Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 Maret 2018

Ke Indonesia, Syekh Wahbah Zuhaili Singgah di Pesantren Al-Kenaniyah

Jakarta, Shautus Salam. Ulama besar asal Suriah Syekh Wahbah Zuhaili berkunjung ke Pondok Pesantren Putri Al-Kenaniyah, Pulomas, Jakarta Timur, Sabtu (16/11). Di pesantren yang dipimpin oleh KH Hambali Ilyas itu, Syekh Wahbah bertemu Rais Syiriyah PBNU KH Hasyim Muzadi dan sejumlah muridnya yang sempat mengenyam pendidikan di Suriah.

Kepada para muridnya, ahli fiqih kontemporer itu berpesan agar senantiasa berzikir, mengingat Allah SWT dalam setiap kesempatan. "Mari kita mendekatkan diri sejak kita bangun tidur hingga tidur kembali," katanya.

Ke Indonesia, Syekh Wahbah Zuhaili Singgah di Pesantren Al-Kenaniyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Ke Indonesia, Syekh Wahbah Zuhaili Singgah di Pesantren Al-Kenaniyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Ke Indonesia, Syekh Wahbah Zuhaili Singgah di Pesantren Al-Kenaniyah

Tidak menyampaikan teori uhul fiqih yang rumit, Syekh Wahbah malah mengingatkan agar para santrinya senantiasa menjalankan beberapa rutinitas sederhana seperti membaca ayat kursi, surat-surat yang masuk dalam kategori al-munjiyat, serta surat surat pendek seperti al-Kafirun, al-Ikhlas, al-Falak dan An-Nas, sembari menjelaskan fadhilah atau keutamaan membaca beberapa surat dan ayat tersebut.

Kunjungan Syekh Wahbah ke Indonesia menurut, H Fathir Hambali, putra tertua KH Hambali Ilyas, adalah untuk memenuhi undangan Bank Indonesia. Penyusun karya besar Fiqih Islam wa Adillatuh dan sejumlah karya di bidang fiqih dan ushul fikih itu diminta menyampaikan ceramah mengenai ekonomi syariah.

Syekh Wahbah adalah ulama Suriah yang sering berkunjung ke Indonesia dan cukup dekat dengan NU. Karya-karyanya menjadi rujukan dalam bahtsul masail diniyyah atau pembahasan masalah-masalah keagamaan yang diselenggarakan di lingkungan NU.

Shautus Salam

Bersama Syekh Said Ramadhan Al-Buthi yang belum lama ini meninggal dunia dalam konflik bersaudara di Suriah, dua ulama fiqih madhab Syafii itu juga sempat menghadiri forum International Conference of Islamic Scholars (ICIS) yang diselenggarakan oleh PBNU di bawah pimpinan KH Hasyim Muzadi. (A. Khoirul Anam)

Shautus Salam

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Pesantren, Jadwal Kajian, Pendidikan Shautus Salam

Rabu, 28 Februari 2018

Ingin Anak Selamat, Masukkan ke Pesantren

Probolinggo, Shautus Salam

Keberadaan Nahdlatul Ulama (NU) mempunyai andil yang sangat besar terhadap sejarah berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Dimana seorang ulama NU, KH Wahid Hasyim turut berperan terhadap lahirnya Pancasila.

Hal tersebut disampaikan oleh Mustasyar PCNU Kota Kraksaan H Hasan Aminuddin saat menghadiri peringatan hari lahir (harlah) ke-93 NU di Pondok Hati di Dusun Toroyan Desa Rangkang Kecamatan Kraksaan Kabupaten Probolinggo, Senin (9/5) malam.

Ingin Anak Selamat, Masukkan ke Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Ingin Anak Selamat, Masukkan ke Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Ingin Anak Selamat, Masukkan ke Pesantren

Menurut Hasan, saat ini sedang marak kejadian kekerasan dan pelecehan seksual ? terhadap anak dan perempuan. “Dari hasil pengamatan yang saya lakukan terhadap semua kejadian, ternyata miras dan shabu-shabu menjadi akar permasalahan merebaknya kekerasan dan pelecehan seksual terhadap anak dan perempuan,” katanya.

Lebih lanjut Hasan menerangkan, miras dan shabu-shabu tidak hanya terjadi di lingkungan bebas. Pasalnya di lingkungan pondok pesantren pun, hari ini sudah banyak beredar obat-obatan terlarang. Dimana botol minuman air mineral isinya diganti minuman beralkohol.

Shautus Salam

“Inilah bentuk penjajahan yang dilakukan oleh bangsa lain. Mereka tidak mampu menjajah secara fisik, tetapi melalui budaya dan merusak mental masa depan generasi bangsa,” jelasnya.

Hasan pun meminta kepada para orang tua agar menyelamatkan anak cucunya dari perbuatan yang tidak jelas. “Setelah lulus SD, masukkan anak ke pesantren. Karena disana nantinya juga dibekali dengan ilmu umum dan ilmu agama serta akhlak,” tegasnya.

Seni budaya Islam NU jelas Hasan sangatlah banyak. Tetapi ironinya, saat ini sudah banyak anak cucu orang NU gemarnya bukan pada seni budaya Islam NU. Hal ini dikarenakan adanya budaya luar yang masuk dan bertentangan dengan aqidah Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja).

“Inilah potret yang terjadi hari ini, dimana ada pergeseran budaya NU. Oleh karena itu, saya sangat bangga karena PCNU Kota Kraksaan menggerakkan kembali muda mudi NU dalam wadah Ishari,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam

Shautus Salam Pendidikan, Jadwal Kajian, Ubudiyah Shautus Salam

Senin, 26 Februari 2018

Kiai Tolchah Sebut Tiga Hal Hadapi Globalisasi

Malang, Shautus Salam. Mustasyar PBNU KH Muhammad Tolchah Hasan menyebut perlunya tiga hal dalam menghadapi era globalisasi, yaitu dibutuhkan ketebalan iman yang kuat, karakteristik yang tangguh, dan kekuatan moral yang tinggi.

Kiai Tolchah Sebut Tiga Hal Hadapi Globalisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Tolchah Sebut Tiga Hal Hadapi Globalisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Tolchah Sebut Tiga Hal Hadapi Globalisasi

“Kita harus menguatkan iman dalam menghadapi Globalisasi. Tapi bukan sembarang iman yang kita butuhkan, melainkan iman yang dominan terhadap diri kita dan perbuatan kita. Bukan hanya iman dekoratif atau hiasan,” katanya pada kuliah umum di hadapan sekitar 400-an mahasiswa baru Universitas Islam Malang (Unisma) Tahun 2014 di Hall Oesman Mansoer pada Kamis, 2 Oktober 2014.

Menurut dia, pada kuiah umum bertema ‘Islam dan Benturan Peradaban Global’ tersebut, jangan sampai karena iman bertindak semaunya dan menggunakan kekerasan mengatasnamakan Iman. “Kalau iman kita merupakan Iman yang dominan, maka berada di manapun dan dalam kondisi apapun, kita akan tetap terjaga keimanannya,” tambahnya.

Shautus Salam

Dirinya juga menekankan bahwa Islam yang bersifat moderatlah yang dibutuhkan untuk menghadapi benturan peradaban global saat ini. Karena Islam moderatlah yang bisa kritis terhadap semua kebudayaan yang datangnya dari luar.

“Di dunia internasional, Islam dilihat sebagai agama yang intoleransi. Sehingga terlihat puritan dan meraka anggap sebagai ancaman. Maka, adalah tugas kita sebagai masyarakat terdidik untuk membangun peradaban Islam yang toleran,” terang Menteri Agama era Gus Dur itu.

Shautus Salam

Selanjutnya, ia menekankan bahwasanya pendidikan memiliki peran yang besar sekali dalam upaya untuk membangun generasi Indonesia emas mendatang. Oleh karena itu, ia juga menyampaikan bahwa tenaga pendidik harus memiliki karakter yang kuat. (Ahmad Nur Kholis/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Pendidikan, Tegal, Pesantren Shautus Salam

Kamis, 22 Februari 2018

Mbah Muqoyyim, Kiai Rakyat Pendiri Buntet Pesantren

Cirebon, Shautus Salam. Madrasah Aliyah Nahdlatul Ulama (MANU) Putra Buntet Pesantren menggelar bedah buku Sang Kyai Rakyat karya Bintang Irianto. Kegiatan tersebut dilaksanakan dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional dan Hari Pahlawan.

Bedah buku yang digelar di aula MANU Putra pada Sabtu (12/11) menghadirkan penulisnya dan pemerhati sejarah Buntet H Farid Wajdi sebagai pembandingnya. Kegiatan ini dipandu guru bahasa Arab MANU Putra, R. M. Zidni Ilman.

Mbah Muqoyyim, Kiai Rakyat Pendiri Buntet Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Mbah Muqoyyim, Kiai Rakyat Pendiri Buntet Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Mbah Muqoyyim, Kiai Rakyat Pendiri Buntet Pesantren

Buku tersebut berkisah tentang perjalanan hidup Mbah Muqoyyim, pendiri Pondok Buntet Pesantren. Dia merupakan cucu dari Ki Lebeh Mangku Negara Warbita yang merupakan santri Sultan Demak Abdul Fatah. Ki Lebeh juga pernah nyantri ke Sunan Ampel, Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga.

Shautus Salam

Ki Lebeh memiliki anak bernama Abdul Hadi dari pernikahannya dengan Nyi Gede Kerangkeng. Abdul Hadi yang disebut juga Anjasmara ini menikah dengan Anjasmani dan lahirlah Muqoyyim kecil.

Mbah Muqoyyim menggantikan ayahnya Abdul Hadi sebagai kadi di Keraton Kanoman. Namun pada akhirnya, ia keluar, meletakkan jabatannya karena VOC sudah mempengaruhi kebijakannya.

Shautus Salam

“Kiai Muqoyyim meletakkan jabatannya sebagai kadi dan keluar dari Keraton Kanoman dikarenakan VOC sudah mengubah dan mengganggu kebijakan-kebijakan keagamaan dan tradisi dengan menggunakan aturan-aturan mereka,” tulis Bintang dalam makalahnya.

Dari situlah, Mbah Muqoyyim kemudian mendirikan Pondok Buntet Pesantren pertama kali di Cimarati, Dawuhan Sela, Desa Buntet, sekitar 500 Meter dari Buntet Pesantren saat ini. Tak berapa lama, banyak orang berdatangan untuk mengaji berbagai ilmu ke Mbah Muqoyyim. Namun pesantrennya itu diketahui oleh Belanda.

Khawatir akan mengobarkan pemberontakan, Belanda pun menyerangnya. Tiba di pesantren, Belanda tak mendapati siapa pun di sana. Mbah Muqoyyim dan seluruh santrinya sudah mengetahui rencana penyerangan tersebut sehingga Mbah Muqoyyim berkelana lagi. Pesantren yang sudah tak berpenghuni itu lalu dibakar oleh Belanda.

Seusai berkelana ke berbagai daerah, yakni Tuk Cirebon, Pemalang, dan Aceh, Mbah Muqoyyim kembali lagi ke Buntet atas permintaan tamu dari kesultanan Cirebon untuk mengatasi penyakit yang mewabah di Cirebon. Mbah Muqoyyim mengajukan dua syarat untuk itu, yakni dipulangkannya kembali Pangeran Kanoman dan penguasa mendirikan masjid di wilayah Cirebon.

Dua syarat itu langsung dikabulkan Belanda. Akhirnya, ia kembali ke Buntet dan merintis kembali pesantren yang sempat ditinggalkannya selama beberapa tahun.

Para peserta sangat antusias mengikuti kegiatan ini. Hal ini ditandai dengan banyaknya pertanyaan yang mengalir ke moderator. (Syakir Niamillah/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Pendidikan, Pertandingan Shautus Salam

Minggu, 18 Februari 2018

GP Ansor Gemakan "Kecamatan Bershalawat"

Subang, Shautus Salam. Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) Kabupaten Subang menyelenggarakan kegiatan yang bertajuk “Kecamatan Bershalawat”. Kegiatan yang didukung oleh PT Jarum ini merupakan salah satu program dari Pimpinan Pusat GP Ansor yang terbagi dalam beberapa zona dan wilayah di Jawa Barat.

Kegiatan diadakan di halaman Masjid Jami’ Al-Mukhlishin, Pamanukan, Subang, Ahad (22/4) lalu, yang dihadiri oleh ribuan ja’maah. Selain menggemakan Shalawat, kegiatan ini diisi oleh beberapa bakti sosial diantaranya pengobatan gratis, pemberian santunan kepada puluhan anak yatim dan penanaman 1000 pohon.

GP Ansor Gemakan Kecamatan Bershalawat (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Gemakan Kecamatan Bershalawat (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Gemakan "Kecamatan Bershalawat"

Hadir dalam kegiatan tersebut Bupati Subang, Ojang Sohandi, Ketua Tanfidziyah PCNU Subang, KH. Musyfiq Amrullah, Anggota DPRD Subang, Mimin Hermawan dari Fraksi Golkar dan Satibi dari Fraksi Demokrat, dan tampil sebagai penceramah Ketua Majelis Dzikir Pimpinan Pusat GP Ansor, KH. M. Faris Fuad Hasyim yang juga sebagai Pengasuh Pondok Buntet Pesantren Cirebon. 

Shautus Salam

Menurut Ketua PC GP Ansor Subang, Asep Alamsyah Heridinata, kegiatan Kecamatan Bershalawat ini merupakan sebagai langkah dan upaya penyadaran kepada masyarakat bahwa dengan barokah bershalawat segala bentuk permasalahan akan terpecahkan, termasuk permasalahan yang menyangkut hubungan kerukunan ummat beragama. 

“Shalawat adalah do’a. mudah-mudahan dengan kita bershalawat kita semua bisa terhindar dari apa yang tidak kita inginkan. Selain itu juga, shalawatan adalah ciri khas dari Nahdlatul Ulama. Oleh karena itu, sebagai organisasi yang lahir dari rahim NU, sudah menjadi kewajiban GP Ansor harus mempertahankan dan mengembangkan tradisi tersebut,” papar Asep. 

Shautus Salam

Hal senada juga diungkapkan oleh Ketua PC NU Subang, KH. Musyfiq Amrullah, bahawa Shalawat merupakan sebuah kewajiban yang sudah ditetapkan dalam Al-Qur’an. 

"Allah sudah mewajibkan kepada Ummat Islam untuk memberikan shalawat kepada Nabi Muhammad saw. Oleh karena itu, NU akan tetap melestarikan tradisi Shalawatan walaupun banyak faham-faham yang menentang tradisi tersebut,” ungkapnya. 

Sementara Bupati Subang, Ojang Sohandi mengatakan kegiatan sholawat akbar ini merupakan cara yang digunakan orang terdahulu untuk menyebarkan agama Islam juga mengajarkan toleransi dan gotong royong dalam umat beragama.

"Seperti yang dilakukan oleh para Wali Songo, mereka bisa berhasil menyebarkan Agama Islam tanpa harus perang maupun perpecahan, namun justru toleransi dan rasa gotong royong yang terbangun dalam perbedaan,” ujarnya.

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Nasihul Umam

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Humor Islam, Sholawat, Pendidikan Shautus Salam

Senin, 12 Februari 2018

PCNU Kabupaten Pangandaran Akan Dibentuk

Jakarta, Shautus Salam. Sebagai Daerah Otonomi Baru (DOB), warga NU Kabupaten Pangandaran ingin mendirikan kepengurusan NU tingkat kabupaten. Mereka akan segera membentuk Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU).? ?

PCNU Kabupaten Pangandaran Akan Dibentuk (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Kabupaten Pangandaran Akan Dibentuk (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Kabupaten Pangandaran Akan Dibentuk

Untuk itu, PCNU Kabupaten Ciamis, sebagai organisasi induk dari pemekaran Kabupaten Pangandaran, telah mempersiapkan diri untuk mendorong agar DOB Pangandaran segera terbentuk PCNU.

PCNU Kabupaten Ciamis kemudian menunjuk Tim 13 yang terdiri dari kiai NU. Kiai-kiai tersebut adalah pengurus PCNU Ciamis yang berdomisili di wilayah DOB Pangandaran. Agendanya untuk menggelar Konferensia Cabang (Konfercab).

Shautus Salam

Tim 13 membentuk panitia Konferensi Cabang I untuk mengadakan Rapat Kerja Panitia. Rapat kerja diketuai Ahmad Irfan Alawy di Pondok Pesantren As-Sujaiyah Kecamatan Parigi pada tanggal 16-03-2013 lalu.

Menurut salah seorang panitia Konfercab, Hafidz Ismail, hasil rapat kerja tersebut adalah, Konfercab PCNU Kabupaten Pangandaran dilaksanakan di Pondok Pesantren Asy-Syujaiyah pada tanggal 20-21 April 2013.

Shautus Salam

“Pra-Konfercab diadakan kegiatan, yaitu halaqoh dengan peserta pengurus-pengurus NU dari 11 MWC,” katanya kepadaShautus Salam melalui pesawat telepon, Kamis, (18/4).

Hafidz menambahkan, halaqoh bertema "Internalisasi khittah NU 1926 sebagai media memperkokoh soliditas organisasi menuju Kabupaten Pangandaran yang mandiri" tersebut telah digelar pada 15 April 2013.

?

Penulis: Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Pendidikan, Halaqoh, Daerah Shautus Salam

Rabu, 31 Januari 2018

Mengapa Harus Khusyu’?

Tulisan dengan tema Shalat Khsusyu’ ini disarikan dari karya Hujjatul Islam Imam Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulumidiin dalam bab kitabu Asraris Shalati yang mengupas berbagai ? rahasia dan hikmah dalam shalat. Mulai dari gerakan badan hingga kandungan nilai dalam bacaan shalat, yang jika dimengerti dengan benar akan menambah makna shalat itu sendiri.

Pada dasarnya shalat merupakan ibadah yang bertujuan mengingat Allah sebagaimana firman-Nya.?

? ? ?

Kerjakanlah shalat untuk mengingat-Ku (Thaha-14)

Mengapa Harus Khusyu’? (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengapa Harus Khusyu’? (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengapa Harus Khusyu’?

Mengapa harus selalu meingat-Nya? karena melupakan-Nya adalah suatu kesalahan besar. Berbagai ni’mat Allah yang tidak terhitung jumlahnya dan tidak ternilai harganya, mulai ni’mat memandang, meraba, merasa, bernafas dan lain sebagainya, semua diperoleh dari-Nya secara cuma-cuma. Bagaimana pantas melupakan-Nya, jika kehidupan ini bergantung sepenuhnya kepada-Nya? karena itulah Allah swt mengingatkan kita dengan firmannya

? ? ?

Shautus Salam

Janganlah kamu termasuk oang-orang yang lupa (al-a’raf 205)

Termasuk kategori lupa adalah melakukan shalat tanpa disertai kehadiran hati. Shalat yang kering, shalat yang hanya bertujuan menggugurkan kewajiban. Meskipun mulutnya terlihat sibuk, tetapi tak satu rakaatpun yang dimengerti. Malahan hatinya dipenuhi dengan masalah keduniawiyan. Yang terucap memang bacaan takbir, yang terdengar adalah bacaan tasbih tetapi yang diingat adalah barang dagangan, urusan bisnis, dan lain sebagainya. Sungguh Allah swt tidak menganggap pengabdian semacam ini. Rasulullah saw bersabda:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Shautus Salam

Allah swt tidak memandang shalat seseorang yang tidak menghadirkan (konsentrasi) hatinya beserta badannya.

Bahkan lebih dari itu, Allah swt mengancam mereka yang shalat dalam keadaan lalai atau kosong, artinya shalat yang dilakukan begitu saja tanpa disertaI kekhusyu’an. Dalam surat al-Maun ayat 4-5 Allah swt menjelaskan ancaman-Nya:

? ? ? ? ? ? ?

Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya.

Oleh karena itulah, jika syarat syahnya shalat terdiri dari berbagai tindakan shahir, maka sesungguhnya khusyu’ merupakan tindakan bathin yang tidak bisa ditinggalkan karena ia menempati posisi adab (tata krama) dalam shalat. Sebagaimana seorang tamu presiden selain berpenampilan rapi, ia harus berlaku yang sopan kepadanya dengan penuh hormat. Demikianlah dalam shalat seorang hamba harus merasa sebagai orang yang lemah dan hanya Dialah yang Paling berkuasa.

Mengenai hal ini, kisah hatim al-A’sham ketika ditanya seseorang tentang cara shalatnya ia menerangkan “…Aku jadikan ka’bah diantara dua pelipisku, Aku jadikan sirath (titian penyebrangan di hari kiamat nanti) di telapak kakiku, sorga di sebelah kanan dan neraka di sebelah kananku, dan malaikat pencabut nyawa ada dibelakangku siap-siap menerkam-ku sehingga aku merasa shalatku adalah shalat untuk terakhir kalinya…”

Jika telah demikian adanya maka dampak dari shalat itu akan terasa dalam segala lini kehidupan. Shalat tidak hanya membangun kesalehan individual, tetapi juga kesalehan sosial.

?? ? ? ? ? ? ? ? ?

Sesunguhnya shalat itu membersihkan hati dai kotoran dosa dan membuka pintu-pintu yang ghaib.

Shalat seperti inilah yang diperitnahkan oleh Allah sebagaimana termaktub dalam Al-ankabut ayat 45;

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain)... (red. Ulil H)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Pendidikan Shautus Salam

Sabtu, 27 Januari 2018

PCINU Diharap Promosikan “Islam Nusantara” ke Dunia

Amsterdam, Shautus Salam. Ahad 18 Januari 2015 lalu, disaksikan ratusan anggota Persatuan Pemuda Muslim se-Eropa (PPME) Al-Ikhlas Amsterdam, Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Belanda secara resmi dilantik. Pelantikan dilakukan secara langsung oleh Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ahmad Mustofa Bisri.

Sebanyak 29 orang yang terdiri atas para mukimin Indonesia di Belanda maupun para mahasiswa Indonesia yang sedang studi S2 dan S3 di Belanda dilantik sebagai Pengurus Cabang Istimewa NU Belanda untuk masa khidmat 2014-2016.

PCINU Diharap Promosikan “Islam Nusantara” ke Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)
PCINU Diharap Promosikan “Islam Nusantara” ke Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)

PCINU Diharap Promosikan “Islam Nusantara” ke Dunia

Pelantikan PCINU Belanda ini diselenggarakan bersamaan dengan acara tabligh akbar peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Acara pengajian dimeriahkan dengan pembacaan sholawat oleh siswa-siswi Madrasah Al-Ikhlas Amsterdam yang secara kompak dan merdu melantunkan Thola’al Badru, Alhamdulillah wa Syukrulillah, Sholatun Bisalamin Mubin, dan Sholatullah Salamullah.

Setelah itu dilanjutkan dengan pembacaan barzanji oleh para generasi muda PPME Al-Ikhlas yang dipimpin oleh Ustadz Dr. Ahmad Mizar, Lc, MA. Sebagai penceramah tunggal dalam tabligh akbar ini adalah KH. Ahmad Mustofa Bisri yang akrab disapa Gus Mus.

Turut hadir dalam acara Pelantikan PCINU Belanda dan pengajian maulid ini pejabat dan diplomat dari Kedutaan Besar Republik Indonesia untuk Kerajaan Belanda, Pengurus PPME Wilayah Belanda, Pengurus PPME dari kota-kota lain di Belanda, tokoh diaspora Muslim asal Mesir dan staf pengajar di Fakultas Teologi Vrij Universiteit Dr. Yaser Ellethy, delegasi PCINU dari negara-negara di Eropa dan Mediterania (Jerman, Belgia, United Kingdom, dan Maroko), dan para undangan lainnya.

Shautus Salam

Danang Waskito, mewakili KBRI di Belanda menyampaikan ucapan selamat dan dukungannya atas pelantikan PCI NU Belanda. “Di Belanda tantangannya sangat besar. Menjadi tugas PCINU Belanda untuk menunjukkan agar citra Islam dan citra bangsa Indonesia makin baik di sini.”

Menurut Danang, diplomasi Indonesia tidak bisa dilakukan oleh KBRI semata. Diplomasi mengenal apa yang disebut multi-tracks diplomacy. Di sinilah peran PCINU sangat diharapkan. PCINU Belanda harus memperkuat diplomasi kita di negeri Belanda sehingga masyarakat Indonesia makin diterima di sini, citra Indonesia dan Islam juga makin baik di Eropa, dan khususnya di Belanda ini.”

Dalam kesempatan itu, Danang Waskito meneruskan kembali pesan Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi, yang sebelumnya menjabat Duta Besar RI untuk Kerajaan Belanda, agar masyarakat Indonesia bangga menjadi bangsa Indonesia. Untuk itu, Danang Waskito mendukung visi PCINU Belanda yang ingin mempromosikan Islam Nusantara di Belanda khususnya, dan Eropa umumnya.

Menurut Danang, bangsa Indonesia yang multikultur, yang menghormati sesama, yang mengajarkan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil-‘alamin merupakan ciri-ciri yang membentuk jati diri bangsa Indonesia yang harus dibanggakan. Dan hal ini sangat sejalan dengan paham keagamaan Nahdlatul Ulama. “Karena itu, KBRI sangat senang dengan kehadiran PCINU di Belanda.” (Muhamad Shohibuddin/Anam)

 

Shautus Salam

*Foto Gus Mus bersama PCINU Belanda usai pelantikan

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Pendidikan, Hikmah Shautus Salam

PMII Jateng Siapkan Instruktur Kaderisasi nan Handal

Sukoharjo, Shautus Salam. Untuk mensukseskan program dan proses kaderisasi, PKC PMII Jawa Tengah menggelar Pelatihan Instruktur di Pondok Pesantren Al-Muayyad Windan Kartasura Sukoharjo, Senin-Selasa (4-5/12). Selama dua hari tersebut, 60 peserta dari 17 cabang mengikuti sejumlah materi yang disiapkan panitia.

Panitia Training of Instructure (ToI) Firdausul Ulya menjelaskan, kegiatan bertema “Peran Instruktur dalam Meneguhkan Ideologi Gerakan” tersebut sebagai wujud usaha PMII Jateng dalam mengawal proses kaderisasi di daerah.

PMII Jateng Siapkan Instruktur Kaderisasi nan Handal (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Jateng Siapkan Instruktur Kaderisasi nan Handal (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Jateng Siapkan Instruktur Kaderisasi nan Handal

“Penyelenggaraan ini yang perdana. Kita harapkan sekembalinya dari pelatihan, para peserta dapat lebih maksimal dalam mengawal kaderisasi di daerah masing-masing,” terang Firdausul di sela acara.

Ditambahkan Firdausul, sebelum dimulainya kegiatan, para calon peserta terlebih dahulu mengikuti sejumlah tes untuk mengukur pemahaman serta pengetahuan mereka, khususnya di bidang kaderisasi.

Shautus Salam

“Kemudian setelah diberikan materi, ada tes lagi untuk menilai kelayakan mereka menjadi seorang instruktur, baik dari segi kapasitas pengetahuan, personal, dan sosial,” jelasnya.

Selain, kegiatan pelatihan isntruktur, di waktu yang hampir bersamaan, PKC PMII juga menyelenggarakan kegiatan FGD tentang “Peningkatan Partisipasi Politik Masyarakat Untuk Kesejahteraan Rakyat” di salah satu hotel di Kota Solo bekerjasama dengan Kesbangpol Jateng. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Pendidikan, Sholawat Shautus Salam

Shautus Salam

Jumat, 12 Januari 2018

PBNU Bahas Sanksi Kebiri untuk Penjahat Seksual terhadap Anak

Jakarta, Shautus Salam. Pengurus Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama (LBMNU) dan PP Fatayat NU akan mengadakan kajian perihal sanksi kebiri untuk pelaku kejahatan seksual terhadap anak (paedofilia) di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, jam 13.00, Kamis (5/11) siang. Mereka mengangkat wacana ini menyusul inisiatif pemerintah untuk mengeluarkan Perppu yang menerapkan sanksi kebiri bagi pelaku kejahatan seksual terhadap anak.

PBNU Bahas Sanksi Kebiri untuk Penjahat Seksual terhadap Anak (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Bahas Sanksi Kebiri untuk Penjahat Seksual terhadap Anak (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Bahas Sanksi Kebiri untuk Penjahat Seksual terhadap Anak

Forum bahtsul masail ini rencananya akan dibuka oleh Ketum PBNU KH Said Aqil Siroj. Sebelum bahtsul masail, penyelenggara menggelar diskusi terlebih dahulu perihal sanksi kebiri dari sudut pandang fikih, hak asasi manusia, hukum positif, dan aspek medis.

Diskusi ini akan diperkaya oleh narasumber antara lain Rais Syuriyah PBNU KH Masdar F Mas‘udi, H A Malik Haramain, dan dr Neorologi Ai Maryati Sholihah.

Shautus Salam

Pertemuan ini diselenggarakan untuk menemukan bentuk sanksi yang tepat bagi pelaku kejahatan seksual terhadap anak, membahas penanggulangan kejahatan seksual terhadap anak di Indonesia, menemukan langkah nyata dalam menanggapi dan mengawal kebijakan pemerintah soal kejahatan seksual terhadap anak, dan menyusun rumusan praktis dalam menciptakan lingkungan ramah anak.

Shautus Salam

Sementara forum bahtsul masail akan dipandu oleh pimpinan sidang KH Moqsith Ghozali dari LBMNU. Pertemuan ini melibatkan peserta sedikitnya 45 orang dari kalangan Syuriyah PBNU, pengurus LBMNU, Fatayat NU, pengamat pendidikan, aktivis hak asasi manusia, dan kalangan medis.

Sebagaimana diketahui, kekerasan seksual meningkat tajam sekurangnya lima tahun terakhir. KPAI merilis 562 kasus pada 2013. Pada 2014, jumlah kasus itu melonjak menjadi 1296. Data dari perlindungan anak menyebut sebanyak 21,6 juta kasus kekerasan anak dalam rentang waktu 2010-2015. Sementara 58% darinya masuk kategori kejahatan seksual baik di lingkungan rumah, di masyarakat, hingga di lingkungan sekolah.

Darurat ini yang mendorong pemerintah Jokowi dalam waktu dekat untuk mengeluarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (Perppu) yang menerapkan sanksi kebiri bagi pelaku kejahatan seksual terhadap anak.

Wacana penerapan sanksi kebiri ini menimbulkan pro kontra di tengah masyarakat. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Pendidikan Shautus Salam

Rabu, 20 Desember 2017

Gusdurian Jateng Kritik Oligarki Politik di Indonesia

Solo, Shautus Salam. Pemerintahan di Indonesia saat ini telah dikuasai oleh elite-elite politik tertentu. Keadaan ini berdasar pada banyaknya kebijakan yang seringkali dipengaruhi oleh elite penguasa partai politik (parpol) tertentu.

“Hal itu merupakan bentuk oligarki di mana setiap pengambilan keputusan penting dikuasai oleh sekelompok elite penguasa partai politik,” ungkap Koordinator Umum Gusdurian Jawa Tengah, Hussein Syifa dalam seminar Mempererat Persaudaraan Kebangsaan dan Hubungan Lintas Kultural dalam Menghadapi Pilpres 2014 di Graha Soloraya, Jl Slamet Riyadi No. 1 Solo, Jumat (16/5).

Gusdurian Jateng Kritik Oligarki Politik di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Gusdurian Jateng Kritik Oligarki Politik di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Gusdurian Jateng Kritik Oligarki Politik di Indonesia

Karenanya jabatan pimpinan parpol banyak menjadi rebutan banyak pihak. Padahal Hussein menyebut saat ini tidak ada parpol yang benar-benar bersih. Terbukti banyaknya oknum dari parpol, ikut terjerat kasus hukum.

Shautus Salam

“Kalau demikian yang terjadi, ini sistemnya yang salah atau orangnya yang salah?” kata Hussein.

Hussein mengungkapkan kenyataan bahwa Indonesia saat ini membutuhkan manusia berkepribadian baik untuk terjun ke dunia politik. Hal itu disebabkan demokrasi saat ini tidak memiliki alat kontrol yang jelas.

Shautus Salam

“Inilah yang menjadi pekerjaan rumah kita, untuk jeli memilih siapa presiden kita yang akan datang. Bukan asal memilih untuk lima tahun ke depan. Demokrasi kita tanpa kontrol jelas. Mau mengkritisi apa kalau tak punya analisis yang jelas,” ungkap Hussein.

Dalam seminar tersebut selain Hussein Syifa, turut menjadi narasumber pengurus Syuriyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Sukoharjo, Ahmad Hafidh dan Pendeta Gereja Telukan, Samuel Sriyoko. (Ajie Najmuddin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Sholawat, Pendidikan, Kajian Sunnah Shautus Salam

Senin, 18 Desember 2017

Ada Agenda Neoliberalisme dalam Pembuatan Film Pesantren

Jakarta, Shautus Salam

Kalangan umat Islam yang diwakili oleh Nahdlatul Ulama (NU) dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) bereaksi keras terhadap pemutaran film Perempuan Berkalung Sorban (PBS) yang menceritakan kekerasan yang terjadi di dunia pesantren tradisional terhadap kaum hawa, yang didramatisasi dalam film tersebut.



Ada Agenda Neoliberalisme dalam Pembuatan Film Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Ada Agenda Neoliberalisme dalam Pembuatan Film Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Ada Agenda Neoliberalisme dalam Pembuatan Film Pesantren

Saat ini memang banyak orang berharap ada film yang berlatar belakang pesantren, karena merupakan bentuk pendidikan Islam paling awal. Tetapi kemudian orang sangat kaget ketika berbagai film yang berlatar belakang pesantren bukan untuk mengangkat citra pesantren, sebaliknya? justeru untuk menyerang tradisi pesantren dan merusak citra lembaga pendidikan Islam itu.

Menurut Ketua Yayasan Komunitas Sastra Indonesia (KSI) Hesti Prabowo (Wowok), hal itu bisa dipahami bahwa penulisan terhadap dunia pesantren selama ini ampir seluruhnya dibiayai oleh kelompok neo-liberal.

Shautus Salam

Termasuk penulisan novel PBS yang dikerjakan oleh Abidah ini juga proyek dari Ford Foundation yang diberikan pada Fatayat NU Yogyakarta. Novel itu dikerjakan oleh orang? modernis yang tidak mengerti pesantren NU bahkan tidak senang terhadap pesantren NU, sehingga berusaha menjelek-jelekkan keadaan pesantren salaf.

Walaupun terjadi diskriminasi di pesantren tetapi penggambaran yang seperti itu hanya mengada-ada untuk mencari efek dramatis dari novel yang ditulis. Celakanya hal-hal itulah yang diangkat ke layer film.

Shautus Salam

Tentu saja hal itu menurut Wowok yang juga anggota pengurus pusat Lembaga Seniman dan Budayawan Muslim Indonesia (Lesbumi) NU sangat menyenagkan pihak yang punya program, yaitu bos-bos kapitalis neoliberal.

”Pesantren sebagai benteng pertahanan Islam dan kebangsaan memang selalu merisaukan neo-liberal, karena itu harus dirongrong dari dalam melalui berbagai program, pelatiha hak asasi msnuisa, pengembangan manajemen pesantren dan termasuk program penguatan gender,” katanya.

Maka novel dan film PBS itu adalah agenda neoliberal yang bertujuan mendobrak keutuhan doktrin pesantren. Celakanya film fitnah semacam ini tidak bisa dilarang, hanya saja pemirsa harus disadarkan bahwa semuanya itu fitnah dan mengadada, oleh orang yang tidak memiliki tradisi pensatren dan sengaja digunakan orang lain untuk menggempur tradisi dan ajaran pesantren.

Ditambahkan, saat ini diperlukan film yang mampu mengangkan citra pesantren pesantren, bukan sebagai sarang perbudakan dan juga bukan sebagai sarang teoris, sebagaimana digambarkan secara tidak senonoh dalam novel itu. (mdz)Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Pendidikan, Kyai Shautus Salam

Jumat, 15 Desember 2017

Memandang Nabi Muhammad Secara Rasional

Studi tentang tokoh besar dunia selalu menarik. Dan Nabi Muhammad Saw., merupakan sebuah kitab pencerahan yang tak henti-henti menawarkan inspirasi dari berbagai sudut pandang. Sirah Nabawiyah Karya Cendekiawan Nahdlatul Ulama asal Banten ini merupakan salah satu sumber inspirasi hidup dengan cara yang baru, rasional, humanis dan objektif.  

Dengan mengambil tema Kajian “Sirah Nabawiyah: Nabi Muhammad Saw. dalam Kajian Sosial-Humaniora”  ini pengetahuan kita tentang sosok Nabi Muhammad Saw., tidak lagi bersifat mistik dan anti-sosial kemanusiaan. Paradigma studi ilmiah berbasis literatur kritis membuat Sirah Nabawiyah ini mampu merekan jejak Nabi Muhammad sebagai sosok humanis, pro-kerakyatan, dan bukan sekadar (seolah-oleh) “boneka-nya Tuhan”, melainkan aktor empiris yang nantinya bisa dipetik sebagai pelajaran berharga oleh kita semua.

Memandang Nabi Muhammad Secara Rasional (Sumber Gambar : Nu Online)
Memandang Nabi Muhammad Secara Rasional (Sumber Gambar : Nu Online)

Memandang Nabi Muhammad Secara Rasional

Ajid Thohir, Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung itu dalam mengkaji Sirah Nabawiyah bukan sekadar untuk mengetahui peristiwa-peristiwa sejarah tentang kisah-kisah atau kasus-kasus menarik seputar kehidupan Nabi Muhammad saw, melainkan meliputi untuk tujuan yang lebih penting, yakni  agar setiap Muslim mendapat pengetahuan hakiki akan Islam melalui nabinya secara utuh.  

Bagaimana Islam tercermin dalam kehidupan nyata Nabi Muhammad saw. dan bagaimana pula Rasulullah saw. mempraktikkan dan mewujudkan wahyu ilahi. Oleh karenanya, seluruh perilaku Nabi Muhammad saw. dalam wujud sejarahnya yang terikat pada tiga pilar agama, yaitu iman, islam dan ihsan, menunjukkan secara keseluruhan akan prinsip, kaidah, dan hukum Islam.

Shautus Salam

Nabi Muhammad Saw., melalui bukan hanya seorang yang terkenal ramah di antara kaumnya, tetapi sebelum itu beliau adalah seorang rasul yang didukung oleh Allah dengan wahyu dari-Nya dan dengan itu dalam pergaulan sehari-hari senantiasa penuh dengan misi untuk kemanusiaan. Ia melayani sahabat, menghormati orang tua, dan berekonomi sebagaimana manusia pada umumnya. Ia punya rasa bahagia, terkadang sedih, ia punya rasa takut akan bahaya, tapi sekaligus pencerah untuk sebuah problematika masyarakat.

Shautus Salam

Sirah Nabawiyah ini memberikan gambaran tipe ideal (al-matsal al-a’lâ) menyangkut seluruh aspek kehidupan pribadi Rasulullah saw. secara jelas dan dengan itu kita bisa memetik banyak tsaqofah dan pengetahuan Islam yang benar, baik menyangkut akidah, ruhaniyah, hukum, ataupun akhlak. Sebab, tidak diragukan lagi bahwa kehidupan Rasulullah saw. merupakan gambaran konkret dari sejumlah prinsip wahyu dan hukum Islam.- 

Data buku

Judul : Sirah Nabawiyah

Penulis : Dr. Ajid Thohir

Penerbit : Marja (Nuansa Cendekia) Bandung

Tahun : Cetakan Pertama 2014

Harga : 79.000

Peresensi : Syarif Yahya, pengurus Aswaja Center PCNU Kabupaten Temanggung. Pengajar Pesantren Ridlo Allah Temanggung Jawa Tengah

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Pendidikan, Nusantara, RMI NU Shautus Salam

Selasa, 12 Desember 2017

Tumbuhkan Jiwa Wirausaha di Pesantren

Garut, Shautus Salam . Seminar pemberdayaan ekonomi berbasis pesantren menjadi pembuka acara haul dan temui alumni Pesantren Al- Munwwarah Ciloa- Limbangan Kabupaten Garut.

Pimpinan Pesantren Al-Munawwarah KH R Agus Muhammad Sholeh, yang juga ketua PCNU Kabupaten Garut, dalam sambutan pembukaan seminar mengungkapkan dibukanya haul kali ini diharapkan mampu memberikan cakrawala dan mampu membangkitkan pengembangan ekonomi di lingkungan pesantren.

Tumbuhkan Jiwa Wirausaha di Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Tumbuhkan Jiwa Wirausaha di Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Tumbuhkan Jiwa Wirausaha di Pesantren

"Seminar pemberdayaan ekonomi berbasis pesantren kali ini diharapkan  bisa membangkitkan pengembangan ekonomi di kalangan alumni dan pesantren," paparnya Ahad (3/3/2013).

Shautus Salam

Ekonomi dan pendidikan merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan dalam sebuah perjalanan di tiap sendi kehidupan umat manusia baik secara pribadi maupun berorganisai bahkan dalam berbangsa dan bernegara tak terkecuali organisasi sebesar NU dimana dalam perjalanannya selalu berkhidmat untuk kepentingan umat

Shautus Salam

"Jika  umat Islam ingin maju dan bisa berkembang harus bisa menguasai pendidikan baik umum maupun pendidikan agama dan ekonomi,” ungkapnya.

Kebangkitan NU dan  pesantren di Nusantara diawali dengan kebangkitan perekonomian (Nahdlatut Tujjar).  

"Dulu, para ulama sebelum mendirikan NU terlebih dahulu mendirikan organisasi bernanma Nahdlatut Tujjar," paparnya. 

Ketua Ikatan Alumni Pesantren Al- Munawwarah Ciloa (IKAP) Kiai Gun-Gun Gunawan Al- Buhori mengungkapan, temu alumi ini diselenggarakan setiap satu tahun sekali, biasanya dibuka dengan bahtsul masail terkait isu yang tengah berkembang, namun untuk temu alumi kali ini segaja diadakan seminar ekonomi dengan mendatangkan pelaku wirausaha yang telah sukses.

"Hal itu, kami lakukan supaya memotivasi para alumi maupun santri untuk mampuh mengembangkan ekonomi di lingkungannya masing," ungkapnya.

Besar harapan, selain membuka cakrawala keekonomian dikalangan pesantren, juga dengan kegiatan ini  diharapkan mampu membangun jejaring ekonomi di lingkungan para alumni.

Haul kali ini juga di buka bazar yang sudah di gelar sejak dua hari yang lalu.

 

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Zaenal Mutaqin 

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Nahdlatul, Pendidikan Shautus Salam

Sabtu, 02 Desember 2017

PCINU AS-Kanada Kenalkan Islam Damai

Jakarta, Shautus Salam. Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama Amerika Serikat-Kanada (PCINU-ASK) mengemban misi memperkenalkan Islam yang berwajah damai dan toleran kepada dunia internasional pada umumnya, khususnya Amerika.

PCINU AS-Kanada Kenalkan Islam Damai (Sumber Gambar : Nu Online)
PCINU AS-Kanada Kenalkan Islam Damai (Sumber Gambar : Nu Online)

PCINU AS-Kanada Kenalkan Islam Damai

Demikian disampaikan Sekretaris Tanfidziyah PCINU-ASK Etin Anwar dalam surat elektronik yang diterima Shautus Salam.

Setelah PBNU meneken Surat Keputusan (SK) pembentukan PCINU-ASK), pengurus segera melakukan sejumlah program penting, antara lain, mengusahakan legalitas PCINU-ASK sebagai Non-Profit Organization (NPO) di Amerika dengan memenuhi sejumlah syarat atau ketentuan pendirian ormas dan institusi sosial yang berlaku di negeri Paman Sam ini.

Shautus Salam

“Pengajuan legalitas ini dimaksudkan selain agar status PCINU-ASK dianggap sah oleh pemerintah AS juga dalam rangka untuk mempermudah aktivitas organisasi di masa yang akan datang,” kata Etin Anwar.

Shautus Salam

PCINU-ASK juga mengadakan serangkaian acara maraton pada 18-20 Maret 2013 di Washington, seperti audiensi dengan Duta Besar Republik Indonesia untuk Amerika Serikat Dino Patti Djalal, berdiskusi dengan Global Peace Foundation (GPF), International Center for Religion and Diplomacy (ICRD), dan kantor Senator Charles E. Schumer (D–NY).

PCINU-ASK juga ikut menyeponsori dan berpartisipasi dalam diskusi antar-agama di Capitol Hill dengan tema “Engaging Diverse Voices of Faith for the Common Good.” Acara di Washington, DC ini berjalan dengan baik dan sukses berkat kerja sama antara PCINU-ASK dan GPF.

Baca laporan detail kegiatan PCINU-ASK di http://www.nu-usacanada.org.?

Redaktur: A. Khoirul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Anti Hoax, Budaya, Pendidikan Shautus Salam

Rabu, 29 November 2017

PBNU Sertakan Delegasinya Pada Pelatihan ITEC 2015 di India

New Dhelhi, Shautus Salam. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama mengirimkan empat orang utusannya pada program Indian Technical and Economic Corporation (ITEC) di CMC Academy di Janakpuri, sisi selatan New Delhi. Keempat delegasi ini akan mengikuti pelatihan komunikasi, bisnis, dan pengembangan keterampilan lainnya per 23 Februari hingga 17 April mendatang.

PBNU Sertakan Delegasinya Pada Pelatihan ITEC 2015 di India (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Sertakan Delegasinya Pada Pelatihan ITEC 2015 di India (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Sertakan Delegasinya Pada Pelatihan ITEC 2015 di India

Salah satu utusan PBNU Ahmad Fanani menyatakan bahwa dirinya senang bisa bergabung pada pelatihan yang diikuti 25 peserta dari 22 negara.

“Saya bisa menimba ilmu pengetahuan dan wawasan  tentang banyak hal di sini mulai kebudayaan India, dan beberapa negara dari belahan dunia lain,” kata Fanani dari Departemen Keuangan PBNU di Janakpuri, Selasa (3/3).

Shautus Salam

Setiap pekan, peserta mengikuti pelatihan pada hari Senin hingga Jumat. Pada bulan pertama ini, delegasi PBNU juga berkesempatan silaturahmi dengan kedutaan Indonesia untuk India. Pada pertemuan itu Dubes Indonesia  untuk India Rizali Wilman Inderakesuma  menyambut baik tamu dari PBNU.

Shautus Salam

“Program ini bagus dan diharapkan terus membina komunikasi. Dengan program ini, terjadi pembauran antarwarga dunia. Saya hanya berharap bisa menjaga kerukunan antara kita. Kepada siapa lagi kalau tidak antara kita sendiri,” kata Rizal yang sudah tiga tahun dubes RI.

Pada kesempatan ini salah satu peserta PBNU berkesempatan menjadi imam dan khotib sholat Jum`at di masjid KBRI untuk India.

Program ITEC ini diselenggarakan Kemenlu India sejak 1964. Peserta tahun ini berasal dari antara lain Belarus, Lithuania, Bulgaria, Polandia, Laos, Afghanistan, Indonesia, dan Vietnam. (Muhammad Najib/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Pendidikan, Internasional, Budaya Shautus Salam

Senin, 27 November 2017

Diklatsar Ke-3 Banser Rembang Komit Perangi Ekstrimisme

Rembang, Shautus Salam. Dalam upaya memerangi ekstrimisme dan radikalisme di Kabupaten Rembang, Satkorcab Banser Rembang kembali menggelar Pendidikan dan Pelatihan Kader Dasar (Diklatsar) ke-3 yang dilaksanakan di Desa Mlagen, Kecamatan Pamotan, Rembang, Jumat (15/7).

Dengan mengembil tema Membangun Militansi dan Meneguhkan Ideologi Aswaja Demi Menjaga NKRI, Diklatsar kali ini diikuti 150 peserta didik dari berbagai daerah yang ada di Kabupaten Rembang, diantaranya Kecamatan Kaliori, Sumber, Sulang, Sedan, dan juga Kragan.

Diklatsar Ke-3 Banser Rembang Komit Perangi Ekstrimisme (Sumber Gambar : Nu Online)
Diklatsar Ke-3 Banser Rembang Komit Perangi Ekstrimisme (Sumber Gambar : Nu Online)

Diklatsar Ke-3 Banser Rembang Komit Perangi Ekstrimisme

Kasatkorcab Banser Rembang Zainal Arifin menjelaskan jika, level Diklatsar pada kesempatan kali ini ditingkatkan menjadi level 2. Dengan harapan mendapatkan calon Banser yang benar-benar militan.

"Level Diklatsar ini tidak seperti biasanya, kita tingkatkan ke level dua, sehingga melahirkan Banser yang benar-benar solid dan militan,” ujar Zainal.

Shautus Salam

Pada mementum kali ini yang bertindak sebagai inspektur upacara pembukaan adalah Wakapolres Rembang Kompol Pranandya S yang mewakili Kapolres Rembang AKBP Sugiharto yang batal hadir dikarenakan ada kunjungan Kapolda Jateng ke Rembang. (Ahmad Asmui/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Kyai, Quote, Pendidikan Shautus Salam

Shautus Salam

Senin, 20 November 2017

Mengenal KH Zubaidi Muslich, Pendiri MMH Jombang

Jombang, Shautus Salam. Halaman Pondok Pesantren Mambaul Hikam terlihat ramai pada Sabtu (25/10/2014) malam. Ratusan santri dan undangan duduk khusyu’ mengikuti acara Haul Almaghfurlah KH M Zubaidi Muslich, sang pendiri dan pengasuh pondok yang wafat pada 15 November 2011 lalu.

Mengenal KH Zubaidi Muslich, Pendiri MMH Jombang (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengenal KH Zubaidi Muslich, Pendiri MMH Jombang (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengenal KH Zubaidi Muslich, Pendiri MMH Jombang

Malam itu, di pondok yang terletak di Desa Jatirejo, Kecamatan Diwek, Jombang, Jawa Timur, atau sekitar 1 kilometer dari Pondok Tebuireng, terdengar lantunan shalawat dan ayat-ayat suci al Qur’an yang dikumandangkan para santri.

Ma’had Mambaul Hikam yang lebih dikenal dengan nama MMH di sekitar wilayah Tebuireng didirikan oleh KH M Zubaidi Muslich, putra KH Muslich Hanafi asal Banyuwangi. Kakaknya yang bernama KH Baidhowi Muslich juga mendirikan Pesantren Gading di Malang, sedangkan pondok orang tuanya dilanjutkan oleh saudaranya yang lain, yakni KH Nizar Muslich.

Shautus Salam

Pendirian MMH merupakan “perintah” dari guru-gurunya saat ia nyantri di Tebuireng, antara lain KH Idris Kamali, KH Adlan Aly, dan Bu Nyai Hj Choiriyah Hasyim, agar tidak pulang kembali ke pondok yang diasuh oleh ayahnya di Banyuwangi, namun berkhidmah di Tebuireng.

Selain berkhidmah di Madrasah Tebuireng dan Madrasah Salafiyah Syafiyah Seblak, kiai yang akrab dipanggil Buya Zubaidi ini dikenal sebagai sosok pendidik yang sangat kharismatik. Di sekitar Tebuireng, ia adalah sosok kiai yang disegani, meski bukan merupakan pengasuh di Pondok Tebuireng. Bahkan dalam setiap kegiatan besar yang digelar oleh Ponpes Tebuireng dan sekitarnya, Buya Zubaidi selalu diminta untuk menjadi pembaca doa di hadapan para kiai yang hadir.

Shautus Salam

Semasa hidupnya, ia pernah dipercaya juga sebagai Ketua MUI Kecamatan Diwek dan menjadi salah satu tokoh ulama yang disegani karena keilmuan fikihnya. Di tengah masyarakat sekitar, ia menjadi tempat bertanya terkait dengan pelbagai persoalan yang dihadapi warga.

Ketokohan Buya Zubaidi, sapaan akrabnya, diceritakan oleh para alumni yang hadir dalam acara haul tersebut. KH Miftahul Huda Thohir, tokoh ulama muda dari Gresik, yang merupakan alumni angkatan pertama MMH menyampaikan bahwa Buya merupakan sosok inspiratif bagi dirinya ketika saat ini ia pun menjadi pengasuh pesantren yang baru didirikannya di Gresik.

“Buya adalah sosok yang tidak pernah marah kepada santrinya. Selalu ramah dan bijak. Ketika menghadapi santri-santri yang mbeling sekarang dan hendak marah, saya selalu ingat pada Buya. Hingga akhirnya emosi saya bisa terkendali,” ujar KH Miftahul Huda dalam tausiyahnya.

Seorang alumni lainnya dari Pondok Pesantren Putri Seblak bercerita bahwa sosok Buya adalah pengajar yang sangat kharismatik dan disegani. “Ketika ingat kalau Buya akan mengajar dan masuk kelas, tidak ada satupun murid di kelas yang bersuara. Kelas menjadi hening, padahal Buya belum masuk kelas. Baru mendengar namanya saja, kelas sudah menjadi sunyi seketika”, papar alumni yang menyatakan nyantri di Seblak pada periode 1978 hingga 1984.

Kini Mambaul Hikam dan Madrasah Al-Hikam diasuh oleh anak-anak Buya Zubaidi, antara lain KH M Irfan, S.Ag., MHI. dan Kiai A Izzuddin, SHI., MHI.

Sementara itu, KH Marhusin Arsy, salah seorang alumni asal Ciganjur Jakarta Selatan dalam sambutannya mengingatkan para santri agar melihat penerus Buya sama seperti Buya saat hidup.

“Meski Buya sudah tiada, penerus beliau adalah satu silsilah ilmu dengan beliau. Jadi sama saja. Apalagi kita yakin bahwa guru yang tiada tetap akan mendoakan santri-santrinya. Jadi, jangan lupa untuk tetap terus berdoa untuk guru kita,” pesan Kiai Marhusin.

Acara haul tersebut, kebanyakan dihadiri oleh para alumni dari wilayah Jakarta dan sekitarnya, antara lain Wawan Saifuddin (Ciganjur), Andi Syafroni (Ciputat) yang juga dosen di Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. (Ali Musthofa Asrori/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam AlaNu, Bahtsul Masail, Pendidikan Shautus Salam

Selasa, 07 November 2017

LDNU Brebes Siap Gelar Pelatihan Dai

Brebes, Shautus Salam. Pengurus Cabang Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Brebes akan menggelar Pendidikan Kader Da’I (PKD) tingkat kabupaten. Pelatihan digelar untuk memperluas wawasan dan cakarawala pemikiran serta memenuhi dai daiyah di berbagai daerah.

“Boleh dibilang, NU gudangnya dai-daiyah. Tetapi perlu dididik lebih lanjut agar dalam penyampaian dakwah selalu rahmatan lil alamin,” demikian disampaikan Ketua PC LDNU Brebes KH Agus Mudrik Khaelani usai rapat panitia kegiatan tersebut di gedung PCNU Brebes, Senin (5/12).

LDNU Brebes Siap Gelar Pelatihan Dai (Sumber Gambar : Nu Online)
LDNU Brebes Siap Gelar Pelatihan Dai (Sumber Gambar : Nu Online)

LDNU Brebes Siap Gelar Pelatihan Dai

.

Sebab, lanjutnya, dakwah yang rahmatan lil alamin akan menyejukan dan mampu meneguhkan komitmen terhadap keutuhan NKRI. “Karakter dai Muda NU, harus toleran dan mengenal jatidiri organisasi dengan selalu membangun sinergitas bersama seluruh elemen bangsa,” tandasnya.

NU tetap komitmen menjalankan dakwah menyeru kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran demi mencapai kebahagiaan dunia akhirat. Mensyiarkan Islam sebagai agama kebaikan, bukan agama perusak, yang membawa rahmatan lil alamin. Lewat PKD akan ditekankan bahwa Islam bukan agama teroris.

“Seorang mukmin, tidaklah hanya dibalut dengan simbol-simbol, tetapi iman seseorang harus disempurnakan dengan amal ibadah yang baik, serta perilaku yang terpuji,” ucap Gus Mudrik, panggilan akrab Agus Mudrik Khaelani.

Shautus Salam

PKD, kata Gus Mudrik, bakal digelar 11-12 Desember 2016 di gedung NU dengan peserta 150 orang lebih. Mereka berasal dari perwakilan 17 PAC LDNU masing masing 6 orang, pengurus PC LDNU dan utusan LDNU dari kabupaten tetangga.?

Pelatihan, sambung Gus Mudrik, peserta diberi bekal berupa teori dan praktik. Pembekalan utama dari Ketua LD PBNU KH Wafiudin, Ketua PW LDNU Jawa Tengah KH Sam’ani S MA, Ketua PCNU Brebes KH Athoillah Syatori.

Pada pertemuan tersebut pelatihan diputuskan bertema "Optimalisasi peran Dai NU dalam pemantapan Ahlussunah wal-Jamaah dan peningkatan spiritualitas para dai NU di Kabupaten Brebes".Dalam kesempatan tersebut, dia juga membagi tugas kepanitiaan dan cheking kemantapan masing masing peserta, termasuk partisipasi dari peserta di luar kabupaten Brebes. (Wasdiun/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam

Shautus Salam Warta, Pendidikan, News Shautus Salam

Sabtu, 28 Oktober 2017

PBNU Siap Fasilitasi Ishlah PKB

Jakarta, NU.Online
Keinginan Matori untuk islah dengan PKB "Batutulis" pimpinan Alwi Sihab bukan isapan jempol, untuk itu ia mengaku sudah bertemu dengan ketua Dewan Syuro PKB KH.Abdurrahman Wahid untuk menyelesaikan persoalan PKB.

"Lebih cepat akan lebih baik karena sebentar lagi menghadapi pemilu," kata Matori di sela-sela sebuah seminar di Yogyakarta, Rabu (25/6). Perseteruan antara PKB Matori dan Alwi Shihab belum juga menemui titik temu. Bahkan, dua kepemimpinan partai itu terjadi saat mereka datang ke Kantor Departemen Kehakiman dan Hak Asasi Manusia, Rabu lalu? (26/6).

Selain mengaku telah bertemu Abdurrahman Wahid enam kali, Matori juga mengaku telah bertemu dengan Alwi Shihab untuk membicarakan islah. "Pembicaraan dengan Gus Dur sampai pada suatu titik di mana kami bertekad untuk islah, bersatu kembali antara saya dan Gus Dur," ujarnya.

Dalam kesempatan terpisah, Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Agil Shiraj mengatakan, pihak PBNU siap memfasilitasi upaya rujuk kedua kubu.

"Namun, hingga kini belum ada permintaan dari kedua kubu agar PBNU memfasilitasi islah," ujar Rais Syuriah PBNU Said Agil Shiraj. Namun dia mengatakan, PBNU tidak akan berinisiatif mengajak kedua kubu untuk islah. Mereka menunggu permintaan salah satu kubu agar difasilitasi untuk islah. Sikap tersebut, kata Said Agil, sengaja diambil karena PBNU tidak ingin dituduh ikut campur.? "Kami takut pertolongan yang kami berikan ternyata tidak mereka perlukan. Kita kan bisa malu," ungkapnya.

Said Agil mengatakan, pertikaian kedua kubu membuat massa di bawah PKB bingung untuk mengambil sikap. Ini sangat berbahaya dan bisa memicu perpecahan di tingkat massa. "Oleh karena itu, kami merekomendasikan agar kedua kubu islah saja," ujarnya.

Ia menambahkan format rujuk harus dicari secara tepat oleh pihak-pihak? yang berbeda pendapat. Format rujuk itu harus disesuaikan dengan? substansi perbedaan yang ada dalam tubuh partai. Wujud rujuk itu bisa Muktamar atau bisa juga dengan pertemuan antar pribadi pimpinan? partai atau cara lain yang disepakati kedua belah pihak..

Untuk merujukkan kedua kubu, mereka harus bersilaturahmi satu sama lain. Jalan tersebut sedapat mungkin diutamakan. Jangan sampai kedua kubu dan massa di bawahnya pecah. "Semua pihak harus tulus dan harus mengevaluasi diri sendiri," katanya.

Bagaimanapun juga pertikaian yang terjadi selama ini kontra produktif? bagi kemajuan partai. tidak ada untungnya gonthok-gonthokan dan sudah saatnya elit di PKB melakukan islah internal sebagai upaya untuk menjaga kewibawaan partai.? (Cih)

?


?

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Halaqoh, Pendidikan Shautus Salam

PBNU Siap Fasilitasi Ishlah PKB (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Siap Fasilitasi Ishlah PKB (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Siap Fasilitasi Ishlah PKB

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Shautus Salam sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Shautus Salam. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Shautus Salam dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock