Tampilkan postingan dengan label Ahlussunnah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ahlussunnah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 Februari 2018

Bank Sulselbar Akan Lengkapi Infrastruktur Universitas Islam Makassar

Makassar, Shautus Salam. Bank Sulselbar tertarik melengkapi infrastruktur salah satu perguruan tinggi NU, Universitas Islam Makassar (UIM). Perhatian serius itu dibuktikan dengan kunjungan Direktur Umum Bank Sulselbar Ambo Syamsuddin ke Rektor UIM Dr. Ir. Hj. Majdah Agus Arifin Nu’mang, Selasa (16/12) kemarin.

Bank Sulselbar Akan Lengkapi Infrastruktur Universitas Islam Makassar (Sumber Gambar : Nu Online)
Bank Sulselbar Akan Lengkapi Infrastruktur Universitas Islam Makassar (Sumber Gambar : Nu Online)

Bank Sulselbar Akan Lengkapi Infrastruktur Universitas Islam Makassar

Kunjungan itu dimaksudkan untuk mendapatkan gambaran konkret kemajuan yang telah dicapai universitas yang dipimpin istri Wagub Sulsel itu, terutama dari segi sarana dan prasarana. Setelah di terima di ruang kerja, Ambo Syamsuddin bersama Majdah didampingi Pembantu Rektor II Ir. Saripuddin Muddin meninjau langsung ke Auditorium KH Muhyiddin Zain yang tengah dalam tahap penyelesaian akhir. Auditorium itu akan menampung sekitarb 4000 undangan dilengkapi dengan panggung berukuran besar dan balkon di bagian belakang.

Menurut Ambo Syamsuddin, pihaknya memang menaruh perhatian besar kepada UIM karena telah mengalami perkembangan yang begitu pesat setidaknya dalam tiga tahun terakhir ini. Selain telah terbangun 11 gedung perkuliahan dan fasilitas lainnya yang cukup megah, juga perkembangan mahasiswanya telah mencapai 6.000 orang.

Shautus Salam

Untuk lengkah awal, pada tahun 2015 nanti Bank Sulselbar sudah menyiapkan bantuan khusus untuk melengkapi sarana dan prasarana yang dibutuhkan gedung auditorium. Gedung ini perlu kita dukung sepenuhnya karena dapat difungsikan secara produktif, baik oleh mahasiswa maupun masyarakat di daerah ini.

“Kami terpanggil memberi bantuan nyata karena memang pengelolaan UIM semakin mapan di tangan ibu Rektor. Pembangunan fisiknya saja sudah tampak jauh dari bebrapa tahun lalu yang masih kelihatan dipenuhi pada rumput. Sekarang sudah dipenuhi gedung bertingkat,” tandasnya. (Andy Muhammad Idris/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam

Shautus Salam Ulama, Ahlussunnah Shautus Salam

Minggu, 25 Februari 2018

Jalan-jalan ke Dalam Diri

Oleh Aswab Mahasin

Manusia dalam dirinya mempunyai empat hal: harapan, keinginan, kegelisahan, dan penderitaan. Siapapun mereka, sekaya apapun mereka, dan semiskin apapun mereka—empat hal tersebut pasti ada dalam diri manusia. Allah SWT memerintahkan kita untuk selalu berusaha dan berpikir kreatif agar tidak terpenjara oleh empat hal itu. Untuk apa? Sebagai cara manusia bereksistensi.

Dalam kehidupan ini, manusia sering dirundung masalah, dari mulai yang biasa-biasa saja, sampai dengan yang terberat. Kadangkala dalam posisi tertentu tidak sedikit yang merasa kesulitan dan lelah menghadapi masalah. Padahal, jika kita mau berpikir, masalah terbesar kehidupan manusia bukanlah masalah, tapi tanpa masalah. Kenapa? manusia akan mengalami kekosongan, manusia tidak akan “menjadi”, ia berada pada ruang hampa, tanpa bisa dinilai dan tanpa penilaian. Artinya, ia kehilangan eksistensinya. 

Jalan-jalan ke Dalam Diri (Sumber Gambar : Nu Online)
Jalan-jalan ke Dalam Diri (Sumber Gambar : Nu Online)

Jalan-jalan ke Dalam Diri

Manusia dilemparkan ke dunia di awali dengan masalah, Nabi Adam dan Ibu Hawa menghuni dunia ini dimulai dengan kisah “masalah”, putra Nabi Adam saling membunuh adalah “masalah”. Itu sebagai cara Allah SWT agar manusia “menjadi”, tanpa kekosongan. Karena dalam proses menjadi itu manusia berbuat, bertindak, berpikir, dan berkenalan. Perjalanan itu berlaku hingga sekarang, semua manusia berusaha untuk “menjadi” dan bereksistensi. 

Perjalanan dalam proses “menjadi”—manusia dipaksa untuk berhadapan dengan manusia lainnya, yang sama-sama punya keinginan, punya harapan, punya kegelisahan, dan punya penderitaan. Sehingga antara manusia satu dengan manusia lainnya mengalami benturan kepentingan. Di sini terkadang manusia lupa diri dan lupa akan dirinya. 

Shautus Salam

Ini yang paling berbahaya, manusia harus berdamai dengan dirinya sendiri. Tanpa berdamai, susah bagi kita untuk menyelesaikan masalah. Konsekuensinya, kalau tidak lari dari masalah, tergerus oleh masalah, dengan kata lain terhempas dari persaingan hidup. Persaingan jangan dimaknai sebagai saling menjatuhkan, melainkan fastabiqul khairat (berlomba-lomba dalam kebaikan). 

Berlomba dalam kebaikan, berarti tidak melakukan kecurangan. Bermain sepak bola tidak boleh ujug-ujug kita ambil bolanya pakai tangan, kita bawa lari sampai gawang, lalu kita masukan ke gawang lawan. Ini pasti kena kartu merah. Artinya, sama saja kita menambah masalah hidup kita yang sudah penuh masalah.

Dengan demikian, kita dituntut mengenal diri dan menjabat tangan sendiri. Dengan mengenal diri akan mengenal aturan, berarti apa? Kesadaran yang akan terlahir.“Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu” –seseorang yang mengetahui jati dirinya, maka ia akan mengetahui Tuhannya. Telah jelas bukan? Masalahnya pada diri kita sendiri, yang paling susah dari manusia itu merendahkan diri sendiri untuk menghantam kesombongan, dan mengeluarkan kewarasan untuk mengejek kearifan. Seringnya, kearifan kita berbarengan dengan kesombongan kita.

Shautus Salam

Mengenali diri praktiknya tidaklah mudah. Tidak setiap orang dengan sendirinya kenal terhadap kesejatian diri. Setiap orang bisa saja mengenali wajahnya melalui cermin atau foto, namun bukan itu maksudnya, ini perjalanan ke dalam diri. Kenapa orang buta yang tak pernah melihat wajahnya tapi mengenali dirinya, karena ‘menjabat tangan sendiri’ tidak hanya sekedar fisik, tetapi kedalaman jati diri. 

Diri adalah keakuan, atau ego, dan dalam bahasa Arab disebut nafs, pada hakikatnya bersifat transenden, dapat melewati batas-batas fisiknya yang bersifat materi yang terbingkai dalam ruang dan waktu tertentu. Karena itu, keakuan manusia bisa kembali ke masa lalu, seperti masa kanak-kanak atau masa remaja, meskipun saat ini sudah memasuki usia-usia lanjut. Demikian halnya juga dengan keakuan seseorang bisa berada di tempat lain meskipun sebenarnya ia berada di sini. Semua itu dimungkinkan terjadi, karena sifat transendennya ego itu sendiri. (Prof. Dr. Musya Asy’ari, Dialektika Agama untuk Pembebasan Spiritual, [Yogayakarta: LESFI, 2002]. Hlm. 4)

Memasuki diri, keakuan atau ego yang transenden diperlukan kemampuan untuk mengenali jati diri secara benar, yaitu dengan memahami, memasuki dan menyatu dalam substansi jati diri yang aktual, yang terbangun dari berbagai komponen yang membentuk suatu kepribadian dalam aktualitas tindakan atau karyanya, baik komponen yang fisik maupun komponen yang metafisik. (Prof. Dr. Musya Asy’ari: 2002)

Allah SWT Berfirman, “Dan Allah telah menyempurnakan bagimu nikmat zahir dan nikmat batin.” (QS. Lukman: 20). Dalam surat Adh-Dhariyat ayat 21, Allah berfirman, “Dan di dalam diri kamu apakah kamu tidak memperhatikannya”. Selain itu, dalam Hadits Qudsi, “Aku jadikan dalam rongga anak Adam itu mahligai,dan dalam mahligai itu ada dada, dan dalam dada itu ada hati (qalbu) namanya, dan dalam hati (qalbu) ada mata hati (fuad), dan dalam mata hati (fuad) itu ada penutup mata hati (saghaf), dan dibalik penutup mata hati (saghaf) itu ada nur/cahaya (labban), dan di dalam nur/cahaya (labban) ada rahasia (sirr), dan di dalam rahasia (sirr) itulah Aku kata Allah.”

Dengan demikian, mengenali diri selalu bersifat ke dalam dirisebagai manhaj/metode memahami Tuhannya, agar kita tidak lupa bahwa kita adalah manusia, tidak sepantasnya berlaku seperti Tuhan. Manusia diciptakan tidak lain untuk beribadah kepada Allah. Dengan demikian, proses perjalanan ke dalam diri harus dengan penghayatan yang mendalam, jujur akan setiap tindakan dan tidak boleh merasa benar.

Dalam perspektif tasawuf, yang dimaksud dengan diri manusia (al-nafs al-insaniyah) bukanlah diri dalam pengertian fisiologi yang bersifat kebendaan (maddi), atau diri sebagaimana dipahami dalam psikologi yang lebih bersifat kehewanan. Tetapi diri yang dimaksudkan oleh ahli tasawuf ialah diri asali manusia yang secara fitrahnya (human nature) mempunyai kecenderungan menyembah Allah Taala. Konsep fitrah dalam Islam menuntut bahwa manusia dari segi sifat dasarnya adalah beragama tauhid.

Menurut al-Qur’an, sejak awal penciptaan Adam sudah terdapat perjanjian (mithaq) dan kesaksian (syahadah) daripada jiwa manusia, hanya Allah yang merupakan Tuhan sebenarnya, tiada yang lain. (lihat QS. Al-A’raf: 172). (Abdul Rahman Haji Abdullah, Wacana Falsafah Ilmu: Analisis Konsep-konsep Asas dan Falsafah Pendidikan Negara [Kuala Lumpur: Utusan Publications & Distributors Sdn Bhd, 2005]. Hlm. 89-90)

Sebab itu, orang yang sudah mampu mengenal dirinya, selalu digambarkan sebagai sosok yang arif, bijaksana, suka menolong, dan penuh pesona kebaikan. Berbeda sebaliknya, orang yang masih jauh akan pengenalan diri, hidupnya belum berdamai dengan siapapun, ia arogan, sembrono, dan semaunya sendiri.

Zaman now, kita banyak menemukan orang yang semaunya sendiri. Kemaren, ada seorang suami menembak istrinya, kejadian ini aneh bin ajaib. Saya tidak tahu masalahnya apa, namun tidak ada prinsip kemanusiaan satu pun yang mengizinkan seseorang membunuh, apalagi istrinya sendiri. Sebelum-sebelumnya, ada kejadian anak membunuh orang tuanya, orang tua membunuh anaknya, dan ada orang tua memperkosa anaknya. Orang-orang ini maunya apa?

Kalau boleh usul, Indonesia dengan berbagai macam kegaduhannya, harus ada pembersihan jiwa nasional (Tazkiyyat al-nafs) atau penyucian hati nasional (tasfiyah al-qalb). Jangan hanya patah hati saja yang nasional, tapi pembersihan diri juga harus digerakan secara nasional. Yang disayangkan, setiap aktifitas keagamaan ada muatan politiknya, bukannya jadi bersih malah semakin kotor (baca: gaduh). Lantas bagaimana?

Pembersihan jiwa dan hati nasional, bukan berarti berkumpul sampai mengumpulkan puluhan juta atau ratusan juta orang, tidak. Melainkan, tumbuh kesadaran dari setiap individu, kelompok, organisasi, dan pemerintahnya juga, untuk satu sama lain saling mengingatkan, menjaga sikap, menjaga lisan, menjaga tulisan, menjaga ujaran, dan meminimalisir semua tindakan yang dapat menyulut perpecahan. Minimal, satu sama lain dari kita mau bercermin dan berintrospeksi diri. 

  

Menjalin kesatuan umat seperti itu memang tidak mudah, kalau begitu alternatifnya adalah melalui jalur pendidikan: sekolah, pesantren, dan lembaga-lembaga pendidikan lainnya. Atau melalui mushola-mushola, dimana peran kiai kampung, memberikan pemahaman terhadap anak didiknya yang mengaji. “La yu’minu ahadukum hatta yuhibbu liakhihi kama yuhibbu linafsihi”—tidak beriman seseorang hinga ia dapat mencintai saudaranya seperti ia mencitai dirinya sendiri. “Al fitnatu asyaddu minal qatli”—fitnah lebih kejam daripada pembunuhan. “Inna ba’dla zanni ismun”—sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. 

Penulis adalah Pembaca Setia Shautus Salam.

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Ahlussunnah, Nasional, Halaqoh Shautus Salam

Sabtu, 17 Februari 2018

PMII Cianjur Nilai KPUD Gagal

Cianjur, Shautus Salam. Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Pemilu Kabupaten Cianjur menilai proses Pemilihan Anggota Legislatif 9 April 2014 yang digelar Komisi Pemilihan Umum Daerah Kabupaten Cianjur tidak berjalan mulus.

Ketua Umum PMII Kabupaten Cianjur Ayi Sopwanul Umam menyebutkan, pihaknya menemukan kertas suara dan Daftar Calon Tetap (DCT) yang tertukar di setiap daerah pemilihan (dapil).

PMII Cianjur Nilai KPUD Gagal (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Cianjur Nilai KPUD Gagal (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Cianjur Nilai KPUD Gagal

“Kertas Suara yang seharusnya di dapil 1 Tertukar dengan dengan dapil 4, dapil1 dengan dapil 2. Seperti terjadi di TPS VII Desa Bunikasih Kecamatan Warungkondang tertukar kertas suaranya dengan dapil 2,” terangnya Sabtu, (12/4). ?

Shautus Salam

Ia menilai KPUD Cianjur kurang mensosialisasikan pemilu kepada masyarakat. Karena di lapangan masyarakat kurang memahami apa dan bagaimana proses pemilu ini, mulai arti wakil DPR, DPRD Provinsi, DPRD Kabupaten/Kota dan DPD, serta tata cara pencoblosan itu tersendiri.

PMII Cianjur menyayangkan, hal seperti itu tidak seharusnya terjadi dan sudah diantisipsai dari awal dengan mempersiapkan tenaga profesional serta bertanggungjawab dalam tugasnya.

Shautus Salam

“Dengan terjadinya kasus seperti ini, PMII Kabupaten Cianjur menilai KPUD Cianjur gagal? menjalankan kinerjanya. KPUD Cianjur harus lebih serius serta cepat tanggap melihat dari pada kenyataan permasalahn seperti ini,” imbaunya.

Lebih lanjut Ayi menjelaskan, temuan itu didapat dari kader-kader PMII yang diterjunkan menjadi pemantau Pemilu pada 9 April lalu.

“Atas dasar kepedulian terhadap pesta demokrasi rakyat, PMII Cianjur menerjunkan pemantau di 32 kecamatan. Setiap kecamatan yang dipantau 5 TPS,” jelasnya. (Red: Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Ahlussunnah Shautus Salam

Jumat, 16 Februari 2018

Penasihat Menteri Besar Selangor Puji NU dan Pesantren

Jakarta, Shautus Salam. Penasihat Menteri Besar Selangor, Malaysia, Khlaid Jaafar memuji Nahdlatul Ulama, juga pesantren, sebagai elemen di masyarakat yang setia mengembangkan turats (tradisi) keilmuan ulama klasik. Usaha ini ia nilai telah berhasil melahirkan kader-kader yang andal dalam pengetahuan Islam.

Penasihat Menteri Besar Selangor Puji NU dan Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Penasihat Menteri Besar Selangor Puji NU dan Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Penasihat Menteri Besar Selangor Puji NU dan Pesantren

“Ramai anak-anak keluaran pesantren belajar ke malaysia dan ternyata mereka lebih menguasai bahasa Arab, nahwu, sharaf, dibanding dengan (pelajar) Malaysia, bahkan dengan yang sudah graduate pun, pegangan nahwu sharafnya (anak pesatren) jauh lebih kuat; hafalannya, Matan Ajurumiyah-nya. Lebih mantab,” katanya.

Khlaid Jaafar menyampaikan hal itu di sela kunjungannya ke kantor PBNU, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta, Jumat (18/12). Kedatangannya disambut hangat Ketum PBNU KH Said Aqil Siroj, Sekjen PBNU H Helmy Faishal Zaini, dan Bendum PBNU H Bina Suhendra.

Shautus Salam

Dalam pertemuan tersebut, ia juga menceritakan bahwa madrasah dan pesantren di Malaysia diambang kematian lantaran sistem pendidikan nasional di sana yang membuat banyak pelajar beralih ke sekolah pemerintah.

Shautus Salam

Sebagai sama-sama rumpun Melayu, mantan sekretaris pribadi Anwar Ibrahim ini mengungkapkan keinginan pihaknya untuk mengembangkan Islam Nusantara. Ia menilai Malaysia membutuhkan karakter Islam Ahlussunnah wal Jamaah sebagaimana dianut NU yang setia terhadap tradisi dan menjunjung tinggi prinsip tasamuh (toleransi) dan tawasuth (moderasi).

Dia juga mengatakan adanya aliran ekstrem yang masuk ke Malaysia, dan mulai mengusik keharmonisan di Tanah Melayu itu. Para pendahwahnya, ungkap Khalid, bahkan telah dididik piawai bahasa Inggris untuk menjangkau kalangan lebih luas.

KH Said Aqil Siroj juga menjelaskan kondisi kehidupan Islam di Indonesia. Menurutnya, ekstremisme yang berujung pada kekerasan fisik dan pengrusakan rumah ibadah di Indonesia terjadi belakangan saja, seiring dengan meningkatnya paham-paham intoleran yang masuk.

“Dulu aman-aman saja. Syiah, Ahmadiyah, itu di Indonesia sudah sangat lama. Tapi belakangannya saja mereka diganggu,” ujarnya. (Mahbib Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Aswaja, Berita, Ahlussunnah Shautus Salam

Jumat, 09 Februari 2018

Katib Aam: Jelang Pemilu, Jagalah Ukhuwah Nahdliyah

Yogyakarta, Shautus Salam. Dalam acara tahlil memperingati wafatnya KH Zainal Abidin Munawwir, Selasa (25/3) tadi malam, Katib Aam PBNU KH Malik Madani berpesan agar warga Nahdhiyin menjaga Ukhuwah Nahdliyah, kekompakan sesama warga NU menjelang pemilu 2014 nanti.

“Saya tidak ingin berbicara panjang lebar, saya hanya ingin titip pesan dari PBNU, menjelang tanggal 9 April yang akan datang ini, PBNU berpesan agar warga NU menjaga Ukhuwah Nahdliyah. Ukhuwah ini harus dijaga betul, supaya Ukhuwah Nahdliyah bisa menjelma menjadi Ukhuwah Islamiyah, persaudaraan yang sesuai dengan nilai-nilai Islam,” ujarnya di hadapan ratusan jamaah yang hadir.

Katib Aam: Jelang Pemilu, Jagalah Ukhuwah Nahdliyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Katib Aam: Jelang Pemilu, Jagalah Ukhuwah Nahdliyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Katib Aam: Jelang Pemilu, Jagalah Ukhuwah Nahdliyah

“Tidak usah tengkar? satu sama lain karena berbeda pilihan politik. PBNU tidak pernah mewajibkan warganya untuk memilih partai tertentu. Silahkan tanya kepada hati nurani masing-masing,” tambah Kiai Malik.

Shautus Salam

Dalam kesempatan tersebut, Kiai Malik juga berpesan agar memilih orang bukan karena money politik.

Shautus Salam

“Pilihlah orang yang menurut pendapat kita orang ini orang baik. Kalau jadi wakil kita di DPR nanti akan menyuarakan aspirasi kita. Tidak akan memperkaya diri sendiri. Inilah pesan PBNU,” ungkap Kiai asal Pulau Madura tersebut

Acara tahlil bersama dalam rangka memperingati 40 hari wafatnya KH. Zainal Abidin Munawwir tersebut dihadiri oleh ratusan jamaah yang terdiri dari santri dan masyarakat. Mereka berduyun-duyun memenuhi halaman Pesantren Krapyak selepas Isya’. Dengan dipimpin oleh KH Najib Abdul Qadir, para jamaah khusyuk membacakan doa untuk KH Zainal Abidin Munawwir yang wafat tanggal 15 Februari 2014.? (Nur Rokhim/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Ahlussunnah, Pahlawan Shautus Salam

Sabtu, 03 Februari 2018

Lantik PW Jabar, ASBIHU Berikan Hadiah Umrah kepada 3 Orang

Sumedang, Shautus Salam. YudaYudarmawan tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya begitu namanya disebut sebagai salah satu penerima hadiah umrah. Ia segera berlari ke atas panggung, menyalami orang-orang yang berdiri si sana, lalu melakukan sujud syukur.

Lantik PW Jabar, ASBIHU Berikan Hadiah Umrah kepada 3 Orang (Sumber Gambar : Nu Online)
Lantik PW Jabar, ASBIHU Berikan Hadiah Umrah kepada 3 Orang (Sumber Gambar : Nu Online)

Lantik PW Jabar, ASBIHU Berikan Hadiah Umrah kepada 3 Orang

Santri Pondok Pesantren Al-Muhajirin dari Dusun Simpang, Sukasari, Sumedang, Jawa Barat itu tidak menyangka dengan hadiah Umroh yang diterimanya dari Asosiasi Bina Haji dan Umroh (ASBIHU).

“Saya ke sini diajak guru (kiai) sebagai perwakilan pesantren untuk mengikuti acara hari ini,” ungkap Yuda kepada Shautus Salam sesaat setelah pengumuman pemenang.

Yuda tidak sendiran. Ada dua nama lainnya yang berhak atas hadiah yang sama. Mereka adalah Kartika (55) dari Majelis Taklim Annur Jumbleng, Desa Ranjeng Kecamatan Cisitu; dan Lifia dari Tanjung Sari.?

Shautus Salam

Penyerahan hadiah umrah kepada ketiganya dilakukan bersamaan dengan acara Pelantikan Pengurus PW ASBIHU Jawa Barat masa khidmat 2016-2021, yang dihelat Rabu (28/12) di SMK Annur, Sumedang.?

“Saya mengucapkan terima kasih. Tadi tidak kepikiran dapat hadiah umrah ini,” kata Kartika sambil menahan tangis haru.

Hadiah kepada ketiganya berasal dari Ketua Umum ASBIHU KH Musthafa Aqil Siroj, Ketua PW ASBIHU Jawa Barat H Fairuzillah, dan Sekretaris Daerah Kabupaten Sumedang H Zainal Alimin.

Shautus Salam

Direktur ASBIHU Tour and Travel, H Hafidz Taftazani mengungkapkan hadiah umrah tersebut diberikan sebagai ungkapan rasa syukur yang perlu didahulukan dan dirasakan bersama di lingkungan ASBIHU.?

Dengan perannya ini, ASBIHU akan terus berupaya memberikan maslahat kepada seluruh warga NU dan masyarakat Indonesia yang ingin menunaikan ibadah umroh dengan standar yang maksimal. (Kendi Setiawan/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam News, Kajian, Ahlussunnah Shautus Salam

Jumat, 26 Januari 2018

Bagaimana Makmum Yang Tertinggal Takbir Sunah pada Shalat Id?

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Pengasuh rubrik Bahtsul Masail Shautus Salam, saya mau bertanya. Pada sembahyang Id, ada saja masyarakat yang tertinggal jamaah. Ia menjadi makmum. Ia ketinggalan beberapa takbir sunah pada sembahyang Id pada rakaat pertama. Apakah ia harus melengkapi takbir sunah sebanyak tujuh kali atau mengikuti sedapatnya takbir si imam? Mohon penjelasannya. Terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Nurfadhilah/Banjarmasin)

Jawaban

Bagaimana Makmum Yang Tertinggal Takbir Sunah pada Shalat Id? (Sumber Gambar : Nu Online)
Bagaimana Makmum Yang Tertinggal Takbir Sunah pada Shalat Id? (Sumber Gambar : Nu Online)

Bagaimana Makmum Yang Tertinggal Takbir Sunah pada Shalat Id?

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Penanya yang budiman, semoga Allah SWT menurunkan rahmat-Nya untuk kita semua. Shalat Id merupakan shalat sunah yang paling dianjurkan untuk dihadiri setiap Muslim. Bahkan, perempuan yang berhalangan sekalipun dianjurkan untuk menghadiri upacara shalat Id dan khutbahnya hingga selesai. Bahkan sebagian ulama menyatakan bahwa hukum shalat Id adalah wajib.

Shautus Salam

Shalat sunah Id ini memiliki keistimewaan. Setelah takbiratul ihram dan doa iftitah, kita disunahkan untuk bertakbir sebanyak tujuh kali pada rakaat pertama. Sedangkan pada rakaat kedua, kita disunahkan untuk bertakbir sebanyak lima kali. Takbir pada shalat Id ini sunah. Kalau ditinggalkan, tidak membatalkan shalat, tetapi membuat makruh.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Shautus Salam

Artinya, “Sebelum membaca Surat Al-Fatihah, ia bertakbir sebanyak tujuh kali dengan hitungan yakin yang berbarengan dengan mengangkat kedua tangan; (7 takbir ini) tepatnya (dilakukan) di antara doa iftitah dan ta‘wudz Al-Fatihah. Di rakaat kedua, ia cukup bertakbir sebanyak lima kali,” (Lihat Syekh Sa‘id bin Muhammad Ba‘asyin, Busyral Karim, Beirut, Darul Fikr, 1433-1434 H/2012 M, juz II, halaman 355).

Shalat Id sunahnya dikerjakan secara berjamaah. Kalau ada anggota masyarakat yang ikut berjamaah shalat Id saat imam telah melangsungkan takbir yang disunahkan, maka ia cukup mengikuti seberapa banyak imam bertakbir. Ia tidak perlu menggenapi kekurangannya hingga tujuh takbir bila tertinggal pada rakaat pertama, atau lima takbir bila tertinggal pada rakaat kedua.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ?

Artinya, “Sedangkan masbuq (makmum yang tertinggal beberapa saat) hanya bertakbir sedapatnya mengikut sisa takbir imamnya. Di dalam Syarah dikatakan, kalau masbuq mengikuti imam di rakaat pertama misalkan, dan ia mendapati sisa sekali takbir imam, maka ia cukup sekali bertakbir. Atau kalau masbuq mengikuti imam pada rakaat kedua, ia cukup bertakbir sebanyak lima kali. Sedangkan di rakaat keduanya (setelah imam salam), ia cukup bertakbir sebanyak lima kali karena kalau mengqadha takbir yang luput, ia justru meninggalkan sunah lainnya,” (Lihat Syekh Sa‘id bin Muhammad Ba‘asyin, Busyral Karim, Beirut, Darul Fikr, 1433-1434 H/2012 M, juz II, halaman 355).

Dari sini, kita dapat menyimpulkan bahwa makmum shalat Id yang mendapati imamnya telah membaca surat Al-Fatihah atau surat yang disunahkan, tidak perlu lagi mengerjakan takbir sunah. Ia cukup mengerjakan takbiratul ihram, lalu mendengarkan bacaan imamnya.

Saran kami, kita sebaiknya menghadiri upacara shalat Id meskipun kita tertinggal beberapa takbir atau tertinggal satu rakaat. Karena shalat Id memiliki keutamaan luar biasa bahkan perempuan yang berhalangan sekalipun sangat dianjurkan untuk menghadiri shalat Id beserta khutbahnya hingga selesai. Bagi mereka yang tidak sempat ikut berjamaah, sebaiknya sebelum Zuhur ia mengerjakan shalat Id sendiri tanpa khutbah

Demikian jawaban singkat kami. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima kritik dan saran dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwathih thariq,

Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Alhafiz Kurniawan)Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Fragmen, Cerita, Ahlussunnah Shautus Salam

Selasa, 02 Januari 2018

PBNU: Maarif Harus Perkuat Madrasah dan Sekolah Unggulan

Semarang, Shautus Salam. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) meminta Lembaga Pendidikan Maarif NU terus melakukan konsolidasi dalam rangka mengembangkan madrasah dan sekolah menjadi lebih baik dan bermutu. Dengan demikian, Maarif NU? akan mampu mendorong anak didik menjadi pribadi berkarakter.

PBNU: Maarif Harus Perkuat Madrasah dan Sekolah Unggulan (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU: Maarif Harus Perkuat Madrasah dan Sekolah Unggulan (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU: Maarif Harus Perkuat Madrasah dan Sekolah Unggulan

Ketua PBNU H Hanief Saha Ghofur menyampaikan hal itu dalam acara pembukaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Satuan Komunitas (Sako) Pramuka dan Raker Pimpinan Pusat LP Maarif NU di Pondok Pesantren al-Ittihad Poncol, Kecamatan Beringin, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (31/10).

Hanief mengatakan, tugas LP Maarif NU adalah mengembangkan madrasah dan sekolah supaya menjadi pilar pendidikan NU yang paling kuat. Ke depan, imbuhnya, lembaga pendidikan NU harus lebih kuat dan lebih baik

Shautus Salam

"PBNU telah merencanakan dan mendesain road map madrasah unggulan dan bermutu seperti amanat Muktamar NU di Jombang kemarin. Namun, semua ini keberhasilannya bergantung pada Maarif, bagaimana supaya kelembagaan, madrasah dan sekolah NU menjadi kuat," tandasnya.

Di depan ratusan peserta dan tamu undangan, Hanief mengutarakan, untuk memperkuat madrasah harus dilakukan upaya peningkatan mutu, penguatan kelembagaan, sumber daya manusia, dan daya dukung kapasitas pendidikan.

?

Shautus Salam

"Menjadi madrasah bermutu harus didukung sistem dan manajemen yang baik dan tertib serta siap berkompetisi atau bersaing dengan yang lain," ujarnya.

?

Ia menambahkan, PBNU akan terus mengawal dengan meningkatkan mutu warganya melalui pendidikan. Karena salah satu indikator keberhasilan program PBNU adalah tercapaianya peningkatan mutu madrasah/sekolah ungulan baik yang bertaraf nasional maupun internasional.

"Kita patut berbangga, orang lain orang lain mengakui madrasah-sekolah kita bermutu. Dan,? itulah puncak dari seluruh keberhasilan pendidikan NU," tandas Hanief.

Kegiatan PP LP Maarif yang berlangsung selama dua hari Sabtu-Ahad (31/10-1/11) ini memiliki dua agenda yakni Rapat kerja lembaga Maarif dan Rakernas Satuan Komunitas Pramuka Maarif. Hadir dalam pembukaan, Rais PWNU Jateng KH Ubaidillah Shodaqoh, Ketua PP LP Maarif HZ Arifin Junaidi, dan peserta rakernas Sako Pramuka serta ratusan tamu undangan lainnya. (Qomarul Adib/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Ahlussunnah, Pesantren Shautus Salam

Rabu, 27 Desember 2017

Muslimat NU Jepara Fokus pada Tiga Garapan

Jepara, Shautus Salam

Pimpinan Cabang Muslimat NU Jepara masa khidmah kepengurusan 2015-2020 akan fokus pada tiga hal yakni kesehatan, pendidikan, dan sosial kemasyarakatan.

Muslimat NU Jepara Fokus pada Tiga Garapan (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslimat NU Jepara Fokus pada Tiga Garapan (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslimat NU Jepara Fokus pada Tiga Garapan

Hal ini disebutkan Ketua PC Muslimat NU Jepara Hj Noor Ainy di sela-sela kegiatan Gebyar Anak dan Guru PAUD yang dihelat Muslimat setempat di Gedung NU Jepara, Sabtu (19/03) siang.

Dalam bidang kesehatan, sebut dia, Muslimat NU Jepara saat ini memaksimalkan keberadaan Klinik Masyitoh yang berada di Gedung NU Jepara. Untuk hal pendidikan, melalui Yayasan Pendidikan Muslimat (YPM), Muslimat NU Jepara akan menjaga kualitas dan kuantitas lembaga pendidikan yang dinaunginya, mulai dari kelompok belajar (KB), taman pendidikan Al-Qur’an (TPQ), pendidikan anak usia dini (PAUD), hinga raudlatul athfal (RA).

Shautus Salam

Sedangkan untuk sosial kemasyarakatan, Muslimat NU sedang membangun Lembaga Kesejahteraan Anak Asuh Darul Hadlonah yang lokasinya juga di Gedung NU Jepara. “Kami merencanakan setelah lebaran mendatang anak-anak yatim sudah bisa menempati panti ini,” papar Ainy.

Shautus Salam

Klinik Masyitoh tujuannya untuk melayani kesehatan warga. Darul Hadlonah untuk menyayomi anak yatim. Sementara itu, pendidikan yang tujuannya untuk mencerdaskan anak bangsa pihaknya mempunyai mimpi agar kelak memiliki gedung pendidikan tersendiri.

Agar tiga garapan ini berjalan dengan maksimal, pihaknya menjalin kerja sama dengan para pemangku kepentingan. Klinik Masyitoh bekerja sama dengan DKK dan BP2KB. Unsur pendidikan dengan Dikpora dan Kemenag serta Lembaga Kesejahteraan Anak Asuh dengan Dinsos.

Ia mengatakan, tanpa turut serta dari pemerintah garapan-garapan Muslimat mustahil berjalan dengan mulus. Noor Ainy berharap pemerintah berkenan memberikan sumbangsih material dan moral untuk program-program Muslimat ini.

Kekompakan Muslimat NU dari tingkat Ranting, Anak Cabang hingga Cabang, tegas sarjana agama ini, merupakan kekuatan Muslimat untuk terus berkhidmah kepada bangsa dan negara.

“Kami banyak kendala, mas, karena ibu-ibu sibuk mengurusi rumah tangga sehingga susah untuk mengatur waktu untuk berorganisasi. Tetapi dengan komitmen yang ada, bisa teratasi,” terang ibu yang tinggal di Mantingan RT.04 RW.01 Tahunan, Jepara.

Kegiatan Muslimat NU Jepara juga selalu mendapat dukungan dari PCNU setempat di bawah kepemimpinan KH Hayatun Abdullah Hadziq (Ketua PCNU) dan KH Ubaidillah Nur Umar (Rais Syuriyah).

Jika kucuran dana pemerintah seret, kata Ainy, para anggota akan iuran Rp1000-Rp10.000 untuk keberlangsungan kegiatan-kegiatan yang dijalankan Muslimat NU Cabang Jepara. (Syaiful Mustaqim/Mahbib)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Ahlussunnah, Lomba, Cerita Shautus Salam

Selasa, 26 Desember 2017

Masjid Cheng Hoo Jember Segera Rampung

Jember, Shautus Salam. Tak lama lagi, warga Jember, khususnya muslim etnis keturunan akan memiliki masjid yang cukup representatif. Namanya masjid Cheng Hoo. Pembangunan masjid yang terletak di di Jl Hayam Wuruk, Kelurahan Sempusari, Kec. Kaliwates tersebut saat ini sudah mencapai sekitar 65 persen. 

Masjid Cheng Hoo Jember Segera Rampung (Sumber Gambar : Nu Online)
Masjid Cheng Hoo Jember Segera Rampung (Sumber Gambar : Nu Online)

Masjid Cheng Hoo Jember Segera Rampung

“Seperti rencana kami, masjid ini ditarget selesai satu tahun. Mudah-mudahan pertengahan tahun ini sudah selesai,” tukas Ketua  Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Cabang Jember,  Bambang Pramono di Sempusari, kemarin (11/2).

Menurut Bambang, masjid yang berdiri di atas tanah seluas 4.500 meter persegi tersebut adalah masjid ketujuh yang dibangun Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo Indonesia bekerjasama dengan PITI. Luas bangunannya 15 x 10 M2, dengan model arsitektur  khas etnis Tiongkok. 

Shautus Salam

Bentuk kubahnya seperti pagoda segi delapan. Di sebelah kiri masjid tersebut dibangun menara yang meninggi berbentuk segi delapan, di puncaknya dikelilingi  kaligrafi. 

“Nanti akan kami lengkapi dengan sarana pendidikan, karena lahannya masih cukup luas,” tuturnya.

Shautus Salam

Bambang menambahkan, penamaan masjid Cheng Hoo tersebut merupakan wujud penghargaan atas jasa-jasa Muhamamd Cheng Hoo yang telah menjadi pelopor penyebaran Islam bagi etnis keturunan Tionghoa. Muhamamd Cheng Hoo sendiri adalah seorang muslim asal Propinsi Yunan, Tiongkok. 

“Kami sangat bangga dengan usaha an perjuangan Muhammad Cheng Hoo, dan kami terinspirasi untuk berbuat sesuatu bagi bagi bangsa dan agama,” jelasnya.

Masjid Cheng Hoo Jember pertama kali dibangun pada 20 April 2012. Ketika itu Bupati Jember, MZA. Djalal  didapuk meletakkan batu pertama, dan berkenan menyumbang Rp. 10 juta. KH Hamid Hasbullah (tokoh NU) juga meletakkan batu pertama setelah Bupati Djalal. Lokasi masjid tersebut cukup strategis, hanya 60 meter dari jalan protokol kota Jember, tepatnya berada pas di belakang pusat perbelanjaan Carrefor.

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Aryudi A Razaq

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Ahlussunnah Shautus Salam

Selasa, 19 Desember 2017

NU Tunisia Promosikan Seni Budaya Nusantara

Tunis, Shautus Salam

Dalam rangka mengenalkan seni budaya Nusantara ke kancah global, Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Tunisia menggelar festival budaya (mahrajan tsaqafi) di kampus Fakultas Adab Universitas Manouba, Tunis, Tunisia. Acara ini berlangsung pada Rabu (20/4) siang waktu setempat.

NU Tunisia Promosikan Seni Budaya Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Tunisia Promosikan Seni Budaya Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Tunisia Promosikan Seni Budaya Nusantara

Ratusan pengunjung yang memadati lokasi acara tampak antusias menyaksikan ragam penampilan seperti pencak silat, atraksi debus, tari zapin, tari saman, puisi, dan aneka jenis musik. Semua atraksi kesenian ini dimainkan oleh para kader NU Tunisia. Para pengunjung yang umumnya mahasiswa itu berkali-kali tepuk tangan meriah, atau turut mendendangkan lagu-lagu serta syair shalawat yang ditampilkan.

Di halaman aula lokasi acara, dipamerkan sejumlah kitab karya ulama Nusantara, serta beberapa buku tentang Islam di Indonesia. Di antaranya ada 12 kitab karya Syekh Nawawi Banten, seperti kitab Tafsir Marah Labid, Uqudulujjain, Maraqil ‘Ubudiyah, Tanqihul Qaul, ats-Tsamar al-Yaniah, dan lain-lain.

Shautus Salam

Kehadiran kitab-kitab berbahasa Arab karya ulama Nusantara ini sempat menarik perhatian para dosen dan mahasiswa setempat. Terlebih ketika mereka mengetahui bahwa sejumlah kitab itu juga diterbitkan oleh penerbit-penerbit terkemuka Timur Tengah seperti Darul Fikr Beirut atau Mustafa Halbi Kairo.    

Ketua Tanfidziyah PCI NU Tunisia Ahmad Muntaha Afandi menjelaskan bahwa penyebaran Islam di Indonesia  berlangsung secara damai dan tanpa pertumpahan darah. "Yang terjadi adalah akulturasi antara Islam dengan budaya lokal," tutur Muntaha.

Shautus Salam

Pada masa-masa berikutnya, lanjut mahasiswa S2 Fakultas Adab Manouba ini, perpaduan budaya lokal dengan ajaran Islam tersebut menjadi salah satu faktor penting dalam merekatkan ukhuwah di kalangan umat Islam di Indonesia. Toleransi di tengah keragaman sebagaimana ditunjukkan umat Islam di Indonesia saat ini diharapkan dapat menjadi inspirasi positif bagi umat Islam di dunia Arab, termasuk Tunisia.  

Dalam acara itu, turut hadir Duta Besar RI untuk Tunisia Ronny Prasetyo Yuliantoro, Dekan Fakultas Adab Prof Dr Habib Kazdagli, Wakil Dekan Dr Sourour Lihyani, serta sejumlah dosen dan staf universitas. Selain itu, juga ada Syekh Dr. Shalahudin el Mistawi, mustasyar PCINU Tunisia yang juga mantan Sekretaris Jenderal al Majelis al Ala lis Syuun al Islamiyah, yakni semacam majelis ulamanya Tunisia. (Red: Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Ahlussunnah Shautus Salam

Minggu, 10 Desember 2017

Amalan-Amalan yang Dianjurkan dalam Maulidan

Hari lahir Rasulullah SAW berulang setiap tahun. Karenanya, sekali dalam setahun pula masyarakat Indonesia memperingati hari kelahirannya. Berhubung banyaknya jumlah masjid dan mushola, maka maulid tampak diperingati setiap hari. Undangan muludan di desa-desa tetangga berderet antre diumumkan di masjid-masjid. Bukan apa-apa. Hal ini lebih didasarkan pada perbedaan kesiapan panitia muludan setempat.

Semangat masyarakat Indonesia untuk menyelenggarakan maulid, bisa dimaklumi. Karena, Islam memang menganjurkan umatnya untuk merayakan hari kelahiran Rasulullah. Tidak salah kalau pemerintah RI menetapkan hari libur bertepatan dengan jatuhnya hari maulid Rasulullah SAW.

Amalan-Amalan yang Dianjurkan dalam Maulidan (Sumber Gambar : Nu Online)
Amalan-Amalan yang Dianjurkan dalam Maulidan (Sumber Gambar : Nu Online)

Amalan-Amalan yang Dianjurkan dalam Maulidan

Lalu apa yang mesti dilakukan dalam peringatan maulid Rasulullah SAW. Banyak kegiatan ibadah yang bisa dilakukan dalam kesempatan ini. Demikian diterangkan Sayid Bakri bin Sayid M Syatho Dimyathi dalam I‘anatuttholibin.

Shautus Salam

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, Imam Abu Syamah (guru penulis) berkata, “Salah satu dari sekian banyak bid‘ah paling hasanah di zaman kita ialah kelaziman yang dibuat masyarakat setiap tahun dalam merayakan harlah Rasulullah SAW berupa sedekah, berbuat ma’ruf, dan bersolek diri atau merapikan desa serta menyatakan kegembiraan. Semua itu berikut perbuatan baik kepada orang-orang faqir, menunjukkan rasa cinta kepada Nabi Muhammad SAW, keagungan serta kebesaran beliau SAW di hati mereka yang merayakan maulid, dan bentuk syukur kepada Allah atas anugerah-Nya dalam menciptakan seorang Rasulullah yang diutus sebagai rahmat bagi sekalian alam. Semoga Allah melimpahkan sholawat dan salam kepada rasul-Nya SAW.”

Shautus Salam

Termasuk membaca riwayat hidup Rasulullah SAW, lantunan sholawat, atau puji-pujian untuk beliau dalam pelbagai karya mulai dari Barzanji natsar, Barzanji nazhom, qasidah Burdah, Syarafal Anam, maulid Diba‘i, dan qasidah lainnya. Lazimnya orang Indonesia sedekah melalui pembuatan berkat. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Budaya, Ahlussunnah Shautus Salam

Sabtu, 25 November 2017

KH Lukman Harits Imbau Warga dan Santri di Lampung Bela Prinsip Negara

Lampung Tengah, Shautus Salam - Katib Syuriyah PBNU KH Lukman Harits Dimyati menyampaikan, santri-santri NU selain menguasai kitab kuning dan hidup bermasyarakat harus memahami pilar-pilar negara. Salah satunya adalah mamahami Pancasila. Bagi NU, Pancasila sudah final dan sudah sesuai dengan syariat Islam.

Demikian disampaikan Kiai Harits di hadapan seribu warga dalam rangka khataman kitab Al-‘Imrithi Haflah Akhirussanah di halaman kompleks Pesantren Baitul Mustaqim Sidomulyo Kecamatan Punggur Kabupaten Lampung Tengah asuhan Ketua Idaroh Syu’biyyah Jatman Lampung Tengah KH Muhtar Ghozali, Ahad (14/5).

KH Lukman Harits Imbau Warga dan Santri di Lampung Bela Prinsip Negara (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Lukman Harits Imbau Warga dan Santri di Lampung Bela Prinsip Negara (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Lukman Harits Imbau Warga dan Santri di Lampung Bela Prinsip Negara

“Warga Nahdlatul Ulama di Provinsi Lampung umumnya dan khususnya di Kabupaten Lampung Tengah harus hati-hati dengan adanya upaya gerakan-gerakan, kelompok Islam radikal yang merongrong Pancasila. Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI, UUD 1945 adalah harga mati. Yang Tidak sepaham dengan Pancasila. Silakan pergi dari Indonesia,” kata Kiai Harits yang juga Koordinator Nasional Gerakan Ayo Mondok Pesantrenku Keren ini.

Shautus Salam

“Gerakan merongrong Pancasila jangan-jangan juga menjalar ke para pegawai negeri sipil di Lampung Tengah. Pak Wakil Bupati Lampung Tengah mohon disisir para ASN (aparatur sipil negara) di kabupaten ini. Mereka anti-Pancasila, pemerintah adalah thoghut tapi setiap bulan menerima gaji negara. Pemkab Lampung Tengah harus tanggap dengan kondisi ini,” tegas Katib Suriyah PBNU ini.

Shautus Salam

Tampak hadir pada haflah ini Rais Syuriyah PCNU Lampung Tengah KH Nur Daim, Sekretaris Jatman Lampung Tengah KH Nur Salim, Wakil Ketua PCNU Lampung Tengah KH Slamet Anwar, Sekretaris Fatayat NU Lampung Nurhayati, Wakil Bupati Lampung Tengah H Lukman Djoyosumarto, Dosen IAIM NU Kota Metro Lampung Aminan, Kabag Perekonomian Lampung Tengah Ahmad Jailani, Kadis Kominfo Lampung Tengah H Sarjito, anggota DPRD Lampung H Midi Iswanto, Camat Punggur, para kepala kampung, anggota TNI dan Polri, dan puluhan generasi muda NU lainnya. (Akhmad Syarief Kurniawan/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Ahlussunnah, Internasional, Sholawat Shautus Salam

Kamis, 23 November 2017

Menjaga NKRI dengan Perkuat Ekonomi dan Kemandirian Santri

Lampung Tengah, Shautus Salam?



Menjaga NKRI tidak hanya dilakukan dalam bentuk jihad melawan teroris atau kelompok yang mengganggu atau mengancamnya. Namun, memperkuat bidang ekonomi dan kemandirian juga merupakan salah satu bentuk menjaga NKRI dari intervensi pihak luar.

Menjaga NKRI dengan Perkuat Ekonomi dan Kemandirian Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
Menjaga NKRI dengan Perkuat Ekonomi dan Kemandirian Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

Menjaga NKRI dengan Perkuat Ekonomi dan Kemandirian Santri

Demikian dikatakan Ketua Rabithah Maahid Islamiyyah (RMI) Muhammad Athoillah di depan para santri dan tokoh NU Lampung yang hadir pada Acara Workshop dan Seminar Santripreneur di Kalirejo Lampung Tengah, Sabtu (19/8).?

Gus Athoillah, begitu pria ini biasa dipanggil, menambahkan bahwa dalam rangka mewujudkan kemandirian tersebut diharapkan kedepan para santri tidak hanya mumpuni dalam bidang ubudiyyah dan diniyyah, tapi juga harus mampu menjawab tantangan zaman dengan meningkatkan kapasitas dalam kemandirian ekonomi.

Menurutnya, tahun 2020 sampai dengan 2030, penduduk Indonesia akan didominasi oleh usia remaja dan pemuda. Jika 60 persen dari jumlah pemuda tersebut tidak memiliki pekerjaan alias pengangguran, Indonesia bisa goyah.

Shautus Salam

"Hal ini harus diantisipasi dan disiapkan dari sekarang untuk membekali para santri selangkah lebih maju, menjadi pengusaha dan punya akhlak dalam kemandirian ekonomi," kata Ketua Panitia Pusat Hari Santri Nasional (HSN) 2017 ini.

Oleh karenanya, dalam Peringatan HSN pada tahun ini lanjutnya, panitia mengangkat tema besar yaitu "Santri Mandiri, NKRI Hebat". Dengan tema besar ini ia berharap dapat memicu para santri untuk memiliki semangat usaha agar NKRI tidak goyah seperti Yunani akibat banyaknya pengangguran.

Hal senada juga diungkapkan Ketua PWNU Provinsi Lampung KH Sholeh Bajuri yang hadir pada acara yang dilaksanakan dalam rangka menyambut Hari Santri Nasional tersebut.

"Semangat kemerdekaan dimulai dari Resolusi Jihad yang dikobarkan oleh para santri dan ditetapkan menjadi Hari Santri Nasional. Jadi untuk mengisi kemerdekaan dibutuhkan keterlibatan santri yang kuat secara ekonomi," ujarnya.

Kiai Sholeh menambahkan bahwa workshop yang digelar oleh RMI tersebut dapat menjadi jawaban bagi hal ini dengan mencetak kader santri yang kuat secara ekonomi dan sekaligus menjadi pengusaha yang akan memperkuat NKRI. (Muhammad Faizin/Abdullah Alawi)

Shautus Salam

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Fragmen, Ahlussunnah Shautus Salam

Minggu, 12 November 2017

Agresi Militer Belanda I dan Upaya Penghancuran Basis Kaum Santri

Oleh Rijal Mumazziq Z

70 tahun silam, berdasarkan hitungan masehi, 25 Juli 1947 (7 Ramadan 1366 H), KH Muhammad Hasyim Asyari wafat. Penyebabnya, antara lain, serangan jantung yang bermula dari rasa shock bercampur sedih mendengar kabar jatuhnya Kota Malang ke tangan Belanda. Di film Sang Kiai (2013), detik-detik wafatnya Kiai Hasyim digambarkan dengan cukup detail.

Kota Malang, yang merupakan benteng terakhir sekaligus basis terkuat milisi Hizbullah dan Sabilillah, pada akhirnya jatuh di hari kelima agresi militer Belanda I. Milisi santri mempertahankan kota ini mati-matian. Banyak syuhada gugur dalam pertempuran di berbagai titik kota ini. Sehingga, di kemudian hari, didirikan Masjid Sabilillah untuk mengenang jasa milisi yang beranggotakan para kiai ini.

Pakde saya, Pak Matrai, saat itu anggota Hizbullah, ikut bertempur di front Malang ini, pada akhirnya mundur ke selatan, kemudian bergerilya di selatan timur, lalu memutar melalui Lumajang hingga tiba di Jember. (Beliau pernah cerita kalau kawan-kawannya banyak yang gugur diberondong pesawat sesaat setelah merebut satu pos milik Belanda).

Agresi Militer Belanda I dan Upaya Penghancuran Basis Kaum Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
Agresi Militer Belanda I dan Upaya Penghancuran Basis Kaum Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

Agresi Militer Belanda I dan Upaya Penghancuran Basis Kaum Santri

Dengan melancarkan aksi militer bersandi "Operatie Product" ini, Belanda dengan seenaknya melanggar Perjanjian Linggarjati. Aksi ini melibatkan beberapa kesatuan militer elit yang brutal seperti Korps Speciale Troepen (KST)--Kopassusnya Belanda-- yang ditugaskan menggasak wilayah Sumatera Timur, Jawa Timur dan Jawa Tengah. Tujuan taktis, menguasai kantong-kantong sumber daya alam seperti perkebunan, industri strategis seperti pabrik gula, dan area logistik yang melimpah.

Secara strategis, operasi militer ini sengaja dijalankan pada bulan Ramadan 1366 H, saat umat Islam beribadah. Lebih fokus lagi, yang ingin dihancurkan oleh Belanda bukan pemerintahan RI (sebagaimana yang terjadi dalam Agresi Militer Belanda II di Yogyakarta, Desember 1948), melainkan basis kekuatan milisi-milisi lokal. Khususnya Hizbullah dan Sabilillah, sebab Jawa Timur adalah basis utama dua kekuatan ini.

Shautus Salam

Tengara lain, sungguhpun secara resmi operasi miter ini dijalankan sejak 21 Juli hingga 5 Agustus 1947, namun pergerakan pasukan Belanda semakin kurang ajar setelah tanggal operasi berakhir, bahkan hingga awal tahun 1948.

Apabila dilihat di peta pergerakan pasukan Belanda, mereka sengaja bergerak di pedesaan, di basis rural kaum santri. Dan, faktanya banyak pondok pesantren yang dibakar pada agresi militer ini dan para kiai juga banyak yang gugur pada detik-detik ini. Misalnya, KH Abdullah Sajjad Assyarqawy, pengasuh Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk, yang gugur bersama pasukannya pada 3 Desember 1947 (20 Muharram 1367 H). Di Situbondo, pasukan Belanda menyerbu PP Salafiyah Syafiiyah Sukorejo, asuhan KH Syamsul Arifin. Putranya yang kemudian menjadi pahlawan nasional, KH Asad Syamsul Arifin, memilih bergerilya di kawasan Tapal Kuda.

Di Jember, ada beberapa pesantren yang "diperiksa" Belanda. Yang paling dekat dengan rumah saya, PP Mabda-ul Maarif menjadi target kedua setelah PP Assunniyyah Kencong menjadi target sebelumnya. Menyisir ke arah barat, Lumajang, Belanda kemudian disergap oleh sepasukan TNI yang dipimpin seorang ulama, Kapten Kiai Ilyas. Nama terakhir gugur dan namanya diabadikan sebagai nama salah satu jalan di kota Lumajang.

Pengasuh Ponpes Sidogiri, KH Abdul Djalil, juga menjadi syahid setelah diberondong pasukan Belanda saat menunaikan shalat subuh. Di fase 1947-1948, silakan dicek, banyak pesantren yang menjadi korban kebiadaban Belanda (lebih kurang ajar lagi, PKI dan FDR menusuk dari belakang pada September 1948). Nestapa akibat Agresi Militer I dan II dipotret dari perspektif santri oleh KH Saifuddin Zuhri dalam dua memoarnya, Guruku Orang-Orang Pesantren (LKiS: 2001) dan Berangkat dari Pesantren (LKiS: 2012). Di buku ini akan kita jumpai bagaimana para ulama, antara lain KH Abdul Wahid Hasyim, membina jaringan teliksandi di Jawa Timur hingga pedalaman Jawa Tengah; KH. Masjkur dan jaringan Kementerian Agama yang tetap menjalankan amanah Presiden Sukarno untuk melayani masyarakat di tengah keterbatasan infrastuktur; hingga anekdot-anekdot ala santri di tengah kecamuk perang.

Agresi Militer I ini kemudian dilanjutkan Belanda dengan menggelar "Operasi Gagak" pada 18 Desember 1948 yang fokus pada penguasaan ibukota RI di Yogyakarta sekaligus menangkap para pemimpin RI. Sebuah upaya menghabisi republik yang masih terengah-engah akibat ulah PKI-FDR di Madiun, September 1948. Setahun kemudian, keruwetan bertambah lagi saat 7 Agustus 1949, SM Kartosuwiryo mendeklarasikan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia.

Shautus Salam

Penulis adalah dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Internasional, Ahlussunnah, Sholawat Shautus Salam

Di Bawah Pohon Ini, Bung Karno Rumuskan Pancasila

Ende, Shautus Salam - Hari Kesaktian Pancasila yang diperingati setiap 1 Oktober memiliki korelasi kuat dengan peristiwa kontemplasi Ir Soekarno (Bung Karno) di sebuah kota kecil di Pulau Flores, tepatnya di Kabupaten Ende, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Buah pemikiran tentang Pancasila Sang Proklamator ini tidak lahir tiba-tiba. Pancasila hadir sebagai hasil dari renungan panjang Bung Karno selama empat tahun di pengasingan.

Di Bawah Pohon Ini, Bung Karno Rumuskan Pancasila (Sumber Gambar : Nu Online)
Di Bawah Pohon Ini, Bung Karno Rumuskan Pancasila (Sumber Gambar : Nu Online)

Di Bawah Pohon Ini, Bung Karno Rumuskan Pancasila

Obrolan tersebut mengemuka saat Shautus Salam bincang-bincang dengan Ketua PCNU Ende Usman Hamid saat menelusuri jejak Bung Karno di kota kecil itu, Ahad (1/9).

Shautus Salam

“Pada 14 Januari 1934, Bung Karno bersama sang istri, Inggit Garnasih serta ibu mertua (Ibu Amsi) dan anak angkatnya, Ratna Djuami, tiba di rumah tahanan yang terletak di Kampung Ambugaga, Ende. Bung Karno diasingkan di daerah ini hingga 1938,” kisahnya.

Shautus Salam

Menurut cerita, lanjut Usman, di bawah pohon sukun di sebuah tanah lapang yang menghadap langsung ke Pantai Ende menjadi tempat favorit Bung Karno untuk berkontemplasi. Pohon yang terbilang rindang itu berjarak sekitar 700 meter dari kediaman Bung Karno. Biasanya, ia pergi sendiri ke tempat sunyi itu pada Jumat malam. Di tempat itulah, Bung Karno mengaku buah pemikiran Pancasila tercetus.

Dalam buku Bung Karno dan Pancasila, Ilham dari Flores untuk Nusantara, diceritakan bahwa Soekarno jadi lebih banyak berpikir daripada sebelumnya. Kehidupannya bersama keluarga di Ende sangat sederhana dan jauh dari hiruk-pikuk politik layaknya di kota besar. Tak banyak yang bisa ia lakukan di tempat pengasingan yang begitu jauh dari Ibu Kota itu.

Bung Karno diasingkan ke daerah terpencil dengan penduduk berpendidikan rendah sengaja dilakukan Belanda demi memutus hubungan dirinya dengan para loyalis di Tanah Jawa. Di tempat pengasingan ia mulai mempelajari lebih jauh tentang Islam hingga isu pluralisme. Para pastor di Ende menjadi kawan diskusinya.

Sehari-hari Bung Karno memilih berkebun dan membaca. Untuk membunuh kebosanannya dengan aktivitas yang monoton itu jiwa seninya kembali tumbuh. Bung Karno mulai melukis hingga menulis naskah drama pementasan.

Di sela kegiatan seninya, Bung Karno berkirim surat dengan tokoh Islam di Bandung bernama T A Hassan dan berdiskusi cukup sering dengan pastor Pater Huijtink. Dari sinilah Bung Karno menjadi lebih religius dan lebih mengerti makna keberagaman secara mendalam.

Pancasila Lahir

Bung Karno kemudian memaparkan lima prinsip beserta relevansinya bagi bangsa Indonesia pada rapat besar Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) 1 Juni 1945 di Jakarta. Dengan semangat 45, ia menyadarkan anggota rapat tentang perlunya Indonesia memiliki dasar negara yang menjadi pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kelima butir itulah yang ia disebut sebagai Pancasila. Inilah yang kemudian melandasi penetapan 1 Juni sebagai hari lahir Pancasila. Tentang ide lima butir mutiara tersebut Bung Karno memiliki cerita sendiri.

Berikut ini kisahnya: “Suatu kekuatan gaib menyeretku ke tempat itu hari demi hari. Di sana, dengan pemandangan laut lepas tiada yang menghalangi, dengan langit biru yang tak ada batasnya dan mega putih yang menggelembung, di sanalah aku duduk termenung berjam-jam.

Aku memandangi samudera bergolak dengan hempasan gelombangnya yang besar memukuli pantai dengan pukulan berirama. Dan kupikir-pikir bagaimana laut bisa bergerak tak henti-hentinya. Pasang surut, namun ia tetap menggelora secara abadi.

Keadaan ini sama dengan revolusi kami, kupikir. Revolusi kami tidak mempunyai titik batasnya. Revolusi kami, seperti juga samudera luas, adalah hasil ciptaan Tuhan, satu-satunya Maha Penyebab dan Maha Pencipta. Dan aku tahu di waktu itu bahwa semua ciptaan dari Yang Maha Esa, termasuk diriku sendiri dan tanah airku, berada di bawah aturan hukum dari Yang Maha Ada.” (Musthofa Asrori/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Ahlussunnah Shautus Salam

Jumat, 10 November 2017

Ini Bahaya Laten Bagi Umat Islam Menurut Ibnu Athaillah

Umat Islam tidak boleh lengah atas bahaya laten yang mengancam mereka. Bahaya laten ini menyusup bukan di tengah-tengah umat Islam. Bahaya laten ini jauh lebih halus menyusup di dalam tubuh mereka dalam aktivitas ibadah dengan segala bentuknya (yaitu shalat, puasa, zikir, tadarus, tahfiz, sedekah, haji, umrah, dan ibadah lainnya) sebagai keterangan Ibnu Athaillah berikut ini.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Ini Bahaya Laten Bagi Umat Islam Menurut Ibnu Athaillah (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Bahaya Laten Bagi Umat Islam Menurut Ibnu Athaillah (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Bahaya Laten Bagi Umat Islam Menurut Ibnu Athaillah

Artinya, “Unsur nafsu pada perbuatan maksiat tampak jelas. Sedangkan unsur nafsu pada amal ibadah tersembunyi dan laten. Upaya pengobatan atas penyakit yang tersembunyi itu sulit.”

Shautus Salam

Bahaya laten yang patut diwaspadai umat Islam adalah unsur nafsu yang menyusup pada aktivitas ibadah mereka. Nafsu yang suka menuntut ini pada gilirannya dapat mencelakai mereka yang tak mewaspadai bahaya laten ini. Bagaimana bisa orang beribadah menjadi celaka?

Shautus Salam

Pertama kita harus pahami dahulu watak nafsu. Watak dasar nafsu cenderung berlari dari tanggung jawab. Sementara ibadah adalah tanggung jawab manusia terhadap Allah SWT sebagai tujuan dari penciptaan mereka. Tetapi ketika nafsu mengajak kita memikul tanggung jawab yang sejatinya ia tidak sukai, maka waspadalah.

Kenapa demikian? Ketika nafsu menyelinap di tengah-tengah aktivitas ibadah kita, maka sejatinya nafsu mengarahkan kita ke jalan lain, bukan menuju Allah SWT. Ini cukup menyulitkan. Pasalnya, unsur nafsu tampak terang-terangan pada perbuatan maksiat. Sedangkan untuk aktivitas ibadah, unsur nafsu biasanya menyusup, menyelinap, mendompleng, atau menunggangi sebagai keterangan Syekh Syarqawi berikut ini.

? ? ? ?) ? (? ?) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? (? ? ? ? ?) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “(Unsur nafsu pada perbuatan maksiat) seperti zina (tampak jelas) yaitu kenikmatan atas maksiat tersebut. Nafsu itu tidak memintamu mengaburkan keinginannya pada maksiat itu selain hanya untuk kenikmatanmu atas maksiat tersebut sehingga bencana dan petaka menimpamu. (Sedangkan unsur nafsu pada amal ibadah tersembunyi dan laten). Tak satupun melihat unsur nafsu itu selain mereka yang membuka mata batin. Kenapa demikian? Amal ibadah itu berat. Tetapi ketika nafsu mengajakmu beribadah–sementara kamu tak tahu unsur nafsu pada ibadah tersebut kecuali dengan ketelitian–, maka secara lahiriah ia memperlihatkan dirinya mengajakmu taqarrub kepada Allah, tetapi sejatinya yang dituju tidak lain adalah perhatian manusia kepadamu dan kemasyhuranmu sebagai orang saleh di tengah mereka. Siapa yang memerhatikan nafsunya dan mengawasi gerak batinnya, maka kebenaran sejati akan tampak padanya,” (Lihat Syekh Syarqawi, Syarhul Hikam, Semarang, Maktabah Al-Munawwir, tanpa catatan tahun, juz II, halaman 4).

Unsur nafsu yang menyusup di dalam aktivitas ibadah menggiring pelakunya ke jalan lain, yaitu riya sebagai penyakit destruktif yang berbahaya bagi umat Islam. Pengalihan jalan ke selain jalan Allah ini yang patut dicurigai dan diwaspadai. Jangan sampai Allah murka dengan aktivitas ibadah yang disusupi nafsu. Pengalihan jalan ini biasanya berlangsung tanpa kita sadari.

Lalu bagaimana cara mengobatinya? Sejauh penyakit dan bahaya laten ini belum terdeteksi, maka upaya pengobatan sulit dilakukan sebagai keterangan Syekh Zarruq berikut ini.

?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Buat saya, (Ibnu Athaillah) berkata, kesulitan pengobatannya itu bergantung pada kadar kesamarannya karena pengobatan itu mengikuti sejauhmana pengetahuan seseorang terhadap pokok, sebab, dan sifat penyakit itu sendiri. Ketika pokok dan sebab penyakit itu belum terdeteksi dan sudah sampai pada pemeriksaan (lalu terdeteksi), maka penyakit tak mungkin diobati kecuali dengan susah payah. Salah satu penyakit laten yang menyelinap pada amal ibadah adalah riya terhadap makhluk-Nya,” (Lihat Syekh Ahmad Zarruq, Syarhul Hikam, As-Syirkatul Qaumiyyah, 2010 M/1431 H, halaman 135).

Upaya preventif dari bahaya laten (nafsu yang berujung pada riya) ini harus dilakukan sejak dini. Kewaspadaan tinggi perlu dilakukan. Sementara upaya pengobatannya tidak kalah sulit. Perlu banyak zikir dengan segala lafalnya atau bimbingan dari para guru tarekat.

Namun demikian, hikmah ini tidak bertujuan untuk melemahkan semangat beribadah kita. Hikmah ini juga tidak menyarankan kita untuk berburuk sangka terhadap mereka yang gemar ibadah. Hikmah ini hanya mengingatkan kita agar selalu waspada terhadap segala penyusupan dan bahaya laten pada aktivitas ibadah kita yang dapat membuatnya rusak dan sia-sia. Hikmah ini justru mendorong kita untuk beribadah secara istiqamah di jalan menuju Allah, bukan jalan ke lain-Nya. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Ahlussunnah Shautus Salam

Minggu, 05 November 2017

Dari Sayap Jibril, Nabi Idris Paham Ilmu Kesehatan

Jakarta, Shautus Salam. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj mengatakan, ilmu kesehatan pertama kali turun di muka bumi dibawa malaikat Jibril. Ilmu tersebut terletak pada sayap malaikat penyampai wahyu tersebut. Orang yang pertama mampu membaca dan memahaminya adalah Nabi Idris.?

Dari Sayap Jibril, Nabi Idris Paham Ilmu Kesehatan (Sumber Gambar : Nu Online)
Dari Sayap Jibril, Nabi Idris Paham Ilmu Kesehatan (Sumber Gambar : Nu Online)

Dari Sayap Jibril, Nabi Idris Paham Ilmu Kesehatan

“Jadi orang yang pertama kali mengerti kesehatan adalah Nabi Idris,” katanya saat pidato sambutan Pelantikan dan Rapat Kerja Pengurus Pusat Asosiasi Rumah Sakit Nahdlatul Ulama (ARSINU) periode 2016-2021 di lantai 8 gedung PBNU, Jakarta Selasa (6/12).

Pada kesempatan tersebut, kiai asal Kempek, Cirebon ini juga menyebutkan nama-nama dokter muslim pada masa awal. Pertama Abu Bakar Ar-Razi. Kemudian Hassan ibnul Haitham yang menemukan optik, kesehatan mata.?

Lalu, tambahnya, Ibnu Nafis tentang peredaran darah dalam tubuh manusia, dan keempat yang merupakan puncaknya kedokteran yaitu Al-Husain Ibnu Sina.?

Shautus Salam

Lebih lanjut, kang Said mengapresiasi atas terbentuknya ARSINU, dan berharap mendatangkan manfaat.

“Saya bangga telah berdiri Asosiasi Rumah Sakit Nahdlatul Ulama. Saya yakin insyaallah pasti maju,” tegasnya. “Mudah-mudahan generasi mendatang bisa menikmati keberadaan ARSINU,” pungkasnya?

Shautus Salam

Hadir pada acara tersebut Ketua PBNU dr. H. Syahrizal Syarif, Ketua Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) H. Hisyam Said Budairi. Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Daeng Muhammad Faqih. (Husni Sahal/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Anti Hoax, Pahlawan, Ahlussunnah Shautus Salam

Kamis, 02 November 2017

Pandangan Islam Terhadap Penyandang Disabilitas

Oleh Ahmad Muntaha AM

A. Pengertian Disabilitas

Merujuk UU No 04 tahun 1997, penyandang disabilitas yang dibahasakan dengan istilah penyandang cacat diartikan sebagai setiap orang yang mempunyai kelainan fisik dan/atau mental, yang dapat mengganggu atau merupakan rintangan dan hambatan baginya untuk melakukan secara selayaknya, yang terdiri dari: a) penyandang cacat fisik; b) penyandang cacat mental; dan c) penyandang cacat fisik dan mental. Lebih lanjut undang-undang ini menjelaskan:

Pandangan Islam Terhadap Penyandang Disabilitas (Sumber Gambar : Nu Online)
Pandangan Islam Terhadap Penyandang Disabilitas (Sumber Gambar : Nu Online)

Pandangan Islam Terhadap Penyandang Disabilitas

a. Cacat fisik adalah kecacatan yang mengakibatkan gangguan pada fungsi tubuh, antara lain gerak tubuh, penglihatan, pendengaran, dan kemampuan bicara;

b. Cacat mental adalah kelainan mental dan atau tingkah laku, baik cacat bawaan maupun akibat dari penyakit;

Shautus Salam

Shautus Salam

c. Cacat fisik mental adalah keadaan seseorang yang menyandang dua jenis kecacatan sekaligus.

Dari sini dapat diketahui, bahwa maksud disabilitas adalah kelainan fisik dan/atau mental, yang dapat mengganggu atau menjadi rintangan bagi penyandangnya untuk melakukan aktivitas sebagaimana umumnya orang.

B. Penyandang Disabilitas dalam Perspektif Al-Qur’an, Hadits, dan Ulama Mazhab

Dalam perspektif Islam, penyandang disabilitas identik dengan istilah dzawil âhât, dzawil ihtiyaj al-khashah atau dzawil a’dzâr: orang-orang yang mempunyai keterbatasan, berkebutuhan khusus, atau mempunyai uzur.

Nilai-nilai universalitas Islam seperti al-musawa (kesetaraan/equality: Surat Al-Hujurat: 13), al-‘adalah (keadilan/justice: Surat An-Nisa: 135 dan Al-Maidah ayat 8), al-hurriyyah (kebebasan/freedom: Surat At-Taubah ayat 105) dan semisalnya, sebagaimana Keputusan Muktamar NU Ke-30 tahun 1999 di Kediri  meniscayakan keberpihakan terhadap penyandang disabilitas sekaligus menegasi sikap dan tindakan diskriminatif terhadap mereka.

Lebih spesifik Al-Quran, Hadits, dan pendapat para ulama secara tegas menyampaikan pembelaan terhadap penyandang disabilitas:

1. An-Nur ayat 61:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ... (?: 61)

Artinya, “Tidak ada halangan bagi tunanetra, tunadaksa, orang sakit, dan kalian semua untuk makan bersama dari rumah kalian, rumah bapak kalian atau rumah ibu kalian …” (Surat An-Nur ayat 61).

Ayat ini secara eksplisit menegaskan kesetaraan sosial antara penyandang disabilitas dan mereka yang bukan penyandang disabilitas. Mereka harus diperlakukan secara sama dan diterima secara tulus tanpa diskriminasi dalam kehidupan sosial, sebagaimana penjelasan Syekh Ali As-Shabuni dalam Tafsir Ayatul Ahkam (I/406):

? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? (? ? ?) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

Artinya, “Substansi firman Allah Ta’ala (Surat An-Nur ayat 61) adalah bahwa tidak ada dosa bagi orang-orang yang punya uzur dan keterbatasan (tunanetra, pincang, sakit) untuk makan bersama orang-orang yang sehat (normal), sebab Allah Ta’ala membenci kesombongan dan orang-orang sombong dan menyukai kerendahhatian dari para hamba-Nya.”

Bahkan dari penafsiran ini menjadi jelas bahwa Islam mengecam sikap dan tindakan diskriminatif terhadap para penyandang disabilitas. Terlebih diskriminasi yang berdasarkan kesombongan dan jauh dari akhlaqul karimah.

2. ‘Abasa 1-11:

? ? (1) ? ? ? (2) ? ? ? ? (3) ? ? ? ? (4) ? ? ? (5) ? ? ? (6) ? ? ? ? (7) ? ? ? ? (8) ? ? (9) ? ? ? (10) ? ? ? (11) ... (?/1-11)?

Artinya, “Dia (Muhammad) berwajah masam dan berpaling. Karena seorang tuna netra telah datang kepadanya. Dan tahukah engkau (Muhammad) barangkali ia ingin menyucikan dirinya (dari dosa). Atau ia ingin mendapatkan pengajaran yang memberi manfaat kepadanya. Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup (para pembesar Quraisy), maka engkau (Muhammad) memperhatikan mereka. Padahal tidak ada (cela) atasmu kalau ia tidak menyucikan diri (beriman). Adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran), sementara ia takut kepada Allah, engkau (Muhammad) malah mengabaikannya. Sekali-kali jangan (begitu). Sungguh (ayat-ayat/surat) itu adalah peringatan. …” (Surat ‘Abasa ayat 1-11).

Ulama mufassirin meriwayatkan, bahwa Surat ‘Abasa turun berkaitan dengan salah seorang sahabat penyandang disabilitas, yaitu Abdullah bin Ummi Maktum yang datang kepada Nabi Muhammad SAW untuk memohon bimbingan Islam namun diabaikan. Kemudian turunlah Surat ‘Abasa kepada beliau sebagai peringatan agar memperhatikannya, meskipun tunanetra. Bahkan beliau diharuskan lebih memperhatikannya daripada para pemuka Quraisy. Sejak saat itu, Nabi Muhammad SAW sangat memuliakannya dan bila menjumpainya langsung menyapa:

? ? ? ? ?

Artinya, “Selamat wahai orang yang karenanya aku telah diberi peringatan oleh Tuhanku.”

Semakin jelas, melihat sababun nuzul Surat ‘Abasa, Islam sangat memperhatikan penyandang disabilitas, menerimanya secara setara sebagaimana manusia lainnya dan bahkan memprioitaskannya.

3. Hadits Abu Dawud

? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. (? ? ?)  

Artinya, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Sungguh seseorang niscaya punya suatu derajat di sisi Allah yang tidak akan dicapainya dengan amal, sampai ia diuji dengan cobaan di badannya, lalu dengan ujian itu ia mencapai derajat tersebut,’” (HR Abu Dawud).

Hadits ini memberi pemahaman bahwa di balik keterbatasan fisik (disabilitas) terdapat derajat yang mulia di sisi Allah ta’ala.

4. Pendapat Imam Al-Qurthubi

Berkaitan perintah shalat dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 43, pemuka ulama ahli tafsir asal Cordova Spanyol, Imam Al-Qurthubi (wafat 671 H/1273 M), menyatakan:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.  

Artinya “Tunanetra, orang pincang, orang lumpuh, orang yang terputus tangannya, orang yang dikebiri, dan hamba sahaya tidak mengapa menjadi imam shalat bila masing-masing dari mereka mengetahui tatacara shalat.”

Imam Al-Qurtubi dan para ulama lainnya tidak mempermasalahkan disabilitas. Menurutnya, penyandang disabilitas  semisal tunanetra, tunadaksa dan lainnya boleh-boleh saja menjadi imam shalat asalkan mengetahui tatacaranya. Hal ini meniscayakan pengakuan Islam atas peran para penyandang disabilitas dalam kehidupan sosial kemasyarakatan bahkan dalam peribadahan.

5. Pendapat Imam Ar-Ramli As-Shaghir

Ketika menjelaskan syarat mahram yang menemani wanita saat bepergian Imam Ar-Ramli As-Shaghir (919-1004 H/1513-1596 M), mufti Syafi’i negeri Mesir pada masanya ini menyatakan:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Pengajuan syarat mampu melihat bagi mahram yang menemani wanita saat berpergian oleh Al-‘Abbadi diarahkan dalam konteks orang yang tidak mempunyai kecakapan. Di luar konteks itu, maka banyak tunanetra yang lebih mengetahui berbagai permasalahan dan lebih mampu menolak kesalahpahaman dan praduga daripada orang-orang yang bisa melihat.”

Pendapat ulama ini terang-terangan mengakui dan mengapresiasi peran penyandang disabilitas dalam menjaga kehormatan dan keselamatan para mahram atau keluarganya.

C. Implementasi Keberpihakan Islam Terhadap Penyandang Disabilitas

Pandangan Islam sebagaimana uraian di atas menegaskan semangat keberpihakan Islam terhadap penyandang disabilitas. Implementasi keberpihakan Islam terhadap penyandang disabilitas dilakukan dengan beberapa hal sebagai berikut:

1. Mengarusutamakan pemahaman bahwa Islam memandang penyandang disabilitas setara dengan manusia lainnya.

2. Mendorong penyandang disabilitas untuk mensyukuri segala kondisi dirinya sebagai berkah dari Allah SWT.

3. Mendorong penyandang disabilitas untuk bersikap optimis, mandiri dan mengoptimalkan segala potensinya untuk hidup dan berperan secara lebih luas di tengah kehidupan masyarakat sebagaimana umumnya.

4. Mendorong penyadang disabilitas untuk memperjuangkan hak-hak asasinya: baik hak di bidang pendidikan, sosial, hukum, politik, ekonomi, maupun hak-hak lainnya.

5. Menentang segala sikap dan perlakuan diskriminatif terhadap penyandang disabilitas baik yang dilakukan oleh individu, masyarakat maupun lembaga.

6. Mendukung advokasi terhadap penyandang disabilitas oleh masyarakat, pemerintah, organisasi-organisasi lainnya.

*) Penulis adalah Wakil Sekretaris LBM PWNU Jawa Timur.

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Kajian Sunnah, Ahlussunnah Shautus Salam

Selasa, 31 Oktober 2017

Bupati: GP Ansor Nyata Karyanya di Bumi Waykanan

Waykanan, Shautus Salam . GP Ansor pada 24 April tepat berusia 81 tahun, adapun Kabupaten Waykanan di Provinsi Lampung pada Senin 27 April ini tepat berusia 16 tahun. Bupati Bustami Zainudin di Blambangan Umpu, Senin (27/4) menyatakan jika pemuda Ansor di daerah yang dipimpinnya nyata karyanya.

"Ansor di Waykanan nyata karyanya. Banyak hal sudah dilakukan Ansor," ujar Bupati Bustami dalam sambutan Harlah ke-81 Ansor dan peranannya di Bumi Waykanan Ramik Ragom melalui rilis berita yang diterima Shautus Salam, Senin (27/4).

Bupati: GP Ansor Nyata Karyanya di Bumi Waykanan (Sumber Gambar : Nu Online)
Bupati: GP Ansor Nyata Karyanya di Bumi Waykanan (Sumber Gambar : Nu Online)

Bupati: GP Ansor Nyata Karyanya di Bumi Waykanan

Bustami menegaskan, Ansor bukan organisasi baru, namun organisasi yang terlibat aktif dalam mengganyang penjajahan di Indonesia. "Secara yuridis hari ini terbebas dari penajajahan. Tapi hakikat penjajahan bukan secara fisik semata, tapi juga kemsikinan dan kebodohan bagian dari penjajahan, demikian juga dengan penindasan dan keterbelakangan. Tugas kita semua untuk memerangi semua itu," kata dia lagi.

Shautus Salam

Sebagai kader pemuda bangsa, imbuh Bupati Bustami, Ansor merupakan bagian yang bertanggung jawab terhadap pembangunan di Indonesia. Karena itu, Bupati Bustami berharap Ansor senantiasa menunjukkan eksistensinya terhadap negara dengan berpartispasi dalam pembangunan, demi tetap tegaknya, Pancasila, UUD 45, NKRI, Bhinneka Tunggal Ika.

Shautus Salam

Terkait pembangunan di bidang pendidikan, GP Ansor Waykanan bekerjasama dengan Mata Air Foundation menggelar bimbingan pasca ujian nasional (BPUN) guna membantu pelajar berprestasi namun kurang mampu untuk masuk perguruan tinggi negeri di Indonesia melalui Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) pada 1 Mei hingga 7 Juni 2015.

Bupati kemudian mengutip kata-kata mendiang Presiden Amerika John Fitzgerald Kennedy, yaitu ‘jangan tanyakan apa yang negara ini berikan kepadamu, tetapi tanyakan apa yang telah kamu berikan kepada negaramu’.

"Itulah kalimat nyata karyanya. Itulah subtansi pokok karya nyata itu. Partispasi pembangunan secara fisik, pikiran, tenaga atau ilmu pengetahuan, semua itu bagian karya nyata kita untuk membangun negeri. Kepada Ansor Waykanan, terima kasih atas partisipasinya dalam pembangunan bangsa dan negara, serta upayanya membina generasi pemuda ke arah yang lebih baik," pungkasnya. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Quote, Ahlussunnah, Humor Islam Shautus Salam

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Shautus Salam sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Shautus Salam. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Shautus Salam dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock