Tampilkan postingan dengan label Halaqoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Halaqoh. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 Februari 2018

Cinta yang Indah dalam Harlah IPNU-IPPNU

Gandrungmangu, Shautus Salam. Kembali lagi sebuah kemeriahan dimunculkan oleh PAC IPNU-IPPNU Kec. Gandrungmangu Cilacap yang mengadakan lomba mewarnai antar PAUD, TK, & RA dan festival hadrah yang bertempat di Pendopo Kecamatan Gandrungmangu dan Masjid Baitul Muflihin Wungureja, pada (28 Februari sampai 1-2 Maret).?

Cinta yang Indah dalam Harlah IPNU-IPPNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Cinta yang Indah dalam Harlah IPNU-IPPNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Cinta yang Indah dalam Harlah IPNU-IPPNU

Kegiatan yang diselenggarakan dalam rangka harlah ke 60 dan 61 IPNU-IPPNU ini juga diiringi dengan pembentukan Ranting IPNU-IPPNU Desa Layansari yang diikuti oleh 50 peserta serta pembekalan materi ke-IPNU-IPPNU-an dan Aswaja yang diisi oleh Hadno Ali Sholihin, alumni PC IPNU Kab.Cilacap) sekaligus makesta Ranting IPNU-IPPNU Desa Gintungreja. Demikian rilis yang dikirimkan oleh panitia kepada Shautus Salam.

Acara harlah ini mengambil tema “Cinta NU, Cinta IPNU-IPPNU, Cinta Shalawat, Ngalap Syafa’at” sebagai upaya untuk menciptakan kader-kader muda berideologi ahlusunnah wal jama’ah.

Shautus Salam

Lomba mewarnai dikuti oleh 50 komisariat PAUD, TK, dan RA yang yang masing-masing diwakili 2 peserta. Sementara itu festival hadrah bertempat di Masjid Baitul Muflihin Wungureja diikuti oleh 20 group dari di Gandrunmangu dan sekitarnya.?

Warga sangat antusias mengikuti acara tersebut. “Saya sangat mendukung adanya kegiatan ini, semoga dengan adanya pelantikan Ranting IPNU-IPPNU desa Layansari dapat membangun pola pikir anak-anak kami dan semakin kuat iman kami dalam berideologi ahlusunnah wal jama’ah,” ujar salah satu warga dusun Wungureja.?

Shautus Salam

Pada Sabtu malam, diselenggarakan pelantikan sekaligus shalawatan Ranting IPNU-IPPNU Desa Layansari bersama Habib Haidar dari Purwokerto. ? Red: mukafi niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Humor Islam, Halaqoh Shautus Salam

Minggu, 25 Februari 2018

Jalan-jalan ke Dalam Diri

Oleh Aswab Mahasin

Manusia dalam dirinya mempunyai empat hal: harapan, keinginan, kegelisahan, dan penderitaan. Siapapun mereka, sekaya apapun mereka, dan semiskin apapun mereka—empat hal tersebut pasti ada dalam diri manusia. Allah SWT memerintahkan kita untuk selalu berusaha dan berpikir kreatif agar tidak terpenjara oleh empat hal itu. Untuk apa? Sebagai cara manusia bereksistensi.

Dalam kehidupan ini, manusia sering dirundung masalah, dari mulai yang biasa-biasa saja, sampai dengan yang terberat. Kadangkala dalam posisi tertentu tidak sedikit yang merasa kesulitan dan lelah menghadapi masalah. Padahal, jika kita mau berpikir, masalah terbesar kehidupan manusia bukanlah masalah, tapi tanpa masalah. Kenapa? manusia akan mengalami kekosongan, manusia tidak akan “menjadi”, ia berada pada ruang hampa, tanpa bisa dinilai dan tanpa penilaian. Artinya, ia kehilangan eksistensinya. 

Jalan-jalan ke Dalam Diri (Sumber Gambar : Nu Online)
Jalan-jalan ke Dalam Diri (Sumber Gambar : Nu Online)

Jalan-jalan ke Dalam Diri

Manusia dilemparkan ke dunia di awali dengan masalah, Nabi Adam dan Ibu Hawa menghuni dunia ini dimulai dengan kisah “masalah”, putra Nabi Adam saling membunuh adalah “masalah”. Itu sebagai cara Allah SWT agar manusia “menjadi”, tanpa kekosongan. Karena dalam proses menjadi itu manusia berbuat, bertindak, berpikir, dan berkenalan. Perjalanan itu berlaku hingga sekarang, semua manusia berusaha untuk “menjadi” dan bereksistensi. 

Perjalanan dalam proses “menjadi”—manusia dipaksa untuk berhadapan dengan manusia lainnya, yang sama-sama punya keinginan, punya harapan, punya kegelisahan, dan punya penderitaan. Sehingga antara manusia satu dengan manusia lainnya mengalami benturan kepentingan. Di sini terkadang manusia lupa diri dan lupa akan dirinya. 

Shautus Salam

Ini yang paling berbahaya, manusia harus berdamai dengan dirinya sendiri. Tanpa berdamai, susah bagi kita untuk menyelesaikan masalah. Konsekuensinya, kalau tidak lari dari masalah, tergerus oleh masalah, dengan kata lain terhempas dari persaingan hidup. Persaingan jangan dimaknai sebagai saling menjatuhkan, melainkan fastabiqul khairat (berlomba-lomba dalam kebaikan). 

Berlomba dalam kebaikan, berarti tidak melakukan kecurangan. Bermain sepak bola tidak boleh ujug-ujug kita ambil bolanya pakai tangan, kita bawa lari sampai gawang, lalu kita masukan ke gawang lawan. Ini pasti kena kartu merah. Artinya, sama saja kita menambah masalah hidup kita yang sudah penuh masalah.

Dengan demikian, kita dituntut mengenal diri dan menjabat tangan sendiri. Dengan mengenal diri akan mengenal aturan, berarti apa? Kesadaran yang akan terlahir.“Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu” –seseorang yang mengetahui jati dirinya, maka ia akan mengetahui Tuhannya. Telah jelas bukan? Masalahnya pada diri kita sendiri, yang paling susah dari manusia itu merendahkan diri sendiri untuk menghantam kesombongan, dan mengeluarkan kewarasan untuk mengejek kearifan. Seringnya, kearifan kita berbarengan dengan kesombongan kita.

Shautus Salam

Mengenali diri praktiknya tidaklah mudah. Tidak setiap orang dengan sendirinya kenal terhadap kesejatian diri. Setiap orang bisa saja mengenali wajahnya melalui cermin atau foto, namun bukan itu maksudnya, ini perjalanan ke dalam diri. Kenapa orang buta yang tak pernah melihat wajahnya tapi mengenali dirinya, karena ‘menjabat tangan sendiri’ tidak hanya sekedar fisik, tetapi kedalaman jati diri. 

Diri adalah keakuan, atau ego, dan dalam bahasa Arab disebut nafs, pada hakikatnya bersifat transenden, dapat melewati batas-batas fisiknya yang bersifat materi yang terbingkai dalam ruang dan waktu tertentu. Karena itu, keakuan manusia bisa kembali ke masa lalu, seperti masa kanak-kanak atau masa remaja, meskipun saat ini sudah memasuki usia-usia lanjut. Demikian halnya juga dengan keakuan seseorang bisa berada di tempat lain meskipun sebenarnya ia berada di sini. Semua itu dimungkinkan terjadi, karena sifat transendennya ego itu sendiri. (Prof. Dr. Musya Asy’ari, Dialektika Agama untuk Pembebasan Spiritual, [Yogayakarta: LESFI, 2002]. Hlm. 4)

Memasuki diri, keakuan atau ego yang transenden diperlukan kemampuan untuk mengenali jati diri secara benar, yaitu dengan memahami, memasuki dan menyatu dalam substansi jati diri yang aktual, yang terbangun dari berbagai komponen yang membentuk suatu kepribadian dalam aktualitas tindakan atau karyanya, baik komponen yang fisik maupun komponen yang metafisik. (Prof. Dr. Musya Asy’ari: 2002)

Allah SWT Berfirman, “Dan Allah telah menyempurnakan bagimu nikmat zahir dan nikmat batin.” (QS. Lukman: 20). Dalam surat Adh-Dhariyat ayat 21, Allah berfirman, “Dan di dalam diri kamu apakah kamu tidak memperhatikannya”. Selain itu, dalam Hadits Qudsi, “Aku jadikan dalam rongga anak Adam itu mahligai,dan dalam mahligai itu ada dada, dan dalam dada itu ada hati (qalbu) namanya, dan dalam hati (qalbu) ada mata hati (fuad), dan dalam mata hati (fuad) itu ada penutup mata hati (saghaf), dan dibalik penutup mata hati (saghaf) itu ada nur/cahaya (labban), dan di dalam nur/cahaya (labban) ada rahasia (sirr), dan di dalam rahasia (sirr) itulah Aku kata Allah.”

Dengan demikian, mengenali diri selalu bersifat ke dalam dirisebagai manhaj/metode memahami Tuhannya, agar kita tidak lupa bahwa kita adalah manusia, tidak sepantasnya berlaku seperti Tuhan. Manusia diciptakan tidak lain untuk beribadah kepada Allah. Dengan demikian, proses perjalanan ke dalam diri harus dengan penghayatan yang mendalam, jujur akan setiap tindakan dan tidak boleh merasa benar.

Dalam perspektif tasawuf, yang dimaksud dengan diri manusia (al-nafs al-insaniyah) bukanlah diri dalam pengertian fisiologi yang bersifat kebendaan (maddi), atau diri sebagaimana dipahami dalam psikologi yang lebih bersifat kehewanan. Tetapi diri yang dimaksudkan oleh ahli tasawuf ialah diri asali manusia yang secara fitrahnya (human nature) mempunyai kecenderungan menyembah Allah Taala. Konsep fitrah dalam Islam menuntut bahwa manusia dari segi sifat dasarnya adalah beragama tauhid.

Menurut al-Qur’an, sejak awal penciptaan Adam sudah terdapat perjanjian (mithaq) dan kesaksian (syahadah) daripada jiwa manusia, hanya Allah yang merupakan Tuhan sebenarnya, tiada yang lain. (lihat QS. Al-A’raf: 172). (Abdul Rahman Haji Abdullah, Wacana Falsafah Ilmu: Analisis Konsep-konsep Asas dan Falsafah Pendidikan Negara [Kuala Lumpur: Utusan Publications & Distributors Sdn Bhd, 2005]. Hlm. 89-90)

Sebab itu, orang yang sudah mampu mengenal dirinya, selalu digambarkan sebagai sosok yang arif, bijaksana, suka menolong, dan penuh pesona kebaikan. Berbeda sebaliknya, orang yang masih jauh akan pengenalan diri, hidupnya belum berdamai dengan siapapun, ia arogan, sembrono, dan semaunya sendiri.

Zaman now, kita banyak menemukan orang yang semaunya sendiri. Kemaren, ada seorang suami menembak istrinya, kejadian ini aneh bin ajaib. Saya tidak tahu masalahnya apa, namun tidak ada prinsip kemanusiaan satu pun yang mengizinkan seseorang membunuh, apalagi istrinya sendiri. Sebelum-sebelumnya, ada kejadian anak membunuh orang tuanya, orang tua membunuh anaknya, dan ada orang tua memperkosa anaknya. Orang-orang ini maunya apa?

Kalau boleh usul, Indonesia dengan berbagai macam kegaduhannya, harus ada pembersihan jiwa nasional (Tazkiyyat al-nafs) atau penyucian hati nasional (tasfiyah al-qalb). Jangan hanya patah hati saja yang nasional, tapi pembersihan diri juga harus digerakan secara nasional. Yang disayangkan, setiap aktifitas keagamaan ada muatan politiknya, bukannya jadi bersih malah semakin kotor (baca: gaduh). Lantas bagaimana?

Pembersihan jiwa dan hati nasional, bukan berarti berkumpul sampai mengumpulkan puluhan juta atau ratusan juta orang, tidak. Melainkan, tumbuh kesadaran dari setiap individu, kelompok, organisasi, dan pemerintahnya juga, untuk satu sama lain saling mengingatkan, menjaga sikap, menjaga lisan, menjaga tulisan, menjaga ujaran, dan meminimalisir semua tindakan yang dapat menyulut perpecahan. Minimal, satu sama lain dari kita mau bercermin dan berintrospeksi diri. 

  

Menjalin kesatuan umat seperti itu memang tidak mudah, kalau begitu alternatifnya adalah melalui jalur pendidikan: sekolah, pesantren, dan lembaga-lembaga pendidikan lainnya. Atau melalui mushola-mushola, dimana peran kiai kampung, memberikan pemahaman terhadap anak didiknya yang mengaji. “La yu’minu ahadukum hatta yuhibbu liakhihi kama yuhibbu linafsihi”—tidak beriman seseorang hinga ia dapat mencintai saudaranya seperti ia mencitai dirinya sendiri. “Al fitnatu asyaddu minal qatli”—fitnah lebih kejam daripada pembunuhan. “Inna ba’dla zanni ismun”—sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. 

Penulis adalah Pembaca Setia Shautus Salam.

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Ahlussunnah, Nasional, Halaqoh Shautus Salam

Rabu, 21 Februari 2018

Becermin dari Kiai Blambangan

Judul Buku: Tiga Kiai Khos

Penulis: Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Penerbit: LKiS, Yogyakarta

Cetakan: I, September 2008

Becermin dari Kiai Blambangan (Sumber Gambar : Nu Online)
Becermin dari Kiai Blambangan (Sumber Gambar : Nu Online)

Becermin dari Kiai Blambangan

Tebal: xiii+154 Halaman

Peresensi: A. Syaiful Ala



Shautus Salam

Saat konflik di tubuh Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) pecah, muncullah istilah yang dicetuskan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dengan nama kiai khos dan kiai kampung. Buku yang ditulis Ainur Rofiq Sayyid Ahmad bukan berarti untuk membedakan antara kiai khos dan kiai kampung. Tetapi yang dimaksud penulis adalah untuk menjelaskan kepada publik, mana kiai yang harus menyandang gelar warasatul al-anbiya’ (pewaris nabi)? Karena banyak kiai di beberapa daerah sekarang ini yang tidak mencerminkan sebagai pewaris nabi ketika terjun dalam politik praktis. Yang seharusnya menjadi kiai khos berubah menjadi kiai “kaos”, kiai kampong—seorang kiai yang bersentuhan langsung dengan masyarakat—malah menjadi kiai “kampungan” yang selalu membodohi masyarakatnya.

Disadari atau tidak, kiai atau ulama telah dianggap sebagai pewaris para nabi – sebagaimana disebutkan dalam sebuah Hadits—al ulama waratsatul anbiya’. Dalam konteks ini, kiai berarti mempunyai dua fungsi. Pertama, li khilafati an nubuwwah fi hirasati ad din (pemilik otoritas menegakkan agama). Kedua, wa fi hirasati siyasati ad dunya, yakni membimbing umat manusia. Dalam praktiknya, kemasyarakatan dan kenegaraan, idealnya nilai-nilia moral keulamaan yang mengontrol kehidupan masyarakat dan moral ulama pula yang mengendalikan sebuah kekuasaan.

Shautus Salam

Al-Ghazali dalam kitabnya, Ihya’ al Ulumiddin, membagi ulama dalam tiga tingkatan. Yakni al-ulama al dunya (hidup dan perjuangannya yang selalu diukur dengan materi), al ulama ukhrawi (seorang ulama yang mengedapan amalan ritual, penghambaan diri kepada Allah) dan al ulama’u su’un (menghalalkan sesuatu dengan berbagai cara untuk kepentingan dirinya pada akhirnya menjerumuskan dirinya pada jurang ketidakpastian).

Kata “ulama akhirat” yang didefinisikan Imam Al-Ghazali sebenarnya bukanlah pengetian yang cukup sederhana, yakni bukan hanya ulama berkutat pada sebuah ritual mahdah, pengahambaan diri kepada Allah tanpa mempertimbangkan atau memperhatikan apa yang terjadi sekitarnya. Melainkan ulama dalam arti yang lebih luas, hakIkat dari ulama akhirat adalah bahwa karakteristik ulama selalu menjadi ruh dan inspirasi bagi setiap kehidupan sosial, politik dan kultur masyarakat. Dan, yang demikian itu, seperti yang dicontohkan ketiga kiai dari Banyuwangi, Jawa Timur, dalam buku ini.

Pertama, KH Zarkasi Djunaidi bukanlah seorang politisi praktis, namun hampir tidak satu proses politik yang terjadi di Banyuwangi tidak luput dari sentuhan tangan lembutnya. Di samping itu pula, dalam keseharian hidupnya, ia dikenal sebagai sosok yang bijak. Ia mengerti dengan siapa ia berhadapan. Kalau berkumpul dengan anak-anaknya menggunakan kata-kata layaknya kanak-kanak. Begitu juga ketika berkumpul dengan orang tua, ia juga dengan gaya bahasa orang tua atau dewasa (yukrim kabirana wa yarham shaghirana).

Kedua, KH Mukhtar Syafaat bukanlah seorang ekonom, namun kontribusi terhadap pemberdayaan ekonomi umat tidak kecil. Pengaruhnya semakin kuat dalam pemberdayaan ekonomi kerakyatan ketika ia menyandang jabatan Mustasyar Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Banyuwangi. Hal itu sevisi dengan cikal bakal berdirinya jam’iyah Bintang Sembilan itu, bahwa salah satu pilar berdirinya NU adalah pemberdayaan ekonomi umat yang dikenal dengan jam’iyah Nahdlatut Tujjar (kebangkitan para saudagar/pengusaha) yang digagas Hadratus Syeikh KH Hasyim Asy’ari dan beberapa kiai semasanya.

Ketiga, KH Askandar bukanlah pemegang tampuk kekuasaan negara atau militer, namun perjuangannya untuk terus memberikan kesadaran terhadap masyarakat dan membela Tanah Air (semangat nasionalisme) melawan penjajah tidak dapat disepelekan. Perjalanan panjang yang dilaluinya dalam mengisi kemerdekaan, sebagai pengasuh pesantren tetap tidak melupakan pesantrennya sebagai pusat pendidikan (education center) bagi masyarakat. Bahkan, ketika masuk dalam perpolitikan nasional, ia berkabung ke kepengurusan NU (Partai NU pada waktu itu). Tetapi kesibukan dalam dunia politik tidak membuatnya lupa pada pesantrennya dan tunggung jawabnya untuk membina masyarakat.



Kiai dan Politik


Selama ini, politik oleh banyak orang selalu dikonotasikan yang negatif. Secara substansinya seperti memang dari “sononya”. Melainkan, akibat terkait dengan implementasinya yang justru menyimpang seperti yang dipertontonkan para politikus saat ini. Akhirnya, masyarakat menyimpulkan sendiri bahwa kiai yang terjun dalam politik praktis juga dicap jelek.

Yang ironis, dalam percaturan politik, kiai terkadang memainkan segala peran untuk memenuhi ‘syahwat’ politiknya guna tercapainya tujuan yang diinginkan. Kata-kata “demi umat”, “ukhuwah”, “pembangunan”, “demokrasi”, “rakyat” sudah menjadi ‘nasi’ dan ‘sayur’ bagi mereka untuk mengais perhatian. Dalil Al-Quran pun sudah mereka lahap dengan nikmatnya, sekalipun tidak dalam konteks yang sesungguhnya.

Buku ini perlu dibaca para kiai atau calon kiai (santri) untuk menjadi rujukan bahwa ketiga figur kiai di atas adalah benar-benar tidak terpengaruh dengan tawaran duniawi yang sifatnya sementara (fana’). Tapi, lebih (selalu) mengedepankan nilai-nilai kepentingan umat dalam jangka waktu panjang.

Melalui buku ini, kita pun akan jernih melihat persoalan politik yang dimainkan kiai, jalan panjang demokrasi kita. Misal, politik yang selalu distempel jelek keterlibatan kiai dalam politik praktis. Sehingga mengakibatkan kehilangan jati diri atau identitas ke-kiai-annya.



Peresensi adalah Aktivis pada Komunitas Baca Surabaya
Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Olahraga, Halaqoh Shautus Salam

Senin, 12 Februari 2018

PCNU Kabupaten Pangandaran Akan Dibentuk

Jakarta, Shautus Salam. Sebagai Daerah Otonomi Baru (DOB), warga NU Kabupaten Pangandaran ingin mendirikan kepengurusan NU tingkat kabupaten. Mereka akan segera membentuk Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU).? ?

PCNU Kabupaten Pangandaran Akan Dibentuk (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Kabupaten Pangandaran Akan Dibentuk (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Kabupaten Pangandaran Akan Dibentuk

Untuk itu, PCNU Kabupaten Ciamis, sebagai organisasi induk dari pemekaran Kabupaten Pangandaran, telah mempersiapkan diri untuk mendorong agar DOB Pangandaran segera terbentuk PCNU.

PCNU Kabupaten Ciamis kemudian menunjuk Tim 13 yang terdiri dari kiai NU. Kiai-kiai tersebut adalah pengurus PCNU Ciamis yang berdomisili di wilayah DOB Pangandaran. Agendanya untuk menggelar Konferensia Cabang (Konfercab).

Shautus Salam

Tim 13 membentuk panitia Konferensi Cabang I untuk mengadakan Rapat Kerja Panitia. Rapat kerja diketuai Ahmad Irfan Alawy di Pondok Pesantren As-Sujaiyah Kecamatan Parigi pada tanggal 16-03-2013 lalu.

Menurut salah seorang panitia Konfercab, Hafidz Ismail, hasil rapat kerja tersebut adalah, Konfercab PCNU Kabupaten Pangandaran dilaksanakan di Pondok Pesantren Asy-Syujaiyah pada tanggal 20-21 April 2013.

Shautus Salam

“Pra-Konfercab diadakan kegiatan, yaitu halaqoh dengan peserta pengurus-pengurus NU dari 11 MWC,” katanya kepadaShautus Salam melalui pesawat telepon, Kamis, (18/4).

Hafidz menambahkan, halaqoh bertema "Internalisasi khittah NU 1926 sebagai media memperkokoh soliditas organisasi menuju Kabupaten Pangandaran yang mandiri" tersebut telah digelar pada 15 April 2013.

?

Penulis: Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Pendidikan, Halaqoh, Daerah Shautus Salam

Sabtu, 10 Februari 2018

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar: Menyemai Kelembutan, Menggapai Keindahan

Oleh : Rizki Amalia*

       Sebagai pembuka tulisan, penulis kutip peryataan Sufyan Ats – Tsauri, dia berkata : “Tidak boleh melaksanakan Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar selain orang yang memiliki tigas sifat: lemah lembut dalam menyuruh dan lemah lembut dalam melarang, adil dalam menyuruh dan adil dalam melarang, memiliki ilmu tentang apa yang disuruhnya dan memiliki ilmu tentang yang dilarangnya (Syeikh Dr Ahmad Farid, Manajemen Qalbu Ulama Salaf, 245, 2008). 

Ketiga syarat tersebut amat relevan dibumikan kembali mengingat meluasnya berbagai aksi – aksi kekerasan dan ujaran kebencian merajalela belakangan ini. Sekali lagi mengelus dada, tatkala tindakan – tindakan destruktif dan provokatif diseret – seret ke dalam bingkai dan pembenaran sumber – sumber utama agama Islam.

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar: Menyemai Kelembutan, Menggapai Keindahan (Sumber Gambar : Nu Online)
Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar: Menyemai Kelembutan, Menggapai Keindahan (Sumber Gambar : Nu Online)

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar: Menyemai Kelembutan, Menggapai Keindahan

Dus, kebanyakan umat Islam tentu sudah maklum, bahwa dalam beragama amar ma’ruf dan nahi munkar merupakan dua kutub penting dalam ajaran Islam. Kedua terminologi itu mendapatkan tempat istimewa dalam di kalangan kaum muslimin. Sebab, perintah tersebut tersurat jelas dalam QS Ali Imron Ayat 104, yang artinya;

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, dan menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Merekalah orang – orang yang beruntung”. 

Dengan kata lain, keinginan dalam memperoleh keuntungan (ridho Allah dunia dan akhirat), sebagian umat harus ada yang berani dan tampil sebagai pelaksana amar ma’ruf dan nahi munkar.

Shautus Salam

Selain dalam konteks keuntungan/menang (iflaah/falah), kedua ajaran tersebut bersifat universal dan terdapat dalam agama – agama lain. Bahkan, kesalehan para pemeluk agama (apapun) meniscayakan kedua spirit amar ma’ruf dan nahi munkar. Sebagaimana disinyalkan oleh Allah dalam firma-Nya QS Ali Imron: 113-114,

 “Mereka itu tidak sama; diantara Ahli Kitab itu ada golongan yang berlaku lurus; mereka membaca ayat – ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari, sedang mereka juga bersujud. Mereka beriman kepada Allah dan Hari Penghabisan, mereka menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar dan bersegera mengerjakan pelbagai kebajikan; mereka itu termasuk orang – orang yang sholih”.

Sehingga, dari sini bisa dipahami sementara, bahwa pemilik identitas saleh ialah mereka yang memperoleh keuntungan. Sementara, keuntungan tidak mungkin diraih tanpa adanya perjuangan amar ma’ruf dan nahi munkar, bahkan jika abai akan memperoleh laknat dari Allah SWT. Demikian Allah tegaskan,

“Telah dilaknati orang – orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa Putera Maryam. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas. Mereka satu sama lain tidak saling melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu”.

Shautus Salam

Lebih dari itu, kelompok atau orang yang melaksanakan amar ma’ruf dan nahi munkar memperoleh penghargaan dan pujian dari Allah SWT sebagai yang terbaik di antara kelompok lainya, 

”Kalian adalah umat yang dilahirkan untuk manusia; menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar”, (QS. Ali Imron: 110).

Beberapa keterangan tersebut, telah memberikan kegamblangan akan urgensi dan manfaat daripada amar ma’ruf dan nahi munkar. Meski demikian, sejalan dengan saran Sufyan Ats – Tsauri, tidak sembarang orang bisa lolos dalam fit and proper test pegiat amar ma’ruf dan nahi munkar. Kalau Orang atau kelompok ingin lolos, diharuskan memiliki tiga kualifikasi : lemah - lembut, adil (sabar) dan berilmu.

Sebagai umat Islam, insaf dan sadar bahwa kebenaran dari Allah Tuhan Yang Maha Esa. Kebesaran dan kemulyaan Allah ialah Independent, Dia Maha Bebas Tuhan Semesta alam, Dia Dzat Yang Maha Rafiq (Maha Lembut); tak peduli suku, agama, kebudayaan, ras, partai, ideologi atau apapun itu. Sebagaimana sabda Nabi,

“Sesungguhnya Allah Maha Lembut. Dia mencintai kelembutan, dan Dia memberikan kelembutan kepada yang tidak Dia berikan kepada kekersan (HR. Bukhori). Hadits ini semakin menambah daftar, betapa kelembutan sikap dan perilaku merupakan cerminan kalau mengenal Tuhan. Selain itu, dengan kelembutan dapat menambah keindahan apa yang hendak kita suguhkan atau bawakan kepada yang lain, sabda Nabi,

“Tidaklah kelembutan ada pada sesuatu, melainkan akan menghiasinya. Dan tidaklah kekerasan ada pada sesuatu, melainkan akan mengotorinya” (HR. Muslim).

Dengan kata lain, Kelembutan jadi penghias agar sesuatu jadi indah. Saat keindahan datang, di situlah kebaikan akan datang, begitu berlaku sebaliknya. Lanjut sabda Nabi, “barang siapa yang terhalang dari kelembutan, niscaya ia terhalang dari kebaikan” (HR. Muslim)

Selain lemah lembut juga harus adil (sabar) sebagai kelanjutan kualifikasi personal yang harus ditegakkan. Jangan sampai kita berkata tidak seirama dengan perilaku kita. Oleh karenanya teladan diperlukan terlebih dahulu dalam konteks ini, Sebagaimana yang tersampaikan dalam firman Allah SWT kepada Nabi Muhammad,

“Hai orang – orang yang beselimut, bangunlah, lalu berilah peringatan. Dan Tuhanmu Agungkanlah. Dan pakaianmu bersihkanlah. Dan perbuatan dosa tinggalkanlah. Dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak. Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah” (QS. Al-Muddatstsir: 1-7).

Dan lagi, “Dan bersabarlah terhadap hukum – hukum Tuhanmu, Sebab kamu dalam penglihatan kami” (QS. Ath – Thur: 48)

Selanjutnya, kedalaman wawasan tentang sesuatu yang benar dan yang salah. Dan tentu, sasaran yang hendak memperoleh amar ma’ruf dan nahi munkar. Sebab, bagaimanapun pengetahuan akan menentukan implementasi perilaku dan tentu lebih dulu dimengerti. Sebagaimana sahabat Muadz berkata, “Ilmu berada di depan amal, amal mengikuti” (Syeikh Dr Ahmad Farid/2008).

Dan tanpa wawasan yang cukup dan memadai, akan sangat dikhawatirkan lebih banyak memicu kerusakan dari pada kebaikannya. Pengalaman tersebut sebagaimana di sampaikan oleh Kholifah Umar bin Abdul Aziz,

“Barang siapa yang beribadah kepada Allah SWT tanpa dilandasi ilmu, niscaya apa yang rusak lebih banyak dari pada yang baik” (Syeikh Dr Ahmad Farid/2008).

Dengan demikian, sebuah kebaikan (kebenaran) diterima tentu memerlukan bekal yang tidak sedikit dan ringan – ringan saja. Tiga hal tentang sifat pelaksana amar ma’ruf dan nahi munkar: keilmuan, kelemah – lembutan serta kesabaran/keadilan merupakan hal mendasar yang perlu diasah oleh siapapun, memerlukan banyak latihan. Terkadang perlu ngopi di warung, nongkrong di pinggir jalan dan bila perlu mbambung dengan orang - orang marjinal. Sudah barang tentu, kekerasan dan main hakim sendiri sangat jauh dari spirit ke-ilahian itu sendiri. Semoga bermanfaat, wallahu a’lamu bis showab.

*Penulis adalah Pengurus Cabang PMII Jombang Bidang Kajian Keagamaan

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Halaqoh Shautus Salam

Rabu, 24 Januari 2018

Meriah, Pekan Madaris Maarif NU Nalumsari

Jepara, Shautus Salam. Memanfaatkan libur nasional, pada Jumat-Sabtu (3-4/4), Lembaga Pendidikan Maarif NU Kecamatan Nalumsari, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, menyelenggarakan Pekan Madaris antarsiswa Madrasah Diniyyah Awwaliyah. Acara yang digelar di Madin Al Maarif, Blimbing Rejo Kecamatan Nalumsari Kabupaten Jepara ini, berlangsung meriah.

Sekitar 400 siswa-siswi dari 27 madrasah diniyah (Madin) se-Kecamatan Nalumsari turut andil dalam ajang perlombaan, kreativitas seni, dan olahraga tersebut. Ajang yang diperuntukkan bagi anak-anak setara usia SD itu menyuguhkan 8 jenis perlombaan, antara lain, Cerita Islami, Cerdas Cermat Aswaja, Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ), Imla, Baca Kitab Kuning Taqrib, Puitisasi Al-Quran, kaligrafi, dan futsal.

Meriah, Pekan Madaris Maarif NU Nalumsari (Sumber Gambar : Nu Online)
Meriah, Pekan Madaris Maarif NU Nalumsari (Sumber Gambar : Nu Online)

Meriah, Pekan Madaris Maarif NU Nalumsari

Menurut Sekretaris panitia, Ahmad Najib, lomba tersebut merupakan salah satu langkah dan cara untuk memotivasi siswa madin dalam menekuni pendidikan agama di Madrasah Diniyyah Awwalaiyah.

Shautus Salam

"Lomba Baca Kitab Kuning Taqrib, merupakan langkah untuk meningkatkan kualitas pada siswa dalam memahami kitab klasik warisan para ulama terdahulu," jelasnya melalui rilis yang diterima Shautus Salam, Ahad (5/4). "Juga untuk menambah semangat bagi santri dalam mempelajari kitab kuning," tambahnya.

Sedangkan MTQ, kaligrafi, dan Puitisasi Al-Quran, merupakan kesenian islami yang patut terus untuk dikembangkan dan dilestarikan. "Kesenian islami juga penting untuk terus dikembangkan," imbuhnya.

Kaligrafi merupakan kesenian menulis indah ayat-ayat al-Quran, sedang MTQ merupakan ajang kreativitas kemerduan suara dalam melantunkan ayat-ayat suci al Quran. Sementara Puistisasi al-Quran adalah melantunkan terjemah surat-surat pendek al-Quran dengan aneka gerakan dan penjiwaan.

Shautus Salam

Ajang ini juga dilengkapi dengan cerita islami, yakni bertutur dan bercerita ke hadapan dewan juri dan khalayak umum mengenai cerita-cerita islami yang inspiratif.

Najib menambhakan, selain kategori kesenian, ajang perlombaan ini juga dilengkapi dengan olahraga futsal, dimana merupakan salah satu olahraga kegemaran anak-anak. "Futsal merupakan olahraga popular bagi anak-anak, makanya kita melombakan ini juga," pungkasnya.

Perlombaan ini, juga merupakan salah satu persiapan kontingen LP Maarif Kecamatan Nalumsari untuk maju dalam Pekan Madaris tingkat Kabupaten Jepara pada akhir April mendatang.

"Kita berharap kegiatan ini dapat bermanfaat dan memotivasi para siswa untuk terus kreatif dan mengembangkan keilmuannya," ujarnya. (Qomarul Adib/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Halaqoh Shautus Salam

Minggu, 21 Januari 2018

Beri Penguatan Aswaja, Kiai Agus Ungkap Kalam Hikmah Imam Syafi’i

Tasikmalaya, Shautus Salam. PAC GP Ansor Kawalu, Tasikmalaya, Jawa Barat mengadakan Pendidikan Penguatan Pemahaman Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja), Ahad (19/2) lalu di Yayasan Al-Marufi Cibeuti Kota Tasikmalaya. Kegiatan ini dihadiri oleh Rais NU Kawalu KH Agus Harun Ghoni, didampingi Ketua PC GP Ansor Kota Tasik Ricky Assegaf.

Dalam sambutannya, KH Agus Harun Ghoni mengutip mutiara dalam Kitab Ar-Risalah halaman 71 karya besar Imam as-Syafii yang berbunyi:

Beri Penguatan Aswaja, Kiai Agus Ungkap Kalam Hikmah Imam Syafi’i (Sumber Gambar : Nu Online)
Beri Penguatan Aswaja, Kiai Agus Ungkap Kalam Hikmah Imam Syafi’i (Sumber Gambar : Nu Online)

Beri Penguatan Aswaja, Kiai Agus Ungkap Kalam Hikmah Imam Syafi’i

"Barangsiapa yang mempelajari al-Qur`an maka agunglah kedudukannya, barangsiapa yang berpikir (belajar) fiqih maka mulialah kehormatannya, barangsiapa yang menulis al-Hadits maka kuatlah argumentasinya, barangsiapa yang berpikir (belajar) tata bahasa maka lembutlah perangainya, dan barangsiapa yang tidak menjaga dirinya maka ilmunya tidak dapat memberi manfaat baginya."

Kiai Agus berpesan kepada Kader Ansor dan kiai muda NU agar jangan berhenti mencari ilmu walaupun sibuk dan gudangnya ilmu agama itu ada di pesantren.

"Ansor harus kenal pasantren, jangan berhenti ngaji sesulit dan sesibuk apapun. Karena sudah semestinya sebagai pergerakan pemuda Islam mewarisi tradisi keilmuan pesantren. Belajar dengan kesabaran, membaca dengan ketekunan, kemudian mencatat dengan ketelitian. Ingat nasihat Imam Syafii Barangsiapa yang tak pernah mengecap kehinaan dalam mencari ilmu walau hanya sebentar, akan meminum kehinaan kebodohan pada sisa hidupnya,” kata Kiai Agus.

Shautus Salam

Pada kesempatan ini, Pimpinan Pondok Pesantren al-Marufi Cibeuti ? itu juga memotivasi agar mencari ilmu itu jangan hanya dipahami, akan tetapi harus mulai diabadikan dalam sebuah karya yang tercatat.

"Belajarlah kemudian sampaikan! Perhatikan Ulama terdahulu, mereka harus menempuh perjalanan panjang untuk mencari ilmu. Setelahnya mereka ikat (ilmu itu) dalam bentuk karya tulisan pada lembaran-lembaran kertas menggunakan pena yang dicelupkan ke tinta persis yang diadopsi santri di pesantren. Akan tetapi lihat hasilnya, sampai saat ini ilmunya dalam bentuk kitab dimanfaatkan terus oleh kita semua,” ujarnya.

Shautus Salam

Disamping taat pada semua fatwa para ulama, tambahnya, Ansor juga harus bisa membentengi warga Nahdliyyin, karena saat ini sepertinya ada kelompok yang ingin kiai dengan warga NU tidak akur.?

Dia mengajak untuk bersama menjaga marwah NU dengan kembali mengamalkan nilai-nilai agama serta menanamkan sikap cinta tanah air, seperti yang telah dilakukan para Kiai-Kiai NU terdahulu dalam merawat tradisi agama dalam bingkai NKRI.?

Penguatan Keaswajaan ini diikuti oleh oleh kader-kader Ansor dan 50 kiai muda NU perwakilan tiap Kecamatan se-Kota Tasikmalaya. Selama kegiatan mereka mendapatkan materi dari Direktur Aswaja Center Tasikmalaya Yayan Bunyamin yang juga Pimpinan Pesantren Rahmat Semesta. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam AlaSantri, Halaqoh, Tegal Shautus Salam

Rabu, 17 Januari 2018

Khutbah Jumat Menyambut Hari Ibu 22 Desember

Khutbah I

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ?

Khutbah Jumat Menyambut Hari Ibu 22 Desember (Sumber Gambar : Nu Online)
Khutbah Jumat Menyambut Hari Ibu 22 Desember (Sumber Gambar : Nu Online)

Khutbah Jumat Menyambut Hari Ibu 22 Desember

Sidang Jum’ah rahimakumullah,

Shautus Salam

Shautus Salam

Setiap tahun pada bulan Desember ada satu hari yang disebut Hari Ibu.? Hampir setiap negara di dunia ini memiliki Hari Ibu yang peringatannya dilaksanakan pada hari yang berbeda satu sama lain. Di Indonesia Hari Ibu diperingati setiap tanggal 22 Desember. Di negara-negera Eropa dan Amerika, peringatan Hari Ibu jatuh pada hari Minggu kedua bulan Mei. Sementara di negara-negara Arab, seperti, Mesir, Iraq,? Saudi Arabia, dan sebagainya? Hari Ibu jatuh pada tanggal 21 Maret.

Dari data tersebut, dapat kita ketahui bahwa di setiap budaya atau bangsa, seorang ibu diakui memiliki peran sangat penting dalam hidup ini. Adanya peringatan Hari Ibu di seluruh dunia menunjukkan adanya kesadaran bersama untuk mengakui sekaligus? menghargai jasa-jasa ibu. Jauh sebelum dunia menetapkan perlunya peringatan Hari Ibu, Rasulullah SAW? telah meletakkan dasar-dasar teologis bahwa seorang ibu diakui sangat mulia sebagaimana ditegaskan dalam sebuah hadits yang diriwayatakan dari Anas bin Malik RA:

? ? ? ?

“Surga itu di bawah telapak kaki ibu.”

Hadits tersebut menegaskan bahwa seorang ibu memiliki kedudukan yang sangat mulia hingga seolah-olah surga yang begitu indah dan agung saja tidak lebih tingggi daripada seorang ibu karena diibaratkan berada di bawah telapak kakinya. Kita semua tahu bahwa telapak kaki adalah bagian paling bawah atau rendah dari organ manusia. Namun maksud hadits ini adalah bahwa? tidak mungkin seorang anak bisa masuk surga tanpa ketundukan kepada seorang ibu.

Sidang Jum’ah rahimakumullah,

Rasulullah SAW mengisyaratkan agar bakti kepada ibu tiga kali lebih besar daripada kepada ayah sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abi Hurairah RA:

? ? ? ? ? ? ? : ? ? : ? ? ? ? : ? ? : ? ? ? ? : ? ? : ? ? ? ? : ?

“Suatu hari datanglah seorang laki-laki kepada Rasulillah SAW. Orang itu? bertanya kepada Rasulullah, siapakah di antara manusia yang paling berhak kami sikapi dengan baik. Nabi menjawab, ibumu. Orang itu bertanya lagi, siapa lagi setelah itu. Nabi menjawab, ibumu. Orang itu? bertanya lagi,? siapa lagi setelah itu. Nabi menjawab, ibumu. Orang itu? bertanya lagi. Nabi kemudian menjawab, kemudian ayahmu."

Dari hadits di atas dapat kita ketahui bahwa perbandingan bakti kita kepada ibu dan ayah adalah 3 : 1 atau 75 persen : 25 persen. Pertanyaan yang muncul kemudian, atas dasar apa Rasulullah SAW mengisyaratakan perbandingan seperti itu. Pertanyaan ini dapat kita temukan jawabannya? dalam surat Luqman, ayat 14, dimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Dan kami perintahkan kepada manusia untuk berbuat baik kepada ibu-bapa; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan susah payah dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepadaku dan kepada ibu-bapakmu. Hanya kepada-Ku lah kembalimu.”

Dari ayat di atas, dapat kita ketahui bahwa dalam kaitannya dengan proses kejadian dan kelahiran manusia ke bumi ini, terdapat 4 fase penting. Fase pertama adalah fase yang melibatkan partisipasi dari? ayah dan ibu dimana peran ayah sangat menentukan. Dalam fase ini, sel telur sang ibu tidak mungkin terbuahi tanpa pertemuannya dengan seperrma sang ayah. Dengan kata lain tugas alamiah seorang laki-laki atau ayah adalah membuahi sel telur perempuan atau ibu sehingga terjadi kehamilan yang bentuk awalnya berupa gumpalan darah yang? dalam Al Qur’an, Surat ke 96, ayat 2? disebut sebagai ‘alaq sebagaimana ayat berikut:? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ?

“Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.”

Ayat di atas menegaskan bahwa proses awal terjadinya manusia adalah gumpalan darah. Hanya pada fase awal inilah seorang laki-laki memainkan peran alamiah satu-satunya? yang tidak mungkin digantikan oleh perempuan karena sel telur hanya bisa dibuahi oleh sperma. Maka bisa dimengerti? bakti seorang anak kepada ayah dibadingkan dengan ibu adalah 1 : 3 karena dalam 3 proses berikutnya seorang ayah sudah tidak terlibat lagi. Masing-masing dari ketiga proses ini sepenuhnya dilakukan oleh ibu dengan susah payah dan penuh risiko. Hal ini berbeda sama sekali dengan proses awal atau fase pertama yang penuh dengan kenikmatan tanpa risiko berarti.

Sidang Jum’ah rahimakumullah,

Setelah selesainya proses pertama, yakni pembuahan sel telur oleh sperma, maka proses berikutnya atau kedua adalah kehamilan. Dalam proses ini, seorang ibu harus mengandung si janin dalam kandungan selama rata-rata 9 bulan. Selama 9 bulan ini, tidak ada partisipasi ayah sama sekali karena organ laki-laki memang tidak dirancang untuk bisa mengandung seorang bayi. Hingga kini pun tidak ada teknologi yang bisa membuat laki-laki berpartisipasi atau mengambil alih tugas mengandung. Bayi tabung pun juga tidak bisa dikembangkan dalam organ laki-laki karena faktanya? laki-laki memang tidak memiliki rahim.

Dalam fase mengandung ini, seorang ibu mengalami kesusahan demi kesusahan yang didalam Al Qur’an digambarkan sebagai ? ? ? , yakni keadaan susah payah dan lemah yang dari hari ke hari bukannya makin ringan tetapi makin berat.

Sidang Jum’ah rahimakumullah,

Setelah proses kedua selesai, disusul proses ketiga yang merupakan puncak dari proses kehamilan, yakni proses melahirkan. Lagi-lagi dalam proses melahirkan ini tidak ada keterlibatkan seorang ayah. Seorang ibu harus berjuang sendiri untuk bisa melahirkan dengan selamat, baik selamat bagi dirinya sendiri maupun bayi yang dilahirkannya.? Tugas ini ber-risiko tinggi karena secara langsung berkaitan dengan keselamatan jiwa. Tentunya telah sering kita dengar beberapa perempuan meninggal saat melahirkan. Dalam proses melahirkan ini, sang ayah? juga tidak bisa berbuat banyak untuk meringankan beban sang ibu. Seringkali terjadi, sang ayah? tak sanggup dan tak tega menyaksikan sang ibu sedang berjuang melahirkan karena penderitaan yang dialaminya sangat berat dengan nyawa sebagai taruhannya. Seringkali pula, sang ayah hanya bisa menangis penuh kekhawatiran sambil berdoa mudah-mudahan? sang ibu bisa melahirkan dengan selamat.

Sidang Jum’ah rahimakumullah,

Setelah proses ketiga selesai, disusul proses keempat, yakni menyusui. Dalam proses menyusui ini, sang ibu harus berhati-hati dan selalu menjaga diri sebaik mungkin karena apa yang terjadi pada dirinya bisa berdampak langsung pada si bayi. Sang ibu harus sanggup berjaga menahan kantuk, baik siang maupun malam. Ketika si bayi haus dan lapar dan membutuhkan ASI, seorang ibu harus selalu siap memberikannya. Dalam tugas ini, sang ayah juga tidak bisa berbuat banyak untuk meringankan beban sang ibu. Berbagai resiko, baik fisik maupun non-fisik pun, juga sering dihadapi para ibu yang sedang menyusui.

Sidang Jum’ah rahimakumullah,

Al-Qur’an memberitakan masa menyusui adalah dua tahun sebagaimana bunyi ayat:

? ? ?

“Dan menyapihnya dalam usia dua tahun.”

Masa dua tahun menyusui dengan ASI adalah ideal terutama bagi ibu-ibu yang memang memiliki kesempatan untuk itu. Tetapi bagi mereka yang memiliki masalah tertentu, maka setidaknya selama 6 bulan pertama dapat mengusahakannya sebab selama itu ASI bersifat eksklusif.? Ini merupakan standar? internasional yang didasarkan pada bukti ilmiah tentang manfaat ASI bagi daya tahan hidup bayi, pertumbuhan, dan perkembangannya. ASI memberi semua energi dan gizi yang dibutuhkan bayi selama 6 bulan pertama hidupnya. Pemberian ASI eksklusif mengurangi tingkat kematian bayi yang disebabkan berbagai penyakit yang umum menimpa anak-anak seperti diare dan radang paru, serta mempercepat pemulihan bila sakit dan membantu menjarangkan kelahiran.

Sidang Jum’ah rahimakumullah,

Mengingat beratnya tugas ibu, yakni tiga hal penting yang terdiri dari: mengandung, melahirkan dan menyusui, maka bisa dimengerti mengapa? Nabi Muhammad SAW mengisyaratkan agar hormat dan bakti kepada ibu lebih besar daripada kepada ayah. Sebagaimana saya uraikan di atas, perbandingannya adalah 3 : 1. Perbandingan ini masuk akal dan adil.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? : ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?



Khutbah II


? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?:? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) SurakartaDari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Halaqoh, Anti Hoax Shautus Salam

Senin, 08 Januari 2018

Pesan Kebangsaan Presiden Jokowi di Buntet Pesantren Cirebon

Jakarta, Shautus Salam. Dalam kunjungan kerjanya di Jawa Barat, Presiden Joko Widodo berkesempatan hadir di peringatan Haul Almarhumin Sesepuh dan Warga Pondok Buntet Pesantren 2017 di Cirebon, Kamis (13/4).

Pesan Kebangsaan Presiden Jokowi di Buntet Pesantren Cirebon (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesan Kebangsaan Presiden Jokowi di Buntet Pesantren Cirebon (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesan Kebangsaan Presiden Jokowi di Buntet Pesantren Cirebon

Di hadapan ribuan santri dan warga, Jokowi yang mengenakan peci dan kemeja putih khasnya menyampaikan pesan kebangsaan terkait kebersamaan dan kemajemukan bangsa Indonesia yang harus terus dipupuk dan dijaga dengan baik.

“Indonesia ini punya beragam suku, tenis, budaya, dan agama tetapi tetap saling menghormati,” ujar Jokowi disambut tepuk tangan ribuan hadirin yang memadati tempat acara.

Bapak 3 anak ini mengakui, kebersamaan di tengah kemajemukan inilah yang terus dirinya sampaikan ketika berinteraksi dengan para pemimpin dunia.

Shautus Salam

“Terkahir saya sampaikan mengenai hal ini kepada Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz dan Presiden Afghanistan. Mereka sangat kagum dengan persatuan kita di tengah ratusan suku dan etnis,” ucap Jokowi yang menerangkan bahwa Indonesia mempunyai 714 suku.

Jokowi memberikan pidatonya setelah KH Adib Rofiuddin (Ketua Umum Yayasan Pendidikan Islam Pondok Buntet Pesantren Cirebon) menyampaikan sambutannya.

Dalam kunjungannya ini, Jokowi juga memberikan apresiasi setingi-tingginya terhadap peran kiai pesantren yang selama ini mampu menyajikan pemahaman Islam ramah selain penguatan kebangsaan dengan peneguhan akhlak mulia lewat pendidikan pesantren.

Mantan Wali Kota Solo dan Gubernur DKI Jakarta ini seperti biasa memberikan reward sepeda kepada para santri yang mampu menjawab pertanyaannya.

Shautus Salam

Namun kali ini, Jokowi juga memberikan hadiah tersebut kepada ibu-ibu tersepuh yang hadir dalam acara itu. Total sepeda yang disediakan Jokowi sebanyak 10 buah.

Kegiatan tersebut dilanjutkan dengan peletakan batu pertama pembangunan Indoor Sport Hall dan Auditorium Mbah Muqoyyim Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Yayasan Lembaga Pendidikan Islam Buntet Pesantren. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Halaqoh Shautus Salam

Selasa, 02 Januari 2018

Untuk Nikah, Hanya Butuh Kata Nekat dan Bismillah

Pati, Shautus Salam - Buku berjudul Stop Pacaran Ayo Nikah! karya Hamidulloh Ibda dibedah di Dialoegue Cafe Pati, Jalan P Sudirman Kabupaten Pati, Sabtu (21/5) sore. Menurut penulis buku ini, modal utama yang harus dimiliki pemuda saat mau menikah adalah nekat.

Penulis asal Desa Dukuhseti Kabupaten Pati menjelaskan bahwa menikah sebenarnya tidak perlu modal berbelit-belit, mewah, bahkan merelakan segala harta benda untuk kepentingan tasyakuran semata yang output-nya kadang hanya euforia dan gengsi.

Untuk Nikah, Hanya Butuh Kata Nekat dan Bismillah (Sumber Gambar : Nu Online)
Untuk Nikah, Hanya Butuh Kata Nekat dan Bismillah (Sumber Gambar : Nu Online)

Untuk Nikah, Hanya Butuh Kata Nekat dan Bismillah

"Salah satu karakter manusia Jawa itu nekat. Kalau umur sudah cukup, tapi belum nikah yanekat saja. Modal nikah cuma dua, yaitu nekat dan bismillah," ungkap Hamidulloh Ibda di kafe yang berdampingan dengan Taman Kota Pati.

Tampak hadir dalam bedah buku ini beberapa aktivis mahasiswa seperti aktivis NU, PMII, Ansor, HMI, GMNI, dan pelajar SMA dari Pati. Sementara hadirin lainnya berjumlah puluhan mahasiswa dari STAI Pati dan STAIN Kudus serta tamu undangan dari berbagai kalangan.

Shautus Salam

Selama ini banyak pemuda mengurungkan niat nikah hanya karena modal materi. Tidak sedikit pasangan yang mau menikah, namun dengan alasan belum dewasa, matang dan belum memiliki modal materi kuat mengurungkan diri untuk menikah lama dan tetap berpacaran.

"Kalau modal materi sebenarnya penting tidak penting. Yang penting itu niat kuat. Kalau ada uang pun tapi tak punya niat, sama saja," ungkap alumnus MA Madarijul Huda Kembang, Dukuhseti, Pati tersebut.

Shautus Salam

Modal nikah itu cukup nekat dan bismillah. "Nikah itu murah secara agama, namun secara budaya kayak resepsi, lamaran, tunangan, itu yang mahal. Namun pada prinsipnya itu tidak wajib, yang penting nikah secara agama terlaksana jika memang tidak kuat menggelar resepsi," kata Hamidulloh.

Dosen STAI Pati Fatimah Az-zahra yang hadir sebagai salah seorang narasumber diskusi mengatakan, buku ini sangat memotivasi para pelajar dan mahasiswa. Sebab, saat ini degradasi moral pelajar terutama seks bebas sangat merajalela.

Menurut mahasiswi STAIN Kudus Munawaroh, pacaran di kalangan pemuda Islam sudah membudaya. "Ini memang fenomena modern, namun buku ini mampu memprovokasi, memotivasi pemuda untuk berhenti pacaran jika tidak kuat menahan nafsu. Penulis buku ini juga memberi solusi kalau tidak kuat menahan nafsu, jangan pacaran. Hentikan, lalu menikahlah," kata Munawaroh. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Lomba, Nusantara, Halaqoh Shautus Salam

CBP=KKP Kudus Adakan Diklatsus

Kudus, Shautus Salam. Dewan Koordinasi Cabang Corp Brigade Pembangunan - Korp Kepanduan Putri (DKC CBP-KKP) kabupaten Kudus mengadakan orientasi pengurus dan  pendidikan dan Latihan Khusus (Diklatsus) di Desa Ternade Dawe Kudus, Sabtu - Ahad (23-24/5). Kegiatan yang dibuka ketua PC IPNU Kudus Dwi Saifullah itu diikuti  30 peserta dari unsur pengurus DKC dan DKAC se Kudus .

CBP=KKP Kudus Adakan Diklatsus (Sumber Gambar : Nu Online)
CBP=KKP Kudus Adakan Diklatsus (Sumber Gambar : Nu Online)

CBP=KKP Kudus Adakan Diklatsus

Komandan CBP Kudus Khoirul Anam mengatakan orientasi dan diklatsus ini bertujuan untuk memberikan bekal ketrampilan dan pengetahuan khusus kepada pengurus CBP-KKP yang dipersiapkan menjadi pelatih atau instruktur dalam pengkaderan di lingkungannya.

"Sebagian besar pengurus CBP-KKP ini semuanya wajah-wajah  baru sehingga perlu mengetahui arah,visi misi lembaga ini dan memperoleh bekal  ketrampilan khusus sehingga ketika menangani sebuah pengkaderan seperti diklatama di tingkat anak cabang memiliki kemampuan dan kesiapan," ujarnya kepada Shautus Salam.

Shautus Salam

Ia menegaskan CBP dan KKP akan menjadi kader NU yang siap menjadi penggerak dan pelopor pembangunan terutama menjalankan program-program khusus kemanusiaan termasuk  menyiapkan relawan SAR.

Shautus Salam

"Kita akan terus mendorong maupun meningkatkan anggota CBP-KKP  yang notabene dari kalangan pelajar agar memiliki kepedulian sesama," tandas Anam.

Sementara itu, Ketua PC IPNU Kudus Dwi Syaifullah mengharapkan kader-kader CBP-KKP mampu meningkatkan kualitas diri serta mewujudkan kaderisasi yang berkesinambungan. " Apalagi, perannya sangat signifikan dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia di lingkungan pelajar," katanya saat membuka acara.

Kegiatan diklatsus ini didampingi intruktur dari Alumni CBP-KKP Kudus sendiri yang menyampaikan berbagai materi dasar ke CBP-KKP an dan tehnik-tehnik penanganan pelatihan yakni manajemen pelatihan dan Diskusi. Selain itu, sebagai materi penunjang diadakan out bound di lingkungan desa Ternadi yang termasuk daerah perbukitan.  

Redaktur   : Mukafi Niam

Kontributor: Qomarul Adib

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Halaqoh Shautus Salam

Senin, 25 Desember 2017

Dua Kader Korban Longsor, IPNU Ungkapkan Duka Mendalam

Banjarnegera,Shautus Salam. Bencana longsor yang terjadi pada 12 Desember 2014 di Dusun Jemplung Banjarnegara telah memakan korban jiwa yang cukup banyak. Dua korban di antaranya adalah kader Pimpinan Anak Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Kecamatan Karangkobar.

Dua Kader Korban Longsor, IPNU Ungkapkan Duka Mendalam (Sumber Gambar : Nu Online)
Dua Kader Korban Longsor, IPNU Ungkapkan Duka Mendalam (Sumber Gambar : Nu Online)

Dua Kader Korban Longsor, IPNU Ungkapkan Duka Mendalam

Kedua korban itu adalah Muhammad Alwi Aji Athoillah dan Ahmad Fauzi, pengurus yang aktif dalam pelbagai kegiatan yang diselenggarakan oleh organisasi pelajar Nahdlatul Ulama itu.

Sekretaris Jenderal Pimpinan Pusat IPNU H. Muhammad Nahdhy hari ini, Rabu, 17 Desember 2014 mengunjungi lokasi longsor. Pada kesempatan itu, ia menyampaikan duka sedalam-dalamnya kepada kedua korban yang merupakan kader-kader terbaik IPNU yang ada di Banjarnegara.

Shautus Salam

“Kami dari Pimpinan Pusat IPNU menyampaikan bela sungkawa kami yang sedalam-dalamnya atas meninggalnya dua kader IPNU dalam musibah ini,” ungkapnya.

Shautus Salam

Ia menambahkan, Pimpinan Pusat mendoakan semoga arwah keduanya mendapatkan tempat yang layak di sisi-Nya. Kemudian, kami juga berdoa semoga pengabdiannya di IPNU dan semua amal baiknya diterima Allah SWT.

Dalam kesempatan itu pula, Sekjend IPNU mengimbau kepada seluruh kader-kader IPNU di seluruh Indonesia untuk melakukan shalat ghaib untuk seluruh korban longsor, khususon untuk kedua kader PAC IPNU Karangkobar tersebut.

Ia juga mengimbau kepada PC IPNU yang berada di sekitar Kabupaten Banjarnegara untuk membantu baik moril maupun materiil kepada seluruh korban longsor.

“Kedatangan Sekjend IPNU ke lokasi longsor membuat kami semakin bersemangat untuk terus membantu proses evakuasi dan kegiatan lainnya di lokasi bencana,” komentar salah seorang anggota DKC CBP Banjarnegara.

Berdasarkan laporan Ketua PC IPNU Banjarngera, Mad Solihin, jenazah Aji telah ditemukan pada hari senin lalu, sedangkan jenazah Ahmad Fauzi sampai saat ini masih dalam proses pencarian.

“Keduanya merupakan kader yang aktif dan telah mengabdikan dirinya untuk IPNU Banjarnegara, kami merasa sangat kehilangan.” Ucap Mad Solihin. (Slamet Ng/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Halaqoh Shautus Salam

Sabtu, 23 Desember 2017

Kemristekdikti Tawarkan Beasiswa BUDI untuk Belajar ke Luar Negeri

Jakarta, Shautus Salam

Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) kembali membuka kesempatan kepada dosen untuk melanjutkan pendidikan jenjang doktor atau S3 di luar negeri melalui Beasiswa Untuk Dosen Indonesia (BUDI LN).

"Dalam waktu satu pekan ke depan, kami membuka kesempatan untuk dosen-dosen mendaftar Program BUDI LN," ujar Dirjen Sumber Daya Iptek dan Dikti Kemristekdikti, Ali Ghufron Mukti di Jakarta, Rabu.

Kemristekdikti Tawarkan Beasiswa BUDI untuk Belajar ke Luar Negeri (Sumber Gambar : Nu Online)
Kemristekdikti Tawarkan Beasiswa BUDI untuk Belajar ke Luar Negeri (Sumber Gambar : Nu Online)

Kemristekdikti Tawarkan Beasiswa BUDI untuk Belajar ke Luar Negeri

Kemristekdikti kembali membuka kesempatan tersebut, setelah sebelumnya mengumumkan 168 penerima beasiswa BUDI LN.

Beasiswa tersebut diperuntukkan bagi dosen-dosen yang mengajar di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) maupun Perguruan Tinggi Swasta (PTS) asalkan telah memiliki Nomor Induk Dosen Nasional (NIDN) dan Nomor Induk Khusus (NIDK).?

"Pada tahun ini, kuota untuk BUDI LN sebanyak 300 beasiswa. Namun, dari hasil seleksi kuota tersebut tidak terpenuhi. Beberapa penyebabnya karena tidak memenuhi syarat dan ada juga pelamar yang sudah mendapatkan beasiswa dari sponsor lain," ujarnya.

Shautus Salam

Kuota BUDI LN untuk tahap kedua yakni 130 beasiswa.

Tahapan seleksi untuk BUDI LN, lanjut Ghufron, tidak terlalu sulit, meliputi seleksi administrasi dan wawancara, serta cakap dalam kemampuan Bahasa Inggris.

Beasiswa BUDI bertujuan untuk menyelesaikan permasalahan yang ada di pendidikan tinggi. Salah satu permasalahannya adalah ada sekitar 59.000 dosen yang masih bergelar sarjana.?

Padahal idealnya menurut UU Guru dan Dosen, tidak ada lagi dosen yang bergelar sarjana.

Shautus Salam

Beasiswa yang merupakan kerja sama Kemristekdikti dan Lembaga Pengelolaan Dana Pendidikan (LPDP) itu terdiri atas beasiswa dalam negeri dan luar negeri.?

Beasiswa itu diluncurkan oleh Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir pada peringatan Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2016.?

Kuota beasiswa yang dialokasikan yakni 2.000 beasiswa untuk dalam negeri dan 300 beasiswa luar negeri. Khusus untuk luar negeri, merupakan beasiswa program doktor atau S3. (Antara/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Jadwal Kajian, Halaqoh Shautus Salam

Kamis, 21 Desember 2017

Pemenang Lomba MWC dan Ranting NU Sehat Dapat Dana Pembinaan 39 Juta

Pringsewu, Shautus Salam. Dalam rangka mewujudkan organisasi yang berkualitas serta meningkatkan motivasi pengurus untuk terus berkhidmah di NU, PCNU Pringsewu menggelar Kegiatan Lomba MWCNU dan Ranting NU Sehat Se-Kabupaten Pringsewu.

Pemenang Lomba MWC dan Ranting NU Sehat Dapat Dana Pembinaan 39 Juta (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemenang Lomba MWC dan Ranting NU Sehat Dapat Dana Pembinaan 39 Juta (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemenang Lomba MWC dan Ranting NU Sehat Dapat Dana Pembinaan 39 Juta

Setelah dilakukan Proses Penilaian oleh Tim Khusus terhadap 9 MWC dan 131 Ranting selama lebih kurang 3 bulan, para pemenang lomba diumumkan pada Kamis (19/1) dibarengkan dengan Pringatan Hari Lahir NU ke 91 tingkat Kabupaten Pringsewu di Gedung NU setempat.

"Ada tiga MWC dan tiga Ranting dari setiap Kecamatan yang kita pilih sebagai Juara. Dan mereka berhak mendapatkan Thropi, Hadiah serta dana Pembinaan dari PCNU Pringsewu," Jelas Ketua Tanfidziyyah H. Taufiqurrohim disela-sela pengumuman lomba tersebut.

Mas Tas Taufik, begitu Ia biasa disapa menjelaskan bahwa dana untuk pembinaan pemenang lomba tersebut mencapai 39 juta. "Kita berharap kedepan Jamiyyah NU di Kabupaten Pringsewu terus meningkatkan kualitas organisasi dan pengurus akan lebih serius lagi dalam mengurus ummat," harapnya.

Shautus Salam

Ia menjelaskan pula bahwa beberapa indikator Tim penilai dalam memberikan nilai antara lain adalah ketertiban administrasi, kuantitas dan kualitas realisasi program kerja dan kelengkapan organisasi. Setelah penilaian dengan langsung terjun ke daerah tersebut dilaksanakan akhirnya terpilih MWC NU Kecamatan Adiluwih menjadi Juara I Lomba tingkat Kecamatan. Untuk Juara II diraih oleh MWC NU Pringsewu dan Juara III diraih oleh MWC NU Pagelaran.

Selain itu Tim Penilai juga memberikan penghargaan kepada beberapa MWC yang menonjol dalam kategori tertentu. Diantara Kategori tersebut adalah Kelengkapan Badan Otonom dan Lembaga, Keaktifan Lembaga Pendidikan Maarif, Kekompakan dengan Banom dan beberapa kategori lain.

Sementara untuk Pemenang Lomba Ranting NU Sehat sebagai berikut: Kecamatan Adiluwih. Juara I Ranting NU Bandung Baru, Juara II Ranting NU Tri Tunggal Mulyo dan Juara III Ranting NU Srikaton. Kecamatan Pringsewu. Juara I Ranting NU Fajar Agung Barat, Juara II Ranting NU Fajaresuk dan Juara III Ranting NU Margakaya.

Kecamatan Pagelaran. Juara I Ranting NU Sumberejo , Juara II Ranting NU Patoman dan Juara III Ranting NU Tanjung Dalam. Kecamatan Ambarawa. Juara I Ranting NU Jati Agung , Juara II Ranting NU Ambarawa dan Juara III Ranting NU Sumberagung . Kecamatan Banyumas . Juara I Ranting NU Mulyorejo , Juara II Ranting NU Banyumas dan Juara III Ranting NU Sri Rahayu.

Kecamatan Pagelaran Utara. Juara I Ranting NU  Margosari, Juara II Ranting NU Gunung Raya  dan Juara III Ranting NU Fajar Mulya. Kecamatan Gading Rejo . Juara I Ranting NU Tegalsari, Juara II Ranting NU Klaten dan Juara III Ranting NU Gadingrejo.

Shautus Salam

Kecamatan Pardasuka. Juara I Ranting NU Pujodadi, Juara II Ranting NU Rantau Tijang  dan Juara III Ranting NU Pardasuka. Kecamatan Sukoharjo . Juara I Ranting NU Waringin Sari Barat, Juara II Ranting NU  Panggungrrjo Utara dan Juara III Ranting NU Siliwangi.

Hadiah bagi Pemenang MWC NU Sehat diserahkan langsung oleh Mustasyar PCNU Pringsewu KH. Sujadi didampingi oleh Jajaran Jajaran Syuriyah dan Tanfidziyyah PCNU Pringsewu. Sementara untuk Lomba Ranting NU Sehat penyerahan diberikan oleh setiap Ketua MWC masing-masing. (Muhammad Faizin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam News, Daerah, Halaqoh Shautus Salam

Berbasis Pesantren, Maju di Bidang Pengetahuan Umum

Madrasah Aliyah (MA) Abu Darrin merupakan lembaga yang bernaung di bawah Yayasan Pendidikan Abu Darrin (YPAD) yang berdiri di lingkungan Pondok Pesantren (Ponpes) Kendal turut Desa Sumbertlaseh, Kecamatan Dander Kabupaten, Bojonegoro.

Madrasah  yang didirikan pada Tahun 1979 ini mempunyai empat program jurusan yaitu Ilmu pengetahuan Sosial (IPS), Ilmu pengetahuan Alam (IPA), Bahasa dan Agama. Jauh berkembang dibandingkan saat awal pendiriannya yang hanya mempunyai satu program, Jurusan Ilmu Agama saja.

Berbasis Pesantren, Maju di Bidang Pengetahuan Umum (Sumber Gambar : Nu Online)
Berbasis Pesantren, Maju di Bidang Pengetahuan Umum (Sumber Gambar : Nu Online)

Berbasis Pesantren, Maju di Bidang Pengetahuan Umum

Satu tahun kemudian, tepatnya tahun 1980 M, pihak yayasan melaksanakan pembangunan fisik dilaksanakan secara besar besaran dan bertahap. Tahap yang pertama direhabilitasi beberapa gedung asrama yang sudah tua di antaranya ada yang dibongkar total dengan mendirikan 7 bangunan yang baru. Hal ini bertujuan memenuhi kebutuhan desakan warga sekitar yang ingin anaknya memperoleh ilmu agama di Pondok Pesantren dan memperoleh ilmu umum di Madrasah Aliyah.

Shautus Salam

Menurut Kepala Sekolah MA Abu Dzarrin, KHM.Masluchan Sholih, pengembangan program dimulai  Tahun 1983, saat itu ada penambahan program jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) yang bertujuan untuk memberikan nuansa baru serta adanya permintaan dari wali murid agar anaknya juga memperoleh Ilmu Umum di tempat mereka belajar. Untuk memenuhi permintaan akan adanya variasai program jurusan maka ditambahlah juruan IPA mulai tahun 2008, jurusan Bahasa tahun 2012.

Dalam pembelajaran, MA Abu Darrin memakai perpaduan antara kurikulum Nasional dari Kementerian Pendidikan dan Kementerian Agama dengan prioritas materi - materi muatan lokal  (Mulok) berciri khas Pondok Pesantren.

Karena itu, para peserta didik selain diajari materi-materi umum juga diberi pengatahuan tentang kitab-kitab salaf di antaranya Nahwu, Shorof, Balaghoh, Mantiq, Falak, Hisab, Hadits, usulFiqih, Faroidl, Tajwid, Qowaidul Fiqiyah, Aswaja (ke-NU-an).

Shautus Salam

Keseimbangan antara Ilmu Umum dan Ilmu Agama yang diajarkan di MA Abu Dzarrin membuatnya menjadi sekolah yang diminati oleh masyarakat untuk menyekolahkan putra-putrinya di sana. Tujuannya, agar sang buah hati memperoleh Ilmu Umum maupun Agama "Karena di sekolah ini juga mengadopsi beberapa ilmu dari pesantren di antaranya adalah Ilmu Nahwu, Manteq, Balaghoh, Ushul Fiqh,Aswaja (ke NU an)dan masih banyak lagi," ujarnya.

Uniknya saat ini MA Abu Dzarin memiliki 890 siswa dengan 80 persen dari siswanya tersebar menuntut ilmu di tujuh pondok pesantren yang berada di sekitar sekolah tersebut. Sebab, kawasan Kendal memang menjadi sentra pesantren di Bojonegoro dengan  tujuh pondok pesantren di bawah naungan pengasuh masing-masing.

"Jadi siswanya tidak terbatas dari Pondok Pesantren Abu Dzarrin tapi juga ada yang bermukim di Pondok Pesantren Adnan Al charish, Al Asmanah, Abu Darrin Ar Ridwan, Al Kuzy, Al Maruf dan Pondok Pesantren Nurul Islam Al Muniri," jelasnya.

Ditambahkan, lembaga sekolah yang dipimpinnya merupakan lembaga sekolah madrasah yang bersifat melayani keinginan dari masyarakat. Pihak sekolah berupaya untuk selalu memajukan sekolah serta mengajak wali murid selalu memberi saran maupun kritikan yang membangun sekolah agar menjadi yang terbaik.

Sebab, sejak awal berdiri MA Abu Darrin memang mengutamakan bagaimana memberikan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan dan permintaan masyarakat. Usaha yang dilakukan yakni memberikan kesempatan para guru-guru MA Abu Darrin untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi dengan biaya dari madrasah.     Hal itu dilakukan untuk meningkatkan kompetensi guru agar sesuai dengan harapan masyarakat, khususnya wali murid.

Selama ini, menurutnya kurang lebih 35 raihan prestasi yang didapat oleh siswa MA Abu Dzarin di tingkat Kabupaten Bojonegoro di antaranya adalah Juara 1 Kompetisi Sains Madrasah, Juara 2 nilai tertingi UAN Se-Jatim untuk jurusan IPA dan Juara 2 Olimpiade Sains dan Bahasa.

"Tidak hanya siswa MA Abu Dzarrin saja yang mengukir banyak prestasi para guru MA juga pernah mengukir prestasi dengan mengikuti turnamen futsal antar instansi dengan menyambet juara 1 turnamen tersebut," imbuh Musholich.

Sebagai wahana pengembangan skill peserta didiknya,  Abu Dzarrin juga mempunyai banyak ekstrakulikuler yang bertujuan untuk memberi pengetahuan lebih serta sebagai bekal bagi semua siswa agar ketika mengikuti kegiatan di luar agar dapat mengembangkan serta mengamalkan ilmu yang didapatnya.

Adapun ekstrakulikuler yang paling menonjol adalah Pramuka,Palang Merah Remaja (PMR), Keterampilan Berbahasa Arab maupun Inggris serta Karya Ilmiah Remaja, Keterampilan dan Seni, Olahraga (Futsal/Sepakbola/Bulu Tangkis/Lari,Catur dll), PPSDI (Pelatihan Pengembangan Sumber Daya Insani).  Dengan adanya ekstrakulikuler tersebut beberapa minggu lalu Madrasah Aliyah Abu Darrin  mendapat Juara 1 Pidato Bahasa Inggris tingkat SMA sederajat yang diselenggarakan di wilayah Kabupaten Tuban.

"Semoga ke depannya MA Abu Dzarrin dapat lebih dicintai oleh masyarakat sekitar maupun masyarakat luas terlebih oleh siswa agar selalu cinta almamater dengan menjaga nama baik sekolah di setiap kegiatan," harap Masluchan Sholih. (Nidhomatum MR)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Halaqoh Shautus Salam

Minggu, 10 Desember 2017

Perseroan yang Pungut Sumbangan Masyarakat Masuk Kategori Badan Publik

Tangerang, Shautus Salam. Dalam persidangan keempat di Pengadilan Negeri (PN) Tangerang, Mustolih Siradj (konsumen dan donatur Alfamart) selaku Tergugat II mengajukan saksi penting, yakni A. Alamsyah Saragih Ketua Komisi Informasi Pusat (KIP) angkatan pertama.

Dalam kesaksiannya, Alamsyah menyatakan, Perseroan yang memungut sumbangan kepada masyarakat masuk kategori sebagai Badan Publik. Hal tersebut sebagai konsekuensi pertanggungjawaban kepada publik meskipun entitas Perseroan adalah badan hukum yang seharusnya mencari laba (untung).

Perseroan yang Pungut Sumbangan Masyarakat Masuk Kategori Badan Publik (Sumber Gambar : Nu Online)
Perseroan yang Pungut Sumbangan Masyarakat Masuk Kategori Badan Publik (Sumber Gambar : Nu Online)

Perseroan yang Pungut Sumbangan Masyarakat Masuk Kategori Badan Publik

“Hal itu sebagai social control kepada penyelenggara sumbangan,” ujar Alamsyah, Jumat (17/3).

Maka itu, lanjutnya, Perseroan yang memungut sumbangan kepada masyarakat dapat dimintai data atau informasi oleh Donatur maupun masyarakat luas.

Alamsyah yang kini menjabat sebagai Komisioner Ombudsman Republik Indonesia (ORI) menambahkan, laporan Perseroan yang mengumpulkan sumbangan kepada Menteri Sosial tidak menggugurkan kewajibannya kepada publik

Shautus Salam

“Memberikan informasi seputar sumbangan. Begitu pula dengan yayasan atau lembaga yang mendapatkan atau menerima penyaluran donasi dari Perseroan tersebut juga menjadi Badan Publik,” tegas Alamsyah.

Shautus Salam

Alamsyah juga menyesalkan apabila ada Perseroan yang meminta sumbagan dari masyarakat tetapi kemudian uang sumbagan itu diklaim sebagai dana CSR (Corporate Social Responsibility) Perusahaan tersebut.?

“Sebab mengenai CSR aturannya sudah jelas diatur UU No. 40/2007 tentang Perseroan Terbatas Jo PP No. 47/2012, sumber dana CSR dari dana perusahaan bukan sumbangan,” jelasnya.

Alamsyah Saragih menguatkan Putusan KIP No. 011/III/KIP-PS/2016 yang menyatakan bahwa Alfamart (PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk) sebagai Badan Publik karena meminta sumbangan kepada masyarakat atau konsumen secara agresif, rutin, dan masif di seluruh Indonesia. Bahkan berkelanjutan selama bertahun-tahun dengan total donasi yang terkumpul hampir mencapai Rp100 miliar. (Kendi Setiawan/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Santri, Halaqoh Shautus Salam

Rabu, 06 Desember 2017

Meneg PDT Kunjungi Kuningan, Bahas Solusi Desa Tertinggal

Kuningan, Shautus Salam. Hingga saat ini terdapat 32 ribu lebih desa tertinggal di 134 kabupaten yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Di desa yang masuk kategori itu, rata-rata tingkat kemiskinan dan penganggurannya tinggi, sementara derajat pendidikan, derajat kesehatan, dan lainnya rendah.

Demikian diungkapkan Menteri Negara (Meneg) Pembangunan Daerah Tertinggal Syaifullah Yusuf, ketika melakukan kunjungan kerja ke Desa Kalimati Kec. Japara Kab. Kuningan, Selasa (28/11) kemarin.

“Untuk mengentaskan kemiskinan tidak ada cara lain kecuali harus meningkatkan pertumbuhan ekonomi, menciptakan lapangan pekerjaan, serta meningkatkan pendapatan masyarakat,” katanya.

Meneg PDT Kunjungi Kuningan, Bahas Solusi Desa Tertinggal (Sumber Gambar : Nu Online)
Meneg PDT Kunjungi Kuningan, Bahas Solusi Desa Tertinggal (Sumber Gambar : Nu Online)

Meneg PDT Kunjungi Kuningan, Bahas Solusi Desa Tertinggal

Menurut Syaifullah, kecenderungan orang miskin di Indonesia saat ini persentasenya terus meningkat. Padahal, pada tahun 1960-an persentasenya hanya 40 persen. Pada tahun selanjutnya sampai dengan menjelang reformasi tinggal 11 persen. Namun, pada tahun 1997/1998 justru trennya meningkat. Oleh karenanya perlu kerja keras semua pihak agar persentase kemiskinan itu menjadi menurun.

Disebutkan, sesuai hasil identifikasi Kementrian PDT, sebanyak 51persen yang diperlukan masyarakat kita adalah pembangunan infrastruktur, terutama infrastruktur perdesaan. Seperti pembangunan jalan, jembatan, pelayanan listrik, pelayanan air bersih, telefon, pasar perbankan dan lainnya merupakan kebutuhan mendasar bagi masyarakat.

Upaya pengentasan kemiskinan untuk daerah tertinggal perlu diberikan banyak program atau kebijakan, tetapi untuk daerah maju pun tetap dikasih, namun tidak sebanyak daerah tertinggal. Diharapkan yang tertinggal secara bertahap akan mampu mengejar ketertinggalannya hingga minimal mampu menyamai daerah yang sudah maju. “Jangankan di Indonesia, di negara-negara lain pun selalu ada yang tertinggal dalam sebuah proses pembangunan,” ujarnya.

Shautus Salam

Diakui Syaifullah, untuk pembangunan infrastruktur desa yang merupakan lanjutan dari program 2006 pada tahun 2007 mendatang nilainya sekira 500 miliar rupiah lebih. Alokasi untuk desa tertinggal yang semula hanya 2.000 desa ada kenaikan sebanyak 200 desa. Desa-desa tersebut dibantu secara bertahap, anggarannya semua budgetter, karena harus dari APBN.

Sementara itu Bupati Kuningan H. Aang Hamid Suganda mengakui, pada saat ini di Kuningan masih terdapat 99 (26,59%) desa tertinggal. Dengan rincian 83 buah di daerah perdesaan dan 16 buah di wilayah perkotaan. (gpa/pr)

Shautus Salam

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Tokoh, News, Halaqoh Shautus Salam

Selasa, 05 Desember 2017

Kiai Ma’ruf Amin: Gus Dur Ajarkan Berpikir Kritis

Jakarta, Shautus Salam

Rais Aam Syuriyah PBNU KH Maruf Amin mengatakan, Almaghfurlah KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur merupakan sosok yang mirip buku. Karena itu, mengenal Gus Dur tidak akan habis.

“Di NU, beliau itu yang melakukan dinamisasi berpikir kritis. Sehingga NU itu kemudian melahirkan pemikiran-pemikiran kritis dan dinamis,” ujar Kiai Ma’ruf mengawali testimoninya di acara haul ke-6 Gus Dur di Ciganjur, Sabtu (26/12) malam.

Menurut Kiai Ma’ruf, Gus Dur memang dilengkapi dengan berbagai instrumen keilmuan sehingga paham banyak hal. Misalnya, Ushul Fiqh dan Qawaid Fiqhiyyah.

Kiai Ma’ruf Amin: Gus Dur Ajarkan Berpikir Kritis (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Ma’ruf Amin: Gus Dur Ajarkan Berpikir Kritis (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Ma’ruf Amin: Gus Dur Ajarkan Berpikir Kritis

“Beliau bahkan sering menyebut kitab Asybah Wan Nadzair. Beliau sangat paham kitab tasawuf yang bernama al-Hikam karya Ibnu Athaillah. Bukan hanya paham, beliau malah mengajarkan kitab itu,” ungkap Rais Aam.

Padahal, lanjut Kiai Ma’ruf, kitab al-Hikam itu menurut para ulama disebut kaada al-hikam an yakuuna quranan. “Hikam itu hampir mirip Quran karena saking dalamnya paparan ilmu yang dikandungnya. Jadi, meski beliau kritis dan dinamis, tetapi instrumen-instrumen perlengkapannya itu sudah ada dan siap,” tukasnya.

Shautus Salam

Sayangnya, kata Kiai Ma’ruf, ada beberapa pihak yang kritis namun tidak paham Ushul Fiqh, Qawaid, apalagi al-Hikam. “Ibarat orang terjun, Gus Dur sudah bawa parasut. Ini (ada orang) terjun nggak punya parasut, nyungsep jadinya,” selorohnya disambut tawa hadirin.

Gus Dur yang ia kenal sebagai sosok? yang bisa bergaul dengan semua kalangan. “Beliau bisa bergaul dengan kiai khos, dengan kiai cash. Sekarang ini kan kiai khos kalah sama kiai cash itu. Ada juga kiai high cost,” ujar Kiai Ma’ruf lagi-lagi mengundang tawa.

Tak hanya dengan kiai, lanjutnya, Gus Dur juga bisa bergaul dengan para budayawan, seniman, orang berambut gondrong, dan bertato. “Enak saja. Saya pernah ikut Gus Dur. Beliau santai saja. Saya sendiri malah keki. Inilah kelebihan Gus Dur,” tandas Rais Aam.

Semua persoalan di mata Gus Dur tidak ada yang berat. Semuanya dianggap ringan dan biasa-biasa saja. “Makanya Gus Dur sering mengatakan Gitu aja Kok Repot,” ujarnya.

Shautus Salam

Kiai Ma’ruf bercerita, suatu ketika Gus Dur terpilih sebagai Ketua Forum Demokrasi (Fordem).? PBNU langsung ribut. “Gimana ini, NU akan berhadapan dengan Pak Harto ini. Karena itu, kami putuskan bahwa Gus Dur mengundurkan diri atau berhenti dari Fordem. Kalau tidak mau, PBNU akan meminta beliau mundur dari Fordem,” tuturnya.

Begitu disampaikan kepada Gus Dur, lanjut Kiai Ma’ruf, Gus Dur lebih memilih Fordem. “Kalau saya disuruh mundur dari Fordem, lebih baik saya mundur dari Ketua Umum PBNU. Wah ini, jawabannya. Mati kutu semua udah. Akhirnya, ya sudah lah, tetap sebagai Ketua Umum PBNU, dan tetap sebagai Ketua Fordem,” kata Kiai Ma’ruf sembari tertawa. (Musthofa Asrori/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Halaqoh, Kajian Sunnah Shautus Salam

Kamis, 30 November 2017

RSI Siti Hajar Sidoarjo Raih Penghargaan SPKL Peringkat Pertama

Sidoarjo, Shautus Salam. Rumah Sakit Islam (RSI) Siti Hajar Sidoarjo meraih penghargaan Status Kinerja Pengelolaan Lingkungan Hidup (SPKL) peringkat pertama dari Bupati Sidoarjo, H Saiful Ilah, berdasarkan peraturan Bupati nomor 33 tahun 2015 dan periode penilaian SKPL 2016.

Penghargaan tersebut diberikan Bupati Sidoarjo, H Saiful Ilah, kepada Direktur RSI Siti Hajar Sidoarjo, dr Hidayatullah, pada malam resepsi Hari Jadi Sidoarjo ke-158 di alun-alun Sidoarjo, Rabu (1/2) malam.

RSI Siti Hajar Sidoarjo Raih Penghargaan SPKL Peringkat Pertama (Sumber Gambar : Nu Online)
RSI Siti Hajar Sidoarjo Raih Penghargaan SPKL Peringkat Pertama (Sumber Gambar : Nu Online)

RSI Siti Hajar Sidoarjo Raih Penghargaan SPKL Peringkat Pertama

"Jujur penghargaan ini agak menyentuh sisi emosional saya. Karena begitu sulit dan rumitnya dalam mengelola limbah. Kami pernah mengalami masa-masa sulit dalam mengelola limbah medik kami. Dan alhamdulillah, ada berkah di balik itu. Kami meraih award yang luar biasa ini, mengalahkan Rumah Sakit dan perusahaan-perusahaan besar lainnya," kata dr H Hidayatullah kepada Shautus Salam.

Dokter spesialis saraf itu mengapresiasi seluruh kinerja staf dan karyawan RSI Siti Hajar. Pasalnya, mengelola limbah medik itu tidak mudah dan sangat rumit. Meski begitu, alhasil RSI Siti Hajar Sidoarjo mendapatkan penghargaan perusahaan terbaik dalam mengelola limbah di Kabupaten Sidoarjo.

"Teman-teman saya di RSI Siti Hajar memang luar biasa. Award ini akan memacu kami lebih baik lagi. Dan ini sesuai dengan program kami menjadikan RSI Siti Hajar sebagai "Rumah Sehat" (bukan sekedar rumah sakit). Menjadi rumah bukan hanya buat orang sakit, tetapi juga menjadi rumah bagi orang sehat dan menjadi Rumah Sakit yang mendukung program kesehatan lingkungan hidup," ujar dr Dayat.

Shautus Salam

Sementara itu menurut Kepala ruangan penyehatan lingkungan RSI Siti Hajar Sidoarjo, Ning Ana Sumari, menyatakan bahwa, selama lima tahun mengikuti program Badan Lingkungan Hidup (BLH) tentang lingkungan hidup, baru tahun ini, RSI Siti Hajar Sidoarjo mendapatkan penghargaan.

Ia menjelaskan bahwa, yang menjadi kendala tidak masuk kategori taat selama mengikuti program BLH itu karena NH3 (Amoniak) sering tinggi sehingga tidak kena taat. Selain itu, ijin pengolahan limbah belum turun.

Shautus Salam

"Alhamdulillah, setelah kita mendapatkan ijin dari BLH dan mempunyai TPS akhirnya kita masuk kategori taat dan mendapatkan penghargaan ini. Perasaan saya lega karena sudah lima tahun mengikuti dan baru sekarang masuk kategori taat," ucapnya dengan nada gembira. (Moh Kholidun/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Halaqoh, Doa Shautus Salam

Rabu, 29 November 2017

Dandim: Banser Harus Paham Proxy War

Tangerang, Shautus Salam. Komandan Kodim 0506 Tangerang Letkol Inf Irhamni Zainal menyampaikan bahwa Banser harus paham tentang proxy war. Ia menjelaskan bahwa proxy war merupakan perang masa kini dimana salah satu pihak menggunakan pihak ketiga atau komponen lainnya untuk berperang melalui aspek ideologi, politik, ekonomi, sosial dan aspek lainnya.

Dandim: Banser Harus Paham Proxy War (Sumber Gambar : Nu Online)
Dandim: Banser Harus Paham Proxy War (Sumber Gambar : Nu Online)

Dandim: Banser Harus Paham Proxy War

Hal tersebut pada pembekalan Diklatsar Banser Kabupaten Tangerang di Markas Kodim 0506 Tangerang pada Senin (01/06).

Menurutnya seiring perkembangan teknologi, karakteristik perang mengalami pergeseran. Perang tidak lagi banyak dilakukan secara fisik. Salah satu bentuk perang yang sedang dan masih akan terus berlangsung adalah perang proxy.

Shautus Salam

Indonesia memiliki potensi sumber daya alam yang sangat besar. Letaknya pada garis khatulistiwa menjadikan Indonesia memiliki iklim yang baik untuk bercocok tanam sepanjang tahun. Indonesia juga kaya akan sumur-sumur minyak, gas, dan simpanan batubara.?

"Indonesia merupakan sumber energi, sumber pangan, dan sumber air bersih yang akan menjadi incaran kepentingan nasional negara-negara asing di masa depan," ucapnya.

Shautus Salam

Untuk itu ia mengingatkan Banser tentang pentingnya meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai gerakan dan ideologi yang berkembang di masyarakat.

”Kelompok-kelompok tersebut seringkali muncul dan bermetaforfosis dalam berbagai bentuk organisasi masyarakat yang mengusung misi-misi tertentu yang cenderung mengancam keutuhan dan kedaulatan bangsa,” tambahnya.

Sementara Khoirun Huda selaku Ketua GP Ansor Kabupaten Tangerang menyampaikan bahwa kegiatan Diklatsar Banser ini dilakukan secara rutin dalam rangka menyiapkan kader-kader muda NU untuk menjadi benteng ulama dan bangsa. Selain itu kegiatan ini juga momentum memperingati hari lahirnya Pancasila.?

Huda menyampaikan bahwa Pancasila sebagai falsafah dan ideologi dasar negara adalah warisan para pendiri bangsa yang harus dijaga dari gempuran ideologi-ideologi baru.?

“Saat ini banyak kelompok yang mencoba menggugat dan merongrong Pancasila lantas berupaya menggantikanya dengan ideologi yang berbeda, Banser dan Ansor sebagai bagian anak bangsa mempunyai tugas untuk terus mempertahankanya,” tuturnya.

Ketua GP Ansor Banten H Ahmad Imron yang juga hadir pada acara tersebut menambahkan bahwa baginya menjaga NKRI itu sama pentingnya menjaga Islam. Bahkan pada satu titik menjaga NKRI itu bisa jadi lebih penting karena menurutnya kemanan negara itu menjadi prasyarat untuk keamanan beragama.?

Ia mencontohkan betapa orang akan kesulitan menjalankan ibadah ketika negara dalam keadaan kacau atau bahkan perang.?

Kegiatan Diklatsar Banser yang digelar selama 4 hari ? tersebut setidaknya diikuti oleh seratus kader Banser dan rencananya ditutup pada hari Selasa (02/06). Adapun acara penutupan dilaksanakan di Pesantren Darul Archam, Rajeg. Red: mukafi niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Quote, Halaqoh Shautus Salam

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Shautus Salam sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Shautus Salam. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Shautus Salam dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock