Tampilkan postingan dengan label Fragmen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fragmen. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 03 Maret 2018

Ketua PBNU Resmikan MWC NU Sukoharjo

Wonosobo, Shautus Salam. Merupakan kebanggaan tersendiri bagi pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC) NU Kecamatan Sukoharjo, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Sebab Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Agil Siroj secara langsung meresmikan Gedung MWC NU Sukoharjo, Jumat (6/9).

Ketua PBNU Resmikan MWC NU Sukoharjo (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketua PBNU Resmikan MWC NU Sukoharjo (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketua PBNU Resmikan MWC NU Sukoharjo

Acara peresmian berlangsungn meriah karena dihadiri oleh ketua beserta pengurus PCNU Wonosobo, ? MWC NU Sukoharjo dan Ranting serta para ulama, kiai, dan warga NU.?

Gedung MWC ? tersebut berdiri di dalam kompleks Kecamatan Sukoharjo dan berada di poros jalan utama, dibangun atas swadaya warga Nahdiyin. Pembangunan kantor cabang ini sangat monumental karena merupakan kantor pertama yang dibangun oleh MWC NU Sukoharjo dan memiliki tiga lantai. ?

Shautus Salam

Peresmian Gedung MWC NU Sukoharjo secara simbolik, dibuka dengan penandatanganan yang dilakukan oleh Ketua Umum yang disaksikan oleh Ketua PCNU, Pengurus MWC dan tamu undangan.?

Pada kesempatan itu Kiai Said menyampaikan ke depan NU harus lebih memperkuat kelembagaan NU sebagai jam’iyyah keagamaan serta jam’iyyah kemasyarakatan. Sebab NU bukanlah perkumpulan politik maupun perkumpulan milik pemerintah melainkan perkumpulan masyarakat.?

Shautus Salam

“Struktur kepengurusan NU harus dapat berfungsi efektif dengan menggunakan manajemen modern dengan tetap memelihara kultur dan tradisi yang menjadi bagian tak terpisahkan dengan nafas dan budaya NU. Karena NU itu adalah perkumpulan masyarakat yang mampu menjembatani masyarakat,” katanya.

Selain itu, Ia juga menghimbau warga NU untuk memperkuat pendidikan Islam sebagai pilar pembangunan bangsa. Karena berbagai kebijakan, komitmen, dan regulasi sangat mendukung serta memberi kesempatan yang besar kepada masyarakat untuk berpartisipasi di dalam dunia pendidikan.

Gedung MWC NU berlantai tiga yang cukup megah itu rencananya akan digunakan untuk berbagai aktifitas Nahdliyin di lingkungan MWC Sukoharjo. Untuk lantai pertama rencananya digunakan sebagai koperasi, kemudian lantai dua digunakan untuk kesekretariatan dan lantai tiga digunakan untuk pertemuan.?

Disebutkan pula, pembangunan gedung MWC NU Sukoharjo yang baru saja diresmikan itu ditargetkan akan menghabiskan biaya hingga Rp2 miliar. Hingga diresmikan, sudah menghabiskan biaya sekitar Rp1,5 miliar.?

“Semua biaya pembangunan gedung MWC NU Sukoharjo itu resmi dari sumbangan Nahdliyin di Sukoharjo dan beberapa donatur,” jelas Khamim Fadhol Ketua MWC NU Sukoharjo.?

Untuk sumbangan yang diberikan oleh warga, Kata Khamim mereka menyumbang secara ikhlas hanya melalui surat. Cara itupun terbilang efektif karena pembangunan mulai tahun 2006 hingga 2013 ini bisa berjalan lancar.?

“Untuk lahannya juga sumbangan atau iuran warga, total harga lahan saja Rp 175 juta,” jelasnya. (Fathul Jamil/Mukafi Niam)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Fragmen, Khutbah, News Shautus Salam

Minggu, 28 Januari 2018

Inilah 10 Kitab Karya Kiai Sahal Mahfudh

Almarhum KH MA Sahal Mahfudh termasuk sedikit dari ulama Nusantara yang produktif di dunia penulisan. Rais Aam PBNU ini mewariskan setidaknya 10 karya kitab, yang seluruhnya berbahasa Arab kecuali satu karya terjemahan yang ditulis dengan bahasa Jawa (Pegon).

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj pada peringatan Harlah ke-88 NU Jumat (31/1) malam lalu menjelaskan sebagian kitab Kiai Sahal itu. Karya-karya tersebut, katanya, membuat Kiai Sahal istimewa di antara ulama-ulama lain. “Kealiman beliau itu luar biasa. Susah menemukan kiai seperti beliau,” katanya.

Inilah 10 Kitab Karya Kiai Sahal Mahfudh (Sumber Gambar : Nu Online)
Inilah 10 Kitab Karya Kiai Sahal Mahfudh (Sumber Gambar : Nu Online)

Inilah 10 Kitab Karya Kiai Sahal Mahfudh

Sepuluh kitab Kiai Sahal tersebut mayoritas ditulis ketika masih berstatus santri Pesantren Sarang dalam usia yang relatif muda, yakni 24-25 tahun. Penjelasan kesepuluh kitab dan buku-buku karangan peraih doktor kehormatan dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini merujuk pada buku Kiai Sahal: Sebuah Biografi yang ditulis Tim KMF Jakarta. Dilihat dari waktu selesai menulis, maka urutannya adalah sebagai berikut.

Pertama, Thariqat al-Hushul ‘ala Ghayatil Wushul. Diselesaikan pada 15 Ramadan 1380 H (3 Maret 1961), kitab ini berisi ta’liqat (penjelas) atas Ghayatul Wushul yang merupakan syarah (penjelasan) atas Lubbul Ushul (kedua kitab terakhir adalah karya Zakaria al-Anshari). Kitab Lubbul Ushul masuk kategori usul fiqih dan dikenal sebagai kitab yang sulit dipahami para santri karena kalimatnya sangat padat dan mengandung makna yang dalam.

Shautus Salam

Kedua, ats-Tsamarat al-Hajayniyah yang selesai ditulis pada 15 Rabi’ al-Tsani 1381 (26 September 1961). Kitab ini termasuk salah satu karya orisinal Kiai Sahal, alias bukan syarah atau hasyiah terhadap karya ulama lain. Ditulis dalam bentuk nadham dan dilengkapi penjelasan di bawahnya, kitab ini menerangkan makna dari istilah-istilah yang sering dipakai dalam kitab-kitab fiqih. Misalnya, ketika disebutkan al-imam dalam fiqih, tanpa nama seseorang di belakangnya, maka ia merujuk pada Imam al-Kharamayn Abd al-Malik ibn Abi Muhammad Abdullah al-Juwaini (419-478 H/1028-1085 M). Jika kata yang sama muncul dalam usul fiqih dan mantiq, maka itu merujuk pada Fakhr al-Din Muhammad al-Razi (543-606 H/1149-1210 M). Sementara itu, kalau disebutkan kata al-syaykh dalam fiqih, itu berarti Abu Ishaq Ibrahim ibn Ali al-Syairazi  (393-476 H/1003-1083).

Shautus Salam

Ketiga, al-Fawa’id al-Najibah. Selesai ditulis pada 8 Jumadil Ula 1381 (18 Oktober 1961), kitab ini merupakan syarah atas matan yang ditulis sendiri oleh Kiai Sahal, yakni al-Faraid al-Ajibah fi Bayan I’rab al-Kalimat al-Gharibah. Dengan demikian, kitab ini juga termasuk dalam kategori karya orisinal. Matan yang disusun dalam bentuk nadham ini terdiri dari 89 bait dan, sebagaimana terbaca dari judulnya, menjelaskan i’rab (tata bahasa) kata-kata dalam bahasa Arab yang dianggap aneh. Dari sekian kata-kata yang secara ilmu nahwu aneh, Kiai Sahal membahas 34 kata, seperti kata aidlan dan ashlan yang selalu dibaca nasab, baik dalam bentuknya sebagai masdar maupun hal.

Keempat, al-Bayanul Malma’ an Alfadhil Luma’. Dari judulnya, dapat diphami bahwa ini adalah penjelas atas kitab al-Luma’ fi Ushulil Fiqh karya Abu Ishaq Ibrahim al-Syairazi. Kitab ini sebetulnya telah rampung ditulis dalam bentuk ta’liqat di kitab al-Luma’ pada Jumadil Ula 1381 H (Oktober 1961), tapi baru disalin secara terpisah pada 28 Rabi’ul Awal 1418 H (18 Oktober 1997).

Kelima, Intifakhul Wadajayn ‘inda Munadharat Ulama Hajayn fi Ru’yatil Mabi’ bi-Zujajil ‘Aynayn. Ini adalah salah satu karya orisinal Sahal yang selesai ditulis pada 25 Sya’ban 1381 H (1 Februari 1962). Ia membahas perdebatan ulama Kajen pada akhir tahun 1950-an tentang keabsahan penglihatan yang menggunakan kacamata terhadap barang yang hendak diperdagangkan.

Keenam, Faydlul Hija ala Nayl al-Raja yang selesai ditulis pada 18 Dzulhijjah 1381 H (23 Mei 1962). Kitab ini merupakan karya penjelas atas kitab Safinat al-Naja karya Salim ibn Samir al-Khudri yang cukup populer di kalangan santri.

Ketujuh, terjemahan bahasa Jawa (Pegon) atas Qasidah Munfarijah. Qasidah yang terdiri dari 43 bait ini adalah gubahan Yusuf ibn Muhammad al-Ansari (1041-1119 M) dan banyak dibaca umat Islam, khususnya kalangan santri, jika menghadapi kesusahan atau kesulitan. Diyakini bahwa pembacaan bait-bait yang mengandung nama-nama agung (al-asma’ al-a’dham) Allah ini akan mendatangkan kemudahan bagi pembacanya. Ini adalah satu-satunya kitab Kiai Sahal yang merupakan terjemahan dalam bahasa Jawa.

Ada dua karya Kiai Sahal yang merupakan penjelas atas Sullam al-Munawraq, kitab mantiq (logika) yang banyak digunakan di pesantren. Keduanya diberi judul Al-Murannaq dan Izalat al-Muttaham. Kitab terakhir merupakan karya elaborasi atas Idlah al-Mubham ‘an Ma’ani al-Sullam, karya Ahmad ibn Abd al-Mun’im al-Damanhuri, yang merupakan syarah atas Sullam al-Munawraq. Tidak terdapat catatan, kapan kedua kitab tersebut selesai ditulis, yang pasti menurut ingatan Kiai Sahal, keduanya ditulis ketika dia masih nyantri di Sarang.

Terakhir, Anwarul Bashair yang merupakan penjelas atas kitab Al-Asybah wan Nadhair karangan Jalal al-Din Abd al-Rahman al-Suyuti. Kitab ini ditulis setelah dia menetap di Kajen, meski tidak ada catatan kapan tepatnya dia menyelesaikan karya penting ini. Asybah sendiri adalah kitab yang membahas qawa’id fiqhiyah (kaidah-kaidah fiqih) dan diajarkan di berbagai pesantren di Jawa.

Selain kitab-kitab berbahasa Arab, Kiai Sahal juga telah menghasilkan beberapa buku berbahasa Indonesia. Setidaknya ada empat buku berisi kumpulan berbagai artikel yang telah diterbitkan, antara lain Nuansa Fiqih Sosial (Yogyakarta: LKIS, 1994 dan 2007), Pesantren Mencari Makna (Jakarta: Pustaka Ciganjur, 1999), Wajah Baru Fiqh Pesantren (Jakarta: Citra Pustaka, 2004, dan Dialog dengan KH MA Sahal Mahfudh: Telaah Fikih Sosial (Semarang: Yayasan Karyawan Suara Merdeka, 1997). Kiai Sahal juga menulis buku bersama KH A Mustofa Bisri, yang diberi judul Ensiklopedi Ijma’. (Mahbib Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Kajian, Nahdlatul Ulama, Fragmen Shautus Salam

Jumat, 26 Januari 2018

Bagaimana Makmum Yang Tertinggal Takbir Sunah pada Shalat Id?

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Pengasuh rubrik Bahtsul Masail Shautus Salam, saya mau bertanya. Pada sembahyang Id, ada saja masyarakat yang tertinggal jamaah. Ia menjadi makmum. Ia ketinggalan beberapa takbir sunah pada sembahyang Id pada rakaat pertama. Apakah ia harus melengkapi takbir sunah sebanyak tujuh kali atau mengikuti sedapatnya takbir si imam? Mohon penjelasannya. Terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Nurfadhilah/Banjarmasin)

Jawaban

Bagaimana Makmum Yang Tertinggal Takbir Sunah pada Shalat Id? (Sumber Gambar : Nu Online)
Bagaimana Makmum Yang Tertinggal Takbir Sunah pada Shalat Id? (Sumber Gambar : Nu Online)

Bagaimana Makmum Yang Tertinggal Takbir Sunah pada Shalat Id?

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Penanya yang budiman, semoga Allah SWT menurunkan rahmat-Nya untuk kita semua. Shalat Id merupakan shalat sunah yang paling dianjurkan untuk dihadiri setiap Muslim. Bahkan, perempuan yang berhalangan sekalipun dianjurkan untuk menghadiri upacara shalat Id dan khutbahnya hingga selesai. Bahkan sebagian ulama menyatakan bahwa hukum shalat Id adalah wajib.

Shautus Salam

Shalat sunah Id ini memiliki keistimewaan. Setelah takbiratul ihram dan doa iftitah, kita disunahkan untuk bertakbir sebanyak tujuh kali pada rakaat pertama. Sedangkan pada rakaat kedua, kita disunahkan untuk bertakbir sebanyak lima kali. Takbir pada shalat Id ini sunah. Kalau ditinggalkan, tidak membatalkan shalat, tetapi membuat makruh.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Shautus Salam

Artinya, “Sebelum membaca Surat Al-Fatihah, ia bertakbir sebanyak tujuh kali dengan hitungan yakin yang berbarengan dengan mengangkat kedua tangan; (7 takbir ini) tepatnya (dilakukan) di antara doa iftitah dan ta‘wudz Al-Fatihah. Di rakaat kedua, ia cukup bertakbir sebanyak lima kali,” (Lihat Syekh Sa‘id bin Muhammad Ba‘asyin, Busyral Karim, Beirut, Darul Fikr, 1433-1434 H/2012 M, juz II, halaman 355).

Shalat Id sunahnya dikerjakan secara berjamaah. Kalau ada anggota masyarakat yang ikut berjamaah shalat Id saat imam telah melangsungkan takbir yang disunahkan, maka ia cukup mengikuti seberapa banyak imam bertakbir. Ia tidak perlu menggenapi kekurangannya hingga tujuh takbir bila tertinggal pada rakaat pertama, atau lima takbir bila tertinggal pada rakaat kedua.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ?

Artinya, “Sedangkan masbuq (makmum yang tertinggal beberapa saat) hanya bertakbir sedapatnya mengikut sisa takbir imamnya. Di dalam Syarah dikatakan, kalau masbuq mengikuti imam di rakaat pertama misalkan, dan ia mendapati sisa sekali takbir imam, maka ia cukup sekali bertakbir. Atau kalau masbuq mengikuti imam pada rakaat kedua, ia cukup bertakbir sebanyak lima kali. Sedangkan di rakaat keduanya (setelah imam salam), ia cukup bertakbir sebanyak lima kali karena kalau mengqadha takbir yang luput, ia justru meninggalkan sunah lainnya,” (Lihat Syekh Sa‘id bin Muhammad Ba‘asyin, Busyral Karim, Beirut, Darul Fikr, 1433-1434 H/2012 M, juz II, halaman 355).

Dari sini, kita dapat menyimpulkan bahwa makmum shalat Id yang mendapati imamnya telah membaca surat Al-Fatihah atau surat yang disunahkan, tidak perlu lagi mengerjakan takbir sunah. Ia cukup mengerjakan takbiratul ihram, lalu mendengarkan bacaan imamnya.

Saran kami, kita sebaiknya menghadiri upacara shalat Id meskipun kita tertinggal beberapa takbir atau tertinggal satu rakaat. Karena shalat Id memiliki keutamaan luar biasa bahkan perempuan yang berhalangan sekalipun sangat dianjurkan untuk menghadiri shalat Id beserta khutbahnya hingga selesai. Bagi mereka yang tidak sempat ikut berjamaah, sebaiknya sebelum Zuhur ia mengerjakan shalat Id sendiri tanpa khutbah

Demikian jawaban singkat kami. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima kritik dan saran dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwathih thariq,

Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Alhafiz Kurniawan)Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Fragmen, Cerita, Ahlussunnah Shautus Salam

Minggu, 21 Januari 2018

CBP IPNU dan KPP IPPNU Brebes Gelar Diklatsus

Brebes, Shautus Salam



Dewan Kordinasi Cabang (DKC) Corp Brigade Pembangunan (CBP) dan korps Pelajar Putri (KPP) Kabupaten Brebes menggelar Pendidikan Latihan Khusus (Diklatsus) CBP KPP. Kegiatan yang dilaksanakan pada tanggal 21-24 Februari 2016 di daerah kaki Gunung Slamet tepatnya di Desa Wanareja Kec. Sirampog diikuti sebanyak 35 peserta perwakilan dari tiap-tiap PAC Se-Kab. Brebes.?

CBP IPNU dan KPP IPPNU Brebes Gelar Diklatsus (Sumber Gambar : Nu Online)
CBP IPNU dan KPP IPPNU Brebes Gelar Diklatsus (Sumber Gambar : Nu Online)

CBP IPNU dan KPP IPPNU Brebes Gelar Diklatsus

Acara tersebut adalah bertujuan membentuk pasukan khusus CBP KPP di Kabupaten Brebes yang merupakan lembaga semi otonom dari IPNU dan IPPNU. Dengan melalui proses seleksi maka peserta yang mengikuti kegiatan ini adalah yang sudah lolos tes fisik maupun pengetahuan. Komandan DKC CBP Kabupaten Brebes Fatkhurohman mengatakan.

Shautus Salam

"Pasukan khusus ini nantinya akan dijadikan garda terdepan guna mengawal semua pergerakan IPNU-IPPNU di Kabupaten Brebes".

Shautus Salam

Selain meningkatkan kualitas fisik peserta, Diklatsus juga meningkatkan pengetahuan. Materi yang disampaikan pada kegiatan ini antara lain Ke-IPNU-IPPNU-an, Aswaja dan NU, Penanggulangan Terorisme, Bela Negara, ? Protokoler, PMI dll. Pelatihan dibina langsung oleh Kodim Brebes dari awal sampai akhir kegiatan. Kedisiplinan dan kekompakan adalah sesuatu kewajiban dalam kegiatan.

Ketua PC IPNU Kabupaten Brebes Ferial Farkhan dalam sambutan upacara pembukaan mengatakan, "Kami mengapresiasi setinggi-tingginya kepada DKC CBP-KPP ? Brebes. Semoga akan terlahir kader CBP KPP yang bisa diandalkan bagi agama bangsa dan negeri khususnya untuk IPNU-IPPNU".

Peserta dalam mengikuti kegiatan tersebut sangatlah semangat. Walaupun cuaca sangat dingin, tapi tidak menyurutkan mereka dalam belajar. Suara nyanyian yel-yel selalu berkumandang membakar semangat mereka. Suasana keakraban pun tercipta di semua peserta.?

"Kami sangat senang mengikuti Diklatasus ini, banyak ilmu yang kami dapatkan dan tentunya pengalaman yang luar biasa," ucap Arif Rahman Hakim salah satu peserta Diklatsus.

Pada malam terakhir kegiatan, juga diadakan kegiatan api unggun sekaligus sarasehan memperingati hari lahir ke-62 IPNU. Pembacaan doa dipanjatkan untuk para pendiri IPNU dan berharap IPNU ke depan akan semakin baik. Di malam itu pula para peserta menampilkan pentas seni dari tiap-tiap kelompoknya. Suasana dingin berubah menjadi hangat karena kemeriahan para peserta.

Hadir pula di acara tersebut perwakilan dari Dewan Koordinasi Wilayah (DKW) KPP Jawa Tengah Oktaviana dan mengawal kegiatan dari awal sampai akhir. ?

"Kami bangga kepada CBP KPP Kabupaten Brebes yang telah melaksakan kegiatan Diklatsus ini, semoga pasca ini akan terlahir CBP KPP sejati". Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Fragmen, Tegal, Nahdlatul Ulama Shautus Salam

Senin, 15 Januari 2018

Ini Nasihat Gus Dur kepada Inayah tentang Kebudayaan

Kudus, Shautus Salam

Satu dari banyak yang diingat oleh Inayah Wulandari mengenai KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) adalah soal musik. Putri bungsu Gus Dur itu ingat betul ketika ayahnya yang seorang kiai tiba-tiba menasihatinya dengan kalimat mengejutkan. Kala itu anak dan bapak tersebut tengah membahas ihwal kebudayaan.

Ini Nasihat Gus Dur kepada Inayah tentang Kebudayaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Nasihat Gus Dur kepada Inayah tentang Kebudayaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Nasihat Gus Dur kepada Inayah tentang Kebudayaan

"Kamu harus mendengarkan lagu-lagu dangdut! Begitu kata Gus Dur," katanya menirukan nasihat bapaknya, usai acara Haul Gus Dur sekaligus pengukuhan Lesbumi NU di rumah makan Bambu Wulung, Kudus, Jawa Tengah, Ahad (31/1) malam .

Musik sebagai salah satu produk dari kebudayaan, menjadi satu kunci meraih pemahaman akan identitas sebuah bangsa. "Karena sungguh lagu-lagu itulah yang menjelaskan mengenai apa terjadi di tengah masyarakat kita," lanjutnya.

Shautus Salam

Pegiat teater yang belakangan mengambil peran di sebuah film pendek ini mengatakan bahwa nyanyian dangdut telah sedemikian menjelaskan identitas bangsa Indonesia. "Kalau ingin mengenal identitas bangsa kita, ya, lewat lagu-lagu dangdut itu," terangnya.

Shautus Salam

Mengenali bangsa sendiri adalah keniscayaan bagi generasi muda. Dengan mengenal identitas bangsa, orang akan mengenal budayanya. Sayangnya, menurut Inayah, generasi muda kita masih menganggap perbedaan kebudayaan antar satu bangsa dan yang lain dengan paradigma vertikal.

"Tidak usah melihat budaya kita ini lebih baik atau lebih buruk dari budaya bangsa lain. Itu adalah mental orang yang tidak pede. Itu mental minder. Kita semua setara," kata Inayah meyakinkan.

Bagi pemeran buruh cuci asal Tegal bernama Wagiyem dalam pementasan teater monolog #3Perempuanku ini, tidak perlu menganggap budaya bangsa lain lebih tinggi atau lebih rendah. Sebab jika menganggap bangsa lain lebih rendah, artinya kita bisa bangga kalau bisa meremehkan orang lain. Sebaliknya, kalau menganggap budaya bangsa lain lebih tinggi, berarti minder.

"Kita sering mempersempit pengertian budaya terbatas hanya pada kesenian semata. Padahal tidak, sebenarnya kebudayaan ada dua, yakni proses dan produk. Nah, kesenian itu merupakan salah satu dari produk kebudayaan. Sedangkan kebudayaan yang berupa proses, ya, meliputi keseharian kita ini," paparnya menjelaskan.

Meski lahir dari keluarga pesantren, ia positif memutuskan berteater sebab memahami bahwa pribadi Gus Dur yang ia banggakan, diyakini terbangun dari kesenian. Menurutnya, jalan kesenian yang ia ambil adalah jalan efektif membangun generasi berbudaya. "Pribadi Gus Dur itu justru terbangun dari pelbagai kumpulan film yang ditontonnya dan buku-buku sastra yang dibacanya. Coba, kalau begitu jalan kesenian itu efektif, tidak?" tuturnya. (Istahiyyah/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Fragmen Shautus Salam

Minggu, 14 Januari 2018

Ansor Sidoarjo Desak KPI Filter Tayangan TV Kabel yang Ajarkan Radikalisme

Sidoarjo, Shautus Salam. Ketua GP Ansor Sidoarjo, H Rizza Ali Faizin meminta kepada komisi penyiaran Indonesia (KPI) Pusat agar memfilter tayangan televisi kabel yang mengarah ke ajaran garis keras dan intoleran. Pasalnya, tayangan tersebut dinilai meresahkan masyarakat khususnya untuk kesatuan dan persatuan bangsa.

Ansor Sidoarjo Desak KPI Filter Tayangan TV Kabel yang Ajarkan Radikalisme (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Sidoarjo Desak KPI Filter Tayangan TV Kabel yang Ajarkan Radikalisme (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Sidoarjo Desak KPI Filter Tayangan TV Kabel yang Ajarkan Radikalisme

"Maraknya tayangan melalui media televisi kabel yang mengarah ke ajaran garis keras intoleran sangat meresahkan masyarakat belakangan ini. Untuk itu, GP Ansor Sidoarjo meminta KPI untuk memfilter tayangan dan menindak tegas media tersebut agar masyarakat tidak terpengaruh dengan tayangan yang mengarah ke ajaran mereka," kata Rizza kepada Shautus Salam, Jumat (13/1).

Menurutnya, tayangan televisi kabel sudah liar dalam melakukan penyiaran. Pasalnya, banyak tayangan berbau aliran garis keras dan intoleran dengan menggunakan simbol Islam.

Oleh sebab itu, Ansor Sidoarjo menyarankan kepada KPI pusat agar menindak tegas dan memfiter ulang siarannya. Sehingga muatannya tidak provokatif, penuh kebencian dan membahayakan kesatuan, persatuan bangsa.

Rizza menyebutkan bahwa masyarakat saat ini hampir 80 persen mengamati media sosial (medsos). Hal ini sangat membayakan paham yang dibawa oleh medsos tersebut jika masyarakat tidak pandai-pandai memperhatikan kontennya.

Shautus Salam

"Konten yang berbau aliran radikal dan intoleran itu bisa mempengaruhi pola pikir masyarakat awam dan membahayakan NKRI. Untuk itu, kami mengimbau kepada masyarakat luas terutama warga Nahdliyin agar berhati-hati dalam menyaksikan atau melihat tayangan atau konten yang mengarah ke radikalisme," imbauannya.

Agar tidak terpengaruh dengan ajaran radikal, Rizza menyarankan kepada masyarakat khususnya warga Nahdliyin sebaiknya menyaksikan tayangan yang disiarkan media-media Islam moderat yang menyuguhkan konten Islami, menebar kedamaian, dan menginspirasi. (Moh Kholidun/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam

Shautus Salam Fragmen, Berita, Nahdlatul Shautus Salam

UNU-STAINU Jakarta Terima Kunjungan Studi Banding Unisnu Jepara

Jakarta, Shautus Salam

Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta dan Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) Jakarta mendapat kunjungan studi banding dari Pascasarjana Universitas Islam Nahdlatul Ulama (Unisnu) Jepara pada Rabu (25/5).?

Sebanyak 80 orang rombongan terdiri dari mahasiswa Pascasarjana Program Studi Manajemen Pendidikan Islam dan pimpinan Unisnu Jepara diterima langsung oleh Rektor Unusia Prof Dr Maksum Machfoed dan pimpinan STAINU Jakarta. ? Studi banding ini merupakan salah satu upaya Unisnu Jepara mengenalkan mahasiswa terhadap Manajemen Pendidikan ? Islam yang diterapkan di beberapa perguruan tinggi Islam di Indonesia, salah satunya Unusia Jakarta dan STAINU Jakarta.

UNU-STAINU Jakarta Terima Kunjungan Studi Banding Unisnu Jepara (Sumber Gambar : Nu Online)
UNU-STAINU Jakarta Terima Kunjungan Studi Banding Unisnu Jepara (Sumber Gambar : Nu Online)

UNU-STAINU Jakarta Terima Kunjungan Studi Banding Unisnu Jepara

Kesempatan ini juga dimanfaatkan untuk melakukan MoU antara Unusia-STAINU Jakarta dengan Unisnu Jepara di bidang Tridharma Perguruan Tinggi.?

"Jejaring antar perguruan tinggi penting untuk mendongkrak gairah akademik," ujar Wakil Rektor 3 Unusia HM. Mujib Qulyubi.

Sebagaimana hasil pantauan Shautus Salam, ada 4 aspek yang digali oleh mahasiswa dalam studi banding ini, yaitu aspek penelitian dan pengabdian masyarakat, aspek manajemen, aspek kurikulum, dan terakhir adalah penguatan distingsi Pascasarjana Islam Nusantara di STAINU Jakarta. Red: Mukafi Niam

Shautus Salam

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Fragmen, Bahtsul Masail, Nahdlatul Ulama Shautus Salam

Shautus Salam

Sabtu, 30 Desember 2017

Gerakan 5 Jari untuk Pelajar Lebih Baik

Rembang, Shautus Salam. Ratusan pelajar NU di Desa Kumbo Kecamatan Sedan Kabupaten Rembang, Jawa Tengah mengadakan karnaval peringatan HUT RI ke-71.

Namun berbeda halnya dengan karnaval di tempat lain, para kader muda NU ini membentangkan banner dan poster ajakan untuk melakukan gerakan 5 jari agar santri dan pelajar Indonesia lebih baik.

Gerakan 5 Jari untuk Pelajar Lebih Baik (Sumber Gambar : Nu Online)
Gerakan 5 Jari untuk Pelajar Lebih Baik (Sumber Gambar : Nu Online)

Gerakan 5 Jari untuk Pelajar Lebih Baik

Wakil Ketua PC IPNU Kabupaten Rembang Aan Ainun Najib mengatakan, upaya ini dilandasi atas keresahan para pelajar NU melihat kondisi dunia pendidikan di Indonesia saat ini.

"Baru saja kita dihebohkan dengan pengeroyokan guru yang dilakukan orang tua dan siswa. Ini menjadi keprihatinan bagi kami pelajar NU yang peduli terhadap masa depan dunia pendidikan di Indonesia," terangnya saat mengikuti karnaval, Senin (22/8) pagi.

Gerakan 5 jari santri dan pelajar Indonesia ini berisikan lima point ajakan agar santri dan pelajar Indonesia dapat santun dalam bertindak. Kelima point yang disampaikan adalah, ajakan menolak radikalisme, menolak kekerasan pada guru, menolak narkotika, menolak aliran sesat, dan terakhir ajakan menjaga ekosistem alam.

"Menurut kami, kelima point penting yang kami sampaikan ini akan mewakili betapa santun dan berbudinya para pelajar Indonesia apabila mau melakukannya," tegasnya.

Shautus Salam

Pihaknya juga berupaya menghimpun kekuatan dalam sosialisasi gerakan 5 jari santri dan pelajar Indonesia lebih baik dalam media sosial. Dengan hashtag #gerakan5jari yang nantinya bakal diisi oleh para pengguna media sosial yang peduli terhadap dunia pendidikan di Indonesia dengan berfoto sambil menunjukkan telapak tangan dengan diberi keterangan kata-kata santun dan motivasi bagi pelajar Indonesia.

"Saya harap dengan langkah kecil ini akan lebih memotivasi para generasi muda khususnya santri dan pelajar untuk santun dalam belajar, hormat kepada guru, selalu menjaga ekosistem alam, dan tentunya menerapkan rasa cinta terhadap tanah air," tutup Aan. (AA Najib/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam

Shautus Salam Fragmen Shautus Salam

Jumat, 22 Desember 2017

Ini Pesan Presiden di Pondok Pesantren Al-Ihya Ulumaddin

Cilacap, Shautus Salam?



Presiden Joko Widodo melakakuna Safari Ramadhan ke Pondok Pesantren Al-Ihya Ulumaddin Kesugihan, Cilacap, Kamis (15/6) sore. Ia hadir bersama Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dan Bupati Cilacap Tatto Suwarto Pamuji.

Presiden yang akrab disapa Jokowi menyampaikan tentang pentingnya menjaga persaudaraan, ukhuwah wathaniyah dan ukhuwah islamiyah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.?

Ini Pesan Presiden di Pondok Pesantren Al-Ihya Ulumaddin (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Pesan Presiden di Pondok Pesantren Al-Ihya Ulumaddin (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Pesan Presiden di Pondok Pesantren Al-Ihya Ulumaddin

"Marilah kita jaga persaudaraan kita. Persaudaraan antarumat Muslim, ukhuwah islamiyah kita. Kita jaga persaudaraan antarumat beragama yang lain, ukhuwah wataniyah kita, agar kerukunan, persaudaraan d iantara kita terjalin dengan baik," katanya.

Presiden Jokowi juga menyampaikan, Indonesia adalah negara yang besar dan berananekaragam suku, agama dan ras. Oleh sebab itu, ia mengajak untuk mensyukuri anugerah yang diberikan Allah kepada bangsa Indonesia.?

"Jangan sampai di antara kita masih ada yang saling menyalahkan, saling menjelekkan, saling mencemooh, saling mencela; kita lupa bahwa kita ini saudara," lanjutnya.

Shautus Salam

Jokowi juga mengajak untuk saling menjaga satu sama lain supaya tidak terjadi gesekan yang dapat memecah belah bangsa Indonesia.?

"Saya mengajak, agar kebinekaan yang telah menjadi takdir dari Allah, untuk benar-benar dijaga dan dipelihara dengan baik. Jangan sampai ada gesekan dan perpecahan," tegasnya di hadapan ribuan santri dan masyarakat yang hadir sore itu.

Presiden juga menyampaikan bela sungkawa atas meninggalnya pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihya Ulumaddin KH Chasbullah Badawi, dan menyampaikan permohonan maaf karena tidak bisa hadir saat itu. (Kifayatul Akhyar/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam

Shautus Salam Hadits, Fragmen Shautus Salam

Senin, 11 Desember 2017

Bupati Padangpariaman Ajak Masyarakat Besarkan IPNU

Padangpariaman, Shautus Salam. Bupati Padangpariaman Propinsi Sumatera Barat Ali Mukhni mengajak berbagai elemen di daerah tersebut untuk membesarkan Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU). Sebab sebagai kader NU, IPNU perlu dan penting untuk dibesarkan di Kabupaten Padangpariaman.?

Bupati Padangpariaman Ajak Masyarakat Besarkan IPNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Bupati Padangpariaman Ajak Masyarakat Besarkan IPNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Bupati Padangpariaman Ajak Masyarakat Besarkan IPNU

Bupati mengungkapkan hal itu pada pelantikan Pengurus Cabang IPNU Padangpariaman, ? Ahad (5/4/2015) di aula Kantor Bupati Padangpariaman, Parikmalintang, Padangpariaman. Usai pelantikan, dilanjutkan dialog kebangsaan dengan tema "Sikap Pelajar NU Dalam Menghadapi Ancaman Radikalisme".?

"Mari membesarkan IPNU di Padangpariaman. Darah daging saya IPNU. Sejak awal IPNU diaktifkan di Padangpariaman, selalu menjadi Pembina dalam struktur IPNU. Saya pun tetap setia dalam berbagai kegiatan yang dilakukan IPNU di Padangpariaman," kata Ali Mukhni.?

Shautus Salam

Dikatakan Ali Mukhni, IPNU yang lahir tahun 1954, lebih tua dari dirinya 2 tahun, pantas menjadi perhatian semua pihak. Apalagi IPNU sebagai anak NU, dimana NU lahir tahun 1926. Artinya 19 tahun lebih dulu lahir daripada Indonesia yang dimerdekakan ? 17 Agustus 1945.?

Pelantikan oleh Sekretaris Jenderal Pimpinan Pusat (PP) IPNU Muhammad Hadhy dihadiri Wakil Ketua PW NU Sumbar Suardi, Ketua PCNU Padangpariaman Abdul Hadi, Kepala Kemenag Padangpariaman Masrican, Ketua MUI Padangpariaman Dr. Zainal Tuanku Mudo, Ketua PC Gerakan Pemuda Ansor Padangpariaman Zeki Aliwardana, Kepala BKD Padangpariaman Idarussalam.?

Shautus Salam

Sekretaris Jenderal PP IPNU Muhammad Hadhy menyebutkan, tugas berat pengurus PC IPNU yang baru dilantik sudah menghadang. Tugas berat tersebut terkait dengan dua ideologi yang sekarang menyerang kalangan pelajar. Yakni adanya kecenderungan ideologi liberal dan ideologi radikal. Kedua ideologi ini merupakan ancaman terhadap pelajar, IPNU dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.?

"Antisipasi terhadap ? serangan tersebut, IPNU perlu memperbanyak lobi kepada kepala sekolah-kepala sekolah agar siswanya bisa dibentengi dari serangan liberal dan radikal tersebut. Selain itu, IPNU sesering mungkin sowan dan bersilaturrahmi ke pesantren-pesantren," kata Hadhy.?

Ditambahkan Hadhy, di pesantren santri diajarkan paham keagamaan Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja), namun karena tidak pernah disentuh IPNU ada di antara santri justru aktif di organisasi yang anti dengan Aswaja. Santri yang melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi, ternyata juga menjadi aktifis di organisasi yang anti dengan tradisi yang selama ini dijalani pesantren dimana mereka pernah belajar agama. ? ?

Untuk itu, IPNU Padangpariaman harus segera konsolidasi dan berbenah diri. Fokus melakukan pembinaan terhadap pelajar, santri maupun pelajar santri, katanya.?

Ketua PC IPNU Padangpariaman Fauzan Ahmad mengakui banyak peer pelajar di Padangpariaman yang harus dihadapi dan diselesaikan. Pelajar tantangannya makin banyak. Banyak pelajar yang mengaku Islam, tapi perilaku dan sikap kesehariannya justru bertentangan dengan Islam.?

"Adanya paham keagamaan yang mengatasnamakan Islam, tapi tidak mencerminkan nilai-nilai Islam kini mulai merasuki pelajar. Seperti adanya ancaman ISIS ke Indonesia, bukan tidak mungkin juga akan menyerang pelajar di Padangpariaman. Sebelum masuk, IPNU berupaya mengantisipasinya dengan paham keagamaan Islam rahmatan lilalamin," kata Fauzan. (Armaidi Tanjung/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Fragmen Shautus Salam

Rabu, 29 November 2017

Masyarakat Indonesia Telah Praktikkan Toleransi Sejak Dahulu

Klaten, Shautus Salam

Jauh sebelum negara Indonesia ini berdiri, praktik toleransi, saling menghargai dalam keragaman sudah dipraktikkan masyarakatnya sejak dahulu, ketika masih dikenal dengan sebutan Nusantara.

Hal tersebut dipaparkan Direktur The Wahid Institute Yenny Wahid saat menghadiri doa bersama peringatan Haul Gus Dur ke-7, Cap Go Meh dan penampilan budaya yang diselenggarakan Jaringan Gusdurian Klaten bersama FKUB Kebersamaan dan komunitas multikultur di Alun-alun Kota Klaten, Jawa Tengah, Jumat (10/2).

Masyarakat Indonesia Telah Praktikkan Toleransi Sejak Dahulu (Sumber Gambar : Nu Online)
Masyarakat Indonesia Telah Praktikkan Toleransi Sejak Dahulu (Sumber Gambar : Nu Online)

Masyarakat Indonesia Telah Praktikkan Toleransi Sejak Dahulu

Pemilik nama lengkap Zannuba Ariffah Chafsoh Rahman Wahid tersebut mencontohkan, di daerah Kudus ada namanya soto kerbau, yang dari kisah sejarahnya menjadi contoh penerapan toleransi di masa lalu.

Shautus Salam

“Soto kerbau Kudus, yang asalnya Sunan Kudus memerintahkan untuk tidak menyembelih sapi, karena hormati kepercayaan masyarakat Hindu. Akhirnya, kreatif, yang disembelih kerbau,” ungkap puteri Gus Dur itu.

Ditambahkan Yenny, di Indonesia sejatinya toleransi tidak hanya sekedar teori, tapi sudah diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. “Tapi sekarang mungkin banyak yang lupa. Maka dari itu, mereka yang lupa harus kita ingatkan, harus kita rangkul,” kata dia.

Shautus Salam

Yenny juga menyebutkan bahwa Gus Dur memiliki dua “anak”, yakni anak biologis dan ideologis.

“Kita semua ini adalah anak-anak Gus Dur. Kebetulan saya anak biologis Gus Dur, tapi bapak ibu sekalian adalah anak ideologis Gus Dur. Orang-orang yang akan terus menyebarkan perdamaian dan toleransi di seluruh dunia, mereka yang berjuang unutuk orang yang teraniaya, mereka yang tidak kompromi dengan perilaku korupsi, mereka lah anak ideologis Gus Dur,” tukasnya.

Dalam kesempatan tersebut, para peserta acara yang berjumlah ribuan orang, sebagian memakai topeng wajah KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Topeng wajah tersebut sengaja dipakai mereka, sebagai pertanda kerinduan mereka akan sosok Gus Dur, sebagai bapak bangsa.? (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Nahdlatul, Fragmen Shautus Salam

Jumat, 24 November 2017

Tumbuhkan Jiwa Mandiri, Muslimat NU Gelar Pendidikan Keterampilan Wirausaha

Jakarta, Shautus Salam - Pimpinan Pusat Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) bekerja sama dengan PT Gensei Indonesia berupaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia di bidang kewirausahaan.? Dalam rangka membangun keterampilan berwirausaha, kedua pihak ini menyelenggarakan pendidikan kewirausahaan sejak pagi hingga petang di Hotel Bintang, Jakarta Pusat, Kamis (19/5).

“Acara ini dapat terselenggara atas kerja sama dengan Koperasi Muslimat NU Induk Koperasi An-Nisa (Inkopan), HLN, serta bidang ekonomi,” kata penanggung jawab pendidikan Hj Nurhayati Said Aqil Siroj menyampaikan sambutannya.

Tumbuhkan Jiwa Mandiri, Muslimat NU Gelar Pendidikan Keterampilan Wirausaha (Sumber Gambar : Nu Online)
Tumbuhkan Jiwa Mandiri, Muslimat NU Gelar Pendidikan Keterampilan Wirausaha (Sumber Gambar : Nu Online)

Tumbuhkan Jiwa Mandiri, Muslimat NU Gelar Pendidikan Keterampilan Wirausaha

Kami, lanjut Hj Nurhayati, atas nama tim penyelenggara acara ini menyampaikan terima kasih kepada PT Gensei Indonesia, seluruh pengurus PP Muslimat, NU dan semua hadirin. “Semoga pendidikan ini dapat membangun jiwa wirausaha mandiri pada diri kita semua.”

Sementara Direktur PT Gensei Indonesia Dato‘ Ahmad Amin Esa mengucapkan terima kasih kepada Muslimat NU atas kerja sama kedua pihak khususnya Hj Mimin dan Hj Nurhayati yang memediasi keduanya.

Shautus Salam

“Kita akan mengadakan pendidikan ini sebanyak dua kali. Dengan dua pendidikan yang memuat materi pemasaran dan pengenalan produk di dalamnya, kami berharap produk Susu Kambing Kurma Madu Indonesia (SKKMI) yang akan diluncurkan bulan depan terserap dengan baik di pasar,” kata Dato’ Amin.

Shautus Salam

Pendidikan ini diikuti oleh sedikitnya 70 peserta yang terdiri atas pengurus PP Muslimat NU, PW Muslimat NU DKI Jakarta, dan PC Muslimat se-Jabodetabek. Pada pertemuan ini, PT Gensei menurunkan H Torman bin Rosnan dan Toni Indra Haribawa sebagai pemateri motivasi kewirausahaan dan pengenalan produk SKKMI.

Pendidikan ini ditutup dengan pengarahan dari Ketum PP Muslimat NU Hj Khofifah Indar Parawansa. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Pondok Pesantren, Fragmen, Lomba Shautus Salam

Kamis, 23 November 2017

Menjaga NKRI dengan Perkuat Ekonomi dan Kemandirian Santri

Lampung Tengah, Shautus Salam?



Menjaga NKRI tidak hanya dilakukan dalam bentuk jihad melawan teroris atau kelompok yang mengganggu atau mengancamnya. Namun, memperkuat bidang ekonomi dan kemandirian juga merupakan salah satu bentuk menjaga NKRI dari intervensi pihak luar.

Menjaga NKRI dengan Perkuat Ekonomi dan Kemandirian Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
Menjaga NKRI dengan Perkuat Ekonomi dan Kemandirian Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

Menjaga NKRI dengan Perkuat Ekonomi dan Kemandirian Santri

Demikian dikatakan Ketua Rabithah Maahid Islamiyyah (RMI) Muhammad Athoillah di depan para santri dan tokoh NU Lampung yang hadir pada Acara Workshop dan Seminar Santripreneur di Kalirejo Lampung Tengah, Sabtu (19/8).?

Gus Athoillah, begitu pria ini biasa dipanggil, menambahkan bahwa dalam rangka mewujudkan kemandirian tersebut diharapkan kedepan para santri tidak hanya mumpuni dalam bidang ubudiyyah dan diniyyah, tapi juga harus mampu menjawab tantangan zaman dengan meningkatkan kapasitas dalam kemandirian ekonomi.

Menurutnya, tahun 2020 sampai dengan 2030, penduduk Indonesia akan didominasi oleh usia remaja dan pemuda. Jika 60 persen dari jumlah pemuda tersebut tidak memiliki pekerjaan alias pengangguran, Indonesia bisa goyah.

Shautus Salam

"Hal ini harus diantisipasi dan disiapkan dari sekarang untuk membekali para santri selangkah lebih maju, menjadi pengusaha dan punya akhlak dalam kemandirian ekonomi," kata Ketua Panitia Pusat Hari Santri Nasional (HSN) 2017 ini.

Oleh karenanya, dalam Peringatan HSN pada tahun ini lanjutnya, panitia mengangkat tema besar yaitu "Santri Mandiri, NKRI Hebat". Dengan tema besar ini ia berharap dapat memicu para santri untuk memiliki semangat usaha agar NKRI tidak goyah seperti Yunani akibat banyaknya pengangguran.

Hal senada juga diungkapkan Ketua PWNU Provinsi Lampung KH Sholeh Bajuri yang hadir pada acara yang dilaksanakan dalam rangka menyambut Hari Santri Nasional tersebut.

"Semangat kemerdekaan dimulai dari Resolusi Jihad yang dikobarkan oleh para santri dan ditetapkan menjadi Hari Santri Nasional. Jadi untuk mengisi kemerdekaan dibutuhkan keterlibatan santri yang kuat secara ekonomi," ujarnya.

Kiai Sholeh menambahkan bahwa workshop yang digelar oleh RMI tersebut dapat menjadi jawaban bagi hal ini dengan mencetak kader santri yang kuat secara ekonomi dan sekaligus menjadi pengusaha yang akan memperkuat NKRI. (Muhammad Faizin/Abdullah Alawi)

Shautus Salam

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Fragmen, Ahlussunnah Shautus Salam

Sabtu, 18 November 2017

Mahasiswa Baru Unipdu Didorong Bernalar Kritis untuk Perubahan

Jombang, Shautus Salam. Rangkaian pelaksanaan Orientasi Studi dan Cinta Almamater atau Oscar sejak 9 September di Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum (Unipdu) ditutup Kamis malam (18/9). Diharapkan dengan pembekalan selama hampir sepuluh hari tersebut, para peserta memahami makna dan jati diri mereka sebagai mahasiswa.

Mahasiswa Baru Unipdu Didorong Bernalar Kritis untuk Perubahan (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahasiswa Baru Unipdu Didorong Bernalar Kritis untuk Perubahan (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahasiswa Baru Unipdu Didorong Bernalar Kritis untuk Perubahan

Setidaknya ada 560 calon mahasiswa baru yang mengikuti kegiatan Oscar ini. Mereka mendapatkan sejumlah teori dan pendalaman maupun praktik bagaimana beradaptasi dengan suasana kampus. "Dari mulai materi penguatan cara pandang bahwa research sebagai kultur akademik yang memang melekat dalam dunia kampus hingga aturan yang akan mengikat mereka saat menjadi mahasiswa di kampus ini," kata Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa Unipdu, Luthfi Riyadi kepada Shautus Salam (18/9).

Sebagai ajang mengenalkan keberadaan kampus, sejumlah pihak terlibat secara aktif dalam kegiatan ini. "Dari mulai unsur pimpinan, staf pengajar atau dosen, program studi, hingga kegiatan intra kemahasiswaan, semuanya disampaikan pada kegiatan ini," kata mahasiswa Fakultas Agama Islam ini.

Shautus Salam

Oscar dengan tema "Menggiring arus budaya mahasiswa: akademik riset, berkarakter dan berakhlakul karimah" ini memang membuang jauh-jauh kesan sebagai ajang perpeloncoan seperti yang masih ada di sejumlah kampus. "Karena itu ada materi Oscar 2014 with outbond: perpeloncoan no, disiplin yes yang disampaikan oleh pimpinan kampus," terangnya.

Shautus Salam

Praktis dengan rentang waktu yang lumayan lama ini, para mahasiswa memiliki wawasan dan pemahaman yang komprehensif terhadap keberadaan kampus, sejumlah fasilitas yang dapat dioptimalkan demi pengembangan diri. "Yang juga layak dicatat adalah bahwa kampus ini berada di kompleks Pondok Pesantren Darul Ulum, sehingga nilai-nilai kepesantrenan merupakan hal yang menyatu saat orientasi," tandas Luthfi, sapaan akrabnya.

Tidak berhenti sampai di situ, para calon mahasiswa baru juga diarahkan untuk menjadi bagian dari perubahan. "Namun yang lebih ditekankan selama orientasi adalah perubahan dengan menjunjung tinggi dialog dan nalar kritis," ungkapnya. Baginya, upaya melakukan perubahan bagi lingkungan dan masyarakat hingga bangsa dan negara tidak semuanya dilakukan dengan turun jalan. Turun ke jalanan adalah alternatif terakhir ketika upaya dialog mengalami jalan buntu, lanjutnya.

Karena itu selama masa pengenalan kampus ini, materi yang disampaikan lebih banyak kepada upaya menumbuhkan sikap kritis dan memberikan solusi bagi persoalan yang dihadapi. "Akademik riset menjadi kata kunci bagi mahasiswa agar bisa berperan aktif di masa mendatang," tandas Luthfi.

Sehingga pada akhir Oscar, diselenggarakan diskusi panel bertema berpikir kritis dan inovatif dalam suasana akademis dengan menyesuaikan fakultas masing-masing. "Dari sini dapat diketahui bagaimana nalar mahasiswa ketika menghadapi problematika personal, sosial hingga masalah kenegaraan yang dianggap pelik beserta solusi terbaik yang mereka miliki," sergah Luthfi. Malam keakraban diisi dengan api unggun, bina diri, pengukuhan dan ikrar mahasiswa. (Syaifullah/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Sholawat, Nahdlatul Ulama, Fragmen Shautus Salam

Minggu, 05 November 2017

Animo Masyarakat Terhadap Madrasah Semakin Positif

Jakarta, Shautus Salam. Direktur jenderal pendidikan Islam Kamaruddin Amin menyatakan belakangan ini animo masyarakat untuk mengirimkan anaknya untuk belajar di madrasah semakin tinggi, hal ini bisa dilihat dari jumlah pendaftar di madrasah negeri yang membludak, jauh melebihi kapasitas kursi yang tersedia.

“Madrasah bukan lagi alternatif, tetapi telah menjadi pilihan pertama. Di beberapa madrasah, misalnya di madrasah negeri MAN Model atau Tsanawiyah Model di seluruh Indonesia itu kalau kursinya 150, pendaftarnya bisa sampai 2000. ? Jadi kurang dari 10 persen yang diterima,” katanya di kantor Kemenag Lapangan Banteng, Rabu (26/11).

Animo Masyarakat Terhadap Madrasah Semakin Positif (Sumber Gambar : Nu Online)
Animo Masyarakat Terhadap Madrasah Semakin Positif (Sumber Gambar : Nu Online)

Animo Masyarakat Terhadap Madrasah Semakin Positif

Tak hanya di madrasah negeri, di madrasah swasta yang masih mengalami keterbatasan infrastruktur pun saat ini trennya luar biasa kencang. Salah satu penyebabnya adalah tingkat kelulusan Ujian Nasional yang tidak kalah dengan sekolah, disisi lain mendapat materi keagamaan yang lebih baik dibanding sekolah pada umumnya.

Shautus Salam

Dukungan kuat juga diberikan pada para gubernur, bupati, dan walikota untuk mendirikan madrasah unggulan di daerahnya.

Shautus Salam

“Ini saya baru terima Kanwil Kemenag Sumatra Barat yang di-back up gubernurnya yang menyumbangkan tanahnya 10 hektar untuk dibuat MAN Insan Cendikia karena persyaratannya harus ada tanah yang disumbangkan sebesar 10 hektar ke Kementarian Agama, baru kita membangun MAN IC di disitu. Ini kan tekanannya di sains sehingga madrasah tidak kalah dengan sekolah terbaik se-Indonesia, makanya ada juara olimpiade, tanpa melupakan signifikansi pentingnya pendidikan agama,” tandasnya.?

Ia menambahkan Madrasah Keagamaan untuk mencetak calon ulama juga menjadi perhatian. “Kita ingin seluruh Indonesia juga ada representasi-representasinya, misalnya disini ada madrasah Al Azhar al Syarif yang bekerjasama dengan Univesitas Al Azhar Mesir, kurikulumnya Al Azhar, guru-gurunya juga alumni Al Azhar, pengantarnya pakai bahasa Arab. Ini yang akan direplikasi di seluruh Indonesia.”?

Penyebaran akses

Persoalan pendidikan yang menengah yang masih dihadapi adalah angka partisipasi kasar nasional yang baru mencapai 78 persen sehingga tantangan ke depan adalah bagaimana membawa anak-anak yang lulus tsanawiyah ini belajar di SMA atau Aliyah.?

“Ini tantangannya besar karena tidak sedikit jumlahnya, karena ada dua atau tiga juta anak sekolah. Artinya harus pemerintah menyediakan kursi untuk dua juta murid. Guru sekian, ruang kelas sekian. ? Pendidikan nasional kita masih menghadapi tantangan yang tidak sedikit.”?

Karena itulah, investasi pendidikan di Indonesia sebenarnya masih pada memperbanyak akses pendidikan kepada anak usia sekolah, berbeda dengan negara-negara maju yang sudah selesai dalam soal akses dan infrastruktur, tinggal pengembangan mutunya.?

“Pendidikan Islam khususnya, sebagian besar masih pada pengembangan akses. Jadi untuk pengembangan mutu belum ideal, baik di perguruan atinggi atau pendidikan menengah.”

Beberapa jenis bantuan yang diberikan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia diantaranya adalah Bantuan Operasional Sekolah (BOS), Kartu Indonesia Pintar (KIP) untuk inividu dan sejumlah program lainnya?

“Kita memiliki data madrasah yang roboh, yang perlu di rehab, tetapi, prolemnya kebutuhan dan ketersediaan anggaran belum match. Kita setiap tahun merehab ribuan ruang kelas, tetapi kebutuhannya puluhan ribu.”?

Kini Kemenag kami mengundang semua pihak yang berminat untuk membangun madrasah, “supaya tidak menimbulkan fitnah, kami tidak terima duitnya, kami kasih datanya saja. Anda mau membangun berapa, dimana, silahkan.”

Mengenai alokasi 20 persen APBN untuk pendidikan, hal ini sangat berpengaruh terhadap peningkatan kualitas pendidikan. Sayangnya, proporsi pembagiannya belum ideal antara pendidikan umum dan pendidikan Islam, meskipun trennya masih membaik.?

“Saya belum menganggap ideal dan ini masih perlu penyesuaian, dan terkait banyak hal, pendataan, manajemen tata kelola dan lainnya. Saya optimis, ke depan akan semakin bagus. Saya kira beberapa tahun terakhir, ,pendidikan Islam mendapat perhatian cukup bagus dari pemerintah, yang belum maksimal itu pesantren. ? Karena pesantren pendidikan non formal, tidak sebanyak madrasah.” (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Kajian Sunnah, Pahlawan, Fragmen Shautus Salam

Sabtu, 28 Oktober 2017

22 Becak Kiai, 10 Bendera, 2015 Penabuh Rebana di Pacitan

Pacitan, Shautus Salam. Peringatan Hari Santri Nasional 22 Oktober diperingati secara serentak dan meriah di seluruh penjuru Tanah Air. Di Pacitan, Jawa Timur, ribuan santri mengikuti Kirab Hari Santri Nasional di Komplek Masjid Agung Darul Falah dan Pendopo Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, Kamis (22/10) siang.

22 Becak Kiai, 10 Bendera, 2015 Penabuh Rebana di Pacitan (Sumber Gambar : Nu Online)
22 Becak Kiai, 10 Bendera, 2015 Penabuh Rebana di Pacitan (Sumber Gambar : Nu Online)

22 Becak Kiai, 10 Bendera, 2015 Penabuh Rebana di Pacitan

Ribuan santri dari? seluruh? pesantren dan Madrasah Diniyah Takmiliyah se-Kabupaten Pacitan turut berpartisipasi dalam kirab ini. Sebanyak 22 Becak Kiai, 10 Bendera merah putih dan 2015 Penabuh Rebana mengiringi ribuan peserta kirab. “Angka tersebut digunakan untuk melambangkan tanggal diresmikanya Hari Santri Nasional yaitu tanggal 22 Oktober 2015,” kata Ketua Panitia Kirab Gus Mu’ad Harits Dimyathi kepada Shautus Salam.

Rangkaian kirab digelar khidmah dan sangat meriah, diawali dengan melaksanakan shalat dhuhur secara berjamaah di Masjid Agung Darul Falah Pacitan. Lalu pembacaan kalimah toyyibah tahlil yang dipimpin oleh KH Abdullah Sadjad, dan diteruskan dengan pembacaan Nadham Asmaul Husna oleh ribuan santri. Selanjutnya acara “Doa Bersama” ditutup dengan pembacaan doa oleh KH Burhanudin HB.

Shautus Salam

Pukul 13.00 WIB bertempat depan gerbang masjid Agung, Kirab secara resmi diberangkatkan oleh Kapolres Pacitan didampingi pengasuh Pondok Tremas KH Hammad Al Alim Harist dan Ketua Panitia Kirab Gus Mu’ad Harits Dimyathi. Ribuan Santri dengan tertib dan penuh semangat melakukan long march menempuh jarak 2 kilometer mengelilingi kota Pacitan.

Shautus Salam

Pemberangkatan rombongan kirab diawali oleh pasukan Paskibra Pondok Tremas yang membawa 10 Bendera Merah Putih diikuti Barisan Banser, Disusul dengan barisan marching band dari Pesantren Al Fattah Kikil, Selanjutnya 22 unit Becak yang membawa para kiai dan seterusnya barisan ribuan santri dari 12 Kecamatan di Pacitan.

Aksi Sosial Bagi-bagi Tanaman

Bersamaan dengan itu, aksi sosial dilakukan oleh ribuan peserta kirab. Sambil berjalan mereka membagikan 22 bibit pohon jati, 10 bibit pohon cengkeh dan 2015 bibit pohon sengon kepada masyarakat yang menyaksikan jalanya kirab. Lagi-lagi angka tersebut sebagai kebanggan para santri atas diresmikanya hari santri Nasional tangal 22 Oktober 2015.

Kirab diakhiri dengan kegiatan apel santri di halaman Pendopo Kabupaten Pacitan sekaligus dilakukan peresmian Hari Santri Nasional oleh Pemerintah Daerah dalam hal ini dilakukan oleh Sekretaris Daerah ( Sekda) Kabupaten Pacitan Suko Wiyono.

Apel Peresmian Hari Santri Nasional diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia raya, dilanjutkan pembacaan Ikrar Santri oleh ketua panitia Kirab Gus Mu’ad Harits Dimyathi. Kemudian secara simbolis Sekda Suko Wiyono didampingi para kiai menekan tombol sirine dan penerbangan balon udara sebagai tanda diresmikanya Hari Santri Nasional 22 Oktober 2015.

Tampak hadir peresmian Hari santri nasional di Pendopo Kabupaten Pacitan, Para kiai seperti Pengasuh Pondok Tremas KH? Hammad Al Alim Harits, KH Mu’ad Harits, Pengasuh Pesantren Al Fattah KH Burhanudin HB, KH Umar Syahid Mustasyar PCNU, KH Mahmud Ketua Tanfdziah PCNU, Kapolres Pacitan, Ketua DPRD Roni Wahyono dan? puluhan kiai pengasuh pesantren. Kirab Peringatan hari santri nasional terselenggara atas kerjasama RMI NU, Forum Komunikasi Pesantren Pacitan dan Pemerintah Kabupaten Pacitan. (Zaenal Faizin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam News, Nasional, Fragmen Shautus Salam

Selasa, 24 Oktober 2017

Gubernur Sulsel Resmikan Auditorium Kampus NU

Makassar, Shautus Salam. Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo menandatangani prasasti peresmian auditorium salah satu perguruan tinggi NU, Universitas Islam Makassar (UIM), di Makassar, Sabtu (17/1).

Gubernur Sulsel Resmikan Auditorium Kampus NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Gubernur Sulsel Resmikan Auditorium Kampus NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Gubernur Sulsel Resmikan Auditorium Kampus NU

Auditorium tersebut diberi nama “Drs. KH. Muhyiddin Zain", nama rektor pertama Universitas Al-Gazali yang sekarang dikenal dengan sebutan UIM ini. Acara peresmian gedung baru ini menjadi satu rangkaian dengan peringatan maulid Nabi Muhammad SAW yang dipusatkan di auditorium setempat.

Dalam prosesi peresmian Syahrul Yasin didampingi Rektor UIM Andi Majdah, Wakil Gubernur Sulawesi Selatan Agus Arifin Numang, Rais Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Sulawesi Selatan Anregurutta Dr KH Sanusi Baco, Ketua Dewan Pengawas Yayasan Perguruan Tinggi Al-Gazali Makassar Drs KH Abdurrahman.

Shautus Salam

Andi Majdah mengucapkan rasa terima kasihnya kepada seluruh komponen yang terlibat membantu pembangunan infrastruktur Universitas Islam Makassar. Segenap dukungan sangat berarti bagi kelancaran pembangunan ini.

Shautus Salam

Ia menambahkan, dalam waktu dekat akan ada penandatanganan kesepakatan antara UIM dan Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan serta Kementerian Agama Sulawesi Selatan untuk meningkatkan kerja sama terkait pengembangan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UIM dan pemenuhan tenaga pengajar di Sulawesi Selatan.

Tampak hadir Ustads M. Habiburrahman, penemu metode menghafal Al Quran Kauny Quantum Memory; para pengurus Syuriyah dan Tanfidziyah PWNU Sulsel, Mustasyar NU, pengurus yayasan setempat, para pembantu rektor, dekan se-UIM, para ketua PCNU se-Sulsel, dan ribuan jamaah dari Kabupaten/Kota se-Sulawesi Selatan. (Andy Muhammad Idris/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Fragmen, Meme Islam, Nahdlatul Ulama Shautus Salam

Senin, 18 September 2017

Puasa, Jam Kerja di Pemkab Purwakarta Ikuti Sunah Rasulullah

Purwakata, Shautus Salam. Pemerintah Kabupaten Purwakarta menetapkan jam kerja yang berbeda dengan aturan yang ditetapkan dalam Surat Edaran Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi. Jam kerja di Kabupaten Purwakarta itu mengacu pada sunah Rasulullah.

Puasa, Jam Kerja di Pemkab Purwakarta Ikuti Sunah Rasulullah (Sumber Gambar : Nu Online)
Puasa, Jam Kerja di Pemkab Purwakarta Ikuti Sunah Rasulullah (Sumber Gambar : Nu Online)

Puasa, Jam Kerja di Pemkab Purwakarta Ikuti Sunah Rasulullah

Surat Edaran Men PAN dan RB No 03/2016 menetapkan jam kerja bagi pegawai negeri sipil, TNI, dan Polri selama bulan Ramadan dimulai pada pukul 08.00 WIB dan berakhir pukul 15.00 WIB. Namun tidak semua pemerintah daerah mematuhi aturan dalam surat edaran itu. Kabupaten Purwakarta menjadi salah satu di antaranya. Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi mengumumkan jam kerja selama Ramadan bagi PNS dimulai pukul 06.30 WIB dan berakhir pukul 13.30 WIB.

Shautus Salam

Menurut Dedi, langkah pemerintah kabupaten ini mengacu pada sunah Rasulullah yang menyebut bahwa setelah menjalankan makan sahur dan salat Subuh seyogianya tidak tidur lagi, tapi segera bersiap menjalani aktivitas seperti biasa. Dedi menegaskan agar aturan yang ditetapkan oleh Pemerintah Kabupaten Purwakarta ditaati oleh semua pegawai.

Shautus Salam

"Kultur kita, kan, berbeda. Sudah seharusnya setiap tata aturan birokrasi itu mengacu pada kultur dan tidak boleh digebuk rata. Anda boleh hitung jarak rumah ke kantor. Toh tidak terlalu jauh dan tidak akan terjebak macet. Alasan lain yang harus diperhatikan adalah jangan pernah kita membangun kebiasaan tidur setelah salat Subuh. Selain mengundang penyakit, ini tidak sesuai dengan sunah Rasulullah," kata Dedi dalam rangkaian acara silaturahmi menjelang Ramadan yang dilanjutkan dengan olahraga bersama dengan segenap PNS eselon II, III, dan IV di Taman Maya Datar, Jumat (3/6).

Menurut Bupati, jam kerja yang berakhir pukul 13.30 memberikan ruang bagi pegawai untuk mempersiapkan menu berbuka yang sehat bagi seluruh keluarganya. "Ibadah puasa bagi kami di Purwakarta bukan sekadar ibadah personal, tetapi momentum untuk mendidik semua anggota keluarga kami. Ada ruang waktu yang cukup panjang untuk mempersiapkan itu semua dengan pulang pukul 13.30," ujar Dedi.

Dedi mengimbau kepada semua pegawai di lingkungan Pemerintah Kabupaten Purwakarta agar fokus menjalankan ibadah puasa dan ibadah?ibadah yang lain. Ia menilai seharusnya semua pegawai diliburkan selama bulan Ramadan kecuali pegawai yang berada pada sektor pelayanan publik seperti puskesmas, rumah sakit, dan layanan kependudukan.

?

"Jika semua libur, tentu tidak akan dipusingkan dengan orang?orang yang datang meminta THR ke kantor. Semua fokus berkontemplasi dalam ibadah," ujar Dedi. (Novianty/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Tokoh, Fragmen Shautus Salam

Sabtu, 26 Agustus 2017

Beberapa Ciri Khusus Aswaja An-Nahdliyah

Jombang, Shautus Salam

Ketua Aswaja NU Center Jombang, Ustadz Yusuf Suharto menjelaskan bahwa Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) an-Nahdliyah memiliki ciri khusus (khas) tersendiri. Ciri tersebut sebagai pembeda antara penganut Aswaja dari lainnya.

Beberapa Ciri Khusus Aswaja An-Nahdliyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Beberapa Ciri Khusus Aswaja An-Nahdliyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Beberapa Ciri Khusus Aswaja An-Nahdliyah

Di antara ciri-ciri khas tersebut, Yusuf menyebutkan yang pertama adalah secara teologis meyakini bahwa Allah tidak menyerupai segala sesuatu, ada tanpa tempat dan arah, Mahasuci dari bentuk dan ukuran, dan tidak dapat dibayangkan.

Terkait sejumlah ayat tentang tuhan di Al-Quran atau yang biasa disebut ayat mutasyabbihat (maknanya masih samar), Aswaja memakai metode tafwidl atau takwil. Ayat-ayat tersebut tidak boleh diartikan dan dipahami secara tekstual, melainkan harus ditafsiri dengan metode-metode tersebut.

Shautus Salam

Ciri yang kedua meyakini bahwa Allah adalah Pencipta segala sesuatu. Ketiga tidak mengafirkan seorang muslim dengan sebab dosa besar yang ia lakukan selama ia tidak menghalalkannya (meyakini kehalalannya).



(Baca juga: Kriteria Khas Aswaja NU Rumusan Muktamar Ke-33 NU)


Shautus Salam

Sementara yang keempat, lanjut dia, adalah meyakini bahwa Nabi Muhammad adalah Nabi dan Rasul yang terakhir. Kelima, Mengagungkan para sahabat Nabi secara keseluruhan, lebih-lebih khulafaur Rasyidin. Kemudian ciri yang terakhir meyakini bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang benar dan diridhai Allah.

Ahlussunnah wal Jama’ah adalah golongan yang senantiasa berpedoman pada ajaran Rasulullah dan para sahabat, dan selalu menjadi kelompok mayoritas di setiap masa. "Dalam? masalah akidah, Aswaja mengikuti madzhab Imam Abul Hasan al-Asy’ari dan Imam Abu Manshur al-Maturidi," katanya, Ahad (31/72016).

"Pada saat ini, Ahlussunnah wal Jama’ah dikenal dengan sebutan Asy’ariyyah (para pengikut Imam Abul Hasan al-Asy’ari) dan Maturidiyyah (para pengikut Imam Abu Manshur al-Maturidi)," imbuhnya.

Di samping itu, golongan yang beraswaja tersebut sudah digambarkan oleh Nabi Muhammad SAW, yaitu kelompok yang diistimewakan dengan memperoleh balasan surga di antara kelompok-kelompok yang lain.

"Rasulullah mengabarkan kepada kita bahwa umatnya akan terpecah belah menjadi 73 golongan. Sebanyak 72 di antaranya berhak masuk neraka, dan satu golongan akan masuk ke dalam surga, yang kemudian dikenal sbg Ahlussunnah wal Jama’ah," pungkasnya. (Syamsul Arifin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Pahlawan, Fragmen, AlaSantri Shautus Salam

Rabu, 26 Juli 2017

Sudah Saatnya PMII Emban Amanat Perubahan

Pontianak, Shautus Salam 

Puluhan kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII)  Kota Pontianak mengikuti silaturahim warga pergerakan yang dikemas dalam bentuk dialog pada di Hotel Grand Mahkota, Pontianak, Kalimantan Barat, pada Senin (14/10).

Silaturahim bertema “Tri komitmen PMII sebagai resolusi kepemimpina negeri” ini mendaulat mantan Ketua Umum Pengurus Besar PMII periode 1994-1997, Muhaimin Iskandar, sebagai pembicara. 

Sudah Saatnya PMII Emban Amanat Perubahan (Sumber Gambar : Nu Online)
Sudah Saatnya PMII Emban Amanat Perubahan (Sumber Gambar : Nu Online)

Sudah Saatnya PMII Emban Amanat Perubahan

Muhaimin yang juga Menakertrans tersebut mengungkapkan, bahwa sebagai seorang pemimpin, hendaknya memiliki tiga komitmen, yakni intelektualitas, profesionalitas, dan komitmen sosial. 

Shautus Salam

Semua itu, hendaknya menjadi pijakan serta paradigma berpikir tiap-tiap pemimpin. Selain itu, saat ini Indonesia sedang mengalami beberapa kecendrungan, diantaranya dunia saat ini menganggap bahwa Indonesia merupakan bangsa yang sangat besar.

Sehingga, kata pria yang akrab disapa Cak Imin ini, masyarakat dunia menjadikan Indonesia menjadi pasar produk dunia. Hal ini, tambahnya, tentunya memiliki dampak positif dan negatif bagi bangsa kita.

Shautus Salam

Dampak positifnya, kata dia, ialah masyarakat dunia akan berusaha menjaga agar perekonomian negara kita tetap stabil, tetapi dampak negatifnya ialah kita akan menjadi bangsa yang tidak mandiri. 

Padahal, Indonesia memiliki SDM serta SDA yang luar biasa,  namun keduanya belum dimanfaatkan secara maksimal. "Sudah satnya PMII memegang amanat perubahan,” ujar Cak Imin. 

Menurut dia, perubahan tersebut dapat dilakukan dengan kreativitas dan mulai melakukan perubahan dengan mengubah pola pikir rakyat dan masyarakatnya. (Ahmad Fauzi/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Ahlussunnah, News, Fragmen Shautus Salam

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Shautus Salam sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Shautus Salam. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Shautus Salam dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock