Tampilkan postingan dengan label Nusantara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nusantara. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 Februari 2018

Walau Sakit, Katib Syuriyah NU Caracas Istiqamah Ngaji

Subang, Shautus Salam. Berbeda dengan pengajian panen (pangaosan malem senen) sebelumnya di Tajug Al-Mukhtar, Katib Syuriah Ranting NU Caracas kecamatan Kalijati kabupaten Subang, KH Fatah Yasin Ekayana meminta pengajian kali ini digelar di kediamannya, Ahad (16/2) malam. Meski sakit, ia ingin pengajian tetap digelar.

Walau Sakit, Katib Syuriyah NU Caracas Istiqamah Ngaji (Sumber Gambar : Nu Online)
Walau Sakit, Katib Syuriyah NU Caracas Istiqamah Ngaji (Sumber Gambar : Nu Online)

Walau Sakit, Katib Syuriyah NU Caracas Istiqamah Ngaji

Kiai Fatah sedang sakit akibat kecelakaan lalu lintas beberapa bulan lalu. Kecelakaan itu mengakibatkan kaki kanannya patah dan dioperasi. "Malam ini bagian pak Fatah membaca kitab, dikarenakan ia masih gak bisa jalan. Jadi kita mengaji di rumahnya sekalian mendoakan," kata Ketua Ranting NU Caracas Hisyam Karim.

Kiai Fatah Yasin sendiri menyatakan tidak ingin libur dalam pengajian. Namun karena masih sakit dengan sangat terpaksa ia meliburkan diri. "Saya tidak ingin libur belajar dan mengajar. Walau masih belum bisa jalan, inginnya saya tetap istiqomah mengikuti pengajian NU Caracas, bukan cuma itu, saya juga masih ingin tetap mengajar, anak-anak yang ke sini, mereka belajarnya di rumah saya" jelas Fatah yang juga Guru di MTs dan MA Daarul Ikhlash.

Shautus Salam

Selain mengaji, para jemaah pengajian berdoa agar Kiai Fatah bisa cepat sembuh dan bisa berjalan normal kembali.

Dalam pengajian itu Kiai Fatah membaca dan menjelaskan Kitab Kasyifatus Saja bab Sesuatu yang Diharamkan bagi yang Punya Hadats Besar, yang dilanjutkan dengan istighotsah dan makan bersama. (Aiz Luthfi/Alhafiz K)

Shautus Salam

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Nusantara Shautus Salam

Senin, 29 Januari 2018

Tiga Hal untuk Jaga Kebinekaan Jadi Kekuatan

Surabaya, Shautus Salam. Perbedaan dalam berbagai hal yang terjadi di bumi Indonesia jangan dipandang sebagai ancaman. Justru itu adalah karunia Allah yang begitu besar bagi bangsa Indonesia, dan wajib disyukuri.

Demikian disampaikan Ketua PBNU Robikin Emhas saat memberikan pengarahan dalam acara Pertemuan Penulis Keislaman di hotel Sahid, Surabaya, Sabtu (2/12).

Tiga Hal untuk Jaga Kebinekaan Jadi Kekuatan (Sumber Gambar : Nu Online)
Tiga Hal untuk Jaga Kebinekaan Jadi Kekuatan (Sumber Gambar : Nu Online)

Tiga Hal untuk Jaga Kebinekaan Jadi Kekuatan

Menurutnya, keberagaman adalah kehendak Allah, sehingga manusia tak perlu memaksa untuk menyeragamkannya. "Kalau Allah sudah menciptakan manusia bineka, masak kita harus memaksa harus jadi satu," ujarnya.

Ia menambahkan, kebinekaan budaya, agama, suku dan sebagainya di Indonesia justru bisa menjadi kekuatan yang hebat dengan melakukan tiga hal. Pertama, meningkatkan tali silaturahim. Kedua, menjalin tali silatul afkar (hubungan gagasan). 

Shautus Salam

Setiap manusia tentu mempunyai pemikiran dan gagasan yang berbeda. Untuk itu, perlu dilakukan silatul afkar untuk mengelola perbedaan-perbedaan pemikiran tersebut menjadi kekuatan.

"Kita cari persamaanya, dan bukan merperbesar perbedaannya," lanjutnya.

Shautus Salam

Ketiga adalah silatul amal (kerja sama dalam aksi nyata). Poin ini menurut Robikin merupakan aksi nyata pengejawantahan kebersamaan dan persatuan yang berangkat dari kebinekaan. 

"Kebibekaan wajib kita kelola untuk menjadi kekuatan," ungkapnya.

Acara tersebut diikuti oleh 60 penulis keislaman se Jawa Timur, dan berlangsung hingga Ahad kemarin. (Aryudi A Razaq/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Nusantara, Nahdlatul Ulama Shautus Salam

Minggu, 21 Januari 2018

Krisis Rohingya, Bangladesh Khawatir Serangan terhadap Umat Buddha

Bazar Cox, Shautus Salam. Pemerintah Bangladesh, Jumat (15/9), mengerahkan ratusan polisi untuk melindungi kuil-kuil Buddha di wilayah tempat sekitar 400.000 Muslim Rohinyga mengungsi dari kerusuhan di Myanmar.

Hal tersebut dilakukan menyusul munculnya aksi demonstrasi ribuan massa usai shalat Jumat di perbatasan kota Coxs Bazar. Para pengunjuk rasa menuntut Myanmar menghentikan genosida minoritas Rohingya di sana.

Langkah pengerahan polisi itu merupakan upaya preventif Bangladesh atas serangan balas dendam minoritas umat Islam yang diliputi bayang-bayang kemarahan lantaran ditindas di tengah mayoritas umat Buddha di Myanmar. 

Krisis Rohingya, Bangladesh Khawatir Serangan terhadap Umat Buddha (Sumber Gambar : Nu Online)
Krisis Rohingya, Bangladesh Khawatir Serangan terhadap Umat Buddha (Sumber Gambar : Nu Online)

Krisis Rohingya, Bangladesh Khawatir Serangan terhadap Umat Buddha

Gelombang eksodus Rohingya ke tenda-tenda pengungsian Bangladesh mencapai lebih dari 300 ribu jiwa sejak eskalasi kekerasan meletus pada 25 Agustus lalu.

Kepala Kepolisian Coxs Bazar Iqbal Hossain mengatakan, 550 personel polisi telah dikerahkan di wilayah setempat, termasuk di 145 kuil Buddha, untuk mencegah meledaknya kekerasan etnis. Pihaknya merasa perlu memberikan rasa aman kepada umat Buddha yang tinggal di Bangladesh selama berabad-abad.

Shautus Salam

"Ini tindakan pencegahan," katanya kepada AFP. "Kami juga telah menyiapkan pos-pos pemeriksaan di seluruh distrik."

Pada tahun 2012, sekitar 25.000 Muslim pernah menyerang tempat ibadah dan bisnis umat Buddha di sekitaran Coxs Bazar menyusul dugaan pemasangan gambar yang mencemarkan nama baik Al Quran dalam sebuah unggahan seorang Buddhis di Facebook.

Sedikitnya 11 kuil Buddha dibakar dalam kerusuhan tersebut. Ada tuduhan dalam pers lokal bahwa beberapa Rohingya terlibat dalam serangan tersebut. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam

Shautus Salam Nusantara Shautus Salam

Sabtu, 20 Januari 2018

Pendidikan Pesantren Bekal Anak-Cucu Jalani Kehidupan

Probolinggo, Shautus Salam. Muslim mengenal adanya dua konsep kehidupan yang saling mempengaruhi satu sama lain, yakni hidup di alam dunia dan kelak kehidupan di akhirat Allah yang kekal. Konsep ideal yang diinginkan setiap muslim dalam hidupnya adalah selamat dunia dan akherat.?

Pendidikan Pesantren Bekal Anak-Cucu Jalani Kehidupan (Sumber Gambar : Nu Online)
Pendidikan Pesantren Bekal Anak-Cucu Jalani Kehidupan (Sumber Gambar : Nu Online)

Pendidikan Pesantren Bekal Anak-Cucu Jalani Kehidupan

Hal tersebut disampaikan oleh Daiyah asal Pasuruan Hj Uci Nurul Hidayati dalam taushiyahnya di malam peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-21 Pondok pesantren Syekh Abdul Qadir Al-Jailani Desa Rangkang Kecamatan Kraksaan Kabupaten Probolinggo, Rabu (24/5) lalu.?

“Semua pasti ingin kaya sehat, panjang umur, derajat dunia akhirat, mati dengan khusnul khotimah, mendapatkan nikmat kubur dan masuk dalam surganya Allah kelak,” ucap ning Uci dihadapan ribuan warga NU.

Pengasuh Pondok Pesantren Putri Al-Islahiyah Pasuruan ini mengajak kepada warga NU agar memilih pendidikan pesantren sebagai bekal anak dan cucu mereka nantinya dalam menjalani kehidupannya di dunia maupun kelak di akhirat.

Ia juga menjelaskan salah satu ayat al-Qur’an, yakni Allah akan mengangkat derajat manusia lebih tinggi beberapa derajad diantara manusia lain, bagi yang berilmu ? dan beriman kepada Allah SWT.

Shautus Salam

“Baik tidaknya kehidupan kita kelak di akherat adalah tergantung amal perbuatan kita di kehidupan dunia. Gunakanlah apa yang kita miliki di dunia ini sebagai sangu (bekal) ke akhirat. Semua konsep tersebut diajarkan secara penuh di pesantren, dengan memasukkan anak cucu kita di pesantren, Insya Allah anak dan orang tua nya akan diselamatkan dunia akhirat,” jelasnya.

Lebih lanjut ning Uci’ dengan tegas menampik banyaknya anggapan masyarakat terhadap rendahnya kualitas pendidikan pesantren dan keraguan orang tua terhadap masa depan anaknya selepas dari mondok di pesantren, sembari menuturkan sebuah lirik kalimat Istighfar.

Shautus Salam

“Barang siapa Allah tujuannya, niscaya dunia akan melayaninya, namun barang siapa menjadikan dunia sebagai tujuannya niscaya akan letih dan sengsara diperbudak dunia sampai akhir masa,” tuturnya.?

Sebagai penutup tausiahnya Ning Uci’ mengajak kepada masyarakat untuk jangan ragu-ragu lagi untuk memondokkan putra-putrinya di pesantren-pesantren yang telah ada selama ini.?

Selain mendapatkan ilmu agama yang memadai dan ilmu pengetahuan lainnya, yang terpenting adalah barokah dari para kiai dan nyai serta guru dan para pengasuh pesantren tersebut.

“Inilah keuntungan-keuntungan yang didapat dari pendidikan pondok pesantren, jangan khawatir akan rezeki anak-anak panjenengan, jika Allah ridho maka rezeki anak panjenengan akan senantiasa terjamin oleh Allah,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam News, Nusantara, Ubudiyah Shautus Salam

Selasa, 16 Januari 2018

Tangkal Radikalisme, Kapolsek Sidoarjo Kota Koordinasi dengan Ansor

Sidoarjo,? Shautus Salam. Menanggapi adanya isu radikalisme, Kapolsek Sidoarjo Kota Rocsulullah akan berkoordinasi dengan Pimpinan Anak Cabang Gerakan Pemuda Ansor Sidoarjo Kota agar bisa sejalan.

Karena Kapolsek Sidoarjo Kota tidak sepakat dengan kelompok radikal dan khilafah, karena gerakannya dirasa menganggu keamanan di masyarakat.

Tangkal Radikalisme, Kapolsek Sidoarjo Kota Koordinasi dengan Ansor (Sumber Gambar : Nu Online)
Tangkal Radikalisme, Kapolsek Sidoarjo Kota Koordinasi dengan Ansor (Sumber Gambar : Nu Online)

Tangkal Radikalisme, Kapolsek Sidoarjo Kota Koordinasi dengan Ansor

"Saya juga berterima kasih kepada Nahdlatul Ulama (NU) Sidoarjo yang telah turut serta dalam mengawal NKRI," kata Kapolsek Sidoarjo Kota, Rocsulullah, Rabu (10/5).

Sementara itu menurut Danramil Sidoarjo, Kapten Agus Fachrudin, PAC GP Ansor Sidoarjo Kota satu visi dengan Danramil. Kapten Agus Fachrudin menjelaskan bahwa Ansor memang dilahirkan untuk menjaga NKRI.

"Ansor dan Banser memang dilahirkan untuk menjaga NKRI, sama dengan kami," kata Kapten Agus. (Moh Kholidun/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam

Shautus Salam AlaSantri, Warta, Nusantara Shautus Salam

Rabu, 10 Januari 2018

Perkuat Kebangsaan, Kapolda Jabar dan Pangdam III Siliwangi Kunjungi Pesantren Fauzan

Garut, Shautus Salam - Kapolda Jawa Barat baru Irjen Agung Budi Maryoto yang dilantik bulan 5 September lalu mengunjungi Pondok Pesantren Fauzan Sukaresmi-Garut. Ia datang untuk melakukan konsolidasi dalam upaya menjaga keutuhan NKRI.

Kunjungan Kapolda Jabar dan Pangdam III Siliwangi disambut oleh Ketua PCNU Garut KH Atjeng Abdul Wahid beserta jajarannya, ribuan santri, ajengan dan pasukan Banser NU di Aula Pondok Pesantren Fauzan.

Perkuat Kebangsaan, Kapolda Jabar dan Pangdam III Siliwangi Kunjungi Pesantren Fauzan (Sumber Gambar : Nu Online)
Perkuat Kebangsaan, Kapolda Jabar dan Pangdam III Siliwangi Kunjungi Pesantren Fauzan (Sumber Gambar : Nu Online)

Perkuat Kebangsaan, Kapolda Jabar dan Pangdam III Siliwangi Kunjungi Pesantren Fauzan

"Pesantren merupakan benteng NKRI karena dari pesantrenlah lahir ulama-ulama yang siap menjaga dan mempertahankan NKRI," imbuh Kapolda Jawa Barat.

Shautus Salam

Pangdam III Siliwangi Mayjen Muhammad Herindra menyampaikan, "Islam yang diajarkan oleh nabi adalah Islam yang rahmatan lilalamin sebagaimana Islam yang diajarkan di Pondok Pesantren Fauzan ini."

Shautus Salam

Ajengan Atjeng Abdul Wahid mengimbau segenap umat Islam untuk menjaga keutuhan NKRI.

"Oleh karena itu, kita perkuat persatuan dan kesatuan demi tegaknya Pancasila dan utuhnya NKRI di tangan kita. Kalau bukan kita, oleh siapa lagi. Kalau bukan sekarang, kapan lagi," kata Ajengan Atjeng Abdul Wahid yang juga Pimpinan Pondok Pesantren Salaman (Fauzan III). (Muhammad Salim/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Habib, Nusantara Shautus Salam

Selasa, 09 Januari 2018

Persoalan Lingkungan Hidup, Persoalan Bersama

Bandar Lampung, Shautus Salam. Kerusakan hutan secara umum di wilayah Provinsi Lampung sudah mencapai separuh lebih dari luas hutan yang ada saat ini. Wahana Lingkungan Hidup Lampung (Walhi) pada 2014 merilis jika kerusakan lingkungan di Bandar Lampung semakin masif akibat salah kebijakan. Kepedulian masyarakat dan jurnalis akan lingkungan hidup masih perlu dioptimalkan.

"Berangkat dari hal-hal tersebut, GP Ansor terpanggil untuk berpartisipasi, bekerja sama dengan sejumlah pihak untuk membicarakan persoalan lingkungan hidup di Lampung melalui Riungan Kebangsaan. Persoalan lingkungan hidup ialah persoalan bersama," ujar Sekretaris PW GP Ansor Lampung Muhyidin Thohir di Bandar Lampung, Ahad (16/8).

Persoalan Lingkungan Hidup, Persoalan Bersama (Sumber Gambar : Nu Online)
Persoalan Lingkungan Hidup, Persoalan Bersama (Sumber Gambar : Nu Online)

Persoalan Lingkungan Hidup, Persoalan Bersama

Riungan (kumpulan) Kebangsaan digelar kali ini merupakan energi dan sinergi cinta Gusdurian Lampung, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) dan Palang Merah Indonesia (PMI) Bandar Lampung, The Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ) atau Masyarakat Jurnalis Lingkungan Hidup, GP Ansor, Justice Peace Integrity of Creation Fransiskanes Santo Georgius Martir (JPIC-FSGM), De Most (Motivasi Sidik Jari) dan Alumni Sanlat Bimbingan Belajar Pasca Ujian Nasional (BPUN) Waykanan 2015.

Shautus Salam

Riungan Kebangsaan digelar di Gedung B Aula Pasca Sarjana, Kampus IBI Darmajaya, Kamis (20/8) mulai pukul 13.00 WIB hingga selesai sebagai bagian dari rangkaian perayaan HUT AJI ke 21 yang jatuh pada 7 Agustus lalu. Selain itu, donor darah sebagai bagian acara juga dilakukan. Pelajar, masyarakat berminat mendonorkan darahnya untuk membantu mengatasi stok darah di Provinsi Lampung bisa menghubungi Disisi Saidi Fatah, Ketua Alumni Sanlat BPUN Waykanan 2015 di nomor 082377505585.

Tema yang dibahas pada Riungan Kebangsaan ialah "Bagaimana Agama-Agama Memandang Lingkungan Hidup?". Narasumber diskusi dimoderatori Ponita Dewi, Duta Genre atau Generasi Berencana 2013 ialah Putu Soeharta Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Bandar Lampung, Fatah Yasin aktivis lingkungan hidup dari GP Ansor Lampung, Supriyadi penyuluh Agama Budha Kantor Wilayah Kementerian Agama Lampung , Sr. Vincentia HK Komisi Kerasulan Awam dari Keuskupan Tanjungkarang, serta pegiat Majelis Semaan Al Quran dan Dzikrul Ghofillin.

Shautus Salam

"Kami berharap diskusi ini minimal melahirkan kesepakatan bersama untuk ada kegiatan kontinu mengingat dampak dari kerusakan lingkungan dan hutan beragam, tidak saja sektor kesehatan, sektor ekonomi masyarakat juga menjadi terganggu jika ekosistem keseimbangan alamnya sebagan sudah tidak berfungsi lagi," ujar Muhyidin lagi.

Untuk diketahui, Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Lampung pada 2014 menyatakan 70 persen lebih hutan produksi di Lampung rusak dan sekira 55 persen hutan lindung di Lampung sudah rusak. Adapun pihak Pemerintah Provinsi Lampung menyebutkan jumlah luas hutan di provinsi ini mencapai 30 persen dari luas daratan. Namun, sekitar 53 persen hutan negara yang ada sudah dalam kondisi rusak. (Hamengku Rayyan/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Sejarah, Nusantara, AlaNu Shautus Salam

Kamis, 04 Januari 2018

Kisah Rasulullah Mencoret Tujuh Kata

Sepotong sejarah penting dari banyak kisah perjalanan Islam periode awal adalah perjanjian hudaibiyah. Peristiwa ini tidak hanya menggambarkan ketegangan militer antara umat Islam dan musyrikin Quraisy tapi juga jejak diplomasi Rasulullah SAW.

Kesepakatan yang juga dikenal dengan sebutan ”shulhul hudaibiyah tersebut bermula dari rencana sekitar 1400 pengikut Rasulullah untuk menunaikan ibadah haji. Kaum musyirikin tidak rela. Mereka berupaya menghalangi pintu masuk kota Makkah dengan kekuatan militer yang cukup besar.?

Kisah Rasulullah Mencoret Tujuh Kata (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Rasulullah Mencoret Tujuh Kata (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Rasulullah Mencoret Tujuh Kata

Rasulullah yang tidak menginginkan peperangan pun lantas mengambil jalur perundingan. ? Hasilnya, pada bulan Maret 628 M atau Dzulqaidah 6 H, perjanjian hudaibiyah diputuskan, di antaranya menyepakati adanya gencatan senjata dan kesempatan beribadah umat Islam di Makkah.

Hanya saja, perundingan ini sempat berlangsung alot dan cenderung merugikan umat Islam. Contohnya, muncul penolakan-penolakan terkait dengan sebagian redaksi pembuka perjanjian yang diusulkan Rasulullah, sebagaimana diterangkan dalam kitab Hayatus Shahabat.?

Shautus Salam

”Tulislah bismillahirrahmanirrahim (atas nama Allah yang maha rahman lagi maha rahim),” perintah Nabi kepada juru tulisnya, Ali bin Abi Thalib.?

Ar-Rahman? Aku tak mengenal dia,” sahut perwakilan musyrikin Quraisy, Suhail bin Amr, memberontak. ”Tulis saja bismika allahumma seperti biasanya!”?

Umat Islam yang mengikuti proses perundingan tidak terima dengan protes ini. Mereka mengotot akan tetap mencantumkan lima kata yang sangat dihormati itu (bi, ism, allah, ar-rahman, ar-rahim).

Shautus Salam

”Tulis saja bismika allahumma,” Nabi menenangkan.?

Nabi kemudian menyambung, ”Tulis lagi, hadza ma qadla ’alaih muhammad rasulullah (Inilah ketetapan Muhammad rasulullah).”?

”Sumpah, seandainya kami mengakui Engkau adalah rasulullah (utusan Allah), kami tak akan menghalangimu mengunjungi Ka’bah. Jadi tulis saja Muhammad bin Abdullah,” Suhail kembali memprotes.

”Sungguh aku adalah rasulullah meskipun Kalian mengingkarinya.” Akhirnya Nabi mengabulkan tuntutan musyrikin Quraisy untuk mencoret dua kata lagi, rasul dan allah. ”Tulislah Muhammad bin Abdullah saja,” pintanya kemudian.?

Menghindari pertikaian dan pertumpahan darah adalah sikap yang dijunjung tinggi Rasulullah. Perdamaian menjadi prioritas tujuan, meski isi kesapakatan "mengurangi" kebesaran nama agama pada tataran simbolis.

Penggalan sejarah ini megingatkan kita pada sejarah penyusunan asas Pancasila. Demi persatuan dan kerukunan bangsa Indonesia, Piagam Jakarta yang memuat butir sila pertama ”Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” akhirnya diubah. Mayoritas ulama dan umat Islam Tanah Air menyepakati pencoretan tujuh kata dalam butir itu sehingga menjadi ”Ketuhanan Yang Maha Esa”. (Mahbib Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Lomba, Nusantara Shautus Salam

Selasa, 02 Januari 2018

Untuk Nikah, Hanya Butuh Kata Nekat dan Bismillah

Pati, Shautus Salam - Buku berjudul Stop Pacaran Ayo Nikah! karya Hamidulloh Ibda dibedah di Dialoegue Cafe Pati, Jalan P Sudirman Kabupaten Pati, Sabtu (21/5) sore. Menurut penulis buku ini, modal utama yang harus dimiliki pemuda saat mau menikah adalah nekat.

Penulis asal Desa Dukuhseti Kabupaten Pati menjelaskan bahwa menikah sebenarnya tidak perlu modal berbelit-belit, mewah, bahkan merelakan segala harta benda untuk kepentingan tasyakuran semata yang output-nya kadang hanya euforia dan gengsi.

Untuk Nikah, Hanya Butuh Kata Nekat dan Bismillah (Sumber Gambar : Nu Online)
Untuk Nikah, Hanya Butuh Kata Nekat dan Bismillah (Sumber Gambar : Nu Online)

Untuk Nikah, Hanya Butuh Kata Nekat dan Bismillah

"Salah satu karakter manusia Jawa itu nekat. Kalau umur sudah cukup, tapi belum nikah yanekat saja. Modal nikah cuma dua, yaitu nekat dan bismillah," ungkap Hamidulloh Ibda di kafe yang berdampingan dengan Taman Kota Pati.

Tampak hadir dalam bedah buku ini beberapa aktivis mahasiswa seperti aktivis NU, PMII, Ansor, HMI, GMNI, dan pelajar SMA dari Pati. Sementara hadirin lainnya berjumlah puluhan mahasiswa dari STAI Pati dan STAIN Kudus serta tamu undangan dari berbagai kalangan.

Shautus Salam

Selama ini banyak pemuda mengurungkan niat nikah hanya karena modal materi. Tidak sedikit pasangan yang mau menikah, namun dengan alasan belum dewasa, matang dan belum memiliki modal materi kuat mengurungkan diri untuk menikah lama dan tetap berpacaran.

"Kalau modal materi sebenarnya penting tidak penting. Yang penting itu niat kuat. Kalau ada uang pun tapi tak punya niat, sama saja," ungkap alumnus MA Madarijul Huda Kembang, Dukuhseti, Pati tersebut.

Shautus Salam

Modal nikah itu cukup nekat dan bismillah. "Nikah itu murah secara agama, namun secara budaya kayak resepsi, lamaran, tunangan, itu yang mahal. Namun pada prinsipnya itu tidak wajib, yang penting nikah secara agama terlaksana jika memang tidak kuat menggelar resepsi," kata Hamidulloh.

Dosen STAI Pati Fatimah Az-zahra yang hadir sebagai salah seorang narasumber diskusi mengatakan, buku ini sangat memotivasi para pelajar dan mahasiswa. Sebab, saat ini degradasi moral pelajar terutama seks bebas sangat merajalela.

Menurut mahasiswi STAIN Kudus Munawaroh, pacaran di kalangan pemuda Islam sudah membudaya. "Ini memang fenomena modern, namun buku ini mampu memprovokasi, memotivasi pemuda untuk berhenti pacaran jika tidak kuat menahan nafsu. Penulis buku ini juga memberi solusi kalau tidak kuat menahan nafsu, jangan pacaran. Hentikan, lalu menikahlah," kata Munawaroh. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Lomba, Nusantara, Halaqoh Shautus Salam

Minggu, 31 Desember 2017

PWNU Bali Siapkan Pendirian Perguruan Tinggi NU

Bali, Shautus Salam - Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Provinsi Bali telah membentuk tim khusus untuk mempersiapkan pendirian perguruan tinggi Nahdlatul Ulama di Bali.

Ketua PWNU Bali H Abdul Aziz ditemui di sela-sela Munas-Konbes NU 2017 di Lombok mengatakan, bahwa tim yang sudah bekerja delapan bulan ini, sedangkan terus menyusun persyaratan adminstrasi yang dibutuhkan Kementrian Dikti.

PWNU Bali Siapkan Pendirian Perguruan Tinggi NU (Sumber Gambar : Nu Online)
PWNU Bali Siapkan Pendirian Perguruan Tinggi NU (Sumber Gambar : Nu Online)

PWNU Bali Siapkan Pendirian Perguruan Tinggi NU

"Setidaknya sudah kami penuhi delapan persen persyaratan administrasi. Kami sangat intens berkomunikasi dengan PBNU," jelasnya.

H Aziz sangat optimis bahwa nantinya jika perguruan tinggi NU yang menurut rencana didirikan di Denpasar ini akan menjadi pilihan utama bagi lulusan sekolah-sekolah menengah.

Shautus Salam

"Tentunya ini menjadi peluang bagi kami, bahwa ini bisa berjalan dengan baik jika dikelola dengan profesional," tegasnya.

H Aziz mengakui, kendala utamanya adalah menyiapkan SDM pengajarnya karena persyaratan untuk menjalankan perguruan tinggi sekarang ini cukup ketat. Salah satunya harus ada enam dosen tetap yang linier di setiap prodi.

Shautus Salam

"Ini yang akan kita carikan solusi karena memang selama ini masalah SDM adalah masalah utama," terangnya. (Abraham Iboy/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam News, Cerita, Nusantara Shautus Salam

Selasa, 26 Desember 2017

Pagari NTT dari Kelompok Terorisme

Kupang, Shautus Salam. Maraknya aksi kekerasan yang dilakukan oleh sekelompok orang yang mengatasnamakan agama, memaksi kita sebagai warga negara Indonesia untuk aktif dalam menjaga perdamaian negara. Hal tersebuat membuat Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) gencar melakukan propaganda lewat media dan dialog yang dilaksanakan di sejumlah daerah di Indonesia.

Pagari NTT dari Kelompok Terorisme (Sumber Gambar : Nu Online)
Pagari NTT dari Kelompok Terorisme (Sumber Gambar : Nu Online)

Pagari NTT dari Kelompok Terorisme

Salah satunya kegiatan yang dilaksanakan di hotel Neo kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, Kamis (14/7) dengan tema “dialog lintas agama dalam pencegahan paham radikal-terorisme di NTT”. Sosialisasi ini diikuti oleh ratusan peserta dari berbagai kabupaten/kota di NTT.

Kegiatan ini terlaksana atas kerja sama dengan FKPT NTT dan BNPT RI. Dialog dihadiri oleh Mustasyar PBNUyang juga Imam Masjid Istiqlal KH Nasaruddin Umar, Prof. Dr. Syahrin Harahap, (Guru Besar UIN SUMUT), dan dua narasumber lainnya. Turut hadir sebagai undangan dari para pejabat daerah, tokoh agama, tokoh perempuan, tokoh adat, dan tokoh pemuda.

Shautus Salam

Dalam pembukaan dialog, Abdul Makarim sebagai kepala bidang agama, pendidikan, dan dakwah menyampaikan bahwa serangan bom sarina dan mapolresta Surakarta menadakan masifnya gerakan terorisme di indonesia.

Hal ini, kata dia, tidak bisa kita biarkan, tapi harus melakukan tindakan dini dalam pencegahan perilaku paham radikal-terorisme di Indonesia, khususnya di NTT.

Shautus Salam

“Paham radikal-terorisme merupakan paham yang berideologikan kekerasan dalam mewujudkan cita-cita mereka. Mereka berlindung dibalik nama agama guna mencari dukungan atas aksi dan kegiatan yang dilakukan,” sambung Pengurus MUI NTT ini.

Abdul Makarim menambahkan, “Dialog ini bertujuan untuk memberikan gambaran mengenai aksi terorisme yang terjadi di global dan Indonesia, oleh karena itu peserta diharapkan berperan aktif dalam penanggulangan paham radikal terorisme di NTT” tutupnya. (Muhammad Aras Prabowo/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Nusantara, Humor Islam, Pesantren Shautus Salam

Rabu, 20 Desember 2017

Meneg PDT Janji Fasilitasi Pendirian Pesantren di Daerah Tertinggal

Jakarta, Shautus Salam. Menteri Menteri Negara Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT) Lukman Edy berjanji akan memfasilitasi pendirian pesantren-pesantren di daerah tertinggal, terutama di kawasan timur Indonesia. Selain membawa misi pengajaran agama, kedekatan kiai dengan masyarakat diharap mampu menjadi pendorong perubahan di berbagai bidang, terutama ekonomi.

Hal tersebut dikatakan Lukman Edy saat memberikan ceramah di hadapan pengasuh kiai dalam acara "Silaturrahmi Kiai Pengasuh Pondok Pesantren dan Rapat Kerja Nasional Assosiasi Pondok Pesantren se-Indonesia atau Robitoh Ma`ahid Islamiyah (RMI)" di Asrama Haji, Pondok Gede Jakarta, Sabtu (19/5).

Meneg PDT Janji Fasilitasi Pendirian Pesantren di Daerah Tertinggal (Sumber Gambar : Nu Online)
Meneg PDT Janji Fasilitasi Pendirian Pesantren di Daerah Tertinggal (Sumber Gambar : Nu Online)

Meneg PDT Janji Fasilitasi Pendirian Pesantren di Daerah Tertinggal

"Terutama untuk pesantren-pesantren besar, ayolah mulai difikirkan pendirian pondok-pondeok pesantren di daerah tertinggl," kata Lukmat Edy bersemangat.

Menurut Sekjen DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu, kementrian yang dipimpinnya tidak mempunyai alokasi dana yang cukup besar dibanding kementerian lainnya, namun mempunyai kewenangan yang cukup besar dalam memberikan masukan-masukan kepada partai-partai lain.

"Alokasi yang diberikan kepada kami tidak lebih dari satu triliun tapi kami punya fungsi untuk konsolidasi lintas menteri dan departemen. Nanti program-program akan kami machingkan dengan program kiai," katanya.

Shautus Salam

Pada kesempatan itu pembicara lain Robert MZ Lawang, Sosiolog Universitas Indonesia, menyarankan agar pesantren mereorientasi peran para santri untuk kegiatan-kegiatan pengentasa kemiskinan. Menurutnya, pesantren-pesantren bisa menfasilitasi masyarakat untuk mempunyai dan menggunakan teknologi tepat guna, juga dalam pemanfaatan kekayaan alam setempat.

"Misalnya pengadaan air bersih melalui penerapan pompa setan, atau pengadaan listrik melalui pembangkit listrik tenaga air yang murah dan sederhana. Bisa juga misalnya dalam bentuk budi daya dan pengeringan jamur. Ini pekerjaan pekerjaan kecil dan bukan proyek besar, namun manfaatnya bisa dirasakan," katanya.(nam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Nusantara, Sejarah, Kajian Shautus Salam

Shautus Salam

Minggu, 17 Desember 2017

Bung Kus: Liga Sepakbola Kultur Baru di Pesantren

Jakarta, Shautus Salam - Tahun 2017 ini merupakan tahun ketiga Liga Santri Nusantara (LSN). Tahun ini, liga santri akan sepenuhnya dilaksanakan oleh PBNU melalui Rabtihah Maahid Islamiyah (RMI) yang merupakan asosiasi pesantren di lingkungan NU. Pengamat persepakbolaan nasional Mohamad Kusnaeni memiliki catatan tersendiri mengenai liga santri ini.

"Sepakbola merupakan olahraga yang paling populis, termasuk bagi kalangan santri. Sekalipun demikian, mengikuti kompetisi sebuah liga sepakbola adalah merupakan kultur baru bagi kebanyakan pesantren," terang pria yang akrab dengan sapaan Bung Kus ini.

Bung Kus: Liga Sepakbola Kultur Baru di Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Bung Kus: Liga Sepakbola Kultur Baru di Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Bung Kus: Liga Sepakbola Kultur Baru di Pesantren

Pria yang di LSN 2017 ini diberi amanah sebagai Direktur Kompetisi dan Pertandingan ini, lebih laniut menjelaskan, "Ada beberapa pekerjaan rumah yang harus dibenahi dari penyelenggaraan LSN tahun 2015 dan 2016. Di antaranya adalah perlu melakukan sosialisasi pertandingan beserta literasi peraturan-peraturan formal yang akan diadopsi oleh LSN 2017 ini. Kami ingin menjadikan LSN ini menjadi salah satu liga profesional yang diperhitungkan di negeri ini."

Shautus Salam

Salah satu yang akan dilakukan oleh Tim Kompetisi LSN adalah menginisiasi pendaftaran peserta secara online. "Sumberdaya LSN ini sungguh luar biasa besar. Dengan keterlibatan 1.024 kesebelasan berarti akan ada lebih dari 22 ribu pemain yang terlibat. Pendaftaran online akan memudahkan kita untuk menata database talenta-talenta hebat yang akan muncul dari pesantren. Dari perspektif kompetisi dan pertandingan, pendaftaran online juga akan memudahkan panitia penyelenggara dalam mengelola kompetisi," terang pria yang ternyata sangat mencintai dunia pesantren ini.

Shautus Salam

Guna mengoptimalkan penyelenggaraan pertandingan yang profesional, Direktur Kompetisi dan Pertandingan akan membentuk tim monitoring khusus yang akan diturunkan ke region-region.

"Tujuannya bukan saja untuk melakukan monitoring whats wrong atau whats right, tetapi juga untuk memberikan edukasi dan technical assistance kepada kalangan pesantren untuk lebih memahami sepakbola profesional," tambah Bung Kus.

Seperti diketahui bersama, LSN walaupun baru dua tahun dihelat tetapi sudah berhasil mengirimkan alumninya ke Timnas U-19. Dengan penyelenggaraan yang lebih profesional tahun ini, diharapkan ke depan akan LSN akan lebih banyak memberikan kontribusi terhadap dunia sepakbola Indonesia, termasuk Timnas. (Ali/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam RMI NU, Nusantara Shautus Salam

Jumat, 15 Desember 2017

Memandang Nabi Muhammad Secara Rasional

Studi tentang tokoh besar dunia selalu menarik. Dan Nabi Muhammad Saw., merupakan sebuah kitab pencerahan yang tak henti-henti menawarkan inspirasi dari berbagai sudut pandang. Sirah Nabawiyah Karya Cendekiawan Nahdlatul Ulama asal Banten ini merupakan salah satu sumber inspirasi hidup dengan cara yang baru, rasional, humanis dan objektif.  

Dengan mengambil tema Kajian “Sirah Nabawiyah: Nabi Muhammad Saw. dalam Kajian Sosial-Humaniora”  ini pengetahuan kita tentang sosok Nabi Muhammad Saw., tidak lagi bersifat mistik dan anti-sosial kemanusiaan. Paradigma studi ilmiah berbasis literatur kritis membuat Sirah Nabawiyah ini mampu merekan jejak Nabi Muhammad sebagai sosok humanis, pro-kerakyatan, dan bukan sekadar (seolah-oleh) “boneka-nya Tuhan”, melainkan aktor empiris yang nantinya bisa dipetik sebagai pelajaran berharga oleh kita semua.

Memandang Nabi Muhammad Secara Rasional (Sumber Gambar : Nu Online)
Memandang Nabi Muhammad Secara Rasional (Sumber Gambar : Nu Online)

Memandang Nabi Muhammad Secara Rasional

Ajid Thohir, Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung itu dalam mengkaji Sirah Nabawiyah bukan sekadar untuk mengetahui peristiwa-peristiwa sejarah tentang kisah-kisah atau kasus-kasus menarik seputar kehidupan Nabi Muhammad saw, melainkan meliputi untuk tujuan yang lebih penting, yakni  agar setiap Muslim mendapat pengetahuan hakiki akan Islam melalui nabinya secara utuh.  

Bagaimana Islam tercermin dalam kehidupan nyata Nabi Muhammad saw. dan bagaimana pula Rasulullah saw. mempraktikkan dan mewujudkan wahyu ilahi. Oleh karenanya, seluruh perilaku Nabi Muhammad saw. dalam wujud sejarahnya yang terikat pada tiga pilar agama, yaitu iman, islam dan ihsan, menunjukkan secara keseluruhan akan prinsip, kaidah, dan hukum Islam.

Shautus Salam

Nabi Muhammad Saw., melalui bukan hanya seorang yang terkenal ramah di antara kaumnya, tetapi sebelum itu beliau adalah seorang rasul yang didukung oleh Allah dengan wahyu dari-Nya dan dengan itu dalam pergaulan sehari-hari senantiasa penuh dengan misi untuk kemanusiaan. Ia melayani sahabat, menghormati orang tua, dan berekonomi sebagaimana manusia pada umumnya. Ia punya rasa bahagia, terkadang sedih, ia punya rasa takut akan bahaya, tapi sekaligus pencerah untuk sebuah problematika masyarakat.

Shautus Salam

Sirah Nabawiyah ini memberikan gambaran tipe ideal (al-matsal al-a’lâ) menyangkut seluruh aspek kehidupan pribadi Rasulullah saw. secara jelas dan dengan itu kita bisa memetik banyak tsaqofah dan pengetahuan Islam yang benar, baik menyangkut akidah, ruhaniyah, hukum, ataupun akhlak. Sebab, tidak diragukan lagi bahwa kehidupan Rasulullah saw. merupakan gambaran konkret dari sejumlah prinsip wahyu dan hukum Islam.- 

Data buku

Judul : Sirah Nabawiyah

Penulis : Dr. Ajid Thohir

Penerbit : Marja (Nuansa Cendekia) Bandung

Tahun : Cetakan Pertama 2014

Harga : 79.000

Peresensi : Syarif Yahya, pengurus Aswaja Center PCNU Kabupaten Temanggung. Pengajar Pesantren Ridlo Allah Temanggung Jawa Tengah

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Pendidikan, Nusantara, RMI NU Shautus Salam

Selasa, 05 Desember 2017

Ini Tiga Pesan PCNU Boyolali untuk Pendekar Pagar Nusa

Boyolali, Shautus Salam - Pengurus Cabang Pencak Silat NU Pagar Nusa Kabupaten Boyolali Jawa Tengah masa khidmat 2017-2022 dilantik, Ahad (29/10). Usai dilantik, dalam sambutannya Ketua Tanfidziyah PCNU Boyolali H Masruri menitipkan tiga pesan untuk para pengurus baru.

“Pertama. Pagar Nusa Boyolali segera merapat ke pesantren, jadikan pesantren basis Pagar Nusa. Jangan sampai bela dirinya dari kelompok lain,” tegas H Masruri.

Ini Tiga Pesan PCNU Boyolali untuk Pendekar Pagar Nusa (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Tiga Pesan PCNU Boyolali untuk Pendekar Pagar Nusa (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Tiga Pesan PCNU Boyolali untuk Pendekar Pagar Nusa

Amanat yang kedua, agar bersinergi dengan para pengurus Ma’arif NU di Boyolali. “Ekstrakurikuler yang ada di Ma’arif, mulai dari tingkatan MI sampai Aliyah ataupun SMK, sudah mulai kita hubungkan dengan Pagar Nusa,” imbuhnya.

Terakhir, ia berpesan kepada generasi muda Pagar Nusa pada khususnya, untuk menyiapkan diri mereka menjadi calon pemimpin NU di masa depan. “Kami titip NU, generasi NU yang akan datang adalah Pagar Nusa,” katanya.

Shautus Salam

Dalam kesempatan itu, turut hadir Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Pagar Nusa KH M Nabil Harun. Senada dengan Ketua PCNU Boyolali, Gus Nabil juga memandang penting pengembangan Pagar Nusa di berbagai lini.

Shautus Salam

“Harus dikembangkan di semua lini. Sekolah, pesantren, dan jadikan masjid sebagai basis Pagar Nusa,” tuturnya. (Ajie Najmuddin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam IMNU, Nusantara, Kajian Shautus Salam

Senin, 20 November 2017

Presiden Jokowi Pinta PMII Jadi Solusi Indonesia

Palu,? Shautus Salam?



Presiden Joko Widodo mengingatkan bahwa dunia saat ini berubah dengan cepat. Hal itu ditandai dengan munculnya internet.?

"Perubahan itulah yang harus terus kita ikuti kalau kita tidak ingin ditinggal oleh negara lain," kata presiden akrab disapa Jokowi saat membuka Kongres ke-XIX Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) di Masjid Agung Kota Palu, Sulawesi Tengah, Selasa (16/5).

Presiden Jokowi Pinta PMII Jadi Solusi Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Presiden Jokowi Pinta PMII Jadi Solusi Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Presiden Jokowi Pinta PMII Jadi Solusi Indonesia

Menurutnya, mahasiswa adalah strata elite kaum terdidik. "Oleh sebab itu mahasiswa khususnya PMII, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia harus menjadi bagian dari solusi bangsa ini, "katanya.?

Jokowi menyayangkan masyarakat yang suka demo, karena menurutnya, hal itu tidak produktif.?

"Habis energi kita untuk hal-hal seperti itu," kata insinyur lulusan UGM ini.?

Shautus Salam

Ia berharap agar energi masyarakat dialihkan kepada hal-hal produktif khususnya teknologi yang semakin maju.?

Nampak hadir pada pembukaan, Menristek dan Pendidikan Tinggi M. Natsir, Menteri PMK Puan Maharani, Menpora Imam Nahrawi, Kepala BNP2TKI Nusron Wahid, Ketua Majelis Pembina Nasional PMII Muhaimin Iskandar, Gubernur Sulawesi Tengah dan segenap pejabat lainnya. (Husni Sahal/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam

Shautus Salam Aswaja, Nusantara, Pahlawan Shautus Salam

Kamis, 09 November 2017

Rais Syuriyah PBNU Ingatkan Pemimpin 4 Pesan Sunan Giri

Pringsewu, Shautus Salam

Pada hakikatnya kepemimpinan atau jabatan bukanlah keistimewaan tetapi amanah yang harus dipertanggungjawabkan; bukan kesewenangan untuk bebas bertindak, tetapi kesediaan untuk melayani, kesiapan dalam kepeloporan dan keteladanan.

Rais Syuriyah PBNU Ingatkan Pemimpin 4 Pesan Sunan Giri (Sumber Gambar : Nu Online)
Rais Syuriyah PBNU Ingatkan Pemimpin 4 Pesan Sunan Giri (Sumber Gambar : Nu Online)

Rais Syuriyah PBNU Ingatkan Pemimpin 4 Pesan Sunan Giri

Demikian kata Rais Syuriyah PBNU KH Ahmad Ishomuddin menjelaskan hakikat dari sebuah kepemimpinan, Senin (08/02/16).

Ia mengingatkan para individu yang menjadi pemimpin dengan Hadits Nabi yang menyatakan bahwa jabatan adalah amanah yang apabila mereka tidak menunaikannya dengan baik, ditambah lagi jabatan tersebut bukanlah haknya, maka kenistaan dan penyesalanlah yang akan didapatinya di kemudian hari.

Shautus Salam

"Pemimpin ibarat kalbu (hati) di tengah anggota tubuh. Jika kalbu baik, maka baiklah masyarakat di sekitarnya. Demikian juga sebaliknya," tulis Gus Ishom, begitu ia biasa dipanggil, di dinding akun facebooknya.

Shautus Salam

Ia menegaskan bahwa pemimpin adalah penguat bagi semua yang lemah, tempat berlindung bagi semua yang takut, pelurus bagi semua yang bengkok, penerang bagi semua yang berada dalam kegelapan dan penunjuk jalan bagi mereka yang tersesat.

"Pemimpin itu seperti ibu yang penyayang dan penuh perhatian terhadap buah hatinya. Berani menahan kantuk bila anaknya tidak tidur apalagi sakit. Dibelainya saat disusukan dan disapihnya dengan berat hati. Seorang ibu bergembira memandang kebugarannya dan bersedih mendengar keluhannya " Ia mencontohkan ibarat seorang pemimpin.

Gus Ishom juga mengibaratkan bahwa pemimpin itu seperti seorang ayah yang juga amat kasih untuk anaknya. Berani berkorban waktu, harta, tenaga, jiwa dan bahkan raga demi kesuksesan anak-anaknya.

Setiap pemimpin sebagai manusia memiliki kekurangan dan kelemahan. "Oleh karena itu, dalam mencapai tujuan bersama sang pemimpin harus mau bekerja sama dan pandai memilih orang yang bersedia membantunya dengan baik. Jangan dipilih karena kedekatan dan loyalitasnya semata, karena dua hal itu sanggup meruntuhkannya," sarannya.

Dalam kesempatan tersebut Gus Ishom juga mengingatkan kita semua akan ajaran Raden Ainun Yaqin atau Sunan Giri, salah seorang Wali Songo, yang tertulis dibatu nisan makamnya tentang 4 pedoman hidupnya.

Pertama, wenehana mangan marang wong kang luwe atau berilah makan pada mereka yang lapar. Kedua, wenehana sandangan marang wong kang wuda atau berilah pakaian pada mereka yang telanjang). Ketiga, wenehana payung marang wong kang kudanan atau berilah payung pada mereka yang kehujanan. Terakhir, wenehana teken marang wong kang wuta atau berilah tongkat pada mereka yang buta. (Muhammad Faizin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Nusantara, Bahtsul Masail, Olahraga Shautus Salam

Senin, 30 Oktober 2017

Gus Dur is Somebody, Dipuja dan Dibenci

Jakarta, Shautus Salam. Gus Dur memang kontraversial, apa yang dikatakan seringkali menimbulkan polemik dikalangan masyarakat. Situasi ini telah menunjukkan keberadaan dan sikap Gus Dur penting untuk ditanggapi, baik atas dukungan dari mereka yang mencintai atau kritikan dari mereka yang membenci.

Rais Syuriyah PBNU KH Masdar F Mas’udi berpendapat Gus Dur adalah Somebody, tak ada orang yang bersikap netral terhadap Gus Dur, semua orang memperhitungkan keberadaannya.

Gus Dur is Somebody, Dipuja dan Dibenci (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Dur is Somebody, Dipuja dan Dibenci (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Dur is Somebody, Dipuja dan Dibenci

“Gus Dur adalah somebody, langka orang yang mendapat posisi seperti itu, sementara sebagian besar kita adalah nobody, keberadaannya tidak diperhitungkan,” katanya dalam diskusi buku tentang Gus Dur akhir pekan lalu.

Shautus Salam

Buku yang membahas tentang Gus Dur juga sudah sangat banyak, tapi sebagian besar hanya mengambil satu sisi pemikiran Gus Dur, atau kalau melihatnya secara komprehensif, ya hanya bersifat highlight saja.

Shautus Salam

“Gus Dur adalah manusia ide, gagasan bukan hanya mengartikulasikan gagasan yang ada, tetapi mengemukakan ide yang belum pernah dikemukakan orang lain. Sebagian besar orang kan komentator ide, sekedar mengomentari, ini juga penting, tetapi orisinalitas ide belum tentu dimiliki orang lain,” tambahnya.

Ia menjelaskan, terdapat tiga tahapan dalam pemikiran Gus Dur, yaitu gagasan, aksi dan institusionalisasi. Ia merupakan orang yang sangat kaya dengan ide, gagasannya mengejutkan, aksi politiknya juga luar biasa. Orang yang paling membenci bisa ditaklukkan dalam waktu singkat, seolah-olah tak ada jarak apa-apa,

Sayangnya, yang kurang adalah upaya institusionalisasi dari gagasan yang dimiliki. Ini merupakan ladang garapan yang masih sangat luas. Dilingkungan NU, ia pemimpin yang menandai titik balik khittah 1926, gagasannya luar biasa dan aksi pemihakan pada masyarakat juga luar biasa.

“Tetapi sebagai institusi, NU belum sempat dibangun sebagaimana gagasan menghendakinya. Jadi inventarisasi gagasan kurang, di PKB juga begitu, gagasan, pemikiran, politiknya luar biasa, aksinya juga kita tahu, tapi institusionalisasinya yang kurang,” terangnya. 

Aspek lain adalah Gus Dur merupakan tipe pemimpin yang one man show, semuanya berpusat pada dia. Ini sebenarnya bukan hal yang aneh mengingat dalam masyarakat NU, yang masih menjunjung tinggi kharisma pribadi.

“Masyarakat NU digerakkan oleh kharisma, bukan gagasan. Karena itu sebagian besar kita kalau disuruh berangkat ke utara tidak menanyakan mengapa ke utara, yang terjadi karena beliau menyuruh ke utara. Samikna waatokna, ini  kata-kata luara biasa, tak ada kritik dan internalisasi, perintah ditangkap langsung ke hati, tidak ada proses penalaran,” paparnya.

Ini menurutnya bukan persoalan sederhana kalau mau melakukan transformasi, NU ditangannya secara gagasan semua menyambut gagap gempita, tetapi NU sebagai institusi belum tertata.

Karena itu, kalau mau melanjutkan perjuangan Gus Dur, maka yang dilakukan adalah melakukan interpretasi, memperkaya gagasannya, tetapi yang lebih penting lagi adalah melakukan institusionalisasi dari ide-ide tersebut.

“Kalau institusionalisasi ini berhasil dilakukan, Gus Dur betul-betul masyaallah. Membangun institusi yang kompatible dengan gagasan kebangsaan, keislaman dan kemanusiaan, ini tidak mudah,” tandasnya.

Dijelaskannya, membangun organisasi yang sehat merupakan sesuatu yang berat, ada pengaruh personal yang kuat, kewibawaan masih bersifat personal, kesetiaan pada pemimpin bukan karena idenya, tetapi karena wibawanya, kharismanya. Ketika tidak ada proses transformasi, maka organisasi tidak ada pernah kuat. Organisasi baru kuat kalau seluruh konstituen meleburkan keakuannya kedalam kekitaan.

“Dalam masyarakat tradisional, “akunya” banyak yang gede. Ini menghambat terjadinya penguatan organisasi, NU ini terdiri dari “aku-aku” dan masing-masing independent,” imbuhnya.

Namun demikian, ini bukan hal yang mustahil untuk dirubah, asal dengan keteladanan, ini adalah sebuah revolusi budaya agar bisa berhasil dimasa mendatang, karena kalau tidak organisasi akan selalu dalam posisi lemah diantara individu-individu. (mkf)Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Syariah, Nusantara, AlaSantri Shautus Salam

Rabu, 18 Oktober 2017

Para Tokoh Berikan Penghormatan Terakhir Kepada Slamet Effendy

Jakarta, Shautus Salam. Para tokoh, baik dari lingkungan NU maupun non-NU, silih berganti mengunjungi rumah duka keluarga H Slamet Effendy Yusuf di perumahan Citra Grand Cibubur, Kamis (3/12).

Para Tokoh Berikan Penghormatan Terakhir Kepada Slamet Effendy (Sumber Gambar : Nu Online)
Para Tokoh Berikan Penghormatan Terakhir Kepada Slamet Effendy (Sumber Gambar : Nu Online)

Para Tokoh Berikan Penghormatan Terakhir Kepada Slamet Effendy

Rais Aam PBNU KH Ma’ruf Amin dan Mantan Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi tiba dalam waktu yang hampir bersamaan untuk memberi penghormatan kepada mendiang Slamet Effendy. Mereka bersalaman dan menyapa satu sama lain.

Kiai Said dan jajaran pengurus PBNU lainnya juga memberikan penghormatan dan menyampaikan  pesan terakhir sebelum jenazah diberangkatkan menuju Pesantren Tahfidzul Qur’an di Purwakarta Purwakarta, pesantren yang diasuhnya. 

Shautus Salam

Sejumlah menteri juga hadir seperti Menteri Agama Lukman Hakim Syaifuddin, Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa, Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi, Menteri Tenaga Kerja Hanif Dakhiri, Menteri Agraria dan Tata Ruang Fery Mursidan Baldan, dan Kapolda Metro Jaya Tito Karnavian. 

Hadir pula Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie, Mantan Ketua MPR Hidayat Nur Wahid, Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad, Fuad Bawazier, dan lainnya. 

Shautus Salam

Dalam pesan di watsapp, jenazah akan diberangkatkan dari rumah duka pukul 12 siang, tetapi dimajukan menjadi sekitar 11.30 mengingat permintaan keluarga di Purwokerta agar pemberangkatan jenazah dipercepat sebagaimana dikatakan oleh Isfah Abidah Aziz, wakil sekjen PBNU yang merupakan mantan staffnya di DPR RI. Akibatnya, beberapa pelayat tidak sempat bertemu dengan jenazah, apalagi jalan Alternatif Cibubur yang padat merayap.

Sebelum pulang, Hidayat Nur Wahid sempat menanyakan soal pelaksanaan tahlil. Ketika dijelaskan bahwa tahlil akan diselenggarakan selama tujuh hari di masjid An Nahdlah PBNU, ia berjanji untuk menyempatkan diri untuk hadir.(Mukafi Niam) 

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Nusantara, Pertandingan, Halaqoh Shautus Salam

Senin, 04 September 2017

Siswa MA Walisongo Produksi Cairan Khusus untuk Pertanian

Jepara, Shautus Salam. Peserta didik Madrasah Aliyah Walisongo Pecangaan Jepara yang tergabung dalam Unit Kegiatan Siswa (UKS) Farm Agriculture memproduksi cairan khusus untuk pertanian.

Siswa MA Walisongo Produksi Cairan Khusus untuk Pertanian (Sumber Gambar : Nu Online)
Siswa MA Walisongo Produksi Cairan Khusus untuk Pertanian (Sumber Gambar : Nu Online)

Siswa MA Walisongo Produksi Cairan Khusus untuk Pertanian

Beberapa jenis cairan diproduksi dari bakteri pemacu pertumbuhan tanaman (PGPR/ plant growth-promoting rhizobacteria) akar bambu, PGPR rumput tekek-tekekan akar serabut, PGPR rumput tekek-tekekan akar gada, dan mol rebung bambu yang manfaatnya untuk mencegah penyakit akar tanaman.

Ada pula dari mol bonggol pisang dan mol buah maja untuk perangsang pertumbuhan pada fase fegetatif, mol buah-buahan untuk perangsang bunga dan buah, serta probiotik pengurai tinja untuk pengurai tinja di septitank.

Shautus Salam

Delapan jenis cairan itu dipamerkan dalam kegiatan pelatihan dan pameran yang diadakan SMK Walisongo Pecangaan, Jepara, Jawa Tengah, di halaman sekolah setempat, Kamis (27/11) pagi.

Sri Utami, salah satu pegiat UKS tersebut menyebut proses pembuatan cairan-cairan itu. Siswi kelas X IPA itu menguraikan pembuatan probiotik pengurai tinja yang terbuat dari gula merah, lerin (air beras) dan rumen (kotoran sapi).

Shautus Salam

Proses pembuatannya memakan waktu 2 pekan. “Rumen 20 ml dimasukkan di dalam wadah yang berisi air gula merah. Selama proses penyimpanan tidak boleh terkena sinar matahari namun botol cairan ini dikasih celah sedikit,” jelas Utami.

Manfaat cairan itu urai siswi asal desa Pancur, Mayong untuk mempercepat penguraian tinja di dalam septitank menjadi air yang diserap tanah sehingga tidak perlu repot untuk menguras.

Manfaat lain, lanjut dia, untuk meningkatkan kandungan mikro organisme pengurai di dalam tanah serta sebagai pupuk cair untuk fermentasi jerami.

Dalam setiap botol cairan dijual dengan harga berbeda. Khusus Probiotik Pengurai Tinja harganya Rp. 10.000/ mil. Lainnya, Rp.5.000 per 330 mil.

Dalam proses memproduksi mereka tidak sendirian namun didampingi pembina UKS Farm Agriculture, Saiful  Anam serta waka kesiswaan, Mukhlisin. (Syaiful Mustaqim/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Nusantara, Pemurnian Aqidah, Anti Hoax Shautus Salam

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Shautus Salam sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Shautus Salam. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Shautus Salam dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock