembari menegaskan bahwa apa yang telah digariskan NU harus menjadi acuan bersama.

Menag berharap keberadaan UNU di berbagai daerah dapat berkontribusi positif bagi masifikasi Islam Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) di tengah masyarakat. Sebab, Aswaja yang dikembangkan NU adalah Aswaja yang berdiri atas prinsip moderatisme yang mengandung nilai tawasuth (moderat), tasamuh (toleransi), tawazun, dan iktidal.

Shautus Salam

“NU tidak bertindak ekstrim, baik kanan maupun kiri. Moderatisme inti ajaran Islam,” terangnya.

“Aswaja NU bukan Aswaja yang ? pro negara khilafah, tapi juga tidak mendukung negara sekuler. Dalam Munas NU di Situbondo tahun 1983, NU telah menegaskan bahwa penerimaan NU terhadap Pancasila merupakan keputusan final,” tambahnya.

Shautus Salam

Selain itu, Menag juga berharap lulusan UNU mampu hadir di tengah masyarakat dengan kreatif dan inovatif. Menurutnya, dengan predikat sarjana, para wisudawan adalah orang pilihan dan karenanya harus bisa menempatkan diri sebaik-baiknya di lingkungan sekitar.

Menag berharap sarjana NU tidak berfikir monoton, tapi kreatif dalam menghadapi tantangan kehidupan bermasyarakat.?

“Saya terinspirasi dengan ungkapan yang disampaikan salah satu jurnalis di London, bahwa ancaman nyata sebenarnya bukankah pada saat komputer mulai bisa berfikir seperti manusia. Tapi ancaman yang sesungguhnya ketika manusia mulai berfikir seperti komputer,” kata Menag.

Sebanyak 220 mahasiswa UNU diwisuda hari ini, terdiri dari 53 wisudawan magister, 12 wisudawan Fakultas Agama Islam Prodi Al-Ahwal asy-Syahsiah dan 130 prodi Pendidikan Agama Islam. Selain itu, 8 wisudawan dari Fakultas Teknik Prodi Teknis Mesin, 10 dari Fakultas Ekonomi Prodi Ekonomi Manajemen, 7 dari Fakultas Hukum Prodi ilmu Hukum. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Bahtsul Masail, Pondok Pesantren Shautus Salam

Senin, 11 Desember 2017

Lembaga Zakat GP Ansor Probolinggo Distribusikan Puluhan Ton Beras

Probolinggo, Shautus Salam - Lembaga Amil Zakat (LAZ) di bawah binaan Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Probolinggo membagikan puluhan ton beras kepada fakir miskin dan kaum dhuafa di sebelas kecamatan di Probolinggo, Sabtu (25/2). Setiap orang penerima mendapatkan sebanyak lima kilogram.

Pendistribusian beras ini melibatkan seluruh pengurus GP Ansor mulai dari tingkat cabang hingga anak cabang, termasuk juga jajaran personel Banser. Mereka mendatangi tiap-tiap rumah warga miskin yang sudah didata sebelumnya.

Lembaga Zakat GP Ansor Probolinggo Distribusikan Puluhan Ton Beras (Sumber Gambar : Nu Online)
Lembaga Zakat GP Ansor Probolinggo Distribusikan Puluhan Ton Beras (Sumber Gambar : Nu Online)

Lembaga Zakat GP Ansor Probolinggo Distribusikan Puluhan Ton Beras

Ketua GP Ansor Kabupaten Probolinggo Muchlis mengatakan, pihaknya memang sengaja mendistribusikan beras ini dengan mendatangi langsung rumah warga miskin dan tidak mengundangnya ke satu tempat. Hal ini dilakukan untuk memuliakan para warga miskin.

Shautus Salam

"Mereka adalah warga miskin yang harus kita santuni dan didatangi. Bukan mereka yang harus mendatangi kita untuk mendapatkan bantuan. Kami tidak ingin mereka berdesak-desakan dan menunggu hanya untuk mendapatkan bantuan," katanya.

Menurut Muchlis, puluhan ton beras itu merupakan hasil pengumpulan yang didapat dari para dermawan yang diberikan kepada LAZ GP Ansor Kabupaten Probolinggo. Para dermawan itu terdiri atas PNS, kiai, tokoh agama, tokoh masyarakat serta pemuda Ansor dan Banser sendiri.

Shautus Salam

"Kegiatan semacam ini akan terus kita lakukan demi membantu masyarakat miskin yang membutuhkan. Karena itu kami terus mengharapkan dukungan dari para dermawan, khususnya yang ada di Kabupaten Probolinggo," pungkasnya. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Pondok Pesantren, Quote Shautus Salam

Jumat, 24 November 2017

Tumbuhkan Jiwa Mandiri, Muslimat NU Gelar Pendidikan Keterampilan Wirausaha

Jakarta, Shautus Salam - Pimpinan Pusat Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) bekerja sama dengan PT Gensei Indonesia berupaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia di bidang kewirausahaan.? Dalam rangka membangun keterampilan berwirausaha, kedua pihak ini menyelenggarakan pendidikan kewirausahaan sejak pagi hingga petang di Hotel Bintang, Jakarta Pusat, Kamis (19/5).

“Acara ini dapat terselenggara atas kerja sama dengan Koperasi Muslimat NU Induk Koperasi An-Nisa (Inkopan), HLN, serta bidang ekonomi,” kata penanggung jawab pendidikan Hj Nurhayati Said Aqil Siroj menyampaikan sambutannya.

Tumbuhkan Jiwa Mandiri, Muslimat NU Gelar Pendidikan Keterampilan Wirausaha (Sumber Gambar : Nu Online)
Tumbuhkan Jiwa Mandiri, Muslimat NU Gelar Pendidikan Keterampilan Wirausaha (Sumber Gambar : Nu Online)

Tumbuhkan Jiwa Mandiri, Muslimat NU Gelar Pendidikan Keterampilan Wirausaha

Kami, lanjut Hj Nurhayati, atas nama tim penyelenggara acara ini menyampaikan terima kasih kepada PT Gensei Indonesia, seluruh pengurus PP Muslimat, NU dan semua hadirin. “Semoga pendidikan ini dapat membangun jiwa wirausaha mandiri pada diri kita semua.”

Sementara Direktur PT Gensei Indonesia Dato‘ Ahmad Amin Esa mengucapkan terima kasih kepada Muslimat NU atas kerja sama kedua pihak khususnya Hj Mimin dan Hj Nurhayati yang memediasi keduanya.

Shautus Salam

“Kita akan mengadakan pendidikan ini sebanyak dua kali. Dengan dua pendidikan yang memuat materi pemasaran dan pengenalan produk di dalamnya, kami berharap produk Susu Kambing Kurma Madu Indonesia (SKKMI) yang akan diluncurkan bulan depan terserap dengan baik di pasar,” kata Dato’ Amin.

Shautus Salam

Pendidikan ini diikuti oleh sedikitnya 70 peserta yang terdiri atas pengurus PP Muslimat NU, PW Muslimat NU DKI Jakarta, dan PC Muslimat se-Jabodetabek. Pada pertemuan ini, PT Gensei menurunkan H Torman bin Rosnan dan Toni Indra Haribawa sebagai pemateri motivasi kewirausahaan dan pengenalan produk SKKMI.

Pendidikan ini ditutup dengan pengarahan dari Ketum PP Muslimat NU Hj Khofifah Indar Parawansa. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Pondok Pesantren, Fragmen, Lomba Shautus Salam

Kamis, 16 November 2017

Sarbumusi Sayangkan Banyak Pengusaha Tak Paham UU Ketenagakerjaan

Jakarta, Shautus Salam



Sekretaris Jenderal Sarikat Buruh Muslimin Indonesia (Sarbumusi) Eko Darwanto menyayangkan banyaknya pengusaha yang mencurigai para buruh ketika membentuk serikat buruh sebagai wadah penyaluran aspirasi.

Sarbumusi Sayangkan Banyak Pengusaha Tak Paham UU Ketenagakerjaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Sarbumusi Sayangkan Banyak Pengusaha Tak Paham UU Ketenagakerjaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Sarbumusi Sayangkan Banyak Pengusaha Tak Paham UU Ketenagakerjaan

“Kita bikin serikat buruh dianggap melawan,” kata Eko Darwanto pada acara Kopi Darat Ikatan Keluarga Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (IKA PMII) di lantai 5, Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Selasa (2/5).

Menurut Eko, hal itu karena banyak pengusaha yang tidak paham mengenai Undang-Undang ketenagakerjaan, dan hubungan industri.

Padahal, katanya, seorang pengusaha harus mengizinkan serikat buruh di dalam. “Kalau tidak diizinkan, terkena pidana itu,” katanya

Shautus Salam

Oleh karenanya, Eko mengingatkan tugas serikat buruh untuk mendorong supaya teman-teman buruh menyadari haknya. Selain itu, ia juga mengingatkan pengusaha dan pemerintah supaya perusahaan ini diberikan pemahaman yang jelas soal hubungan industrial yang baik.

Pada acara yang bertema “NU, Negara & Pemberdayaan Pekerja/Buruh Indonesia” ini, Eko juga menjelaskan tentang berbagai kewajiban pengusaha yang harus diberikan kepada para buruh.

Shautus Salam

“Pengusaha harus memenuhi kewajibannya sebagai pengusaha; membayarkan gaji, menyiapkan pesangon, THR, jaminan sosial, banyak,” katanya

Selain Eko Darwanto, hadir juga sebagai pembicara Suharyono (ILO Indonesia), dan Muchtar Said (Dosen UNU Indonesia). (Husni Sahal/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Pondok Pesantren, Lomba, Nahdlatul Ulama Shautus Salam

Minggu, 12 November 2017

Gus Mus: Warga NU Mesti Hargai Perbedaan

Jakarta, Shautus Salam. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) memberikan perhatian khusus terkait kasus pengusuran warga Syiah dan Ahmadiyah di Sampang, mengingat sebagian besar warga Sampang khususnya dan warga Madura pada umumnya adalah warga NU (nahdliyin).



Gus Mus: Warga NU Mesti Hargai Perbedaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Mus: Warga NU Mesti Hargai Perbedaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Mus: Warga NU Mesti Hargai Perbedaan

Seperti diwartakan, seruan agar warga Ahmadiyah diusir dari kampungnya di Sampang terus berlangsung. Sementara Kamis (20/6) hari ini, 2000-an orang juga berdemo menyerukan warga Syiah yang berada di GOR pengungsian dikeluarkan dari Sampang.

“Aliran sesat harus diusir dari Sampang. Para kiai akan bertemu di Sampang. Mudah-mudahan kami dapat kepastian soal Syiah,” kata KH. Ali Kharrar, salah satu tokoh yang memberikan orasi sebagaimana dilansir Tempo.co.

Terkait hal tersebut, KH Mustofa Bisri selaku Wakil Rais Aam NU menghimbau agar seluruh warga NU dan tokoh-tokoh NU bisa menghargai perbedaan, karena itulah garis kehidupan berbangsa dan bermasyarakat NU.

“Tokoh-tokoh NU harus bisa menghargai perbedaan keyakinan. Karena itulah khittah NU dan kenyataan Indonesia. Hendaknya tokoh-tokoh NU membaca (dokumen) Khittah, karena semua telah diatur di sana,” kata Kiai yang lebih dikenal dengan panggilan Gus Mus tersebut.

Shautus Salam

“Jika ada persoalan, misal ada orang yang dianggap menghina Sahabat Nabi—seperti diklaim beberapa kalangan anti-Syiah, hendaknya dilaporkan ke pihak berwajib saja.”

Shautus Salam

Dalam perbincangan via telpon dengan Shautus Salam, Gus Mus menggarisbawahi pentingnya warga NU menjaga khittah nahdliyyah, salah satunya dengan bersikap toleran (tasamuh) dan menghargai perbedaan keyakinan, dan tidak mudah diseret dalam konflik karena perbedaan keyakinan. Dan dalam konteks ini, Gus Mus berharap pemerintah berperan dengan semestinya, menghimbau masyarakat agar tidak melakukan kekerasan. “Bukan malah memfasilitasi konflik,” katanya.

“Warga NU itu banyak, sebagaimana Islam di Indonesia banyak, ada yang baik ada yang buruk, dan tugas para pengurus dan struktur NU untuk selalu menjaga warganya agar tetap bersikap sebagaimana khittah,” kata Gus Mus. “Kalau perlu prasyarat jadi pengurus NU itu membaca (dokumen) dan memahami khittah,” imbuhnya. 

 

Penuis: Syafi Alielha

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Pondok Pesantren Shautus Salam

Kamis, 09 November 2017

Gus Dur pun Sering Menemui Kiai Khotib Umar

Jember, NU Onilne. Ahad sore (8/6) kemarin, mendung duka menggelayut di langit Jember. Salah seorang putera terbaik Jember, KH Khotib Umar dipanggil Sang Khalik. Kiai kelahiran tahun 1940 itu menghembuskan nafas terakhirnya di rumah sakit Dr. Soebandi, Patrang, Jember setelah 5 hari opname di rumah sakit tersebut.

Gus Dur pun Sering Menemui Kiai Khotib Umar (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Dur pun Sering Menemui Kiai Khotib Umar (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Dur pun Sering Menemui Kiai Khotib Umar

Dalam beberapa tahun terakhir, kondisi pengasuh pesantren Raudlatul Ulum, Sumberwringin itu memang labil. Sudah tak terhitung berapa kali ia keluar masuk rumah sakit, baikdi Jember maupun di Surabaya. “Ya beliau memang sakit-sakitan, gangguan pernafasan terutama, juga komplikasi,” kata salah seorang kerabatnya, Nyai Ja’faroh Hasan kepada Shautus Salam semalam.

Seiring dengan kondisi fisiknya yang menurun,? Kiai Khotib juga mengurangi akivitasnya sebagai muballigh. Namun untuk area Jember, beliau masih bisa memenuhi panggilan dakwah, kendati harus pakai kursi roda.

Shautus Salam

Kiai Khotib dikenal sebagai salah seorang kiai khos NU. Ia kerap menjadi jujugan tokoh NU dan pejabat yang berkunjung ke Jember. Kiai Hasyim Muzadi, KH. Said Aqil Siroj dan sederet tokoh NU lainnya, juga terhitung kerap mengunjungi beliau.

Shautus Salam

Demikian juga dengan Gus Dur. Bahkan Kiai Khotib dikenal mempunyai hubungan khusus dengan mantan presiden RI tersebut. Sudah tak? terhitung berapa kali, Gus Dur mengunjungi Sumberwringin, baik sebelum, saat menjadi persiden maupun seteleh lengser.

Ketika masih sama-sama sehat, tak? jarang Kiai Khotib sowan ke Gus Dur di Jakarta. “Aba dan Gus Dur memang cukup dekat hubungannya,” tutur Izat Umari, salah seorang putranya. (Aryudi A. Razaq/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Ubudiyah, Tegal, Pondok Pesantren Shautus Salam

Selasa, 07 November 2017

Petani Lawan Monsanto (1)

Jakarta, Shautus Salam. Minggu-minggu ini, media Amerika sedang hangat memberitakan sengketa seorang Petani Indiana versus Monsanto.Co, perusahaan raksasa multinasional yang berbasis St. Louis, Missouri, Amerika Serikat. 

Petani Lawan Monsanto (1) (Sumber Gambar : Nu Online)
Petani Lawan Monsanto (1) (Sumber Gambar : Nu Online)

Petani Lawan Monsanto (1)

Mahkamah Agung AS akan mendengarkan argumentasi dari kedua belah pihak dalam pemeriksanaan lanjutan yang digelar setiap selasa. Jika akhirnya keputusan MA memenangkan sang petani dipastikan implikasinya sangat luas terhadap dalam industri perangkat lunak nanoteknologi dan juga ketahanan pangan dunia.

Petani itu bernama Vernon H. Bowman. Monsanto menggugat Pak Bowman karena ia menanam kedelai yang berasal dari tanaman yang ditanam oleh petani lain yang menggunakan benih yang dipatenkan Monsanto. Mahkamah Agung akan mendengar argumen Monsanto atas tuduhan bahwa petani itu telah mencuri hak patennya. 

Shautus Salam

Monsanto mengklaim bahwa perlindungan hak paten harus diberikan melampaui generasi pertama benih tersebut. Sebaliknya, Pak Bowman berpendapat hak paten perusahaan sudah habis masa berlakunya saat ia membeli bibit generasi berikutnya dari gudang gandum lokal. 

Shautus Salam

Pengadilan federal yang lebih rendah telah memenangkan gugatan perusahaan kimia dan monopoli benih melalui hak patennya ini. Namun kasusnya sekarang dibawa ke Mahkamah Agung. Hari-hari ke depan Mahkamah Agung AS akan menentukan apakah petani Indiana itu sudah tepat ketika ia mengklaim bahwa benih yang ditanam tidak mesti dikontrol oleh Monsanto. 

Beberapa pihak menyebut sengketa ini seperti pertarungan antara David vs Goliath. Tapi Pak Bowman, petani barat laut Indiana itu, bilang pada The Guardian (9/2/2013) bahwa kasus ini adalah soal benar dan salah, bukan antara si raksasa vs si kerdil. Maka ia pun berani melawan perusahaan tersebut dan berbagai bagian dari kekuasaan yang menyerang balik ke arahnya. 

Dukungan mengalir untuk Pak Bowman. Kelompok pendukung yang menamakan diri Pusat Ketahanan Pangan (the Center for Food Safety) dan Selamatkan Benih Kami (Save Our Seeds -SOS) ini akan merilis laporan pemeriksaan terhada industry benih modern. 

Debbie Barker, Direktor Program SOS mengatakan, kemenangan Pak Bowman di Mahkamah Agung akan mendorong indsutri agar terbuka dan memperlakukan benih sebagai sumberdaya bersama dan bukan ladang komersial yang diperebutkan. SOS juga menyakini bahwa Monsanto dan perusahaan lainnya hanya peduli terhadap model bisnis yang menguntungkan ketimbang minat melakukan penelitian. Di atas semuanya, hanya 3 perusahaan sekarang yang mengontrol lebih dari 50% pasar benih global. 

Sementara itu pihak Monsanto kini mendapatkan dukungan dari perusahaan raksasa lain yang mewakili industri software seperti Microsoft Corp dan Apple Inc. Grup-grup bisnis ini mengatakan, keputusan yang melawan pencipta benih itu dapat juga berpotensi menghapus perlindungan hak paten perusahaan-perusahaan teknologi (The Wall Street Journal, 15/2/2013)

Redaktur    : Hamzah Sahal

Kontributor : Mh Nurul Huda

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Pondok Pesantren, Lomba, Nahdlatul Ulama Shautus Salam

Rabu, 11 Oktober 2017

2017, PCNU Banyuwangi Fokus Pemberdayaan Umat

Banyuwangi, Shautus Salam - Untuk memperkuat kerja organisasi, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Banyuwangi melaksanakan pelatihan manajemen administrasi di aula PCNU Banyuwangi, Sabtu (25/2). Tak hanya pengurus PCNU saja yang mengikuti, semua pengurus lembaga, badan otonom dan? MWCNU se-Banyuwangi juga ikut hadir.

Ketua PCNU Banyuwangi KH Masykur Ali mengharapkan pelatihan tersebut bisa menunjang kepengurusan dalam berkhidmah. "Kalau roda organisasi ini bisa jalan, maka fungsi NU untuk berkhidmat kepada umat ini akan benar-benar terlaksana," pesannya.

2017, PCNU Banyuwangi Fokus Pemberdayaan Umat (Sumber Gambar : Nu Online)
2017, PCNU Banyuwangi Fokus Pemberdayaan Umat (Sumber Gambar : Nu Online)

2017, PCNU Banyuwangi Fokus Pemberdayaan Umat

Pada tahun 2017 ini, PCNU Banyuwangi memfokuskan untuk melakukan pemberdayaan umat yang berbasis lembaga, banom dan MWCNU. Untuk bisa melaksanakan program tersebut, perlu kesiapan para pelaksana program terlebih dahulu. "Jangan sampai karena administratifnya tidak dipahami, nantinya program malah tidak bisa berjalan dengan baik," pesan Kiai Masykur.

Shautus Salam

Ketua Pelaksana kegiatan tersebut, Fandi Ahmad menyebutkan, pelatihan tersebut meliputi tata cara penyusunan program dan teknis pelaporannya. "Agar program pemberdayaan bisa terukur, maka perlu adanya sistem perencanaan dan pelaporan yang terukur pula," jelasnya.

Shautus Salam

Pelatihan itu sendiri yang dihelat sehari penuh tersebut, berjalan dengan lancar. Peserta antusias untuk menyiapkan program pemberdayaan umat sesuai dengan potensi masing-masing. Kholili, MWC NU Wongsorejo, mengharap dari kegiatan ini dapat memberikan manfaat lebih kepada jamiyah dan jamaah. "Kita merencanakan beberapa usaha yang telah sesuai dengan potensi pertanian di Wongsorejo yang selama ini, banyak digeluti oleh warga nahdliyin," harapnya. (M. Sholeh Kurniawan/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Pesantren, Pondok Pesantren Shautus Salam

Senin, 04 September 2017

Kebebasan Manusia dan Takdir Menurut Ibnu Athaillah

Hampir setiap orang menginginkan kemauannya terwujud baik itu kemauan baik maupun kemauan buruk. Hanya saja ada kemauan tertentu yang dapat terwujud dengan syarat-syarat tertentu. Di sini hukum kausalitas berlaku. Tetapi ada juga kemauan orang-orang tertentu yang terwujud tanpa bergantung pada syarat apapun. Meski demikian, kemauan yang terwujud itu tak mungkin bersalahan dengan takdir Allah SWT sebagai tampak pada hikmah berikut ini.

? ? ? ? ? ?

Kebebasan Manusia dan Takdir Menurut Ibnu Athaillah (Sumber Gambar : Nu Online)
Kebebasan Manusia dan Takdir Menurut Ibnu Athaillah (Sumber Gambar : Nu Online)

Kebebasan Manusia dan Takdir Menurut Ibnu Athaillah

Artinya, “Kemauan keras tak bisa menerobos pagar takdir.”

Shautus Salam

Kalau mau dipetakan, kemauan manusia terdiri atas tiga macam. Pertama, ada kemauan yang tinggal kemauan tanpa upaya dan tanpa hasil. Kemauan seperti ini kerap kali kita dapati melekat pada banyak orang di sekitar kita terutama pada kebaikan sehingga kita sering mendengar orang mengatakan, ‘Saya sebenarnya ingin sekali menghadiri majelis taklim, menuntut ilmu,’ tanpa ada upaya riil. Kedua, kemauan kuat yang diiringi usaha nyata dengan atau tanpa hasil. Ini kita temukan pada pegawai kantoran, petani, nelayan, pemulung, pengusaha, dan seterusnya. Ketiga, kemauan kuat tanpa upaya, tetapi membawa hasil. Kemauan seperti ini jarang kita temukan karena kemauan seperti ini hanya dimiliki oleh para rasul, wali Allah, dan para wali setan seperti penyihir dan lain sebagainya.

Shautus Salam

?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ?: ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Menurut saya, kemauan keras itu dapat terjadi sesuai ke mana takdir itu berpihak. Hal ini ditunjukkan oleh dalil aqli dan naqli seperti firman Allah, ‘Allah menentukan segala sesuatu,’ dan sabda Rasulullah SAW, ‘Segala sesuatu itu sesuai dengan putusan dan takdir termasuk kelemahan dan kecerdasan.’ Kemauan terbagi tiga. Pertama, kemauan lemah, yaitu hasrat yang menghadirkan tekad dan keteguhan tanpa upaya nyata dan pengaruh konkret (hasil). Kedua, kemauan standar, yaitu hasrat yang melahirkan upaya nyata di samping tekad, dan totalitas di samping keteguhan baik berhasil atau tidak atas upaya dan tekadnya. Ketiga, kemauan keras, yaitu hasrat berupa kekuatan jiwa yang berpengaruh dalam dunia nyata tanpa tergantung pada sebab seperti ahli hipnotis dengan mata, penyihir berdasar simpul-simpul peraga, mereka yang melatih konsentrasinya dengan memfokuskan pikiran, atau seorang wali berdasarkan keyakinannya. Pengaruh dari kemauan keras mereka atas sesuatu dapat nyata terjadi tanpa didasarkan pada gerak (upaya). Tetapi semua itu terjadi berdasarkan putusan dan takdir Allah. Allah berfirman mengenai para penyihir pada Surat Al-Baqarah ayat 102, ‘Mereka tidak bisa memberi mudharat pada apapun selain dengan izin Allah,’” (Lihat Syekh Zarruq, Syarhul Hikam, As-Syirkatul Qaumiyyah, 2010 M/1431 H, halaman17).

Kemauan keras atau kemauan pada kategori ketiga dapat dikategorikan menjadi dua. Pertama, kemauan untuk tujuan baik (kemauan mulia) seperti mencari ridha Allah, kemakrifatan, dan seterusnya. Kedua, kemauan untuk tujuan buruk (kemauan tercela) seperti kesenangan duniawi dan seterusnya. Tetapi sekuat apapun kemauan keras itu, putusan dan takdir Allah tetap mengatasinya sehingga para rasul, para wali Allah, dan hali makrifat lainnya–ketika kemauan kerasnya tak terwujud–tetap menjaga adab waktu.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?... ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? "? ? ? ? ? ? ? ? ?" ? ? "? ? ? ? ? ? ? "? ? ? ? ? ?" ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Ketika kemauan keras seorang sufi yang tajrid (sebuah maqam di mana kebutuhannya tersedia tanpa usaha) tak pernah meleset karena sabda Rasulullah SAW ‘Allah mempunyai sejumlah hamba yang bila bersumpah atas nama-Nya niscaya Allah akan mewujudkannya,’ kata guru kami, ‘Allah mempunyai sejumlah hamba yang bila menginginkan sesuatu niscaya terjadi berkat izin-Nya,’ dan sabda Rasulullah, ‘Takutlah kepada firasat orang beriman karena ia melihat dengan cahaya Allah,’ Syekh Ibnu Athaillah khawatir seseorang mengira bahwa kemauan keras (himmah) mereka dapat menerobos pagar takdir dan bergerak di luar ketentuan putusan dan takdir Allah. Karenanya Syekh Ibnu Athaillah mengangkat hikmah, ‘Kemauan keras tak bisa menerobos pagar takdir...’

Kemauan (himmah) adalah kekuatan hati yang tergugah dalam menuntut sesuatu dan memikirkannya. Bila sesuatu itu mulia, yaitu makrifatullah dan pengharapan atas ridha-Nya, maka kemauan itu disebut himmah ‘aliyah. Tetapi jika sesuatu itu nista, yaitu mengejar dunia dan bagian-bagian dari duniawi, maka kemauan itu disebut himmah daniyyah. ‘Sawabiqul himam’ merupakan pelekatan diterangkan (D) pada menerangkan (M). Maksud dari ‘Kemauan keras tak bisa menerobos pagar takdir’ adalah bila seorang arifin dan murid memikirkan sesuatu dan berkemauan keras, niscaya Allah mewujudkannya seketika dengan kuasa-Nya hingga semua urusannya menjadi urusan Allah.

Kemauan al-arif billah mengarah pada sesuatu. Jika sesuai dengan putusan Allah, maka kemauan itu akan terwujud dengan izin-Nya. Tetapi bila pagar takdir tertutup, maka keinginan itu tak bisa menerobosnya tetapi justru ia menyesuaikan dengan adab yang seharusnya dalam kondisi demikian terhadap Allah dan keinginan itu kembali pada sifatnya, yaitu penghambaan tanpa penyesalan dan kesedihan. Bahkan ia menjadi senang karena keinginan itu kembali pada tempatnya dan sesuai pada sifat aslinya. Guru dari guru kami, Syekh Ali RA berkata, ‘Kami bila ingin sesuatu dan mengatakannya, lalu terwujud, kami sekali senang. Tetapi bila keinginan kami tak terwujud, maka kami sepuluh kali lipat senangnya.’ Hal ini terjadi karena kesejatian makrifatullah orang tersebut. Ketika ditanya, ‘Dengan apa kau kenal Tuhanmu?’ Seorang ulama menjawab, ‘Dengan pembatalan kemauan dan hasrat (kami).’ Kemauan kuat dapat terwujud sekalipun orang yang menginginkannya tidak sempurna seperti mereka yang mengandalkan kekuatan mata dan penyihir atau sebuah benda yang Allah berikan keistimewaan padanya. Ketika keduanya memandang sesuatu dengan tujuan tertentu, maka sesuatu yang dipandang itu akan berubah sesuai kemauan mereka berdua dengan izin Allah. Semua itu juga takkan dapat menerobos pagar takdir. Itu terjadi hanya karena kehendak Allah yang maha esa dan kuasa sesuai firman Allah, ‘Mereka tidak bisa mencelakai seorang pun kecuali dengan izin Allah,’ ‘Sungguh, kami menciptakan sesuatu dengan takdir,’ ‘Tidaklah kalian berkehendak kecuali Allah menghendaki,’ dan sabda Rasulullah SAW, ‘Setiap sesuatu mesti sesuai putusan dan takdir termasuk lemah dan kecerdasan (maksudnya semangat bergerak).’

Hikmah ini menyatakan secara tersirat bahwa kemauan yang kendur dan lemah tidak membekas apapun dalam kehidupan nyata sekalipun itu berupa kebaikan maupun keburukan. Kata ‘menerobos’ dan ‘pagar’ mengisyaratkan kekuatan di kedua pihak. Tetapi dinding yang memagari itu begitu perkasa sehingga tiada artinya kekuatan seorang hamba yang serba terbatas. Kalau sebuah kemauan keras saja (dalam pengertian Syekh Zarruq) tidak bisa menerobos pagar takdir, apa artinya gagasan yang masih dalam rencana dan upaya sebagai diisyaratkan dalam hikmah Ibnu Athaillah berikutnya, ‘Rihatkan dirimu dari rencana-rencana. Apa yang dilakukan oleh selainmu (Allah) untukmu, jangan lagi kau melakukannya,’” (Lihat Syekh Ibnu Ajibah, Iqazhul Himam, Beirut, Darul Fikr, tanpa catatan tahun, juz I, halaman 15-16).

Meskipun semua terjadi berdasarkan kehendak Allah, kita tetap harus mempertimbangkan hukum kausalitas, hukum alam sebagai ketetapan Allah. Pasalnya, hukum kausalitas dan hokum alam sebagai sunatullah cukup kuat dan kuasa.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Jawabannya dapat diringkas bahwa sikap kita terhadap Allah harus sesuai dengan perintah-Nya. Sedangkan sikap kita terhadap sunatullah harus sesuai dengan hukum-hukum alam yang ditetapkan oleh-Nya sebagai asas keteraturan alam. Allah memerintahkan kita untuk makan bila lapar, minum bila haus, mencari obat bila sakit, dan menjaga kesehatan serta waspada terhadap segala yang menyebabkan kita celaka dan sakit. Kemudian Allah juga memerintahkan kita untuk mengetahui dengan ilmul yakin bahwa tidak ada satupun yang berbuat sesuatu selain Allah, tiada sesuatu berpengaruh selain dengan sunatullah. Kita juga diperintahkan untuk meyakini bahwa Allah menciptakan segala sesuatu dan memerintahkan segala sesuatu di alam ini untuk menjalankan tugas sesuai amanah yang dititipkan padanya sebagai firman Allah pada Surat Al-Araf ayat 54, ‘Ketahuilah, di hanya milik-Nya segenap makhluk dan segenap urusan,’” (Lihat Syekh M Said Ramadhan Al-Buthi, Al-Hikam Al-Athaiyyah, Syarhun wa Tahlilun, Beirut, Darul Fikr Al-Muashir, 2003 M/ 1424 H, juz I, halaman 69-70).

Syekh Said Ramadhan Al-Buthi menempatkan Al-Hikam karya Ibnu Athaillah ini sebagai pengetahuan praktis. Dalam konteks hikmah ini, ia menyarankan kepada pembaca Al-Hikam untuk memperhatikan hukum kausalitas dan hukum alam. Meskipun sakit dan sehat adalah kehendak Allah, kita sebagai manusia–menurutnya–harus tetap berupaya untuk menjaga kesehatan dan berupaya hidup sehat.

Di tangan Syekh Said Ramadhan Al-Buthi, Al-Hikam mengajarkan kita menjadi manusia secara wajar dan fithri. Jangan sekali-kali tidak tertib lalu lintas. Jangan berdiam diri tanpa mencari obat ketika sakit meski kesembuhan ada di tangan Allah. Jangan coba-coba berdiam diri tidak belajar, tidak sekolah, tidak ngaji, tidak mondok… Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Warta, Pondok Pesantren, Kajian Shautus Salam

Selasa, 29 Agustus 2017

Ini Doa saat Terbangun di Tengah Malam

Istirahat malam tidak selalu menghabiskan waktu semalam suntuk. Kadang kita terbangun tengah malam karena pelbagai sebab. Pada saat istirahat terganggu tengah malam seperti ini Rasulullah SAW menganjurkan kita untuk membaca doa sebagai berikut.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Ini Doa saat Terbangun di Tengah Malam (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Doa saat Terbangun di Tengah Malam (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Doa saat Terbangun di Tengah Malam

Lâ ilâha illâ anta. Subhânakallâhumma, astaghfiruka li dzanbî, wa as’aluka rahmataka. Allâhumma zidnî ‘ilmâ, wa lâ tuzigh qalbî ba‘da idz hadaitani, wa hab lî min ladunka rahmatan innaka antal wahhâb.

Artinya, “Tiada tuhan selain Engkau. Mahasuci Engkau. Aku memohon ampun-Mu atas dosaku. Aku mengharapkan rahmat-Mu. Tuhanku, tambahkan ilmuku. Jangan Kausesatkan batinku setelah Kauberikan petunjuk padaku. Berikan aku rahmat dari sisi-Mu. Sungguh, Engkau maha pemberi.”

Shautus Salam

Doa ini disebutkan Imam An-Nawawi dalam Al-Adzkar. Riwayat hadits ini menunjukkan betapa pentingnya zikir kepada Allah SWT dalam keadaan apapun. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam

Shautus Salam Hikmah, Pondok Pesantren, News Shautus Salam

Sabtu, 05 Agustus 2017

Urgensi Ilmu Nahwu dalam Penurunan Wacana Publik Keislaman

PENGANTAR REDAKSI: Shautus Salam akan memuat pemikiran-pemikiran tentang ilmu nahwu yang dikupas oleh Rais Syuriyah Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama Jerman, Syafiq Hasyim. Tulisan yang direncanakan bersambung ini akan dimuat setiap hari Senin. Selamat membaca.

Nahwu, biasa dikenal oleh kalangan santri sebagai bagian ilmu alat, adalah ilmu yang sangat fundamental untuk dikuasai jika kita ingin mempelajari Islam dari literatur-literatur yang menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa pengantarnya, baik klasik maupun modern.

Urgensi Ilmu Nahwu dalam Penurunan Wacana Publik Keislaman (Sumber Gambar : Nu Online)
Urgensi Ilmu Nahwu dalam Penurunan Wacana Publik Keislaman (Sumber Gambar : Nu Online)

Urgensi Ilmu Nahwu dalam Penurunan Wacana Publik Keislaman

Dikatakan sebagai alat karena kegunaan ilmu adalah sebagai perangkat membaca, memahami dan memaknai dari bahasa nativenya, bahasa Arab, ke dalam bahasa Indonesia atau bahasa asing lainnya. Kalangan antropolog menyebutkan jika penguasaan bahasa asli adalah hal sangat penting dalam memperkuat kredibilitas sebuah hasil ilmu atau hasil riset. Mereka memasukkan masalah ini sebagai bagian dari the politics of nativeness. Dengan kata lain, ilmu Nahwu adalah was?’il menuju pengetahuan yang mendekati kepada kebenaran. Kenapa saya sebut sebagai “mendekati kebenaran,” karena kebenaran Nahwiyyah adalah kebenaran pengetahuan yang bersifat aturan kebahasaan, sementara masih ada jenis kebenaran lain yang didapatkan oleh ilmu atau cara lain juga.

Shautus Salam

Namun, jika kita beri peringkat, kebenaran yang dihasilkan oleh Nahwu adalah kebenaran yang sangat tinggi derajatnya karena dengan ilmu ini pemaknaan pertama atas sumber-sumber Islam –al-Qur’an dan Sunnah—bisa didapatkan. Meskipun sekolah-sekolah Islam juga mengajarkan

Nahwu, namun ilmu ini diajarkan secara lebih mendalam di dalam lingkungan pesantren. Itupun masing-masing pesantren melakukannya secara berbeda-beda pula. Pesantren-pesantren tradisional (salaf) biasanya mengajarkan kitab-kitab Nahwu yang tingkatannya lebih rumit dan sulit dibandingkan dengan pesantren-pesantren modern (khalaf). Kitab-kitab nahwu yang diajarkan di pesantren tradisional misalnya mulai dari al-Jur?miyyah, Imri?, lalu Alfiyyah Ibn M?lik. Sementara pesantren modern biasanya mengajarkan kitab-kitab seperti Nahwu al-W?i?, J?mi?u al-Dur?s f? al-Lughat al-?Arabiyya, dan lain-lainnya.

Shautus Salam

Dengan kata lain, referensi-referensi Nahwu yang diajarkan di pesantren salaf –biasanya dimiliki dan diasuh oleh kyai-kyai Nahdlatul Ulama-- biasanya adalah kitab-kitab lama (klasik), sementara pesantren khalaf lebih memilih kitab-kitab Nahwa baru, atau yang terkini.

Tapi baik belajar dengan kitab lama maupun baru sejatinya yang paling penting di sini adalah kemauan untuk belajar dan berusaha menguasai ilmu ini. Jika tidak menguasai seluruhnnya, sebagianlah yang perlu dikuasasi. Meskipun ilmu Nahwu sangat penting, banyak dari kalangan kita yang sudah mendedikasikan hidupnya menjadi santri, ustadz, pendakwah dan lain sebagainya, tidak memiliki pemahaman yang cukup akan ilmu ini.

Hal yang paling menyedihkan banyak pengajar Islam publik kita, di Mushalla dan TV-TV, yang awam dengan teori-teori Nahwu. Untuk berdakwah memang tidak diwajibkan untuk menguasai Nahwu, namun dalam dakwah diwajibkan untuk menyampaikan kebenaran meskipun pahit. Menyampaikan kebenaran dengan benar adalah jika sang penyampai mengerti alatnya. Perlu diingat di sini bahwa tidak semua orang yang bisa membaca aksara Arab seperti membaca al-Qur’an menguasai ilmu ini. Mampu dan tidaknya penguasaan ilmu Nahwu ini bisa dilihat dari bagaimana dia atau mereka mampu membaca dan memaknai kitab-kitab yang dalam bahasa keseharian kaum santri disebut kitab kuning.

***

Harus diakui bahwa ilmu Nahwu memang merupakan cabang yang susah selain ilmu-ilmu lain yang sejenis seperti ?araf, Balaghah, dan Mantiq. Untuk tahu ilmu ini, butuh kejelian, hafalan yang kuat, dan analisa yang mendalam. Masih ingat bahwa kita –saya dan teman-teman—di madrasah dulu sering menghindari dan berkeluh kesah tentang betapa sulitnya memahami apalagi menerapkan ilmu Nahwu untuk membaca kitab-kitab berbahasa Arab. Ada yang hafal di luar kepala teori-teori Nahwu, namun untuk menerapkan terkadang masih sulit. Bahkan ada yang bisa menghafal kitab Nahwu Alfiyah Ibn M?lik secara sungsang (dari belakang ke depan) namun tetap saja terkadang masih memiliki kesulitan untuk menggunakannya dalam membaca teks Arab terutama yang klasik.

Sebagaimana perlu diketahui bahwa menghafal sungsang adalah salah satu cara pamer kebolehan dalam mempelajari ilmu Nahwu. Namun, belajar Nahwu tidak cukup dengan menghafal, tapi harus memahami. Kalau boleh melakukan kritik, kelemahan pembelajaran Nahwu di pesantren adalah penitikberatannya pada model hafalan, bukan pemahaman. Meskipun tujuan pertama dalam penghafalan adalah untuk menuju pemahaman, namun seringkali karena terlalu banyak “load” menghafalnya sehingga aspek memahinya terkurangi bahkan terabaikan.

Hal ini terutama terjadi pada pesantren-pesantren yang sudah mengadopsi banyak mata pelajaran di dalam sistem kurikulum mereka. Namun kesulitan menguasai ilmu Nahwu tersebut sangat sepadan dengan fungsi dan manfaat ilmu ini sendiri dimana tanpa penguasaan atasnya hampir mustahil seseorang bisa memahami al-Qur’an, Sunnah dan sumber-sumber Islam secara keseluruhan dan mendalam. Penguasaan teori-teori rumit dalam kitab-kitab Nahwu yang diajarkan di pesantren tradisional memiliki garis sejajar dengan penguasaan masalah-masalah agama yang tercantum di dalam kitab Suci dan Sunnah Nabi serta peninggalan ulama-ulama masa lalu.

Kita tahu bahwa struktur gramatik bahasa Arab yang dipakai oleh al-Qur’an tidak akan cukup dibaca dengan kitab-kitab Nahwu yang simpel seperti al-Jur?miyyah ataupun Nahw al-W?i?. Penguasaan Nahwu juga menjadi parameter kadar keulamaan seseorang. Karenanya, jangankan ketahuan membaca kitab-kitab terjemahan, karena ini tindakan pemalas, seorang santri atau bahkan ustadz kredibilitasnya bisa runtuh gara-gara hanya salah membaca harakat (tanda baca) di akhir kata (i?rab) misalnya bagaimana misalnya membaca isim alam (nama-nama benda/alam) seperti kata Ibr?him atau isim taf?l (bentuk lebih atau paling) setelah huruf jer il? (huruf yang bisa menyebabkan bacaan kasrah pada Isim) dan kasus-kasus lain.

Hal seperti ini cukup bisa dipahami karena memang memahami al-Qur’an dan Sunnah Nabi harus dilakukan bukan dengan cara main-main (hawa nafsu), tanpa ilmu, namun harus secara ilmiah. Salah satu cara yang ilmiah itu adalah jika pemahaman akan sumber-sumber utama Islam tersebut didasarkan pada tradisi keilmuan (tur?th) yang mapan yang sudah dibangun secara panjang oleh kalangan ulama masa lalu.

***

Selain ilmu Nahwu, kedudukan ilmu lain juga penting dalam mengkaji Islam, namun jika seseorang ingin menjadikan atau mengaku dirinya sebagai ahli atau ?alim dalam Islam, mau tidak mau harus mau belajar, mengenal dan menguasai ilmu Nahwu supaya pemahamannya tidak separuh-separuh dan juga tidak sesat menyesatkan. Pemahaman teks-teks agama tanpa ilmu-ilmu yang memadai bisa menjerumuskan dirinya sendiri dan juga orang lain. Bahkan menafsirkan hal-hal penting dalam Islam seperti syariah, fiqih, akidah, dengan modal bahasa Arab yang pas-pasan atau apalagi modal terjemahan dan ilmu rungon (mendengarkan) bisa menyebabkan seseorang tersebut, meskipun itu ustadz atau pun pendakwah, jatuh pada sikap liberalisme (asal-asalan) pada satu sisi dan sikap fanatisme yang berlebihan pada sisi lainnya.

Hal yang menyedihkan, dalam konteks public sphere kita, adalah kenyataan dimana tidak hanya orang awam, namun ustadz, pendakwah, dan juga para aktivis Islam masa kini tidak tahu sama sekali apalagi memahami ilmu ini. Pengetahuan Islam mereka lebih banyak tergantung pada buku-buku terjemahan yang kualitas pengalihbahasaannya seringkali sangat rendah daripada pada sumber Islam yang asli yang berbahasa Arab. Fenomena yang lebih aneh lagi yang akhir-akhir ini menggejala adalah jika ada orang yang berusaha menjelaskan Qur’an atau wacana keagamaan Islam lainnya lewat pendekatan Nahwiyyah atau keilmuan lain yang memang sangat memungkinkan terciptanya tafsir-tafsir yang berbeda-beda, mereka atau aktivis-aktivis Islam yang masih awam tersebut sering menganggap penjelasan yang njelimet, rumit dan penuh perdebatan dari pelbagai analisis kebahasaan Nahwiyyah tersebut sebagai bentuk pemahamanan liberalisme Islam.

Padahal yang terjadi adalah mereka tidak mampu atau tidak memiliki alat untuk bisa sampai pada penjelasan-penjelasan Nahwiyyah tersebut. Gejala beragama cepet saji dan ingin simplenya saja ini sudah barang tentu sangat menyedihkan untuk masa depan pengembangan Islam sebagai ilmu. Islam itu bisa bertahan, jika agama ini tidak hanya ditopang oleh praktik keagamaan umatnya, namun juga oleh argumentasi yang rasional. Bahkan bisa dikatakan, tantangan Islam terbesar pada abad ini dan mendatang adalah kemampuan umatnya untuk menyediakan argument bahwa agama ini memang ?li? li kulli zam?n wa mak?n.

Berargumen dengan Nahwu adalah salah satu upaya untuk mempertahankan keislaman. Apa yang ingin saya tekan di sini adalah secara umum, fenomena pemahaman keagamaan yang instans dan simplistik tersebut itu terkait erat dengan krisis akan tingkat pengetahuan masyarakat Islam awam dan juga aktivis-aktivisnya secara khusus atas ilmu Nahwu pada satu sisi dan juga penurunan kualitas pewacanaan Islam di ruang publik secara umum pada sisi yang lainnya. Lihat saja bagaimana media kita yang cenderung simplistik dalam dalam menyajikan program agama dengan dalih apa saja misalnya “pemurnian.”

Padahal apa yang terjadi adalah mereka lebih senang mencari penceramah agama di TV-TV mereka yang berorientasi budaya cepat saji untuk memenuhi rasa dahaga atau lapar sementara yang menghinggapi kalangan sebagaian kalangan Muslim, terutama kalangan kota. Agama hanya dibicarakan pada sisi kepentingan peningkatan “piety,” tapi melupakan sisi keilmuan.

Hasil dari model pewacanaan keagamaan Islam yang demikian adalah keluaran masyarakat yang suka menyederhanakan dan memposisikan agama laksana obat gosok (panacea). Mereka ini tidak tahu atau pura-pura tidak tahyu bahwa di dalam wacana agama ada juga ada perdebatan-perdebatan yang rumit dan sekaligus scientific yang perlu diketahui oleh masyarakat kebanyakan karena perdebatan inilah yang menjadi bagian penting dalam argumentasi agama.

Dengan mengetahui perdebatan-perdebatan Nahwiyyah, proses demokratisasi pemahaman agama juga akan terjadi di dalam masyarakat. Karenanya, apa yang bisa kita lakukan pada tradisi keagamaan Islam yang terlanju demikian seperti ini tidak ada kata lain kecuali melakukan perubahan. Intinya, jika ingin mendalam dalam penguasaan Islam, maka alatnya harus cukup dan ilmu Nahwu menduduki posisi utama dalam masalah ini. Salam.

SYAFIQ HASYIM, Rais Syuriah PCINU Jerman, Meraih Gelar Dr. Phil dari BGSMCS, FU, Berlin.

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Pondok Pesantren Shautus Salam

Minggu, 16 Juli 2017

Mushaf Al-Quran Berusia 300 Tahun Disita Di India

Bangalore, Shautus Salam. Polisi di kota Bangalore, India, telah menyita satu mushaf Al-Qur’an yang mereka duga mungkin pernah menjadi miliki Kaisar Mughal Aurangzeb sekitar 300 tahun lalu. Kitab Suci itu, yang berilai 50 juta rupee, ditemukan setelah suatu penggerebekan terhadap satu hotel di kota tersebut.

Polisi menangkap seorang pria yang sedang berusaha menjualnya dan satu lukisan antik dengan harga lebih dari satu juta dolar AS. Mushaf bersulam emas tersebut, yang ditulis dalam bahasa Persia, memiliki lebih dari 1.000 halaman.

Menurut BBC, para ahli sedang meneliti apakah tanda-tangan pada bagian belakang mushaf itu adalah milik Aurangzeb yang memerintah India dari 1658 sampai 1707.

Mushaf Al-Quran Berusia 300 Tahun Disita Di India (Sumber Gambar : Nu Online)
Mushaf Al-Quran Berusia 300 Tahun Disita Di India (Sumber Gambar : Nu Online)

Mushaf Al-Quran Berusia 300 Tahun Disita Di India

Penguasa Dinasti Mughal tersebut adalah pecinta seni dan sastra, dan dikenal karena usahanya yang tampaknya dilakukannya untuk menulis Al-Qur’an pada saat senggangnya.

Polisi Bangalore telah mengirim Al-Qur’an itu ke badan Survei Arkeologi India (ASI) untuk mengetahui apakah para ahlinya dapat membuktikan berapa usia mushaf tersebut dan apakah tanda yang terdapat padanya dibuat oleh Kaisar Mughal itu.

AL-Qur’an tersebut memiliki berat 13 kilogram dan memiliki ciri mencolok. Menurut laporan, ke-30 juznya ditulis dalam gaya tulis berbeda.

Shautus Salam

Komisaris Polisi Gabungan Gopal Hosur mengatakan orang yang ditangkap berasal dari negara bagiran Kerala, yang bertetangga.

 Hosur mengatakan tersangka itu telah memberitahu polisi bahwa ia berada di Bangalore untuk mencari pembeli barang antik.

Shautus Salam

Belum jelas bagaimana pria tersebut memperoleh Al-Qur’an itu, yang dikatakannya kepada polisi telah diberikan bahan kimia sehingga mushaf itu tahan api. (ant/iina/bbc/nur)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Pondok Pesantren, Warta, Kajian Islam Shautus Salam

Kamis, 01 Juni 2017

Tiga Arena Perjuangan LTM-PBNU (1)

Jakarta, Shautus Salam

Memasuki tahun ketiga kepengurusan Lembaga Takmir Masjid Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LTM-PBNU) masa khidmat 2015-2020, LTM-PBNU memantapkan arena perjuangannya. Sektretaris LTM-PBNU Ibnu Hazen mengatakan terdapat tiga arena perjuangan yakni penguatan akidah, penguatan ekonomi, dan penguasaan informasi dan komunikasi.

Tiga Arena Perjuangan LTM-PBNU (1) (Sumber Gambar : Nu Online)
Tiga Arena Perjuangan LTM-PBNU (1) (Sumber Gambar : Nu Online)

Tiga Arena Perjuangan LTM-PBNU (1)

Tiga arena perjuangan tersebut diperkuat dalam diskusi pengurus LTM-PBNU yang dilaksanakan bersamaan Family Gathering LTM-PBNU, 20-21 Januari 2018 lalu di Vila Kelana, Cibodas, Cipanas, Cianjur, Jawa Barat.

“Untuk penguatan akidah diturunkan menjadi penguatan paham ahlussunah waljamaah annahdliyah; penguatan ideologi Pancasila dan NKRI; dan menjaga hubungan antara agama dan negara,” kata Ibnu di Gedung PBNU, Selasa (23/1).

Ibnu menambahkan penguatan-penguatan tersebut dilakukan dengan sejumlah strategi meliputi pelatihan, workshop, seminar, halaqah, pendampingan dan mentoring.

“Strategi dilakukan sebagai wadah dan media pembentukan wawasan, nilai, sikap, transformasi keilmuan, dan menjadi informasi yang strategis untuk kaderisasi,” ia memaparkan.

Shautus Salam

Strategi tersebut dilakukan berbasiskan masjid yang menyasar masyarakat umum, kampus dan perkantoran serta sekolah dan kompleks perumahan.

“Tentu metode dan pendekatan yang dilakukan berbeda-beda untuk arena-arena itu,” sambung Ibnu.

Shautus Salam

Ibnu menegaskan keluaran yang ingin dihasilkan melalui strategi tersebut adalah terbentuknya jaringan muharik aswaja NU dari tingkat nasional hingga ke desa-desa. (Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Pondok Pesantren, Daerah, Sunnah Shautus Salam

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Shautus Salam sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Shautus Salam. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Shautus Salam dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock