Tampilkan postingan dengan label Quote. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Quote. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 Februari 2018

Krisis Akhlaq, Kitab Ta’lim Al-Muta’allim Semakin Relevan

Demak, Shautus Salam. Dalam rangka mengembangkan pendidikan berkarakter, kitab Ta’lim Muta’allim perlu dijadikan mata pelajaran utama. Pasalnya kitab ini mengajarkan secara detil perihal akhlak manusia sebagai individu, murid, sahabat, pengajar terhadap relasi sosialnya.

Demikian dinyatakan pengasuh pesantren Futuhiyyah Mranggen, Demak KH Muhammad Hanif Muslih ketika menyambut kunjungan ketiga kalinya rombongan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Republik Indonesia, Selasa (4/3).

Krisis Akhlaq, Kitab Ta’lim Al-Muta’allim Semakin Relevan (Sumber Gambar : Nu Online)
Krisis Akhlaq, Kitab Ta’lim Al-Muta’allim Semakin Relevan (Sumber Gambar : Nu Online)

Krisis Akhlaq, Kitab Ta’lim Al-Muta’allim Semakin Relevan

“Walaupun memang belakangan ini banyak yang menganggap bahwa kitab Ta’lim Al-Muta’allim karya Syekh Az-Zarnuji itu sudah tidak relevan lagi untuk diajarkan di pesantren ataupun lembaga pendidikan lainnya,” terang Kiai Hanif menyayangkan hadirnya anggapan demikian.

Shautus Salam

Menurutnya, pelajaran akhlaq masih cukup diandalkan sebagai alternatif untuk menanamkan sikap atau akhlaq terpuji bagi kalangan pelajar atau santri. (Dliya Uddin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Quote Shautus Salam

Shautus Salam

Minggu, 04 Februari 2018

GP Ansor Sukabumi Gelar Kecamatan Bershalawat Nabi

Sukabumi,Shautus Salam

Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Sukabumi menggelar Kecamatan Bershalawat Nabi di alun-alun Masjid Agung Palabuhan Ratu, Senin (12/6) dengan tema "Anugerah Alam, Anugerah Shalawat".

GP Ansor Sukabumi Gelar Kecamatan Bershalawat Nabi (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Sukabumi Gelar Kecamatan Bershalawat Nabi (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Sukabumi Gelar Kecamatan Bershalawat Nabi

Kegiatan yang disponsori Djarum Coklat tersebut juga menggelar buka puasa bersama dengan warga, para kiai, santri Palabuhan Ratu, bakti sosial berupa santunan anak yatim dan dhuafa, serta ceramah.

Ketua Pjs PC GP Ansor Kabupaten Sukabumi, Nurodin, mengatakan, pemuda NU bekerja sama dengan Djarum Coklat berikhtiar mewujudkan bangsa yang hidup rukun, damai dan toleran di tengah-tengah masyarakat

Shautus Salam

“Tentunya GP Ansor harus menjadi solusi dalam menghadapi cobaan yang menimpa bangsa ini,” katanya.

Shautus Salam

Kegiatan yang bertepatan dengan peringatan Nuzulul Quran itu, menurut Nurodin, diharapkan bisa meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT dan memperkuat Islam Ahlussunah wal-Jama’ah yang rahmatan lil alamin.

“Di usia menginjak 84 tahun, GP Ansor hadir di Indonesia sebagai pengawal Islam kebangsaan Islam rahmatan lil alamin yang selalu menjaga NKRI,” tegasnya.

Kegiatan tersebut dimeriahkan tim hadrah Rijalul Ansor Kabupaten Sukabumi dan tausyiah oleh KH Misbahuddin, dan juga doa tutup Rais Syuriah MWC NU yang juga Ketua MUI Kecamatan Palabuhan Ratu KH Useh Ahmad Ahwasi. (Sofyan Syarif/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Sholawat, Quote Shautus Salam

Minggu, 28 Januari 2018

Asbitnu, Media Komunikasi Penerbit NU dan Pesantren di Jatim

Surabaya, Shautus Salam. Pengurus Wilayah Lembaga Talif wan Nasyr Nahdlatul Ulama (LTN NU) Jawa Timur membentuk lembaga baru untuk menghimpun para penerbit di lingkungan pesantren dan NU. "Potensi penerbit NU dan pesantren di Jawa Timur sangat besar dan membanggakan," kata Ketua PW LTN NU Jatim, Ahmad Najib AR kepada media ini, Jumat (13/11).

Asbitnu, Media Komunikasi Penerbit NU dan Pesantren di Jatim (Sumber Gambar : Nu Online)
Asbitnu, Media Komunikasi Penerbit NU dan Pesantren di Jatim (Sumber Gambar : Nu Online)

Asbitnu, Media Komunikasi Penerbit NU dan Pesantren di Jatim

Gus Najib, sapaan akrabnya menjelaskan bahwa hampir di setiap pesantren memiliki penerbit. Baik skalanya terbatas dengan menerbitkan amaliyah harian maupun menerbitkan buku profil pendiri maupun pengasuh, lanjutnya.

"Bahkan ada sejumlah pesantren yang sudah bisa menerbitkan majalah sendiri, tentunya dengan oplah dan distribusi yang beragam," katanya.

Shautus Salam

Karena itu, untuk semakin merekatkan silaturahim dengan penerbit di tiap pesantren maupun struktur NU di setiap cabang, PW LTN NU Jatim mendirikan perhimpunan penerbit yang diberi nama Asbitnu.

Shautus Salam

"Asbitnu adalah kepanjangan dari Asosiasi Penerbit Nahdlatul Ulama," terang alumnus pasca sarjana UIN Sunan Ampel Surabaya ini. Diskusi terkait nama dan sejumlah perangkat kepengurusan telah dilakukan usai kegiatan sarasehan dan musyawarah penerbit pesantren dan nahdliyyin beberapa waktu berselang. "Untuk sosialisasi awal keberadaan Asbitnu akan disampaikan di TV9 Jumat petang, tepatnya jam 18.30," katanya.

Hal mendesak yang akan dilakukan berikutnya adalah melengkapi kepengurusan harian. "Selanjutnya akan ada pertemuan dengan sejumlah penerbit yang ada di Jawa Timur, baik di tingkat pesantren maupun PCNU se-Jatim," katanya.

Sejumlah penerbit menyadari bahwa masing-masing memiliki kekurangan dan kelebihan. "Karenanya, menghimpun dalam sebuah perkumpulan adalah langkah baik untuk melengkapi kekurangan yang ada," katanya. Diharapkan dari adanya asosiasi ini maka penerbit yang mengalami kesulitan dalam hal distribusi buku dan majalah dapat terbantu. "Demikian pula kebutuhan teknis yang menyangkut produksi, bisa dicarikan solusi bersama," tandasnya.

Bukan tidak mungkin, dengan mengoptimalkan jaringan pesantren dan kota se-Jatim, maka potensi ekonomi penerbitan dapat semakin dioptimalkan. "Dan yang pasti adalah jaringan ukhuwah dan dakwah bisa terjalin dengan lebih baik," pungkasnya.

Disamping membentuk asosiasi penerbit, PW LTN NU Jatim juga tengah mempersiapkan rangkaian kegiatan harlah yang akan berlangsung tanggal 12 Desember mendatang. Juga menyiapkan modul madrasah jurnalistik bagi lembaga pendidikan dan pesantren. (Ibnu Nawawi/Mahbib)

?

Foto: Ahmad Najib AR

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Quote, Ubudiyah Shautus Salam

Rabu, 10 Januari 2018

Abdus Salam (66), Sekali Banser Tetap Banser

Bondowoso, Shautus Salam - Abdus Salam kelahiran Bondowoso pada 12 Januari 1950. Ia salah seorang anggota Barisan Serbaguna (Banser) Nahdlatul Ulama yang paling tua di Kabupaten Bondowoso. Ia terhitung paling senior di Satuan Koordinasi Cabang (Satkorcab) Banser NU Kabupaten Bondowoso.

Salam mulai aktif sebagai anggota Banser pada 1965. Sampai sekarang ia tetap tercatat sebagai anggota Satkorcab Banser NU Bondowoso. Salam yang sehari-harinya berkerja sebagai petani, berkeluarga pada tahun 1986. Bersama istrinya Ahyati (53) ia tinggal di Kelurahan Sekar Putih Kecamatan Tegalampel Kabupaten Bondowoso.

Abdus Salam (66), Sekali Banser Tetap Banser (Sumber Gambar : Nu Online)
Abdus Salam (66), Sekali Banser Tetap Banser (Sumber Gambar : Nu Online)

Abdus Salam (66), Sekali Banser Tetap Banser

"Saya sejak sekolah Tsanawiyah Al-Khairiyah sudah aktif. Sambil lalu sekolah sudah menjadi anggota Banser zaman dulu. Tetapi waktu dulu asal tidak mengganggu jam sekolah, tidak apa-apa masuk Banser dan waktu itu saya juga anggota laskar sang kiai sebagai anggota kepemudaan," kata Salam saat di wawancarai Shautus Salam di kediamannya, Jumat ( 5/2) malam.

Awalnya Salam aktif sebagai anggota GP Ansor Bondowoso pada 1963. Sementara pada 1965 ia menjadi anggota laskar sang kiai kepemudaan dan mulai masuk menjadi anggota Banser di Bondowoso. Ia ikut berjuang di bawah pimpinan H Fatan.

Shautus Salam

Ia pernah menjadi Ketua RW, Ketua keamanan kampung, Ketua Banser sejak 1975-1985. “Banyak jabatan yang saya pegang waktu itu, tetapi alhamdulillah saya bisa membagi waktunya.”

Shautus Salam

Menjadi Banser waktu dulu, anggota membeli sendiri seragamnya dengan uang pribadi. “Sekarang alhamdulillah sudah diberi dari GP Ansor Bondowoso," ungkapnya.

Setiap ada kegiatan pengamanan atau kegiatan yang lain yang berkaitan untuk umat dan kiai, ia tidak menggunakan kendaraan sendiri. Ia selalu dijemput oleh teman Bansernya. Pasalnya ia tidak memunyai kendaraan.

Semangat dan ketekunannya mengabdi ke NU tidak pernah putus. Kendati tidak digaji dalam menjalankan tugas, ia tetap memegang amanah selama menjadi Banser.

"Saya tidak akan berhenti selama saya masih hidup. Saya akan terus mengabdi untuk NU. Kalau misalnya ‘pensuin’, saya sudah menjadi jenderal,” candanya sambil tertawa.

Ia berharap pejuang Barisan Ansor Serbaguna NU untuk menanamkan rasa ikhlas dan semangat untuk memperjuangkan, mempertahankan NKRI agar terus semangat, berkorban untuk masyarakat NU, bangsa, dan negara.

Abdus Salam masih tampak sehat dan segar meskipun sebagian rambutnya telah memutih. Ia masih aktif dalam kegiatan ke-NU-an beserta banomnya sampai sekarang. (Ade Nurwahyudi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Quote, Sejarah Shautus Salam

Jumat, 05 Januari 2018

Mengenal Psikosomatik Pengganggu Kualitas Hidup

Sidoarjo, Shautus Salam. Psikosomatik atau somatisasi merupakan penyakit fisik yang disebabkan oleh pikiran negatif atau masalah emosi. Dengan adanya Hal ini dapat menyebabkan fisik manusia menjadi terganggu. Gangguan tersebut akan diteruskan sebagai gangguan fisik badan secara menetap, bisa kronis bahkan sampai mengganggu hidup individu tersebut.

Mengenal Psikosomatik Pengganggu Kualitas Hidup (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengenal Psikosomatik Pengganggu Kualitas Hidup (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengenal Psikosomatik Pengganggu Kualitas Hidup

Menurut Kepala Humas Rumah Sakit Islam (RSI) Siti Hajar Sidoarjo dr Silvy, keluhan psikosomatik merupakan keluhan yang paling banyak dialami para pasien. Keluhan fisik tersebut mencapai 19,7-22 persen dan mengalami gangguan somatisasi hingga akhirnya mengganggu kualitas hidup pasien.

Sedangkan gangguan somatisasi disebabkan oleh banyak faktor baik dari dalam atau luar diri individu yang mengalami gangguan. Sehingga kebanyakan pasien datang ke pelayanan primer dan langsung menemui dokter.

Shautus Salam

 

Pasien yang mengalami gangguan psikosomatik atau somatisasi akan berangkat ke dokter berulang-ulang (doctor shopping) dengan keluhan bervariasi. Keluhan bisa sama bisa juga berubah-ubah. Bahkan yang paling khas menyangkal bahwa keluhannya berhubungan dengan masalah pribadi, akan diperiksa fisiknya secara berulang-ulang untuk memastikan sakit yang sebenarnya. Sehingga didapatkan semua hasil pemeriksaan dalam batas normal.

Shautus Salam

"Dengan demikian, apa yang terjadi dalam tubuh seseorang timbul dari dua hal bersinergi yaitu jiwa dan bodi. Peristiwa yang mengganggu jiwa memang dipastikan akan menimbulkan efek pada fisik atau badan seperti berdebar, keringat dingin, mual, pusing dan sebagainya. Namun, dengan sadar dan kontrol jiwa yang tepat, keluhan fisik tersebut akan hilang dengan sendirinya," kata dokter dari salah satu rumah sakit NU tersebut Sabtu (14/11).

Lebih lanjut dr Silvy menjelaskan, keluhan yang paling sering dilaporkan kepada dokter dan tidak ditemukan bukti gangguan fisik setelah pemeriksaan medis yaitu jantung, saluran cerna atas dan bawah, sistem pernafasan dan sebagainya.

"Hal ini terbukti dalam medis, dimana kesehatan jiwa merupakan komponen utama dalam munculnya sebuah keluhan fisik yang secara pemeriksaan fisik ditemukan semua dalam batas normal dan dikenal dengan istilah psikosomatik atau somatisasi. Oleh karena itu, jiwa yang tulus, ikhlas, berfikir positif dan selalu bersyukur adalah sumber kesehatan jiwa dan raga. Sebab, di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat dan di dalam jiwa yang kuat terdapat tubuh yang sehat," ujar dr Silvy. (Moh Kholidun/Abdullah Alawi)

Teks foto; dr Silvy saat memberikan penyuluhan kepada pasien dan keluarga pasien

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Quote Shautus Salam

Rabu, 20 Desember 2017

“Sedekah Tidak Akan Menjadikanmu Miskin”

Karawang, Shautus Salam. Salah satu keutamaan yang ada dalam sedekah adalah akan menjadikan hidup menjadi berkah, karena dengan bersedekah kita tidak akan merasa kekurangan apalagi sampai menjadi miskin. Demikian salah satu materi yang disampaikan oleh KH Hasan Nuri Hidayatullah, Rais PCNU Karawang saat memberikan taushiyah dalam kegiatan peresmian Mushola Al-Ridlwan yang berlokasi di Kampung Krajan Desa Mekarasih, Kecamatan Banyusari, Karawang, Rabu (1/6)?

“Sedekah Tidak Akan Menjadikanmu Miskin” (Sumber Gambar : Nu Online)
“Sedekah Tidak Akan Menjadikanmu Miskin” (Sumber Gambar : Nu Online)

“Sedekah Tidak Akan Menjadikanmu Miskin”

"Bagi orang yang mempunyai kelebihan harta, bisa bersedekah dengan hartanya, begitu pun untuk tenaga, pikiran, atau pun jabatan," tambah Kiai yang akrab disapa Gus Hasan itu

Jika tidak mampu bersedekah dengan ketiganya, kata dia, kita bisa bersedekah cukup dengan tersenyum dan lemah lembut dalam bertutur kata dan juga dalam bersikap. Pengasuh Pesantren Asshiddiqiyah 3 Karawang ini pun mengutip firman Allah SWT dalam Al-Qur’an yang menyatakan bahwa Allah akan menghapus riba dan mengembangkan sedekah.

"Riba itu seperti membangun sebuah piramid di atas lautan," tandasnya

Shautus Salam

Ketika piramida itu selesai dibangun, tambah dia, akan langsung ambruk dalam arti bahwa usaha yang dibangun di atas pondasi riba tidak dapat memberikan keberkahan dalam hidup.

Gus Hasan pun mengajak kepada para hadirin untuk lebih semangat lagi dalam beribadah dan bersedekah dan jangan sampai menundanya, karena sebagaimana hadits Nabi yang menyatakan jangan menunda lima perkara sebelum lima perkara diantaranya adalah hidup sebelum mati dan luang sebelum sempit.

Shautus Salam

"Dengan sedekah kita bisa mensyiarkan Islam dan membangun kesejahteraan umat, bedah mushola ini pun berjalan karena ada gerakan sedekah yang dimotori oleh Jamaah pengajian malam kemisan dan pengurus LAZISNU," paparnya.

Sebelum diresmikan, Mushola Al-Ridlwan mendapat sorotan dari tim Bedah Mushola yang terdiri dari jamaah pengajian malam kamis Pesantren Ashidiqiyah 3 dan Pengurus LAZISNU Karawang, tim ini kemudian bergerak untuk merenovasi gedung Mushola Al-Ridlwan. Kegiatan Bedah Mushola rutin dilaksanakan setiap bulan dengan sasaran utamanya adalah mushola yang hampir roboh atau mushola yang sudah tidak layak guna. (Aiz Luthfi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Berita, Quote Shautus Salam

Ikhtiar Batin, Direktur Marketing LSN Serahkan Kurban ke Pesantren

Garut, Shautus Salam



Tahun ketiga penyelenggaraan Liga Santri Nusantara menghadapi tantangan yang berat. Pasalnya, kika sebelumnya penyelenggaraan liga berbasis APBN, tahun ini merupakan transisi untuk diselenggarakan secara profesional. Dengan demikian, liga harus melibatkan peran serta swasta dan pemangku kepentingan lainnya.

Segenap tim Liga Santri Nusantara mulai dari pusat hingga daerah bahu-membahu untuk melewati masa transisional ini. Panitia nasional misalnya, tahun ini melibatkan peran-serta perusahaan-perusahaan baik swasta maupun BUMN dengan skema sponsorship dan partnership, bukan lagi dengan pola CSR. Panitia nasional tahun ini juga berhasil menjalin kerja sama dengan sebuah stasiun televisi swasta nasional terkemuka sebagai official media partner, selain bekerja sama dengan stasiun TV di lingkungan internal NU.

Ikhtiar Batin, Direktur Marketing LSN Serahkan Kurban ke Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Ikhtiar Batin, Direktur Marketing LSN Serahkan Kurban ke Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Ikhtiar Batin, Direktur Marketing LSN Serahkan Kurban ke Pesantren

Karena usaha lahiriyah itu saja dirasa kurang cukup, usaha batiniyah pun dilakukan. Dengan mengambil momentum Idul Adha, Direktur Marketing LSN, H. Ade Abdul Aziz, membagikan sejumlah hewan kurban (sapi dan domba) ke beberapa pesantren dan masyarakat di Kabupaten Bandung dan Garut, (Jumat, 1/9).

Penerima hewan kurban itu di antaranya adalah di Pesantren Nurulhuda Cisurupan, Garut. Ade menyerahkan sapi ke pesantren itu dengan diterima langsung pengasuhnya, KH Nuh Addawami. Sapi tersebut disembelih atas nama ajengan yang merupakan Rais Syuriyah PWNU Jawa Barat dan dzuriyahnya.

Shautus Salam

"Dengan menyerahkan hewan kurban kepada Rais Syuriah, saya berharap kecipratan keikhlasan beliau dalam berdakwah dan berkhidmah di pesantren dan di Nahdlatul Ulama selama ini. Beliau adalah panutan kita semua, terutama Nahdliyin di Jawa Barat. Kami di LSN sangat mengharap doa restu dari beliau sehingga LSN tahun ini berjalan lancar dan sukses, terlebih seri nasional LSN tahun ini akan digelar di Bandung bulan Oktober nanti," tandas Aziz.

Lebih lanjut Aziz mengatakan bahwa sebagai bagian dari komunitas pesantren, ikhtiar batin sangatlah penting.?

Shautus Salam

"Ikhtiar bathin itu sama pentingnya dengan ikhtiar lahiriyyah. Bahwa usaha kita tidak akan bisa lepas dari ridha Allah SWT. Ridha Allah salah satunya bisa diharapkan melalui washilah para ulama yang alim dan zuhud. Itu yang membedakan kita sebagai Nahdliyin dengan yang lainnya," pungkas Ade Aziz.

Untuk diketahui, ikhtiar bathiniyah untuk kelancaran Liga Santri juga seringkali dilakukan di antaranya dengan pembicaan Shalawat Nariyah, Manaqib, Ratin Alhaddad, khotmil Qur’an dan lain sebagainya. (Ali/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Quote Shautus Salam

Selasa, 19 Desember 2017

Menyerap Pelajaran Penting Tahun Baru Hijriah

Khutbah I

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Menyerap Pelajaran Penting Tahun Baru Hijriah (Sumber Gambar : Nu Online)
Menyerap Pelajaran Penting Tahun Baru Hijriah (Sumber Gambar : Nu Online)

Menyerap Pelajaran Penting Tahun Baru Hijriah

? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ?.

Shautus Salam

Waktu mengalir terus. Dan “tanpa terasa” kita sampai kepada pergantian tahun hijriah untuk kesekian kalinya. Detik menuju menit, jam, hari, bulan, hingga tahun senantiasa bergerak maju yang berarti semakin bertambah pula usia manusia. Yang perlu menjadi catatan adalah: apakah bertambah pula keberkahan usia kita? Ini pertanyaan singkat dan hanya bisa dijawab dengan merefleksikan secara panjang-lebar jejak perjalan hidup kita yang sudah lewat.

Tahun baru hijriah yang kita peringati setiap tahun terkandung sejarah dan nilai-nilai yang terus relevan hingga kini. Nabi sendiri tak pernah menetapkan kapan tahun baru Islam dimulai. Begitu pula tidak dilakukan oleh khalifah pertama, Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq. Awal penanggalan itu resmi diputuskan pada era khalifah kedua, Sayyidina Umar bin Khathab, sahabat Nabi yang terkenal membuat banyak gebrakan selama memimpin umat Islam.

Shautus Salam

Keputusan itu diambil melalui jalan musyawarah. Semula muncul beberapa usulan, di antaranya bahwa tahun Islam dihitung mulai dari masa kelahiran Nabi Muhammad. Ini adalah usulan yang cukup rasional. Rasulullah adalah manusia luar biasa yang melakukan revolusi ke arah peradaban yang lebih baik masyarakat Arab waktu itu. Karena itu kelahiran beliau adalah monumen bagi kelahiran perdaban itu sendiri. Tahun baru Masehi pun dimulai dari masa kelahiran figur yang diyakini membawa perubahan besar, yakni Isa al-Masih.

Yang menarik, Umar bin Khatab menolak usulan ini. Singkat cerita, forum musyawarah menyepakati momen hijrah Nabi dari Makkah menuju Madinah sebagai awal penghitungan kalender Islam atau kalender qamariyah yang merujuk pada perputaran bulan (bukan matahari). Karenanya kelak dikenal dengan tahun hijriah yang berasal dari kata hijrah (migrasi, pindah).

Jamaah shalat Jum’at rahimakumullah,

Memilih momen hijrah daripada momen kelahiran Nabi yang dilakukan Umar dan para sahabat lainnya mengandung makna yang sangat dalam. Kelahiran yang dialami manusia adalah peristiwa alamiah yang tak bisa ditolaknya. Nabi Muhammad pun saat lahir tak serta merta diangkat menjadi nabi kecuali setelah berusia 40 tahun. Beliau kala itu hanyalah bayi putra Abdullah bin Abdul Muthalib. Hal ini berbeda dari hijrah yang mengandung tekad, semangat perjuangan, perencanaan, dan kerja keras ke arah tujuan yang jelas: terealisasinya nilai-nilai kemanusiaan universal yang berlandaskan asas ketuhanan dalam Islam (rahmatan lil ‘alamin).

Nabi memutuskan hijrah setelah melalui proses panjang selama 13 tahun di Makkah dengan berbagai tantangan dan jerih payahnya. Mula-mula beliau berdakwah secara tersembunyi, dimulai dari keluarga, orang-orang terdekat, dan pelan-pelan lalu kepada masyarakat luas secara terbuka. Selama itu, Rasulullah mendapat cukup banyak rintangan, mulai dari dicaci-maki, dilempar kotoran unta, kekerasan fisik, hingga percobaan pembunuhan. Semua dilalui dengan penuh kesabaran dan kebijaksanaan. Modal utama hingga hingga beliau berhasil menyadarkan sejumlah orang adalah akhlak mulia.

Rasulullah tampil sebagai agen perubahan di tengah masyarakat Arab yang begitu bejat. Asas tauhid melenceng jauh karena menganggap berhala sebagai Tuhan. Nilai-nilai kemanusiaan juga nyaris tak ada lantaran masih maraknya perbudakan, fanatisme suku, harta riba, penguburan hidup-hidup bayi perempuan, dan lain-lain. Rasulullah yang hendak mengubah cara pandang dan perilaku masyarakat jahiliyah mesti berhadapan para pembesar suku yang iri dan tamak kekuasaan, termasuk dari paman beliau sendiri, Abu Jahal dan Abu Lahab. Pengikut Islam bertambah, dan secara bersamaan bertambah pula tekanan dari musyrikin Quraisy. Hingga akhirnya atas perintah Allah, Nabi Muhammad bersama para sahabatnya berhijrah dari Makkah ke kota Yatsrib yang kelak dikenal dengan sebutan Madinah.

Perjalanan hijrah dilakukan di malam hari dengan cara sembunyi-sembunyi dan penuh kecemasan, menghindari kejaran kaum musyrikin Quraisy. Beruntung kala di kota Yatsrib, Rasulllah bersama sahabat-sahabatnya disambut positif penduduk setempat. Sebagian dari mereka mengenal Islam dan bahkan sudah beraiat kepada Nabi saat di Makkah. Di sinilah Nabi membangun peradaban Islam yang kokoh. Jumlah penganut semakin banyak, semangat persaudaraan antara Muhajirin dan Ansor dipupuk, dan kesepakatan-kesepakatan dengan kelompok di luar Islam diciptakan, demi terwujudnya kehidupan masyarakat yang damai.

Mula-mula yang dilakukan Nabi setelah hijrah adalah mengubah nama dari Yatsrib menjadi Madinah. Mengapa Madinah (yang sekarang dimaknai sebagai “kota”)? Secara bahasa madînah berarti tempat peradaban. Perubahan nama ini memberi pesan tentang pergeseran pola perjuangan Nabi yang semula di Makkah banyak dipusatkan pada penyadaran pribadi-pribadi, menuju dakwah dalam konteks sosial yang terorganisisasi dalam negara Madinah. Di sini konstitusi (mitsaq al-madinah atau Piagam Madinah) dibangun, struktur pemerintahan disusun, dan aturan-aturan Islam seputar muamalah (hubungan antarsesama) banyak dikeluarkan di sana. Tentang Piagam Madinah, Nabi menjadikannya sebagai titik temu dari masyarakat Madinah yang plural saat itu, yang meliputi orang Muslim, orang Yahudi, suku-suku di Madinah, dan lain-lain. Demikianlah hijrah Nabi yang monumental itu seperti mendapatkan momentum puncaknya, yakni terwujudnya masyarakat yang beradab.

Jamaah shalat Jum’at rahimakumullah,

Setidaknya ada dua poin yang perlu digarisbawahi dari ulasan tersebut. Pertama, tahun baru hijriah harus dimaknai dalam kerangka perjuangan Nabi dalam merealisasikan nilai-nilai kemanusiaan universal yang berlandaskan asas ketuhanan dalam Islam (rahmatan lil ‘alamin). Nabi sebagai sosok—termasuk momen kelahirannya—memang layak dihormati, tapi ada yang lebih penting lagi yakni spirit dan prestasi beliau sepanjang periode risalah. Dalam perjuangan itu ada ikhtiar, pengorbanan, keteguhan prinsip, keseriusan, kesabaran, dan keikhlasan. Yang terakhir ini menjadi sangat penting karena Rasulullah bersabda:

? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya: “Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena menginginkan kehidupan yang layak di dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan.”

Nabi dan para sahabatnya menunjukkan ketulusan yang luar biasa semata hanya untuk jalan Allah. Namun justru karena niat seperti inilah mereka mendapatkan banyak hal, termasuk persaudaraan, keluarga baru, hingga kekayaan dan kesejahteraan selama di Madinah. Keikhlasan dan kerja kerasa dalam membangun masyarakat berketuhanan sekaligus berkeadaban berbuah manis meskipun tantangan akan selalu ada. Inilah teladan yang berikan Nabi dari hasil berhijrah.

Poin kedua adalah kenyataan bahwa Nabi tidak membangun negara berdasarkan fanatisme kelompok atau suku. Rasulullah menginisasi terciptanya kesepakatan bersama kepada seluruh penduduk Yatsrib untuk kepentingan jaminan kebasan beragama, keamanan, penegakan akhlak mulia, dan persaudaraan antaranggota masyarakat. Tujuan dari kesepakatan tersebut masih relevan kita terapkan hingga sekarang. Inilah hijrah yang tak hanya bermakna secara harfiah “pindah tempat”, melainkan juga pindah orientasi: dari yang buruk menjadi yang baik, dari yang baik menjadi lebih baik. Dan Rasulullah meneladankan, perubahan tersebut tak hanya untuk dirinya sendiri tapi juga untuk masyarakat secara kolektif.Semoga pergantian tahun hijriah membawa keberkahan bagi umur kita dengan belajar dari peristiwa hijrah Rasulullah yang monumental lengkap dengan nilai-nilai positif di dalamnya. Wallahu a’lam.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.? ? ? ? ? ? ? ? ?



Khutbah II


? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ! ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?



Alif Budi Luhur
Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Tegal, Jadwal Kajian, Quote Shautus Salam

Senin, 11 Desember 2017

Lembaga Zakat GP Ansor Probolinggo Distribusikan Puluhan Ton Beras

Probolinggo, Shautus Salam - Lembaga Amil Zakat (LAZ) di bawah binaan Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Probolinggo membagikan puluhan ton beras kepada fakir miskin dan kaum dhuafa di sebelas kecamatan di Probolinggo, Sabtu (25/2). Setiap orang penerima mendapatkan sebanyak lima kilogram.

Pendistribusian beras ini melibatkan seluruh pengurus GP Ansor mulai dari tingkat cabang hingga anak cabang, termasuk juga jajaran personel Banser. Mereka mendatangi tiap-tiap rumah warga miskin yang sudah didata sebelumnya.

Lembaga Zakat GP Ansor Probolinggo Distribusikan Puluhan Ton Beras (Sumber Gambar : Nu Online)
Lembaga Zakat GP Ansor Probolinggo Distribusikan Puluhan Ton Beras (Sumber Gambar : Nu Online)

Lembaga Zakat GP Ansor Probolinggo Distribusikan Puluhan Ton Beras

Ketua GP Ansor Kabupaten Probolinggo Muchlis mengatakan, pihaknya memang sengaja mendistribusikan beras ini dengan mendatangi langsung rumah warga miskin dan tidak mengundangnya ke satu tempat. Hal ini dilakukan untuk memuliakan para warga miskin.

Shautus Salam

"Mereka adalah warga miskin yang harus kita santuni dan didatangi. Bukan mereka yang harus mendatangi kita untuk mendapatkan bantuan. Kami tidak ingin mereka berdesak-desakan dan menunggu hanya untuk mendapatkan bantuan," katanya.

Menurut Muchlis, puluhan ton beras itu merupakan hasil pengumpulan yang didapat dari para dermawan yang diberikan kepada LAZ GP Ansor Kabupaten Probolinggo. Para dermawan itu terdiri atas PNS, kiai, tokoh agama, tokoh masyarakat serta pemuda Ansor dan Banser sendiri.

Shautus Salam

"Kegiatan semacam ini akan terus kita lakukan demi membantu masyarakat miskin yang membutuhkan. Karena itu kami terus mengharapkan dukungan dari para dermawan, khususnya yang ada di Kabupaten Probolinggo," pungkasnya. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Pondok Pesantren, Quote Shautus Salam

Rabu, 29 November 2017

Ramadhan Ini, NU Bantu Pengungsi Rohingnya

Langsa, Shautus Salam. Pengurus Pusat Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI NU) melakukan aksi kemanusiaan di camp pengungsi Rohinya di Aceh sejak Senin 23 Juni 2015. Aksi bertema "Rohingya Emergency Relief, Ramadhan 2015" ini dilakukan dengan memberikan paket buka puasa disertai doa bersama dengan 500 pengungsi Rohingya di Kota Langsa.

Ramadhan Ini, NU Bantu Pengungsi Rohingnya (Sumber Gambar : Nu Online)
Ramadhan Ini, NU Bantu Pengungsi Rohingnya (Sumber Gambar : Nu Online)

Ramadhan Ini, NU Bantu Pengungsi Rohingnya

LPBI NU menggandeng Islamic Help, LSM internasional asal Inggris yang pernah melakukan aksi kemanusiaan bersama NU? dalam Tsunami Aceh dan Gempa Yogyakarta di masa lalu. Aksi kemanusiaan ini juga melibatkan PW LPBI NU Aceh, PCNU Kota Langsa dan Dayah (Pesantren) di Kota Langsa.

Ketua PP LPBI NU, Avianto Muhtadi mengatakan bahwa saat ini kondisi pengungsi cukup terjamin. Ini berkat masyarakat Aceh yang sangat membantu dan ikhlas. Namun, tambah Avianto, saat menyiapkan paket buka puasa selalu saja ada yang kurang padahal paket dibuat lebih.

Shautus Salam

Dari pengamatannya langsung dengan para pengungsi, Avianto menilai ada potensi kericuhan, apalagi mereka berbeda etnis, akibat tak meratannya bantuan yang diterima pengungsi. Sebagian pengungsi mengambil jatah lebih banyak dari yang lain.

“Di camp, pemenuhan kebutuhan terpenuhi dengan baik namun menuai kecemburuan sosial dan kesenjangan antara penduduk setempat dengan mereka yang mendapat bantuan berlimpah,” imbuhnya.

Shautus Salam

Bagi Avianto, bantuan yang diberikan oleh berbagai pihak perlu dikelola dalam satu koordinasi agar tidak berdampak pada benturan kepentingan, di samping agar jelas akuntabilitas dan transparasinya. Ia juga berpendapat, Pemerintah perlu mendesak PBB agar melakukan mengambil alih bila negara asal pengungsi tidak menerima mereka kembali. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Quote, Hadits Shautus Salam

Dandim: Banser Harus Paham Proxy War

Tangerang, Shautus Salam. Komandan Kodim 0506 Tangerang Letkol Inf Irhamni Zainal menyampaikan bahwa Banser harus paham tentang proxy war. Ia menjelaskan bahwa proxy war merupakan perang masa kini dimana salah satu pihak menggunakan pihak ketiga atau komponen lainnya untuk berperang melalui aspek ideologi, politik, ekonomi, sosial dan aspek lainnya.

Dandim: Banser Harus Paham Proxy War (Sumber Gambar : Nu Online)
Dandim: Banser Harus Paham Proxy War (Sumber Gambar : Nu Online)

Dandim: Banser Harus Paham Proxy War

Hal tersebut pada pembekalan Diklatsar Banser Kabupaten Tangerang di Markas Kodim 0506 Tangerang pada Senin (01/06).

Menurutnya seiring perkembangan teknologi, karakteristik perang mengalami pergeseran. Perang tidak lagi banyak dilakukan secara fisik. Salah satu bentuk perang yang sedang dan masih akan terus berlangsung adalah perang proxy.

Shautus Salam

Indonesia memiliki potensi sumber daya alam yang sangat besar. Letaknya pada garis khatulistiwa menjadikan Indonesia memiliki iklim yang baik untuk bercocok tanam sepanjang tahun. Indonesia juga kaya akan sumur-sumur minyak, gas, dan simpanan batubara.?

"Indonesia merupakan sumber energi, sumber pangan, dan sumber air bersih yang akan menjadi incaran kepentingan nasional negara-negara asing di masa depan," ucapnya.

Shautus Salam

Untuk itu ia mengingatkan Banser tentang pentingnya meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai gerakan dan ideologi yang berkembang di masyarakat.

”Kelompok-kelompok tersebut seringkali muncul dan bermetaforfosis dalam berbagai bentuk organisasi masyarakat yang mengusung misi-misi tertentu yang cenderung mengancam keutuhan dan kedaulatan bangsa,” tambahnya.

Sementara Khoirun Huda selaku Ketua GP Ansor Kabupaten Tangerang menyampaikan bahwa kegiatan Diklatsar Banser ini dilakukan secara rutin dalam rangka menyiapkan kader-kader muda NU untuk menjadi benteng ulama dan bangsa. Selain itu kegiatan ini juga momentum memperingati hari lahirnya Pancasila.?

Huda menyampaikan bahwa Pancasila sebagai falsafah dan ideologi dasar negara adalah warisan para pendiri bangsa yang harus dijaga dari gempuran ideologi-ideologi baru.?

“Saat ini banyak kelompok yang mencoba menggugat dan merongrong Pancasila lantas berupaya menggantikanya dengan ideologi yang berbeda, Banser dan Ansor sebagai bagian anak bangsa mempunyai tugas untuk terus mempertahankanya,” tuturnya.

Ketua GP Ansor Banten H Ahmad Imron yang juga hadir pada acara tersebut menambahkan bahwa baginya menjaga NKRI itu sama pentingnya menjaga Islam. Bahkan pada satu titik menjaga NKRI itu bisa jadi lebih penting karena menurutnya kemanan negara itu menjadi prasyarat untuk keamanan beragama.?

Ia mencontohkan betapa orang akan kesulitan menjalankan ibadah ketika negara dalam keadaan kacau atau bahkan perang.?

Kegiatan Diklatsar Banser yang digelar selama 4 hari ? tersebut setidaknya diikuti oleh seratus kader Banser dan rencananya ditutup pada hari Selasa (02/06). Adapun acara penutupan dilaksanakan di Pesantren Darul Archam, Rajeg. Red: mukafi niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Quote, Halaqoh Shautus Salam

Selasa, 28 November 2017

MWCNU Bandar Surabaya Lampung Tengah Miliki Gedung Baru

Lampung Tengah, Shautus Salam. Majelis Wakil Cabang NU (MWCNU) Bandar Surabaya, Kebupaten Lampung Tengah, Lampung, memiliki gedung baru sebagai kantor dan sarana penunjang operasional kerja organisasi.

Gedung yang terletak di Desa Surabaya Ilir, Kecamatan Bandar Surabaya, ini telah diresmikan dengan disaksikan kurang lebih 600-an warga NU se-Kecamatan Bandar Surabaya, pada akhir pekan lalu.

MWCNU Bandar Surabaya Lampung Tengah Miliki Gedung Baru (Sumber Gambar : Nu Online)
MWCNU Bandar Surabaya Lampung Tengah Miliki Gedung Baru (Sumber Gambar : Nu Online)

MWCNU Bandar Surabaya Lampung Tengah Miliki Gedung Baru

Ketua PCNU Lampung Tengah Kiai A Jailani MS menyambut gembira adanya gedung baru MWCNU Bandar Surabaya. Menurutnya, ini memberi tanda bahwa panji-panji NU dan ruh NU hidup di seluruh pelosok-pelosok desa se-Lampung Tengah, mengingat kabupaten ini adalah yang paling luas di Provinsi Lampung, yaitu sebanyak 28 kecamatan dan Bandar Surabaya adalah kecamatan paling ujung timur Lampung Tengah.

Shautus Salam

“Harapan saya gedung kebanggaan warga nahdlyyin di kecamatan Bandar Surabaya ini adalah sebagai ruh dan gedung ini dapat dimaksimalkan sebaik-baiknya dan sebanyak mungkin oleh keluarga besar NU, baik Muslimat, GP Ansor, Fatayat NU, IPNU, IPPNU dan lain-lain,” ujarnya saat peresmian, Ahad (11/10).

Di sela-sela peresmian gedung MWCNU Bandar Surabaya juga dilaksanakan pelantikan jajaran pengurus PAC GP Ansor Bandar Surabaya masa khidmat 2015-2018 yang diketuai sahabat Nur Kholis dengan sekretaris, Apriadi.

Shautus Salam

Joko Utomo, selaku aktivis muda NU Lampung Tengah yang juga mantan Sekretaris PC IPNU Lampung Tengah mengaku bangga sekaligus berharap gedung MWC NU ini dapat dimanfaatkan untuk kegiatan yang positif untuk mensyiarkan dakwah NU, sekaligus sebagai pusat penyebaran Islam yang Rahmatan Lil Alamin bagi lingkungan masyarakat se kecamatan Bandar Surabaya khususnya dan kabupaten Lampung Tengah pada umumnya.

Hadir dalam peresmian gedung MWC NU Bandar Surabaya antara lain; KH. Daroini Ali, S.H.I (Pengasuh Pesantren Sabilun Najah Seputih Raman), jajaran pengurus PCNU Lampung Tengah, jajaran pengurus MWCNU Bandar Surabaya, kiai-kiai pengasuh pesantren, kiai-kiai langgar/musholla, perangkat kecamatan, Polsek, perangkat kampung, Muslimat NU, GP Ansor, Fatayat NU, IPNU, IPPNU, Banser, dan lain-lain. (Akhmad Syarief Kurniawan/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Daerah, Cerita, Quote Shautus Salam

Senin, 27 November 2017

Diklatsar Ke-3 Banser Rembang Komit Perangi Ekstrimisme

Rembang, Shautus Salam. Dalam upaya memerangi ekstrimisme dan radikalisme di Kabupaten Rembang, Satkorcab Banser Rembang kembali menggelar Pendidikan dan Pelatihan Kader Dasar (Diklatsar) ke-3 yang dilaksanakan di Desa Mlagen, Kecamatan Pamotan, Rembang, Jumat (15/7).

Dengan mengembil tema Membangun Militansi dan Meneguhkan Ideologi Aswaja Demi Menjaga NKRI, Diklatsar kali ini diikuti 150 peserta didik dari berbagai daerah yang ada di Kabupaten Rembang, diantaranya Kecamatan Kaliori, Sumber, Sulang, Sedan, dan juga Kragan.

Diklatsar Ke-3 Banser Rembang Komit Perangi Ekstrimisme (Sumber Gambar : Nu Online)
Diklatsar Ke-3 Banser Rembang Komit Perangi Ekstrimisme (Sumber Gambar : Nu Online)

Diklatsar Ke-3 Banser Rembang Komit Perangi Ekstrimisme

Kasatkorcab Banser Rembang Zainal Arifin menjelaskan jika, level Diklatsar pada kesempatan kali ini ditingkatkan menjadi level 2. Dengan harapan mendapatkan calon Banser yang benar-benar militan.

"Level Diklatsar ini tidak seperti biasanya, kita tingkatkan ke level dua, sehingga melahirkan Banser yang benar-benar solid dan militan,” ujar Zainal.

Shautus Salam

Pada mementum kali ini yang bertindak sebagai inspektur upacara pembukaan adalah Wakapolres Rembang Kompol Pranandya S yang mewakili Kapolres Rembang AKBP Sugiharto yang batal hadir dikarenakan ada kunjungan Kapolda Jateng ke Rembang. (Ahmad Asmui/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Kyai, Quote, Pendidikan Shautus Salam

Shautus Salam

Jumat, 24 November 2017

Pesantren Nuris Uji Santri Terjun di Masyarakat

Jember, Shautus Salam



Pondok Pesantren Nurul Islam (Nuris), Antirogo, Jember, Jawa Timur, terus meningkatkan performance santrinya agar bisa eksis di tengah-tengah masyarakat. Salah satunya adalah dengan ? Program Abdi Masyarakat (PAM).?

Pesantren Nuris Uji Santri Terjun di Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Nuris Uji Santri Terjun di Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Nuris Uji Santri Terjun di Masyarakat

Sebelum para santri benar-benar lepas dan menjadi alumni Nuris, ? mereka "diuji" dulu untuk terjun di masyarakat, menjalani pengabdian, beradaptasi dan bergaul dengan warga yang sama sekali baru.?

Sebanyak 146 santriwan-santriwati pada Jumat (28/4) dilepas untuk mengikuti PAM angkatan ke-5. ? Pelepasan yang dilakukan di halaman belakang Pondok Pesantren Nuris tersebut dihadiri oleh sang pengasuh, KH Muhyiddin Abdusshomad, para pengurus dan segenap santri.?

Kiai Muhyiddin menekankan pentingnya peserta PAM menjaga diri dan bersikap ramah selama berada di tengah-tengah ? masyarakat. "Teruslah kalian terapkan S6 selama kalian bertugas" tuturnya.?

Shautus Salam

S6 yang dimaksud Kiai Muhyiddin adalah singkatan dari sopan,santun, salam, sapa, senyum dan sanjung yang memang menjadi moto Nuris.

Sementara itu, pengasuh Nuris yang lain, KH Robith Qashidi menyatakan bahwa PAM mempuyai banyak manfaat bagi santri. Diantaranya, pertama adalah mempererat hubungan antar pesantren, khususnya pesantren Nuris dan tempat peserta PAM bertugas.?

Shautus Salam

Kedua, membekali santri dengan pengalaman mengajar, dan ketiga meningkatkan rasa percaya diri santri. "Kalau di perguruan tinggi, ini namanya KKN. Jadi tempat dan masyarakat di mana santri diterjunkan itu adalah miniatur masyarakat sesungguhnya yang kelak akan dihadapi santri ketika telah benar-benar lepas dari Nuris," ucapnya.

Pelepasan peserta PAM tersebut, ditandai dengan pengenaan jas PAM oleh Gus Robith Qashidi terhadap santri yang diwakili Nur Habibullah, siswa kelas XII IPA SMA. Sementara untuk perwakilan santriwati dikenakan oleh Ning Laili Happy Dianterhadap Shinta Louna Faqih, siswi ? kelas XI MA Unggulan Nuris.

Ke-146 santri tersebut diterjunkan di 16 ? pesantren di seantero Jember, dan satu pesantren di Bondowoso. Mereka akan menjalani pengabdian selama satu bulan penuh. (Aryudi A. Razaq/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Quote Shautus Salam

Kamis, 23 November 2017

Feminisme dalam Islam

Oleh Muhammad Shodiq Masrur



Orang masih sibuk bertanya. Orang juga masih saja sibuk berdebat, melontarkan berbagai argumentasi yang bisa jadi dibangun dari interpretasi pribadi. Isu feminimisme memang tidak habis-habisnya diperbincangkan. Tapi sesungguhnya, sudahkah kita bersepakat koridor feminisme yang diperdebatkan?

Feminisme dalam Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Feminisme dalam Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Feminisme dalam Islam

Bahwa feminisme tidak sama dengan emansipasi, kita harus bisa memahami hal tersebut. Jika emansipasi diterjemahkan sebagai pandangan yang mengusung peran serta wanita di ruang publik. Maka sesungguhnya feminisme lebih dari itu.

Apa yang diperkenalkan oleh Charles Fourier; aktivis sosialis utopis pada tahun 1837 mengenai feminisme adalah bentuk emansipasi secara lebih radikal. Dengan latar belakang kejenuhan akan nasib kaum wanita yang terjadi di barat, feminisme lahir dan mendukung persamaan mutlak hak serta kewajiban antara laki-laki dan perempuan di belbagai bidang. Mulai dari sosial, politik, hingga ekonomi.

Shautus Salam

Jika feminisme disamaartikan dengan emansipasi maka dalam koridor itu Islam sama sekali tidak mempermasalahkannya. Karena ajaran yang dibawa Islam sama sekali tidak merendahkan martabat wanita. Islam juga tidak datang untuk mengungkung dan memenjarakan mereka dalam sel-sel penjara imajiner di luar batas kemanusiaan.

Feminisme dalam Islam

Shautus Salam

Orang masih sibuk bertanya. Orang juga masih saja sibuk berdebat, melontarkan berbagai argumentasi yang bisa jadi dibangun dari interpretasi pribadi. Isu feminimisme memang tidak habis-habisnya diperbincangkan. Tapi sesungguhnya, sudahkah kita bersepakat koridor feminisme yang diperdebatkan?

Bahwa feminisme tidak sama dengan emansipasi, kita harus bisa memahami hal tersebut. Jika emansipasi diterjemahkan sebagai pandangan yang mengusung peran serta wanita di ruang publik. Maka sesungguhnya feminisme lebih dari itu.

Apa yang diperkenalkan oleh Charles Fourier; aktivis sosialis utopis pada tahun 1837 mengenai feminisme adalah bentuk emansipasi secara lebih radikal. Dengan latar belakang kejenuhan akan nasib kaum wanita yang terjadi di barat, feminisme lahir dan mendukung persamaan mutlak hak serta kewajiban antara laki-laki dan perempuan di belbagai bidang. Mulai dari sosial, politik, hingga ekonomi.

Jika feminisme disamaartikan dengan emansipasi maka dalam koridor itu Islam sama sekali tidak mempermasalahkannya. Karena ajaran yang dibawa Islam sama sekali tidak merendahkan martabat wanita. Islam juga tidak datang untuk mengungkung dan memenjarakan mereka dalam sel-sel penjara imajiner di luar batas kemanusiaan.

Islam justru memuliakan mereka. Menempatkan mereka sewajarnya manusia bukan barang dagangan, apalagi binatang. Islam juga mendorong mereka untuk ikut berpartisipasi dalam ruang lingkup publik yang lebih luas seperti halnya laki-laki.

Bandingkan dengan peradaban-peradaban lain di masa lalu. Romawi menempatkan wanita ibarat barang. Kepemilikan atas hak kehidupannya dimilliki seutuhnya oleh ayah mereka. Kebudayaan Cina dan Hindu pun tidak lebih baik daripada itu. Hak kehidupan mereka dimiliki selagi suaminya masih hidup. Saat suaminya meninggal, maka ia juga tidak memiliki hak untuk hidup.

Ajaran agama Islam tidak seperti itu. Al-quran sebagai landasan berpikir dan bertindak dalam agama Islam justru melegitimasi eksistensi keberadaan wanita. Wanita diberikan porsi hak, kewajiban serta hukum yang sama dengan laki-laki. Dalam salah satu ayat, Tuhan menyampaikan pesan bahwa ganjaran kebaikan yang diterima wanita sama persis dengan ganjaran yang laki-laki terima dalam mengamalkan kebaikan.

Islam memberikan ruang lingkungan dan sosial yang layak bagi perempuan. Tidak seperti kebudayaan elite Yunani. Yang mengharuskan wanita selalu berada di dalam istana. Islam memberikan ruang bagi wanita untuk keluar dan berinteraksi. Namun dengan beberapa catatan yang memang harus dipertimbangkan demi kemaslahatan bersama.

Wanita juga mendapatkan kebebasan untuk ikut andil dalam menjalankan perputaran roda ekonomi. Mereka memiliki hak untuk mengatur perdagangan seperti halnya kaum laki-laki. Tidakkah apa yang dilakukan Khadijah semasa hidupnya adalah sebuah dalih bagaimana bebasnya wanita mengatur ekonominya?

Islam juga memberikan ruang gerak wanita untuk berpartisipasi dalam ruang publik. Sudah menjadi maklum; bahwa Aisyah-istri nabi Muhammad yang paling muda merupakan salah seorang perawi hadis yang terkenal. Ia mendapatkan ruang publik untuk bebas bergerak dalam bidang pendidikan. Bahkan, ia juga pernah berpartisipasi dalam bidang peperangan sebagai satu dari tiga orang komandan perang di awal kepemimpin khalifah Ali bin Abi Thalib.

Apa yang dilakukan oleh Khadijah dan Aisyah yang notebene keduanya disebut-sebut sebagai ummahatul mu’minin (ibu dari orang-orang yang beriman) adalah sebuah bukti bahwa Islam mengakui dan meghormati eksistensi serta peran wanita dalam berbagai segmentasi kehidupan. Entah itu ruang privasi maupun ruang publik. Tak ayal bila dapat dipahami bahwa Islam masih selaras dengan feminisme dalam koridor tersebut. Tapi apakah itu berarti Islam juga menerima gagasan persamaan peran dan tanggungjawab antara laki-laki dan perempuan secara mutlak? Sebentar, tunggu dulu.

Sudah menjadi rahasia umum, salah satu dasar pemikiran feminisme adalah pandangan bahwa peran dan tanggung jawab yang berbeda antara laki-laki dan perempuan didasarkan atas nama budaya. Karenanya di tahun 2012, DPR RI memunculkan wacana pengesahan RUU KKG ( kesetaraan dan keadilan gender ) yang sarat kontroversi. Dalam pasal satu ayat yang pertama, disebutkan “Gender adalah perbedaan peran dan tanggung jawab laki-laki dan perempuan yang merupakan hasil konstruksi sosial budaya yang sifatnya tidak tetap dan dapat dipelajari, serta dapat dipertukarkan menurut waktu, tempat, dan budaya tertentu dari satu jenis kelamin ke jenis kelamin lainnya.”

RUU KKG ini terlihat menganggu pikiran Adian Husaini. Dalam salah satu bukunya, ”Seputar Paham Kesetaraan Gender” ia mempermasalahkan sebuah doktrin yang didasarkan pada kontruksi sosial budaya. Terlebih jika itu doktrin agama, maka tidak ada lagi nilai-nilai yang tetap dan bisa dijadikan acuan dalam hidup manusia secara universal. Tidak ada lagi yang sakral, semua bisa diubah sekehendak hatinya. Manusia juga menjadi sangat bebas, bahkan hingga tahapan enggan terikat dengan campur tangan Tuhan.

Memang, dalam khazanah disiplin ilmu ushul fikih dikenal satu kaedah, al-adah muhakamah. Bahwa suatu adat istiadat dapat menjadi landasan legitimasi suatu hukum dalam agama Islam. Namun ia tidak serta-merta mutlak. Ia memiliki batasan-batasan berdasarkan aturan ketetapan Tuhan.

Batasan-batasan inilah yang kontradiktif dengan tuntutan kesetaraan 50 berbanding 50 ala feminis. Tuhan sudah menetapkan wanita dengan kodratinya sebagai wanita. Fisik dan psikologinya jelas berbeda dengan laki-laki.

Ia mengalami fase melahirkan dan menyusui yang tidak mungkin dialami oleh laki-laki. Kedua fase tersebut dan ditambah dengan berbagai faktor lain membuat mereka mendapatkan porsi hukum yang berbeda dengan laki-laki. Di dalam masalah ibadah, jelas sekali mereka mendapatkan dispensasi taklif untuk tidak menjalankan ibadah semisal shalat dan puasa saat mereka mengalami masa menstruasi.

Kemudian, ketetapan-ketetapan lain dalam hukum Islam yang kerap dituntut oleh para feminis sebenarnya mengandung hikmah yang mendalam dalam hukum tersebut. Dalam pembagian harta warisan misalkan, feminisme memandang ajaran agama Islam sebagai ajaran yang tidak adil. Seorang laki-laki yang mendapatkan bagian dua kali lipat dari wanita adalah sebuah ketidaksetaraan yang harus diubah begitu saja.

Padahal jikalau dikaji lebih mendalam, terdapat hikmah yang sebenarnya sangat sederhana. Laki-laki mendapatkan bagian dua kali lipat dari wanita karena laki-laki memiliki tanggung jawab untuk menafkahi istri dan anaknya. Berbeda dengan wanita, harta yang ia miliki benar-benar miliknya sendiri. Ia tidak punya tanggungjawab menafkahi orang lain.

Kemudian terkait kepemimpinan, tidak bisa dielak bahwa isu tersebut merupakan isu yang paling panas nan seksi sampai saat ini. Terlepas dari pro-kontra kepemimpinan wanita yang terjadi, cukuplah kondisi wanita yang memungkinkan hamil, melahirkan, menyusui dan mendidik anak sebagai alasan untuk lebih fokus akan tanggung jawab mereka. Karena untuk menjadi seorang pemimpin, dibutuhkan banyak pengorbanan waktu, tenaga dan tentunya pikiran. Hal ini dapat menyebabkan gugurnya kandungan, terbengkalainya nasib anak dan lain sebagainya.

Meskipun memang, dalam realitanya tidak semua wanita lebih lemah dan tidak dapat memimpin laki-laki. Zakarya al-anshory dalam maha karyanya lubbul ushul menyinggung ayat arrijalu qawwamuna alan nisa’. Bahwa laki-laki lebih kuat dan lebih tangguh daripada wanita. Ia mengatakan, lafal arrijal dan annisa’ dalam ayat di atas sama-sama bersambung dengan alif-lam yang disebut mahiyah jinsiyah. Singkatnya, memang pada hakikatnya laki-laki lebih kuat daripada wanita, namun itu tidak menutup kemungkinan sebaliknya. Bahwa wanita memiliki kemampuan dan kapabilitas dalam memimpin kaum laki-laki itu mungkin saja. Hanya saja, itu terjadi sebagai sesuatu yang jarang,tidak secara global dan menyeluruh.

Penulis adalah alumnus (Program Keagamaan) MAN 1 Surakarta. Saat ini tercatat sebagai mahasiswa di Universitas Islam Indonesia sekaligus Mahasantri di Pondok Pesantren Nailul Ula, Plosokuning, Sleman, Yogyakarta.



Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Kiai, Quote Shautus Salam

Rabu, 22 November 2017

Kepada Para Kader NU di Mesir, Kiai Said: Jaga Aswaja

Kairo, Shautus Salam. Dalam lawatannya ke Mesir, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj menyempatkan diri untuk bertemu dengan Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Mesir, Rabu (1/3).?

Kepada Para Kader NU di Mesir, Kiai Said: Jaga Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)
Kepada Para Kader NU di Mesir, Kiai Said: Jaga Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)

Kepada Para Kader NU di Mesir, Kiai Said: Jaga Aswaja

Kiai Said memberikan arahan kepada para pengurus NU Mesir di sebuah tempat santai dan terbuka yang hanya tersedia beberapa kursi saja. Diskusi singkat tersebut dilakukan sesaat setelah dirinya menemui Grand Syekh Al-Azhar, Syekh Ahmad Thayyeb.

"Pertemuan saya dengan Grand Syekh intinya menekankan bahwa Mahasiswa Indonesia di Mesir harus tetap menjaga semangatnya dalam belajar dan tidak segan untuk senantiasa menjaga silaturahmi dengan Grand Syekh termasuk jika menemukan kesulitan," terang Kiai Said.

Kedua, lanjut Guru Besar Ilmu Tasawuf ini, kader-kader NU harus tetap menjaga Ahlussunnah wal Jamaah di Kairo dan tetap menyebarkan syiar kalau sudah pulang dari Mesir.

Shautus Salam

“Terakhir pesan saya, jangan terpancing rayuan politik bila belum matang,” tandas kiai asal Cirebon ini.

Kiai Said diundang menjadi salah satu pembicara dalam kegiatan Muktamar Al-Azhar dan Majelis Hukama dengan tema Kebebasan, Kebangsaan, Keberagaman dan Persatuan yang dihadiri para pemimpin Muslim se-dunia. (Red: Fathoni)?

Shautus Salam

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Cerita, Pahlawan, Quote Shautus Salam

Jumat, 10 November 2017

Nisfu Sya’ban, Persiapan Menuju Ramadhan

Jakarta, Shautus Salam
Tanggal 29 September 2004 hari ini bertepatan dengan 15 Sya’ban atau lebih dikenal dengan nama nisfu sya’ban yang dalam tradisi Islam memiliki arti khusus. Diberbagai pesantren dan masjid, warga NU selalu memperingatinya dengan membaca al Qur’an sehabis shalat maghrib dan sekaligus melakukan doa agar setahun ke depan keadaan menjadi lebih baik.

Syuriah PBNU KH Hafidz Usman nyatakan bahwa pada tanggal ini kita tutup buku amal ibadah dan melakukan introspeksi terhadap yang sudah kita lakukan selama tahun yang lalu dan berusaha memperbaikinya untuk tahun depan.

“Ini merupakan bagian dari upaya kita untuk mempersiapkan diri menjelang bulan suci Ramadhan, selanjutnya dalam tradisi kita kan mandi dan melakukan ziarah ke kubur para leluhur,” ungkapnya ketika dihubungi per telepon.

Ditanya tentang apakah ada amalan khusus yang dibaca dalam malam nisfu sya’ban Ketua MUI Jabar tersebut nyatakan bahwa mungkin amalan-amalan yang sifatnya khusus ada pada kelompok-kelompok tarekat tertentu yang tentu saja masing-masing berbeda.

Namun demikian, secara umum sehabis maghrib adalah membaca al Qur’an dan lebih khusus lagi adalah membaca surat Yasin tiga kali, membaca doa Nisfu Sya’ban dan paginya puasa.

Nishfu Shaban ditandai dengan turunnya ayat 144 Surat Al Baqarah....Fa walli wajhaka syathra al Masjidil Haram, wa haitsu ma kuntum fa wallu wujuhakum syathrahu....

Rasulullah (saw) hijrah ke Madinatul al Munawwarah, ketika beliau masih shalat menghadap Baitul Maqdis selama 16/17 bulan. Shalat Rasulullah yang pertama menghadap Kabah ketika Shalat di masjid Bani Salim. Baru dua rakaat shalat zhuhur, malaikat Jibril? menarik lengan Rasulullah saw beliau dan dihadapkan ke Kabah.

Turunnya ayat 144 Srt Albaqarah ditengah shalat,menjadi Rasulullah saw Shalat Zuhur menghadap ke Baitul Maqdis pada dua rakat pertama dan menghadap ke Kabah pada rakat kedua achir.(mkf)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Quote Shautus Salam

Nisfu Sya’ban, Persiapan Menuju Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)
Nisfu Sya’ban, Persiapan Menuju Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)

Nisfu Sya’ban, Persiapan Menuju Ramadhan

Maftuh Basyuni Wafat dalam Usia 77 Tahun

Jakarta, Shautus Salam. Kabar meninggalnya Menteri Agama RI periode 2004-2009 KH M. Maftuh Basyuni viral di media sosial. Kabar ini merupakan duka mendalam bagi bangsa Indonesia yang telah kehilangan tokoh berintegritas.?

Dikabarkan, pria berusia 77 tahun wafat pada hari Selasa (20/9). Almarhum meninggal di RS Gatot Subroto setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit tersebut. Sebelumnya, almarhum Maftuh sempat dirawat di salah satu rumah sakit di Malaysia. Di rumah sakit tersebut Maftuh sempat menjalani penyinaran untuk penyakit kankernya di sekitar paru-paru.

Maftuh Basyuni Wafat dalam Usia 77 Tahun (Sumber Gambar : Nu Online)
Maftuh Basyuni Wafat dalam Usia 77 Tahun (Sumber Gambar : Nu Online)

Maftuh Basyuni Wafat dalam Usia 77 Tahun

Muhammad Maftuh Basyuni, (lahir di Rembang, Jawa Tengah, 4 November 1939) adalah Menteri Agama pada Kabinet Indonesia Bersatu pimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Saat ini, jenazah almarhum disemayamkan di rumah duka di Pengadegan Jakarta Selatan. Sejumlah tokoh tampak hadir di rumah duka, di antaranya Sekjen PBNU Helmy Faishal Zaini, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki, Sekjen Kemenag Nur Syam, mantan Wakil Menteri Agama Nasaruddin Umar, mantan Sekjen Kementerian Agama Bahrul Hayat, dan sejumah tokoh lainnya.

Salah satu Ketua PBNU KH Hasib Wahab yang turut bertakziah sempat mengimami shalat jenazah. Menurut rencana, almarhum akan dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, setelah sebelumnya di shalatkan di Masjid At-Tin, Taman Mini Indonesia Indah. (Red: Fathoni)

Shautus Salam

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam

Shautus Salam Ulama, Quote Shautus Salam

Rabu, 08 November 2017

Kader Ansor Potensial Wujudkan Indonesia Agraris

Pesawaran, Shautus Salam -?

Kader Gerakan Pemuda Ansor memiliki potensi mewujudkan Indonesia sebagai negeri agaris yang tidak sekadar jargon, ujar Wakil Ketua Pimpinan Pusat GP Ansor Hadi Musa Said, di Pesantren Minhadlul Ulum, Trimulyo, ? Tegineneng, Pesawaran asuhan KH M Syaifudin Fatoni, Rabu (26/10).

Kader Ansor Potensial Wujudkan Indonesia Agraris (Sumber Gambar : Nu Online)
Kader Ansor Potensial Wujudkan Indonesia Agraris (Sumber Gambar : Nu Online)

Kader Ansor Potensial Wujudkan Indonesia Agraris

"Penduduk Indonesia hampir 300 juta dan sekitar 5-6 persen dari jumlah itu ialah warga Nahdlatul Ulama (NU). Dan sekitar 70-90 persen warga NU tinggal di perdesaan, otomatis berprofesi petani dan usaha menengah," paparnya.

Ansor adalah organisasi terbesar di Indonesia. "Kenapa saya berani mengatakan itu, karena kaderisasi Ansor sampai ke perdesaan dan kita punya data itu," tegas Hadi.

Ia melanjutkan, kader GP Ansor terbentuk dan terkoordinasi di bidang kepemudaan. "Kaderisasi kita yang sudah berlebih dan berarti potensi pemuda kita hari ini sudah sangat kuat luar biasa," paparnya.

Menurut Hadi lagi, Indonesia adalah negara agraris yang memiliki lahan luas, akan tetapi belum bisa dikelola dengan baik.

Shautus Salam

"Dengan fakta itu, kader Ansor harus menjadi pelopor untuk mengelola potensi tersebut dengan kemandirian yang akan menghasilkan nilai tambah," ujar dia lagi.

Menggandeng Kementerian Tenaga Kerja RI, PP GP Ansor menggelar "Pelatihan Wirausaha Baru Produktif" 24-27 Oktober 2016. Temanya "Meningkatkan Keterampilan dan Produktivitas Menciptakan Nilai Tambah dan Mampu Menjawab Tantangan Baru".

Pelatihan dengan materi motivasi wirausaha, budidaya tanaman organik, pembuatan pupuk serta pakan organik tersebut diikuti kader Ansor dari 7 kabupaten/kota: Lampung Tengah, ? Lampung Timur, Lampung Barat Metro, Pesawaran, Way Kanan dan Pringsewu. (Gatot Arifianto/Mahbib)

Shautus Salam

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Makam, Quote, Nasional Shautus Salam

Selasa, 31 Oktober 2017

Bupati: GP Ansor Nyata Karyanya di Bumi Waykanan

Waykanan, Shautus Salam . GP Ansor pada 24 April tepat berusia 81 tahun, adapun Kabupaten Waykanan di Provinsi Lampung pada Senin 27 April ini tepat berusia 16 tahun. Bupati Bustami Zainudin di Blambangan Umpu, Senin (27/4) menyatakan jika pemuda Ansor di daerah yang dipimpinnya nyata karyanya.

"Ansor di Waykanan nyata karyanya. Banyak hal sudah dilakukan Ansor," ujar Bupati Bustami dalam sambutan Harlah ke-81 Ansor dan peranannya di Bumi Waykanan Ramik Ragom melalui rilis berita yang diterima Shautus Salam, Senin (27/4).

Bupati: GP Ansor Nyata Karyanya di Bumi Waykanan (Sumber Gambar : Nu Online)
Bupati: GP Ansor Nyata Karyanya di Bumi Waykanan (Sumber Gambar : Nu Online)

Bupati: GP Ansor Nyata Karyanya di Bumi Waykanan

Bustami menegaskan, Ansor bukan organisasi baru, namun organisasi yang terlibat aktif dalam mengganyang penjajahan di Indonesia. "Secara yuridis hari ini terbebas dari penajajahan. Tapi hakikat penjajahan bukan secara fisik semata, tapi juga kemsikinan dan kebodohan bagian dari penjajahan, demikian juga dengan penindasan dan keterbelakangan. Tugas kita semua untuk memerangi semua itu," kata dia lagi.

Shautus Salam

Sebagai kader pemuda bangsa, imbuh Bupati Bustami, Ansor merupakan bagian yang bertanggung jawab terhadap pembangunan di Indonesia. Karena itu, Bupati Bustami berharap Ansor senantiasa menunjukkan eksistensinya terhadap negara dengan berpartispasi dalam pembangunan, demi tetap tegaknya, Pancasila, UUD 45, NKRI, Bhinneka Tunggal Ika.

Shautus Salam

Terkait pembangunan di bidang pendidikan, GP Ansor Waykanan bekerjasama dengan Mata Air Foundation menggelar bimbingan pasca ujian nasional (BPUN) guna membantu pelajar berprestasi namun kurang mampu untuk masuk perguruan tinggi negeri di Indonesia melalui Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) pada 1 Mei hingga 7 Juni 2015.

Bupati kemudian mengutip kata-kata mendiang Presiden Amerika John Fitzgerald Kennedy, yaitu ‘jangan tanyakan apa yang negara ini berikan kepadamu, tetapi tanyakan apa yang telah kamu berikan kepada negaramu’.

"Itulah kalimat nyata karyanya. Itulah subtansi pokok karya nyata itu. Partispasi pembangunan secara fisik, pikiran, tenaga atau ilmu pengetahuan, semua itu bagian karya nyata kita untuk membangun negeri. Kepada Ansor Waykanan, terima kasih atas partisipasinya dalam pembangunan bangsa dan negara, serta upayanya membina generasi pemuda ke arah yang lebih baik," pungkasnya. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Quote, Ahlussunnah, Humor Islam Shautus Salam

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Shautus Salam sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Shautus Salam. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Shautus Salam dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock