Tampilkan postingan dengan label Santri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Santri. Tampilkan semua postingan

Rabu, 21 Februari 2018

UNU Indonesia Peringati Dies Natalis Pertama

Jakarta, Shautus Salam. Memperingati ulang tahun pertama yang bertepatan dengan bulan Ramadhan 1437 Hijriah, Universitas Indonesia (Unusia) menggelar sejumlah kegiatan. Adapun kegiatan yang digelar berupa seminar dan diskusi, khataman Al-Quran dan ditutup dengan buka puasa bersama.?

UNU Indonesia Peringati Dies Natalis Pertama (Sumber Gambar : Nu Online)
UNU Indonesia Peringati Dies Natalis Pertama (Sumber Gambar : Nu Online)

UNU Indonesia Peringati Dies Natalis Pertama

Kegiatan berlangsung dari pukul 14.00 sampai tiba waktu maghrib selama empat hari yakni dari Rabu hingga Sabtu, 15-18 Juni 2016 di Aula Utama Unusia, Jalan Taman Amir Hamzah, Menteng Jakarta Pusat.

Pada Rabu (15/6), seminar menghadirkan Rektor Unusia yang juga Wakil Ketua Umum PBNU, H Maksoem Machfoedz. Hari kedua, Kamis (16/6) menghadirkan Ceramah Islam Nusantara oleh HM Sulton Fatoni selaku Wakil Rektor II Unusia.?

Berikutnya, Jumat (17/6) seminar dan diskusi diisi oleh Aliuyanto, owner Solaria. Adapun Sabtu (18/6) sebagai puncak Dies Natalis menghadirkan Mamat S Burhanudin, Wakil Rektor I Unusia, yang akan menyampaikan materi Pembelajaran Efektif di Perguruan Tinggi.?

Ketua Badan Pelaksana Perguran Tinggi NU (BPPT NU) dan Wakil Rektor III Unusia, KH Mujib Qulyubi mengungkapkan, acara Dies Natalis di setiap harinya disertai dengan khataman Al-Quran sebagai ajang bagi seluruh civitas akademik untuk bersama-sama mendoakan Unusia. Selain itu juga untuk memohon keberkahan Allah STW, apalagi dalam bulan Ramadhan lebih lengkap apabila disertai dengan membaca Al-Quran.

Shautus Salam

Pembicara yang dihadirkan tidak hanya dari intern Unusia dan PBNU, tetapi juga dari kalangan pengusaha. Menurut Kiai Mujib bertujuan untuk mendekatkan mahasiswa dengan dunia enterpreneurship.

Shautus Salam

“Mahasiswa jangan hanya berpandangan setelah lulus menjadi pegawai atau karyawan, tetapi ditumbuhkan jiwa enterprenership-nya. Juga agar mahasiswa punya wawasan soal enterpreneruship agar ada solusi ekonomi saat dihadapkan pada kesulitan keuangan,” kata Kiai Mujib. (Kendi Setiawan/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Santri, Humor Islam, Hikmah Shautus Salam

Rabu, 07 Februari 2018

Soal HTI, Pemerintah RI Tidak Aniaya Agama Islam

Jakarta, Shautus Salam - Rais Syuriyah PBNU KH Ahmad Ishomuddin menanggapi pimpinan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang menganggap bahwa putusan pemerintah terkait pembubaran HTI sebagai bentuk perlawanan terhadap Islam.

“Pemerintah sama sekali tidak melawan dakwah Islam. Pemerintah Republik Indonesia tidak melawan agama Islam sama sekali. Yang dilawan adalah gerakan politik Hizbut Tahrir,” kata Kiai Ishom saat menjadi pembicara pada diskusi bertajuk “Khilafah dalam Pandangan Islam” di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Kamis (12/5).

Soal HTI, Pemerintah RI Tidak Aniaya Agama Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Soal HTI, Pemerintah RI Tidak Aniaya Agama Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Soal HTI, Pemerintah RI Tidak Aniaya Agama Islam

HTI, kata Kiai Ishomuddin, merupakan gerakan politik yang menggunakan simbol bendera putih dan hitam yang bertuliskan tauhid dengan menempuh jalan dakwah di negara Republik Indonesia.

Shautus Salam

Ia menambahkan, HTI seringkali mengatasnamakan umat Islam untuk mencapai tujuan-tujuan politiknya, yaitu menegakkan khilafah yang sifatnya internasional.

“Mereka ingin membuat sistem negara khilafah yang dipimpin khalifah mulai dari Sabang sampai Maroko, bukan Sabang sampai Merauke, tapi dari Sabang sampai Maroko,” terang Kiai Ishomuddin.

“Mereka menentang nation-state, negara bangsa,” tambahnya.

Shautus Salam

Diskusi ini dibuka oleh Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj. Kang Said menguraikan singkat sejarah Hizbut Tahrir dari mulai Palestina sampai masuk ke Indonesia. (Husni Sahal/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Santri, Doa Shautus Salam

Minggu, 21 Januari 2018

Kapolri Sutarman: Untung Gus Dur Tak Mengatakan Saya Presiden

Jakarta, Shautus Salam. Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Polisi Sutarman hadir di Ciganjur, Sabtu (28/12) malam dalam acara puncak haul KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) bersama sejumlah pejabat dan politisi penting negeri ini antara lain Akbar Tanjung, Prabowo Subianto, Djan Farid, dan Basuki Tjahaya Purnama.

Kapolri Sutarman: Untung Gus Dur Tak Mengatakan Saya Presiden (Sumber Gambar : Nu Online)
Kapolri Sutarman: Untung Gus Dur Tak Mengatakan Saya Presiden (Sumber Gambar : Nu Online)

Kapolri Sutarman: Untung Gus Dur Tak Mengatakan Saya Presiden

Jenderal Sutarman pernah menjadi Ajudan Prediden RI pada saat Gus Dur menjabat presiden. “Saat Gus Dur dilengserkan, semua orang pada menghindar, Pak Sutarman tetap setia mendampingi Gus Dur,” kata Yenny Abdurrahman Wahid saat menyampaikan sambutan atas nama keluarga.

Gus Dur menjabat sebagai presiden saat bangsa Indonesia sedang memasuki era demokrasi yang sebenarnya. Masyarakat dan mahasiswa mulai bebas menyampaikan aspirasinya di hadapan umum.

Shautus Salam

“Gus Dur telah mencanangkan era reformasi, dan saat itu polisi juga sedang belajar bagaimana mengawal masyarakat dan mahasiswa yang sedang menyampaikan aspirasinya,” kata Sutarman saat menyampaikan testimoninya.

Namun betapapun Gus Dur mengawal demokrasi dan terpilih secara demokratis, Gus Dur dijatuhkan dari kursi kepresidenan dengan cara yang menyakitkan. Paling tidak ini yang dirasakan para pengawal dan orang dekatnya. Namun kepada para polisi itu Gus Dur mengatakan, “Biarlah saya menjadi presiden Indonesia terakhir dijatuhkan. Jangan ada presiden setelah saya yang diturunkan di tengah masa jabatan,” kata Sutarman.

Shautus Salam

Dari sekian cerita Jenderal Sutarman, ada yang menarik disampaikannya. Ternyata benar, jauh-jauh hari Gus Dur telah meramalkannya kelak ia akan menjadi Kapolri.

“Gus Dur mengatakan bahwa saya akan menjadi Kapolda, lalu menjadi Kapolri. Padahal waktu itu menjadi Kapolda saja saya tidak kepikiran. Dan ternyata benar saya menjadi Kapolri sekarang. Untung saja Gus Dur waktu itu tidak mengatakan saya jadi presiden karena ucapan Gus Dur itu mandi (ampuh). Saya katakan karena di sini banyak wakil presiden,” katanya.

Ia melanjutkan, Gus Dur pernah memberikan ijazah (doa) kepadanya untuk diamalkan, dan menjelang pemilihan Kapolri doa itu dibacanya berulang-ulang. “Akhirnya Pak SBY bingung lalu memilih saya,” katanya disambut riuh ribuan jamaah yang memadati halaman kediaman keluarga Gus Dur, masjid Al-Munawwarah, komplek Yayasan Wahid Hasyim dan Pesantren Ciganjur, hingga ke lapangan dan jalan raya.

Sebelumnya dibacakan tahlil yang dipimpin oleh KH Aziz Masyhudi dari Denanyar Jombang. Ketua Umum dan mantan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj dan KH Hasyim Muzadi hadir bersama para jamaah untuk mendoakan Gus Dur. (A. Khoirul Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Olahraga, Santri, Tegal Shautus Salam

Rabu, 17 Januari 2018

Bang Muhyiddin Paling Disayang Gus Dur

Jakarta, Shautus Salam. Mendiang H Muhyiddin Arubusman adalah orang yang paling disayang dan dipercaya oleh KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Hal itu disampaikan oleh Awan PBNU H Imam Mudzakir saat ditanya Shautus Salam tentang sosok H Muhyiddin Arubusman yang meninggal Senin (10/) malam.?

“Almarhum adalah adalah orang yang sangat ikhlas dan menjunjung tinggi kejujuran. Karena keikhlasan dan kejujuran itulah yang membuat Bang Muhyiddin—sapaan akrab H Muhyiddin Arubusman—paling disayang dan dipercaya oleh Gus Dur,” kata H Imam di Halaman Gedung PBNU, setelah Selasa (11/4) pagi.

Bang Muhyiddin Paling Disayang Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Bang Muhyiddin Paling Disayang Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

Bang Muhyiddin Paling Disayang Gus Dur

Tentang kepercayaan dan rasa sayang Gus Gur kepada Bang Muhyidin, Imam menceritakan, saat itu ketika ia bersama Kiai Manarul Hidayat dan almarhum menemui Gus Dur dalam persiapan pembangunan gedung PBNU Kramat Raya.?

Dalam pembangunan gedung PBNU Kramat Raya, lanjutnya, Bang Muhyiddin adalah bendahara, sementara Kiai Manarul Hidayat sebagai ketua pembangunan. Pada pertemuan itu, Gus Dur meminta almarhum untuk menemui seseorang yang akan menjadi donatur, sekaligus mengambil uang dari donatur tersebut.?

“Besok kamu temui dan ambil uang untuk membantu pembangunan gedung PBNU,” kata H Imam menirukan ucapan Gus Dur kepada almarhum Bang Muhyiddin sembari menegaskan, “Gus Dur tidak akan ngasih kepercayaan kalau orang itu tidak jujur dan tidak ikhlas,” imbuhnya.

Shautus Salam

Di antara para sahabat, junior, senior, dan keluarga yang merasa kehilangan dengan wafatnya Bang Muhyiddin, H Imam juga adalah salah satu orang yang merasa sangat kehilangan dan tidak menyangka dengan kepergian almarhum yang tergolong cepat. Apalagi beberapa hari lalu, Bang Muhyiddin sempat meneleponnya, dan meminta untuk bertemu.

“Hari Sabtu beliau menelepon saya. Katanya ingin ketemu hari Senin. Kemarin nggak sempat ketemuan, ternyata begini (meninggal dunia). Kita saksikan bersama beliau orang baik dan mudah-mudahan amalnya diterima oleh Allah. Amin, Alfatihah,” tutup H Imam. (Kendi Setiawan/Abdullah Alawi)

Shautus Salam

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Santri Shautus Salam

Senin, 08 Januari 2018

PBNU Prihatin Konflik Sunni-Syiah di Irak

Jakarta, Shautus Salam. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj menyatakan keprihatinannya atas menguatnya konflik horisontal yang terjadi di Irak antara kelompok Sunni dan Syiah.

PBNU Prihatin Konflik Sunni-Syiah di Irak (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Prihatin Konflik Sunni-Syiah di Irak (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Prihatin Konflik Sunni-Syiah di Irak

“Irak merupakan negara seribu satu malam, sungguh memprihatinkan jika diantara kelompok masyarakat saling bertikai,” katanya, di gedung PBNU, Selasa (24/7).

Ia mengatakan, konflik yang terjadi saat ini, jika ditelusuri ke belakang, merupakan akibat dari invasi Amerika Serikat ke Irak tahun 2003 lalu, yang sampai saat ini telah menelan ratusan ribu korban dan menjadikan Irak tidak stabil.

Shautus Salam

“Saddam Hussein tidak disukai karena kediktatorannya, tapi penyerbuan yang diakibatkan oleh Amerika Serikat menelan korban yang jauh lebih banyak,” tandasnya.

Shautus Salam

Sebelum invasi tersebut, kata Said Aqil yang menyelesaikan doktornya di Arab Saudi, hubungan antara Sunni dan Syiah cukup baik, sebagaimana hubungan antara kedua kelompok tersebut di Lebanon. Beberapa waktu lalu, ia berkunjung ke Lebanon, dan dua orang yang menjemput adalah orang Sunni dan Syiah, yang menunjukkan hubungan yang baik antara dua kelompok tersebut.?

Karena itu, ia tidak setuju atas keterlibatan pihak asing dalam upaya mengatasi konflik sektarian ini. Upaya memfasilitasi diplomasi kelompok yang bertikai di dalam negeri Irak sendiri merupakan langkah paling tepat.?

Untuk menstabilkan Irak, Kang Said berpendapat, negara tersebut harus dipimpin oleh orang kuat yang mampu bertindak tegas, meskipun bukan berarti harus menjadi diktator seperti Saddam Hussein, tetapi stabilitas merupakan prioritas utama yang harus dipenuhi.

Sejumlah analis mengatakan, merebaknya konflik ini dipicu oleh ketidakmampuan PM Irak Nuri al Maliki dalam mengakomodasi kepentingan semua kelompok. Kabinet dan posisi penting pemerintahan Irak didominasi oleh kalangan Syiah dan meminggirkan kelompok Sunni. Kelompok Sunni dan suku-suku yang tersingkir akhirnya melakukan perlawanan, bergabung dengan gerilyawan Negara Islam Irak dan Mediterania (ISIL). Mereka telah merebut sejumlah kota penting seperti Mosul dan Tikrit serta terus bergerak maju menuju Bagdad. (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Meme Islam, Santri Shautus Salam

Rabu, 27 Desember 2017

22 Titik Kegiatan Safari Ramadhan PCNU Pringsewu Sukses Dilaksanakan

Pringsewu, Shautus Salam. Pada Ramadhan 1437 H ini PCNU Kabupaten Pringsewu berhasil menggelar Safari Ramadhan di 22 lokasi di 9 Kecamatan yang ada di Bumi Secancanan Bersenyum Manis ini. Hal tersebut disampaikan Ketua Tanfidziyyah PCNU Pringsewu H. Taufiqurrahim dalam Acara Penutupan Rangkaian Safari Ramadhan yang dipusatkan di Gedung NU Pringsewu, Ahad (4/7).

22 Titik Kegiatan Safari Ramadhan PCNU Pringsewu Sukses Dilaksanakan (Sumber Gambar : Nu Online)
22 Titik Kegiatan Safari Ramadhan PCNU Pringsewu Sukses Dilaksanakan (Sumber Gambar : Nu Online)

22 Titik Kegiatan Safari Ramadhan PCNU Pringsewu Sukses Dilaksanakan

Taufiq menjelaskan bahwa Safari Ramadhan pada tahun ini difokuskan untuk penguatan organisasi dan amaliyyah Ahlussunnah wal Jamaah bagi para pengurus NU di tingkatan MWC Kecamatan dan Ranting Pekon . "Kegiatan ini terdiri dari dua Gelombang. Gelombang pertama untuk jajaran pengurus Tanfidziyyah dan Gelombang kedua untuk Syuriyah," katanya.

Khusus pada gelombang Kedua yang dilaksanakan mulai pertengahan Ramadhan, Materi safari Ramadhan diisi juga dengan Sosialisasi Lembaga Amil Zakat Infaq Shadaqah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) Kabupaten Pringsewu. "Dalam sosialisasi tersebut juga dilakukan tanya jawab seputar Fiqh Zakat yang dipandu oleh Lembaga Bahtsul Masail PWNU Lampung," ujarnya.

Selain Safari di 9 MWC NU Kecamatan, PCNU juga mengadakan Jihad Sore atau Ngaji Ahad Sore yang merupakan rangkaian dari Safari Ramadhan di Gedung NU sebanyak 4 kali. "Jihad sore ini merupakan Kegiatan Rutin yang biasanya dilakukan pada pagi hari. Khusus pada Ramadhan kita laksanakan pada sore hari yang dilanjutkan dengan Buka Puasa Bersama dan Shalat Maghrib Berjamaah," tambahnya.

Taufiq berharap Kegiatan ini akan meningkatkan pemahaman dan kesemangatan para pengurus dilevel MWC dan Ranting untuk terus berkhidmah di Jamiyyah Nahdlatul Ulama. " Kita juga berharap Kegiatan Safari Ramadhan pada tahun mendatang akan lebih berkualitas sehingga berpengaruh signifikan terhadap perkembangan organisasi," harapnya.

Shautus Salam

Hadir pada acara penutupan tersebut Mustasyar PCNU Pringsewu KH Sujadi, Ketua MUI Kabupaten Pringsewu KH Hambali Segenap Pengurus PCNU, MWC NU, Badan Otonom dan Lembaga se Kabupaten Pringsewu. (Muhammad Faizin/Fathoni)

Shautus Salam

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam IMNU, Santri, Kiai Shautus Salam

Minggu, 17 Desember 2017

Festival Film Pendek untuk Peringati Hari Santri Nasional

Jakarta, Shautus Salam - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama akan mengadakan lomba film pendek untuk memperingati Hari Santri Nasional kedua dengan tema “Islam dan toleransi”. Panitia Peringatan Hari Santri Nasional Rumadi Amad mengatakan, festival tersebut untuk melihat bagaimana kreasi santri memvisualuasi tentang keislaman dan toleransi yang isu penting saat ini.

“Beberapa nominator akan difasilitasi pelatihan jadi sineas. Mereka akan diundang untuk bertemu dengan insan film,” katanya selepas rapat perdana peringatan HSN di gedung PBNU, Rabu (31/8).

Festival Film Pendek untuk Peringati Hari Santri Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)
Festival Film Pendek untuk Peringati Hari Santri Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)

Festival Film Pendek untuk Peringati Hari Santri Nasional

Kegiatan tersebut, kata Ketua Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (Lakpesdam), PBNU mengharapkan lahirnya generasi baru santri yang mempunyai kemampuan dalam dunia film.

“Ini kan dunia sudah berubah. Arena perjuangan NU sudah lain dari generasi sebelumnya. Cara perjuangannya pun tidak lagi dengan cara-cara konvensional, tapi dengan teknologi, di antaranya film,” jelasnya.

Shautus Salam

Untuk memperjuangkan nilai-nilah Islam Aswaja NU, lanjutnya, santri harus difasilitasi dalam dunia perfilman. Kalau tidak dilakukan, NU akan tertinggal dari organisasi-organisasi lain.

Rumadi menambahkan, sampai saat ini belum disusun ketentuan lomba tersebut, baik ketentuan waktu dan tata cara untuk peserta. Ketentuan tersebut akan segera diumumkan dalam waktu dekat. (Abdullah Alawi)

Shautus Salam

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Pahlawan, Santri Shautus Salam

Kampus, Medan Penguatan Kebangsaan

Majalengka, Shautus Salam. Saat ini dunia kampus merupakan medan untuk memperkuat nilai-nilai kebangsaan dan mengokohkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), bukan malah menjadi kawah candradimuka lahirnya kader-kader radikal dan anti-NKRI.

Hal itu diungkapkan Ketua Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor (PW GP Ansor) Jawa Barat, Deni Ahmad Haidar dalam Seminar Keagamaan bertema Modernitas dalam Presfektif Islam dalam Menciptakan Keutuhan NKRI, yang diselenggarakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Univeritas Majalenga, di Auditorium Universitas Majalengka, Jawa Barat, Sabtu (23/12).

Kampus, Medan Penguatan Kebangsaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kampus, Medan Penguatan Kebangsaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Kampus, Medan Penguatan Kebangsaan

Didaulat sebagai narasumber, Kang Deni sapaan akrabnya, menjelaskan betapa pentingnya mencintai tanah air sebagaimana yang dikumandangankan oleh founding father bangsa ini khususnya para kiai NU.

"Hakikat cinta tanah air itu adalah cinta pada diri kita sendiri. Karena adanya kita ini yang berasal dari tanah dan air yang ada di NKRI ini. Jadi salah besar mereka yang akan merusak tanah airnya sendiri, padahal mereka dilahirkan di negeri ini," jelasnya.

Ia menambahkan NKRI sudah bersyariat Islam dan tidak harus dipaksakan untuk memformalkan dalam embel-embel NKRI Bersyariat Islam. Sejak berdirinya semua unsur pembentuk NKRI itu sudah berdasarkan syariat Islam, mulai dasar negara, sistem negara maupun perundang-undangan yang ada.

"Mana coba di negeri tercinta ini yang tidak berlandaskan syariat Islam. Jadi semuanya sudah dipikirkan matang-matang oleh pendahulu kita bahwa subtansi syariat Islam sudah ada semua di NKRI ini. Makanya para pemuda khususnya mahasiswa ini jangan terjebak pada retorika baru yang tidak berdasar dan tidak jelas. Nanti yang rugi kita sendiri lho," kata pria yang yang belum lama ini mengundurkan diri dari posisi Ketua KPU Purwakarta demi mengurusi GP Ansor Jawa Barat.

Shautus Salam

Terkait dengan modernisasi, Deni menjelaskan modern harus dimaknai bukan sekedar simbol-simbol baru yang sesuai dengan perkembangan zaman. Melainkan modern itu harus dimaknai pada konsep diri untuk memandang jauh ke depan. Dengan konsep diri yang sudah terbangun tersebut, maka kita akan terus berfikit dan berusaha bagaimana menuju kehidupan yang lebih baik dan menjadi pemain bukan sekadar penonton.

"Untuk menjadi orang modern itu gampang kok. Manakala kita sudah bisa melakukan semua hal secara efektif dan efisien maka kita dipastikan jadi orang modern dan memainkan modernisasi saat ini," imbuhnya.

Ditempat yang sama, Presiden Mahasiswa BEM (Presma BEM) Universitas Majalengka, Encu Shobari mengatakan acara yang diselenggarakan dalam rangkaian memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW ini merupakan rutinan tahunan yang digagas oleh para pengurus BEM sebagai bagian dari pengamalan ide dan kreatifvitas mahasiswa.

"Seminar ini akhir dari rangkaian kegiatan Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang bejalan selama satu minggu ini," ungkapnya.

Shautus Salam

Ia menjelaskan sengaja mengadakan seminar keagamaan dengan mengangkat tema tersebut sebagai upaya dirinya dan organisasinya untuk memberikan kesadaran dan kekuatan bagi keluarga besar Unma dalam memahami dan mengaplikasikan pentingnya menjaga keutuhan NKRI walaupun dengan latar belakang yang berbeda baik dalam segi pandangan agama, sosial, ekonomi maupun budayanya.

"Dengan tema ini diharapkan kita semua paham dan mengamalkan betapa pentingnya menjaga NKRI walapun perspektif agama berbeda-beda dan dengan gaya modernitas yang berbeda. Semoga semua menjadi terbuka dan terjalin satu konsep untuh tentang kebangsaan di kampus tercinta ini," tambah pria yang juga aktivis PMII Majalengka. (Tata Irawan/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Budaya, Santri, PonPes Shautus Salam

Minggu, 10 Desember 2017

Perseroan yang Pungut Sumbangan Masyarakat Masuk Kategori Badan Publik

Tangerang, Shautus Salam. Dalam persidangan keempat di Pengadilan Negeri (PN) Tangerang, Mustolih Siradj (konsumen dan donatur Alfamart) selaku Tergugat II mengajukan saksi penting, yakni A. Alamsyah Saragih Ketua Komisi Informasi Pusat (KIP) angkatan pertama.

Dalam kesaksiannya, Alamsyah menyatakan, Perseroan yang memungut sumbangan kepada masyarakat masuk kategori sebagai Badan Publik. Hal tersebut sebagai konsekuensi pertanggungjawaban kepada publik meskipun entitas Perseroan adalah badan hukum yang seharusnya mencari laba (untung).

Perseroan yang Pungut Sumbangan Masyarakat Masuk Kategori Badan Publik (Sumber Gambar : Nu Online)
Perseroan yang Pungut Sumbangan Masyarakat Masuk Kategori Badan Publik (Sumber Gambar : Nu Online)

Perseroan yang Pungut Sumbangan Masyarakat Masuk Kategori Badan Publik

“Hal itu sebagai social control kepada penyelenggara sumbangan,” ujar Alamsyah, Jumat (17/3).

Maka itu, lanjutnya, Perseroan yang memungut sumbangan kepada masyarakat dapat dimintai data atau informasi oleh Donatur maupun masyarakat luas.

Alamsyah yang kini menjabat sebagai Komisioner Ombudsman Republik Indonesia (ORI) menambahkan, laporan Perseroan yang mengumpulkan sumbangan kepada Menteri Sosial tidak menggugurkan kewajibannya kepada publik

Shautus Salam

“Memberikan informasi seputar sumbangan. Begitu pula dengan yayasan atau lembaga yang mendapatkan atau menerima penyaluran donasi dari Perseroan tersebut juga menjadi Badan Publik,” tegas Alamsyah.

Shautus Salam

Alamsyah juga menyesalkan apabila ada Perseroan yang meminta sumbagan dari masyarakat tetapi kemudian uang sumbagan itu diklaim sebagai dana CSR (Corporate Social Responsibility) Perusahaan tersebut.?

“Sebab mengenai CSR aturannya sudah jelas diatur UU No. 40/2007 tentang Perseroan Terbatas Jo PP No. 47/2012, sumber dana CSR dari dana perusahaan bukan sumbangan,” jelasnya.

Alamsyah Saragih menguatkan Putusan KIP No. 011/III/KIP-PS/2016 yang menyatakan bahwa Alfamart (PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk) sebagai Badan Publik karena meminta sumbangan kepada masyarakat atau konsumen secara agresif, rutin, dan masif di seluruh Indonesia. Bahkan berkelanjutan selama bertahun-tahun dengan total donasi yang terkumpul hampir mencapai Rp100 miliar. (Kendi Setiawan/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Santri, Halaqoh Shautus Salam

Rabu, 06 Desember 2017

Puluhan Grup Hadrah Ramaikan Malam Raya Kolosal Lesbumi NU Ceper

Klaten, Shautus Salam. Menyambut malam Idul Adha, puluhan grup hadrah menyemarakkan kegiatan Takbir Kolosal yang diselenggarakan Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia (Lesbumi) MWCNU Ceper di Batur Ceper Klaten, Rabu (23/9).

Puluhan Grup Hadrah Ramaikan Malam Raya Kolosal Lesbumi NU Ceper (Sumber Gambar : Nu Online)
Puluhan Grup Hadrah Ramaikan Malam Raya Kolosal Lesbumi NU Ceper (Sumber Gambar : Nu Online)

Puluhan Grup Hadrah Ramaikan Malam Raya Kolosal Lesbumi NU Ceper

Menurut Sekretaris MWCNU Ceper Sriyanto, acara tahunan yang sudah berjalan ke-8 kalinya ini melibatkan 40 grup hadrah dan 850 personil.

“Kegiatan ini untuk silaturahmi ranting NU di kecamatan Ceper, sekaligus juga untuk nguri-uri (menghidupkan) kebudayaan ala Aswaja,” kata Sriyanto di sela-sela acara Takbir Kolosal.

Shautus Salam

Acara dibuka dengan sambutan dari Camat Ceper dan Ketua MWCNU Ceper H Ahmad Zaeni. Zaeni mengatakan, sebetulnya di kecamatan Ceper terdapat ratusan grup hadrah, namun kali ini hanya 40-an grup yang diundang, mengingat keterbatasan tempat.

Sementara itu, Ketua PCNU Klaten H Mujiburrahman memberikan apresiasi atas terselenggaranya acara ini. “Kita harus bangga menjadi warga NU, yang selalu ikut untuk menjaga kelestarian budaya,” tukasnya.

Shautus Salam

Di akhir acara, para peserta dan pengunjung mendengarkan ceramah dari Rais Syuriyah PCNU Klaten KH Mukhlis Hudaf. Di tengah ceramah, kiai juga membagikan sejumlah door prize kepada para pengunjung yang dapat menjawab pertanyaan yang ia ajukan. (Ajie Najmuddin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Nahdlatul Ulama, Humor Islam, Santri Shautus Salam

Senin, 04 Desember 2017

Menag Tak Mau Belajar dari Pengalaman Soal Katering Haji

Jakarta, Shautus Salam

Mantan Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) merasa heran terhadap Menteri Agama (Menag) Maftuh Basuni atas kasus keterlambatan katering makanan jamaah haji di Arofah dan Mina (Armina). Ia menilai, Menag seperti tak mau belajar dari pengalaman masa lalu dalam kaitannya penyelenggaraan ibadah haji.

"Maftuh itu kan orang lama belajar di Arab. Kok mau dibohongin orang Arab?" gugat Gus Dur usai Dialog Kebangsaan yang digelar oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) di Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta, Rabu (3/1) kemarin.

Menag Tak Mau Belajar dari Pengalaman Soal Katering Haji (Sumber Gambar : Nu Online)
Menag Tak Mau Belajar dari Pengalaman Soal Katering Haji (Sumber Gambar : Nu Online)

Menag Tak Mau Belajar dari Pengalaman Soal Katering Haji

Pasca kasus keterlambatan katering Armina, sejumlah kalangan mendesak agar Maftuh segera mengundurkan diri. Kebijakan haji tahun ini yang mengalihkan katering dari Muasasah ke perusahaan Ana for Development (AFD) telah menyengsarakan jamaah.

Kegagalan katering tersebut merupakan bentuk kecelakaan manajemen dalam pendistribusian makanan. Departemen Agama pun memutuskan akan kembali menggunakan katering Muasasah pada musim haji 2007 mendatang.

Dalam kesempatan yang sama, mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu juga merasa heran tentang misteri keberadaan AdamAir nomor penerbangan KI 574 yang hingga kini masih belum terkuak. Ia memertanyakan, dalam kondisi hutan Indonesia yang sudah gundul, mengapa masih pesawat nahas itu masih sulit ditemukan.

"Kok di tengah-tengah hutan Indonesia yang gundul, pesawat jatuh ke hutan nggak bisa keluar. Mari kita doakan agar pesawat itu bisa ditemukan," kata Gus Dur,” sindir Gus Dur.

Shautus Salam

Mengenai kesalahan informasi lokasi jatuhnya pesawat, menurut Gus Dur, disebabkan karena kurang koordinasi.

"Pesawat AdamAir sudah diberitahu letak jatuhnya, tapi waktu dilihat nggak ada. Saya lihat itu cuma kurang koordinasi saja. Tidak ada unsur kesengajaan, jadi tidak ada penyesatan. Kalau nggak tau ya mau diapain," pungkas Gus Dur. (rif)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam

Shautus Salam Santri, Nahdlatul, Makam Shautus Salam

Kamis, 30 November 2017

Tumbuhkan Semangat Kebersamaan, Pelajar NU Surabaya Gelar Halal Bihalal

Jakarta, Shautus Salam - Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) danIkatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kota Surabaya mengadakan halal bihalal di kantro PCNU Kota Surabaya, Ahad (31/7). Sedikitnya 100 peserta yang terdiri atas perwakilan PAC/PKPT IPNU-IPPNU di Surabaya dan beberapa alumni tampak hadir.

Salah satu alumni yang hadir antara lain H Syaihan, Ketua IPNU Surabaya periode 1989-1991.

Tumbuhkan Semangat Kebersamaan, Pelajar NU Surabaya Gelar Halal Bihalal (Sumber Gambar : Nu Online)
Tumbuhkan Semangat Kebersamaan, Pelajar NU Surabaya Gelar Halal Bihalal (Sumber Gambar : Nu Online)

Tumbuhkan Semangat Kebersamaan, Pelajar NU Surabaya Gelar Halal Bihalal

Ketua IPPNU Surabaya Arumi Maulida berharap jalinan silaturahmi antara PAC/PK dan PR tetap terjaga secara istiqomah bukan hanya pada momen halal bihalal, Ia Juga berharap kepada alumni agar bisa bertindak sebagai motivator bagi pengurus untuk meneruskan perjuangan dalam mengembangkan ajaran ahlus sunah wal jamaah an-nahdliyah di kalangan pelajar.

Sementara Ketua IPNU Surabaya Agus Setiawan menuturkan, pada momen halal bihalal ini selain untuk memupuk silaturahmi, terlebih antaralumni dan kader harus ada hubungan yang proporsional di masing-masing tingkatan agar bisa melakukan sebuah gerakan nyata.

Shautus Salam

“Tentunya yang harus dibagun terlebih dahulu adalah pondasi yang kokoh dengan semangat kebersamaan.”

Sementara Ketua PCNU Surabaya Dr H Achmad Muhibbin Zuhri mengatakan bahwa pelajar NU Surabaya harus lebih kreatif dan inovatif lagi untuk menarik minat kader di Kota Surabaya yang notabene kota metropolitan yang sangat heterogen.

Shautus Salam

“Selain fokus untuk mengasah dan mengembangkan kadar intelektualitas kader IPNU-IPPNU harus bisa lebih memaksimalkan sosial media misalnya FB, twetter, instragram sebagai penunjang eksistensi gerakan di kalangan pelajar-pelajar Surabaya,” tambahnya.

Sementara H Syaihan menuturkan bahwa IPNU-IPPNU harus lebih fokus dan intens lagi dalam mengembangkan potensi dan membekali kader yang ada di tingkatan bawah agar bisa membentengi dirinya dan juga pelajar-pelajar yang ada di Surabaya dari pengaruh paham-paham Islam radikal dan narkoba yang sudah masuk ke sekolah-sekolah dan meracuni generasi muda.

“Dinamika dan tantangan saat ini sangat berbeda dengan beberapa tahun silam, maka dari itu pengurus IPNU-IPPNU saat ini harus berjuang lebih keras lagi dalam memperkenalkan Islam ala Ahlus sunah wal jamaah An-Nahdliyah yang moderat kepada generasi muda yang ada di kota Surabaya,” jelasnya. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Santri, Ubudiyah Shautus Salam

Rabu, 29 November 2017

Saat Kang Said Rindu Pak Mahbub

Jakarta, Shautus Salam. “Buah tidak jauh dari pohonnya.” Demikian pepatah bijak mengatakan. Kelakuan baik dan buruk anak membebek pada orang tuanya. Kuda terbang memang takkan melahirkan kuda lumping, tetapi kuda pacu tak terkalahkan pun masuk di akal. Namun, buaya boleh jadi memperanakkan kadal.

Sedikit-banyaknya tentu jamak. Kalau banyak kebaikan yang ditiru, tentu kita bersyukur. Tetapi kalau terlalu banyak keburukan dicontoh, maka pening akan mendera isi batok kepala tetangga seisi kampung.

Benar-tidaknya pepatah di atas, Wallahu A‘lam. Tetapi sekurang-kurangnya kebenaran itu berlaku bagi mantan Ketua II PBNU (1979) almarhum Mahbub Djunaidi.

Saat Kang Said Rindu Pak Mahbub (Sumber Gambar : Nu Online)
Saat Kang Said Rindu Pak Mahbub (Sumber Gambar : Nu Online)

Saat Kang Said Rindu Pak Mahbub

Ia seorang kolumnis cap jempol yang menjadi rujukan utama bagi para penulis di Indonesia. Karyanya tersebar di harian Duta Masyarakat, Warta NU, dan sejumlah koran nasional lainnya. “Tulisannya kritis dan berbobot,” kata Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj. 

Kang Said menyatakan kerinduannya pada Mahbub saat menerima kru Shautus Salam di Kantor PBNU Lantai 3, Jakarta Pusat, Senin (18/3) petang. Kru Shautus Salam yang didampingi dua pendirinya Masduki Baidlowi dan Abd. Munim DZ, menyampaikan akan menggelar harlah ke-10. "Shautus Salam harus ada yang seperti Pak Mahbub dong. Ya minimal ditiru istiqomahnya, kalau tidak bisa meniru kualitasnya," pinta Kang Said disambut tertawa kru Shautus Salam.

Mahbub kerap melihat pemerintah di masanya tersasar. Ia cepat-cepat menuntun tangan pemerintah. Seperti membimbing orang buta menyeberang jalan, ia tak ingin pemerintahnya tercinta mendapat celaka akibat disambar pengendara liar atau terjerumus masuk lubang jalan. Baginya, kalau pemerintah salah-salah ambil keputusan maka selain pemerintah, rakyat pun menerima getahnya.

Shautus Salam

Berhubung orang tuanya (KH Muhammad Djunaidi) bukan tukang pukul, jawara pasar, tukang jagal, atau yang dapat dipersamakan dengan itu, maka Mahbub tidak mewarisi main lempar sekepal batu ke halaman kantor pemerintah.

Shautus Salam

Ia pun tidak pergi kemana-mana. Ia cukup duduk menghadap meja ketik, lalu merampungkan satu-dua halaman kolom untuk dikirim ke surat kabar. Kolomnya yang “menyentil” menjadi jurus andalannya.

Kalau ada peraturan atau undang-undang yang terselip lecak di saku baju safari pejabat, maka satu judul kolomnya segera tercetak di sebuah harian yang akan diketahui banyak orang. Hal ini dimaksudkan agar pikiran masyarakat dan pemerintah menjadi enteng; enak makan dan gampang tidur.

“Nafas kolomnya selalu pro rakyat. Namun, ungkapan-ungkapannya yang humroris kerap membuat pembaca tertawa tiba-tiba,” tambah Kang Said.

Misalnya terkait tradisi kasak-kusuk anggota parlemen baik di masa Orde Lama maupun Orde Baru, Mahbub mengungkapkan ketidaksetujuannya dalam majalah Tempo 1975 (5/4), “Maka ada kabinet kerja di bawah PM Djuanda itu, teriring semboyan: ‘Sedikit bicara, banyak kerja.’ Semua orang yang bermodal mulut semata-mata menyempit lapangannya. Bursa mulut turun, dan keringat naik derajat. 

Kegaduhan sedikit demi sedikit berkurang, orang makin lama bicara makin pelan, sehingga mau tidak mau coraknya berganti jadi kasak-kusuk. Padahal, ditilik dari sudut kebajikan, omong besar dan kasak-kusuk sama-sama bukan tabiat yang layak dipuji, seperti halnya orang kegemukan atau kekurusan.

Melihat gelagat ini, semboyan ditinjau kembali. Bukannya ‘Sedikit bicara banyak kerja,’ melainkan ‘Banyak bicara banyak kerja.’ ‘Akur,’ kata KH Idham Chalid waktu itu. Mengapa? Sebab, bicara saja tanpa kerja itu namanya beo. Bekerja saja tanpa bicara itu namanya maling. Perumpamaan ini membuat para pendengar tertawa terpingkal-pingkal, baik yang merasa dirinya memang beo, atau yang merasa dirinya memang maling.”

Mahbub meyakini perihal setuju-tidak sebagai hak. Kalau setuju, pemerintah perlu dijunjung tinggi seperti tetangga baru pulang naik haji. Kalau tidak setuju, jidat pemerintah tidak harus dijatuhkan palu godam. Menjewer telinga pemerintah pun tidak. Ia menemukan nalar kritis namun humoris dari kebiasaan para kiai berhadapan dengan pemerintah.

Lantaran keturunan baik-baik, jalan memutar yang dipilih Mahbub adalah mengajak pemerintah bicara baik-baik lewat surat kabar. Karena, ia saat itu yakin bahwa pejabat pemerintah merupakan pelanggan setia koran yang dibacanya saban pagi barang semenit sebelum menuju kantor.

Penulis: Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Tegal, Santri Shautus Salam

Sabtu, 25 November 2017

Itikaf Ibadah yang Dianjurkan di Bulan Ramadhan

Itikaf adalah salah satu ibadah yang dianjurkan selama Ramadhan. Sebagaimana yang dilaksanakan oleh Rasulullah saw.

Hadits Aisyah ra. menerangkan:



عَنْ عَائِشَةَ اَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الْاَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللهُ ثُمَّ اعْتَكَفَ اَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ 

Itikaf Ibadah yang Dianjurkan di Bulan Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)
Itikaf Ibadah yang Dianjurkan di Bulan Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)

Itikaf Ibadah yang Dianjurkan di Bulan Ramadhan

Dari Aisyah r.a, isteri Nabi s.a.w, meneuturkan: “sesungguhnya Nabi s.a.w, melakukan I’tikaf pada sepuluh hari terakhir bukan Ramadhan hingga Beliau wafat, kemudian isteri-isterinya mengerjakan I’tikaf sepeniggal Beliau”. (Hadits Shahih, riwayat al-Bukhari: 1886 dan Muslim: 2006

Shautus Salam

I’tikaf secara bahasa memiliki arti menetapi suatu kebaikan atau kejelekan, dan secara ilmu fiqh berdiam diri dalam masjid dengan ketentuan-ketentuan tertentu, diantara ketentuan tersebut adalah; pertama orang yang melakukan I’tikaf adalah orang islam, maka i’tikaf yang dilakukan oleh orang selain beragam islam itu hukumnya tidak sah (batal). Kedua, berakal sehat, Apabila mu’takif itu gila atau terserang penyakit epilepsy maka batal (tidak sah) I’tikafnya. Ketiga orang jyang beri’tikaf (mu’takif) harus dalam keadaan suci dari haid dan nifas bagi seorang perempuan, dan suci dari perbuatan-perbuatan yang menyebabkan diwajibkannya mandi junnub.

Adapun rukun i’tikaf yang harus dipenuhi adalah; pertama Niat untuk untuk berdiam diri di dalam masjid, dan bagi mereka yang bernadzar untuk I’tikaf, maka diwajibkan baginya untuk mengucapkan kata fardu di dalam niat I’tikafnya. Dan kedua berdiam diri dalam masjid dalam rentang waktu lebih dari lamanya thumaninah dalam sholat.

Selain syarat dan rukun yang harus dijaga, hendaknya  bagi mereka yang beri’tikaf memperhatikan beberapa pantangan yang dapat membatalkan I’tikaf. Diantaranya bersetubuh dengan istri

Shautus Salam



وَلَا تُبَا شِرُوْهُنَّ وَاَنْتُمْ عَاكِفُوْنَ فِى الْمَسْجِدِوَتِلْكَ حُدُوْدُاللهِ فَلَا تَقْرَبُوْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللهُ ءَايَتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُوْنَ 

…dan janganlah kalian campuri mereka (isterimu) itu, sedang kalian sedang dalam keadaan I’tikaf di ,asjid, itulah ketentuan Allah, maka janganlah kalian mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia agar bertaqwa”. (QS. Al-Baqarah, 2:187)

Kedua, keluar dari masjid tanpa udzur atau halangan yang dibolehkan syariat. Tetapi bila keluar dari masjid karena ada udzur, misalnya buang hajat atau air kecil dan yang serupa dengan itu, tidak membatalkan I’tikaf. Diperbolehkan keluar dari masjid karena mengantarkan keluarga ke rumah, atau untuk mengambil makanan di luar masjid, bila tidak ada yang mengantarkannya. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan Aisyah r.a:



 Ø¹ÙŽÙ†Ù’ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ النَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اِذَا اعْتَكَفَ يُدْنِي اِلَيَّ رَاْسَهُ فَاُرَجِّلُهُ وَكَانَ لَا يَدْخُلُ الْبَيْتَ اِلَّا لِحَاجَةِ الْاِنْسَانِ

Dari Aisyah r.a, menuturkan, Nabi s.a.w, apabila beri’tikaf, Beliau mendekatkan kepalanya kepadaku, lalu aku sisir rambutnya, dan Beliau tidak masuk rumah kecuali untuk keperluan hajat manusia (buang air besar atau buang air kecil)”. (Hadits Shahih, riwayat al-Bukhari: 1889 dan Muslim: 445).

Mengenai waktu I’tikaf bisa dilakukan di setiap waktu, tetapi waktu yang sangat dianjurkan untuk beri’tikaf adalah pada malam sepuluh terakir dari bulan Ramadlon. Dengan alasan sebagai usaha untuk mencari dan menemukan malam lailatul qadar yang memiliki keistimewaan 1:1000 keistimewaan bulan selain bulan Ramadlon, oleh karena itu I’tikaf pada saat-saat itu sangat dianjurkan. 



عَنْ عَائِشَةَ اَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الْاَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللهُ ثُمَّ اعْتَكَفَ اَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ 

Dari Aisyah r.a, isteri Nabi s.a.w, meneuturkan: “sesungguhnya Nabi s.a.w, melakukan I’tikaf pada sepuluh hari terakhir bukan Ramadhan hingga Beliau wafat, kemudian isteri-isterinya mengerjakan I’tikaf sepeniggal Beliau”. (Hadits Shahih, riwayat al-Bukhari: 1886 dan Muslim: 2006)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Santri, AlaNu Shautus Salam

Rabu, 22 November 2017

Hukum Menerima THR dari Non-Muslim

Assalamu ‘alaikum wr. wb. Pak ustadz, saya adalah seorang karyawan di sebuah perusahaan swasta di Jakarta, dan tinggal beserta anak-istri di sebuah rumah yang sederhana. Kami memiliki tetangga non-muslim yang berkecukupan dan sangat baik. Setiap menjelang lebaran tetangga saya yang non-muslim itu membagi-bagikan sarung, sirup, dan sembako bahkan uang kepada kami yang muslim.

Dia selalu bilang: “Ini THR dari kami, mohon diterima dengan baik meski seadanya”. Saya sering kali ragu untuk menerimanya karena yang memberikan adalah orang non-muslim. Yang ingin saya tanyakan adalah bagaimana hukumnya menerima THR dari orang non-muslim? Mohon kiranya pak ustadz memberikan penjelasan hukumnya. Atas penjelasannya saya ucapkan terimakasih. Dedy/Jakarta          

Jawaban

Hukum Menerima THR dari Non-Muslim (Sumber Gambar : Nu Online)
Hukum Menerima THR dari Non-Muslim (Sumber Gambar : Nu Online)

Hukum Menerima THR dari Non-Muslim

Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah swt. Setelah mencermati pertanyaan di atas, kami berkesimpulan bahwa THR yang diberikan orang non-muslim tersebut pada dasarnya masuk dalam kategori hadiah. Karena pemberian tersebut tanpa konpensasi. Maka sebelum menjawab pertanyaan tersebut kami akan menjelaskan sedikit tentang hukum memberikan hadiah.

Shautus Salam

Pada dasarnya hukum memberikan hadiah adalah sunnah, karena hadiah bisa memberikan efek positif. Yaitu menumbuhkan welas-asih dan menjauhkan permusuhan. Hal ini sebagaimana dikemukakan oleh al-Qurthubi.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ?

Shautus Salam

“Hukum hadiah itu disunnahkan, dan hadiah itu bisa mewariskan kasih sayang dan menghilangkan permusuhan. Imam Malik telah meriwayatkan dari ‘Atha` bin Abdillah al-Khurasani, ia berkata, bahwa Rasulullah saw telah bersabda, Hendaknya kalian saling bersalaman maka kedengkian akan sirna, dan hendaknya kalian saling memberi hadiah maka kalian akan saling menyayangi satu sama lainnya dan permusuhan akan sirna”.(Al-Qurthubi, al-Jami’ li Ahkam al-Qur`an, Kairo-Dar al-Kutub al-Mishriyyah, cet ke-2, 1384 H/1964 M, juz, 13, h. 199).

Sampai disini sebenarnya tidak ada persoalan. Namun kemudian muncul persoalan sebagaimana pertanyaan di atas. Yaitu, bagaimana jika yang memberikan hadiah adalah orang non-muslim?

Imam Bukhari pakar hadits terkemuka dan hadits riwayatnya diakui paling shahih di antara riwayat-riwayat ahli hadits yang lainya, dalam kitab Shahih-nya menulis bab khusus mengenai qabul al-hadiyah min al-musyrikink (kebolehan menerima hadiah dari non muslim).

Dalam bab ini Imam Bukhari menyuguhkan beberapa hadits yang menunjukkan kebolehan menerima hadiah dari non-muslim. Di antaranya adalah:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? --? ?

“Said berkata, dari Qatadah dari Anas ra, sesungguhnya Ukaidira Dumah pernah memberikan hadiah kepada Nabi saw”. (HR. Bukhari).

Hadits lain yang juga bisa dijadikan dasar hukum kebolehan menerima hadiah dari orang non-muslim adalah hadits riwayat at-Tirmidzi yang mengisahkan bahwa Salman al-Farisi pernah memberikan hadiah kepada Rasulullah saw berupa ruthab (kurma basah). Pada saat Salman al-Farisi memberikan hadiah tersebut, ia belum masuk Islam. Hal ini sebagaimana dikemukakan oleh Zainuddin al-‘Iraqi:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Di dalam hadits tersebut mengandung pengertian kebolehan menerima hadiah dari orang kafir. Sebab, Salman al-Farisi ketika memberikan hadiah kepada Rasulullah saw belum masuk Islam. Ia masuk Islam setelah mengentahui tiga tanda kenabian yaitu penolakan Rasulullah saw terhadap shadaqah (zakat), memakan hadiah, dan khatam an-nubuwwah. Hanya saja Salman al-Farisi ra melihat khatam an-nubuwwah setelah Rasulullah saw menerima hadiahnya”. (Zainuddin al-‘Iraqi, Tharh at-Tatsrib fi Syrah at-Taqrib, Bairut-Mu`assah at-Tarikh al-‘Arabi, tt, juz, 4, h. 40).

Penjelasan singkat ini jika ditarik ke dalam kontesk pertanyaan di atas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa hukum menerima THR dari orang non-muslim adalah boleh sebagaimana bolehnya menerima hadiah dari orang non-muslim.

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan, semoga bermanfaat. Dan saran kami adalah hargailah pemberian orang lain meski tidak seiman, hormati keyakinan orang lain, balasalah perbuatan baik orang lain dengan kebaikan pula. Karena, tiada balasan kebaikan kecuali kebaikan pula. (Mahbub Ma’afi Ramdlan)         

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Bahtsul Masail, Santri Shautus Salam

Selasa, 14 November 2017

Penumpang Bayar Separoh ketika Kecewa

Transportasi massal yang disebut juga dengan angkutan umum sangat menunjang urat nadi kehidupan sebuah kota. Bagaimana transportasi itu mengangkut para karyawan dari satu titik pasif (tempat istirahat) menuju titik aktif (tempat bekerja) dan begitu sebaliknya. Menghantarkan kembali mereka dari tempat kerja ke tempat peristirahatan mereka untuk bekerja lagi esok hari.

Di kota-kota besar semisal Jakarta ada banyak macam transportasi massal yang dapat dipilih dengan bebas sesaui kemauan dan kemampuan masyarakat. Ada angkot (mikrolet), ada bus (seperti Kopaja, Metromini, Bus Trans Jakarta dll), ada taksi, ada motor atau ojek dan ada juga Kereta Api. Tentunya masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Namun demikian semuanya harus tanduk pada aturan yang berlaku. Aturan yang mengatur hak dan kewajiban penumpang (selaku pengguna jasa), sopir (selaku pekerja) dan juga perusahaan angkutan (selaku pemilik).

Selaku pengguna jasa penumpang harus menta’ati aturan main yang berlaku. Harus bayar sesuai tarif, ikut menjaga fasilitas, tidak boleh merusak dan lain sebagainya. Sebagaimana keterangan Imam Abu Ishaq Asy-Syairazi dalam kitabnya Al-Muhaddzab menjelaskan,

Penumpang Bayar Separoh ketika Kecewa (Sumber Gambar : Nu Online)
Penumpang Bayar Separoh ketika Kecewa (Sumber Gambar : Nu Online)

Penumpang Bayar Separoh ketika Kecewa

وللمستأجر Ø£Ù? Ù? ستوفى مثل المÙ? فعة المعقود علÙ? ها بالمعروف لأÙ? إطلاق العقد Ù? قتضÙ? المتعارف والمتعارف كالمشروط

Bagi pengguna jasa untuk menggunakan fasilitas sesuai dengan kapasitasnya, karena ketentuan akad pengguna jasa harus mengikuti aturan umum yang berlaku, karena ketentuan umum yang berlaku menjadi syarat yang harus dipenuhi oleh pengguna jasa.

Demikian pula dengan sopir selaku pekerja harus bertindak sesuai dengan aturan pula. Sopir harus faham berapa batas maksimal penumpang yang boleh diangkutnya, jangan sampai terjadi over load. Sopir tidak boleh menaikkan penumpang dari batas yang telah ditentukan. Karena hal itu dapat menyebabkan penumpang kehilangan haknya. Yaitu hak merasa nyaman dalam angkutan (daam ukuran masyarakat kita minimal dapat berdiri santai dengan dua kaki).

Shautus Salam

Hal ini perlu diperhatikan mengingat masalah ini berkaitan dengan عقد الإجارة (akad sewa menyewa) maka harus sesuai dengan adat yang berlaku, dalam pemberian kenyamanan dan fasilitas bagi penumpang. Dalam kitab Al-Bajuri terdapat keterangan berikut,

ÙˆÙ? لزمهم امتثال أمره فÙ? جب علÙ? هم طاعته فÙ? ما Ù„Ù? س بحرام ولا مكروه Ù…Ù? مسÙ? ÙˆÙ? وكذا مباح Ø¥Ù? كاÙ? فÙ? Ù‡ مصلحة عامة

Shautus Salam

Wajib bagi rakyat untuk mentaati aturan pemimpin (pemerintah) selama perintah tersebut tidak menyangkut sesuatu yang haram atau makruh, dan terdapat kemaslahatan umum pada aturan-aturan tersebut.

Akan tetapi jika sopir telah bertindak menyalahi standar operasional dengan menaikkan terlalu banyak penumpang, sehingga memaksa penumpang berdesak-desakkan dengan tidak wajar, maka pemerintah perlu mengkaji ulang aturan yang memungkinan penumpang membayar dengan saparoh harga ketika dalam keadaan yang tidak nyaman. Wallahu a’lam bis shawab. (Pen. Fuad H & Ulil H/Red. Uil H )

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Nahdlatul Ulama, Santri Shautus Salam

Minggu, 12 November 2017

Besok, Ada Jazz di Haul Ke-22 H. Mahbub Djunaidi

Jakarta, Shautus Salam



Pengurus Komisariat Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) STAINU Jakarta bersama Omah Aksoro akan memperingati haul Ketua Umum pertama Pengurus Besar PMII H. Mahbub Djunaidi di kampus UNUSIA Jl. Taman Amir Hamzah 05, Jakarta, Kamis (5/10).

Pada haul ke-22 ini, panitia mempersembahkan Mahbubian Ngejazz dengan mengundang Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi untuk membaca manakib H. Mahbub Djunaidi. Sementara Syahrizal Syarif, Sulton Fatoni, Dwi Winarno, Fatkhu Yasin, Fariz Alniezar, dan Amsar A. Dulmanan akan membacakan esai-esai Mahbub Djunaidi.

Besok, Ada Jazz di Haul Ke-22 H. Mahbub Djunaidi (Sumber Gambar : Nu Online)
Besok, Ada Jazz di Haul Ke-22 H. Mahbub Djunaidi (Sumber Gambar : Nu Online)

Besok, Ada Jazz di Haul Ke-22 H. Mahbub Djunaidi

Adapun Jazz Performance akan dibawakan Yuri Mahatma Mahbub Djunaidi, Isfandri Mahbub Djunaidi, dan Lingga Binangkit  ‘Band’, lalu ada penampilan Beben Jazz & komunitas  Jazz Kemayoran. 

Pada kesempatan itu akan diselingi pula dengan peluncuran buku Bung; Memoar Mahbub Djunaidi karya putranya, Isfandiari Mahbub Djunaidi.

Shautus Salam

“Jadi, nanti esai-esai Pak Mahbub, termasuk manaqibnya, itu kita dibacakan di sana kemudian ditambah permainan musik jazz dari putra-putra beliau,” kata penanggung jawab acara Fariz Alniezar saat ditemui Shautus Salam di lantai 3 PBNU, Jakarta Pusat, Rabu (4/10).

Menurut Fariz, gagasan hal yang dikemas dengan penampilan jazz sebetulnya sudah didiskusikan setahun lalu dengan para penikmat esai-esai seusai haul Mahbub ke-21. 

“Ada kepikiran mau bikin event Mas Yuri ditandemkan dengan Mas Isfan, tapi karena ada kendala teknis jadi, wngak jadi. Nah, konsep itu kita adopsi untuk kita ambil tema tahun ini,” urai pria berkacamata ini.

Shautus Salam

Fariz menjelaskan, balutan musik jazz pada haul ini ingin menyampaikan pesan tentang nilai demokrasi yang ditulis Mahbub di salah satu kolomnya tahun 75 di Tempo. 

“Jadi kalau pengen melihat demokrasi ya melihat musik jazz. Masing-masing bisa mengakomodir kepentingan pribadi tanpa menyalahi prinsip-prinsip aturan bermusik, tanpa menyalahi hak-hak orang lain, tanpa mengganggu  pemain-pemain lain yang penting harmoninya dapat,” terangnya. 

Kegiatan itu dimulai setelah dhuhur untuk mengakomodir sahabat-sahabat PMII Jakarta dengan disediakan panggung apresiasi. Setelah maghrib dilanjut pembacaan tahlil. Lalu puncaknya selepas salat isya. (Husni Sahal/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Santri Shautus Salam

Sabtu, 11 November 2017

Ketawadhuan Gus Mus, Duduk Bersimpuh di Bawah Quraish Shihab

Jakarta, Shautus Salam. Pemandangan menyejukkan terlihat ketika KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) kedatangan Mufassir tersohor Indonesia Prof HM. Quraish Shihab, Sabtu (24/12) di Rembang.?

Ketawadhuan Gus Mus, Duduk Bersimpuh di Bawah Quraish Shihab (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketawadhuan Gus Mus, Duduk Bersimpuh di Bawah Quraish Shihab (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketawadhuan Gus Mus, Duduk Bersimpuh di Bawah Quraish Shihab

Setelah menyambut kedatangan Prof Quraish dan keluarga besarnya, Gus Mus memeluk erat kemudian menggandeng Prof Quraish menuju ruang tamu. Gus Mus mempersilakan mantan Menteri Agama itu duduk di kursi yang ia pinjem dari tetanggnya.?

Namun, Gus Mus sendiri tiba-tiba bersimpuh di lantai yang beralaskan karpet sama seperti anggota keluarga yang lain. Gus Mus memang sudah menganggap Prof Quraish sebagai gurunya sendiri.

"Maaf, saya tidak biasa dan tidak punya kursi. Jadi saya pinjam tetangga, biar Om Quraish betah dan nyaman di sini," ujar Gus Mus. Ketika sama-sama tinggal di Mesir dulu, Gus Mus memanggilnya Om Quraish. Hal ini diterangkan oleh salah satu menantu Gus Mus, Wahyu Salvana dalam akun facebook miliknya, Ahad (25/12).

“Kami yang mendengarnya pun tertawa, termasuk Habib Quraish,” terang Wahyu.

Shautus Salam

Wahyu menjelaskan, setelah Prof Quraish duduk, Abah (panggilan Wahyu kepada Gus Mus) langsung ndeprok (bersimpuh) di sebelah kiri di bawah Prof Quraish.?

“Habib Quraish lalu mempersilahkan Abah duduk di kursi di sebelah kirinya. Selama duduk bersebelahan, Abah pun terus memegang tangan beliau. Sungguh, pemandangan dan pelajaran yang luar biasa dari orang yang luar biasa,” ujarnya.

Senada, salah satu putri Gus Mus, Ienas Tsuroiya yang juga kakak ipar Wahyu Salvana menuturkan, semula Abah (Gus Mus) bertahan dalam posisi ndeprok. “Seperti kami semua, menanti hikmah dari mufassir yang alim ini,” ujar Ienas lewat akun twitter miliknya @tsuraoiya.

Lalu, lanjut Ienas, Pak Quraish minta ditemani duduk di kursi, dengan berkata, "Anda ikut duduk di sini, atau saya yang nyusul duduk di bawah."?

Shautus Salam

“Akhirnya Abah pun ikut duduk di kursi,” jelasnya. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Santri, Doa, Ubudiyah Shautus Salam

Sabtu, 04 November 2017

Fatayat NU Brebes Dampingi 6 Desa Siaga Aktif

Brebes, NU Online . Pengurus Cabang (PC) Fatayat NU Brebes dengan gencar mensosialisasikan Desa Siaga Aktif (DSA). Sebanyak enam desa di dua kecamatan se Kabupaten Brebes menjadi target ladang pendampingan? program yang harus diselesaikan Fatayat NU Brebes.

Fatayat NU Brebes Dampingi 6 Desa Siaga Aktif (Sumber Gambar : Nu Online)
Fatayat NU Brebes Dampingi 6 Desa Siaga Aktif (Sumber Gambar : Nu Online)

Fatayat NU Brebes Dampingi 6 Desa Siaga Aktif

Ketua PC Fatayat NU Brebes Mukminah mengatakan, DSA bertujuan terwujudnya masayarakat yang peduli dan tanggap terhadap masalah-masalah kesehatan di lingkungan sekitarnya.

“DSA, merupakan salah satu indikator dalam Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan,” tuturnya di sela kegiatan Sosialisasi DSA di Balai Desa Mundu, Kecamatan Tanjung, Brebes, Senin (21/10).

Shautus Salam

Mukminah menjelaskan, DSA merupakan desa yang penduduknya dapat mengakses dengan mudah pelayanan kesehatan dasar yang memberikan pelayanan setiap hari melalui Pos Kesehatan Desa (Poskesdes), Puskesmas, Pembantu Puskesmas atau sarana kesehatan lainnya yang ada di wilayah tersebut. Selain itu, penting juga bagi masyarakatnya untuk menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). ?

Perilaku PHBS, lanjutnya, dapat terlihat bila tercapai 10 indikator PHBS rumah tangga. Yakni persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan, memberi bayi ASI Eksklusif, menimbang balita setiap bulan, menggunakan air bersih, mencuci tangan dengan air bersih dan sabun, menggunakan jamban yang sehat, memberantas jentik di rumah sekali seminggu, makan sayur dan buah setiap hari, melakukan aktifitas fisik setiap hari, dan tidak merokok di dalam rumah.

Shautus Salam

Keenam desa yang jadi garapan meliputi Desa Mundu, Kemurang Wetan dan Sengon di Kecamatan Tanjung, Desa Tegalgandu, Sawojajar dan Wanasari di Kecamatan Wanasari. “Brebes, dalam kategori Unicef ada 47 persen yang mengalami kekurangan gizi akibat dari rendahnya PHBS,” tutur Mukminah.

Kegiatan Sosialisasi diikuti para anggota dan pengurus di desa tersebut, Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa, PKK, Perangkat Desa, aktifitas desa yang bersangkutan. Tindak lanjut dari kegiatan sosialisasi ini adalah adanya kesepakatan untuk membuat Surat Keputusan Kepala Desa tentang Forum Kesehatan Desa dan Pusat Informasi Kesehatan Reproduksi (Piker).

Sosialisasi juga disampaikan bagian promosi kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten Brebes dan Puskesmas Tanjung dan Wanasari. Kegiatan ini sebagai implementasi MoU yang telah disepakati antara Pimpinan Pusat Fatayat NU dengan Pusat Promosi Kesehatan Kementerian Kesehatan RI. (Wasdiun/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Ulama, Santri Shautus Salam

Kamis, 02 November 2017

Islam dan Orientasi Ekonomi

Oleh KH Abdurrahman Wahid. Dalam pandangan Islam, tujuan hidup perorangan adalah mencari kebahagian dunia dan akhirat yang dicapai melalui kerangka peribadatan kepada Allah Swt. Terkenal dalam hal ini firman Allah melalui kitab suci al-Qurân: “Tidak Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah kepada Ku (wa mâ khalaqtul-jinna wal-insâ illâ liya’budûni)” (QS. adz-Dzâriyât [51]:56). Dengan adanya konteks ini, manusia selalu merasakan kebutuhan akan Tuhan, dan dengan demikian ia tidak berbuat sesuka hati. Karena itulah, akan ada kendali atas perilakunya selama hidup, dalam hal ini adalah pencarian pahala/ kebaikan untuk akhirat, dan pencegahan sesuatu yang secara moral dinilai buruk atau baik di dunia. Karena itulah doa seorang muslim yang paling tepat adalah “Wahai Tuhan, berikan kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat (rabbanâ âtinâ fîd-dunya hasanatan wa fîl-âkhirati hasanatan)” (QS. al-Baqarah [2]:201).

Yang digambarkan di atas adalah kerangka mikro bagi kehidupan seorang Muslim di dunia dan akhirat. Hal ini adalah sesuatu yang pokok dalam kehidupan seorang manusia, yang disimpulkan dari keyakinan akan adanya Allah dan bahwa Nabi Muhammad Saw adalah utusan-Nya. Tanpa kedua hal pokok itu sebagai keyakinan, secara teknis dia bukanlah seorang muslim.

Islam dan Orientasi Ekonomi (Sumber Gambar : Nu Online)
Islam dan Orientasi Ekonomi (Sumber Gambar : Nu Online)

Islam dan Orientasi Ekonomi

Karena manusia adalah bagian dari sebuah masyarakat, maka secara makro ia adalah makhluk sosial yang tidak berdiri sendiri. Terkenal dalam hal ini ungkapan: “Tiada Islam tanpa kelompok, tiada kelompok tanpa kepemimpinan, dan tiada kepemimpinan tanpa ketundukan. (La Islama illa bi jama’ah wala jama’ata illa bi imarah wala imarata illa bi tha’ah).” Dengan demikian, kedudukan dan tugas seorang pemimpin sangat berat dalam pandangan Islam. Dia harus menciptakan kelompok yang kuat, patuh dan setia pada kerangka peribadatan yang dikemukakan Islam. Oleh sebab itu, seorang pemimpin harus memiliki strategi yang jelas agar tercapai tujuan masyarakat yang adil dan makmur. Tujuan ini diungkapkan dengan indahnya dalam pembukaan Undang-undang Dasar (UUD) 1945. Sedang dalam bahasa Arab, seorang pemimpin harus mampu menciptakan kesejahteraan masyarakat yang bertumpukan keadilan dan kemakmuran atau “al-maslahah al-âmmah”.

Shautus Salam

***

Shautus Salam

Hal kedua yang harus ditegakkannya adalah orientasi yang benar dalam memerintah, termasuk orientasi ekonomi yang jelas. Jika segala macam kebijakan pemerintah, tindakan yang diambil dan peraturan-peraturan di bidang ekonomi yang selama ini –sejak kemerdekaan kita-, hampir seluruhnya mengacu kepada kemudahan prosedur dan pemberian fasilitas kepada usaha besar dan raksasa, yang berarti orientasi ini tidak memihak kepada kepentingan Usaha Kecil Menengah (UKM), maka sekarang sudah tiba saatnya untuk melakukan perubahan-perubahan dalam orientasi ekonomi kita. Orientasi membangun UKM, dijalankan dengan penyediaan kredit yang berbunga sangat rendah sebagai modal pembentukan UKM tersebut.

Perubahan orientasi ekonomi itu berarti juga perubahan tekanan dalam ekonomi kita. Jika sebelumnya penekanan pada bidang ekspor, yang hasilnya dalam bentuk pajak- sangat sedikit kembali ke kas pemerintah, karena begitu banyak keringanan untuk kalangan eksportir. Maka, selanjutnya justru harus diutamakan perluasan pasaran di dalam negeri secara besar-besaran.

Untuk itu, tiga hal sangat diperlukan, yaitu: pertama, peningkatan pendapatan masyarakat guna menciptakan kemampuan daya beli yang besar. Kedua, pengerahan industri guna menghidupkan kembali penyediaan barang untuk pasaran dalam negeri. Ketiga, independensi ekonomi dari yang sebelumnya tergantung kepada tata niaga internasional.

Ini berarti, kita harus tetap memelihara kompetisi yang jujur, mengadakan efisiensi dan menciptakan jaringan fungsional bagi UKM kita, baik untuk menggalakkan produksi dalam negeri, maupun untuk penciptaan pemasaran dalam negeri yang kita perlukan. Keterkaitannya adalah tetap memelihara tata niaga internasional yang bersih dan bersaing, disamping memperluas basis pajak kita (dari sekitar 2 juta orang saat ini ke 20 juta orang wajib pajak dalam beberapa tahun mendatang). Ditambah dengan, pemberantasan kebocoran-kebocoran dan pungutan liar yang masih ada sekarang ini. Barulah dengan demikian, dapat kita naikkan pendapatan.

***

Tata ekonomi seperti itu akan lebih memungkinkan tercapainya kesejahteraan dengan cepat, yang dalam pembukaan UUD 1945 disebutkan sebagai terciptanya masyarakat adil dan makmur. Dalam fiqh disebutkan “kebijakan dan tindakan pemimpin atas rakyat yang dipimpin harus sejalan dengan kemaslahatan mereka’ (tasharruful-imâm ‘alâr-ra’iyyah manûthun bil-mashlahah)”. Itu berlaku juga untuk bidang ekonomi. Ekonomi yang berorientasi kepada kemampuan berdiri di atas kaki sendiri, menjadikan ekonomi kita akan sesuai dengan ajaran-ajaran Islam.

Apakah ekonomi yang sedemikian itu akan dinamai ekonomi Islam atau hanya disebut ekonomi nasional saja, tidaklah relevan untuk didiskusikan di sini. Yang terpenting, bangunan ekonomi yang dikembangkan, baik tatanan maupun orientasinya, sesuai dengan ajaran Islam. Penulis yakin, ekonomi yang sedemikian itu juga sesuai dengan ajaran-ajaran berbagai agama lain. Karenanya, penamaan ekonomi seperti itu dengan nama ekonomi Islam, sebenarnya juga tidak diperlukan sekali, karena yang terpenting adalah pemberlakuannya, dan bukan penamaannya.

Dalam kerangka inilah, kepentingan mikro ekonomi Islam secara pribadi, yaitu untuk mencapai kebahagiaan dunia-akhirat, lalu sama posisinya dengan dibangunnya ekonomi makro yang mementingkan keadilan dan kemakmuran seluruh bangsa. Sebenarnya kita dapat melakukan hal itu, apabila tersedia political will untuk menerapkannya. Memang, ekonomi terlalu penting bagi sebuah bangsa jika hanya untuk diputuskan oleh sejumlah ahli ekonomi belaka, tanpa melibatkan seluruh bangsa. Karena menyangkut kesejahteraan seluruh bangsa, maka diperlukan keputusan bersama dalan hal ini. Untuk mengambil keputusan seperti itu, haruslah didengar lebih dahulu perdebatannya.

*) Diambil dari Abdurrahman Wahid, Islamku Islam Anda Islam Kita: Agama Masyarakat Negara Demokrasi, 2006 (Jakarta: The Wahid Institute). Tulisan ini pernah dimuat di Sinar Harapan, 21 Februari 2003.

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Santri Shautus Salam

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Shautus Salam sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Shautus Salam. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Shautus Salam dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock