Tampilkan postingan dengan label Kajian Sunnah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kajian Sunnah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 Februari 2018

Rangkul Anak Muda, NU Pasuruan Deklarasikan Densus Antinarkoba

Pasuruan, Shautus Salam

Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Pasuruan memebentuk Densus Antinarkoba seiring dengan peringatan hari lahir ke-93 NU. Unit ini dibentuk atas dasar keprihatinan peredaran dan penyalahgunaan narkoba di Indonesia, khususnya Kota Pasuruan, Jawa Timur.

Densus Antinarkoba yang dipimpin Ketua Lakpesdam NU Kota Pasuruan Waladi Imaduddin dideklarasikan PCNU Kota Pasuruan, akhir pekan kemarin (24/4), bersama mitra strategisnya yang sebelumnya menandatangani nota kesepahaman tentang komitmen pemberantasan narkoba di Kota Pasuruan, yakni Polresta Pasuruan dan Forum Komunikasi Biker Pasuruan (FKBP).

Rangkul Anak Muda, NU Pasuruan Deklarasikan Densus Antinarkoba (Sumber Gambar : Nu Online)
Rangkul Anak Muda, NU Pasuruan Deklarasikan Densus Antinarkoba (Sumber Gambar : Nu Online)

Rangkul Anak Muda, NU Pasuruan Deklarasikan Densus Antinarkoba

Waladi mengatakan bahwa Densus Antinarkoba adalah lembaga taktis NU yang di dalamnya terdiri dari aktivis NU, elemen organisasi anak muda, pemerintah, dan kepolisian untuk bersama-sama melakukan perang melawan narkoba.

Shautus Salam

"Kita membaca grafik peningkatan pengguna narkoba yang tiap tahunnya sangat mengkhawatirkan dan membahayakan dengan korbannya adalah anak muda. Ini harus dilakukan gerakan bersama untuk perang melawan narkoba dan mewujudkan zero narkoba di Kota Pasuruan. Untuk itu NU perlu merangkul komunitas anak muda sebagai mitra strategis," ucap Waladi.

Bahrul Ulum, sekretaris daerah Kota Pasuruan, atas nama Pemerintah Kota Pasuruan menyampaikan apresiasi yang tinggi atas gerakan PCNU Kota Pasuruan yang mampu merangkul anak muda untuk bersama-sama memerangi narkoba.

Shautus Salam

"NU adalah organisasi pertama di Kota Pasuruan yang secara resmi mendeklarasikan perang melawan narkoba dan Pemerintah Kota Pasuruan siap bekerja sama," ujarnya di sela acara deklarasi yang digelar di Aula Lantai II Gedung PCNU Kota Pasuruan.

Acara tersebut dirangkai dengan kegiatan sosialisasi bahaya narkoba kepada komunitas anak muda. Beberapa narasumber yang hadir Kasat Reskoba Polresta Pasuruan AKP Marlon Logo Tadu dan anggota komisi D DPRD Propinsi Jatim H. Muzammil Syafii. Forum disesaki ratusan pelajar, mahasiswa, dan anggota Forum Komunikasi Bikers Pasuruan (FKBP), organisasi komunitas anak muda pecinta motor di Pasuruan.

KH Muhammad Nailur Rohman atas nama Pengurus Tandfidziyah PCNU Kota Pasuruan dan Ketua Panitia Harlah Ke-93 NU mendorong agar NU menjadi motor pemberantasan narkoba dan bergerak merangkul komunitas anak muda.

"Harlah NU tidak boleh hanya dilakukan secara seremonial saja, tapi harus dilakukan dalam bentuk gerakan untuk kemaslahatan umat. Dan Harlah NU ke-93 ini kita jadikan mementum untuk melakukan gerakan perang melawan narkoba," kata pria yang akrab disapa Gus Amak ini. (Hanan/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Kajian Sunnah, Nahdlatul Shautus Salam

Jumat, 09 Februari 2018

NU Surabaya Kirim Bantuan ke Sampang

Jakarta, Shautus Salam. Pagi hari tadi, PCNU Kota Surabaya mengirimkan bantuan untuk korban konflik Sunni-Syiah di Kabupaten Sampang, Madura.

Bantuan berupa sembako, peralatan shalat dan mandi, pakaian dewasa dan bayi, dikirim dengan mobil kotak. 

NU Surabaya Kirim Bantuan ke Sampang (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Surabaya Kirim Bantuan ke Sampang (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Surabaya Kirim Bantuan ke Sampang

"Ini pengiriman yang ketiga kali sejak posko kemanusian dibuka pada hari Senin 27 Agustus. Kami anak-anak muda NU, santri dan masyarakat umum bergantian ke lokasi pengungsian," jelas Ahmad Inung, koordinator posko, yang dihubungi melalu telepon, Kamis siang, (30/8).

Shautus Salam

Inung mengatakan, bantuan dikumpulkan dari beragam masyarakat yang ada di surabaya. "Komunitas Muslim, Cina yang agama Budha, Kristen, dan komunitas-komunitas lain berjamaah untuk meringankan beban saudara-saudara yang ada di sana," ujar Inung di kantor PCNU Kota Surabaya.

Sementara itu, Rais Syuriyah PCNU Kota Surabaya KH Imam Ghozali Said dalam sambutan pelepasan bantuan mengatakan bahwa konflik di Sampang jangan dikatakan sematan-mata konflik keluarga. 

Shautus Salam

"Jangan disembunyikan ini di Sampang ada sentimen Sunni-Syiah. Memang ada persoalan keluarga, tapi persoalan madzhab agama juga ada. Kalau disembunyikan dan kita menghindari, tidak akan selesai nanti," terangnya.

Penulis: Hamzah Sahal

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Kajian Sunnah Shautus Salam

Jumat, 19 Januari 2018

Keluarga Jelaskan Kronologi Wafatnya KH Ali Mustafa Ya’qub

Tangerang Selatan, Shautus Salam

Rais Syuriyah PBNU periode 2010-2015 KH Ali Mustafa Ya’qub berpulang ke rahmatullah, Kamis (28/4) pagi di Rumah Sakit Hermina, Ciputat, Tangerang Selatan, Banten. Pihak keluarga menjelaskan, almarhum sudah merasakan sakit flu dan masuk angin pada Rabu malam hingga kemudian dibawa ke Rumah Sakit Hermina.

Hal tersebut disampaikan Ali Nurdin yang mewakili keluarga dalam konferensi pers kepada awak media di Ruang Madaris, Pesantren Darussunnah, Ciputat, Tangerang Selatan, Kamis (28/4).

Keluarga Jelaskan Kronologi Wafatnya KH Ali Mustafa Ya’qub (Sumber Gambar : Nu Online)
Keluarga Jelaskan Kronologi Wafatnya KH Ali Mustafa Ya’qub (Sumber Gambar : Nu Online)

Keluarga Jelaskan Kronologi Wafatnya KH Ali Mustafa Ya’qub

Pengurus yayasan sekaligus alumni Pondok Pesantren Darussunnah Ciputat ini mengatakan bahwa setelah dibawa ke Rumah Sakit Hermina pada Rabu malam, Kiai Ali dibawa pulang ke rumahnya lagi. "Beliau masih kuat untuk Salat subuh di rumah," jelasnya.

Shautus Salam

Sekitar pukul setengah enam pagi, imbuh Nurdin, Kiai Ali dibawa kembali ke Rumah Sakit Hermina karena merasakan sakit lagi. "Dari rumah ke mobil (menuju RS Hermina), Kiai sudah dipapah," ungkapnya.

Nurdin mengatakan bahwa proses wafatnya Kiai Ali begitu singkat dan cepat. Namun, keluarga pihak keluarga tetap tabah menerima kenyataan ini.

Shautus Salam

Menurutnya, Kiai Ali sudah banyak menuntun para mualaf untuk membaca syahadat dan masuk Islam. Maka dari itu, jelas Nurdin, Kiai Ali bersama sahabat-sahabatnya sebelum wafat sedang mempersiapkan lembaga advokasi untuk para mualaf.

Ada ratusan bahkan ribuan orang yang sedang menshalati jenazah KH Musthofa Ali Yaqub di Masjid Muniroh Assaadah, di kompleks Pesantren Darussunnah. Beberapa tokoh mengiringi proses peristirahatannya yang terakhir, di antaranya Prof Quraish Shihab. (Muchlison Rochmat/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Kyai, Kajian Sunnah Shautus Salam

Rabu, 17 Januari 2018

Selain Kitab Suci, Al Quran Juga Kitab Literasi

Semarang, Shautus Salam

Bertempat di ruang rapat Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kebangpol) Provinsi Jawa Tengah, Kamis (7/12), dosen STAINU Temanggung, Hamidulloh Ibda mengajak puluhan PNS Kesbangpol itu melek literasi media digital.



Selain Kitab Suci, Al Quran Juga Kitab Literasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Selain Kitab Suci, Al Quran Juga Kitab Literasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Selain Kitab Suci, Al Quran Juga Kitab Literasi



Menurut dia, selain menjadi kitab suci yang berisi petunjuk, hukum-hukum, dan sejarah, kitab Alquran adalah kitab literasi karena perintah Tuhan pertama kali kepada Nabi Muhammad adalah perintah membaca.

"Perintah Tuhan pertama kali tidaklah bekerja, menikah, shalat, apalagi korupsi, tapi iqra. Bacalah, dan dengan kalam. Ini jelas-jelas adalah perintah literasi," kata Ibda yang juga pengurus Bidang Literasi Media Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Provinsi Jateng.

Shautus Salam

Kegiatan tersebut diikuti puluhan peserta yang didominasi abdi negara (PNS) dalam kegiatan bertajuk Pendidikan dan Pelatihan Literasi Media dan Jurnalisme Umum. Kegiatan sebagai upaya menajamkan PPID di Badan Kesbangpol Provinsi Jateng selama dua hari, Rabu-Kamis, 6-7 Desember 2017.

Shautus Salam

Jadi, katanya, Al Quran merupakan kitab literasi sebagai penyempurna kitab sebelumnya, yaitu Taurat, Zabur dan Injil.

"Di Al Quran, perintah membaca ada 89 kali dan menulis 303 kali. Maka sesuai pilar literasi yaitu baca, tulis dan arsip, puncak dari literasi adalah tulisan karena ia akan abadi," ungkap penulis buku Sing Penting NUlis Terus.

Dijelaskan Ibda, tradisi literasi menjadi solusi atas kondisi SDM dan bisa mendorong akselerasi kualitas literat dan memberantas buta aksara, buta informasi dan buta media di negeri ini. Sebab, menurut dia, perkembangan zaman begitu pesat dan hanya orang yang menguasai media digital yang akan berkuasa.

"Tantangan kita, terutama abdi negera di Badan Kesbangpol adalah banjir informasi, serangan hate speech, hoaks dan fake news. Ada sekitar 800 ribu situs penyebar hoaks sampai akhir 2016. Lalu kita adalah jamiyah medsosiyah, pengguna aktif gawai tapi masih nggak paham cara menyeleksi, mengakses dengan bijak dan mampu membedakan mana berita orisinil, dan mana berita palsu," jelasnya.

Literasi media digital, menurut dia adalah bukan sekadar mengetahui jenis media daring, siber atau online, dan membedakannya dengan medsos.





"Namun mampu memetakan, mana media pers, blog dan mana website milik lembaga atau pemerintah. Sebab, tidak semua situs itu bisa kita konsumsi," ujar dia.

Kalau sesuai regulasi, katanya, minimal media siber itu sudah dapat izin SK Kemenkum HAM, berbadan hukum, mendapat SIUP, TDP, ada surat domisili.





"Lalu, mereka juga harus punya kantor, wartawan di lapangan, berita bukan copy paste. Juga harus punya susunan redaksi, kontak dan profil, jurnalisnya sudah lolos Uji Kompetensi Wartawan, dan terhimpun dalam organisasi pers seperti PWI, AJI, AWPI, IWO dan yang lain," kata dia.

Selain itu, katanya, media siber yang laik konsumsi juga harus ramah, beritanya tidak hoaks, fake dan tidak menjadi pabrik hate speech dan perusak isu SARA.





"Minimal media digital yang kita konsumsi memenuhi prinsip dan menerapkan peran dan fungsi pers sendiri. Ya menginformasikan, edukasi, kontrol, hiburan dan menjadi jembatan antara pemerintah dan rakyat," ujar dia.

Hal itu pun Ibda sampaikan belum tentu cukup, karena media digital yang dikonsumsi juga harus bisa menerapkan 9 ayat atau prinsip bahkan 10 prinsip jurnalisme menurut Bill Kovach dan Tom Rosenstiel.





"Sejak tahun 2001, lewat buku The Elements of Journalism, Bill Kovach dan Tom Rosenstiel mengajarkan kita untuk melakukan 9 ayat jurnalisme agar media dan berita itu benar-benar mencerahkan," beber dia.

Semuanya juga harus diimbangi dengan dua cara berpikir.





"Pertama adalah cara berpikir wartawan. Bisa dilakukan dengan wawancara, klarifikasi atau tabayun. Wartawan bisa mendasarkan kebenaran hanya sebatas wawancara dan klarifikasi. Tapi apa cukup itu? Tentu harus dilengkapi yang kedua, yaitu cara berpikir ilmuwan. Jadi untuk mendapatkan kebenaran, harus ilmiah, logis, sistematis, metodologis, empiris dan juga minimal melalui tiga tahap filsafat ilmu, yaitu ontologi, epistemologi dan aksiologi," beber dia.

Dalam implementasi literasi media, kata dia, minimal kita harus melakukan beberapa hal teknis.





"Mulai dari pasang kuda-kuda, melawan berita hoaks, fake, fitnah, menguasai berita, mengolah berita menjadi positif, arif dan aktif di medsos, berdakwah melalui medsos dan kembali kepada Al Quran atau kitab suci lain sebagai kitab literasi," paparnya.

Penulis buku Stop Pacaran Ayo Nikah ini berharap, ke depan literasi tidak hanya menjadi bahan diskusi melainkan semua hal bisa dijadikan wahana literasi, karena hakikat literasi adalah upaya untuk mendapatkan pengetahuan, membaca, menulis dan mengetahui sumber informasi dan ilmu.

Ia mengajak gerakan literasi media digital dimulai dari diri sendiri.

"Literasi bukan segalanya, namun segalanya bisa berawal dari sana," tegas dia. (Red: Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Doa, Kajian Sunnah, Ubudiyah Shautus Salam

Lagi, PBNU Lepas Delegasi NU untuk Program Jenesys 2017 di Jepang

Jakarta, Shautus Salam. Pemerintah Jepang melalui kedutaan besarnya kembali menggelar pertukaran pelajar dalam Program Jenesys 2017. Program serupa sebelumnya dilakukan tahun 2016 lalu.

Para pelajar dan pemuda NU kembali mendapatkan kesempatan program yang bertujuan memperkuat kebudayaan masing-masing negara selain hubungan diplomatik di bidang pendidikan.

Lagi, PBNU Lepas Delegasi NU untuk Program Jenesys 2017 di Jepang (Sumber Gambar : Nu Online)
Lagi, PBNU Lepas Delegasi NU untuk Program Jenesys 2017 di Jepang (Sumber Gambar : Nu Online)

Lagi, PBNU Lepas Delegasi NU untuk Program Jenesys 2017 di Jepang

Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) HA. Helmy Faishal Zaini melapas perwakilan atau delegasi NU untuk mengikuti program tersebut. Helmy berharap, anal-anak muda NU dapat mengambil banyak ilmu dan pengalaman selama sepekan di Jepang.

“Saya berharap delegasi yang berangkat mendapatkan banyak ilmu dan belajar dari cara Jepang memajukan negara, baik dari sisi kedisiplinan, perkembangan teknologi, dan transportasi umum di sana,” ujar Helmy, Senin (2/10) saat melepas delegasi NU di Gedung PBNU Jakarta.

Helmy menjelaskan, program pertukaran ini sebetulnya sudah dirintis ketika dirinya aktif sebagai pelajar NU tahun 1997 silam. Setelah itu program ini belum berlanjut lagi untuk perwakilan pelajar dan anak muda NU.

Shautus Salam

“Sebagai calon para pemimpin, anak-anak muda NU harus mempunyai wawasan yang luas, baik nasional maupun internasional. Program ini sangat baik sebagai langkah meningkatkan kapasitas diri dari people to people dengan negara lain,” jelas pria kelahiran Cirebon ini.

Di antara pihak-pihak yang mengikuti program Jenesys 2017 ini yaitu dari unsur IPNU dan IPPNU, pesantren, dan para dai muda. Rombongan delegasi NU dipimpin oleh Ustadz Bukhori Muslim, salah satu pengurus di LDNU.

Dalam sepekan menjalani program tersebut, para delegasi NU akan mengunjungi tiga kota di Jepang salah satunya Tokyo. Mereka mulai berangkat pada Senin (2/10) hingga pada akhir kegiatan pada Selasa (10/10). (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam

Shautus Salam Meme Islam, Sejarah, Kajian Sunnah Shautus Salam

Senin, 08 Januari 2018

Mensos Jelaskan ‘Terapi Rebus’ Hanya untuk Napza, Bukan LGBT

Malang, Shautus Salam

Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa mengaku terkejut saat dirinya menjadi sasaran bully oleh kalangan aktivis media sosial. Kementerian yang dipimpinnya disebut akan membuat program rehabilitasi bagi kalangan LGBT, antara lain dengan terapi rebus.

Seperti dilansir kompas.com, Ahad (13/3), kepada wartawan di Malang, Jawa Timur Khofifah, meluruskan pemberitaan yang beredar.

Mensos Jelaskan ‘Terapi Rebus’ Hanya untuk Napza, Bukan LGBT (Sumber Gambar : Nu Online)
Mensos Jelaskan ‘Terapi Rebus’ Hanya untuk Napza, Bukan LGBT (Sumber Gambar : Nu Online)

Mensos Jelaskan ‘Terapi Rebus’ Hanya untuk Napza, Bukan LGBT

Menurutnya, kementeriannya tidak mempunyai program rehabilitasi untuk LGBT. "Kami tidak punya kewenangan penindakan,” ujarnya.

Shautus Salam

Dalam kunjungan kerja ke Sidoarjo dan Mojokerto beberapa waktu lalu, Khofifah mengaku bertutur tentang keberadaan lembaga yang memiliki metode terapi bagi pengguna narkotika, obat, dan zat terlarang (napza), menggunakan proses perebusan.

"Betul, ada metode direbus sampai suhu 85 derajat celsius, tetapi itu untuk (pengguna) napza," ujar Khofifah.

Shautus Salam

Ditambahkan, lembaga-lembaga yang dia ceritakan itu merupakan institusi penerima wajib lapor (IPWL), yang hubungannya dengan Kementerian Sosial sebatas koordinasi.

Adapun terkait LGBT, Khofifah menyebut, pernyataan yang pernah dia sampaikan adalah cuplikan perbincangan dengan Ary Ginanjar. Dalam perbincangan itu, kata Khofifah, Ary mengatakan, metode ESQ yang dikembangkan lembaganya ternyata juga bisa membantu kalangan LGBT yang berkeinginan mengubah orientasi seksualnya kembali menjadi heteroseksual.

Khofifah menyebutkan, sampai saat ini, kementeriannya berkoordinasi dengan 118 IPWL. Kutipan soal pelepasan sejumlah eks LGBT yang disebut akan dilakukan pada Rabu (16/3/2016), kata dia, juga merupakan kegiatan dari salah satu IPWL, bukan kementeriannya.

"Karena beberapa IPWL memang sekaligus menangani (terapi) untuk (pengguna) napza, LGBT, dan lain-lain itu, tetapi metode perebusan yang saya sebut tadi bukan untuk LGBT," kata Khofifah. (Red: Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Kajian Sunnah, Tokoh Shautus Salam

Sabtu, 06 Januari 2018

Rekonstruksi Fiqih al-Biah

Secara umum tujuan pemberlakuan hukum Islam atau maqashid as-syari’ah adalah untuk mewujudkan maslahat dan menghindari mafsadat. As-Syatibi dalam Al-Muwafaqat telah memformalitaskan maqashid as-asyari’ah melalui teori maslahah dengan membaginya menjadi lima konsep, hifdzu ad-din, hifdzu an-nafs, hifdzu al-aql, hifdzu al-mal dan hifdzu an-nasl.

Kelima konsep tersebut secara spesifik terbagi dalam tiga level, dharuriyyat (elementer), haajiyyat (suplementer) dan tahsiniyyat (komplementer).

Rekonstruksi Fiqih al-Biah (Sumber Gambar : Nu Online)
Rekonstruksi Fiqih al-Biah (Sumber Gambar : Nu Online)

Rekonstruksi Fiqih al-Biah

Selanjutnya, para intelektual muslim merumuskan konsep baru dan memasukkannya sebagai bagian dari konsep maqashid as-asyari’ah, yaitu hifdzul-bi’ah (menjaga lingkungan), hingga muncul apa yang disebut fiqih lingkungan (fiqih al-bi’ah; environment islamic law). Sayangnya, di Indonesia yang mayoritas muslim, konsiderasi mengenai fiqih al-bi’ah baru muncul pada tahun 1960 melalui seminarseminar.

Shautus Salam

Rekonstruksi Fiqih al-Bi’ah

Signifikansi rekonstruksi fiqih al-bi’ah ditengarai paling tidak oleh tiga faktor. Pertama, kondisi obyektif krisis lingkungan yang makin parah. Kedua, umat Islam memerlukan kerangka pedoman komprehensif tentang paradigma di dalam masalah lingkungan, sedangkan Fiqih klasik dipandang belum mengakomodir kerangka operasional dalam perspektif lingkungan modern. Ketiga, fiqih al-bi’ah belum dianggap sebagai disiplin dalam ranah studi Islam. Akar-akar ontologis dan epistemologisnya juga masih diperdebatkan.

Shautus Salam

Lingkungan yang baik dan sehat merupakan hak asasi setiap manusia. Mengamini hal tersebut, UUD 1945 (amendemen kedua, tahun 2000) pasal 28H ayat (1) menyebutkan “Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan”. Berdasarkan spirit itulah wawasan mengenai lingkungan hidup masuk dalam agenda besar pembangunan ekonomi nasional di satu sisi.

Di sisi lain, ekosistem yang semakin menurun telah mengancam tidak saja kelangsungan perikehidupan manusia, namun juga makhluk hidup lainnya. Eskalasi pemanasan global makin meningkat hingga berpotensi terhadap perubahan iklim yang pada gilirannya akan memperparah penurunan kualitas lingkungan. Menipisnya lapisan ozon, kerusakan mangrove, padang lamun, gambut, karst, dumping limbah, kegagalan mitigasi, instabilisasi mutu emisi dan udara ambien adalah ancaman serius yang perlu segera mendapatkan penyelesaian. Dalam konteks ini, perlu dilakukan perlindungan dan pengelolaan secara sungguh-sungguh dan konsisten.

Perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup dapat diimplementasikan secara sistematis dan terpadu. Sistematis dalam arti dilakukan secara bertahab. Step by step. Terpadu karena perlu diketengahkan term kombinasi lintas aspek (interside combination). Untuk itu dibutuhkan semangat melestarikan fungsi lingkungan hidup dan mencegah terjadinya pencemaran dan/atau kerusakan (mafsadat). Laiknya pola dalam problem solving, perpaduan aspek lingkungan, sosial, ekonomi dan hukum yang saling bertautan merupakan strategi penjamin keutuhan lingkungan hidup, keselamatan dan mutu hidup generasi masa kini dan masa depan.

Proyeksi dan Proteksi

Sumber daya alam sebagai salah satu representasi dari lingkungan hidup memiliki daya dukung dan daya tampung. Kedua istilah ini merupakan entitas yang dihasilkan dan dapat dimanfaatkan oleh makhluk sekitarnya dengan tetap mempertahankan eksistensi, fungsi, produktivitas, keselamatan, dan mutu. Diperlukan inventarisasi lingkungan untuk melacak identitas sumber daya alam sehingga dapat diketahui potensi yang dapat dimanfaatkan (functionable potency), bentuk penguasaan (authority), pengelolaan (management), kerusakan (faulty) dan konflik yang timbul akibat pengelolaan.

Dalam rangka pelestarian fungsi lingkungan hidup dari pencemaran dan/atau kerusakan, perlu diupayakan preventifikasi, proteksi dan rehabilitasi. Pemerintah telah mencanangkan program konservasi sumber daya alam, pencadangan dan pelestarian fungsi atmosfer. Pada tahun 1970 telah dibentuk Balai Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) di bawah Dirjen Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Kementerian Kehutanan yang terdiri dari 27 delegasi di tingkat propinsi. Balai ini bertugas mengelola kawasan-kawasan konservasi, khususnya hutan-hutan suaka alam (suaka margasatwa, cagar alam) dan taman wisata alam.

Persoalan krusialnya ada pada perusahaan yang melakukan kegiatan tertentu untuk mengelola sumber daya alam dengan motif profit oriented. Di mana seringkali keselamatan lingkungan dinomorduakan dan menjadi tergadaikan oleh ekspansi kepentingan perusahaan. Sebut saja Exxon Mobile di blok Cepu, Chevron di Riau, Total di blok Mahakam Kaltim, ConocoPhillips di blok Corridor, Jambi dan tentu saja Freeport di Papua.

Meskipun telah dilakukan pengawasan, nampaknya sanksi yang ada tidak serta merta membuat mereka sadar bahwa menurunnya kualitas sumber daya alam secara tidak langsung dapat mengurangi keuntungan mereka. Lebih jauh dari itu, keberlangsungan lingkungan hidup adalah di atas segalanya (conditio sine qua non).

Konstruksi Hukum

Kementrian Lingkungan Hidup telah menyusun juklak Corporate Social Responsibility (CSR) sebagai salah satu instrumen inovatif yang membantu perusahaan untuk peka dan adaptif terhadap lingkungan dan kehidupan masyarakat sehingga dapat bersikap lebih sensitif terhadap lingkungan dan selaras dengan dinamika masyarakat sekitarnya.

Selain itu, guna mencapai kepastian hukum agar program dicanangkan bisa berjalan secara tegas dan efektif, pemerintah telah beberapa kali mengeluarkan peraturan perundang-undangan, di antaranya :

� UU No. 23 tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup

� UU No. 18 tahun 2008 Tentang Pengelolaan Sampah

� UU No. 19 tahun 2009 tentang Pengesahan Stockholm Convention On Persistent Organic Pollutants (Konvensi Stockholm Tentang Bahan Pencemar Organik Yang Persisten)

� UU No. 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup

� PP No. 27 tahun 2012 tentang izin lingkungan

� PP No. 52 Tahun 2008 tentang Jenis dan Tarif Atas Jenis PNBP yang Berlaku pada Kemententerian Negara Lingkungan Hidup

� PP No. 81 tahun 2012 tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga Dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga

� Peraturan Menteri, Keputusan Menteri dan Surat Edaran sebanyak 13 (2006), 12 (2007), 17 (2008), 34 (2009), 17 (2010), 17 (2011), 26 (2012) dan 7 (2013).

Disadari atau tidak, negara melalui alat-alatnya telah mengimplementasikan konsep fiqih al-bi’ah sebagai instrumen penting dalam menyongsong kegiatan berbangsa dan bernegara. Dalam konteks ini, dibutuhkan supporting unit dari semua kalangan. Termasuk peran agama dalam menyikapi isu-isu lingkungan dari perspektif yang lebih praktis.

Fiqih al-bi`ah tumbuh dengan kompleksitas problem ekologi secara multidisipliner. Berbeda dengan fiqih al-zakah dan fiqih al-hajji misalnya, fiqih al-bi`ah dapat menjadi disiplin ilmu keislaman yang “mengekspansi” seluruh bidang-bidang kehidupan.

Menurut Yusuf Qaradhawi, menjaga lingkungan (hifdzu al-bi`ah) sama dengan menjaga agama (din), jiwa (nafs), akal (aql), keturunan (nasl), dan harta (mal). Rasionalitasnya adalah bahwa jika aspek-aspek agama, jiwa, akal, keturunan dan harta rusak, maka eksistensi manusia di dalam lingkungan menjadi ternoda. Oleh sebab itu, dislokasi fiqih al-bi`ah bisa menjadi oportunitas yang konfrontatif jika diikuti oleh paradigma epistemologi yang komprehensip.

Melindungi dan mengelola lingkungan hidup tentu bukan hal mudah. Namun bukan juga hal sulit jika kita bersama berusaha dan bekerja keras karena tidak ada fenomena lingkungan yang bersifat unpredicable. Kendati apa yang kita lakukan terhadap lingkungan tidak langsung dapat terasa manfaatnya. Sebuah adagium mengatakan bahwa cara paling cepat mencapai sebuah tujuan adalah dengan kerja keras dalam waktu yang relatif lama (asra’u at-Thariq li al-ghayah tuulu az-zaman fi aljiddah).

Setidaknya, aksi nyata kita adalah dengan tidak berbuat kerusakan terhadap lingkungan sekitar (ifsad fi al-ardl), meski kita belum bisa melindungi dan mengelolanya dengan baik (ma la yudroku kulluh la yutraku kulluh). Semoga.

Ahmad Mufid Bisri

* Mahasiswa Pasca Sarjana Universitas Darul Ulum, Mantan Redaktur Majalah Tebuireng dan sekarang menjadi Calon Hakim Pengadilan Agama Kabupaten Kediri

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Lomba, Kajian Sunnah, Hadits Shautus Salam

Rabu, 03 Januari 2018

Tawadhu dan Pembelaan Harkat Hidup Manusia Menurut Ibnu Athaillah

Unggah ungguh atau tata krama belaka bukanlah tawadhu karena ini hanya dampak saja dari ketawadhuan. Tawadhu bermakna jauh lebih dahulu dari sekadar sopan santun. Tawadhu adalah sikap batin yang menjelma dalam praktik lahiriyah secara proporsional dan wajar.

Karena merupakan sikap batin, ketawadhuan sulit diukur. Yang bisa dilihat hanya praktik lahiriyah yang proporsional dan wajar. Bisa jadi dalam tata krama tertentu, seseorang dapat menyesuaikan diri tetapi sesungguhnya ia belum terbilang orang yang tawadhu. Masalah ini disinggung oleh Syekh Ibnu Athaillah sebagai berikut:

Tawadhu dan Pembelaan Harkat Hidup Manusia Menurut Ibnu Athaillah (Sumber Gambar : Nu Online)
Tawadhu dan Pembelaan Harkat Hidup Manusia Menurut Ibnu Athaillah (Sumber Gambar : Nu Online)

Tawadhu dan Pembelaan Harkat Hidup Manusia Menurut Ibnu Athaillah

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Shautus Salam

Artinya, “Orang yang tawadhu itu bukan ia yang ketika merendah menganggap dirinya lebih tinggi dari yang dilakukannya. Tetapi, orang yang tawadhu itu ia yang ketika merendah menganggap dirinya lebih rendah dari yang dilakukannya.”

Shautus Salam

Ketawadhuan hanya bisa diukur oleh diri manusia itu sendiri karena hanya mereka yang mengerti batin mereka. Penilaian atas sikap batin itu persis dengan penilaian atas ibadah puasa. Hanya mereka sendiri yang dapat menyadari apakah mereka merasa lebih tinggi atau merasa istimewa dibanding orang lain atau bahkan makhluk lain.

Syekh Ibnul Hajib menyebutkan secara jelas bahwa ketawadhuan adalah sebuah sikap batin yang merendah. Sikap batin ini yang melahirkan tata krama dan sikap sosial yang wajar. demikian disampaikan Syekh Ibnul Hajib sebagai berikut:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Menurut saya, ketawadhuan hakiki adalah sikap yang muncul dari orang yang memandang segala sesuatu dari Allah. Ketika ia merendah, maka ia merasa bahwa segala sesuatunya berhak lebih banyak lagi ketakziman dan merasa bahwa dirinya dalam kerendahan dan kehinaan lebih rendah dari ketawadhuan yang telah dilakukannya. Orang yang merasa istimewa di tengah yang lain bukan orang yang tawadhu. Kalaupun ia merendah di tengah yang lain, tetapi memandang dirinya lebih tinggi dan lebih utama dari ketawadhuan yang dilakukannya, maka hakikatnya ia orang yang takabur karena ia menyematkan ketawadhuan bagi dirinya sendiri karena sesuatu yang menurutnya layak ia terima,” (Lihat Syekh Ibnul Hajib, Iqazhul Himam, Beirut, Darul Fikr, tanpa catatan tahun, juz I, halaman 238).

Sebagaimana dikatakan di atas bahwa ketawadhuan mengandung konsep yang lebih luas dari sekadar formalitas tata krama, unggah ungguh, adab, atau sopan santun. Ketawadhuan bisa dipahami dalam konteks hukum dan etika. Hal ini yang kiranya jarang disampaikan banyak orang.

Ketawadhuan adalah upaya dalam membela dan menjamin hak pribadi dan hak orang lain. Ketawadhuan juga berarti upaya mempertahankan harkat manusia baik diri sendiri maupun orang lain. Jangan sampai diri sendiri terhina. Jangan sampai orang lain terhina dan dirugikan karena ulah kita. Pengertian ketawadhuan ini justru jauh sekali berbeda dari sekadar tata karma atau sopan santun. Hal ini sebagaimana keterangan Syekh Ibrahim Al-Aqshara’i berikut ini:

?: ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Bagi saya, ketawadhuan itu bergerak antara kerendahan dan ketakaburan. Kerendahan itu adalah kamu menjadi hina dan hakmu terlantar. Sementara takabur adalah kau menjadi sebab atas kehinaan orang lain dan haknya terlantar karenamu. Sedangkan ketawadhuan itu adalah kau tidak menjadi hina dan orang lain tidak menjadi hina karenamu; hakmu tidak terlantar dan hak orang lain tidak terlantar karenamu,” (Lihat Syekh Ibrahim Al-Aqshara’i, Ihkamul Hikam, Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyah, 2008 M/1429 H, halaman 135).

Meskipun hanya sikap batin, tanda-tanda ketawadhuan itu dapat dilihat dengan jelas. Syekh Syarqawi menyebutkan sejumlah tanda konkret mutawadhi‘in yang memiliki kepribadian tangguh dalam menghadapi berbagai tekanan sosial dan tabah dalam menjaga diri dari godaan kemunafikan hidup. Berikut ini kutipannya:

? ? ? ? ?) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? (? ? ? ? ?) ? ? ? ? ? ? ? ? (? ?) ? (? ? ?) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? (? ? ? ? ?) ? ? ? ? ? ? ? ?... ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Orang yang tawadhu itu bukan ia yang ketika merendah) berlaku sebagai laku orang bermaqam mutawadhi‘in, antara lain duduk di belakang dalam sebuah forum (menganggap dirinya lebih tinggi dari yang dilakukannya) merasa dirinya berhak duduk di depan. (Tetapi, orang yang tawadhu itu) adalah (ia yang ketika merendah) berlaku sebagai laku orang bermaqam mutawadhi‘in, antara lain duduk tak jauh dari depan pada sebuah forum (menganggap dirinya lebih rendah dari yang dilakukannya) merasa dirinya justru lebih berhak duduk di belakang... Tanda riil dari perilaku mutawadhi‘in adalah ia yang tidak marah ketika dicela atau difitnah, tidak membenci ketika dicaci atau dituduh melakukan dosa besar; tidak ngotot mengejar pencitraan, mencari muka atau mengambil hati orang lain; dan tidak merasa bahwa dirinya memiliki tempat di hati banyak orang,” (Lihat Syekh Syarqawi, Syarhul Hikam, Semarang, Maktabah Thaha Putra, tanpa catatan tahun, juz II, halaman 60-61).

Dari sejumlah keterangan ulama itu, kita dapat menyimpulkan bahwa ketawadhuan hanya dimiliki oleh orang-orang besar. Tawadhu adalah mereka yang siap belajar (mondok, ngaji, sekolah, kuliah. Pokoknya belajar) ketika bodoh, bertanya ketika tidak mengetahui, berterima kasih atas budi baik orang lain, memohon maaf atas kesalahan. Tidak banyak orang yang bersikap tawadhu. Hanya mereka yang berjiwa besar dapat mencapai derajat mutawadhi‘in. Karena hanya mereka yang siap melawan arus demi hak dan harkat hidup manusia. Wallahu a’lam. (Alhafiz K)Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Kajian Sunnah, Ubudiyah, Doa Shautus Salam

Banser Jangan Sampai Dimanfaatkan Pihak Luar

Majalengka, Shautus Salam

Barisan Ansor Serba Guna (Banser) Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, menyelenggarakan Pendidikan dan Latihan Dasar (Diklatsar). Kegiatan yang dilaksanakan di Desa Leuwikujang, Kecamatan Leuwimunding, Majalengka itu digelar tiga hari, mulai Jumat (5/8) hingga Ahad (7/8) lusa.

Banser Jangan Sampai Dimanfaatkan Pihak Luar (Sumber Gambar : Nu Online)
Banser Jangan Sampai Dimanfaatkan Pihak Luar (Sumber Gambar : Nu Online)

Banser Jangan Sampai Dimanfaatkan Pihak Luar

Di sela-sela pembukaan acara, Wakil Ketua Lembaga Dakwah Pengurus Besar Nahdatul Ulama (LD PBNU) Maman Imanulhaq mengatakan, saat ini perjuangan Banser sangat diperlukan untuk mendukung Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dalam menghadapi berbagai gangguan baik itu pihak luar maupun dari dalam. Meski demikian, Banser harus tetap berpegang teguh pada "PBNU".

“Ingat PBNU ada ‘kepanjangannya’, yaitu Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI dan UUD 45. Dan perlu diwaspadai saat ini gangguan terhadap NKRI yaitu dari pihak yang ingin mendirikan khilafah. Untuk itu, Banser hadir untuk meringankan beban pihak keamanana yaitu kepolisian dan TNI,” jelasnya.

Shautus Salam

Maman mengharapkan, jangan sampai Banser dimanfaatkan oleh pihak lain. Organisasi semiotonom? GP Ansor ini harus mengutamakan jiwa sukareala dan patuh pada para kiai.

Shautus Salam

“Jiwa Banser lillahi ta’ala dan manut (patuh) sama para kiai, yang perlu digaris bawahi yaitu tolong menolong tapi jangan sampai kebaikan kita dimanfaatkan oleh pihak luar,” terang Pengasuh Pondok Pesantren Al- Mizan itu.

Ketua panitia kegiatan, Samsu, mengatakan,? Diklatsar kali ini diikuti sebanyak 70 peserta dan kemungkinan akan bertambah. Awalnya, panitia menargetkan 90 peserta dari seluruh Kabupaten Majalengka

“Karena ada sesuatu hal, baru 70 orang yang hadir. Selain itu, kegiatan ini dihadiri oleh para pejabat tingkat kecamatan, Koramil, Polsek dan anggota dewan tingkat Kabupaten Majalengka.” terang pria yang juga Ketua Ansor Leuwimunding itu. (Tata Irawan/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Kajian Sunnah Shautus Salam

Kamis, 21 Desember 2017

Inilah Sejumlah Kota yang Akan Dilalui Kirab Hari Santri

Jakarta, Shautus Salam. PBNU akan melaksanakan Kirab Hari Santri Nasional dari Banyuwangi (Jawa Timur) sampai Cilegon (Banten). Kirab yang akan dimulai 13 sampai 21 Oktober tersebut akan menyinggahi sejumlah kota. ?

Berikut kota-kota yang akan disinggahi Jember, Lumajang, Malang, Pasuruan, Sidoarjo, Surabaya, Mojokerto, Jombang, Kertosono, Kediri, Tulungagung, Trenggalek, Ponorogo, Madiun, Magetan, Ngawi (Jawa Timur).

Inilah Sejumlah Kota yang Akan Dilalui Kirab Hari Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
Inilah Sejumlah Kota yang Akan Dilalui Kirab Hari Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

Inilah Sejumlah Kota yang Akan Dilalui Kirab Hari Santri

Kemudian akan melewati kota-kota di Jawa Tengah yaitu Sragen, Solo, Klaten, memasuki satu kota di Yogyakarta, kembali ke Jawa Tengah yaitu Magelang, Temanggung, Wonosobo, Banjarnegara, Purwokwrto, diakhiri di Cilacap.

Shautus Salam

Lalu memasuki Jawa Barat dimulai dari Kota Banjar, Ciamis, Tasikmalaya, Garut, Bandung, Cianjur, Bogor. Lalu memasuki kota-kota di Banten mulai Tangerang, Serang, Pandeglang, Cilegon. Setelah itu kembali ke Jakarta.

Shautus Salam

Menurut Wakil Sekretaris Jenderal PBNU Ishfah Abidal Aziz Kirab Hari Santri tersebut di setiap kota yang disinggahi, peserta kirab akan berziarah ke makam para kiai, sowan ke pesantren-pesantren. Juga akan melakukan bakti sosial serta memberikan sumbangan kepada fakir miskin.

“Umpamanya ketika sampai di Lumajang, peserta kirab akan sowan kiai, ziarah ke makam kiai dan bersilaturahim dengan pengurus NU,” katanya selepas rapat panitia Peringatan Hari Santri Nasional Senin (6/9).

Menurut dia, rombongan kirab dari PBNU sekitar 100 orang. Mereka terdiri dari perwakilan perwakilan pengurus lembaga dan badan otonom NU. “Di daerah-daerah, peserta kirab itu akan bertambah. Dari Banyuwangi ke Jember itu, misalnya, warga NU Banyuwangi bisa mengiringi kirab,” jelasnya. ?

Peserta kirab, lanjutnya, akan menumpangi bus. Namun, ketika memasuki sebuah kota, misalnya dengan tujuan kantor PCNU atau pendopo bupati, akan berjalan sekitar 5 km. “Untuk perjalanan antara satu kota denga kota lainnya kirab akan menggunakan bus,” pungkasnya.

Ia menambahkan, bagi daerah-daerah yangg tidak dilalui jalur Kirab Hari Santri Nasional, dianjurkan melakukan kirab sendiri. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Kajian Sunnah, Sunnah Shautus Salam

Rabu, 20 Desember 2017

Gusdurian Jateng Kritik Oligarki Politik di Indonesia

Solo, Shautus Salam. Pemerintahan di Indonesia saat ini telah dikuasai oleh elite-elite politik tertentu. Keadaan ini berdasar pada banyaknya kebijakan yang seringkali dipengaruhi oleh elite penguasa partai politik (parpol) tertentu.

“Hal itu merupakan bentuk oligarki di mana setiap pengambilan keputusan penting dikuasai oleh sekelompok elite penguasa partai politik,” ungkap Koordinator Umum Gusdurian Jawa Tengah, Hussein Syifa dalam seminar Mempererat Persaudaraan Kebangsaan dan Hubungan Lintas Kultural dalam Menghadapi Pilpres 2014 di Graha Soloraya, Jl Slamet Riyadi No. 1 Solo, Jumat (16/5).

Gusdurian Jateng Kritik Oligarki Politik di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Gusdurian Jateng Kritik Oligarki Politik di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Gusdurian Jateng Kritik Oligarki Politik di Indonesia

Karenanya jabatan pimpinan parpol banyak menjadi rebutan banyak pihak. Padahal Hussein menyebut saat ini tidak ada parpol yang benar-benar bersih. Terbukti banyaknya oknum dari parpol, ikut terjerat kasus hukum.

Shautus Salam

“Kalau demikian yang terjadi, ini sistemnya yang salah atau orangnya yang salah?” kata Hussein.

Hussein mengungkapkan kenyataan bahwa Indonesia saat ini membutuhkan manusia berkepribadian baik untuk terjun ke dunia politik. Hal itu disebabkan demokrasi saat ini tidak memiliki alat kontrol yang jelas.

Shautus Salam

“Inilah yang menjadi pekerjaan rumah kita, untuk jeli memilih siapa presiden kita yang akan datang. Bukan asal memilih untuk lima tahun ke depan. Demokrasi kita tanpa kontrol jelas. Mau mengkritisi apa kalau tak punya analisis yang jelas,” ungkap Hussein.

Dalam seminar tersebut selain Hussein Syifa, turut menjadi narasumber pengurus Syuriyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Sukoharjo, Ahmad Hafidh dan Pendeta Gereja Telukan, Samuel Sriyoko. (Ajie Najmuddin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Sholawat, Pendidikan, Kajian Sunnah Shautus Salam

Rabu, 13 Desember 2017

IPNU-BNN Genjot Kader Anti-Narkoba

Jakarta, Shautus Salam. Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama bekerjasama dengan Badan Narkotika Nasional (BNN) menggenjot 50 kader anti-Narkoba. Mereka dipersiapkan untuk pencegahan penyalahgunaan Narkoba di kalangan pelajar. Kegiatan berlangsung di lantai 8 gedung PBNU, Jakarta, Rabu, (20-/2).

Kader anti-Narkoba tersebut diberi materi sosialisasi pencegahan dan penyalahgunaan Narkoba oleh Dr. Victor Pudjiadi SpB, FICS, DFM, (Brigadir Jenderal Polisi). Juga diberi materi tes urine, dan strategi penyuluhan, pencegahan penyalahgunaan Narkoba.

IPNU-BNN Genjot Kader Anti-Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-BNN Genjot Kader Anti-Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-BNN Genjot Kader Anti-Narkoba

Pelatihan akan berlanjut esok pagi di tempat yang sama dengan materi “Peran teman sebaya dalam pencegahan penyalahgunaan Narkoba”.  

Shautus Salam

Menurut Komandan Nasional Corps Brigade Pembangunan IPNU, Djunaidi, 50 kader tersebut bernama relawan Satria Muda Anti-Narkoba tingkat madya. Meraka disiapakan untuk sosialisasi pencegahan Narkoba di lingkungan sekolah atau tempat tinggal.

Shautus Salam

“Juga mengadvokasi teman-teman yang sudah terlanjur jadi pecandu Narkoba,” katanya di gedung PBNU, Jakarta, Rabu, (20/2).  

Kader anti-Narkoba tersebut berasal dari Sumatera Selatan, Lampung, Jawa Barat, Jawa Timur, Banten, DKI Jakarta, DI Yogyakarta, dan Jawa Tengah. Sebelumnya, mereka telah diberi pembekalan anti-Narkoba di Gumiarti Camp, Bogor, pada tanggal 20 Mei 2012 lalu.

 

Penulis: Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Kajian Sunnah Shautus Salam

Sabtu, 09 Desember 2017

Alumni Pondok Tremas DKI Jakarta Gelar Haul Masyayikh

Jakarta, Shautus Salam. Ikatan Alumni Pondok Tremas (IAPT) DKI Jakarta dan Banten menggelar pertemuan silaturahmi akbar di Yayasan Al Ahyar Amanah Kramat Jati, Jakarta Timur, Ahad (15/11). Mereka memperingati haul masyayikh pondok Tremas Pacitan almagfurlah KH Muhammad Dimyathi bin Abdulloh.

Kegiatan yang baru pertama kali digelar ini berlangsung khidmat dan penuh suasana kekeluargaan. Hadir pengasuh pondok Tremas KH Luqman Harits Dimyathi, KH Muad Harits, dan keluarga.

Alumni Pondok Tremas DKI Jakarta Gelar Haul Masyayikh (Sumber Gambar : Nu Online)
Alumni Pondok Tremas DKI Jakarta Gelar Haul Masyayikh (Sumber Gambar : Nu Online)

Alumni Pondok Tremas DKI Jakarta Gelar Haul Masyayikh

Ratusan alumni dari berbagai periode turut menyukseskan acara ini. Mereka merupakan para alumni yang bermukim di wilayah Jabodetabek dan Banten. Tampak pula perwakilan pengurus IAPT Pekalongan dan IAPT Purwodadi.

Shautus Salam

KH Luqman Harits menekankan peran penting santri dan alumni Tremas dalam berkiprah di tengah masyarakat untuk memperkuat ajaran Ahulussunnah Wal Jama’ah di antaranya melalui jamiyyah Nahdaltul Ulama.

Shautus Salam

Koordinator Gerakan Nasional Ayo Mondok itu menyampaikan, peran alumni Tremas sangat dinanti oleh masyarakat, terutama dalam rangka turut menjaga keutuhan NKRI. Terlebih pemerintah telah mengakui peran perjuangan para santri dengan ditetapkanya 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional yang merupakan wujud penghargaan kepada perjuangan ulama.

Kiai Luqman mendorong para alumni untuk selalu menjaga sanad keilmuan yang diperolehnya dengan cara memasukkan putra-putrinya untuk belajar di pesantren. "Minimal satu dari putra-putrinya untuk dikirim ke pesantren, agar sanad keilmuan kita terus tersambung dan tidak putus," demikian kata Katib Syuriah PBNU itu.

Sementara Ketua PP LDNU KH Manarul Hidayat yang hadir menyampaikan taushiyah menyampaikan bahwa dengan adanya Gerakan Nasional Ayo Mondok dapat dijadikan wadah dalam menanggulangi paham radikalisme seperti Wahabi dan ISIS yang membahayakan keutuhan NKRI yang telah terbangun sejak zaman wali songo itu.

"Melalui organisasi ikatan alumni pesantren di seluruh Indonesia, mari kita perkuat NKRI dan dakwah Ahlussunnah Wal Jamaah An-Nahdliyah," ajak Kiai Manarul Hidayat.

Kegiatan Haul Masyayikh dan silaturahim alumni DKI Jakarta rencananya akan digelar tiap tahun sekali. Acara ini merupakan salah satu wujud meneladani kiprah para kiai dalam mendidik para santrinya. (Zaenal Faizin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Kajian Sunnah Shautus Salam

Selasa, 05 Desember 2017

Kiai Ma’ruf Amin: Gus Dur Ajarkan Berpikir Kritis

Jakarta, Shautus Salam

Rais Aam Syuriyah PBNU KH Maruf Amin mengatakan, Almaghfurlah KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur merupakan sosok yang mirip buku. Karena itu, mengenal Gus Dur tidak akan habis.

“Di NU, beliau itu yang melakukan dinamisasi berpikir kritis. Sehingga NU itu kemudian melahirkan pemikiran-pemikiran kritis dan dinamis,” ujar Kiai Ma’ruf mengawali testimoninya di acara haul ke-6 Gus Dur di Ciganjur, Sabtu (26/12) malam.

Menurut Kiai Ma’ruf, Gus Dur memang dilengkapi dengan berbagai instrumen keilmuan sehingga paham banyak hal. Misalnya, Ushul Fiqh dan Qawaid Fiqhiyyah.

Kiai Ma’ruf Amin: Gus Dur Ajarkan Berpikir Kritis (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Ma’ruf Amin: Gus Dur Ajarkan Berpikir Kritis (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Ma’ruf Amin: Gus Dur Ajarkan Berpikir Kritis

“Beliau bahkan sering menyebut kitab Asybah Wan Nadzair. Beliau sangat paham kitab tasawuf yang bernama al-Hikam karya Ibnu Athaillah. Bukan hanya paham, beliau malah mengajarkan kitab itu,” ungkap Rais Aam.

Padahal, lanjut Kiai Ma’ruf, kitab al-Hikam itu menurut para ulama disebut kaada al-hikam an yakuuna quranan. “Hikam itu hampir mirip Quran karena saking dalamnya paparan ilmu yang dikandungnya. Jadi, meski beliau kritis dan dinamis, tetapi instrumen-instrumen perlengkapannya itu sudah ada dan siap,” tukasnya.

Shautus Salam

Sayangnya, kata Kiai Ma’ruf, ada beberapa pihak yang kritis namun tidak paham Ushul Fiqh, Qawaid, apalagi al-Hikam. “Ibarat orang terjun, Gus Dur sudah bawa parasut. Ini (ada orang) terjun nggak punya parasut, nyungsep jadinya,” selorohnya disambut tawa hadirin.

Gus Dur yang ia kenal sebagai sosok? yang bisa bergaul dengan semua kalangan. “Beliau bisa bergaul dengan kiai khos, dengan kiai cash. Sekarang ini kan kiai khos kalah sama kiai cash itu. Ada juga kiai high cost,” ujar Kiai Ma’ruf lagi-lagi mengundang tawa.

Tak hanya dengan kiai, lanjutnya, Gus Dur juga bisa bergaul dengan para budayawan, seniman, orang berambut gondrong, dan bertato. “Enak saja. Saya pernah ikut Gus Dur. Beliau santai saja. Saya sendiri malah keki. Inilah kelebihan Gus Dur,” tandas Rais Aam.

Semua persoalan di mata Gus Dur tidak ada yang berat. Semuanya dianggap ringan dan biasa-biasa saja. “Makanya Gus Dur sering mengatakan Gitu aja Kok Repot,” ujarnya.

Shautus Salam

Kiai Ma’ruf bercerita, suatu ketika Gus Dur terpilih sebagai Ketua Forum Demokrasi (Fordem).? PBNU langsung ribut. “Gimana ini, NU akan berhadapan dengan Pak Harto ini. Karena itu, kami putuskan bahwa Gus Dur mengundurkan diri atau berhenti dari Fordem. Kalau tidak mau, PBNU akan meminta beliau mundur dari Fordem,” tuturnya.

Begitu disampaikan kepada Gus Dur, lanjut Kiai Ma’ruf, Gus Dur lebih memilih Fordem. “Kalau saya disuruh mundur dari Fordem, lebih baik saya mundur dari Ketua Umum PBNU. Wah ini, jawabannya. Mati kutu semua udah. Akhirnya, ya sudah lah, tetap sebagai Ketua Umum PBNU, dan tetap sebagai Ketua Fordem,” kata Kiai Ma’ruf sembari tertawa. (Musthofa Asrori/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Halaqoh, Kajian Sunnah Shautus Salam

Rabu, 29 November 2017

Cari Berkah denganTarawih Keliling

Pekalongan, Shautus Salam. Kota Pekalongan yang kental dengan para ulama dan habib bisa digolongkan sebagai kota yang memiliki tradisi ke-NU-an yang begitu kuat. Setiap bulan Ramadhan tiba, banyak masyarakat Pekalongan yang ngalap (mencari) berkah lewat kegiatan tarawih keliling masjid-masjid yang ada di Pekalongan.

Seperti halnya yang dilakukan oleh Irzam Hasani (21), mahasiswa Undip Semarang. Ia rela menyempatkan diri untuk pulang ke kampung halaman guna menikmati nuansa Ramadhan di Pekalongan. Bersama dengan dua rekannya, Shofiyullah dan Khadziq, mereka ingin meramaikan bulan Ramadhan kali ini dengan melakukan tarawih keliling ke masjid maupun majelis habaib yang ada di Kota Batik ini.

Cari Berkah denganTarawih Keliling (Sumber Gambar : Nu Online)
Cari Berkah denganTarawih Keliling (Sumber Gambar : Nu Online)

Cari Berkah denganTarawih Keliling

Pada malam ke-4 di bulan Ramadhan ini, Jumat (12/7), mereka memulai kegiatan tarawih kelilingnya di gedung Kanzus Shalawat, Pekalongan. Di gedung Kanzus Shalawat yang biasa digunakan untuk majelis maulid Nabi ini, digelar salat tarawih berjamaah selama bulan Ramadhan.

Bersama sekitar 30 jamaah yang rata-rata berasal dari Pekalongan dan sekitar mereka terlihat khusyuk melaksanakan salat tarawih. Sebagai imam, Habib Ali Zainal Abidin Assegaf, menantu dari Habib Muhammad Luthfi bin Yahya, juga mengajak jamaah untuk berdzikir selepas salat tarawih.

Shautus Salam

Ketika ditanya tentang alasannya melakukan tarawih keliling ini, Irzam mengatakan dirinya bersama dua rekannya ingin ngalap berkah kepada habaib yang ada di Pekalongan. “Mumpung pulang kampung, saya sempatkan untuk tarawih keliling ke tempatnya habaib,” ujarnya.

Shautus Salam

Senada dengan Irzam, Khadziq yang sedang menempuh pendidikan di STAIN Pekalongan ini juga menyampaikan niatnya melakukan kegiatan ini. “Kita pengen ngalap berkah dengan salat bersama habib, alhamdulillah bisa kesampaian,” tutur mahasiswa yang juga aktif di PMII STAIN ini.

Untuk malam berikutnya mereka berencana melanjutkan tarawih kelilingnya ini ke masjid Raudhah, Pekalongan, masjid milik Habib Baqir Alatas yang juga sering dijadikan sebagai tempat untuk tarawih keliling oleh masyarakat Pekalongan.

Redaktur: A. Khoirul Anam

Kontributor: Ahmad Rodif Hafidz

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Humor Islam, Kajian Sunnah Shautus Salam

Senin, 27 November 2017

NU harus Mampu Penuhi Kebutuhan Warganya

Jakarta, Shautus Salam. Rais Aam PBNU KH Sahal Mahfudz mengungkapkan bahwa NU harus menggunakan pendekatan berdasarkan kebutuhan. Kalau tidak suatu saat pasti akan hilang karena ditinggal warganya.

“Kalau sekarang masih kuat ke-NU-annya, banyak orang kalau tak NU tidak mau. Ini karena kokohnya jamaah yang dipengaruhi kultur dan tzakofah.,” tuturnya dalam Halaqoh Penyusunan Rancangan Program Pemberdayaan Syuriah Nahdlatul Ulama di Jakarta, Kamis.

Namun demikian, NU harus merubah paradigmanya karena jika suatu saat tidak bisa memenuhi kebutuhan, akan ditinggalkan masyarakat karena mereka akan beralih pada organisasi lain

NU harus Mampu Penuhi Kebutuhan Warganya (Sumber Gambar : Nu Online)
NU harus Mampu Penuhi Kebutuhan Warganya (Sumber Gambar : Nu Online)

NU harus Mampu Penuhi Kebutuhan Warganya

Upaya untuk mengembangkan NU dengan berbasis pada kebutuhan tersebut bisa dilakukan dengan peningkatan kemampuan para pengurusnya. Menurut Kiai Sahal, jajaran syuriyah layak untuk mendapatkan prioritas pertama.

Selama ini banyak pengurus syuriah yang lebih menguasai aspek-aspek keagamaan daripada aspek manajerial dan keorganisasian. Sering seorang syuriah hanya berpendidikan ibtidaiyah tapi bisa menjadi kiai karena mondok di pesantren dalam jangka waktu lama. Disisi lain, jajaran tanfidziyah atau pelaksana banyak yang bergelar S1 sehingga sering ada kesenjangan.

Kondisi inilah yang salah satunya menjadi alasan PBNU menyelenggarakan halaqah dalam upaya meningkatkan pemberdayaan jajaran syuriah. Namun pengaruh Ponpes Maslahul Huda Pati tersebut berpesan agar upaya ini mempertimbangkan aspek jamaah dan jamiyyah sehingga tidak terjadi gelojal yang tidak diinginkan.

Shautus Salam

Ketua Umum MUI tersebut menjelaskan kesenjangan yang timbul ini bisa ditarik dari latar belakang berdirinya NU. Pada zaman dahulu, embrio NU adalah sebuah jamaah, kelompok ulama-ulama yang melakukan kegiatan yang belum dijadikan organisasi yang akhirnya diformalkan manjadi jamaah.

Pada masa awalnya, yang aktif dalam organisasi tersebut juga para ulama. Namun kebutuhan adanya pengurus akhirnya melibatkan orang lain untuk terlibat dalam organisasi.

?

Sampai sekarang, kesenjangan antara syuriah dan tanfidziah tersebut masih terasa. Salah satunya disebabkan oleh pola rekrutmen pengurus syuriyah yang dalam hal tertentu masih kental nuansa jamiyyahnya.

Shautus Salam

“Kalau menggunakan pendekatan jamiyyah, pakai banyak kriteria dan syarat. Kalau pengurus syuriah biasanya pakai aklamasi pura-pura, saya sendiri juga begitu. Tapi kalau tanfidziyah pilihan langsung, kan lain. Ini persoalan jamaah, saya akui itu,” tandasnya.

Akibatnya, seringkali terjadi para pengurus syuriah ketika dimintai pendapat oleh ummatnya tentang suatu masalah seringkali masalah menyerahkan ke jajaran tanfidziyah. Akibatnya timbul kesan bahwa tanfidziyah lebih berkuasa dibandingkan dengan syuriyah karena mereka lebih sering tampil di depan public dan membahas berbagai masalah.

“Ini terjadi karena memang kiai tidak menguasai masalahnya, karena memang cara pemilihan belum sepenuhnya menggunakan kriteria jamiyyah. Kita masih menggunakan pola-pola jamaah itu tadi dalam pola rekrutmen kepengurusan.

Pelatihan ini diikuti oleh 40 orang dari jajaran syuriah, tanfidziyah, lembaga, lajnah, badan otonom dari PBNU dan beberapa pengurus wilayah NU. Acara berlangsung pada 5-6 April dengan membahas meneguhkan peran dan fungsi syuriah dalam struktur organisasi NU, merumuskan sosok kader ideal syuriah NU untuk masa mendatang dan merumuskan rancangan program pemberdayaan syuriah Nahdlatul Ulama. (mkf)



Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Kajian Sunnah, Pemurnian Aqidah, Daerah Shautus Salam

Selasa, 14 November 2017

Paham Aswaja Pertama Kali Masuk Indonesia, Bukan Paham Lain

Sumedang, Shautus Salam. Ketua PCNU Sumedang KH Sa’dulloh menjelaskan bahwa ajaran Islam pertama kali masuk ke Indonesia ialah paham Aswaja. Karenanya paham ini berikut amaliyahnya harus  dipelihara dan dilestarikan.

Paham Aswaja Pertama Kali Masuk Indonesia, Bukan Paham Lain (Sumber Gambar : Nu Online)
Paham Aswaja Pertama Kali Masuk Indonesia, Bukan Paham Lain (Sumber Gambar : Nu Online)

Paham Aswaja Pertama Kali Masuk Indonesia, Bukan Paham Lain

Demikian disampaikan Kiai Sa’dulloh pada pelantikan MWCNU Rancakalong di Pesantren Darul Anwar Rancakalong, Sumedang, Sabtu (9/1).

Kiai Sa’dulloh berpesan agar pengurus NU harus bahu membahu untuk memperkuat dan membersarkan NU. Tradisi-tradisi ubudiah NU harus terus terjaga, malahan ke depannya pengurus NU harus memikirkan bagaimana meningkatan perekonomian warga NU.

Shautus Salam

Menurutnya, akhir-akhir ini banyak orang yang tidak suka dengan ubudiah NU. Malahan ada juga yang terang terangan ingin menhancurkan NU. Salah satu cara yang sering mereka lakukan yaitu dengan cara mengadu domba antarwarga NU.

Mereka membuat fitnah-fitnah yang tidak benar. Mereka bukan Islam yang berpaham Aswaja, tapi justru membenci Aswaja. Karena itu kita selaku warga NU harus bisa melawan fitnah-fitnah tersebut.

Shautus Salam

“Jangan sampai ada warga NU di Sumedang yang terbawa pada bujuk rayuan mereka yang bukan Islam paham Aswaja. Pengurus NU harus bisa membentengi warga nahdliyyin dengan keaswajaan yang sebenarnya,” kata Kiai Sa’dulloh. (Ayi Abdul Kohar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Kajian Sunnah, Hikmah Shautus Salam

Kamis, 09 November 2017

Amankan Istighotsah Kubro NU, Ansor Sidoarjo Siap Terjunkan 500 Personel

Sidoarjo,? Shautus Salam?

Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Sidoarjo akan menerjunkan ratusan anggota Banser untuk mengamankan Istighatsah Kubro yang digelar PWNU Jawa Timur di GOR Delta Sidoarjo, 9 April mendatang.

Amankan Istighotsah Kubro NU, Ansor Sidoarjo Siap Terjunkan 500 Personel (Sumber Gambar : Nu Online)
Amankan Istighotsah Kubro NU, Ansor Sidoarjo Siap Terjunkan 500 Personel (Sumber Gambar : Nu Online)

Amankan Istighotsah Kubro NU, Ansor Sidoarjo Siap Terjunkan 500 Personel

"Kami akan mengerahkan 500 personil Banser dari 18 Pimpinan Anak Cabang Ansor se-Sidoarjo yang akan disebar ke beberapa titik. Banser yang akan diterjunkan ini sudah digembleng sebelumnya," kata Ketua GP Ansor Sidoarjo, H Rizza Ali Faizin, Selasa (4/4).

Rizza menjelaskan, dari 500 personil, 200 di antaranya akan berjaga di dalam stadion dan 300 personil lainnya akan ditempatkan di rute menuju lokasi digelarnya istighatsah.

Rizza berpesan kepada seluruh peserta yang akan mengikuti Istighatsah Kubro dalam rangka memperingati Harlah ke-94 Nahdlatul Ulama itu, untuk menata niat atau hati karena Allah SWT.

Shautus Salam

"Karena ini doa untuk keselamatan dan kedamaian bangsa, bagi jamaah yang hadir, mohon hadir dengan hati yang tulus, ikhlas, dan bersih," pesannya.

Ketua PCNU Sidoarjo, H Maskhun juga mengimbau kepada para jamaah agar memakai baju putih, membawa alas dan membawa bekal makan minum pada kegiatan itu. (Moh Kholidun/Abdullah Alawi)

Shautus Salam

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Kajian Sunnah Shautus Salam

Minggu, 05 November 2017

Animo Masyarakat Terhadap Madrasah Semakin Positif

Jakarta, Shautus Salam. Direktur jenderal pendidikan Islam Kamaruddin Amin menyatakan belakangan ini animo masyarakat untuk mengirimkan anaknya untuk belajar di madrasah semakin tinggi, hal ini bisa dilihat dari jumlah pendaftar di madrasah negeri yang membludak, jauh melebihi kapasitas kursi yang tersedia.

“Madrasah bukan lagi alternatif, tetapi telah menjadi pilihan pertama. Di beberapa madrasah, misalnya di madrasah negeri MAN Model atau Tsanawiyah Model di seluruh Indonesia itu kalau kursinya 150, pendaftarnya bisa sampai 2000. ? Jadi kurang dari 10 persen yang diterima,” katanya di kantor Kemenag Lapangan Banteng, Rabu (26/11).

Animo Masyarakat Terhadap Madrasah Semakin Positif (Sumber Gambar : Nu Online)
Animo Masyarakat Terhadap Madrasah Semakin Positif (Sumber Gambar : Nu Online)

Animo Masyarakat Terhadap Madrasah Semakin Positif

Tak hanya di madrasah negeri, di madrasah swasta yang masih mengalami keterbatasan infrastruktur pun saat ini trennya luar biasa kencang. Salah satu penyebabnya adalah tingkat kelulusan Ujian Nasional yang tidak kalah dengan sekolah, disisi lain mendapat materi keagamaan yang lebih baik dibanding sekolah pada umumnya.

Shautus Salam

Dukungan kuat juga diberikan pada para gubernur, bupati, dan walikota untuk mendirikan madrasah unggulan di daerahnya.

Shautus Salam

“Ini saya baru terima Kanwil Kemenag Sumatra Barat yang di-back up gubernurnya yang menyumbangkan tanahnya 10 hektar untuk dibuat MAN Insan Cendikia karena persyaratannya harus ada tanah yang disumbangkan sebesar 10 hektar ke Kementarian Agama, baru kita membangun MAN IC di disitu. Ini kan tekanannya di sains sehingga madrasah tidak kalah dengan sekolah terbaik se-Indonesia, makanya ada juara olimpiade, tanpa melupakan signifikansi pentingnya pendidikan agama,” tandasnya.?

Ia menambahkan Madrasah Keagamaan untuk mencetak calon ulama juga menjadi perhatian. “Kita ingin seluruh Indonesia juga ada representasi-representasinya, misalnya disini ada madrasah Al Azhar al Syarif yang bekerjasama dengan Univesitas Al Azhar Mesir, kurikulumnya Al Azhar, guru-gurunya juga alumni Al Azhar, pengantarnya pakai bahasa Arab. Ini yang akan direplikasi di seluruh Indonesia.”?

Penyebaran akses

Persoalan pendidikan yang menengah yang masih dihadapi adalah angka partisipasi kasar nasional yang baru mencapai 78 persen sehingga tantangan ke depan adalah bagaimana membawa anak-anak yang lulus tsanawiyah ini belajar di SMA atau Aliyah.?

“Ini tantangannya besar karena tidak sedikit jumlahnya, karena ada dua atau tiga juta anak sekolah. Artinya harus pemerintah menyediakan kursi untuk dua juta murid. Guru sekian, ruang kelas sekian. ? Pendidikan nasional kita masih menghadapi tantangan yang tidak sedikit.”?

Karena itulah, investasi pendidikan di Indonesia sebenarnya masih pada memperbanyak akses pendidikan kepada anak usia sekolah, berbeda dengan negara-negara maju yang sudah selesai dalam soal akses dan infrastruktur, tinggal pengembangan mutunya.?

“Pendidikan Islam khususnya, sebagian besar masih pada pengembangan akses. Jadi untuk pengembangan mutu belum ideal, baik di perguruan atinggi atau pendidikan menengah.”

Beberapa jenis bantuan yang diberikan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia diantaranya adalah Bantuan Operasional Sekolah (BOS), Kartu Indonesia Pintar (KIP) untuk inividu dan sejumlah program lainnya?

“Kita memiliki data madrasah yang roboh, yang perlu di rehab, tetapi, prolemnya kebutuhan dan ketersediaan anggaran belum match. Kita setiap tahun merehab ribuan ruang kelas, tetapi kebutuhannya puluhan ribu.”?

Kini Kemenag kami mengundang semua pihak yang berminat untuk membangun madrasah, “supaya tidak menimbulkan fitnah, kami tidak terima duitnya, kami kasih datanya saja. Anda mau membangun berapa, dimana, silahkan.”

Mengenai alokasi 20 persen APBN untuk pendidikan, hal ini sangat berpengaruh terhadap peningkatan kualitas pendidikan. Sayangnya, proporsi pembagiannya belum ideal antara pendidikan umum dan pendidikan Islam, meskipun trennya masih membaik.?

“Saya belum menganggap ideal dan ini masih perlu penyesuaian, dan terkait banyak hal, pendataan, manajemen tata kelola dan lainnya. Saya optimis, ke depan akan semakin bagus. Saya kira beberapa tahun terakhir, ,pendidikan Islam mendapat perhatian cukup bagus dari pemerintah, yang belum maksimal itu pesantren. ? Karena pesantren pendidikan non formal, tidak sebanyak madrasah.” (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Kajian Sunnah, Pahlawan, Fragmen Shautus Salam

Kamis, 02 November 2017

Pandangan Islam Terhadap Penyandang Disabilitas

Oleh Ahmad Muntaha AM

A. Pengertian Disabilitas

Merujuk UU No 04 tahun 1997, penyandang disabilitas yang dibahasakan dengan istilah penyandang cacat diartikan sebagai setiap orang yang mempunyai kelainan fisik dan/atau mental, yang dapat mengganggu atau merupakan rintangan dan hambatan baginya untuk melakukan secara selayaknya, yang terdiri dari: a) penyandang cacat fisik; b) penyandang cacat mental; dan c) penyandang cacat fisik dan mental. Lebih lanjut undang-undang ini menjelaskan:

Pandangan Islam Terhadap Penyandang Disabilitas (Sumber Gambar : Nu Online)
Pandangan Islam Terhadap Penyandang Disabilitas (Sumber Gambar : Nu Online)

Pandangan Islam Terhadap Penyandang Disabilitas

a. Cacat fisik adalah kecacatan yang mengakibatkan gangguan pada fungsi tubuh, antara lain gerak tubuh, penglihatan, pendengaran, dan kemampuan bicara;

b. Cacat mental adalah kelainan mental dan atau tingkah laku, baik cacat bawaan maupun akibat dari penyakit;

Shautus Salam

Shautus Salam

c. Cacat fisik mental adalah keadaan seseorang yang menyandang dua jenis kecacatan sekaligus.

Dari sini dapat diketahui, bahwa maksud disabilitas adalah kelainan fisik dan/atau mental, yang dapat mengganggu atau menjadi rintangan bagi penyandangnya untuk melakukan aktivitas sebagaimana umumnya orang.

B. Penyandang Disabilitas dalam Perspektif Al-Qur’an, Hadits, dan Ulama Mazhab

Dalam perspektif Islam, penyandang disabilitas identik dengan istilah dzawil âhât, dzawil ihtiyaj al-khashah atau dzawil a’dzâr: orang-orang yang mempunyai keterbatasan, berkebutuhan khusus, atau mempunyai uzur.

Nilai-nilai universalitas Islam seperti al-musawa (kesetaraan/equality: Surat Al-Hujurat: 13), al-‘adalah (keadilan/justice: Surat An-Nisa: 135 dan Al-Maidah ayat 8), al-hurriyyah (kebebasan/freedom: Surat At-Taubah ayat 105) dan semisalnya, sebagaimana Keputusan Muktamar NU Ke-30 tahun 1999 di Kediri  meniscayakan keberpihakan terhadap penyandang disabilitas sekaligus menegasi sikap dan tindakan diskriminatif terhadap mereka.

Lebih spesifik Al-Quran, Hadits, dan pendapat para ulama secara tegas menyampaikan pembelaan terhadap penyandang disabilitas:

1. An-Nur ayat 61:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ... (?: 61)

Artinya, “Tidak ada halangan bagi tunanetra, tunadaksa, orang sakit, dan kalian semua untuk makan bersama dari rumah kalian, rumah bapak kalian atau rumah ibu kalian …” (Surat An-Nur ayat 61).

Ayat ini secara eksplisit menegaskan kesetaraan sosial antara penyandang disabilitas dan mereka yang bukan penyandang disabilitas. Mereka harus diperlakukan secara sama dan diterima secara tulus tanpa diskriminasi dalam kehidupan sosial, sebagaimana penjelasan Syekh Ali As-Shabuni dalam Tafsir Ayatul Ahkam (I/406):

? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? (? ? ?) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

Artinya, “Substansi firman Allah Ta’ala (Surat An-Nur ayat 61) adalah bahwa tidak ada dosa bagi orang-orang yang punya uzur dan keterbatasan (tunanetra, pincang, sakit) untuk makan bersama orang-orang yang sehat (normal), sebab Allah Ta’ala membenci kesombongan dan orang-orang sombong dan menyukai kerendahhatian dari para hamba-Nya.”

Bahkan dari penafsiran ini menjadi jelas bahwa Islam mengecam sikap dan tindakan diskriminatif terhadap para penyandang disabilitas. Terlebih diskriminasi yang berdasarkan kesombongan dan jauh dari akhlaqul karimah.

2. ‘Abasa 1-11:

? ? (1) ? ? ? (2) ? ? ? ? (3) ? ? ? ? (4) ? ? ? (5) ? ? ? (6) ? ? ? ? (7) ? ? ? ? (8) ? ? (9) ? ? ? (10) ? ? ? (11) ... (?/1-11)?

Artinya, “Dia (Muhammad) berwajah masam dan berpaling. Karena seorang tuna netra telah datang kepadanya. Dan tahukah engkau (Muhammad) barangkali ia ingin menyucikan dirinya (dari dosa). Atau ia ingin mendapatkan pengajaran yang memberi manfaat kepadanya. Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup (para pembesar Quraisy), maka engkau (Muhammad) memperhatikan mereka. Padahal tidak ada (cela) atasmu kalau ia tidak menyucikan diri (beriman). Adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran), sementara ia takut kepada Allah, engkau (Muhammad) malah mengabaikannya. Sekali-kali jangan (begitu). Sungguh (ayat-ayat/surat) itu adalah peringatan. …” (Surat ‘Abasa ayat 1-11).

Ulama mufassirin meriwayatkan, bahwa Surat ‘Abasa turun berkaitan dengan salah seorang sahabat penyandang disabilitas, yaitu Abdullah bin Ummi Maktum yang datang kepada Nabi Muhammad SAW untuk memohon bimbingan Islam namun diabaikan. Kemudian turunlah Surat ‘Abasa kepada beliau sebagai peringatan agar memperhatikannya, meskipun tunanetra. Bahkan beliau diharuskan lebih memperhatikannya daripada para pemuka Quraisy. Sejak saat itu, Nabi Muhammad SAW sangat memuliakannya dan bila menjumpainya langsung menyapa:

? ? ? ? ?

Artinya, “Selamat wahai orang yang karenanya aku telah diberi peringatan oleh Tuhanku.”

Semakin jelas, melihat sababun nuzul Surat ‘Abasa, Islam sangat memperhatikan penyandang disabilitas, menerimanya secara setara sebagaimana manusia lainnya dan bahkan memprioitaskannya.

3. Hadits Abu Dawud

? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. (? ? ?)  

Artinya, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Sungguh seseorang niscaya punya suatu derajat di sisi Allah yang tidak akan dicapainya dengan amal, sampai ia diuji dengan cobaan di badannya, lalu dengan ujian itu ia mencapai derajat tersebut,’” (HR Abu Dawud).

Hadits ini memberi pemahaman bahwa di balik keterbatasan fisik (disabilitas) terdapat derajat yang mulia di sisi Allah ta’ala.

4. Pendapat Imam Al-Qurthubi

Berkaitan perintah shalat dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 43, pemuka ulama ahli tafsir asal Cordova Spanyol, Imam Al-Qurthubi (wafat 671 H/1273 M), menyatakan:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.  

Artinya “Tunanetra, orang pincang, orang lumpuh, orang yang terputus tangannya, orang yang dikebiri, dan hamba sahaya tidak mengapa menjadi imam shalat bila masing-masing dari mereka mengetahui tatacara shalat.”

Imam Al-Qurtubi dan para ulama lainnya tidak mempermasalahkan disabilitas. Menurutnya, penyandang disabilitas  semisal tunanetra, tunadaksa dan lainnya boleh-boleh saja menjadi imam shalat asalkan mengetahui tatacaranya. Hal ini meniscayakan pengakuan Islam atas peran para penyandang disabilitas dalam kehidupan sosial kemasyarakatan bahkan dalam peribadahan.

5. Pendapat Imam Ar-Ramli As-Shaghir

Ketika menjelaskan syarat mahram yang menemani wanita saat bepergian Imam Ar-Ramli As-Shaghir (919-1004 H/1513-1596 M), mufti Syafi’i negeri Mesir pada masanya ini menyatakan:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Pengajuan syarat mampu melihat bagi mahram yang menemani wanita saat berpergian oleh Al-‘Abbadi diarahkan dalam konteks orang yang tidak mempunyai kecakapan. Di luar konteks itu, maka banyak tunanetra yang lebih mengetahui berbagai permasalahan dan lebih mampu menolak kesalahpahaman dan praduga daripada orang-orang yang bisa melihat.”

Pendapat ulama ini terang-terangan mengakui dan mengapresiasi peran penyandang disabilitas dalam menjaga kehormatan dan keselamatan para mahram atau keluarganya.

C. Implementasi Keberpihakan Islam Terhadap Penyandang Disabilitas

Pandangan Islam sebagaimana uraian di atas menegaskan semangat keberpihakan Islam terhadap penyandang disabilitas. Implementasi keberpihakan Islam terhadap penyandang disabilitas dilakukan dengan beberapa hal sebagai berikut:

1. Mengarusutamakan pemahaman bahwa Islam memandang penyandang disabilitas setara dengan manusia lainnya.

2. Mendorong penyandang disabilitas untuk mensyukuri segala kondisi dirinya sebagai berkah dari Allah SWT.

3. Mendorong penyandang disabilitas untuk bersikap optimis, mandiri dan mengoptimalkan segala potensinya untuk hidup dan berperan secara lebih luas di tengah kehidupan masyarakat sebagaimana umumnya.

4. Mendorong penyadang disabilitas untuk memperjuangkan hak-hak asasinya: baik hak di bidang pendidikan, sosial, hukum, politik, ekonomi, maupun hak-hak lainnya.

5. Menentang segala sikap dan perlakuan diskriminatif terhadap penyandang disabilitas baik yang dilakukan oleh individu, masyarakat maupun lembaga.

6. Mendukung advokasi terhadap penyandang disabilitas oleh masyarakat, pemerintah, organisasi-organisasi lainnya.

*) Penulis adalah Wakil Sekretaris LBM PWNU Jawa Timur.

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Kajian Sunnah, Ahlussunnah Shautus Salam

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Shautus Salam sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Shautus Salam. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Shautus Salam dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock