Tampilkan postingan dengan label Nasional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nasional. Tampilkan semua postingan

Minggu, 25 Februari 2018

Jalan-jalan ke Dalam Diri

Oleh Aswab Mahasin

Manusia dalam dirinya mempunyai empat hal: harapan, keinginan, kegelisahan, dan penderitaan. Siapapun mereka, sekaya apapun mereka, dan semiskin apapun mereka—empat hal tersebut pasti ada dalam diri manusia. Allah SWT memerintahkan kita untuk selalu berusaha dan berpikir kreatif agar tidak terpenjara oleh empat hal itu. Untuk apa? Sebagai cara manusia bereksistensi.

Dalam kehidupan ini, manusia sering dirundung masalah, dari mulai yang biasa-biasa saja, sampai dengan yang terberat. Kadangkala dalam posisi tertentu tidak sedikit yang merasa kesulitan dan lelah menghadapi masalah. Padahal, jika kita mau berpikir, masalah terbesar kehidupan manusia bukanlah masalah, tapi tanpa masalah. Kenapa? manusia akan mengalami kekosongan, manusia tidak akan “menjadi”, ia berada pada ruang hampa, tanpa bisa dinilai dan tanpa penilaian. Artinya, ia kehilangan eksistensinya. 

Jalan-jalan ke Dalam Diri (Sumber Gambar : Nu Online)
Jalan-jalan ke Dalam Diri (Sumber Gambar : Nu Online)

Jalan-jalan ke Dalam Diri

Manusia dilemparkan ke dunia di awali dengan masalah, Nabi Adam dan Ibu Hawa menghuni dunia ini dimulai dengan kisah “masalah”, putra Nabi Adam saling membunuh adalah “masalah”. Itu sebagai cara Allah SWT agar manusia “menjadi”, tanpa kekosongan. Karena dalam proses menjadi itu manusia berbuat, bertindak, berpikir, dan berkenalan. Perjalanan itu berlaku hingga sekarang, semua manusia berusaha untuk “menjadi” dan bereksistensi. 

Perjalanan dalam proses “menjadi”—manusia dipaksa untuk berhadapan dengan manusia lainnya, yang sama-sama punya keinginan, punya harapan, punya kegelisahan, dan punya penderitaan. Sehingga antara manusia satu dengan manusia lainnya mengalami benturan kepentingan. Di sini terkadang manusia lupa diri dan lupa akan dirinya. 

Shautus Salam

Ini yang paling berbahaya, manusia harus berdamai dengan dirinya sendiri. Tanpa berdamai, susah bagi kita untuk menyelesaikan masalah. Konsekuensinya, kalau tidak lari dari masalah, tergerus oleh masalah, dengan kata lain terhempas dari persaingan hidup. Persaingan jangan dimaknai sebagai saling menjatuhkan, melainkan fastabiqul khairat (berlomba-lomba dalam kebaikan). 

Berlomba dalam kebaikan, berarti tidak melakukan kecurangan. Bermain sepak bola tidak boleh ujug-ujug kita ambil bolanya pakai tangan, kita bawa lari sampai gawang, lalu kita masukan ke gawang lawan. Ini pasti kena kartu merah. Artinya, sama saja kita menambah masalah hidup kita yang sudah penuh masalah.

Dengan demikian, kita dituntut mengenal diri dan menjabat tangan sendiri. Dengan mengenal diri akan mengenal aturan, berarti apa? Kesadaran yang akan terlahir.“Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu” –seseorang yang mengetahui jati dirinya, maka ia akan mengetahui Tuhannya. Telah jelas bukan? Masalahnya pada diri kita sendiri, yang paling susah dari manusia itu merendahkan diri sendiri untuk menghantam kesombongan, dan mengeluarkan kewarasan untuk mengejek kearifan. Seringnya, kearifan kita berbarengan dengan kesombongan kita.

Shautus Salam

Mengenali diri praktiknya tidaklah mudah. Tidak setiap orang dengan sendirinya kenal terhadap kesejatian diri. Setiap orang bisa saja mengenali wajahnya melalui cermin atau foto, namun bukan itu maksudnya, ini perjalanan ke dalam diri. Kenapa orang buta yang tak pernah melihat wajahnya tapi mengenali dirinya, karena ‘menjabat tangan sendiri’ tidak hanya sekedar fisik, tetapi kedalaman jati diri. 

Diri adalah keakuan, atau ego, dan dalam bahasa Arab disebut nafs, pada hakikatnya bersifat transenden, dapat melewati batas-batas fisiknya yang bersifat materi yang terbingkai dalam ruang dan waktu tertentu. Karena itu, keakuan manusia bisa kembali ke masa lalu, seperti masa kanak-kanak atau masa remaja, meskipun saat ini sudah memasuki usia-usia lanjut. Demikian halnya juga dengan keakuan seseorang bisa berada di tempat lain meskipun sebenarnya ia berada di sini. Semua itu dimungkinkan terjadi, karena sifat transendennya ego itu sendiri. (Prof. Dr. Musya Asy’ari, Dialektika Agama untuk Pembebasan Spiritual, [Yogayakarta: LESFI, 2002]. Hlm. 4)

Memasuki diri, keakuan atau ego yang transenden diperlukan kemampuan untuk mengenali jati diri secara benar, yaitu dengan memahami, memasuki dan menyatu dalam substansi jati diri yang aktual, yang terbangun dari berbagai komponen yang membentuk suatu kepribadian dalam aktualitas tindakan atau karyanya, baik komponen yang fisik maupun komponen yang metafisik. (Prof. Dr. Musya Asy’ari: 2002)

Allah SWT Berfirman, “Dan Allah telah menyempurnakan bagimu nikmat zahir dan nikmat batin.” (QS. Lukman: 20). Dalam surat Adh-Dhariyat ayat 21, Allah berfirman, “Dan di dalam diri kamu apakah kamu tidak memperhatikannya”. Selain itu, dalam Hadits Qudsi, “Aku jadikan dalam rongga anak Adam itu mahligai,dan dalam mahligai itu ada dada, dan dalam dada itu ada hati (qalbu) namanya, dan dalam hati (qalbu) ada mata hati (fuad), dan dalam mata hati (fuad) itu ada penutup mata hati (saghaf), dan dibalik penutup mata hati (saghaf) itu ada nur/cahaya (labban), dan di dalam nur/cahaya (labban) ada rahasia (sirr), dan di dalam rahasia (sirr) itulah Aku kata Allah.”

Dengan demikian, mengenali diri selalu bersifat ke dalam dirisebagai manhaj/metode memahami Tuhannya, agar kita tidak lupa bahwa kita adalah manusia, tidak sepantasnya berlaku seperti Tuhan. Manusia diciptakan tidak lain untuk beribadah kepada Allah. Dengan demikian, proses perjalanan ke dalam diri harus dengan penghayatan yang mendalam, jujur akan setiap tindakan dan tidak boleh merasa benar.

Dalam perspektif tasawuf, yang dimaksud dengan diri manusia (al-nafs al-insaniyah) bukanlah diri dalam pengertian fisiologi yang bersifat kebendaan (maddi), atau diri sebagaimana dipahami dalam psikologi yang lebih bersifat kehewanan. Tetapi diri yang dimaksudkan oleh ahli tasawuf ialah diri asali manusia yang secara fitrahnya (human nature) mempunyai kecenderungan menyembah Allah Taala. Konsep fitrah dalam Islam menuntut bahwa manusia dari segi sifat dasarnya adalah beragama tauhid.

Menurut al-Qur’an, sejak awal penciptaan Adam sudah terdapat perjanjian (mithaq) dan kesaksian (syahadah) daripada jiwa manusia, hanya Allah yang merupakan Tuhan sebenarnya, tiada yang lain. (lihat QS. Al-A’raf: 172). (Abdul Rahman Haji Abdullah, Wacana Falsafah Ilmu: Analisis Konsep-konsep Asas dan Falsafah Pendidikan Negara [Kuala Lumpur: Utusan Publications & Distributors Sdn Bhd, 2005]. Hlm. 89-90)

Sebab itu, orang yang sudah mampu mengenal dirinya, selalu digambarkan sebagai sosok yang arif, bijaksana, suka menolong, dan penuh pesona kebaikan. Berbeda sebaliknya, orang yang masih jauh akan pengenalan diri, hidupnya belum berdamai dengan siapapun, ia arogan, sembrono, dan semaunya sendiri.

Zaman now, kita banyak menemukan orang yang semaunya sendiri. Kemaren, ada seorang suami menembak istrinya, kejadian ini aneh bin ajaib. Saya tidak tahu masalahnya apa, namun tidak ada prinsip kemanusiaan satu pun yang mengizinkan seseorang membunuh, apalagi istrinya sendiri. Sebelum-sebelumnya, ada kejadian anak membunuh orang tuanya, orang tua membunuh anaknya, dan ada orang tua memperkosa anaknya. Orang-orang ini maunya apa?

Kalau boleh usul, Indonesia dengan berbagai macam kegaduhannya, harus ada pembersihan jiwa nasional (Tazkiyyat al-nafs) atau penyucian hati nasional (tasfiyah al-qalb). Jangan hanya patah hati saja yang nasional, tapi pembersihan diri juga harus digerakan secara nasional. Yang disayangkan, setiap aktifitas keagamaan ada muatan politiknya, bukannya jadi bersih malah semakin kotor (baca: gaduh). Lantas bagaimana?

Pembersihan jiwa dan hati nasional, bukan berarti berkumpul sampai mengumpulkan puluhan juta atau ratusan juta orang, tidak. Melainkan, tumbuh kesadaran dari setiap individu, kelompok, organisasi, dan pemerintahnya juga, untuk satu sama lain saling mengingatkan, menjaga sikap, menjaga lisan, menjaga tulisan, menjaga ujaran, dan meminimalisir semua tindakan yang dapat menyulut perpecahan. Minimal, satu sama lain dari kita mau bercermin dan berintrospeksi diri. 

  

Menjalin kesatuan umat seperti itu memang tidak mudah, kalau begitu alternatifnya adalah melalui jalur pendidikan: sekolah, pesantren, dan lembaga-lembaga pendidikan lainnya. Atau melalui mushola-mushola, dimana peran kiai kampung, memberikan pemahaman terhadap anak didiknya yang mengaji. “La yu’minu ahadukum hatta yuhibbu liakhihi kama yuhibbu linafsihi”—tidak beriman seseorang hinga ia dapat mencintai saudaranya seperti ia mencitai dirinya sendiri. “Al fitnatu asyaddu minal qatli”—fitnah lebih kejam daripada pembunuhan. “Inna ba’dla zanni ismun”—sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. 

Penulis adalah Pembaca Setia Shautus Salam.

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Ahlussunnah, Nasional, Halaqoh Shautus Salam

Sabtu, 24 Februari 2018

Temuan Penelitian Layanan Pendidikan Agama di SMAN 1 Denpasar

Jakarta, Shautus Salam. Masyarakat Bali dan khususnya kota Denpasar yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kebersamaan dan kebangsaan, tentu dapat menunjukkan sikap dan perilaku toleran yang dapat menjadi contoh dan suri teladan dalam kebidupan bermasyarakat dan berbangsa. 

Untuk itu, penelitian di SMAN 1 kota Denpasar dikemukakan sebagai fakta dan bukti adanya apresiasi dan dukungan pemerintah daerah, dan masyarakat (komite sekolah) dalam menjunjung tinggi nilai toleransi. 

Temuan Penelitian Layanan Pendidikan Agama di SMAN 1 Denpasar (Sumber Gambar : Nu Online)
Temuan Penelitian Layanan Pendidikan Agama di SMAN 1 Denpasar (Sumber Gambar : Nu Online)

Temuan Penelitian Layanan Pendidikan Agama di SMAN 1 Denpasar

Hasil penelitian Balitbang Diklat Kemenag 2016 menemukan layanan pendidikan agama di SMAN 1 Denpasar dilaksanakan sesuai dengan agama siswa. Setiap siswa mendapatkan pelajaran agama dari guru, dan buku sumber yang sesuai dengan agama siswa. Untuk kelas atau rombongan belajar dengan jumlah siswa yang sedikit, maka proses pembelajaran digabung dengan siswa pada kelas lainnya. 

Bahkan pada praktik  ibadah dan pembelajaran dapat dilakukan penggabungan dengan sekolah lain. Pelaksanaan penggabungan pembelajaran agama yang digabung dengan siswa seagama pada sekolah lain di SMAN 1 Denpasar dilakukan oleh siswa agama Katholik dan agama Buddha. 

Rumah/tempat ibadah dalam bentuk bangunan yang berdiri di dalam komplek sekolah adalah Pura. Sementera rumah ibadah agama lain tidak tersedia. Untuk melayani pelaksanaan ibadah siswa agama lain maka disiapkan aula. Tempat ini yang biasa digunakan oleh siswa-siswi dan karyawan muslim untuk melaksanakan ibadah sholat. 

Perayaan hari besar agama dilaksanakan secara bebas, dalam artian bahwa setiap siswa dapat/diperbolehkan bahkan difasilitasi oleh sekolah untuk merayakan peringatan hari besar agamanya. Karja sama antar siswa beda agama juga terlihat dalam perayaan hari besar umat beragama tersebut. 

Shautus Salam

Faktor paling utama yang mendukung penyelenggaraan pendidikan agama sesuai agama siswa adalah Kepala Sekolah dan Komite Sekolah. Sebagai pimpinan lembaga dan memiliki kewenangan, kedua lembaga tersebut berusaha untuk memenuhi ketersediaan guru agama di sekolah SMAN 1 Denpasar. Fungsi kantor Kementerian Agama kota Denpasar untuk memenuhi ketersediaan tenaga pengajar, dan buku-buku agama masih belum terlaksana maksimal.

Secara umum, penerima manfaat dari penelitian ini adalah seluruh pemangku kepentingan pendidikan khususnya masyarakat dan lembaga penyelenggara pendidikan di kota Denpasar pada khususnya. Melalui penelitian ini masyarakat dapat mengetahui salah satu profil lembaga pendidikan pada daerah mayoritas Hindu yang memiliki perhatian dan kepedulian untuk memberikan layanan pendidikan agama kepada siswanya sesuai agama yang dianutnya. 

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memperkuat kesan masyarakat Bali, dan Denpasar pada khususnya sebagai bagian dari masyarakat Indonesia yang menjunjung tinggi nilai-nilai kebhinnekaan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. (Kendi Setiawan)

Shautus Salam

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Ulama, Nasional, Kiai Shautus Salam

Selasa, 06 Februari 2018

Halal Bihalal, Alumni Pelajar NU Tasik Pikirkan Kader

Tasikmalaya, Shautus Salam - Majelis Alumni Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (MA IPNU) Kota Tasikmalaya menggelar Halal Bihalal, Ahad (17/7). Sebanyak 30 orang hadirin ini melakukan restrukturisasi kepengurusan presedium MA IPNU Kota Tasikmalaya.

Kepengurusan MA IPNU ini diharapkan mampu mendistribusikan para kader, anggota, atau junior-juniornya sesuai kemampuan dan keahliannya pascapengabdian mereka di IPNU.

Halal Bihalal, Alumni Pelajar NU Tasik Pikirkan Kader (Sumber Gambar : Nu Online)
Halal Bihalal, Alumni Pelajar NU Tasik Pikirkan Kader (Sumber Gambar : Nu Online)

Halal Bihalal, Alumni Pelajar NU Tasik Pikirkan Kader

Menurut Ketua Pelaksana Halal Bihalal MA IPNU Aan Ahmad Farhan, hal ini merupakan agenda pertama yang dilakukan MA IPNU Kota Tasikmalaya. Meskipun yang hadir sedikit, gagasan ini harus menjadi gerakan untuk ke depannya.

“Acara halal bihalal ini bukan sekadar untuk saling memaafkan, akan tetapi momentum di mana para alumni dapat bertatap muka langsung, alumni dan pengurus, alumni dan kader serta anggota IPNU,” kata Aan.

Shautus Salam

Sementara Ketua Presedium MA IPNU Kota Tasikmalaya KH Didi Hudaya berharap gagasan ini harus menjadi gerakan MA IPNU untuk ke depannya, dan harus berlangsung di masa mendatang. Dengan begitu keterkaitan alumni, pengurus, kader dan anggota terjalin dengan kuat dan erat.

Shautus Salam

“Kita itu jangan menjadi aktivis curriculum vitae saja, tetapi harus menjadi penggagas dan penggerak serta pemecah suatu permasalahan,” kata Kiai Didi.

Pada kesempatan ini ia berharap para kader NU menjaga dan mencintai serta melestarikan tradisi-tradisi yang sudah diwariskan oleh para kiai NU terdahulu. (Agum Gumilar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Ulama, Nasional, Kiai Shautus Salam

Senin, 22 Januari 2018

Kemenag Tak Akan Atur Penggunaan Atribut Keagamaan

Jakarta, Shautus Salam. Kementerian Agama Republik Indonesia menegaskan tak akan membuat aturan berisi perintah atau larangan tentang penggunaan atribut dan pakaian keagamaan tertentu. Sikap ini disampaikan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin terhadap isu penggunaan pakaian atau atribut Kristen jelang peringatan Natal.

Kemenag Tak Akan Atur Penggunaan Atribut Keagamaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kemenag Tak Akan Atur Penggunaan Atribut Keagamaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Kemenag Tak Akan Atur Penggunaan Atribut Keagamaan

“Masing-masing kita dituntut untuk dewasa dan bijak untuk tidak menuntut apalagi memaksa seseorang menggunakan pakaian atau atribut agama yang tidak dianutnya,” katanya dalam siaran pers yang dikirim melalui Bidang Hubungan Masyarakat Kemenag RI, Selasa (9/12).

Seorang Muslim, tambah Lukman, tidak usah dituntut menggunakan kalung salib atau topi sinterklas demi menghormati Hari Natal. Juga umat perempuan nonmuslim tidak perlu dipaksa berjilbab demi hormati Idul Fitri.

Shautus Salam

“Bertoleransi bukanlah saling meleburkan dan mencampurbaurkan identitas masing-masing atribut dan simbol keagamaan yang berbeda. Bertoleransi adalah saling memahami, mengerti, dan menghormati akan perbedaan masing-masing, bukan menuntut pihak lain yang berbeda untuk menjadi sama seperti dirinya,” tegasnya. (Mahbib Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam

Shautus Salam Olahraga, Nasional, Pondok Pesantren Shautus Salam

Nusron Wahid: Wahabi Gentayangan di Dunia Maya dan Pendidikan

Jepara, Shautus Salam

Gerakan politik khilafah ISIS yang berkembang di Suriah dan Irak hingga saat ini sudah berjalan 15 tahun. Cita-cita gerakan ini sendiri ditargetkan berjalan 50 tahun. Artinya, masih ada waktu 35 tahun untuk melanjutkan cita-cita ini.

Ketua PBNU H Nusron Wahid menyatakan hal ini dalam Pelantikan Lembaga-lembaga PCNU Jepara masa khidmah 2015-2020 dan Pembinaan Keorganisasian NU yang berlangsung di Gedung NU Jepara, Jawa Tengah, akhir pekan lalu (24/1).

Nusron Wahid: Wahabi Gentayangan di Dunia Maya dan Pendidikan (Sumber Gambar : Nu Online)
Nusron Wahid: Wahabi Gentayangan di Dunia Maya dan Pendidikan (Sumber Gambar : Nu Online)

Nusron Wahid: Wahabi Gentayangan di Dunia Maya dan Pendidikan

ISIS, menurutnya, tidak pernah menarget orang tua yang sudah sepuh tetapi mereka membidik usia 40 tahun ke bawah. Ustadz-ustadz Wahabi bergentayangan di dunia maya tiada henti. Anak muda yang selalu bersinggungan dengan dunia maya, terutama media sosial, setiap saat sebagai target utama mereka.

Shautus Salam

Melihat keprihatinan ini, menurut Nusron, elemen-elemen yang menaungi anak muda NU harus dicek keberadaannya. Apakah sekolah-sekolah yang ada sudah ada IPNU-IPPNU-nya? Apakah pemuda dan pemudi yang ada sudah bergabung dengan GP Ansor maupun Fatayat NU? Atau malah generasi muda kini sudah menjadi pemabuk dan problem negatif lainnya. ujarnya. ?

Problem

Shautus Salam

Ketua Bidang Pengaderan PBNU ini menjelaskan, problem ini terjadi karena kader NU banyak yang masih kurang terdidik, pengangguran dan miskin. Lalu, aktivis muda NU asal Kudus ini mengutip strategi penyelesaian problem ala Hernando Desoto.

Dari lima legal access yang ditawarkan Hernando, yakni akses tanah, akses pendidikan, akses modal, akses teknologi, dan akses pasar. Menurut Nusron, pendidikan merupakan hal utama yang harus diperkuat. “Usia 18-23? biarkan mereka belajar,” katanya.

Untuk usia 25-35 tahun, jelasnya, lebih ditekankan pada penguatan perekonomian. Yang tidak kalah penting lagi, kata Nusron, adalah penataan kelembagaan NU.

Mantan Ketua Umum GP Ansor ini menggarisbawahi lini pendidikan. Bahwa siswa dengan nilai yang bagus biasanya lebih memilih SMA 1. Sisanya yang dengan nilai pas-pasan masuk di sekolah LP Maarif NU.

Nah, tambahnya, di sekolah-sekolah negeri itulah agen Wahabi masuk di kegiatan Rohis yang tutornya berasal dari kampus. Sehingga, tegasnya, perlu pola pendampingan massif. Karena di sekolah umum susah untuk memasukkan IPNU-IPPNU.

Saat ini para pengikut Wahabi di Indonesia bukan dari orang lain. Tetapi bahkan dari warga NU sendiri. Anak warga NU yang menempuh studi di luar kota menjadi salah satu penyebabnya.

Penelitian yang ia lakukan bersama teman-temannya menemukan fakta satu? keluarga NU yang kebetulan kuliah di luar kota menjadi Wahabi. Ia pun prihatin ketika mendengar cerita-cerita dari kawannya di sekolah-sekolah negeri susah ketika akan mengadakan maulid. Alih-alih tradisi NU itu dilarang oleh murid.

Keprihatinan lain, 1600 dari penerima beasiswa LPDP disinyalir yang disiapkan untuk antek Wahabi.? ?

Oleh sebab itu, Nusron mengajak agar NU turut bergerak. Beasiswa-beasiswa yang disediakan oleh pemerintah semacam bidik misi dan LPDP separuhnya harus diambil alih oleh kader NU.

Salah satu cara yang bisa ditempuh, di setiap kecamatan wajib ada Bimbel yang dikelola Maarif maupun Muslimat. Maarif dan Muslimat juga harus punya database murid agar alumni yang “hilang bisa segera dilacak. (Syaiful Mustaqim/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Nasional, Warta, Tegal Shautus Salam

Rabu, 03 Januari 2018

Kapan Nikah?

Menjelang mudik Lebaran, Dulkirom, seorang anggota Banser, dak-dik-duk menghadapi pertanyaan “kapan nikah?” dari segenap pintu rumah kerabat yang bakal ia kunjungi. Baginya, usia 34 tahun belum ijab-qabul adalah aib, bahkan bid’ah bagi sekelompok orang.

Benar. Serangan yang ia khawatirkan pun tiba.

Kapan Nikah? (Sumber Gambar : Nu Online)
Kapan Nikah? (Sumber Gambar : Nu Online)

Kapan Nikah?

“Kapan nikah, Nak?” Pertanyaan meluncur dari Pak Leknya (paman).

“Wah, KUA Lebaran gini masih tutup, Pak Lek,” jawabnya ngeles.

Shautus Salam

Pertanyaan serupa muncul dari anggota keluarga lain dan sahabat-sahabatnya dan dijawab dengan alasan yang sama. Terus berulang dari pintu ke pintu hingga sembilan kali.

Shautus Salam

“Terus kalau KUA sudah buka, tanggal berapa mau kawin?” Tanya salah satu bibinya.

Jawaban tak mungkin sama. Sambil melirik saudara sepupunya, si Banser sok berkonsultasi, “Enaknya, punya rumah dulu atau mobil dulu ya sebelum nikah?”

“Kalau menurutku, ya mesti punya calon dulu,” balas rekannya sambil ngelonyor. (Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Nasional Shautus Salam

Senin, 01 Januari 2018

Spiritualitas Pembeda Unusia dengan Kampus Lain

Jakarta, Shautus Salam

Ada orang yang beriman, tetapi tidak berilmu. Juga ada orang berilmu, sayangnya tidak beriman. Padahal Allah SWT mengangkat derajat orang-orang yang beriman sekaligus berilmu. Beriman sekaligus berilmu itulah yang menjadi cita-cita Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia).

Demikian disampaikan Rektor Unusia Prof Dr Ir Maksoem Machfoedz pada? ceramah ilmiah berjudul “Spiritualisasi Keilmuan” dalam rangka Dies Natalis Ke-1 Unusia di Aula Utama Unusia, Jalan Taman Amir Hamzah, Menteng Jakarta Pusat, Rabu (15/6).

Spiritualitas Pembeda Unusia dengan Kampus Lain (Sumber Gambar : Nu Online)
Spiritualitas Pembeda Unusia dengan Kampus Lain (Sumber Gambar : Nu Online)

Spiritualitas Pembeda Unusia dengan Kampus Lain

Peringatan ulang tahun pertama Unusia mengambil tema “Menuju Kampus Bermutu”. Dalam ceramahnya, Prof Maksoem pun mengambil analogi keilmuan yang ingin dikembangkan Unusia dengan spirit ibadah puasa.

Shautus Salam

Pelaksanaan ibadah puasa harus mampu mengendalikan hawa nafsu. Bagi mahasiswi hendaknya menghindari perguncingan, dan mahasiswa harus mampu menjaga pandangan mata yang dapat mengundang syahwat. Puasa jangan sampai hanya mendatangkan derita lapar dan dahaga. Karena puasa bertujuan menjadikan manusia bertakwa.

Ketakwaan dapat dilihat dari beberapa dimensi, yaitu ubudiyah dan pembentukan karakter. Salah satu bentuk karakter takwa adalah keadilan. Keadilan mendekatkan pula kepada ketakwaan. Keadilan harus ditegakkan, walaupun berkaitan dengan orang terdekat, juga tidak peduli kaya atau miskin. Keadilan harus pula diaplikasikan melalui sikap kita dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Shautus Salam

Prof Maksoem menegaskan semua tujuan itu dikaji, dibentuk dan diwujudkan dalam program studi-program studi yang diselenggarakan di Unusia. Adalah tantangan bagi keberadaan program studi humaniora dengan aneka pendekatan keilmuannya untuk menerjemahkan cita-cita dan amanat spiritual keadilan. Sudah tiba waktunya dipertanyakan eksistensi keilmuan Hukum ketika ketidakadilan justru menjadi raja diraja. Pertanyaan yang sama juga menjadi tantangan serius bagi Ilmu Psikologi, Sosiologi, Komunikasi sampai Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).

Penting direnungkan, lanjut Prof Maksoem, bahwa krisis ekonomi merupakan kegagalan keilmuan ekonomi baik dari sisi manajemen maupun akuntansinya. Tantangan keilmuan ekonomi adalah menerjemahkan ekonomi yang berkeadilan. Ilmu ekonomi yang selama ini diterapkan hanya memperhatikan keuntungan uang.

Menurut Prof Maksoem ilmu teknik juga sama saja, bahkan cenderung menjadi hamba kapitalis. “Pernahkah kita berpikir ada lulusan Sistem Informasi yang pro rakyat kecil? Umumnya mereka sangat pro kapitalisme dan liberalisme,” kata Prof Maksoem.

Setiap ada warga yang miskin, selalu yang disalahkan adalah kaum miskin tersebut. Kaum miskin dipersalahkan karena kalah bersaing, tidak belajar, dan dianggap pantas saja ada fakir miskin.

Prof Maksoem berasumsi, bila Allah tidak menyaratkan perhatian orang muslim terhadap kaum miskin, kira-kira apa ada puasa wajib? Bila tidak ada kepentingan dengan fakir miskin bisa jadi puasa Ramadhan tidak wajib. Karena salah satu hikmah berpuasa adalah membangun simpati dan empati kepada kaum miskin.

Puasa juga tidak lengkap apabila tidak ada kewajiban membayar zakat. Membayar zakat haruslah kepada orang yang berhak, salah satunya fakir miskin.

Prof Maksoem mendorong mahasiswa Unusia semua jurusan menjadi ilmuwan yang tidak hanya intelektual, tetapi ilmuwan yang bertindak untuk kemaslahatan umat. Ilmuan seperti itulah yang oleh Allah disebut ulama. Yakni mereka yang dengan ilmunya—ilmu apa pun, tidak harus ilmu agama—dapat memberikan manfaat bagi orang lain. (Kendi Setiawan/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Nasional, Hikmah, Ulama Shautus Salam

Selasa, 12 Desember 2017

NU Jangan Sampai Terpancing

Semarang, Shautus Salam

Warga NU diminta jangan terpancing dengan tindakan yang dilakukan orang untuk merusak citra jam’iyyah ini. Penyerangan Kantor PWNU Sulsel pada hari Kesaktian Pancasila dan laporan sebuah majalah tentang kekerasan, tidak perlu ditanggapi emosional. 

Demikian disampaikan Wakil Ketua Umum PBNU H As’ad Said Ali dalam Dialog Tentang Peran Ulama dan Tokoh Masyarakat Se-Jawa Tengah dalam Menegakkan Konstitusi dan Gerakan Anti Korupsi yang di Aula Lantai III Kantor Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jateng, Jalan Dr. Cipto 180 Semarang, Sabtu (6/10). 

NU Jangan Sampai Terpancing (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Jangan Sampai Terpancing (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Jangan Sampai Terpancing

“NU jangan sampai terpancing. Semua provokasi dan cercaan sudah biasa dihadapi NU sejak dulu,” ujarnya di hadapan utusan Pengurus Cabang NU se-Jateng, pengurus lajnah, lembaga dan badan otonom serta para kiai pesantren. 

Lebih lanjut As’ad mengatakan, para kiai di pesantren maupun dalam struktur pengurus NU, cenderung mengedepankan akhlak dan semangat perdamaian. Karena hati mereka dijiwai semangat dakwah  alias mengajak kebaikan, maka cara berpikirnya serba husnudhon. Lalu tindakan mereka cenderung mengayomi dan menyayangi. 

Repotnya, kata Asad, ketika pihak-pihak yang diayomi NU itu diidentifikasi sebagai kelompok sesat golongan jahat, NU dan para kiainya yang disalahkan. Bahkan termasuk oleh warga NU sendiri. Terlebih jika ada di antara yang membenci itu orang yang mengaku sebagai Nahdliyin. 

Shautus Salam

"Contohnya, kala Gus Dur sebagai representasi NU mengayomi Ahmadiyah, bayank orang ramai-ramai menyalahkan. Saat ada Jaringan Islam Liberal, NU pula yang dituding negatif. Terlebih saat ada kasus kekerasan di Sampang, NU terkena getahnya walaupun sebatas ucapan orang per orang yang menuduh warga NU pelakunya," paparnya. 

“Para  kiai itu selalu husnudhon. Setiap orang dianggap baik dan ingin selalu diajak baik. Namun ulama sering disalahkan ketika pihak yang dibela dan diayomi itu dianggap salah atau sesat,” lanjutnya. 

Komitmen Bernegara  As’ad yang didampingi Ketua tanfidziyah PWNU Jateng M Adnan, ketua Lembaga Perguruan Tinggi NU Dr Noor Ahmad ini menyampaikan, sejak berdiri tahun 1926, NU selalu menjaga NKRI.

Komitmen NU adalah komitmen bernegara, mengayomi seluruh bangsa. Maka tindakan NU selalu dijiwai semangat Bhinneka Tunggal Ika dan menjadikan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai tolok ukur menyikapi problem bangsa dan Negara. 

Shautus Salam

Ahmadiyah, Syi’ah, JIL, atau apapun namanya, punya hak hidup di negara berdasar Pancasila ini. Para pengikutnya, sebagai warga negara yang sah, berhak diberi perlindungan hokum dan keamanan. Persoalan mereka dianggap keliru dalam aqidah atau syariat atau akhlaknya, itu harus didakwahi dengan cara yang sesuai ajaran Gusti Allah dan tuntunan Rasulullah. 

“Orang tersesat itu mestinya diberi pengertian, ditunjukkan jalan yang lurus. Bukan dimusuhi atau dibasmi. Negara tidak boleh mendiskriminasi mereka,” tegasnya.

Lebih lanjut ia menjelaskan, Munas dan Konbes NU yang digelar di Cirebon 13-17 September lalu meneguhkan komitmen itu, dengan mengusung tema “Kembali Ke Khittah Proklamasi 1945. 

Yang perlu dilakukan saat ini, kata dia, adalah memperkuat persatuan warga bangsa untuk mengatasi masalah berat negeri tercinta. Yaitu soal korupsi yang merajalela dan ancaman disintegrasi yang semakin kentara. 

Lebih khusus dia berpesan kepada warga NU, khususnya para ulama, untuk memperkuat ukhuwah dan kekompakan dalam menghadapi setiap masalah. Umat perlu dibimbing dan dijaga terus, karena selalu ada orang yang mengangkat isu PKI untuk kepentingan politik dan hendak melanggengkan kekuasaan dengan cara yang culas. 

“Kita harus memperkokoh persatuan dan terus membina kekompakan. Persaudaraan antar kita harus terus kita pupuk. Para ulama harus terus membimbing umatnya,” pungkas dia. 

Acara dilanjutkan dengan dialog Ketua KPK Abraham Samad yang didampingi Rais Syuriyah PBNU KH Hasyim Muzadi, setelah diselingi jeda sholat dluhur. 

Kontributor: Ichwan 

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Nasional, Nahdlatul Ulama Shautus Salam

Senin, 04 Desember 2017

#Harlah89NU Jadi Trending Topic di Twitter

Jakarta, Shautus Salam. Hari lahir ke-89 Nahdlatul Ulama yang jatuh pada hari ini, Sabtu (31/1), ramai diperbicangkan di media sosial, termasuk Twitter. Bahkan, pada pukul 12.00 WIB tampak kicauan ribuan nitizen di twitter berhasil membuat tagar #Harlah89NU masuk dalam daftar trending topic.

#Harlah89NU Jadi Trending Topic di Twitter (Sumber Gambar : Nu Online)
#Harlah89NU Jadi Trending Topic di Twitter (Sumber Gambar : Nu Online)

#Harlah89NU Jadi Trending Topic di Twitter

Kicauan para pengguna twitter tersebut umumnya berisi ucapan selamat, serta sejumlah harapan dan masukan untuk eksistensi NU ke depan. Sebagian juga turut memeriahkan akun mereka dengan foto-foto bersejarah NU atau kutipan-kutipan kata bijak ulama NU.

“Selamat Hari Lahir @nu_online ke-89. Mari wujudkan masyarakat yang sejahtera, berkeadilan, demokratis dan mandiri. #Harlah89NU,” kicau @Kemenag_RI, akun resmi Kementerian Agama RI.

Shautus Salam

Ada pula? nitizen yang memuji NU, seperti yang dikicaukan @seblat. Ia mengaku tak pernah gabung dengan organisasi NU, tetapi tetap merasa NU. Selain faktor keturunan juga kenyamanan. “Dan yg asik, NU itu nggak ke arab2an, pdhl pd jago bahasa arab. Harlah ya bukan Milad #harlah89NU.”

Shautus Salam

Sejumlah doa dan kritik juga muncul dari para nitizen. Mereka berharap NU memberi perhatian lebih pada masyarakat di akar rumput, dan tak terlalu masuk ke dalam politik praktis.

“Anggota NU terbanyak dari masyarakat pinggir. Smg di #Harlah89NU ini mnjd momentum merawat basis terbawah. Ajak bicara mereka,” kicau @WahidRI.

Peringatan harlah ke-89 NU hari ini diperingati di halaman kantor PBNU, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta Pusat. Wakil Presiden RI H Muhammad Jusuf Kalla dijadwalkan hadir pada puncak acara yang berlanngsung pukul 19.30 WIB malam nanti. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Nasional, Nahdlatul, Internasional Shautus Salam

Jumat, 24 November 2017

Anggota DPRD Kota Banjar Motivasi PMII Profesional di Segela Bidang

Banjar, Shautus Salam - Anggota DPRD Kota Banjar, Jawa Barat, Gun Gun Gunawan Abdul Jawad berharap besar kader Pergerakan Mahasiswa Isam Indonesia (PMII) menjadi manusia yang profesional dalam segala bidang. Menurutnya, sehebat apapun pemikiran kader PMII ketika tidak diimbangi profesionalitas, maka lunturlah apa yang diharapkan.

“Kata kunci menjadi kader yang profesional adalah disiplin dalam berbagai kondisi apapun. Saya yakin, kader yang berhasil tidak lepas dari profesionalitas serta kedisiplinan dalam menekuni bidang yang ditekuni. Sang pendekar pena, Mahbub Djunaidi, contoh inspiratif yang perlu dipelajari seutuhnya oleh kader PMII, beliau mengubah bangsa lewat pena,” ujar mantan aktivis PMII ini.

Anggota DPRD Kota Banjar Motivasi PMII Profesional di Segela Bidang (Sumber Gambar : Nu Online)
Anggota DPRD Kota Banjar Motivasi PMII Profesional di Segela Bidang (Sumber Gambar : Nu Online)

Anggota DPRD Kota Banjar Motivasi PMII Profesional di Segela Bidang

Gun Gun Gunawan menyampaikan hal itu seiring usia PMII yang menginjak ke-56 tahun dalam acara peringatan hari lahir PMII yang digelar Pengurus Komisariat PMII Sangkuriang Sekolah Tinggi Agama Islam Mifatahul Huda Al Azhar (STAIMA) Kota Banjar.

Peringatan harlah yang digelar di Balai Penyuluhan Pertanian Kecamatan Pataruman Kota Banjar, Ahad (24/4) tersebut diisi berbagai kreasi seni tari dan unjuk kebolehan bahasa Inggris. Kegiatan betajuk “Membuka Kembali Sejarah PMII Kota Banjar dan Memperkokoh Organisasi” itu berlangsung meriah dengan kehadiran para alumni dan pendiri PMII Kota Banjar.

Shautus Salam

Ketua PK PMII Sangkuriang STAIMA Kota Banjar Sirojul Muntaha menuturkan, kegiatan harlah kali ini merupakan ajang kader PMII merefleksikan kreativitasnya. Selain membuka kembali sejarah pergulatan PMII dari masa ke masa baik ditingkat nasional maupun di lokal Kota Banjar, juga membuka ruang kader menatap arah PMII ke depan.

Shautus Salam

“Kaderisasi tetap harus menjadi prioritas utama sebagai senjata dalam organisasi PMII. Adapun kreativitas yang berasal dari minat dan bakat kader perlu diwadahi dalam setiap kegiatan PMII maupun di luar sebagai wujud pengabdian kader PMII terhadap masyarakat. Misalnya penggunaan bahasa inggris adalah rutinan kader setiap minggunya, kita aplikasikan dalam sebuah acara,” ungkapnya kepada Shautus Salam di sela-sela kegiatan harlah. (Muhafid/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Tegal, Nasional Shautus Salam

NU Banjar Susun Kurikulum Aswaja untuk Sekolah Umum

Banjar, Shautus Salam

Pendidikan Aswaja dalam pendidikan sekolah berbasis agama sudah biasa. Namun, di Kota Banjar akan disusun kurikulum mata pelajaran Aswaja di sekolah umum. Seperti yang disampaikan Rais Syuriah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kota Banjar KH Mu’in.

NU Banjar Susun Kurikulum Aswaja untuk Sekolah Umum (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Banjar Susun Kurikulum Aswaja untuk Sekolah Umum (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Banjar Susun Kurikulum Aswaja untuk Sekolah Umum

Menurutnya, upaya ini menjadi salah satu bentuk nyata dalam menangkal paham radikal sejak dini. Karena itu, semua warga Nahdliyin di berbagai bidang strategis harus mendukung rencana tersebut. Sebab, pendidikan Aswaja terhadap siswa akan berdampak positif dikemdian hari.

“Sejarah sudah membuktikan, pendidikan Aswaja di pesantren NU melahirkan para generasi yang cinta tanah air, cinta damai. Kasus bom Sarinah maupun Gafatar merupakan contoh konkret pendidikan Aswaja tidak dipelajari oleh pelaku,” tegas kiai yang akrab dipanggil Abah Mu’in ini dalam pelantikan Lembaga Pendidikan Ma’arif NU Kota Banjar, akhir pekan kemarin (17/1).

Shautus Salam

Sedangkan, Ketua Tanfidziyah PCNU Kota Banjar H Lili Hasanudin menanggapi serius persoalan maraknya paham radikal yang semakin nyata. Menurutnya, pemerintah harusnya tegas terhadap berbagai organisasi maupun gerakan yang merongrong keutuhan NKRI.

Jangan sampai pemerintah maupun masyarakat baru mulai merasa resah ketika kejadian serupa dengan Bom Sarinah maupun Gafatar terjadi. “Kita semua sudah paham dan menyaksikan sendiri banyak organisasi yang memang menolak Pancasila masih menjamur di Indonesia, bahkan tetangga kita sendiri pelakunya. Lalu siapa lagi yang akan mempertahankan NKRI? Tentunya pemerintah harus tegas dan serius tentang hal ini,” ujarnya kepada Shautus Salam.

Shautus Salam

Lembaga Pendidikan Ma’arif NU Kota Banjar kini diketuai oleh Agus Sepudin dan sekretarisnya Syamsudin. Di sela-sela kegiatan, Agus menyampaikan pandangan LP Ma’arif NU Kota Banjar ke depan. “Generasi muda harus paham Aswaja, khususnya para pelajar di Indonesia. Kami akan mengolah kurikulum mata pelajaran Aswaja dapat diterima di sekolah umum,” harapnya. (Muhafidz/Mahbib)Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Nahdlatul, Nasional Shautus Salam

Senin, 20 November 2017

Arab Pegon Aksara Islam Nusantara

Subang, Shautus Salam. Dalam Muktamar Ke-33 NU di Jombang beberapa hari lalu, KH Mustofa Bisri atau yang akrab disapa Gus Mus menyatakan tidak bersedia untuk memegang jabatan Rais Aam melalui surat yang ia tulis secara manual. Uniknya surat itu ditulis menggunakan aksara Arab Pegon.

Arab Pegon Aksara Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
Arab Pegon Aksara Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

Arab Pegon Aksara Islam Nusantara

Arab Pegon, kata A Hisyam Karim, mahasiswa Pascasarjana STAINU Jakarta, adalah aksara Islam Nusantara warisan ulama-ulama Nusantara yang saat ini tetap bertahan.

"Arab Pegon ini unik karena aksara itu perpaduan antara aksara arab dan beberapa huruf lokal yang bunyinya tidak ada dalam bahasa arab seperti huruf C (?), E (?), NY(?), NG (? ), GA (?), sampai sekarang arab pegon masih dipakai di pesantren-pesantren dalam melogat kitab kuning," kata Hisyam dalam pengajian NU Caracas, Ahad (9/8) malam.

Shautus Salam

Menurut Hisyam, adalah berlebihan jika ada anggapan bahwa konsep Islam Nusantara itu anti Arab. Sebaliknya Islam Nusantara tetap cinta dan bangga dengan Arab, bahkan sebagian rukun Islam tidak bisa lepas dari hal-hal yang berbau Arab.

Shautus Salam

"Islam Nusantara tetap bangga dengan Arab karena dari sana lah Islam datang, Islam Nusantara syahadatnya tetap dengan Bahasa Arab. Begitu pun adzan, iqomat, sholat juga pakai bahasa Arab, niat dan doa buka puasa kadang pakai bahasa arab juga, haji dan umroh juga ke Arab, bukan ke Eropa," tegas Ketua NU Caracas ini.

Ditambahkannya, hanya zakat saja yang agak berbeda, karena zakat di Arab menggunakan gandum atau kurma, sementara di Indonesia menggunakan beras atau uang rupiah, karena makanan pokok masyarakat Indonesia adalah nasi yang dihasilkan dari padi.

"Karena di sini tanaman yang cocok adalah padi, maka para leluhur membuat istilah juga jadilah seperti padi semakin berisi semakin merunduk, karena yang sering dilihatnya padi," ujarnya.

Ia melanjutkan, dalam memahami Islam Nusantara harus membedakan mana yang sifatnya sakral dan mana yang profan. Karena, kalau yang sakral ini ditambahkan dengan unsur lokal maka akan berakibat menjadi bidah dhalalah.

"Jadi Islam Nusantara bermain dalam tataran yang profan ini, yang bukan prinsipil, contohnya Arab Pegon itu," tutupnya. (Aiz Luthfi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Nasional, Tegal, Berita Shautus Salam

Jumat, 17 November 2017

Begini Cara MAN 1 Pringsewu Ajarkan Berkurban Kepada Siswanya

Pringsewu, Shautus Salam?



Untuk mengajarkan nilai-nilai ibadah kurban kepada para siswa, MAN 1 Pringsewu melaksanakan melaksanakan pemotongan hewan kurban berupa seekor sapi. Menurut Waka Humas MAN 1 Pringsewu H. Bunyana, hal itu didukung oleh seluruh civitas akademika madrasah tersebut dengan mengumpulkan dana untuk pembelian seekor sapi.

Begini Cara MAN 1 Pringsewu Ajarkan Berkurban Kepada Siswanya (Sumber Gambar : Nu Online)
Begini Cara MAN 1 Pringsewu Ajarkan Berkurban Kepada Siswanya (Sumber Gambar : Nu Online)

Begini Cara MAN 1 Pringsewu Ajarkan Berkurban Kepada Siswanya

"Penyembelihan hewan kurban dilaksanakan di tanggal 13 Dzulhijjah 1438 H dan disaksikan oleh seluruh siswa dan guru," katanya saat hari penyembelihan dilaksanakan, Senin (4/9).

Bunyana menambahkan bahwa nantinya daging latihan kurban tersebut akan dibagikan kepada warga sekitar kampus dan sebagian akan diolah oleh siswa menjadi masakan yang akan dinikmati bersama. "Masing-masing kelas akan mendapatkan bagian daging yang nantinya diolah dan dinikmati bersama," jelas guru Al-Qur’an Hadits ini.

Sementara itu Pembina Ibadah MAN 1 Pringsewu Sofwan menjelaskan bahwa kurban merupakan ibadah yang menunjukkan tingginya keimanan seseorang.

"Semakin tinggi iman seseorang maka semakin berat ujian yang akan didapatkannya. Ibarat pohon semakin tinggi maka semakin deras angin menerpa," jelasnya saat menjadi Pembina Upacara pada Pengibaran Bendera Merah Putih yang dilakukan sesaat sebelum pelaksanaan penyembelihan di lapangan kampus setempat.

Shautus Salam

Lebih lanjut ia berharap nilai-nilai latihan kurban ini akan benar-benar ada dalam hati seluruh siswa Madrasah tersebut sehingga saatnya nanti para siswa benar-benar akan dapat menunaikan ibadah kurban ini sesuai dengan kaidan yang digariskan dalam agama. (Muhammad Faizin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam

Shautus Salam Nasional, Hadits, Sholawat Shautus Salam

Selasa, 14 November 2017

Muhammadiyah dan Berbagai Perwakilan Ormas Hadir dalam Sidang Itsbat

Jakarta, Shautus Salam. Sesaat setelah kumandang adzan Maghrib, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin memasuki ruangan sidang itsbat di Kantor Kementerian Agama Jalan Thamrin Jakarta Pusat, Ahad (5/6).

Muhammadiyah dan Berbagai Perwakilan Ormas Hadir dalam Sidang Itsbat (Sumber Gambar : Nu Online)
Muhammadiyah dan Berbagai Perwakilan Ormas Hadir dalam Sidang Itsbat (Sumber Gambar : Nu Online)

Muhammadiyah dan Berbagai Perwakilan Ormas Hadir dalam Sidang Itsbat

Jalan beriringan dengan Ketua Umum MUI Pusat KH Ma ruf Amin, Menag ditunggu berbagai perwakilan Ormas dan Dubes negara sahabat yang telah siap mengikuti sidang.

Dari Muhammadiyah, hadir Anggota Majelis Trjih dan Tajdid Marifat Amin. Dari Nahdlatul Ulama (NU) hadir Ketua PBNU KH Zakky Mubarok dan Ketua Lembaga Falakiyah PBNU KH Ghazali Masroeri, serta perwakilan ormas Islam lain di Indonesia.

"Menjelang Maghrib tadi Cecep Nurwandaya dari Badan Rukyat dan Hisab Kemenag sekaligus Petugas Planetarium dan Observatorium Jakarta. Dia tidak hanya mengamati Hilal di Indonesia tetapi juga di seluruh dunia," ujar Menag sebelum membuka sidang itsbat.

"Kemenag telah mengamati Hilal dari 93 titik dari Sabang sampai Merauke," imbuh Menag, pintu sidang pun ditutup karena tertutup untuk umum.?

Shautus Salam

Sampai berita ini diturunkan, sidang Istbat penetapan 1 Ramadhan 1437 H masih berlangsung. (Fathoni)

Shautus Salam

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam AlaNu, Nasional Shautus Salam

Rabu, 08 November 2017

Pesantren Al-Istiqomah Kebumen Resmikan Radio Komunitas

Kebumen, Shautus Salam. Pesantren Al-Istiqomah desa Tanjungsari kecamatan Petanahan, Kebumen, meluncurkan stasiun radio komunitas pesantren miliknya, Jumat (16/1). Pihak pesantren menamakan stasiun ini dengan nama Radio Yapika FM yang mengudara pada frekuensi 107,8 FM.

Pesantren Al-Istiqomah Kebumen Resmikan Radio Komunitas (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Al-Istiqomah Kebumen Resmikan Radio Komunitas (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Al-Istiqomah Kebumen Resmikan Radio Komunitas

Peresmian dilakukan secara langsung oleh pengasuh pesantren Al-Istiqomah Kiai Ali Muin Amnur yang ditandai dengan pengguntingan pita dan dilanjutkan doa bersama.

"Tujuan dari pembuatan radio komunitas pesantren ini adalah untuk menyampaikan kepada masyarakat perihal berbagai macam kegiatan-kegiatan pesantren. Selain itu juga sebagai ajang dakwah dan syiar Islam kepada masyarakat," kata Kiai Ali Muin di sela-sela peresmian.

Shautus Salam

Radio ini menjadi radio komunitas pesantren pertama di Kebumen. Selain sholawatan, hadrah, qosidahan, dan lain sebagainya, radio ini juga menyiarkan musik dangsut, pop, wayang, dan campursari.

"Ke depan kita juga akan memanfaatkan radio komunitas pesantren ini sebagai sarana untuk siaran interaktif dan diskusi publik terkait persoalan masyarakat. Bahkan ke depan kita juga bakal jadikan sebagai sarana bimbingan moral dan keagamaan bagi masyarakat," tutur kiai yang juga Ketua Bidang Kajian Keislaman MUI Kebumen tersebut.

Shautus Salam

Kiai Ali Muin juga menyampaikan, keberadaan Radio komunitas pesantren di Ponpesnya dinilai masih efektif untuk ajang dakwah dan syiar kepada masyarakat, khususnya daerah pesisir. Mengingat kondisi di wilayah pesisir, hingga kini masyarakatnya yang mendengarkan radio masih cukup banyak. Berbeda dengan kondisi di wilayah perkotaan Kebumen yang minat pendengar radionya sudah mulai jarang.

"Radio komunitas pesantren yang kita dirikan ini juga akan kita jadikan sebagai sarana untuk pembelajaran para santri dalam mengenal media dan teknologi. Bahkan untuk pengelolaan studio radionya juga akan dikelola oleh para santri," pungkasnya. (Beniyanto/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Pesantren, Nasional Shautus Salam

Kader Ansor Potensial Wujudkan Indonesia Agraris

Pesawaran, Shautus Salam -?

Kader Gerakan Pemuda Ansor memiliki potensi mewujudkan Indonesia sebagai negeri agaris yang tidak sekadar jargon, ujar Wakil Ketua Pimpinan Pusat GP Ansor Hadi Musa Said, di Pesantren Minhadlul Ulum, Trimulyo, ? Tegineneng, Pesawaran asuhan KH M Syaifudin Fatoni, Rabu (26/10).

Kader Ansor Potensial Wujudkan Indonesia Agraris (Sumber Gambar : Nu Online)
Kader Ansor Potensial Wujudkan Indonesia Agraris (Sumber Gambar : Nu Online)

Kader Ansor Potensial Wujudkan Indonesia Agraris

"Penduduk Indonesia hampir 300 juta dan sekitar 5-6 persen dari jumlah itu ialah warga Nahdlatul Ulama (NU). Dan sekitar 70-90 persen warga NU tinggal di perdesaan, otomatis berprofesi petani dan usaha menengah," paparnya.

Ansor adalah organisasi terbesar di Indonesia. "Kenapa saya berani mengatakan itu, karena kaderisasi Ansor sampai ke perdesaan dan kita punya data itu," tegas Hadi.

Ia melanjutkan, kader GP Ansor terbentuk dan terkoordinasi di bidang kepemudaan. "Kaderisasi kita yang sudah berlebih dan berarti potensi pemuda kita hari ini sudah sangat kuat luar biasa," paparnya.

Menurut Hadi lagi, Indonesia adalah negara agraris yang memiliki lahan luas, akan tetapi belum bisa dikelola dengan baik.

Shautus Salam

"Dengan fakta itu, kader Ansor harus menjadi pelopor untuk mengelola potensi tersebut dengan kemandirian yang akan menghasilkan nilai tambah," ujar dia lagi.

Menggandeng Kementerian Tenaga Kerja RI, PP GP Ansor menggelar "Pelatihan Wirausaha Baru Produktif" 24-27 Oktober 2016. Temanya "Meningkatkan Keterampilan dan Produktivitas Menciptakan Nilai Tambah dan Mampu Menjawab Tantangan Baru".

Pelatihan dengan materi motivasi wirausaha, budidaya tanaman organik, pembuatan pupuk serta pakan organik tersebut diikuti kader Ansor dari 7 kabupaten/kota: Lampung Tengah, ? Lampung Timur, Lampung Barat Metro, Pesawaran, Way Kanan dan Pringsewu. (Gatot Arifianto/Mahbib)

Shautus Salam

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Makam, Quote, Nasional Shautus Salam

Minggu, 05 November 2017

Berita Duka, Mustasyar PCNU Kota Bandung Ngantunkeun

Jakarta,Shautus Salam. Inna lilllahi wa inna ilaihi roji’un, Mustasyar PCNU Kota Bandung KH R Amin Faqih Burhan wafat (ngantunkeun) di Rumah Sakit Al-Islam Kota Bandung pagi ini Sabtu (21/11) sekitar pukul 08.30. almarhum wafat pada usia 75 tahun meninggalkan tiga putra dan empat putri.

Ketua PCNU Kota Bandung KH Maftuh Kholil mengungkapkan kehilangan Kiai Amin yang merupakan pengasuh pesantren Cijawura (salah satu pesantren tua di Bandung), adalah duka sedalam-dalamnya bagi PCNU Kota Bandung, warga NU, dan masyarakat pada umumnya.

Berita Duka, Mustasyar PCNU Kota Bandung Ngantunkeun (Sumber Gambar : Nu Online)
Berita Duka, Mustasyar PCNU Kota Bandung Ngantunkeun (Sumber Gambar : Nu Online)

Berita Duka, Mustasyar PCNU Kota Bandung Ngantunkeun

“Saya alumni dari sini (pesantern Cijawura) tahu, bahwa beliau ini sosok yang diterima seluruh masyarakat dan kalangan manapun. Termasuk kalangan pemerintahan,” katanya ketika diihubungi Shautus Salam Sabtu siang.

Shautus Salam

Sebagai seorang alumninya, Kiai Amin tak pernah bosan menasihatinya tentang satu hal tiap bertemu dengannya. Terutama dalam menjalankan organisasi seperti NU. ?

“Sing bisa ngigelana. Artinya kita harus mampu bertindak dan bersikap dalam segala situasi. Bukan plin-plan, bukan tidak mengikuti aturan, tapi dalam melaksanakan aturan itu harus arif dan bijaksana,” begitu Kiai Maftuh menirukan nasihat Kiai Amin. ?

Shautus Salam

Kiai Maftuh menilai bahwa Kiai Amin, selain sangat menguasai ilmu-ilmu pesantren, ia adalah sosok kiai yang sederhana. Saat ini, sosok kesederhanaannya patut untuk diteladani sebab sekarang orang-orang bergerak ke arah glamor.

Gaya hidup glamor, lanjut Kiai Maftuh, salah satu penyebab rakus yang mendorong juga pada sifat lain seperti korupsi, yang berdampak pada kekisruhan ekonomi dan politik. “Sebenarnya koruptor itu terjadi dari sikap yang tidak sederhana.

Ia berharap agar sepeninggal wafatnya Kiai Amin, Pesantren Cijawura tetap maju dan tak pernah berhenti menjadi pesantren pencetak kader ke depan. Insya Allah putranya yang akan melanjutkan.

Ketua Dewan Penasehat GP Ansor Kota Bandung Agustani Kirtadireja juga mengungkapkan duka sedalam-dalamnya atas kepergian almarhum. “Saya merasa kehilangan beliau,” katanya ketika dihubungi Shautus Salam.

Menurut dia, almarhum sangat berjasa bagi NU. Ia adalah kiai yang selalu mendukung kegiatan-kegiatan NU. “Tiga kali Konfercab PCNU beruturut-turut digelar di pesantrennya,” uangkapnya.

Sebagaimana Kiai Maftuh, Agus yang Ketua IKA PMII Kota Bandung, tersebut berharap agar Pesantren Cijawura yang terletak di Margasari, Buah Batu, Kota bandung, tetap maju.

Sebagai bakti pelepasan terakhir, lanjut dia, GP Ansor mengirimkan belasan Banser untuk turut membantu prosesi pemakanan dan pengaturan lalu-lintas. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Makam, Nasional, Tokoh Shautus Salam

Mbah Ngis, Sudut Pandang, dan Kerendahan Hati

Dalam tradisi masyarakat Jawa, bagaimana seseorang memanggil orang lain sangat ditentukan oleh hubungan di antara mereka. Orang yang lebih muda atau lebih rendah memanggil orang yang lebih tua atau di atasnya harus dengan embel-embel tertentu seperti “Mbak”, “Mas”, “Paklik”, “Bulik”, “Pakde”, “Bude”, dan sebagainya.?

Sebaliknya orang yang lebih tua atau lebih tinggi, boleh memanggil orang yang lebih muda atau di bawahnya tanpa embel-embel apa pun sehingga cukup menyebut namanya saja. Namun, bagi Mbah Ngismatun Sakdullah Solo (wafat 1994)—biasa dipanggil Mbah Ngis—tradisi ini bisa tidak berlaku karena Mbah Ngis biasa menggunakan sudut pandang lain sehingga memungkinkannya memanggil orang yang lebih muda atau di bawahnya dengan embel-embel di atas.

Mbah Ngis adalah adik dari Mbah Umar, Mbah Mustaqimah, Mbah Muslihah, Mbah Nidzom Mbah Jisam, dan sebagainya. Mbah Ngis biasa memanggil Mbah Mustaqimah dan Mbah Muslihah dengan embel-embel “Bude”; dan memanggil Mbah Umar dengan embel-embel “Pakde”. Demikian pula ketika memanggil Mbah Nidzom dan Mbah Jisam.?

Mbah Ngis, Sudut Pandang, dan Kerendahan Hati (Sumber Gambar : Nu Online)
Mbah Ngis, Sudut Pandang, dan Kerendahan Hati (Sumber Gambar : Nu Online)

Mbah Ngis, Sudut Pandang, dan Kerendahan Hati

Padahal Mbah Ngis seharusnya atau sewajarnya, memanggil beliau-beliau itu cukup dengan “Mbak” atau "Yu", “Mas” atau “Kang” karena Mbah Ngis adalah adik. Sudut pandang yang digunakan Mbah Ngis memanggil beliau-beliau dalam hal ini adalah sudut pandang anak-anak Mbah Ngis sehingga memungkinkannya memberikan penghormatan yang lebih tinggi sekaligus untuk “mbasakke” anak-anak sendiri.

Terhadap para keponakan dari putra-putri Mustaqimah, Mbah Muslihah, Mbah Nidzom, Mbah Jisam, dan sebagainya, ? Mbah Ngis selalu memanggil mereka “Mas” atau “Mbak”, padahal seharusnya atau sewajarnya Mbah Ngis memanggil mereka cukup dengan menyebut namanya saja karena bagaimanapun Mbah Ngis adalah bibi bagi mereka. Tetapi Mbah Ngis memilih menggunakan sudut pandang anak-anak sendiri bukan saja untuk “mbasakke” mereka tetapi lebih dari itu Mbah Ngis ingin memberikan penghormatan atau penghargaan yang lebih tinggi.?

Apalagi banyak dari keponakan-keponakan Mbah Ngis adalah orang-orang terpandang di komunitas masing-masing, seperti menjadi pengasuh pesantren atau pemuka agama di masyarakat. Tidak jarang bahasa yang digunakan Mbah Ngis untuk berbicara dengan para keponakan yang sudah berkeluarga adalah bahasa Jawa krama hinggil.

Shautus Salam

Demikian pula cara Mbah Ngis memanggil adiknya sendiri yang bernama Mbah Umi. Mbah Ngis selalu memanggil beliau “Lik Umi” atau “Bulik Umi”. Tentu saja sudut pandang yang digunakan Mbah Ngis adalah sudut anak-anak sendiri yang bukan saja untuk “mbasakke” mereka tetapi lebih dari itu memberikan penghargaan yang lebih tinggi.

Terhadap orang lain yang tidak memiliki hubungan kekerabatan, Mbah Ngis tetap berusaha memanggilnya dengan embel-embel tertentu. Misalnya, kepada para tetangga atau relasinya, Mbah Ngis memanggil mereka “Pak”, “Bu” atau “Mbok” bagi mereka yang sudah berkeluarga.?

Kepada yang masih muda dan belum keluarga, Mbah Ngis biasa memanggil mereka dengan embel-embel “Mas”, “Kang” atau “Mbak”. Bahkan kapada para santri di pondok yang masih remaja atau anak-anakpun, Mbah Ngis tidak jarang memanggil mereka “Mas”, atau “Mbak”.

Shautus Salam

Tidak hanya itu, kepada anak tertua Mbah Ngis selalu memanggilnya “Mbak” dan “Mas” untuk suaminya. Hal ini selain untuk “mbasakke” adik-adik dari anak-anak tertua tersebut juga untuk memberikan penghargaan yang lebih tinggi.

Singkatnya, Mbah Ngis selalu mencari celah bagaimana bisa menghormati atau menghargai orang lain dalam hal memanggil dengan cara menggunakan sudut pandang atau posisi yang lebih rendah dari posisinya sendiri. Mbah Ngis jarang memanggil orang lain dengan embel-embel “Nduk”, “Le” atau “Dik” karena Mbah Ngis sering kali tidak ingin menunjukkan posisinya yang lebih tinggi dari pada orang lain.?

Mbah Ngis memang orang Jawa yang rendah hati (tawadhu’) dan senantiasa berhati-hati dalam tindak-tanduk hingga nyaris tidak ada orang lain yang merasa pernah direndahkannya. Mbah suka menjunjung tinggi akhlak mulia yang islami.?

Sebuah syair bahasa Arab berbunyi:?

? ? ? ? ? *** ? ? ? ? ?

? ? ? ? *** ? ? ? ? ? ?

Artinya:?

Tawadhulah, maka ? engkau akan seperti bintang yang terlihat rendah di permukaan air tapi sesungguhnya ia tinggi di langit.

Dan janganlah engkau seperti asap yang meninggi dengan sendirinya, padahal asalnya ia rendah.”

Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam Nasional, Cerita, Bahtsul Masail Shautus Salam

Jumat, 03 November 2017

Abuya Muhtadi Banten: HTI Haram Hukumnya

Jakarta, Shautus Salam. Rois Am Majelis Muzakaroh Muhtadi Cidahu Banten (M3CB) Abuya Muhtadi Dimyathi menyatakan, keinginan dan upaya kelompok Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) untuk menghilangkan Pancasila sebagai dasar negara merupakan salah satu bentuk pemberontakan.

Pernyataan disampaikan secara tertulis dalam satu surat pernyataan tertanggal 21 Agustus 2013. Surat pernyataan disampaikan langsung oleh beberapa murid Abuya Muhtadi ke kantor redaksi Shautus Salam, Jakarta, Selasa (3/8) kemarin. Sebelumnya surat pernyataan itu juga sudah dikirimkan ke PBNU.

Abuya Muhtadi menyatakan, HTI adalah ormas Islam dari luar negeri yang datang ke Indonesia dan ingin menghilangkan Pancasila sebagai dasar negara.

Abuya Muhtadi Banten: HTI Haram Hukumnya (Sumber Gambar : Nu Online)
Abuya Muhtadi Banten: HTI Haram Hukumnya (Sumber Gambar : Nu Online)

Abuya Muhtadi Banten: HTI Haram Hukumnya

“Perbuatan tersebut salah satu macam dari pemberontakan, padahal memberontak negara itu dosa besar, maka dari itu HTI harom hukumnya dalam berbagai keadaan” demikian dalam pernyataan tersebut.

Abuya Muhtadi adalah seorang ulama kharismatik di Pandeglang dan mempunyai banyak murid di wilayah Banten. Terkait surat pernyataan ini, menurut beberapa muridnya, Abuya gerah dengan gerakan kelompok HTI di wilayah Banten. Selain itu, informasi yang diterima Shautus Salam, putra tokoh besar Abuya Dimyathi ini merasa dirugikan oleh HTI karena namanya sering dicatut dalam berbagai aktifitas mereka. (A. Khoirul Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam

Shautus Salam Kajian Islam, Nasional, PonPes Shautus Salam

Shautus Salam

Sabtu, 28 Oktober 2017

22 Becak Kiai, 10 Bendera, 2015 Penabuh Rebana di Pacitan

Pacitan, Shautus Salam. Peringatan Hari Santri Nasional 22 Oktober diperingati secara serentak dan meriah di seluruh penjuru Tanah Air. Di Pacitan, Jawa Timur, ribuan santri mengikuti Kirab Hari Santri Nasional di Komplek Masjid Agung Darul Falah dan Pendopo Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, Kamis (22/10) siang.

22 Becak Kiai, 10 Bendera, 2015 Penabuh Rebana di Pacitan (Sumber Gambar : Nu Online)
22 Becak Kiai, 10 Bendera, 2015 Penabuh Rebana di Pacitan (Sumber Gambar : Nu Online)

22 Becak Kiai, 10 Bendera, 2015 Penabuh Rebana di Pacitan

Ribuan santri dari? seluruh? pesantren dan Madrasah Diniyah Takmiliyah se-Kabupaten Pacitan turut berpartisipasi dalam kirab ini. Sebanyak 22 Becak Kiai, 10 Bendera merah putih dan 2015 Penabuh Rebana mengiringi ribuan peserta kirab. “Angka tersebut digunakan untuk melambangkan tanggal diresmikanya Hari Santri Nasional yaitu tanggal 22 Oktober 2015,” kata Ketua Panitia Kirab Gus Mu’ad Harits Dimyathi kepada Shautus Salam.

Rangkaian kirab digelar khidmah dan sangat meriah, diawali dengan melaksanakan shalat dhuhur secara berjamaah di Masjid Agung Darul Falah Pacitan. Lalu pembacaan kalimah toyyibah tahlil yang dipimpin oleh KH Abdullah Sadjad, dan diteruskan dengan pembacaan Nadham Asmaul Husna oleh ribuan santri. Selanjutnya acara “Doa Bersama” ditutup dengan pembacaan doa oleh KH Burhanudin HB.

Shautus Salam

Pukul 13.00 WIB bertempat depan gerbang masjid Agung, Kirab secara resmi diberangkatkan oleh Kapolres Pacitan didampingi pengasuh Pondok Tremas KH Hammad Al Alim Harist dan Ketua Panitia Kirab Gus Mu’ad Harits Dimyathi. Ribuan Santri dengan tertib dan penuh semangat melakukan long march menempuh jarak 2 kilometer mengelilingi kota Pacitan.

Shautus Salam

Pemberangkatan rombongan kirab diawali oleh pasukan Paskibra Pondok Tremas yang membawa 10 Bendera Merah Putih diikuti Barisan Banser, Disusul dengan barisan marching band dari Pesantren Al Fattah Kikil, Selanjutnya 22 unit Becak yang membawa para kiai dan seterusnya barisan ribuan santri dari 12 Kecamatan di Pacitan.

Aksi Sosial Bagi-bagi Tanaman

Bersamaan dengan itu, aksi sosial dilakukan oleh ribuan peserta kirab. Sambil berjalan mereka membagikan 22 bibit pohon jati, 10 bibit pohon cengkeh dan 2015 bibit pohon sengon kepada masyarakat yang menyaksikan jalanya kirab. Lagi-lagi angka tersebut sebagai kebanggan para santri atas diresmikanya hari santri Nasional tangal 22 Oktober 2015.

Kirab diakhiri dengan kegiatan apel santri di halaman Pendopo Kabupaten Pacitan sekaligus dilakukan peresmian Hari Santri Nasional oleh Pemerintah Daerah dalam hal ini dilakukan oleh Sekretaris Daerah ( Sekda) Kabupaten Pacitan Suko Wiyono.

Apel Peresmian Hari Santri Nasional diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia raya, dilanjutkan pembacaan Ikrar Santri oleh ketua panitia Kirab Gus Mu’ad Harits Dimyathi. Kemudian secara simbolis Sekda Suko Wiyono didampingi para kiai menekan tombol sirine dan penerbangan balon udara sebagai tanda diresmikanya Hari Santri Nasional 22 Oktober 2015.

Tampak hadir peresmian Hari santri nasional di Pendopo Kabupaten Pacitan, Para kiai seperti Pengasuh Pondok Tremas KH? Hammad Al Alim Harits, KH Mu’ad Harits, Pengasuh Pesantren Al Fattah KH Burhanudin HB, KH Umar Syahid Mustasyar PCNU, KH Mahmud Ketua Tanfdziah PCNU, Kapolres Pacitan, Ketua DPRD Roni Wahyono dan? puluhan kiai pengasuh pesantren. Kirab Peringatan hari santri nasional terselenggara atas kerjasama RMI NU, Forum Komunikasi Pesantren Pacitan dan Pemerintah Kabupaten Pacitan. (Zaenal Faizin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Shautus Salam News, Nasional, Fragmen Shautus Salam

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Shautus Salam sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Shautus Salam. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Shautus Salam dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock