Tampilkan postingan dengan label Olahraga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Olahraga. Tampilkan semua postingan

Rabu, 21 Februari 2018

Becermin dari Kiai Blambangan

Judul Buku: Tiga Kiai Khos

Penulis: Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Penerbit: LKiS, Yogyakarta

Cetakan: I, September 2008

Becermin dari Kiai Blambangan (Sumber Gambar : Nu Online)
Becermin dari Kiai Blambangan (Sumber Gambar : Nu Online)

Becermin dari Kiai Blambangan

Tebal: xiii+154 Halaman

Peresensi: A. Syaiful Ala



Shautus Salam

Saat konflik di tubuh Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) pecah, muncullah istilah yang dicetuskan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dengan nama kiai khos dan kiai kampung. Buku yang ditulis Ainur Rofiq Sayyid Ahmad bukan berarti untuk membedakan antara kiai khos dan kiai kampung. Tetapi yang dimaksud penulis adalah untuk menjelaskan kepada publik, mana kiai yang harus menyandang gelar warasatul al-anbiya’ (pewaris nabi)? Karena banyak kiai di beberapa daerah sekarang ini yang tidak mencerminkan sebagai pewaris nabi ketika terjun dalam politik praktis. Yang seharusnya menjadi kiai khos berubah menjadi kiai “kaos”, kiai kampong—seorang kiai yang bersentuhan langsung dengan masyarakat—malah menjadi kiai “kampungan” yang selalu membodohi masyarakatnya.

Disadari atau tidak, kiai atau ulama telah dianggap sebagai pewaris para nabi – sebagaimana disebutkan dalam sebuah Hadits—al ulama waratsatul anbiya’. Dalam konteks ini, kiai berarti mempunyai dua fungsi. Pertama, li khilafati an nubuwwah fi hirasati ad din (pemilik otoritas menegakkan agama). Kedua, wa fi hirasati siyasati ad dunya, yakni membimbing umat manusia. Dalam praktiknya, kemasyarakatan dan kenegaraan, idealnya nilai-nilia moral keulamaan yang mengontrol kehidupan masyarakat dan moral ulama pula yang mengendalikan sebuah kekuasaan.

Shautus Salam

Al-Ghazali dalam kitabnya, Ihya’ al Ulumiddin, membagi ulama dalam tiga tingkatan. Yakni al-ulama al dunya (hidup dan perjuangannya yang selalu diukur dengan materi), al ulama ukhrawi (seorang ulama yang mengedapan amalan ritual, penghambaan diri kepada Allah) dan al ulama’u su’un (menghalalkan sesuatu dengan berbagai cara untuk kepentingan dirinya pada akhirnya menjerumuskan dirinya pada jurang ketidakpastian).

Kata “ulama akhirat” yang didefinisikan Imam Al-Ghazali sebenarnya bukanlah pengetian yang cukup sederhana, yakni bukan hanya ulama berkutat pada sebuah ritual mahdah, pengahambaan diri kepada Allah tanpa mempertimbangkan atau memperhatikan apa yang terjadi sekitarnya. Melainkan ulama dalam arti yang lebih luas, hakIkat dari ulama akhirat adalah bahwa karakteristik ulama selalu menjadi ruh dan inspirasi bagi setiap kehidupan sosial, politik dan kultur masyarakat. Dan, yang demikian itu, seperti yang dicontohkan ketiga kiai dari Banyuwangi, Jawa Timur, dalam buku ini.

Pertama, KH Zarkasi Djunaidi bukanlah seorang politisi praktis, namun hampir tidak satu proses politik yang terjadi di Banyuwangi tidak luput dari sentuhan tangan lembutnya. Di samping itu pula, dalam keseharian hidupnya, ia dikenal sebagai sosok yang bijak. Ia mengerti dengan siapa ia berhadapan. Kalau berkumpul dengan anak-anaknya menggunakan kata-kata layaknya kanak-kanak. Begitu juga ketika berkumpul dengan orang tua, ia juga dengan gaya bahasa orang tua atau dewasa (yukrim kabirana wa yarham shaghirana).

Kedua, KH Mukhtar Syafaat bukanlah seorang ekonom, namun kontribusi terhadap pemberdayaan ekonomi umat tidak kecil. Pengaruhnya semakin kuat dalam pemberdayaan ekonomi kerakyatan ketika ia menyandang jabatan Mustasyar Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Banyuwangi. Hal itu sevisi dengan cikal bakal berdirinya jam’iyah Bintang Sembilan itu, bahwa salah satu pilar berdirinya NU adalah pemberdayaan ekonomi umat yang dikenal dengan jam’iyah Nahdlatut Tujjar (kebangkitan para saudagar/pengusaha) yang digagas Hadratus Syeikh KH Hasyim Asy’ari dan beberapa kiai semasanya.

Ketiga, KH Askandar bukanlah pemegang tampuk kekuasaan negara atau militer, namun perjuangannya untuk terus memberikan kesadaran terhadap masyarakat dan membela Tanah Air (semangat nasionalisme) melawan penjajah tidak dapat disepelekan. Perjalanan panjang yang dilaluinya dalam mengisi kemerdekaan, sebagai pengasuh pesantren tetap tidak melupakan pesantrennya sebagai pusat pendidikan (education center) bagi masyarakat. Bahkan, ketika masuk dalam perpolitikan nasional, ia berkabung ke kepengurusan NU (Partai NU pada waktu itu). Tetapi kesibukan dalam dunia politik tidak membuatnya lupa pada pesantrennya dan tunggung jawabnya untuk membina masyarakat.



Kiai dan Politik


Selama ini, politik oleh banyak orang selalu dikonotasikan yang negatif. Secara substansinya seperti memang dari “sononya”. Melainkan, akibat terkait dengan implementasinya yang justru menyimpang seperti yang dipertontonkan para politikus saat ini. Akhirnya, masyarakat menyimpulkan sendiri bahwa kiai yang terjun dalam politik praktis juga dicap jelek.

Yang ironis, dalam percaturan politik, kiai terkadang memainkan segala peran untuk memenuhi ‘syahwat’ politiknya guna tercapainya tujuan yang diinginkan. Kata-kata “demi umat”, “ukhuwah”, “pembangunan”, “demokrasi”, “rakyat” sudah menjadi ‘nasi’ dan ‘sayur’ bagi mereka untuk mengais perhatian. Dalil Al-Quran pun sudah mereka lahap dengan nikmatnya, sekalipun tidak dalam konteks yang sesungguhnya.

Buku ini perlu dibaca para kiai atau calon kiai (santri) untuk menjadi rujukan bahwa ketiga figur kiai di atas adalah benar-benar tidak terpengaruh dengan tawaran duniawi yang sifatnya sementara (fana’). Tapi, lebih (selalu) mengedepankan nilai-nilai kepentingan umat dalam jangka waktu panjang.

Melalui buku ini, kita pun akan jernih melihat persoalan politik yang dimainkan kiai, jalan panjang demokrasi kita. Misal, politik yang selalu distempel jelek keterlibatan kiai dalam politik praktis. Sehingga mengakibatkan kehilangan jati diri atau identitas ke-kiai-annya.



Peresensi adalah Aktivis pada Komunitas Baca Surabaya
Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Olahraga, Halaqoh Shautus Salam

Jumat, 16 Februari 2018

Menakar Kesadaran Profetik Gerakan Kepemudaan

Oleh Ananta Damarjati

Tidak bisa dipungkiri, perdebatan antara agama dan sains merupakan perdebatan abadi. Kedua entitas tersebut cenderung sulit dipersatukan. Agama memaksa sains agar terikat oleh nilai, sebaliknya, sains menuntut seseorang untuk menelanjangi dirinya dari segala macam bentuk dogma sebelum memasuki gerbang “kebenaran” objektif yang diidentikan dengannya. Dalam arti lain, sains harus bebas nilai.

Menakar Kesadaran Profetik Gerakan Kepemudaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Menakar Kesadaran Profetik Gerakan Kepemudaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Menakar Kesadaran Profetik Gerakan Kepemudaan

Premis-premis yang diajukan filsafat barat (filsafat kritis) juga selalu meletakkan dirinya sebagai oposisi biner dari gagasan tentang wahyu agama. Sehubungan dengan itu, Kuntowijoyo dalam bukunya mengutip pendapat Roger Garaudy, bahwa filsafat barat (filsafat kritis) “tidak memuaskan, sebab terombang-ambing antara dua kubu idealis dan materialis, tanpa kesudahan. Filsafat barat (filsafat kritis) itu lahir dari pernyataan: Bagaimana pengetahuan dimungkinkan. Dia (Garaudy) menyarankan untuk mengubah pertanyaan itu menjadi: Bagaimana wahyu itu dimungkinkan.” (2006:97). Garaudy berpendapat bahwa “Filsafat barat sudah ‘membunuh’ Tuhan dan manusia”. Oleh karena itu dia menyarankan “supaya umat manusia memakai filsafat kenabian dari Islam (Garaudy, 1982:139-168) dengan mengakui wahyu” (2006:98).

Di sini dapat dipahami bahwa filsafat barat menitikberatkan epistemologi pengetahuannya melalui akal. Dan Garaudy seolah menegaskan, bahwa ada sebuah kebenaran hakiki melalui wahyu yang lebih tinggi di atas kebenaran yang diperoleh lewat akal.

Shautus Salam



Wahyu dalam paradigma profetik


Shautus Salam

Hal wahyu menjadi menarik jika diurai dalam konteks sosio-historis peradaban manusia. Di tanah Nusantarakuno (baca; Dipantara) sebelum secara simbolis identik dengan Majapahit, nenek moyang kita sudahmelakukan berbagai kegiatan sembahyang terstruktur dan metodis, atau pola asketis lain.

Bahkan, -menyitir gagasan Emha Ainun Najib- Resi atau ahli pertapaan zaman itu telah mencapai maqam tertinggi sebelum akhirnya selangkah lagi dapat mempertemukan dirinya dengan Tuhan.

Sayangnya, pertemuan itu tidak pernah terjadi jika tanpa informasi (wahyu) langsung dari Tuhan sendiri tentang siapa diri-Nya.Maka diturunkanlah oleh Tuhan secara langsung, informasi-informasi mengenai diri-Nya melalui Nabi dan Rosul-Nya, kemudian wahyu tersebut termanifestasi secara sakral menjadi teks kitab suci.

Syahdan, sejarah dan pergulatan panjang peradaban manusia tidak lantas menjadikan wahyu yang tertuang dalam Al-Qur’an kita sekarang, lapuk termakan jaman dan usang.Hal tersebut karena, paradigma profetik para Nabi dan Rosul dalam menyampaikan ajaran tauhid sampai saat ini masihdan terus ditularkan oleh para cendekiawan (pelajar, mahasiswa, pemuda)bahkan sejak wafatnya Rosul terakhir di muka bumi, Muhammad SAW 14 abad yang lalu, tidak melunturkan semangat itu.

Berkat semangat profetik yangditeruskan para cendekiawan yang bersentuhan langsung dengan Al-Qur’an dalam tataran keilmuan itu pula lah, manusia abad ini tetap memiliki kesadaran tentang adanya kesatuan esensial secara asasi antara subjek-objek, yaitu manusia-Tuhan (Ha’iri, 1994:20), dan kemudian menjadi tradisi besar spiritualitas manusia.

Berkat semangat kenabian dalam menyebar informasi yang terkandung dalam kitab suci pula, manusia secara epistemologis dapat memahami eksistensi Tuhan melalui refleksi pancaran cahaya-Nya terhadap seni, politik, agama dan jagad raya secara keseluruhan.



Aplikasi Kesadaran Profetik dalam Organisasi


Jika menilik lagi konsep ilmu sosial profetik Kuntowijoyo dan mengkontekstualisasikannya dengan peran cendekiawan sebagai suksesor dakwah Islam sejak Rasulullah SAW wafat, maka terlihat peran mereka begitu kental dalam menjaga gawang struktur transendental Al-Qur’an, baik yang berkenaan dengan muamalah ataupun ibadah mahdlah.

Dengan menjaga teksnya, menerapkan ajaran yang terkandung di dalamnya, serta mengukur relevansinya dengan realita, ritme dan progresivitas sosial masa kini tanpa mengubah strukturnya, seorang cendekiawan telah memenuhi dimensi etika profetik, karena ada tanggungjawab sosial dan kerja transformatif dalam praksisnya.

Seorang cendekiawan muda, Lafran Panepada tahun 1947 yang membuka kesadaran lebih luas tentang paradigma ini, ketika dia mengikutsertakan sejumlah orang untuk ikut bertanggungjawab atas kesadaran profetik dan mengkonsepsinya dalam bentuk organisasi. Mereka menyengajakan diri untuk terlibat dalam sejarah kemanusiaan dengan mengambil porsi besar tanggungjawab sosial dari masyarakat di Indonesia.

Pembentukan organisasi ini agaknya merupakan titik tengah, atau bahkan perkawinan gejala sosial masyarakat (modernitas, sains, sosial-budaya.dll) dengan nilai kebenaran agama. Dalam perpektif sosial profetik Kuntowijoyo, hal ini merupakan metodologi integralistik untuk mencapai peradaban kemanusiaan yang maju, serta upaya memecahkan masalah relasi antara Islam dan dunia modern yang menimbulkan ketegangan baik dengansosial, kebudayaan dan politik.

Gagasan ini bertitik tolak dari ajaran dan nilai-nilai keagamaan yang bersifat subjektif dalam arti lain menyangkut keyakinan orang per orang. Namun menurut Dawam Rahardjo, ajaran keagamaan itu khususnya di Indonesia, tidak bisa ditolak. Atau harus sedemikian rupa diakomodasi sebagaimana dilakukan oleh penguasa zaman lalu (Contoh; Sultan Agung, Sunan Kalijaga, dsb).

Pendekatan akomodasi dan objektifikasi di atas sangat penting untuk menghindari konflik-konflik yang timbul seperti yang terlihat dalam masyarakat Indonesia sekarang, serta dalam rangka mengharmoniskan hubungan agama dengan politik, seni, filsafat, sosial dan budaya.

Beruntunglah Indonesia memiliki beberapa organisasi kepemudaan yang secara tidak langsung berani mendeklarasikan dirinya sebagaiorganisasi “berkesadaran kenabian”, lalu ikut andil menyadarkan masyarakatluas, Negara, serta Pemerintah tentang berbagai isu sensitif? yang bersentuhan langsung dengan agama.

Namun, jika melihat pergerakan organisasi“profetik” kepemudaan sekarang ini, perlukah mempertanyakan lagi perihal konsistensi etika dan kesadaran profetik serta manifestasi kesadaran kenabian dalam menyoal relevansinya terhadap hal-hal yang menjadi objek kajian mereka?



Refleksi Profetisitas Gerakan Kepemudaan



Bagi Kuntowijoyo, menjalankan misi profetik harus mampu menerjemahkan tiga peran, yaitu tentang pentingnya melakukan amar ma’ruf (humanisasi), nahi munkar (liberasi) dan tu’minu billah (transendensi). Di sinilah menurut saya, gerakan kepemudaan menjadi mode komunikasi yang bertemu dengan misi dakwah –peran kenabian-, yang melahirkan organisasi dengan nilai-nilai profetik.

Secara garis besar, Kuntowijoyo berusaha menjelaskan, bahwa dengan humanisasi, manusia akan mampu menjadi manusia sejati yang menyeru pada kebaikan. Menjalankan tugas dan tanggung jawab sebagai individu, masyarakat dan hamba Tuhan. Sementara liberasi bertujuan memerdekaan manusia dari segala bentuk ketidakadilan yang bertentangan dengan perikemanusiaan dan akal budi manusia.

Sedangkan melalui kesadaran transendental, yaitu kesadaran lillah, billah, lirrasul, birrasul, secara langsung berdampak pada meningkatnya iman. Sehingga manusia akan mampu melakukan tugas humanisasi dan liberasi secara utuh.

Langkah Lafran Pane menginstitusionalisasi kesadaran profetiknya (yang kemudian diikuti sebagian besar organisasi lain), secara manifestasi adalah mengikutsertakan sejumlah orang untuk ikut bertanggung jawab atas “pengkonstruksian dunia”nya, karena merekalah yang berkesadaran turut membentuk dunia tersebut. Mereka sebagai bagian dari anggota masyarakat mencoba memahami dunia yang sebenarnya mereka bentuk sendiri.

Faktanya, organisasi kepemudaan yang mengusung napas agama telah mampu menjadi mesin yang mengonstruksi dunia sosial di sekitarnya. Atau memang telah didesain secara struktural untuk menyediakan calon pemimpin berkelas secara individu. Yang jelas, konstruksi sosial, kebudayaan sampai politik tidak pernah lepas dari pergerakan organisasi kepemudaan sejak awal keberadaannya di Indonesia.

Namun seiring dengan semakin tingginya posisi tawar, eksistensi dan aktualisasi diripada organisasi kepemudaan terhadap segala sendi sosial, politik dan kebudayaan kemasyarakatan kita, tidak bisa tidak, akan selalu ada potensi-potensi penyimpangan seperti korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN).

Di satu sisi saya percaya, bahwa oganisasi kepemudaan dimanapun tidak pernah ditatar untuk melakukan KKN, baik personal, institusional maupun struktural.Tapi disisi lain, jika dilihat dari gejala sosialnya secara historis, memang nyatanya banyak anak kandung “organisasi profetik”itu yang tersandung kasus KKN.Tidak etis jika hal ini dipungkiri, karena hal itu adalah salah satu naluri personal dan institusional.

Atau boleh dikatakan, sayap kecenderungan secara politik-kebudayaan (KKN) tersebut serta merta muncul bersamaan ketika mereka sedang memperjuangkan humanisasi dan liberasi, dan dalam waktu yang bersamaan melupakan wacana transendensi.

Namun yang tak kalah penting, tidak sedikit pula anak kandung “organisasi profetik” yang mampu menerjemahkan misi transendental ketika mengidentifikasi dirinya dengan batasan-batasan, arah serta tujuan yang telah secara tegas ditatar oleh organisasinya. Anak kandung yang tidak lupa untuk senantiasa lillah, billah, lirrasul, birrasul, dalam hal apa pun.

Termasuk ketika sedang melakukan transaksi politis dengan manusia lain yang sarat kepentingan, bahkan murni seratuspersen kepentingan. Tak jarang kepentingan tersebut menyamar sebagai ideologi, eksplisit maupun implisit. Yang tak jarang pula dalam transaksi tersebut memaksa pelakunya untuk berlaku kejam.

Sejauh ini yang saya pahami dari konsep-konsep Kuntowijoyo, bahwa praksis transendental tidak hanya mampu menyerap dan mengekspresikan secara dialektis sebuah realita, tapi juga memberi arah bagi realita tersebut, serta melakukan penilaian dan kritik sosial budaya secara beradab. Sekaligus menjadi petunjuk ke arah humanisasi dan liberasi.

“Organisasi profetik” kepemudaan yang sudah menentukan bahwa batasan, arah dan tujuannya adalah sesuai dengan Al-Qur’an, seharusnya –menurut Kuntowijoyo- menjadikan Al-Qur’an pula sebagai cara berfikir. “Ia akan memberikan kerangka bagi pertumbuhan ilmupengetahuan empiris dan ilmu pengetahuan rasional yang orisinal dalam arti sesuaidengan kebutuhan pragmatis masyarakat Islam, yaitu mengaktualisasikan misinya menjadi khalifah di bumi”.

Maka sangat urgen, bagi setiap organisasi yang “berkesadaran kenabian” untuk mempertanyakan ulang misi transendensinya. Jangan sampai, dapur organisasi yang memasak dengan serius kader-kadernya, menjadi tidak berarti ketika terpajang di etalase kepemimpinan, karena telah tercemar polusi kepentingan, serta dipencloki laler kekuasaan. Sehingga lupa arah, batasan, dan tujuan dunianya, serta menjadikan pribadinya untuk cenderung bebas nilai.

Ketika hal tersebut terjadi, kita patut bertanya: Quo Vadis profetisitas organisasi kepemudaan? Quo Vadis cendekia muda, pelajar, mahasiswa, Nabi kolektif bagi masyarakat?

Penulis adalah alumni Pondok Pesantren Kedunglo, Kediri; anggota aktif Lingkar Studi “Matakuhati” Semarang.


Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam RMI NU, Olahraga, Doa Shautus Salam

Rabu, 14 Februari 2018

Piala Dunia dan Problem Shalat Subuh

Di musim piala dunia seperti sekarang ini, hampir semua pecinta bola selalu mengikuti pertandingan secara live melalui televisi sesuai dengan jadwal. Untuk kali ini Brazil menjadi tuan rumah penyelenggara. Oleh karena itu jadwal pertandingan juga mengikuti waktu setempat. Dari sekian puluh jadwal pertandingan di Brazil, selalu ada satu pertandingan yang dilaksanakan pada malam hari hingga menjelang dini hari, bahkan hingga pagi hari.

Hadirnya musim piala dunia ini cukup menghibur masyarakat Indonesia, tetapi juga menjadi ujian bagi yang lain, ? terutama yang berhubungan dengan shalat subuh. ? Pasalnya, seringkali untuk mengikuti salah satu pertandingan seseorang harus rela bergadang tengah malam hingga menjelang dini hari. Sehingga ketika adzan shalat subuh berkumandang mereka telah terlelap dalam nyenyak tidur. Dengan kata lain seringkali seseorang mengorbankan kesempatan shalat subuh demi mengejar pertandingan sepak bola.

Pertanyaannya kemudian bagaimanakah fiqih memandang permasalahan seperti ini? bolehkah seseorang menyengaja tidur menjelang waktu subuh tiba, sedangkan ia sendiri sadar akan kewajiban shalat subuh dan beratnya bangun untuk melaksanakannya? Apakah bisa dibenarkan me-qadha shalat subuh setiap hari selama satu bulan masa piala dunia? ataukah ada solusi lainnya?

Piala Dunia dan Problem Shalat Subuh (Sumber Gambar : Nu Online)
Piala Dunia dan Problem Shalat Subuh (Sumber Gambar : Nu Online)

Piala Dunia dan Problem Shalat Subuh

Pada dasarnya orang yang tidur sebelum memasuki waktu shalat terbebas dari tuntutan kewajiban. Sebagaimana misalnya seseorang yang terlalu lelah bekerja dan tertidur sore hari hingga melewati waktu maghrib, maka shalat maghribnya harus dikerjakan secara qadha ketika dia terbangun di malam hari. Begitu pula dengan orang yang terlewat melakukan shalat subuh karena bangun di pagi hari ketika matahari telah tinggi. ? ? ?

Namun hal ini berbeda jika terdapat unsur kesengajaan di dalamnya. Artinya, jika seseorang sengaja bergadang kemudian tidur sebelum waktu subuh, sedangkan dia yakin bahwa ia tidak akan mampu bangun melaksanakan shalat subuh, maka tidur seperti itu hukumnya haram. Dan harus tetap melaksanakan shalat subuh meskipun dengan me-qadha-nya.

Demikia keterangan Dalam Syarah al-Yaqutun Nafis:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?...

Shautus Salam

Demikianlah sebaiknya para pecinta bola menghindarkan tidur menjelang subuh, apalagi jika ia yakin tidak akan mampu bangun untuk mendirikan shalat subuh. Karena yang demikian itu sungguh dilarang (haram). Red: Ulil H

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam

Shautus Salam Amalan, Olahraga Shautus Salam

Jumat, 26 Januari 2018

PCINU Turki Desak Indonesia Bereaksi Cepat

Istanbul, Shautus Salam. Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Turki mendesak pemerintah Indonesia untuk bereaksi cepat dalam mendorong perdamaian antara Palestina dan Israel.

Pemerintah diminta segera menggunakan pendekatan diplomatik di tingkat internasional, terutama melalui Perserikatan Bangsa-Bangsa, maupun di kawasan Timur Tengah dengan mendesak Turki, Mesir, Arab Saudi, dan Jordan untuk bereaksi cepat atas konflik itu.

PCINU Turki Desak Indonesia Bereaksi Cepat (Sumber Gambar : Nu Online)
PCINU Turki Desak Indonesia Bereaksi Cepat (Sumber Gambar : Nu Online)

PCINU Turki Desak Indonesia Bereaksi Cepat

Demikian dalam pernyataan pers Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Turki yang diterima Shautus Salam tertanggal 19 November 2012.

Agresi militer Israel atas penduduk Gaza sejak beberapa hari belakangan ini meresahkan umat manusia sedunia. Korban semakin meningkat setiap hari, termasuk anak-anak kecil dan perempuan yang seharusnya bukan sasaran konflik.

Shautus Salam

“Atas dasar kemanusiaan, kami mengutuk keras serangan militer yang biadab tersebut. Juga atas dasar perjuangan untuk mencapai kemerdekaan Palestina yang merupakan hak setiap bangsa, kami mendorong berbagai pihak untuk ikut menghentikan konflik antara militer Israel dan milisi Hamas, yang keduanya tak mempertimbangkan warga sipil yang tak bersalah,” demikian dalam pernyataan pers tersebut.

Shautus Salam

Kepada warga Indonesia, PCINU Turki mendorong untuk berperan serta dalam penggalangan dana bantuan kemanusiaan yang sangat dibutuhkan segera di tanah konflik, melalui berbagai organisasi yang siap menyalurkannya.?

“Atas kehendak rahmat Tuhan Yang Maha Kuasa, kita berharap perdamaian Palestina dan Israel terus diupayakan. Penindasan manusia atas manusia lain selamanya tidak dibenarkan demi kepentingan apapun. Persaudaraan antarumat manusia (ukhuwwah basyariyyah) yang sangat dipegang teguh Nahdlatul Ulama harus ditegakkan tanpa pandang bulu dan sekat-sekat geografis,” demikian pernyataan PCINU Turki yang diwakili Sekretaris Tanfidziyah Budy Sugandi.

Redaktur: A. Khoirul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Olahraga Shautus Salam

Senin, 22 Januari 2018

Kemenag Tak Akan Atur Penggunaan Atribut Keagamaan

Jakarta, Shautus Salam. Kementerian Agama Republik Indonesia menegaskan tak akan membuat aturan berisi perintah atau larangan tentang penggunaan atribut dan pakaian keagamaan tertentu. Sikap ini disampaikan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin terhadap isu penggunaan pakaian atau atribut Kristen jelang peringatan Natal.

Kemenag Tak Akan Atur Penggunaan Atribut Keagamaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kemenag Tak Akan Atur Penggunaan Atribut Keagamaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Kemenag Tak Akan Atur Penggunaan Atribut Keagamaan

“Masing-masing kita dituntut untuk dewasa dan bijak untuk tidak menuntut apalagi memaksa seseorang menggunakan pakaian atau atribut agama yang tidak dianutnya,” katanya dalam siaran pers yang dikirim melalui Bidang Hubungan Masyarakat Kemenag RI, Selasa (9/12).

Seorang Muslim, tambah Lukman, tidak usah dituntut menggunakan kalung salib atau topi sinterklas demi menghormati Hari Natal. Juga umat perempuan nonmuslim tidak perlu dipaksa berjilbab demi hormati Idul Fitri.

Shautus Salam

“Bertoleransi bukanlah saling meleburkan dan mencampurbaurkan identitas masing-masing atribut dan simbol keagamaan yang berbeda. Bertoleransi adalah saling memahami, mengerti, dan menghormati akan perbedaan masing-masing, bukan menuntut pihak lain yang berbeda untuk menjadi sama seperti dirinya,” tegasnya. (Mahbib Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam

Shautus Salam Olahraga, Nasional, Pondok Pesantren Shautus Salam

Minggu, 21 Januari 2018

Kapolri Sutarman: Untung Gus Dur Tak Mengatakan Saya Presiden

Jakarta, Shautus Salam. Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Polisi Sutarman hadir di Ciganjur, Sabtu (28/12) malam dalam acara puncak haul KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) bersama sejumlah pejabat dan politisi penting negeri ini antara lain Akbar Tanjung, Prabowo Subianto, Djan Farid, dan Basuki Tjahaya Purnama.

Kapolri Sutarman: Untung Gus Dur Tak Mengatakan Saya Presiden (Sumber Gambar : Nu Online)
Kapolri Sutarman: Untung Gus Dur Tak Mengatakan Saya Presiden (Sumber Gambar : Nu Online)

Kapolri Sutarman: Untung Gus Dur Tak Mengatakan Saya Presiden

Jenderal Sutarman pernah menjadi Ajudan Prediden RI pada saat Gus Dur menjabat presiden. “Saat Gus Dur dilengserkan, semua orang pada menghindar, Pak Sutarman tetap setia mendampingi Gus Dur,” kata Yenny Abdurrahman Wahid saat menyampaikan sambutan atas nama keluarga.

Gus Dur menjabat sebagai presiden saat bangsa Indonesia sedang memasuki era demokrasi yang sebenarnya. Masyarakat dan mahasiswa mulai bebas menyampaikan aspirasinya di hadapan umum.

Shautus Salam

“Gus Dur telah mencanangkan era reformasi, dan saat itu polisi juga sedang belajar bagaimana mengawal masyarakat dan mahasiswa yang sedang menyampaikan aspirasinya,” kata Sutarman saat menyampaikan testimoninya.

Namun betapapun Gus Dur mengawal demokrasi dan terpilih secara demokratis, Gus Dur dijatuhkan dari kursi kepresidenan dengan cara yang menyakitkan. Paling tidak ini yang dirasakan para pengawal dan orang dekatnya. Namun kepada para polisi itu Gus Dur mengatakan, “Biarlah saya menjadi presiden Indonesia terakhir dijatuhkan. Jangan ada presiden setelah saya yang diturunkan di tengah masa jabatan,” kata Sutarman.

Shautus Salam

Dari sekian cerita Jenderal Sutarman, ada yang menarik disampaikannya. Ternyata benar, jauh-jauh hari Gus Dur telah meramalkannya kelak ia akan menjadi Kapolri.

“Gus Dur mengatakan bahwa saya akan menjadi Kapolda, lalu menjadi Kapolri. Padahal waktu itu menjadi Kapolda saja saya tidak kepikiran. Dan ternyata benar saya menjadi Kapolri sekarang. Untung saja Gus Dur waktu itu tidak mengatakan saya jadi presiden karena ucapan Gus Dur itu mandi (ampuh). Saya katakan karena di sini banyak wakil presiden,” katanya.

Ia melanjutkan, Gus Dur pernah memberikan ijazah (doa) kepadanya untuk diamalkan, dan menjelang pemilihan Kapolri doa itu dibacanya berulang-ulang. “Akhirnya Pak SBY bingung lalu memilih saya,” katanya disambut riuh ribuan jamaah yang memadati halaman kediaman keluarga Gus Dur, masjid Al-Munawwarah, komplek Yayasan Wahid Hasyim dan Pesantren Ciganjur, hingga ke lapangan dan jalan raya.

Sebelumnya dibacakan tahlil yang dipimpin oleh KH Aziz Masyhudi dari Denanyar Jombang. Ketua Umum dan mantan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj dan KH Hasyim Muzadi hadir bersama para jamaah untuk mendoakan Gus Dur. (A. Khoirul Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Olahraga, Santri, Tegal Shautus Salam

Rabu, 17 Januari 2018

Belajar dari Kisah Nabi Nuh: Manfaat Istighfar

Ketika kaum Nabi Nuh alaihissalam tidak mau menaati ajakan beliau untuk beriman kepada Allah mereka diberi azab oleh Allah berupa kekeringan dan mandulnya kaum perempuan selama empat puluh tahun. Hal itu menjadikan hancurnya ternak dan tanaman mereka. Setelah keadaan ini berlangsung lama mereka mendatangi Nabi Nuh untuk meminta pertolongan.

Oleh Nabi Nuh mereka diminta untuk beristighfar, meminta ampun dari dosa kekufuran dan kemusyrikan, kepada Allah. Bila mereka mau beristighfar, Nabi Nuh menjanjikan bahwa Allah akan menurunkan hujan yang deras dari langit, memberi limpahan harta dan keturunan, serta menjadikan kebun-kebun dan sungai-sungai yang dpat menghidupi mereka.

Belajar dari Kisah Nabi Nuh: Manfaat Istighfar (Sumber Gambar : Nu Online)
Belajar dari Kisah Nabi Nuh: Manfaat Istighfar (Sumber Gambar : Nu Online)

Belajar dari Kisah Nabi Nuh: Manfaat Istighfar

Penjelasan di atas disampaikan oleh para ulama mufassir dalam berbagai kitab tafsir ketika mereka menafsirkan ayat 10–12 dari Surat Nuh.

Shautus Salam

? ? ? ? ? ?. ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Shautus Salam

“Maka aku (Nabi Nuh) katakan, ‘minta ampunlah kalian kepada Tuhan kalian, sesungguhnya Ia maha pengampun. Maka Dia akan menurunkan hujan yang deras dari langit kepada kalian. Dan Ia akan menganugerahkan kepada kalian harta dan anak-anak, serta menjadikan bagi kalian kebun-kebun dan sungai-sungai.”

Atas dasar ayat ini para ulama menyimpulkan bahwa istighfar merupakan sebab terbesar diturunkannya hujan dan diperolehnya berbagai macam rezeki serta bertambah dan berkembangnya keberkahan.

Suatu ketika ada orang yang mengadu kepada Imam Hasan al-Bashri perihal kegersangan yang melanda daerahnya. Orang yang lain mengadu perihal sedikitnya hasil bumi yang ia peroleh. Yang lain lagi mengadu perihal sulitnya mendapat keturunan. Dan yang lainnya mengadu perihal kefakirannya. Kepada semua orang ini Imam Hasan menganjurkan untuk memperbanyak beristighfar kepada Allah. Ia ditanya, “Orang-orang datang kepadamu dengan berbagai hajat, mengapa engkau perintahkan mereka semua untuk beristighfar?” Imam Hasan al-Bashri menjawabnya dengan membaca ayat di atas. (Yazid Muttaqin)

Sumber: Tafsir Al-Munir, Wahbah Az-Zuhaili dan kitab tafsir lainnya.



Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Olahraga, Warta, PonPes Shautus Salam

Minggu, 14 Januari 2018

Saifullah Yusuf Siap Dicopot

Jakarta, Shautus Salam

Menteri Negara Pembangunan Daerah Tertinggal Saifullah Yusuf menyatakan siap dicopot jika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memang menghendaki demikian.

"Menteri itu pembantu Presiden. Jika siap diangkat tentu juga harus siap dicopot," kata Saifullah usai peresmian pembentukan Divisi Search and Rescue (SAR) Gerakan Pemuda Ansor di Kantor PP GP Ansor, Jalan Kramat Raya, Jakarta, Senin (12/3) kemarin.

Saifullah Yusuf Siap Dicopot (Sumber Gambar : Nu Online)
Saifullah Yusuf Siap Dicopot (Sumber Gambar : Nu Online)

Saifullah Yusuf Siap Dicopot

Terkait wacana reshuffle kabinet, Saifullah disebut-sebut sebagai menteri yang akan diganti selain Menteri Perhubungan Hatta Rajasa dan Menteri Agama Maftuh Basyuni. Pencopotan Saifullah antara lain direkomendasikan DPP PKB.

Saifullah yang mantan Sekjen DPP PKB itu mengaku tidak terlalu memikirkan wacana reshuffle yang kembali marak bulan ini karena pada akhirnya yang menentukan adalah Presiden.

"Reshuffle itu kan hak prerogratif Presiden. Sebagai menteri saya berusaha menjalankan tugas semaksimal mungkin. Penilaiannya tentu ada pada Presiden," katanya.

Hanya saja, Ketua Umum GP Ansor yang juga Wakil Ketua Majelis Pertimbangan Partai PPP itu menyesalkan usul pencopotan seorang menteri oleh partai politik, apalagi di sisi lain partai itu justru mengajukan nama kadernya pada Presiden agar diangkat sebagai menteri.

Shautus Salam

"Memang siapa pun berhak mengajukan usul reshuffle. Tapi kalau satu partai usul agar Presiden mencopot menteri dari partai lain, lantas mengajukan nama dari partainya untuk diangkat sebagi menteri, ini kan tidak etis," katanya.

Artinya, kata Saifullah, usul reshuffle yang diajukan partai tersebut tidak berangkat dari penilaian obyektif dan demi perbaikan kinerja pemerintah, melainkan mengincar jabatan.

Sebelumnya, Ketua Umum DPP PKB Muhaimin Iskandar menyatakan, hampir separuh anggota kabinet harus diganti karena kinerjanya dinilai kurang baik, termasuk Saifullah Yusuf.

Shautus Salam

"Hampir separuh kabinet harus dibenahi," kata Ketua Umum DPP PKB Muhaimin Iskandar usai pembukaan Akademi Politik Kebangsaan yang digelar PKB di Jakarta, Minggu (11/3).

Namun pada kesempatan yang sama Muhaimin menyatakan PKB siap jika diajak Presiden Yudhoyono memperkuat kabinet. PKB sendiri sudah menyiapkan tiga nama untuk mengisi kabinet. (ant/rif)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Nahdlatul Ulama, Olahraga, RMI NU Shautus Salam

Rabu, 03 Januari 2018

Mustasyar NU Minta Orang Tua Hati-hati Dalam Mendidik Anak

Probolinggo, Shautus Salam. Orang tua harus hati-hati dalam mendidik anak sehingga anak tidak sampai salah melangkah. Sebab kebanyakan anak sekarang banyak yang salah melangkah dikarenakan didikan yang salah dan pergaulan yang terlalu berlebihan sehingga merusak akhlak dan tingkah laku anak.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Mustasyar NU Kabupaten Probolinggo H. Hasan Aminuddin saat menghadiri pengajian umum dalam rangka haflatul imtihan Madrasah Diniya (Madin) Babul Muta’allimin di Desa Sokaan Kecamatan Krejengan Kabupaten Probolinggo, Kamis (11/10) malam.

Mustasyar NU Minta Orang Tua Hati-hati Dalam Mendidik Anak (Sumber Gambar : Nu Online)
Mustasyar NU Minta Orang Tua Hati-hati Dalam Mendidik Anak (Sumber Gambar : Nu Online)

Mustasyar NU Minta Orang Tua Hati-hati Dalam Mendidik Anak

Kegiatan tersebut dihadiri oleh Rais Syuriyah PCNU Kraksaan KH Munir Kholili, Pengasuh Yayasan Madin Babul Muta’allimin KH Ibrohim, Kepala Kantor Kemenag (Kementerian Agama) Kabupaten Probolinggo H Bushtomi, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Probolinggo Asy’ari serta pengurus NU dan GP Ansor se Kecamatan Krejengan.

Shautus Salam

“Didiklah anak dengan benar serta bekali dengan iman dan ilmu. Dengan demikian anak tidak salah melangkah dalam pergaulannya dan nantinya menjadi generasi muda yang berkualitas calon pemimpin masa depan,” ungkap Hasan Aminuddin.

Shautus Salam

Lebih lanjut Hasan menginginkan anak-anak sebagai generasi muda menjadi calon pemimpin dimasa yang akan datang yang berkualitas, utamanya pemimpin dalam rumah tangga bagi keluarganya.

“Sebagai orang tua, kita harus selalu mengawasi dan membimbing serta menjaga pergaulan anak-anak kita. Orang tua harus selalu memberikan dorongan pada anak untuk menuntut ilmu sampai ke jenjang yang lebih tinggi,” terang Hasan.

Menurut Hasan, anak merupakan generasi penerus di masa yang akan datang yang sangat dibutuhkan oleh para generasi tua pada zamannya. “Orang tua dituntut untuk menjadikan anaknya sebagai generasi muda yang cerdas dan berilmu serta berakhlakul karimah,” tegas Hasan.

Sementara Pengasuh Yayasan Madin Babul Muta’allimin KH Ibrohim menyampaikan ucapan selamat kepada anak didik Madrasah Diniyah Babul Muta’allimin yang telah menjalani prosesi wisuda dengan harapan ilmu yang didapat menjadi ilmu yang bermanfaat dan barokah. 

“Semoga ilmu yang didapat selama ini bermanfaat dan dapat diamalkan di tengah-tengah masyarakat,” ungkapnya singkat.

Redaktur   : Mukafi Niam

Kontributor : Syamsul Akbar

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Pertandingan, Berita, Olahraga Shautus Salam

Tujuh Rajab, Mengenang Wafatnya Kiai Cholil Bisri

KH. Mohammad Cholil Bisri (akrab dipanggil Mbah Cholil) lahir tanggal 12 Agustus 1942 atau bertepatan dengan tanggal 27 Rajab 1263 H di Rembang. Mbah Cholil adalah putra pertama dari pasangan KH. Bisri Mustofa bin H. Zaenal Mustofa dan Nyai Hj. Marufah binti KH. Cholil Harun Kasingan Rembang.

Pesantren Kasingan Rembang pernah mengalami masa keemasan (sekitar 1935) dengan jumlah santri mencapai 3 ribuan. Sentuhan Mbah Cholil Harun melalui pendidikan pesantren melahirkan alumni yg mumpuni di bidangnya. antara lain: KH. Bisri Mustofa, KH. Machrus Ali Lirboyo, KH. Misbah Mustofa Tuban dll.

Tujuh Rajab, Mengenang Wafatnya Kiai Cholil Bisri (Sumber Gambar : Nu Online)
Tujuh Rajab, Mengenang Wafatnya Kiai Cholil Bisri (Sumber Gambar : Nu Online)

Tujuh Rajab, Mengenang Wafatnya Kiai Cholil Bisri

Mbah Cholil lahir dalam suasana sulit. Saat itu terjadi pergolakan politik nasional akibat terjadi peralihan kekuasaan dari Belanda ke Jepang. Mbah Cholil beserta keluarganya harus mengungsi dari daerah ke daerah lainnya, bahkan sampai ke Pare Kediri.

Mbah Cholil menikah dengan Nyai Hj. Muhsinah binti KH. Soimuri Solo dan dikaruniai 8 putra-putri. berturut-turut putra putri beliau adalah: Yahya Cholil Staquf, Ummi Kalsum Cholil Dzalij, Zaenab Cholil Qotsumah,? Yaqut Cholil Qoumas, Faizah Cholil Tsuqoibak, Bisri Cholil Laquf, Mohammad Hanies Cholil Barro dan Mohammad Zaim Cholil Mumtaz.

Shautus Salam

Pendidikan Mbah Cholil di SR, kemudian mengaji dari pesantren ke pesantren. Setelah mengaji dengan abahnya di Rembang, Mbah Cholil bersama adiknya (KH. A. Mustofa Bisri) nyantri di pesantren Lirboyo Kediri. Selain ngaji kitab, dua santri muda ini dikenal suka dengal ilmu kedigdayan juga. Sepak bola adalah olah raga favorit sejak remaja.

Shautus Salam

Setelah dari Lirboyo, Mbah Cholil pindah nyantri di pesantren Krapyak asuhan Mbah KH. Ali Maksum, sambil kuliah setahun di UIN Yogya. Kuliah di Yogya hanya dilakoni setahun, setelah itu diutus abahnya berangkat ke Makkah untuk mengaji dengan Syekh Alwi Al-Maliki.

Mbah Cholil dikenal sebagai kiai yang politisi. Kiprah politiknya dimulai dengan bergabung dengan Partai NU, PPP, dan PKB. Mbah Cholil adalah penggagas, pendiri dan deklalator PKB. Pernah menjadi anggota dewan DPRD Rembang dan DPR Pusat dari PPP.

Setelah reformasi, Mbah Cholil bergabung dengan PKB. Pernah wakil ketua MPR RI dari Fraksi PKB 2002-2004 dan wakil ketua Dewan Syuro DPP PKB 2002-2005. Mbah Cholil mewarisi abahnya sebagai orator ulung dan politisi.

Aktivitas di Jakarta yang padat tidak pernah melupakan santrinya di Rembang. Perjalanan Rembang Jakarta atau sebaliknya dilakoni setiap minggu, bahkan seminggu dua kali pulang-pergi. Hari selasa adalah hari keramat Mbah Cholil. Bagaimanapun sibuknya, Mbah Cholil pasti untuk mengaji bersama santri-santri sepuh.

Selain aktivitas politik, kegiatan sosial keagamaan lain, seperti melayani pengajian di dalam dan luar kota. Mbah Cholil hampir tdk pernah menginap di luar rumah meski sedang mengisi pengajian di luar kota. Sebisa mungkin pulang ke rumah, sehingga jadwal ngaji tafsir jalalain bakda subuh tetap bisa berjalan bersama santri di pondok.

Mbah Cholil adalah seorang kolumnis di koran. Gagasannya tentang sosial dan politik bisa dibaca melalui tulisan opini di koran. Koran Suara Merdeka, Jawa Pos dan Kompas sering memuat tulisan Mbah Cholil.

Yang luar biasa dan tidak kalah menariknya ulasannya tentang sepak bola. komentar dan prediksinya membuat kagum pembaca. setiap event besar sepak bola, seperti piala dunia atau piala eropa, koran-koran besar selalu memperebutkan ulasannya karena kecemerlangan dalam analisis dan prediksinya.

Hari ini tepat haul beliau, yang wafat 7 Rajab atau 24 Agustus 2004, Mbah Cholil dipanggil kembali oleh Allah SWT. Allahummagfir lahu warhamhu wa afihi wafu? anhu.

Abu Rokhmad, Wakil Dekan FISIP UIN Walisongo & Menantu KH Cholil Bisri



(Baca juga: Mengenal Almarhum KH Cholil Bisri)



Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Internasional, Olahraga, Berita Shautus Salam

Jumat, 15 Desember 2017

Gusdurian Pontianak Ajak Jurnalis Tangkal Radikalisme

Pontianak, Shautus Salam - Jaringan Gusdurian mengadakan Workshop Jurnalis Gusdurian untuk kampanye kontraekstremisme, Jumat (8/9), di Hotel Kini Pontianak, Kalimantan Barat. Kegiatan ini dihadiri oleh para jurnalis baik media cetak maupun online di Kalimantan Barat.

Hadir dalam lokakarya hasil kerja sama dengan International NGO Forun For Indonesia Development ini, Alissa Wahid selaku koordinator Jaringan Nasional Gusdurian serta Direktur Shautus Salam Safi’ Alielha.

Gusdurian Pontianak Ajak Jurnalis Tangkal Radikalisme (Sumber Gambar : Nu Online)
Gusdurian Pontianak Ajak Jurnalis Tangkal Radikalisme (Sumber Gambar : Nu Online)

Gusdurian Pontianak Ajak Jurnalis Tangkal Radikalisme

Alissa dalam kesempatan tersebut menyampaikan bahwa saat ini Indonesia sedang menghadapi tren eksklusivisme beragama yang memiliki dampak pada problem kewarganegaraan. Fenomena ini kemudian termanifestasi dalam sentimen politik.

“Kita juga hari ini diharapakan kepada dua tantangan besar yakni terorisme dan intoleransi berbasis agama. Dalam konteks Indonesia persoalan terorisme masih dapat ditangani. Namun, pada persoalan intoleransi beragama inilah yang menyebabkan perubahan sosial yang sangat kencang dan sangat menggangu demokrasi,” ujarnya.

Shautus Salam

Shautus Salam

Oleh karena itu peran jurnalis media sangat diperlukan dalam merespon situasi ini serta mencari solusi dalam upaya menyelesaikan persoalan tersebut.

Kegiatan ini juga diisi dengan pemaparan hasil riset dan survei mengenai persepsi pemuda tentang radikalisme dan ekstremisme yang berlangsung di enam kota serta pemetaan sosial media terkait narasi-narasi dan radikalisme. (Fauzi Muliji/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Olahraga Shautus Salam

Rabu, 06 Desember 2017

KH Maruf Amin: Produk-produk Syariah Alternatif Ekonomi Dunia

Jakarta, Shautus Salam. Rais Aam PBNU KH Ma’ruf Amin menyebut ekonomi Islam sedang merintis model perekonomian alternatif di tengah praktik ekonomi global yang sarat dengan unsur ribawi (mengandung riba) dan condong eksploitatif. Kiai Ma’ruf melihat ekonomi Islam menawarkan pembebasan dunia perekonomian dari kezaliman yang berbasis keuntungan.

KH Maruf Amin: Produk-produk Syariah Alternatif Ekonomi Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Maruf Amin: Produk-produk Syariah Alternatif Ekonomi Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Maruf Amin: Produk-produk Syariah Alternatif Ekonomi Dunia

Demikian disampaikan Kiai Ma’ruf dalam diskusi bertema “Wujudkan Sistem Ekonomi Islam, dan Memaksimalkan Sumber Energi Alam Untuk Kemaslahatan Umat” yang diselenggarakan Lembaga Takmir Masjid PBNU di Gedung Smesco, Jakarta Selatan, Kamis (15/10) sore.

“Ekonomi Islam itu perpaduan antara prinsip-prinsip ekonomi dan konsep Islam, antara mabadi rabbaniyah dan hilah insaniyah (upaya profesionalisme). Sementara praktik ekonomi global sekarang ini begitu rapuh dengan unsur ribawinya,” kata Kiai Ma’ruf di hadapan sedikitnya 100 peserta diskusi.

Shautus Salam

Karena begitu rapuhnya, banyak orang sekarang melirik ekonomi Islam sebagai alternatif. “Dalam ekonomi Islam, keuntungan kalau misalnya ada dibagi bersama. Basisnya kejujuran dan kepercayaan. Mekanisme ini yang sedang dibangun,” terang Kiai Maruf.

Shautus Salam

Menurut Ketua Umum MUI ini, ekonomi Islam sendiri tidak menghalangi orang mencari keuntungan. Hanya saja pelayanan lebih diarahkan pada kemudahan-kemudahan masyarakat. “Ketika ada orang mengalami kesulitan, harus ada toleransi untuk mereka.”

“Yang saya sayangkan, karena perbankan Islam itu masih kecil, maka ia belum bisa memberikan kemudahan-kemudahan karena dananya dana mahal. Karenanya masih harus ada jaminan. Pasalnya dana di bank itu dananya masyarakat. Dengan begitu investasi tetap terlindungi.”

Sementara perbankan Islam, menurut Kiai Ma’ruf, perlu terus mengevaluasi. Perbankan Islam harus terus menginovasi produk-produknya. Berikutnya, sumber daya manusianya. “Selama ini yang masuk ke bank syariah itu tenaga ala kadarnya. Ke depan kita ingin tenaga terbaik.”

Pada prinsipnya, kita dalam hal muamalah selalu mengacu pada kemaslahatan meskipun pandangan fikihnya lemah. Dalam pengambilan keputusan, kita tidak pernah sendiri. kita memiliki forum musyawarah bersama (working grup) antara DSN, OJK, MA, dan juga asosiasi akuntansi.

Jadi mereka terlibat dalam penggodokannya. Fatwanya bagaimana, regulasinya bagaimana oleh OJK, dan akuntansinya. Dan bahkan eksekusinya seperti apa ketika ada konflik, MA mengetahui karena pihak MA terlibat di dalam pembahasannya, tandas Kiai Maruf.

Narasumber lainnya Prof DR Mesbahi Moghaddam dari Teheran yang mengisi materi perbedaan mendasar antara sistem ekonomi Islam dan sistem ekonomi kapitalis-liberalis. Sementara Ketua Dewan Komisioner OJK Prof DR Muliaman Hadad lebih banyak mengangkat gerakan menuju ekonomi Islam. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Olahraga, Pesantren, Khutbah Shautus Salam

Senin, 04 Desember 2017

Peduli Yatim dan Orang Jompo, GP Ansor Ronggomulyo Berbagi Setiap Hari

Rembang, Shautus Salam - Dalam rangka peduli dengan warga yang kurang mampu, Pimpinan Ranting GP Ansor Desa Ronggomulyo Kecamatan Sumber Kabupaten Rembang menggelar aksi Ansor Peduli terhadap warga desa setempat yang kurang mampu. Aksi sosial ini menyasar 19 kepala keluarga (kk) di Ronggomulyo. Sembilan penerima santunan di antaranya diberikan setiap hari.

Menurut Kusrin salah seorang koordinator aksi, sembilan kk di antaranya mendaptkan sedekahan setiap hari selama satu bulan penuh. Rutinitas ini sudah berjalan sejak empat bulan lalu.

Peduli Yatim dan Orang Jompo, GP Ansor Ronggomulyo Berbagi Setiap Hari (Sumber Gambar : Nu Online)
Peduli Yatim dan Orang Jompo, GP Ansor Ronggomulyo Berbagi Setiap Hari (Sumber Gambar : Nu Online)

Peduli Yatim dan Orang Jompo, GP Ansor Ronggomulyo Berbagi Setiap Hari

Sementara 19 kk, kata Kusrin, mendapatkan jatah berupa sembako, beras, gula, telur, mie instan, dan sebagainya yang diberikan setiap bulan sekali. Kegiatan itu dapat terlaksana berkat kerja sama yang baik dari unsur Ansor ranting dan masyarakat yang ikut berpartisipasi dalam kegiatan "Ansor Berbagi".

Shautus Salam

"Kegiatan itu sudah kami jalankan sejak empat bulan yang lalu. Memang kami baru bisa berbagi kepada 19 KK. Tapi dari sembilan belas, Sembilan di antaranya mereka adalah anak yatim piatu yang kami beri uang saku untuk biaya pendidikan sekolah," jelas Kusrin, Sabtu (14/1).

Meski ranting GP Ansor Ronggomulyo usianya baru enam bulan, ia menginginkan keberadaan Ansor dapat dirasakan kehadirannya oleh masyarakat. Selain itu, kepedulian dan kehadiran GP Ansor Ronggomulyo dapat menepis masuknya paham ekstrem di wilayah Ronggomulyo.

Shautus Salam

Menurutnya, kegiatan itu akan terus berlangsung baik yang bersifat bulanan, ataupun rutin harian. Ia berharap kegiatan ini mendapat dukungan penuh dari masyarakat dan pengurus GP Ansor Rembang. (Ahmad Asmui/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Makam, Syariah, Olahraga Shautus Salam

TGB Sediakan Fasilitas Khusus untuk Kiai Sepuh NU

Mataram, Shautus Salam - Untuk menyukseskan dan memeriahkan pelaksanaan Munas Alim Ulama dan Konbes NU di Mataram yang akan dibuka oleh Presiden Jokowi pada 23 November 2017, pukul 13.00 Wita di Islamic Center, Gubernur NTB memerintahkan jajaran SKPD dan OPD di lingkungan Pemprov NTB untuk berpartisipasi aktif dalam acara tersebut.

Selain itu TGB akan menyediakan fasilitas khusus, di luar tanggungan Pemprov NTB dan panitia untuk para kiai sepuh NU yang menghadiri acara Munas dan Konbes NU. Ini sebagai bentuk penghormatan dan kecintaan TGB terhadap marwah para ulama dan kiai sepuh NU.

TGB Sediakan Fasilitas Khusus untuk Kiai Sepuh NU (Sumber Gambar : Nu Online)
TGB Sediakan Fasilitas Khusus untuk Kiai Sepuh NU (Sumber Gambar : Nu Online)

TGB Sediakan Fasilitas Khusus untuk Kiai Sepuh NU

Demikian disampaikan Ketua Panitia Munas dan Konbes NU Lalu Winengan dalam rapat koordinasi antara panitia daerah dan panitia nasional PBNU di aula PWNU NTB, Kamis (26/10).

Winengan menyampaikan informasi perkembangan pekerjaan masing-masing seksi dalam menunjang kelancaran acara Munas dan Konbes NU ini.

Shautus Salam

Rapat koordinasi antara panitia daerah dan panitia pusat PBNU dipimpin dan dipandu oleh Wakil Ketua PBNU Robikin Emhas dibantu sejumlah panitia nasional yang hadir yaitu Gus Ali, Gus Fikri, Gus Naim dan Yayuk.

Shautus Salam

Panitia daerah yang tampak hadir adalah Ketua PWNU NTB TGH Taqiuddin Mansyur, Sekretaris Panitia H Marinah Hardi, Pengasuh Pesantren Nurul Islam Hj Wartiah beserta tiga pengurus pesantren lainnya yakni utusan Darul Fallah, Darul Quran, Darul Hikmah, dan Pesantren Al-Halimi Sesela Lombok Barat. Juga tampak hadir Koordinator Seksi Transportasi Agus Mulyadi, Koordinator Akomodasi Abdul Majid, Koordinator Seksi Acara Baiq Mulyanah, Seksi Bazar Nuairi, Suaeb Qori.

Robikin Emhas juga menginformasikan sebelum acara Munas dan Konbes NU, pihak PBNU menginisiasi tiga acara besar yang disebut Pra Munas dan Konbes untuk wilayah Indonesia bagian timur yg dipusatkan di kota Menado tanggal 11 November 2017 dengan thema NU dan kebhinekaan. "Pesertanya seluruh PWNU yang ada di Indonesia bagian timur, termasuk NTB," ujarnya.

Selanjutnya untuk acara pra-Munas wilayah Indonesia bagian tengah dipusatkan di Kalimantan Tengah yakni di Kota Palangkaraya dan sudah dilaksanakan tanggal 10 oktober 2017 dengan tema Kesenjangan Ekonomi dan Penguatan Ekonomi Warga Nahdiyin.

Lebih jauh Robikin mengatakan acara pra-Munas untuk Indonesia bagian barat akan dilangsungkan di Lampung yang mengangkat tema tentang reforma agraria. "Untuk komisi bahsul masail pra-Munas akan dilaksanakan di Kota Purwakarta tanggal 11-12 November 2017," lanjutnya.

Semua rangkaian acara pra-Munas yang sudah dan akan dilaksanakan oleh PBNU ini merupakan komitmen NU untuk peduli terhadap permasalahan umat dan kebangsaan.

Sementara itu Sekretaris Panitia H Marinah Hardi menambahkan bahwa untuk undangan peserta resmi Munas dan Konbes NU sejumlah 700 orang. Pihak panitia daerah sudah menyiapkan lokasi akomodasi untuk masing peserta tersebut di lima pondok pesantren yakni Pesantren Nurul Islam, Darul Fallah, Darul Quran dan Pesantren Al-Halimi.

"Sementara untuk akomodasi panitia nasional akan dipusatkan di Pesantren Darul Hikmah," ujarnya.

Forum rapat juga menyetujui bahwa panitia daerah akan menyediakan konsumsi untuk peserta 1200 yang tersebar di berbagai pesantren, kendaraan berjumlah 90 unit yang terdiri atas berbagai tipe bus, minibus, motor, dan lain-lain.

"Untuk panggung, desain, soundsystem, 60 stan bazar tanggung jawab panitia nasional," pungkas Robikin. (Syamsul Hadi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Olahraga Shautus Salam

Sabtu, 02 Desember 2017

Hobi Corat-Coret, Juara Kedua Lomba Jurnalistik

Jombang, Shautus Salam. Kenakalan siswa tidak selamanya berdampak negatif. Salah satunya aksi corat-coret yang biasanya dilakukan menyambut kelulusan Ujian Nasional seperti sekarang. Jika diarahkan dengan benar, maka bisa menjadi sebuah prestasi. Ini yang dibuktikan beberapa siswa dari Madrasah Aliyah Salafiyah Syafi’iyah (MASS) Seblak. 

Dengan beranggotakan beberapa siswa yang terkenal dengan aksi corat-coretnya, tim yang dikirim justeru diraih juara kedua pada lomba jurnalistik, Jumat (25/5). Penyelenggaranya adalah media nasional yang berpusat di Jakarta bekerja sama dengan Pesantren Tebuireng Jombang. 

Hobi Corat-Coret, Juara Kedua Lomba Jurnalistik (Sumber Gambar : Nu Online)
Hobi Corat-Coret, Juara Kedua Lomba Jurnalistik (Sumber Gambar : Nu Online)

Hobi Corat-Coret, Juara Kedua Lomba Jurnalistik

Lomba yang diikuti perwakilan dari madrasah aliyah, SMA dan perwakilan beberapa kampus ini digelar di Gedung Yusuf Hasyim. Tim yang terdiri dari 12 siswa ini sebelumnya juga mengikuti diklat jurnalistik sejak Selasa (22/5). Kegiatan ini menghadirkan tim fasilitator langsung dari Jakarta. “Para peserta juga datang dari berbagai daerah,” kata Umar Bakri, ketua tim MASS Seblak. 

Shautus Salam

Materi yang disampaikan terkait penyusunan berita. Baik saat masih mencari ataupun saat penulisan berita. Termasuk di antaranya masalah struktur dan cara kerja dewan redaksi. Komposisi pelatihan yang diberikan adalah 20 persen teori dan 80 persen praktek di lapangan.   

Shautus Salam

Dalam tugas terakhir penyusunan berita, tim MASS Seblak menamakan koran karyanya dengan SPEKTA. “Itu merupakan singkatan dari Seblak spektakuler dan pecinta al-Qur’an,” ujar ketua OSIS ini. Diakui Bakri, untuk sekedar menentukan nama koran, tim redaksi dari MASS Seblak juga terlibat perdebatan sengit. Meskipun diakuinya tim-tim yang lain menentukan nama koran seolah tidak serius. “Bahkan terkesan namanya lucu dan tidak mengandung nilai filosofi,” imbuhnya. 

Berita yang dimuat adalah lima tema. Yaitu terkait musik banjari sebagai headline, radio sebagai media dakwah, pedagang kaki lima di sekitar makam Gus Dur, profil pengasuh Pesantren Seblak dan jilbab model rubu’ sebagai feature. “Tapi berdasar penilaian para dewan juri, feature tentang rubu’ yang memperoleh nilai tertinggi,” kata Irna Nailun Najjaha, anggota tim. 

Kelima berita itu harus selesai tepat waktu. Ketepatan penyelesaian ini menjadi aspek penilian tersendiri. Siswa yang akrab dipanggil Irna ini mengaku harus kerja keras agar penyusunan koran tidak molor. “Teman-teman sampai harus begadang untuk memenuhi deadline itu,” ucapnya.

Terlebih, dewan juri yang menilai bukan dari tim media itu sendiri. “Tetapi dari para pembaca yang sengaja datang untuk menilai hasil kerja keras para peserta,” ujarnya. Dengan beragam latar belakang ini, pembaca tentu akan menilai lebih berbobot terhadap hasil dari setiap tim. 

Nurul Muslimah, anggota tim lainnya, mengakui memang lomba kali ini adalah yang pertama diikuti. “Meski pertama kali, banyak pengalaman yang saya dapatkan, tidak cuma teori, tapi juga praktek,” katanya. Menulis berita, lanjut siswi dari Bau-Bau Sulawesi Selatan ini, ternyata tidak semudah membacanya. “Membuat koran ternyata tidak segampang yang dibayangkan,” ujarnya. 

Pelaksanaan diklat dan lomba yang digelar mulai pagi sampai petang hari juga menjadi catatan anggota tim ini. Dari kebiasaan yang kurang menghargai waktu, Laila Nailul Fauziah menjadi sangat mempehitungkan waktu dalam menulis berita. “Meski badan capek karena mondar-mandir dari pondok ke tempat acara, namun melalui perlombaan ini saya sadar harus menggunakan waktu dengan baik,” kata siswi dari Pasuruan yang akrab dipanggil Ela ini. 

Kepala sekolah MASS Seblak Nur Laili Rahmah mengakui bahwa pengalaman yang diperoleh siswanya memang sangat berharga. Mengingat lomba itu juga diikuti banyak peserta. “Bahkan ada juga tim dari beberapa perguruan tinggi. Jadi, jika mereka keluar sebagai juara kedua, itu saya kira sudah maksimal,” katanya. 

Perempuan berkacamata ini tidak henti-hentinya memotivasi siswanya agar kreativitas yang dimiliki bisa ditonjolkan. “Dengan berdiskusi menentukan nama koran saja, mereka akan belajar berdemokrasi dan menghargai pendapat temannya,” pungkasnya. 

Redaktur: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Olahraga, Pertandingan Shautus Salam

Senin, 27 November 2017

Tempuh Jarak 230 Km, PCINU Korsel Lestarikan Ziarah Kubur

Korea Selatan, Shautus Salam. Meskipun mayoritas penduduk Korsel tidak beragama Islam tetapi ada juga perkuburan Islam yang letaknya lumayan jauh, sekitar 230 Km dari ibu kota. Tetapi karena arus lalu lintas dan juga sarana transportasi di negara Ginseng ini sangat bagus, maka jarak sejauh itu bisa ditempuh dengan waktu yang singkat.

Ada sekitar tiga WNI Muslim dikuburkan di pemakaman yang tanahnya dibeli atas dana wakaf dari sebuah negara di wilayah teluk ini. Satu diantaranya adalah WNI asal Malang Jawa Timur yang merupakan sahabat dari Mustasyar PCINU Korsel.

Tempuh Jarak 230 Km, PCINU Korsel Lestarikan Ziarah Kubur (Sumber Gambar : Nu Online)
Tempuh Jarak 230 Km, PCINU Korsel Lestarikan Ziarah Kubur (Sumber Gambar : Nu Online)

Tempuh Jarak 230 Km, PCINU Korsel Lestarikan Ziarah Kubur

"Kita ini hambanya Allah SWT, umatnya Kanjeng Nabi, warga Nahdliyin... Dimanapun kita berada harus menjalankan ajarannya Rasulullah SAW dan jangan sampai lupa bahwa kita nanti akan kembali kepada Allah SWT. Ziarah kubur ini mengingatkan kita akan hal tersebut," terang Khatib PCINU Korsel, Ulin Huda atau yang akrab disapa Gus Ulin.

Perkuburan Muslim di Korsel ini selain letaknya jauh dari perkotaan juga berada di daerah pegunungan. Membutuhkan tenaga dan juga kendaraan yang prima untuk mencapai ke puncak lokasinya. Meskipun demikian, PCINU Korsel sudah menjadikannya sebagai acara rutin tahunan.

Pada Ramadhan kali ini rombogan PCINU Korsel, ? termasuk Lazisnu, Banser dan juga seorang ustadz dari Indonesia mengunjungi makam tersebut. "Insyallah di kesempatan berikutnya kita akan mengajak nahdliyin yang lebih banyak," kata Budi, aktifis NU Korsel. (Red-Zunus)

Shautus Salam

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Olahraga, Halaqoh, Humor Islam Shautus Salam

Minggu, 26 November 2017

Hari Anak Nasional, Khofifah: Lindungi dan Bahagiakan Mereka

Jakarta, Shautus Salam. Dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional, 23 Juli 2016, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muslimat NU yang juga Menteri Sosial RI Hj Khofifah Indar Parawansa berpesan kepada para orang tua dan masyarakat untuk selalu melindungi dan membahagiakan mereka.?

Hari Anak Nasional, Khofifah: Lindungi dan Bahagiakan Mereka (Sumber Gambar : Nu Online)
Hari Anak Nasional, Khofifah: Lindungi dan Bahagiakan Mereka (Sumber Gambar : Nu Online)

Hari Anak Nasional, Khofifah: Lindungi dan Bahagiakan Mereka

Hal ini disampaikannya saat memberikan sambutan pada acara Halal Bihalal Muslimat NU, Sabtu (23/7) di Gedung Pusdiklat Kemensos, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Dalam kegiatan ini, Khofifah mengangkat substansi anak karena bertepatan dengan Hari Anak Nasional.

“Ini merupakan bentuk sapaan Muslimat NU untuk anak-anak di seluruh Indonesia. Lindungi dan bahagiakan anak-anak kita. Hal ini mudah diucapkan, tetapi tidak mudah untuk dilakukan,” ujar Khofifah.

Dalam kegiatan ini, Muslimat NU mengundang sebanyak 200 anak se-Jabodetabek, termasuk Arya Permana (10), bocah asal Karawang, Jawa Barat yang mengalami obesitas ekstrim. Arya didampingi oleh kedua orang tuanya.

Shautus Salam

Kepada bocah Arya, Khofifah juga memberikan penghargaan atas prestasi Arya di sekolah. Sebelumnya, kedatangan Arya dalam acara ini menarik perhatian para undangan yang hadir. Semua terlihat prihatin melihat kondisi Arya yang menanggung berat badan yang tidak wajar disaat dirinya masih anak-anak.

Oleh Muslimat NU, ratusan anak tersebut diberikan bantuan berupa tas dan alat belajar lainnya. Selain itu, Muslimat juga memberikan penghargaan khusus kepada sejumlah anak berprestasi disamping kepada para guru dan kepala sekolahnya.?

Shautus Salam

Dalam kegiatan ini hadir Dewan Penasihat PP Muslimat NU Hj Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, Hj Aisyah Hamid Baidlowi, Hj Mahfudzah Ali Ubaid. Hadir juga Dewan Pakar PP Muslimat NU Hj Huzaemah Tahido Yanggo, Hj Zaitunah Subhan, Hj Nabilah Lubis, serta para pengurus PP Muslimat NU dan para pengurus PW dan PC se-Jabodetabek dan Lampung. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Warta, Olahraga Shautus Salam

Senin, 20 November 2017

PP Pagar Nusa Bangga Punya Pesilat Go Internasional

Jakarta, Shautus Salam. Pimpinan Pusat Pencak Silat NU Pagar Nusa memberikan apresiasi atas torehan prestasi salah seorang pesilatnya asal Banyumas, Tegar Ananda Ekhi Bayu Satriaji (20) yang meraih medali dalam kejuaraan dunia pencak silat tingkat dunia di Thailand.

"Kami sangat bangga dengan prestasi yang diraih oleh Tegar Ananda di tingkat internasional. Hal ini akan memberikan semangat bagi pesilat-pesilat Pagar Nusa lainnya untuk meningkatkan prestasinya," kata Suwadi D. Pranoto Ketua PP PSNU Pagar Nusa dalam acara Istighotsah Rutin Selasa Kliwon Pagar Nusa di masjid PBNU Jakarta, Selasa malam (10/2).

PP Pagar Nusa Bangga Punya Pesilat Go Internasional (Sumber Gambar : Nu Online)
PP Pagar Nusa Bangga Punya Pesilat Go Internasional (Sumber Gambar : Nu Online)

PP Pagar Nusa Bangga Punya Pesilat Go Internasional

Menurutnya, secara teknis materi yang dimiliki Pagar Nusa saat ini sangat mumpuni untuk bersaing dalam kompetisi tingkat internasional. Karenanya Pagar Nusa akan terus meningkatkan pelatihan-pelatihan bagi pesilat baik di tingkatan daerah maupun nasional.

Shautus Salam

"Kedepannya, Pagar Nusa akan mencetak lebih banyak lagi pesilat-pesilat berprestasi baik di tingkat nasional maupun internasional," pungkasnya.

Sebelumnya diwartakan atlet Pencak Silat NU Pagar Nusa Tegar Ananda asal Banyumas, Jawa Tengah meraih medali perunggu untuk Kategori Tanding Putra Kelas J (90-95 KG) dalam ajang World Pencak Silat Championship 2015 yang diselenggarakan di Phuket Thailand, 7-17 Januari 2015 lalu. (Boni/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam

Shautus Salam Olahraga Shautus Salam

Jumat, 17 November 2017

Santri Pesantren Baisussalam Upacara Hari Pancasila Pakai Sarung

Banyuwangi, Shautus Salam. Pondok Pesantren Baitussalam, Desa Tampo, Kecamatan Cluring menggelar upacara bendera lengkap dengan pembacaan teks Pancasila sebagaimana upacara pada umumnya. Menariknya, mereka menggunakan seragam yang menunjukkan ciri khas kesantriannya, yaitu sarung dan kopiah.

Santri Pesantren Baisussalam Upacara Hari Pancasila Pakai Sarung (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Pesantren Baisussalam Upacara Hari Pancasila Pakai Sarung (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Pesantren Baisussalam Upacara Hari Pancasila Pakai Sarung

"Kami sengaja mengenakan sarung dan kopiah dalam upacara peringatan hari lahir Pancasila ini, untuk menegaskan kepada para santri, bahwa kita ini, para santri, memiliki andil dalam merumuskan Pancasila," ungkap pembina upacara dan salah seorang mundzir PP. Baitussalam, Gus Fikri Aditya.

Gus Fikri menegaskan dilaksanakan upacara peringatan Pancasila di pesantren sama sekali tidak bertentangan dengan nilai-nilai keislaman. Sampai saat ada beberapa gelintir umat Islam di Indonesia yang masih mempertentangkan antara Islam dan Pancasila.?

"Pesantren sebagai salah satu simbol Islam di Indonesia, ingin menunjukkan bahwa Pancasila dan Islam itu bisa selaras," tegasnya.

Shautus Salam

Di pesantren ini, penguatan nilai-nilai kebangsaan dan Nasionalisme juga ditekankan. Tidak hanya berupa seremonial upacara, tapi dalam belajar mengajar sehari-hari juga diberikan materi-materi yang berkaitan dengan kebangsaan. Baik di dalam pesantren sendiri, maupun di SMP NU Baitussalam sendiri.

"Bagi kami, penguatan ilmu keagamaan harus juga dilengkapi dengan semangat kebangsaan dan nasionalisme. Karena, tidak mungkin agama bisa berkembang dengan baik, jika tak memiliki tanah air," pungkas Gus Fikri. (M. Sholeh Kurniawan/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam

Shautus Salam Nahdlatul Ulama, Olahraga Shautus Salam

Kamis, 09 November 2017

Rais Syuriyah PBNU Ingatkan Pemimpin 4 Pesan Sunan Giri

Pringsewu, Shautus Salam

Pada hakikatnya kepemimpinan atau jabatan bukanlah keistimewaan tetapi amanah yang harus dipertanggungjawabkan; bukan kesewenangan untuk bebas bertindak, tetapi kesediaan untuk melayani, kesiapan dalam kepeloporan dan keteladanan.

Rais Syuriyah PBNU Ingatkan Pemimpin 4 Pesan Sunan Giri (Sumber Gambar : Nu Online)
Rais Syuriyah PBNU Ingatkan Pemimpin 4 Pesan Sunan Giri (Sumber Gambar : Nu Online)

Rais Syuriyah PBNU Ingatkan Pemimpin 4 Pesan Sunan Giri

Demikian kata Rais Syuriyah PBNU KH Ahmad Ishomuddin menjelaskan hakikat dari sebuah kepemimpinan, Senin (08/02/16).

Ia mengingatkan para individu yang menjadi pemimpin dengan Hadits Nabi yang menyatakan bahwa jabatan adalah amanah yang apabila mereka tidak menunaikannya dengan baik, ditambah lagi jabatan tersebut bukanlah haknya, maka kenistaan dan penyesalanlah yang akan didapatinya di kemudian hari.

Shautus Salam

"Pemimpin ibarat kalbu (hati) di tengah anggota tubuh. Jika kalbu baik, maka baiklah masyarakat di sekitarnya. Demikian juga sebaliknya," tulis Gus Ishom, begitu ia biasa dipanggil, di dinding akun facebooknya.

Shautus Salam

Ia menegaskan bahwa pemimpin adalah penguat bagi semua yang lemah, tempat berlindung bagi semua yang takut, pelurus bagi semua yang bengkok, penerang bagi semua yang berada dalam kegelapan dan penunjuk jalan bagi mereka yang tersesat.

"Pemimpin itu seperti ibu yang penyayang dan penuh perhatian terhadap buah hatinya. Berani menahan kantuk bila anaknya tidak tidur apalagi sakit. Dibelainya saat disusukan dan disapihnya dengan berat hati. Seorang ibu bergembira memandang kebugarannya dan bersedih mendengar keluhannya " Ia mencontohkan ibarat seorang pemimpin.

Gus Ishom juga mengibaratkan bahwa pemimpin itu seperti seorang ayah yang juga amat kasih untuk anaknya. Berani berkorban waktu, harta, tenaga, jiwa dan bahkan raga demi kesuksesan anak-anaknya.

Setiap pemimpin sebagai manusia memiliki kekurangan dan kelemahan. "Oleh karena itu, dalam mencapai tujuan bersama sang pemimpin harus mau bekerja sama dan pandai memilih orang yang bersedia membantunya dengan baik. Jangan dipilih karena kedekatan dan loyalitasnya semata, karena dua hal itu sanggup meruntuhkannya," sarannya.

Dalam kesempatan tersebut Gus Ishom juga mengingatkan kita semua akan ajaran Raden Ainun Yaqin atau Sunan Giri, salah seorang Wali Songo, yang tertulis dibatu nisan makamnya tentang 4 pedoman hidupnya.

Pertama, wenehana mangan marang wong kang luwe atau berilah makan pada mereka yang lapar. Kedua, wenehana sandangan marang wong kang wuda atau berilah pakaian pada mereka yang telanjang). Ketiga, wenehana payung marang wong kang kudanan atau berilah payung pada mereka yang kehujanan. Terakhir, wenehana teken marang wong kang wuta atau berilah tongkat pada mereka yang buta. (Muhammad Faizin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Nusantara, Bahtsul Masail, Olahraga Shautus Salam

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Shautus Salam sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Shautus Salam. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Shautus Salam dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock